• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURVIVAL GINJAL DONOR MAYAT EDTA Gambar : 3 A dan 3 B

Dalam dokumen ASKEP DHF (Halaman 37-41)

Walaupun terdapat kemajuan-kemajuan seperti tersebut diatas, survival transplantasi ginjal, baik donor hidup maupun donor mayat tidak menyolok berubah. Gambar 3A, 3B, dan 4 menunjukkan survival pada kelompok The European Dialysis and Transplant Association serta Jakarta.

Kesimpulan

Dikemukakan dasar-dasar pengobatan gagal ginjal kronik. Kemajuan yang menyolok tidak banyak. Di bidang dialisis

CAPD membuka era baru yang di tahun-tahun mendatang akan lebih jelas kedudukannya.

Di bidang transplantasi pengetahuan mengenai mekanisme rejeksi lebih jelas tetapi akibatnya terhadap survival belum nyata. Survival transplantasi ginjal di Jakarta tidak banyak berbeda dengan EDTA.

Kepustakaan

1. Boen ST, Mulinari AS, Dillard DH, Screbner BH. Periodic peritoneal dialysis

in the management of chronic uraemia. Trans Am Soc Artif Organs 1962; 8 : 256-262.

2. Oreopoulos DG, Robson M, Izatt S et al. A simple and safe tech-nique for continous ambulatory dialysis (CAPD). Trans Am. Soc. Artif intern Organs 1978; 24 : 484-487.

3. Oreopoulos DG. An up date on continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Int I Artif Organs 1980; 3 : 231.

4. Popovich RP, Moncrief JW, Dechero JB et al. The definition of a novel portable wearable equilibrium peritoneal dialysis technique. Abstracts. Trans Am Soc Artif Organs 1976;5 : 64.

5. Tenckhoff H, Schecter H. A bacteriologically safe peritoneal acces device. Trans Am Soc Artif Organis 1968; 14 : 181-186.

Hipertensi Renal Made Sukahatya

Sub. Bagian Ginjal -- Hipertensi Bagian llmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNAIR

Surabaya.

PENDAHULUAN

Peranan ginjal dalam terjadinya hipertensi telah dikirakanoleh R.Bright dalam tahun 1836, akan tetapi baru menjadi konsep penting setelah percobaan klasik dari Dr. Harry Goldblatt pada tahun 1934 (3, 8, 18). Untuk masa berikutnya terjadi periode kekacauan klinik tentang hubungan ginjal dan hipertensi. Ada kelompok sarjana yang berpendapat bahwa etiologi dari semua hipertensi adalah kelainan ginjal; kelompok lain berpendapat sebaliknya yaitu bahwa ginjal jarang sekali memegang peranan dalam terjadinya hipertensi.

Pada masa kini kebanyakan sarjana berpendapat bahwa antara hipertensi dan penyakit ginjal terdapat jalinan hubungan sebab-akibat yang erat sekali. Semua sebab-sebab primer dari hipertensi dapat menyebabkan kelainan ginjal akibat tingginya tekanan darah per se ; kelainan ginjal tersebut bila cukup berat, akan menyebabkan hipertensinya menetap walaupun sebab primernya dapat dihilangkan. Pemakaian obat-obat untuk menormalkan tekanan darah akan mencegah atau memperlambat kerusakan ginjal, walaupun sebab primernya tetap

ada (3, 8, 12, 13, 14, 18). Sebaliknya, penyakit ginjal primer sering mengakibatkan timbulnya hipertensi.22

Dalam hubungan ini dikenal 4 hipotesa utama yaitu:

1. Ketidak sanggupan ginjal untuk merusak atau mengekskresi suatu bahan presor. 2. Ketidak sanggupan ginjal untuk menghasilkan suatu bahanantipresor.

3. Ginjal menghasilkan suatu bahan vasokonstriktor.

4. Pengaruh ginjal terhadap keseimbangan elektrolit (NA) dan air.

Hipotesa yang kini paling banyak dianut oleh para klinisi adalah terdapatnya hubungan abnormal antara pengaturan eksresi garam-air dengan sistim rennin

angiotensin aldosteron; sehingga hipertensi dibedakan dalam 2 golongan yaitu: hipertensi karena renin (renin-dependent hypertension) dan hipertensi karena

garam-air (volume-dependent hypertension) (4, 5, 12, 15, 17). BATASAN DAN ETIOLOGI

Hipertensi renal adalah hipertensi sekunder yang disebabkan oleh kelainan parenkim ginjal dan atau pembuluh darahmginjal unilateral atau bilateral (3, 12, 18). Angka kejadiannya berkisar antara 10--20% dari semua kasus hipertensi dan yang

dapat disembuhkan dengan pembedahan kurang lebih 5%

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06_PenanggulanganGagalGinjalkronik.pdf/06_ PenanggulanganGagalGinjalkronik.html.visit, 17/12/2008, 6;54. Pudji Wiyanti KONDAS GAGAL GINJAL KRONIK (GGK)

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut , serta bersifat persisten dan irreversible.

Menurut catatan medical record RS Fatmawati klien gagal ginjal kronik yang dirawat di RS Fatmawati pada periode 1 Agustus 2003 – 31 Juli 2004 berjumlah 224 orang atau 6,73% dari 3327 penderita penyakit dalam yang dirawat, adapun periode 1 Agustus 2004 – 31 Juli 2005 berjumlah 237 orang atau 6,03 % dari 3930 klien penyakit dalam yang dirawat, hal ini menunjukan penurunan jumlah penderita gagal ginjal kronis yang dirawat sebesar 0,33 %, namun demikian masalah keperawatan yang sering timbul pada gagal ginjal kronik cukup kompleks, yang meliputi : kelebihan volume cairan, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, kecemasan, penurunan cardiac out put, gangguan mobilitas fisik, konstipasi / diare, resiko tinggi injuri perdarahan, perubahan proses pikir dan kurangnya pengetahuan.

Dalam mengatasi berbagai permasalahan yang timbul pada pasien gagal ginjal kronik, peran perawat sangat penting, diantaranya sebagai pelaksana, pendidik, pengelola, peneliti, advocate. Sebagai pelaksana, perawat berperan dalam memberikan asuhan keperawatan secara profesional dan komprehensif yang meliputi : mempertahankan pola nafas yang efektif, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit,

meningkatkan asupan nutrisi yang adekuat, meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi dan mencegah injury.

Sebagai pendidik perawat memberikan pendidikan kesehatan, khususnya tentang perbatasan diet, cairan, dll. Perawat sebagai pengelola, yaitu perawat harus membuat perencanaan asuhan keperawatan dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya sehingga program pengobatan dan perawatan dapat berjalan dengan baik. Peran perawat sebagai peneliti adalah menerapkan hasil penelitian di bidang keperawatan untuk meningkat mutu asuhan keperawatan. Peran perawat sebagai advocate adalah membela hak klien selama perawatan, seperti hak klien untuk mengetahui rasional penatalaksanaan medis, pemeriksaan penunjang , dan sebagainya.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang bagaimana “Asuhan Keperawatan Pada Tn. J Yang Mengalami Gagal Ginjal Kronik di Lantai Kiri IRNA B Teratai Merah RS Fatmawati Jakarta”.

B. TUJUAN PENULISAN. 1. Tujuan Umum

Memberikan gambaran nyata tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Tn.J Yang Mengalami Gagal Ginjal Kronik di Lantai Kiri IRNA B Teratai Merah RS Fatmawati Jakarta

2. Tujuan KhususUntuk mendapatkan gambaran nyata tentang :

a. Pengkajian keperawatan pada klien Tn. J yang mengalami gagal ginjal kronik. b. Diagnosa keperawatan pada klien Tn. J yang mengalami gagal ginjal kronik. c. Perencanaan keperawatan pada klien Tn. J yang mengalami gagal ginjal kronik.

d. Implementasi pada klien Tn. J yang mengalami gagal ginjal kronik.

e. Hasil evaluasi keperawatan pada klien Tn. J yang mengalami gagal ginjal kronik. f. Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada

klien Tn. J yang mengalami gagal ginjal kronik.

C. METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penyelesaian laporan kasus ini adalah : 1. Metode Deskriptif

Metode deskriptif dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan, dengan cara mengumpulkan data langsung dari klien dan keluarga serta kolaborasi dengan tim kesehatan lain.

2. Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan digunakan untuk mendapatkan sumber ilmiah yang berhubungan dengan masalah yaitu dengan mempelajari buku-buku dan makalah.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penulisan laporan kasus ini penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini meliputi Latar Belakang Masalah, Tujuan Penulisan secara umum dan khusus, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan.

Dalam dokumen ASKEP DHF (Halaman 37-41)

Dokumen terkait