• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Intervensi

F. Beras Dan Ketahanan Pangan

1. Swasembada Pangan

Swasembada pangan atau kecukupan pangan. Swasembada pangan diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, yang sejauh mungkin berasal dari pasokan domestik dengan meminimalkan ketergantungan pada perdagangan pangan. Dilain pihak konsep kecukupan pangan sangat berbeda dengan konsep swasembada pangan, menuntut adanya kemampuan menjaga tingkat nasional merupakan prakondisi penting dalam memupuk ketahanan pangan dan stabilitas harga. (Buchari,2013: 12).

Ketahanan pangan nasional selama ini dicapai melalui kebijaksanaan swasembada pangan dan stabilitas harga. Oleh sebab itu pemantapan swasembada beras merupakan salah satu fokus dalan terwujudnya ketahanan pangan. Hal ini dalam rangka mewujudkan Visi, Misi dan Tujuan dari Kementrian Pertanian yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 15/Permentan/Rc.110/1/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014. Berikut merupakan beberapa Visi, misi dan tujuan kementrian pertanian yang terkait penetapan target pelaksanaan swasembada beras sebagai penunjang terwujudnya swasembada beras adalah:

(Buchari,2013:15/17).

37

Visi :

Terwujudnya petani industrial unggul berkelanjutan yang berbasis Sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, Daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani.

Misi :

Mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan yang efisien, berbasis iptek dan sumberdaya lokal, serta berwawasan lingkungan melalui pendekatan sistem agribisnis.

a. Menciptakan keseimbangan ekosistem pertanian yang mendukung keberlanjutan peningkatan produksi dan produktivitas untuk meningkatkan kemandirian pangan.

b. Menjadikan petani yang kreatif, inovatif, dan mandiri serta mampu memanfaatkan iptek dan sumberdaya lokal untuk menghasilkan produk pertanian.

c. Menciptakan lapangan kerja berkualitas di pedesaan, khususnya lapangan kerja non-pertanian, yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah terbuka.

d. Meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan masyarakat perdesaan, yang dicerminkan dari peningkatan pendapatan dan produktivitas pekerja di sektor pertanian.

2. Konsep Lumbung Padi/Beras

Lumbung padi biasanya digunakan masyarakat adat di Indonesia untuk menyimpan hasil panennya.Lumbung berbeda-beda bentuknya pada setiap daerah.

Namun, pada umumnya, lumbung berbentuk seperti rumah panggung dengan atap dariijuk dan seluruh bangunan dibuat dari kayu, lumbung bisa digunakan untuk

menyimpan hasil panen dalam waktu yang cukup lama bahkan, lumbung mampu menyimpan padi hingga seratus tahun. Lumbung merupakan simbol ketahanan pangan.Ketahanan pangan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam mengantisipasi kelangkaan beras karna kegagalan hasil panen petani gabah. (Unila, 2012/3/21).

Fembriarti dalam (Unila, 2012/3/21) kemudian menjabarkan, konsep ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga.Hal ini tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya aman, merata dan terjangkau. (Unila, 2012/3/21).

Lumbung pangan dikenal sebagai cadangan pangan di pedesaan dan sebagai penolong selama masa paceklik.Hal ini sangat penting untuk daerah pertanian, lahan pertanian pangan hanya dapat berproduksi optimal pada musim hujan saja. Selain itu, langkanya dan mahalnya harga pupuk dan saprodi lainnya, memaksa para petani harus berhutang dan keputusan Mendagri dan otonomi daerah No 6 tahun 2001 tentang pengembangan lumbung pangan masyarakat/ kelurahan. (Soemarno, 2010/3/29) untuk dapat melaksanakan usaha taninya. Dengan keberadaan lumbung, diharapkan dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dalam skala kecil.

(Soemarno, 2010/3/29).

3. Konsep Produksi Beras

Produksi beras merupakan fungsi yang dipengaruhi oleh luas area panen, produktivitas diversifikasi produksi tingkat keberhasilan. Produksi di pengaruhi oleh kondisi iklim, dan komuditi pangan mencakup tanaman yaitu padi produktivitas usaha tani berkaitan dengan cara budidaya, peningkatan hasil dan lainnya, sedangkan upaya diversifikasi produksi dilakukan melalui pengembangan pola pertanian dan pengembangan produksi pasar. Pengembangan sistem produksi beras di tingkat

39

kabupaten sampai di pedesaan dinilai strategis dalam rangka mengatasi resiko.

(Muchjidin, 2010: 3/29).

Pengembangan produksi pangan (beras) telah di atur dalam peraturan mendagri No 30 tahun 2008 tentang cadangan produksi pangan disebutkan beberapa poin dalam (Muchjidin, 2010: 3/29) adalah:

a. Meningkatkan ketersediaan dan distribusi pangan ( beras).

b. Meningkatkan komsumsi pangan lokal dalam rangka menciptakan produk pangan lokal.

c. Meningkatkan jangkauan aksessibilitas masyarakat terhadap pangan.

d. Menanggulangi terjadinya keaadaan darurat dan kerawanan pangan.

e. Menjaga stabilitas pangan masyarakat.

f. Harga dasar gabah mulai diterapkan sejak 1969 dan terus dipertahankan hingga kini.

4. Konsep Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Sejalan dengan itu, formula yang dipakai untuk menentukan harga dasar dan HPP terus berubah antar waktu. Meskipun formulanya mengalami perubahan, namun hakekatnya bertujuan untuk melindungi petani dari kejatuhan harga pada musim panen raya. Kebijakan penetapan HPP yang dilakukan selama ini berdasarkan kadar air dan kadar hampa. Pemerintah belum pernah menetapkan HPP multikualitas berdasarkan varietas, musim tanam, wilayah, kualitas gabah itu sendiri dan sebagainya. Sejalan dengan perkembanganya sebagian kalangan mengusulkan wacana HPP multikualitas untuk mendorong peningkatan kualitas gabah dan memberikan insentif yang lebihbesar bagi berkembangnya industri perberasan. Penetapan HPP berdasarkan kadar air dan kadar hampa dilakukan dan dipertahankan hingga saat ini dengan pertimbangan bahwa sebagian besar petani Indonesia memproduksi gabah

pada kualitas tersebut, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan mayoritas petani padi.

Petani memang memproduksi dan menjual gabah yang masuk dalam kriteria yangditetapkan, dan apakah kebijakan HPP tunggal yang ditempuh pemerintah selama ini sudah tepat. Sehubungan itu, perlu dilakukan kajian yang dapat menjawab pertanyaan tersebut danmembuka peluang untuk perbaikan kebijakan perberasan di masa mendatang. (Yuningsi, 2010/3/29).

5. Keadaan Integrasi Harga Pasar Beras

Tidak terintegrasinya suatu pasar dengan pasar lainnya biasa disebabkan karena adanya hambatan transpotasi pengiriman barang atau karena adanya kekuatan yang mampu mempengaruhi keadaan harga pada pasar tersebut, keadaan defisit beras beras bukanlah hal yang mnghawatirkan asal ditanggulangi dengan adanya kelancaran perdagangan dan arus kuantitas beras yang masuk sehingga daerah defisit, selalu terintegrasi dengan pasar-pasar beras propinsi lainnya dan biasa merespon dengan cepat setiap permintaan. Dengan demikian tidaklah menjadi alasan bahwa suatu daerah harus memaksakan keadaan swasembada pangan. (Mardianto, 2001:115).

Hubungan marjin tataniaga beras dengan fluktuasi harga di pasar konsumen prilaku pedagang menunjukkan adanya kekuatan monopsonistik karena mereka memiliki aksesibilita dan informasi yang cepat kepasar konsumen. Dengan penguasa pasar, para pelaku tataniaga bisa meneruskan resiko fluktuasi, pasar pada tingkat dibawahnya dan akhirnya sampai ke petani sebagai penerima residual. Dari resiko tersebut tampa memiliki kemampuan untuk menolak ataupun menghindarinya.

Keadaan ini memperlihatkan adanya keterpisahan petani dari pasar, karenanya pemain pasar sesungguhnya adalah para pedagang sebagai pelaku tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen. Pada kondisi seperti ini ,insentif pasar dan usaha untuk

41

mensejahtrakan petani melalui kebijakan harga tidak akan efektif dirasakan petani karena akan banyak dinikmati oleh para pelaku tata niaga. Pola intervensi pemerintah yang mungkin dapat dilakukan, terlebih dahulu akan dilihat bagaimana apabila kebijakan harga beras diserahkan kepada pasar internasional. Indikator yang digunakan adalah harga beras internasional. (Mardianto, 2001: 117).

Dokumen terkait