BAB IV HASIL PENELITIAN
F. Syarat dan Ketentuan Membangun Rumah Ibadah 61
Dalam pendirian rumah ibadah perlu memperhatikan syarat-syarat dan ketentuan seperti yang diatur dalam PBM NO.9 dan 8
73 Wawancara, Dengan Mina Rianduru, Masyarakat Non Muslim Gayo Lues, Pada tanggal 4 September 2022
74 Observasi pada Tanggal 4 Desember 2022, Pukul 15:00 WIB, Desa Pangur, Kecamatan Dabun Gelang.
62 tahun 2006. Pengurusan izin pendirian rumah ibadah menjadi kewajiban panitia pembangunan rumah ibadah perlunya menempuh langkah-langkah berikut : Pertama, memahami situasi dan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar dengan mengedepankan kearifan bahwa rumah ibadah yang akan dibangun akan bermanfaat untuk agamanya serta masyarakat disekitarnya. Kedua, menjaga kerukunan umat beragama dan tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum serta mematuhi peraturan perundang-undangan. Ketiga, membuat daftar nama dan kartu tanda penduduk (KTP) pengguna rumah ibadah dan di sahkan oleh lurah/camat diwilayah rumah ibadah akan dibangun. Keempat, menunjukkan bukti dukungan pembangunan rumah ibadah dari sekelompok agama lain dengan menunjukkan KTP sekurang-kurangnya 60 orang dan disahkan oleh lurah/camat diwilayah dimana rumah ibadah akan dibangun.Kelima, memperoleh rekomendasi tertulis dari kepala kantor kementerian agama kabupaten /kota. Keenam, memperoleh rekomendasi tertulis dari FKUB kabupaten /kota.
Ketujuh, menulis surat permohonan izin pendirian rumah ibadah dan proposal pembangunan rumah ibadah kepada bupati/walikota setempat dengan melampirkan bukti-bukti persyaratan yang diperlukan. Kedelapan, menyerahkan surat permohonan izin pendirian rumah ibadah kepada bupati/walikota setempat untuk memperoleh IMB rumah ibadah.75
Adanya mekanisme perizinan pada dasarnya mengandung prinsip bahwa harus ada pengendalian dalam setiap pemanfaatan ruang untuk kepentingan apa pun. Karena bangunan rumah ibadah memiliki nilai sosial yang tinggi, maka perizinan tentu diperlukan agar tidak menimbulkan persoalan sosial yang diakibatkan oleh pendirian gedung tersebut. Terlebih lagi dalam sistem hukum Indonesia yang tidak menganut adanya hak mutlak atas
75 Abdullah Idi,” Politik etnisitas Hindia Belanda”, ( LKiS:
Yogyakarta, 2018), hlm.141.
63 tanah/ruang, maka pendirian rumah ibadah juga tidak diletakkan dalam konteks hak dan kebebasan beragama yang bersifat mutlak.76 Dari hasil wawancara dengan ketua MPU di kabupaten Gayo Lues, beliau mengatakan bahwa mengenai pembangunan rumah ibadah di Gayo Lues sudah sesuai dengan aturan pemerintah dan sudah memenuhi persyaratan. Karena memang rumah ibadah yang ada di Gayo Lues hanya Masjid dikarenakan 99,80 % penduduk Gayo Lues adalah muslim, sedangkan untuk rumah ibadah umat Kristiani yaitu Gereja, pemerintah belum bisa memberikan izin disebabkan persyaratannya yang memang belum memadai, sejauh ini umat kristen yang terdata hanya 65 orang saja dan itu tersebar dibeberapa kecamatan. Selain karena umatnya yang masih sangat sedikit, alasan lain kenapa pemerintah belum bisa memberikan izin untuk mendirikan gereja adalah karena tidak adanya lahan dan belum adanya izin dari penduduk setempat.
Sekilas umat Kristen di Gayo Lues memang terlihat banyak, akan tetapi yang terdaftar sebagai penduduk tetap di Gayo Lues dan telah mendaftarkan KTP (kartu tanda penduduk) dan KK (kartu keluarga) di Gayo Lues hanya 65 orang saja.77 Untuk menjaga kenyamanan dan ketenteraman di tengah-tengah masyarakat, dan agar tidak adanya kesenjangan, pemerintah memberikan izin kepada umat kristiani untuk membuat tempat berkumpul seperti aula sebagai tempat untuk beribadah dengan syarat tidak boleh menambahkan salib diatas bangunan tersebut.
Namun dalam kenyataan lapangan, realisasi peraturan pendirian rumah ibadah tersebut tidak semudah yang dibayangkan.
Sekalipun semua persyaratan formal telah terpenuhi, hal tersebut belum menjadi jaminan akan terwujud pembangunan rumah ibadah dengan mulus. Sebagaimana dirasakan oleh kalangan umat Islam, umat Kristen juga merasakan kesulitan dalam pembangunan tempat
76 Aidul Fitriciada Azhari,”Catatan Kritis Konstitusi: Hukum Tatanegara, Politik, Hukum Islam”, (Solo: Penerbit SI, 2009), hlm. 136.
77 Wawancara, dengan H. Syahirman, Wakil FKUB Gayo Lues, 4 September 2022, pukul 19:20 WIB
64 ibadah. Hal itu disebabkan karena adanya ketentuan pendirian rumah ibadah. Ketentuan tersebut memberatkan umat Islam dan umat Kristen. Seringkali masyarakat dikalangan bawah sudah mendukung tapi para pejabat maupun ketua adat tidak memberikan izin. Prosedur pendirian tempat-tempat ibadah mendapat tanggapan yangberbeda-beda dari tokoh-tokoh agama.
Permasalahan yang sering timbul dikalangan Kristen adalah persyaratan jumlah KK yang tinggal dilingkungan yang sama sebanyak 60 KK. Padahal, Gereja pada suatu tempat biasanya digunakan oleh umat baik yang berasal dari daerah tersebut maupun dari luar daerah. Hal ini menyebabkan persyaratan 60 KK dianggap membatasi. 78Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa di lapangan akan terjadi perselisihan antara dua komunitas agama terkait dengan pendirian rumah ibadah atau pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadah sebagai rumah ibadah, oleh karena itu, peraturan bersama menag dan mendagri NO. 9/2006 dan NO.
8/2006 juga telah mengatur secara tegas dan jelas untuk menyelesaikan perselisihan yang barangkali terjadi sebagaimana tertera dalam BAB VI pasal 21 dan pasal 22. Pasal 21 mengatur bahwa :
(1) Perselisihan akibat pendirian rumah ibadah diselesaikan secara musyawarah oleh masyarakat setempat.
(2) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 tidak tercapai, penyelesaian perselisihan dilakukan oleh Bupati/walikota dibantu oleh kepala kantor departemen agama kabupaten/kota melalui musyawarah yang dilakukan secara adil dan tidak memihak dengan mempertimbangkan pendapat atau saran dari FKUB kabupaten/kota.
78 Ahmad Najib Burhani,Dave Lumenta, Didi Kwartanada dkk, “Dilema Minoritas Di Indonesia”, (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2020), hlm. 251-254.
65 (3) Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 tidak tercapai, penyelesaian perselisihan dilakukan melalui pengadilan setempat.79
Pendeknya, apabila terjadi perselisihan akibat pendirian rumah ibadah, maka diselesaikan melalui mekanisme permusyawaratan atau proses hukum. Artinya, tidak ada pencabutan izin ruma ibadah yang berarti penutupan rumah ibadah tanpa melalui proses hukum.
Prinsip ini sesuai dengan ketentuan dasar mengenai pembatasan atas hak dan kebebasan yang harus ditetapkan berdasarkan hukum (determined by law). Artinya tidak boleh terjadi penutupan rumah ibadah berdasarkan kesewenang-wenangan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.80
Selain beberapa peraturan diatas, pada laman sistem informasi pelayanan publik kemenpan RB dijelaskan juga syarat-syarat administratif lain yang harus dipenuhi dalam mendirikan rumah ibadah, yaitu :
1. Surat pernyataa kesanggupan mematuhi ketentuan teknis dan menanggung resiko kontruksi bangunan format IMB 2 bermaterai cukup.
2. Menunjukkan sertifikat hak atas tanah/akta jual beli.
3. Bukti lunas pembayaran pajak bumi dan bangunan PBB-P2 tahun berjalan.
4. Gambar rencana arsitektur bangunan denah, tampak dan potongan skala.
5. Perhitungan dan gambar rencana konstruksi serta laporan hasil penyelidikan tanah untuk jenis bangunan bertingkat diatas 4 lantai.
6. Perhitungan dan gambar rencana konstruksi serta laporan hasil penyelidikan tanah untuk jenis bangunan bertingkat diatas 4 lantai.
79 Faisal Ismail,”Islam yang Produktif”, (IRCiSoD: Yogyakarta, 2017) , hlm.58.
80 Aidul Fitriciada Azhari,” Catatan Kritis Konstitusi: Hukum Tatanegara, politik, hukum Islam”, hlm. 138
66 7. Izin lingkungan/SPPL dinas LH.
8. IMB terdahulu dan gambar bangunan gedung bila bermaksud bongkar berdirikan/perubahan fungsi, memperluas/memperbaiki bangunan gedung.
9. Saran teknis penggunaan dan pemanfaatan rumija atau saran teknis penataan drainase dari perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang.
10. Saran teknis lalu lintas atau rekomendasi penilaian analisis dampak lalu lintas dari perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang perhubungan.
11. Rencana tapak/siteplan yang telah disahkan bagi yang memenuhi kriteria siteplan untuk luas lahan diatas 750 m2.
12. Saran teknis pembangunan dan pemanfaatan rumija atau saran teknis penataan drainase dari perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang.
Kehadiran sebuah rumah ibadah sering mengganggu hubungan antar umat beragama, atau bahkan memicu konflik karena lokasinya berada ditengah komunitas yang kebanyakan menganut agama lain. Rumah ibadah dalam kaitan ini, tidak hanya dilihat sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah atau kegiatan keagamaan semata, tetapi juga sebagai simbol keberadaan, suatu kelompok agama. Permasalahannya menjadi rumit jika jumlah rumah ibadah tersebut dipandang oleh pihak lain tidak berdasarkan keperluan, melainkan untuk kepentingan penyiaran agama pada komunitas lain.
Kasus-kasus yang terkait dengan pengrusakan rumah ibadah menjadi salah satu faktor yang melatar belakangi lahirnya SKB Menag dan Mendagri NO. 1 tahun 1969 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri NO. 9 tahun 2006 dan/ NO. 8 tanggal 21 maret 2006 tentang pedoman pelaksaan tugas kepala daerah dalam
67 pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pendirian rumah ibadah. Dasar peraturan bersama ini tentu saja merujuk kepada undang jaminan tersebut dirumuskan pada undang-undang dasar 1945 khususnya dalam pasal 29 ayat 92) UUD 1945 bahwa,”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”81
Konflik merupakan fenomena yang tidak akan pernah hilang dalam kehidupan manusia. Namun ia bisa diminimalisir dalam setiap kehidupan demi kepentingan sosial yang lebih besar.
Penyelesaian terhadap setiap masalah yang dihadapi setiap orang atau kelompok tertentu merupakan sebuah keniscayaan yang mesti mendapatkan perhatian dan keseriusan semua pihak. Secara tanggung jawab sosial dan kelembagaan, pemerintah memiliki peran dan tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi warganya dibandingkan dengan tanggung jawab orang lain secara individual. Upaya pembinaan kerukunan antar umat beragama saat ini sudah dilakukan dalam berbagai bentuk, baik dari pemerntah provinsi, kabupaten maupun dalam lingkungan masyarakat setempat tersebut. Penyuluhan terhadap tokoh-tokoh agama dan masyarakat juga sudah mendapatkan perhatian pemerintah. Namun pembinaan tersebut akan mendapatkan hasil yang maksimal ketika dilakukan dengan maksimal pula, dan harus ada kesadaran dari semua pihak, sama-sama menahan diri agar tidak memicu konflik.82
Sebagian Kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah teks keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan peperangan.
81 Saidurrahman,”Nalar Kerukunan Merawat Keragaman Bangsa Mengawal NKRI”. hlm. 111.
82 Juhari dan Zulfadli “Interaksi Antar Umat Beragama Pasca Konflik Sosia Di Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil” Jurnal, hlm. 12.
68 Akibatnyaagama sering dijadikan legitimasi terhadap sikap-sikap agresif dan radikal kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya.
Menurut Koentjaraningrat sumber konflik antar suku dan golongan di Indonesia antara lain jika satu suku bangsa memaksa unsur-unsur dari kebudayaan dan agamanya, kepada kelompok suku bangsa lain.
Dengan demikian, sumber konflik itu bukan karena ajaran agamanya yang gagal dalam mewujudkan perdamaian, namun lebih karena pemeluk agama yang gagal memahami dan memaknai ajaran agama yang dianutnya. Konflik keagamaan bisa terjadi bukan hanya terjadi antara komunitas yang berbeda, tetapi juga sering melibatkan dua komunitas pemeluk agama yang sama.
Konflik ahmadiyah dengan non ahmadiyah, sunni dengan syiah, dan isu aliran-aliran sempalan, merupakan bukti adanya konflik dua komunitas penganut agama yang sama. Konflik ini biasanya terjadi dibawah payung pemurnian agama dan pembersihan agama dari ajaran yang dianggap sesat atau sempalan.83
G. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Gayo Lues
FKUB merupakan salah satu lembaga yang bertugas untuk menjaga kerukunan, kedamaian dan ketentraman umat beragama disuatu daerah. FKUB yang sudah di bentuk baik di Provinsi maupun Kabupaten/kota mempunyai tugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarkat dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan gubernur ataupun walikota dan bupati.84 Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh FKUB Gayo Lues yaitu: Penguatan Moderasi Intern Umat beragama yang dilaksanakan pata tahun 2021, kemudian kegiatan yang barusaja
83 Abdul Jamil Wahab,”Manajemen Konflik Keagamaan”, (Jakarta:
Elex Media Komputindo, 2014), hlm.8-9.
84 Komnas HAM RI, “Kajian Komnas HAM RI aas PBM NO. 9 dan NO. 8 Tahun 2006 Terkait Pendirian Rumah Ibadah” (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia : 2020), hlm. 56-57.
69 dilaksanakan yaitu penguatan kapasitas Forum Kerukunan Umat Beragama dengan tema “Merajut Persaudaraan dan menciptakan kedamaian” yang dilaksanakan pada bulan September tahun 2022.
Bisa dikatakan bahwa FKUB yang ada di Gayo Lues baru berkembang, sampai saat ini FKUB belum memiliki gedung atau kantor sendiri, FKUB masih berada di bawah naungan Kemenag Gayo Lues, bahkan beberapa anggota dari FKUB masih merangkap jabatan, kegiatan yang telah dilaksanakan juga baru sedikit, kendati demikian para pengurus FKUB akan terus berupaya agar kerukunan umat beragama di kabupaten Gayo Lues tetap terjaga. 85
Tabel 4.4. Pengurus FKUB Gayo Lues Periode 2021-2022
NO NAMA JABATAN
1 H.Hasanuddin, S.Pd.I Ketua
2 H.Sahirman Wakil Ketua
3 Dharmika Yoga,SE.M.pd Sekretaris
4 Lukman AR, SH Bendahara
5 H.Idris, S.pd Anggota
6 Dr.Andi Putra,Lc.MA Anggota
7 M.Yusuf,S.pd.I,M.pd Anggota
8 Ridho,S.Th.I Anggota
9 Dzulkifli
Wijaya,SH.Mec.Dev
Anggota
10 Siti Absah,S.pd Anggota
11 Afrizal Syahputra Anggota
12 Ali Amran,S.pd,M.pd Anggota
13 Amsyahrullah,S.Ag Anggota
14 Wardana,S.pd Anggota
15 H.Hasbullah,S,Ag Anggota
Sumber : FKUB Kabupaten Gayo Lues
85 Wawancara, dengan Syahirman, Wakil FKUB Kabupaten Gayo Lues, Tanggal 3 September 2022, Pukul 19:30 WIB
70