TOLERANSI UMAT BERAGAMA DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAH
( Studi kasus di Gayo Lues)
SKRIPSI
Diajukan oleh:
RINI LISMEILIANI NIM. 180302027
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Program Studi: Studi Agama Agama
FAKULTAS USHULUDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM BANDA ACEH 2022 M / 1444 H
iv ABSTRAK
Nama / NIM : Rini Lismeiliani / 180302027
Judul Skripsi : Toleransi Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah (Studi Kasus di Gayo Lues)
Tebal Skripsi : 79 halaman
Prodi : Studi Agama-Agama
Pembimbing I : Dra. Suraya IT., M.A., Ph.D Pembimbing II : Hardiansyah, S.Th.I., M.Hum
Indonesia merupakan negara yang multikultural, yaitu negara yang memiliki beraneka ragam suku, budaya dan juga agama.
Masyarakat Indonesia juga merupakan masyarakat yang majmuk, yaitu suatu kondisi dimasyarakat yang terdiri dari berbagai perbedaan strata, ekonomi, ras, suku, bangsa, agama dan budaya.
Seringkali perbedaan dan keragaman ini rentan akan konflik, terutama konflik yang diakibatkan oleh sikap intoleransi. Konflik yang timbul akibat sikap toleransi ini akan merusak nilai-nilai kerukunan yang ada di Indonesia terutama kerukunan antar umat beragama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan nilai-nilai toleransi umat beragama dan pendirian rumah ibadah yang ada di Kabupaten Gayo Lues. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif (field research) yang berbasis pada penelitian lapangan dan berfokus pada pengamatan yang mendalam, metode ini digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dan menggunakan sistem pengumpulan data dengan tahapan observasi, wawancara dan kemudian dokumentasi. Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi yang diterapkan masyarakat Gayo Lues berupa rasa hormat, menghargai dan menerima perbedaan, kemudian minimnya kasus atau konflik yang terjadi di Gayo Lues menunjukkan bahwa masyarakat Gayo Lues sudah menerapkan nilai-nilai toleransi. Sejauh ini belum pernah terjadi kasus atau konflik antar umat beragama di Gayo lues.
v
KATA PENGANTAR
ِِمْي ِح َّرلاِ ِنَمْح َّرلاِِاللهِ ِمــــــــــــــــــْسِب
Segala puji dan rasa syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, karunia serta hidayah- Nya kepada kita semua. Shalawat beriringkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat beliau yang telah menuntun umat manusia kepada kedamaian dan membimbing kita semua menuju agama yang paling benar di sisi Allah yaitu Agama Islam.
Alhamdulillah berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Toleransi Umat Beragama dan Pendirian rumah Ibadah Studi Kasus di Gayo Lues”.
Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Alhamdulillah Penyusunan skripsi ini berhasil penulis selesaikan berkat bantuan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Dra.
Suraya IT., M.A., Ph.D sebagai pembimbing I, dan Hardiansyah, S.Th.I., M.Hum sebagai pembimbing II, yang telah memberikan bantuan, bimbingan, ide, pengorbanan waktu, tenaga serta pengarahan sehingga skrpsi ini dapat terselesaikan.
Penghargaan yang luar biasa penulis sampaikan kepada pimpinan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Bapak Dr. Salman Abdul Muthalib, LC.M.Ag, Kepada ibu Dr. Juwaini, M.Ag, sebagai ketua program Studi Agama-Agama, Ibu Nurlaila, M.Ag sebagai sekretaris program Studi Agama-Agama. Ucapan terimakasih juga kepada Dosen dan asisten serta seluruh karyawan dilingkungan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.
Ucapan terimakasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada Ayahanda tercinta Muhammad Saleh dan Ibunda tersayang Simarni yang selalu mendidik, mendukung, memberikan segala
vi
bentuk pengorbanan, nasehat, semangat dan kasih sayang sehingga penulis sampai pada tahap ini. Ucapan terimakasih juga kepada kawan-kawan seperjuangan Studi Agama-Agama letting 2018 yang banyak memberi motivasi, nasihat serta pengorbanan materil dan waktu menemani penulis dalam menyiapkan skripsi ini.
Terimakasih penulis ucapkan kepada FKUB, MPU serata masyarakat Gayo Lues yang telah memberikan informasi yang cukup banyak tentang toleransi dan pendirian rumah ibadah serta data yang yang berkaitan dengan masalah yang peneliti sedang teliti. Penulis menyadari bahwa tidak ada satupun yang sempurna didunia ini, Kebenaran selalu datang dari Allah SWT dan kesalahan it datang dari penulis sendiri, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan karya ilmiah ini. Demikian harapan penulis semoga skripsi ini memberikan manfaat kepada pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.
Banda Aceh, 25 November 2022 Penulis,
Rini Lismeiliani
vii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 9
C. Rumusan Masalah ... 10
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12
A. Kajian Pustaka ... 12
B. Kerangka Teori ... 16
C. Definisi Operasional ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 26
A. Lokasi Penelitian ... 26
B. Jenis Penelitian ... 26
C. Informan Penelitian ... 27
D. Sumber Data ... 27
E. Teknik Pengumpulan Data ... 28
F. Teknik Analisis Data ... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 31
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 31
1. Sejarah Kabupaten Gayo Lues ... 31
2. Aspek Geografi dan Topografi ... 33
3. Aspek Administratif ... 34
4. Aspek Demografi ... 35
viii
5. Potensi Daerah ... 37
6. Pendidikan ... 39
7. Agama dan Keyakinan Di Gayo Lues ... 41
B. Toleransi Umat Beragama di Gayo Lues ... 43
C. Pengaruh Toleransi Terhadap Kerukunan Umat Beragama Gayo Lues ... 48
D. Rumah Ibadah di Gayo Lues ... 51
E. Kriteria Rumah Ibadah di Gayo Lues... 55
1. Kriteria Masjid ... 56
2. Kriteria Gereja ... 59
F. Syarat dan Ketentuan Membangun Rumah Ibadah 61 G. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Gayo Lues ... 68
H. Analisa Penelitian ... 70
BAB V PENUTUP ... 72
A. Kesimpulan ... 72
B. Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 74
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 80
ix
DAFTAR TABEL
TABEL 4.1: Sebelas Kecamatan di Gayo Lues ... 34
TABEL 4.2: Hasil Panen Padi Tahun 2020 ... 39
TABEL 4.3: Komposisi Penduduk Menurut Agama ... 43
TABEL 4.4: Susunan Pengurus FKUB ... 69
x
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR 4.1: Kepadatan Penduduk Gayo Lues ... 36
GAMBAR 4.2: Jumlah Sekolah di Gayo Lues ... 40
GAMBAR 4.3: Kasus-Kasus Keagamaan di Gayo Lues ... 50
GAMBAR 4.4: Jumlah Masjid di Gayo Lues ... 55
GAMBAR 4.5: Masjid Asal Gayo Lues ... 59
GAMBAR 4.6: Rumah Ibadah Umat Kristen Gayo Lues ... 61
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Agama merupakan sesuatu yang menghubungkan seorang individu dengan apa yang diyakini dan dipercayainya sebagai sebuah realitas sejati dari tuhan. Dikutip dari kamus besar Bahasa Indonesia, agama merupakan sistem yang menata keimanan (keyakinan) dan pengabdian serta penghambaan kepada tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang bersangkutan dengan hubungan antar individu serta antara individu dengan lingkungan dan sekitarnya. Kata “Agama” diambil dari bahasa sanskerta yang artinya “Tradisi”. Agama juga kerap kali disebut dengan istilah religi yang berasal dari bahasa latin “Religio” yang artinya
“Mengikat kembali”, hal ini bermaksud bahwa dengan agama dan keyakinan maka seorang individu akan menghubungkan kembali dirinya dengan zat yang paling tinggi atau tuhan.
Agama juga merupakan suatu tatanan dan rangkaian keyakinan, tata nilai, aturan moral, dan sistem budaya yang mengikat seseorang dengan suatu hal yang bersifat transenden atau Ilahiah.1 Semua agama memiliki cerita atau kisah, konsep, dan simbol untuk menerangkan arti, kebenaran, hakikat, tujuan dan asal muasal kehidupan, dan alam semesta. Masing-masing agama juga mempunyai mitologinya masing masing yang dipergunakan sebagai kisah untuk menerangkan keberadaan alam dan jagat raya.
Agama juga merupakan suatu perjalanan hidup yang bermakna ajaran ajaran tentang suatu realitas tertinggi tentang keberadaan manusia dan ajaran bagi manusia untuk menjalankan kehidupan di dunia ini baik secara jasmani maupun rohani.
Menurut Hadikusuma dan Bustanudin Agius, Agama adalah ajaran
1 Mohammad Zazuli, Sejarah Agama Manusia, cetakan kedua.
(Yogyakarta: Narasi, 2019), hlm. 1.
2 yang diturunkan oleh tuhan sebagai petunjuk bagi umat dalam menjalani kehidupannya.2
Untuk menjaga keselarasan hubungan antara manusia dan tuhannya, maka diperlukan tempat untuk beribadah atau yang biasa kita sebut rumah ibadah sebagai tempat untuk manusia menyembah kepada tuhannya, rumah ibadah merupakan sebuah bangunan yang mempunyai ciri khas tertentu yang eksklusif digunakan untuk beribadah bagi para pemeluk tiap-tiap agama secara permanen dan terus menerus. Keberadaan rumah ibadah merupakan suatu kebutuhan bagi setiap umat beragama.
Indonesia merupakan negara yang multicultural, yaitu Negara yang memiliki beraneka ragam suku, budaya dan juga agama. Masyarakat Indonesia juga merupakan masyarakat yang majmuk, yaitu suatu kondisi di masyarakat yang terdiri dari banyak perbedaan strata, ekonomi, ras, suku, bangsa, keyakinan dan budaya serta adat istiadat yang bergerak dengan apa adanya. Salah satu faktor terpenting dalam kehidupan bersama di Negara Indonesia adalah agama, tetapi bukan berarti Negara harus menjadi Negara agama. Negara merupakan hak bersama dalam setiap perbedaan agama. Indonesia adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam namun bukan berarti bahwa Indonesia merupakan Negara Islam, Indonesia memiliki keragaman agama yakni Agama Islam, Kristen, katolik, Konghucu, Buddha, Hindu dan berbagai kepercayaan yang ada di bawah naungan pancasila. Beragamnya agama di Indonesia sering menimbulkan disharmonisasi di dalam interaksi hubungan bermasyarakat, karena masing masing agama mengklaim bahwa agama merekalah yang paling benar.
Untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama, setiap pemeluk agama memiliki sistem ritus atau upacara ritual. Biasanya system ritus ini dikenal dengan ibadat, kebaktian, berdoa, atau sembahyang (shalat dalam islam). Tempat untuk melakukan ritus (ibadah,
2 Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), hlm. 29.
3 berdoa, dan sembahyang) adalah rumah atau tempat ibadah. Dalam sejarah konflik antar agama di Indonesia, tempat ibadah selalu menjadi tempat pelampiasan amarah, perusakan, dan pembakaran.
Terkadang kesenjangan yang terjadi bukan hanya melibatkan satu suku dengan suku lain, satu agama dengan agama lainnya, akan tetapi juga melibatkan suatu perkumpulan yang mempunyai latar belakang etnik, suku, bahasa dan agama yang sama.3
Tentu saja masalahan ini membutuhkan perhatian lebih dari pihak yang berwajib untuk memanifestasikan kebijakan melalui peraturan Undang-Undang, di Indonesia sendiri terdapat enam agama yang diakui. Meskipun Indonesia terkenal dengan toleransinya, bahkan diakui Jerman sebagai Negara yang menginspirasi toleransi beragama dan multikulturalisme, akan tetapi di Indonesia sendiri masih rentan terjadi beberapa konflik umat beragama, seperti konflik umat beragama di Poso, di Tanjung Balai, di Papua bahkan masih ada di beberapa daerah lain.
Beberapa konflik rumah ibadah lainnya yaitu rumah yang dijadikan tempat ibadah Gereja GBI antiokhia di pekarangan perumahan tebing indah permai di link. 02 kelurahan Bandar Utama Kecamatan Tebing Kota , Tebing Tinggi. Adanya ke tidak setujuan masyarakat komplek perumahan tersebut pada kegiatan yang dilakukan di Gereja GBI dimaksud. Balai kesehatan yang berfungsi untuk Vihara di kota Tanjung Balai. Adanya keberatan warga disebabkan izin pendirian bangunan sebagai balai kesehatan akan tetapi digunakan sebagai rumah ibadah, Pembangunan rumah ibadah Gereja HKBP Resort Binjai Baru Kota Binjai. Adanya ketidak setujuan masyarakat komplek II kelurahan Jati Makmur Kota Binjai atas pendirian rumah ibadah Gereja HKBP, pembangunan tempat ibadah kuil Balaji Venkateshwara di jalan Bunga Wijaya Kusuma No.25 A Kecamatan Padang Bulan Selayang II Kota Medan. Adanya masyarakat yang tidak setuju terhadap pembangunan Kuil tersebut, kemudian Pendirian patung
3Miftahul Anam, Khavita dan Puji Ayu, Membangun Harmoni Antar Umat Beragama (IAIN Kudus: Guepedia, 2021), hlm. 22 – 23.
4 Amithaba di Vihara Tri ratna di Tanjung Balai, warga meminta supaya pendirian patung tersebut dipindahkan. Penyerbuan yang dilakukan oleh tiga ratus orang kepada umat muslim dan perusakan tempat ibadah di Kampung Melayu Selambo Desa Amplas Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dan melempari masjid Al-Barokah, dan membakar lima rumah, dan juga merusak tanaman masyarakat. Pengrusakan masjid di Lumbanlobu Toba Samosir tanggal 27 Juli 2010. Terbakarnya dua masjid di Desa Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan, 30 maret 2011.4
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa masih banyak sekali ditemukan pelanggaran-pelanggaran atas kebebasan beribadah di Indonesia yang dilakukan oleh pemeluk agama terhadap pemeluk agama yang lain. Rumah ibadah yang seharusnya menjadi tempat untuk beribadah kepada tuhan, akhirnya harus dirusak, disegel, karena tidak sesuai aturan menurut masyarakat setempat. Kasus- kasus tersebut paling banyak melibatkan umat kristen dan islam.
Seperti yang pernah terjadi di Provinsi Aceh tepatnya di Kabupaten Singkil pada tahun 2015 silam yang melibatkan lebih kurang 600 orang, satu orang tewas dan empat orang mengalami luka-luka.
Dari beberapa konflik tersebut dapat kita simpulkan bahwa masih kurangnya nilai nilai toleransi dalam masyarakat Indonesia, pengertian dari toleransi sendiri adalah sikap saling menghormati dan saling menghargai antar keyakinan maupun berbeda keyakinan sehingga bisa menimbulkan rasa kenyamanan dan ketentraman dan tidak ada lagi konflik dan kesenjangan, toleransi juga merupakan sebuah kebebasan setiap sesama manusia untuk menentukan setiap nasibnya selama tidak bertentangan dengan syarat-syarat ketertiban perdamaian. Fungsi dan tujuan dari toleransi beragama adalah mempererat hubungan antar umat beragama, sikap toleransi mengajarkan dalam saling menghormati semua perbedaan yang ada sehingga tidak menyebabkan kesenjangan ditengah-tengah
4 Saidurrahman,”Nalar Kerukunan Merawat Keagamaan Bangsa Mengawal NKRI”(Jakarta: KENCANA, 2018), hlm. 110.
5 masyarakat, kelompok, atau agama, dengan diterapkannya toleransi kita juga dapat menghindari perpecahan yang timbul akibat perselisihan.5
Filosofi dari toleransi tertuju pada sikap keterbukaan dan bisa mengakui adanya bermacam-macam perbedaan, baik dari sisi etnis, suku, bangsa, warna kulit, bahasa, adat istiadat, budaya serta agama. Sebagai makhluk, sudah seharusnya untuk mengikuti petunjuk dan perintah tuhan dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut, karena tuhan senantiasa mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adat istiadat dan sebagainya.6
Secara definisi Islam adalah agama yang damai, selamat dan menyerahkan diri. Definisi Islam yang demikian seringkali di rumuskan dengan istilah “Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin yaitu agama yang mengayomi seluruh alam. Artinya Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati bukan memaksa. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam beragama adalah kehendah Allah SWT.
Dalam Islam toleransi berlaku bagi semua orang, baik itu sesama muslim maupun non muslim. Terhadap mereka yang berbeda agama dan keyakinan, Al-qur’an telah menetapkan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama, sebab kebebasan beragama merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak hak manusia yang sangat mendasar.
Toleransi terhadap perbedaan agama atau keyakinan sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 256 yaitu :
ِ ْرُفْكَّيِ ْنَمَفِِِۚ يَغْلاَِنِمُِدْش ُّرلاَِنَّيَبَّتِْدَقِ ِِۗنْيِ دلاِىِفَِها َرْكِآِا ََ ل
ِ َكَسْمَتْساِِدَقَفِِ هللّٰاِبِ ْْۢنِمْؤُي َوِِت ْوُغاَّطلاِب
َِماَصِفْناِ َلَِىٰقْث ُوْلاِِة َو ْرُعْلاِب
مْيِلَعٌِعْيِمَسُِ هاللّٰ َوِِۗاَهَل
5 Mela, “Moderasi Beragama Dalam Menumbuhkan Sikap Toleransi dan Moral Generasi Muda” (Guepedia: 2020), hlm. 15–20.
6 Dwi Ananta Devi, Toleransi Beragama (Jakarta: Pamularsih, 2020), hlm. 2.
6 Artinya : Tidak ada paksaan dalam menganut agama (Islam), sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar maha mengetahui.7
Allah yang maha kuasa tidak menciptakan dan tidak memaksa manusia harus selalu seragam dan bersatu dalam satu agama, melainkan Allah memeberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan yang selalu berbeda, seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 118 yaitu:
ًِةَد ِحا َّوًِةَّمُاِ َساَّنلاَِلَعَجَلِ َكُّب َرَِءۤاَشِ ْوَل َو
َِن ْوُلا َزَيِ َلَ َّو
ِْيِفِلَتْخُم ِ
Artinya : Jikalau tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.8
Terkait toleransi dan keberagaman di Indonesia, pemerintah telah membuat peraturan dan ketentuan ketentuan seperti yang tertera dalam pasal 4 undang undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia (UU HAM) di jelaskan:
“Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun”.
Kemudian dalam UU nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pada pasal 12 berbunyi:
“Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang
7 Kemenag RI, Al-Qur’an Surah Al-Baqarah / 1 : 256.
8 Tafsir Al-Muyassar, Al-Qur’an Surah Hud / 11 : 118.
7 beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia dan sejahtera sesuai dengan HAM.”9
Kemudian terkait dengan pembangunan rumah ibadah, pemerintah juga telah membuat peratuaran khusus dalam peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri nomor 9 dan 8 tahun 2006 bab IV tentang pendirian rumah ibadah pada pasal 14 menyebutkan yaitu :
a. Pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis pembangunan gedung b. Selain memenuhi persyaratan sebagaimana yang disebutkan
pada ayat (1) pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan khusus meliputi :
1. Daftar kartu nama dan kartu penduduk pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 (Sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat 3.
2. Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah atau kepala desa.
3. Rekomendasi tertulis kepala kantor Departemen Agama kabupaten atau kota.
4. Rekomendasi tertulis FKUB (forum kerukunan umat beragama) kabupaten atau kota.
c. Dalam hal persyaratan sebagaiman dimaksud pada ayat 2 huruf (a) terpenuhi sedangkan persyaratan huruf (b) belum terpenuhi, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadah.
Berbicara tentang toleransi, keberagamaan dan pembangunan rumah ibadah di Indonesia khususnya Aceh seharusnya tidak bisa dianggap remeh dan dipandang sebelah mata, karena Indonesia merupakan Negara yang majmuk dan multikultural sehingga untuk menghindari konflik, masyarakat Indonesia harus bisa menjaga
9 Elza Peldi Taher, Merayakan Kebebasan Beragam (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2009), hlm. 76.
8 kerukunan antar umat beragama, dan salah satu caranya yaitu dengan menanamkan nilai-nilai toleransi pada masyarakat. Salah satu tujuannya yaitu agar tidak adanya kesenjangan di antara masyarakat, khususnya masyarakat yang pemeluk agamanya minoritas disuatu daerah, bukankah dalam undang undang yang ditetapkan pemerintah sudah dijelaskan bahwa setiap orang berhak untuk meyakini agama yang diyakininya dan berhak mendapatkan perlindungan bagi pribadinya.
Aceh merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah muslim, ditandai dengan julukan Aceh sebagai Serambi Mekah, Aceh juga memiliki keistimewaan yaitu satu satunya Provinsi yang memiliki Syariat Islam, Kendati demikian Aceh juga merupakan daerah yang memiliki keberagaman agama yaitu Islam sebagai mayoritas, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Itu sebabnya masyarakat Aceh tidak asing dengan istilah toleransi, walaupun mayoritas masyarakat Aceh adalah islam tetapi masyarakat Aceh tetap bisa hidup rukun dan berdampingan dengan umat umat minoritas lainnya. Provinsi Aceh terdiri dari 23 kabupaten dan 18 ibu kota kabupaten dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai enam juta jiwa. Tentunya tidak mudah untuk menjaga kerukunan di antara enam juta penduduk, karena pasti ada ke egoan di antara masyarakat baik itu di individu maupun di suatu kelompok. Oleh karena itu agar selalu terjaga persaudaraan umat islam ada satu konsep yang mesti diamalkan yaitu bekerjasama dalam hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal yang diperselisihkan. Itulah sesungguhnya yang harus difahami oleh segenap Kaum Muslimin demi terpeliharanya persaudaraan dan persatuan umat Islam.10
Gayo Lues merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh yang terletak di antara Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Tengah, kabupaten ini dijuluki dengan negeri seribu bukit karena daerahnya yang terletak di pegunungan dan di kelilingi dengan
10Ulama dan Cendikiawan Aceh, Muzakkarah Pemikiran Ulama Aceh, (Aceh: Naskah Aceh, 2015), hlm. 7.
9 perbukitan, mayoritas penduduknya adalah muslim. Di kabupaten ini hanya ada dua agama saja yaitu Islam sebagai mayoritas dan kemudian Kristen sebagai minoritas, umat minoritas di Gayo Lues adalah pendatang, rata rata merupakan imigran dari Medan, Padang dan Pulau Jawa yang merantau untuk mencari pekerjaan, beberapa diantaranya adalah Aparatur Negara yang bertugas di Gayo Lues sebagai tentara dan polisi.
Dalam peraturan bersama telah dijelaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengalaman ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
B. Fokus Penelitian
Penelitian merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencari jawaban dari persoalan yang dihadapi secara ilmah. Penelitian menggunakan cara berfikir reflektif, berfikir keilmuan dengan prosedur yang sesuai dengan tujuan dan sifat penyelidikan, karena salah satu cara untuk memperoleh kebenaran adalah dengan melakukan penelitian.11
Fokus penelitian memuat rincian pertanyaan tentang cakupan atau topik-topik yang akan di ungkap atau digali dalam penelitian. Fokus penelitian merupakan garis besar dari pengamatan penelitian, sehingga observasi dan analisa hasil penelitian lebih terarah. Oleh sebab itu agar tidak terjadi pembahasan yang terlalu luas dan pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang menjadi judul penelitian, maka fokus penelitian ini adalah penerapan pemahaman nilai-nilai toleransi antar umat beragama dan pemahaman tentang ketentuan dan persyaratan
11 Ismail Nurdin dan Sri Hartati, Metodologi Penelitian Sosial, (Surabaya : Media Sahabat Cendikia, 2019), hlm. 13.
10 dalam pendirian rumah ibadah terhadap masyarakat Kabupaten Gayo Lues.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan nilai-nilai toleransi antar umat beragama di kabupaten Gayo Lues?
2. Apakah umat beragama Gayo Lues sudah menerapkan nilai-nilai toleransi?
3. Bagaimana pemahaman masyarakat Kabupaten Gayo Lues tentang pendirian rumah ibadah?
D. Tujuan penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini :
1. Mendeskripsikan bagaimana penerapan nilai-nilai toleransi antar umat beragama di kabupaten Gayo Lues.
2. Untuk mengetahui apakah masyarakat Gayo Lues sudah merapkan nilai-nilai toleransi.
3. Menjadi Informasi mengenai syarat dan ketentuan dalam mendirikan sebuah rumah ibadah.
E. Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian ini antara lain : 1. Manfaat Teoritis
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dibidang akademis yang dapat memeberikan informasi dan menambah ilmu pengetahuan. Kemudian dapat menjadi bahan bacaan dan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya dan sebagai bahan rujukan bagi teman-teman mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau penulisan dibidang yang sama.
11 2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan informasi bagi pemerintah khususnya pada pemerintah Kabupaten Gayo Lues.
b. Dengan penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan pengetahuan mengenai perilaku sosial beragama dan pemahaman ajaran agama islam.
c. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pelaksana hukum, terutama yang berkaitan dengan undang undang pendirian rumah ibadah.
12 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
Untuk menghindari terjadinya kesamaan terhadap penelitian yang telah ada sebelumnya maka peneliti melakukan penelusuran pada penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya, Kajian pustaka merupakan upaya seorang peneliti untuk mencari buku, artikel, penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya plagiasi.
Pertama: penelitian yang dilakukan oleh Dicky Wahyudi yang berjudul “Peran Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil dalam Pengawasan Pembangunan Rumah Ibadah”. Hasil penelitiannya yaitu, pelaksanaan izin pendirian rumah ibadah di Aceh singkil didasarkan pada peraturan bersama 2 menteri (PB2M) dan Qanun Aceh nomor 4 tahun 2016. Dalam pendirian rumah ibadah tentunya kementerian agama Aceh singkil memiliki peran yang tidak dapat dikesampingkan. Kementerian Agama Aceh singkil memiliki peran dalam mengawasi pendirian rumah ibadah melalui rekomendasi pendirian rumah iabadah dan pengawasan terhadap kepala desa atau keuchik yang diwilayah kewenangannya disinyalir terdapat pendirian rumah ibadah secara illegal. Dalam pelaksanaanya kementerian agama pula memiliki kendala-kendala dalam mengawasi pendirian rumah ibadah tersebut. Kendala- kendala tersebut diantaranya problematika regulasi, pemahaman masyarakat, citra kementrian agama, dan efektifitas perjanjian perdamaian kerukunan umat beragama.12 Dalam penelitian ini Dicky wahyudi hanya membahas tentang peran pemerintah dalam pendirian rumah ibadah dan kendala-kendala yang dihadapi pemerintah, berbeda dengan penelitian yang yang akan peneliti
12 Dicky Wahyudi, “Peran Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil Dalam Pengawasan Pembangunan Rumah Ibadah” ( Skripsi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, 2018), hlm.74.
13 lakukan yaitu tentang toleransi umat beragama dan pendirian rumah ibadah di Kabupaten Gayo Lues.
Kedua: Penelitian yang dilakukan oleh Nilhami yang berjudul “Penanaman Nilai-nilai toleransi antar umat beragama pada siswa SMPN 1 pulau banyak Aceh Singkil”. Hasil penelitiannya yaitu, penanaman nilai-nilai toleransi di SMPN pulau banyak telah diterapkan tapi belum semaksimal mungkin, kendala- kendala yang dihadapi oleh guru PAI dalam menanamkan nilai- nilai toleransi beragama kepada siswa SMPN 1 pulau banyak ialah kurangnya saran dan prasarana seperti bangunan ibadah untuk siswa yang non-muslim, tidak adanya mata pelajaran khusus toleransi, mata pelajaran pendidikan agama Kristen dan siswa masih kurang memahami pentingnya nilai-nilai toleransi serta kurangnya kepedulian dari guru non PKN dan agama terhadap toleransi.13 Dalam penelitian ini Nilhami membahas tentang kurangnya nilai-nilai toleransi di SMPN 1 pulau banyak Aceh Singkil dan kurangnya kepedulian para guru terhadap nilai-nilai toleransi dan juga kurangnya sarana dan prasarana bagi non- muslim. Berbeda dengan penelitian yang yang akan peneliti lakukan yaitu tentang toleransi umat beragama dan pendirian rumah ibadah di Kabupaten Gayo Lues.
Ketiga: Penelitian yang dilakukan oleh Putri Komala Pua Bunga yang berjudul “toleransi umat beragama dan pengaruhnya terhadap kerukunan masyarakat di desa Tendakinde kecamatan Wolowae kabupaten Nagekeo Nusa Temggara Timur”. Hasil penelitiannya yaitu, bentuk toleransi antar umat beragama yang terjadi di Desa tendakinde adalah menghadiri undangan acara sambut baru yang diadakan oleh umat katholik, menyukseskan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti menjaga ketertiban dan keamanan bagi umat agama yang sedang melaksanakan hari raya seperti natal bagi umat Katholik dan Idul fitri bagi umat Islam.
13 Nilhami,” Penanaman Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama Pada Siswa SMPN 1 Pulau Banyak Aceh Singkil” (Skripsi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, 2020), hlm. 81
14 Kerukunan masyarakat di Desa Tendakinde sudah terjalin dengan baik dengan adanya berbagai macam kegiatan masyarakat yang sudah berjalan sejak dulu seperti kerja bakti, remaja masjid dan karang taruna, yasinan ibi ibu serta acara keagamaan yang mengikut sertakan penganut agama lain dalam kepanitiaan.14Dalam penelitian ini Putri Komala Pua Bunga membahas tentang bentuk toleransi yang ada di Desa endakinde terjalin melalui kegiatan- kegiatan sosial seperti kerja bakti dan lain sebagainya. Berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu tentang toleransi umat beragama dan pendirian rumah ibadah di Kabupaten Gayo Lues.
Keempat: Penelitian yang dilakaukan oleh Rahma Berty yang berjudu “Penanaman nilai-nilai toleransi antar umat beragama di TK Pembina Sidoharjo wonogiri tahun 2020/2021”. Hasil penelitiannya yaitu, Penanaman nilai-nilai toleransi antar umat beragama di TK negeri Pembina Sidoharjo Wonogiri selain menerapkan dengan cara pembiasaan TK Pembina sidoharjo Wonogiri juga selalu mengingatkan peserta didiknya untuk memulai semua kegiatan dengan berdoa lebih dahulu, seperti berdo’a sebelum memulai kegiatan belajar dan pada saat akan makan bersama dan ketika selesai proses belajar. TK negeri Pembina Sidoharjo Wonogiri juga menanamkan toleransi dengan membuat peringatan Idul fitri dengan membuat kegiatan halal bihalal yang tidak hanya diadakan untuk murid yang beragama Islam saja. Kendala-kendala yang dirasakan oleh sekolah dalam merealisasikan nilai-nilai toleransi antar umat beragama di TK negeri Pembina Sidoharjo Wonogiri yang bisa terlihat dari minimnya sumber untuk belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar sehingga pendidikan tentang nilai-nilai toleransi tidak optimal yang disebabkan dalam penanaman nilai-nilai toleransitersebut hanya
14Putri Komala Pua Bunga,” Toleransi Umat Beragama dan Pengaruhnya Terhadap Kerukunan Masyarakat di Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo Nusa Tenggara Timur” (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Makassar, 2018), hlm. 61.
15 pada NAM. Upaya yang dilakukan lembaga untuk mencegah hambatan-hambatan dalam menerapkan nilai toleransi antar umat beragama di TK negeri Pembina Sidoharjo Wonogiri, dengan adanya hal tersebut para guru dianjurkan agar dapat memberikan pengetahuan tentang penanaman nilai toleransi kepada siswanya.15 Dalam penelitian ini Rahma Berty membahas tentang upaya lembaga dan para guru TK negeri Pembina Sidoharjo Wonogiri untuk menerapkan nilai-nilai toleransi beragama pada peserta didiknya, berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu tentang toleransi umat beragama dan pendirian rumah ibadah di Kabupaten Gayo Lues.
Kelima: Penelitian yang dilakukan oleh Lailatun Ni’mah yang berjudul “Toleransi beragama menurut M.Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah”. Hasil penelitiannya yaitu, Toleransi dalam beragama merupakan sikap terbuka dan menerima terhadap adanya agama lain. Dalam penerapan nilai toleransi tentulah memiliki factor pendukung dan penghambat seperti kurangnya keakraban sehingga menimbulkan rasa saling tidak percaya dan mengakibatkan kesenjangan dan konflik antara pengmeluknya.
Semangat Islam bertujuan membangun dan mewujudkan persatuan antara sesama makhluk. Hal tersebut bisa terwujud dengan cara berbuat baik pada sesame manusia, begitu juga pada mereka yang tidak beragama Islam. Allah tidak menghalangi umatnya untuk bermuamalah dengan baik, berteman dan berinteraksi dengan umat agama lain sejauh interaksi tersebut tidak melanggar ketentuan- ketentuan dalam syariat. Keakraban antar umat beragama sama sekali bukan perbuataan yang terlarang dalam Islam, selama berada dalam konteks kemanusiaan, sosial, bisnis dan hal-hal keduniawian lainnya dan pihak-pihak yang terkait dapat menjaga dan menghormati hak masing-masing. Dalam urusa dunia, baik umat muslim maupun non-moslim dibuka pintu yang seluas-luasnya
15 Rahma Berty, “Penanaman Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama di TK Pembina Sidoharjo Wonogiri Tahun 2020/2021” (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Surakarta, 2021), hlm. 76 – 79.
16 untuk saling bekerja sama untuk mencapai kedamaian.16 Dalam penelitian ini Lailatun Ni’mah membahas tentang pengertian dan konsep-konsep dari toleransi umat beragama, kemudian bagaimana Islam mengajarkan untuk bertoleransi selama itu masih dijalan yang benar dan tidak merusak system peribadatan, berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu tentang toleransi antar umat beragama dan pendirian rumah ibadah di Kabupaten Gayo Lues.
B. Kerangka Teori
Penelitian ini merupakan salah satu penelitian tentang penerapan nilai-nilai toleransi umat beragama dan pembangunan tempat ibadah, Adapun penelitian ini menggunakan teori Toleransi yang dipopulerkan oleh kiai Hasyim Muzadi. Beliau dikenal sebagai tokoh Islam yang sepanjang hidupnya konsisten dalam memperjuangkan Nilai-nilai moderasi Islam kemudian menerapkan dan mengimplementasikan konsep toleransi beragama secara proporsional. Kiai Hasyim menganggap toleransi agama seperti meja dan kolong meja, setiap meja pasti memiliki kolong Karena itu merupakan sunnatullahnya meja, di atas meja biasanya diletakkan sebuah taplak penutup meja.
Selain sebagai penghias, taplak berfungsi untuk melindungi meja, taplak itu bisa diibaratkan sebagai toleransi, sedangkan meja ibarat agama atau keyakinan. Toleransi bukan esensi agama melainkan melindungi hubungan antar umat beragama. Taplak meja mudah dilipat dan dibawa-bawa kemana-mana, tapi meja tidak perlu dilipat dan dibawa kemana-mana. Demikian halnya toleransi bisa dibawa kemana-mana, tapi keyakinan atau agama tidak bisa digeser pada posisi yang bukan pada tempatnya.
Toleransi harus dilandasi keyakinan beragama, bukan dilandasi humanitas karena humanitas terkadang memisahkan diri dari
16Lailatun Ni’mah, “Toleransi Beragama Menurut M.Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Misbah” (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2021) hlm. 57 – 58.
17 ketuhanan. Toleransi tidak boleh dibangun dengan meninggalkan nilai keyakinan agama. Menurut kiai Hasyim, kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia harus diperkuat dan terus dipupuk. Indonesia tidak boleh kembali kebelakang soal kerukunan umat beragama. Konstruksi toleransi agama harus dibangun melalui dialog dan keterbukaan antar agama. Hampir setiap doktrin agama memberi ruang atau tempat bagi nilai-nilai universal kemanusiaan yang dapat digunakan semua agama untuk saling membantu dan bekerja sama.
Indonesia memiliki ragam agama yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Toleransi antar umat beragama merupakan salah satu cara agar kebebasan dalam beragama bisa dilindungi. Kebebasan dan toleransi tidak bisa dipandang sebelah mata, namun yang kerap kali terjadi merupakan penekanan dari salah satunya, misalnya penerapan kebebasan yang tidak memperhatikan toleransi dan usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan membelenggu kebebasan, untuk dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bersosial dan bermasyarakat. Hidup bertetangga dan damai dengan berbeda agama bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Pengalaman publik memperlihatkan perbedaan agama bukanlah suatu hambatan untuk menjalin hubungan sosial yang baik dalam hidup berdampingan. 17
Sejak aktif di jenjang kepengurusan NU hingga menjadi ketua umum PBNU, Kiai Hasyim bersama para tokoh lintas agama bekerja keras untuk melawan upaya intoleransi di Republik Indonesia. Beliau rutin mengadakan kegiatan lintas agama dengan tujuan untuk membahas kesenjangan-kesenjangan yang terjadi di tengah-tengah umat beragama lalu mendiskusikan jalan keluar
17 Anggit Priyosvita Diyahlukmana, “Model Sosialisasi Toleransi Antar Umat Beragama dan Kesadaran Berbhineka Tunggal Ika Dengan Menggunakan Strategi Answer Gallery Kombinasi Talking Stick Dikarang Taruna Pandan Sari Desa Krikilan Kecamatan Masaran Kabupaten Seragen Tahun 2016” (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2016), hlm. 2.
18 yang bisa ditempuh, sehingga permasalahan intoleransi dan kesenjangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dapat diatasi bersama.
Toleransi umat beragama dan kepedulian sosial sangat penting dan harus direalisasikan demi terciptanya kehidupan yang semakin rukun dan damai, serta dapat mempererat tali persaudaraan. Toleransi juga dapat meningkatka rasa nasionalisme terhadap Negara ini dan meningkatkan perkembangan negara.
Suatu bangsa akan terpecah belah dikarenakan masyarakatnya yang tidak menerapkan nilai toleransi karena oknum-oknum intoleran tersebut biasanya selain tidak menghargai orang lain, juga mengajak individu lain yang akhirnya dapat menyebabkan kesenjangan atau perpecahan. Manusia harus memiliki sikap toleransi karena manusia merupakan makhluk sosial. Makhluk sosial sendiri berarti pasti membutuhkan individu lain untuk bertahan hidup, Oleh sebab itu, manusia harus menerapkan dan mempunyai nilai toleransi dan juga rasa peduli terhadap sesama. 18
Berdasarkan teori diatas kaitannya dengan peneliti lakukan yaitu “Umat beragama merupakan masyarakat atau makluk sosial yang membutuhkan manusia lain untuk hidup, bertahan dan melakukan interaksi, untuk itu masyarakat harus menanamkan nilai-nilai toleransi antar umat beragama agar tidak terjadi kesenjangan antar umat beragama dan terhindar dari konflik akibat intoleransi”. Beberapa manfaat yang akan diperoleh jika menanamkan nilai-nilai toleransi yaitu: (1) Meningkatkan keimanan, di Indonesia terdapat 6 agama resi, dengan menerapkan nilai toleransi, semua penganut agama akan menghargai keberadaan agama lain, dan juga akan mendorongnya menghayati ajaran agama yang diyakininya. Dengan demikian juga akan membantunya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaan
18 Penerbit binus.ac.id, Toleransi dan Kepedulian Sosial Pada Sesama, [Diakses pada tanggal 16 oktober 2022 pada pukul 14:00 WIB] Diakses dari https://binus.ac.id/character-building/2021/02/toleransi-dan-kepedulian-sosial- pada-sesama/
19 kepada yang maha kuasa. (2) Menciptakan rasa rukun dan damai.
(3) Memperkuat tali persaudaraan, tali persaudaraan yang erat sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan hidup di Negara yang majemuk, atau plural dengan kehidupan keberagamaannya.(4) Menciptakan rasa aman dan damai bagi penganut atau pemeluk agama minoritas. (5) Lebih menghargai perbadaan.
C. Definisi Operasional 1. Toleransi
Jika dilihat dari aspek bahasa, maka kata toleransi berasal dari bahasa latin yaitu tolerantia, yang berarti menahan. Dalam bahasa Inggris yaitu tolerance yang berarti sikap membolehkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Bahasa Arab menterjemahkan dengan kata tasamuh, berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.
Toleransi adalah subuah upaya untuk memanifestasikan atau menciptakan sebuah kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Toleransi juga merupakan sebuah upaya yang harus senantiasa diterapkan secara terus menerus dan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Indonesia demi terciptanya kehidupan yang damai.
Beberapa upaya yang harus dikembangkan secara bersama-sama tersebut adalah menerapkan nilai-nilai toleransi terhadap individu dan kelompok lain. Istilah toleransi bukanlah hal yang baru bagi bangsa indonesia, Karena sikap toleransi sudah ada sejak dahulu di Indonesia dan merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia sendiri yang merupakan sebuah warisan leluhur bangsa Indonesia sendiri, Jadi toleransi dalam pergaulan bukan merupakan sesuatu yang dituntut oleh situasi.
Toleransi adalah istilah untuk sebuah sikap menahan diri dari hal-hal yang negative, Jika dikaitkan dengan perbedaan pendapat dengan kayakinan, maka toleransi adalah sikap menahan diri untuk tidak menggunakan cara-cara negatif dalam menyikapi pendapat dan keyakinan yang berbeda. Toleransi adalah sikap lapang dada terhadap prinsip orang lain, tidak berarti seseorang
20 harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dianutnya melainkan harus tercermin sikap yang kuat atau istiqamah untuk memegangi keyakinan atau pendapatnya sendiri.19 Pengertian Toleran dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri, Jika toleransi dihubungankan dengan agama maka akan bermakna sikap bersedia menerima keragaman dan keanekaragaman agama yang dianut juga kepercayaan yang dihayati oleh individu atau kelompok agama atau kepercayaan lain.
2. Umat beragama
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), arti kata umat adalah makhluk manusia. Arti lainnya dari umat adalah para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama, sedangkan beragama adalah memeluk atau menjalankan agama, Sedangkan yang dimaksud dengan agama adalah kepercayaan atau keyakinan terhadap tuhan. Agama juga merupakan suatu jembatan yang menghubungkan manusia dengan tuhannya, manusia dengan lingkungannya dan manusia dengan manusia lainnya.
3. Toleransi umat beragama
Toleransi antar umat beragama merupakan suatu sikap saling menghormati dan menghargai diantara seluruh pemeluk agama tanpa harus memaksakan atau mencampur adukkan semua agama tersebut, toleransi agama berperan penting dalam keberagaman salah satunya yaitu untuk menciptakan kerukunan di tengah umat beragama, dan memperkuat tali persaudaraan diantara umat beragama, menumbuhkan rasa nasionalisme, dan menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, Dengan demikian toleransi antar umat beragama memiliki tugas penting untuk melindungi persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
19 Idrus Ruslan, Toleransi Antar Umat Beragama Di Indonesia , Cetakan pertama ( Sukabumi: Arjasa Pratama, 2020), hlm. 30-32.
21 Al-Qur’an telah mengatur hubungan antara manusia, Al- Qur’an juga secara spesifik mengatur hubungan antar umat beragama yang memiliki perbedaan keyakinan dan kepercayaan.
Karenanya, hubungan antar umat beragama adalah sebuah keniscayaan yang terjadi dimuka bumi. Setiap individu yang memeluk agama mengakui adanya ketaatan perbedaan keyakinan yang dianut oleh individu lain dan perbedaan itu merupakan suatu hal yang wajar dan alamiah yang tak terbantahkan dan tak dapat dihindarkan oleh siapapun. Tujuan dari kedatangan Islam bukan hanya untuk mempertahankan eksistensinya sebagai agama dan keyakinan, akan tetapi juga untuk menerima dan mengakui eksistensi serta keberadaan agama-agama lain, dan memberikan hak untuk hidup bertetangga dan bersebelahan dengan saling menghormati dan menghargai pemeluk-pemeluk agama lain.
Adanya pluralitas agama merupakan sunnah Allah SWT, Karena itu, manusia memiliki kebebasan memeluk agama apa saja dan tidak boleh dipaksakan oleh siapapaun seperti yang dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 256. Ayat tersebut menjelaskan bahwa islam mengakui hak hidup agama-agama lain dan membenarkan pemeluk agama-agama lain untuk menjalankan agamanya masing-masing. Perbedaan adalah rahmat, Dengan demikian hubungan antar umat beragama merupakan hubungan yang harus dijaga dan diperteguh. Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum untuk menata kehidupan yang harmonis, yaitu dengan cara bersikap toleransi kemudia menghormati dan menghargai dalam kehidupan bermasyarakat, dengan menjaga sikap toleransi antar umat beragama maka hubungan antar umat beragama juga akan terjaga.20
Ada beberapa prinsip kerukunan sebagai norma sosial keagamaan yaitu: (1) secara teologis semua agama mengajarkan ajaran damai, cinta, rahmat dan menghargai manusia atau
20 Kusnadi, Hubungan Antar Umat Beragama (Tafsir Tematik Terhadap Persoalan-Persoalan Sosial Llintas Iman. Cetakan pertama ( Kalimantan Timur:
LPPM STIS HIDAYATULLAH, 2013), hlm. 2-5.
22 memanusiakan manusia. Kendati mengatakan semua agama adalah samaitu keliru, namun dalam aspek-aspek nilai kemanusiaan semua agama mengajarkankebaikan, meskipun bebeda secara ritual.
Bersikap baik, saling menghormati, mencintai rasa damai dan berbuat adil tanpa pandang perbedaan agama adalah ajaran semua agama. (2) Secara filosofis semua manusia saling membutuhkan.
Tidak dapat memenuhi kebutuhan tanpa bantuan orang lain.
Kendati berbeda agama, namun kebutuhan sosial merupakan hal yang pasti. Penyadaran ini penting digodok agar sentimental keagamaan yang berbau fanatic dan doctrinal, dapat terminimalisir.
(3) Secara praktis keragaman keagamaan adalah keniscayaan, gesekan konflik pasti ada, maka diperlukan kesadaran untuk hidup rukun dan mengalah, yang perlu ditekankan adalah bahwa keragaman dan perbedaan adalah hal yang wajar.21 Mengapa kita harus menjaga toleransi umat beragama, toleransi umat beragama merupakan suatu sikap kepedulian sosial yang sangat penting dan harus diterapkan agar kehidupan dalam bermasyarakat aman dan damai sehingga bisa meningkatkan tali persaudaraan.
4. Pendirian rumah ibadah
Rumah ibadah merupakan sebuah bangunan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang khusus dimanfaatkan sebagai tempat untuk beribadah bagi pemeluk tiap-tiap agama secara permanen dan terus menerus, rumah ibadah permanen itu adalah masjid bagi umat Islam, Gereja bagi umat Kristiani, Pura untuk Hindu, Wihara untuk umat Budha serta Kelenteng atau litang bagi umat Konghucu. Ketika berbicara mengenai toleransi dan kerukunan antar umat beragama, maka persoalan penting yang akan muncul adalah mengenai pendirian suatu rumah ibadah, salah satu yang menjadi tantangan dalam kegiatan mendirikan rumah ibadah adalah mengenai izin pendirian rumah ibadah. Terkait urusan pendirian rumah ibadah, umat minoritas disuatu daerah selalu merasa was-was dan penuh kecurigaan bahwa izin pendirian
21 Ahmad Subakir, Rule Model Kerukunan Umat Beragama Di Indonesia, Cetakan pertama, (Bandung: Cendekia Press, 2020), hlm. 31-33.
23 rumah ibadah pasti dihalang halangi oleh umat mayoritas. Disisi lain, kelompok agama mayoritas disuatu wilayah selalu khawatir dan curiga bahwa pendirian rumah ibadah diwilayahnya selalu digunakan sebagai siasat untuk menyebarkan agama bersangkutan dan menarik warga setempat untuk masuk keagamaanya. 22
Kesenjangan dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah umat beragama tidak selalu terjadi dikarenakan faktor agama, akan tetapi bisa juga karena faktor politik, ekonomi atau lainnya yang kemudian disangkut pautkan dengan agama, misalnya saja konflik Ambon dan poso. Yang terkait dengan permasalahan agama umumnya dipicu oleh tiga hal, yaitu persoalan pembangunan rumah ibadah dan penyebaran agama serta penistaan atau penodaan terhadap agama. Permasalahan dari pembangunan rumah ibadah merupakan factor yang sering kali mempengaruhi terjadinya kesenjangan atau konflik.
Berikut adalah bentuk protes, penolakan, perselisihan atau konflik antar umat beragama yang terkait dengan persoalan rumah ibadah. (1) Protes atau ketidak setujuan masyarakat terhadap pembangunan tempat ibadah yang didirikan kelompok umat beragama yang minoritas tetapi tidak melengkapi syarat perizinan, seperti kasus pendirian Gereja HKBP Filadelfia Bekasi. (2) Protes dan penolakan terhadap izin bupati atau walikota atas pendirian rumah ibadah yang belum memenuhi seluruh persyaratan dan ketentuan yang telah diatur dan disahkan dalam regulasi, seperti kasus pendirian Gereja GKI Yasmin Bogor. (3) Protes atau penolakan terhadap pendirian rumah ibadah yang usulannya menggunakan dokumen atau berkas yang telah dimanipulasi dan tidak asli. (4) Protes atau penolakan terhadap rumah ibadah yang tidak mempunyai izin untuk didirikan tetapi sudah berdiri sebelum adanya regulasi atau undang-undang. (5) Penolakan yang dilakukan warga serta ketidak setujuan pemda untuk memberikan izin usulan
22 M. Idham Kholiq, “Penguatan Jaringan Kerukunan Umat Beragama Tingkat Kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo”, Sekretaris FKUB kab. Sidoarjo, (2017).
24 pendirian rumah ibadah yang sebenarnya sudah memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku.23
Realitas sejarah membuktikan rasa kebersamaan dan saling menghormati, hal itu dibuktikan dengan adanya izin dalam mendirikan berbagai Gereja ketika Islam berkuasa dan semua agama berada dibawah kekuasaan Islam. Tidak ada perbedaan seperti banyaknya pembangunan Gereja pada masa pemerintahan Islam di Mesir. Para ahli kitab diberi kebebasan bekerja, mencari kehidupan dan memangku jabatan tertentu dalam pemerintahan.
Hal itu sebagai bukti sejarah yang tidak dapat diabaikan meski jarang diangkat. Pada masa perang salib, kaum muslimin menikmati keharmonisan disebagian negeri Kristen.24 Dalam peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri NO.8 dan 9 tahun 2006 dijelaskan bahwa mengenai pendirian rumah ibadah telah dicantumkan pada pasal tersendiri yaitu pasal 13 sampai pasal 20. Beberapa diantaranya yaitu:
pasal 13 yang berisi : (1) Pendirian rumah ibadah didasarkan pada kebutuhan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan diwilayah kelurahan/desa. (2) Pendirian rumah ibadah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundang-undangan. (3) Dalam hal keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa sebagaimana di maksud ayat 1 tidak terpenuhi, pertimbangan komposisi jumlah penduduk diginakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota atau provinsi. Pasal 16 yang berisi : (1) Permohonan pendirian rumah ibadah sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadah kepada bupati/walikota untuk
23 Masykuri Abdillah, “ Pendirian Rumah Ibadah” , ( 2016).
24 Firman Muhammad Arif, Maqashid As Living Law dalam Dinamika Kerukunan Umat Beragama Di Tana Luwu, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), hlm.8.
25 memperoleh IMB rumah ibadah. (2) Bupati/ walikota memberikan keputusan paling lambat 90 hari sejak permohonan pendirian rumah ibadah diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat 1.
pasal 18 yang berisi: (1) Pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadah sebagai rumah ibadah sementara harus mendapat surat keterangan pemberian izin sementara dari bupati/walikota dengan memenuhi persyaratan. A: baik fungsi dan B: pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat. (2) Persyaratan baik fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf A mengacu pada peraturan perundang- undangan tentang bangunan gedung. (3) Persyaratan pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketentraman dan ketertiban masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf B, meliputi : a, Izin tertulis pemilik bangunan; b. Rekomendasi tertulis lurah/kepala desa; c. Pelaporan tertulis kepada FKUB kabupaten/kota; dan d. Pelaporan tertulis kepada kepala kepala kantor departemen agama kabupaten/kota.25
25 Ismardi. “Pendirian Rumah Ibadah Menurut Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri No.8 dan 9 Tahun 2006 Tentang Rumah Ibadah”, Dosen Fak. Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau, hlm. 2 – 5.
26 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kabupaten Gayo Lues tepatnya di kecamatan Dabun Gelang, desa Pangur dan Panglime Linting.
Adapun alasan peneliti mengambil penelitian di desa tersebut karena lokasi penelitian memiliki masyarakat yang beragam yaitu penduduk asli dan juga pendatang yang memiliki agama, suku dan budaya yang berbeda.
B. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif atau sering disebut (fieldreserch) penelitian lapangan dimana peneliti langsung turun lapangan untuk mencari informasi dan mengumpulkan data.
Penelitian lapangan merupakan sebuah riset yang bersifat menjelaskan dan menerangkan dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Agar fokus penelitian dapat sesuai dengan fakta dilapangan, maka harus menggunakan landasan teori.26 Penelitian lapangan adalah suatu proses untuk mengumpulkan data pada suatu latar alamiah yang bertujuan untuk menafsirkan fenomena dan kejadian yang terjadi dimana peneliti merupakan sebagai instrument kunci, untuk mengambil sampel dari sumber data harus dilakukan secara purposive dan snowbaal, yaitu teknik mengumpulkan data dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan biasanya hasil penelitian lapangan lebih menekankan makna daripada generalisasi.27
26 Rukin, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Pertama (Sulawesi Selatan: Yayasan Ahmar Cedekia Indonesia, 2019), hlm.6.
27 Albi Anggito, Johan Setiawan, “ Metodologi Penelitian Kualitatif”, Cetakan Pertama, (Sukabumi: Jejak, 2018) ,hlm. 8.
27 C. Informan Penelitian
Informan penelitian adalah seseorang yang memiliki informasi mengenai objek penelian, informan dalam sebuah penelitian disebut juga sebagai narasumber. Secara umum narasumber merupakan orang yang menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh penanya atau peneliti dalam proses wawancara. Biasanya narasumber adalah orang yang ahli dibidangnya yang bisa menjelaskan jawaban dengan benar, logis, dan akurat sesuai pokok pembahasan yang sedang dibahas dan diteliti.28 Untuk mendapatkan data penelitian yang valid peneliti melakukan observasi lapangan dengan mewawancarai pihak MPU dan FKUB, beberapa tokoh agama, perangkat desa dan beberapa masyarakat yang ada di kecamatan Dabun Gelang khususnya Desa Panglime Linting dan Desa Pangur.
D. Sumber Data
Dalam pengumpulan sumber data, peneliti melakukan pengumpulan sumber data dalam bentuk data primer dan data skunder.
1. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah data yang pertama kali dicatat dan diperoleh langsung dari narasumbernya yaitu beberapa tokoh ulama dan beberapa masyarakat yang ada di Kecamatan Dabun Gelang khususnya Desa Panglime Linting dan Desa Pangur dengan cara mewawancarai langsung para informan tersebut.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan tambahan data yang diperoleh tidak dari sumber utama, melainkan sudah melewati sumber yang kesekian. Data sekunder diperoleh melalui media perantara yang berupa buku, catatan, dokumen-dokumen resmi, laporan penelitian
28 Sudiyono, “Metode Diskusi Kelompok dan Penerapan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di SMP”, Cetakan Pertama (Jawa Barat: Adanu Abimata, 2020).hlm. 9.
28 terdahulu, maupun data, baik yang dipublikasikan atau yang tidak dipublikasikan secara umum. Dalam data sekunder peneliti memerlukan pengumpulan data dengan beberapa cara, salah satunya yaitu berkunjung ke perpustakaan, pusat kajian, pusat arsip atau mencari dan membaca banyak buku yang berkaitan dengan penelitiannya. Data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bahan bacaan atau data yang terkait dengan toleransi umat beragama dan pendirian rumah ibadah.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data, peneliti menggunakan pengumpulan data menggunakan metode sebagai berikut :
1. Observasi
Observasi merupakan mengumpulkan data langsung dari lapangan, Proses observasi dimulai dengan mengidentifikasi tempat yang hendak diteliti, Sehingga didapatkan gambaran umum mengenai fokus penelitian, Kemudian peneliti mencari dan memastikan siapa yang akan dijadikan informan dan diwawancarai, kapan, berapa lama dan bagaimana. Observasi juga berarti bahwa seorang peneliti harus berada bersama partisipan dan informan.
Jadi peneliti tidak hanya sekedar numpang lewat. 29 2. Wawancara
Wawancara sering disebut dengan istilah interview, dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan secara langsung kepada narasumber atau informan.Wawancara merupakan salah satu dari beberapa teknik dalam mengumpulkan informasi atau data. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi yang tepat dari narasumber atau informan yang terpercaya. Wawancara juga merupakan bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden. Komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya jawab dan bertatap muka, wawancara juga merupakan salah satu cara menghimpun bahan bahan keterangan yang dilaksanakan dengan
29 Conny R. Semiawan, “ Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakter dan Keunggulannya,” (Jakarta: Grasindo, 2010), hlm. 112.
29 Tanya jawab secara lisan. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan beberapa masyarakat dan tokoh agama yang ada di Kabupaten Gayo Lues, Kecamatan Dabun Gelang, khususnya di Desa Pepir dan Pangur, kemudian peneliti menggunakan teknik snowball sampling yaitu suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sempel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang menerus.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan catatan mengenai data responden atau informan. Teknik pengumpulan data dokumentasi memanfaatkan data-data berupa buku, catatan, atau bahkan berbentuk gambar.
Setiap peneliti melakukan observasi lapangan atau wawancara, maka harus disertai dokumentasi untuk membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan merupakan hasil murni dari turun lapangan dan bukan hasil plagiasi dari penelitian orang lain.30 F. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari, memilih dan menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh dari hasil wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Berikut adalah tahapan analisis data setelah tahapan pengumpulan data:
1. Memadatkan data, yaitu proses memilih, memusatkan perhatian, menyederhanakan, meringkas, dan mentrasformasikan data mentah. Ada pula yang menggunakan kata mereduksi data untuk menyebut tahapan ini.
30 Sanafiah Faesal,” Dasar dan Teknik Penelitian Keilmuan Sosial
“(Surabaya: Usaha Nasional, 2002), hlm.42-43.
30 2. Menampilkan data yang sudah dipadatkan tadi kedalam
suatu bentuk untuk membantu penarikan kesimpulan.
3. Menarik sebuah kesimpulan, yaitu proses untuk menyimpulkan hasil dari penelitian sekaligus memverifikasi bahwa kesimpulan tersebut didukung oleh data yang telah dikumpulkan dan dianalisis.
Dalam menganalisis data kualitatif, peneliti biasanya menggunakan pendekatan induktif. Pendekatan induktif berarti kesimpulan muncul dari data untuk kemudian diverifikasi dengan teori yang ada. 31
31 Samiaji Sarosa,” Analisis Data Penelitian Kualitatif”, ( Yogyakarta:
Kanisius, 2021), hlm. 3 – 4.
31 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Kabupaten Gayo Lues
Kata Gayo berasal dari bahasa sanskerta yang artinya perbukitan atau pegunungan sedangkan kata lues memiliki arti
“luas” yang jika digabungkan memiliki arti bukit atau gunung yang luas. Pada masa pemerintahan kesultanan Iskandar Muda, daerah Gayo dan Alas dibagi atas delapan kejuruan, Enam kejuruan di Tanoh Gayo dan dua kejuruan lagi di Tanoh Alas. Tanoh Gayo meliputi daerah Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tengah dan beberapa bagian Aceh Timur. Sedangkan Tanoh Alas meliputi Aceh Tenggara. Enam kejuruan di daerah Gayo yaitu : Syiah Utama, Bukit (Bener Meriah dan sebagian Aceh Tengan sekarang), Bebesen, Linge (Aceh Tengan sekarang), Nabuk (Kecamatan lukup Serbajadi, Aceh Timur sekarang), Patiamang/Patiambang (Gayo Lues sekarang). Kemudian dua kejuruan yang ada di Tanoh Alas yaitu : Bambel dan Pulonas. 32
Kabupaten yang dikelilingi ratusan bahkan ribuan bukit dan pegunungan ini memiliki hutan yang luasnya mencapai sekitar 554,991 hektar,hutan tersebut meliputi hutan lindung, Taman Nasional Gunung Leuser, sampai hutan produksi. Salah satu daya tarik bagi para pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke Gayo Lues adalah alamnya yang sangat indah dan masih asri. Para wisatawan baik lokal maupun mancanegara pasti akan terpesona oleh bentang alam yang dimiliki Gayo Lues. Saat berkunjung ke Gayo Lues, maka mata akan langsung dimanjakan oleh berbagai macam suguhan pemandangan yang sangat indah, gugusan perbukitan yang juga merupakan bagian dari bukit barisan
32 Penerbit Serambiwiki.tribunnews.com, Mengenal Sejarah Gayo [Diakses pada tanggal 14 Oktober 2022 pada pukul 14:30 WIB]Diakses dari https://serambiwiki.tribunnews.com/2020/07/31/mengenal-sejarah-gayo-salah- satu-etnis-tertua-di-nusantara