• Tidak ada hasil yang ditemukan

II-11 Pengusahaan tembakau oleh petani rakyat terutama ditujukan

E. Rokok berdasarkan penggunaan filter

3. Syarat Pertumbuhan Tanaman Tembakau:

Tanaman tembakau, curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, suhu udara yang cocok antara 21-32 derajat C, pH antara 5-6. Tanah gembur, remah, mudah mengikat air, memiliki tata air dan udara yang baik sehingga dapat meningkatkan drainase, ketinggian antara 200-3.000 m dpl.

IV-16

4. Teknik Budidaya : 1). Pembibitan:

 Jumlah benih ± 8 -10 gram/ha, tergantung jarak tanam.

 Biji utuh, tidak terserang penyakit dan tidak keriput

 Media semai = campuran tanah (50%) + pupuk kandang matang (50%).

 Bedeng persemaian diberi naungan berupa daun-daunan, tinggi atap 1 m sisi Timur dan 60 cm sisi Barat.

 Benih yang berumur 30 – 35 hari setelah semai, dilakukan pendederan/pembumbunan (dipindahkan ke polibag yang terbuat dari daun pisang atau daun bambu)

 Bibit sudah dapat dipindahtanamkan ke kebun apabila berumur 55-70 hari setelah semai.

2). Pengolahan:

 Lahan dibajak dan dibuat bedengan dengan ukuran antara 100- 120 cm dengan tinggi bedengan antara 20-30 cm

 Dibuatkan lubang dengan jarak tanam antara 70-90 x 120 cm cm dan ditaburi pupuk kandang dan siap ditanam

 Lakukan pengapuran jika tanah masam,

 Dilakukan penetralan tanah dengan cara menaburkan arang.

3). Cara Penanaman

Benamkan bibit sedalam leher akar. Waktu tanam pada pagi hari atau sore hari dan diberi pelindung agar tidak langsung terkena sinar matahari.

4). Penyulaman

Penyulaman dilakukan 1- 3 minggu setelah tanam, bibit kurang baik dicabut dan diganti dengan bibit baru yang berumur sama.

IV-17

5). Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan pemupukan awal dan dilakukan sebanyak 3 kali (ngoyos).

6). Pemupukan

Pemupukan dilakukan saat tanam, umur 7 hst, 14 hst, umur 21 hst, umur 28 hst. Pemupukan dilakukan dengan 2 cara:

1. Ditabur (diperelek)

2. Dicor yaitu pupuk dilarutkan dalam air dan dimasukkan ke dalam lubang yang telah disediakan dengan jarak 5-10 cm dari pohon tembakau.

7). Pengairan dan Penyiraman (Bila diperlukan)

Pengairan diberikan 7 HST = 1-2 lt air/tanaman, umur 7-25 HST = 3-4 lt/tanaman, umur 25-30 HST = 4 lt/tanaman. Pada umur 45 HST = 5 lt/tanaman setiap 3 hari. Pada umur 65 HST penyiraman dihentikan, kecuali bila cuaca sangat kering.

8). Pendangiran (nyaeur)

Dilakukan bila umur tembakau telah mencapai 35 – 40 hari dengan tujuan :

1. Untuk merangsang pertumbuhan akar

2. Untuk menjaga kebersihan daun tembakau dari cipratan air hujan dan tanah berdebu

9). Pemangkasan (naruk)

Dilakukan apabila daun tembakau antara 18-25 daun (tergantung suburnya pertumbuhan)

IV-18

10). Wiwilan (nyirung)/pembuangan tunas baru

Wiwilan dilakukan apabila telah keluar tunas baru dan dilakukan selama 5 kali sampai tembakau habis dipanen dengan tujuan:

1. Untuk pembentukan daun yang bagus dan berkualitas

2. Untuk meningkatkan bobot daun dan bodi (awak) hasil olahan 3. Untuk membentuk warna sesuai yang diinginkan petani

4. Untuk pengaturan kadar tar dan nikotin

11). Pengendalian Hama dan Penyakit

Kegiatan pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani tembakau di Kabupaten Bandung sudah menerapkan pengendalian hama dan penyakit terpadu, artinya para petani melakukan pengamatan perkembangan populasi hama atau penyakit terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan pengendalian. Apabila populasi hama dan penyakit melewati titik kritis ambang ekonomi maka harus dilakukan pengendalian baik secara fisik, mekanik, biologis, teknik budidaya maupun secara kimia. Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Bandung pada umumnya dilakukan secara fisik jika populasi hama berada di bawah ambang ekonomi, misalnya dalam mengendalikan hama ulat pucuk, pada kepadatan populasi tertentu cukup dikendalikan dengan mengutip ulat tersebut.

Ada beberapa hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman tembakau yaitu:

1. Hama

a. Ulat Grayak ( Spodoptera litura ) Gejala : berupa lubang-lubang tidak beraturan dan berwarna putih pada luka bekas gigitan. Pengendalian: Pangkas dan bakar sarang telur dan ulat, penggenangan sesaat pada pagi/sore hari , semprot pestisida.

IV-19 b. Ulat Tanah ( Agrotis ypsilon ) Gejala : daun terserang

berlubang-lubang terutama daun muda sehingga tangkai daun rebah. Pengendalian: pangkas daun sarang telur/ulat, penggenangan sesaat, semprot pestisida.

c. Ulat penggerek pucuk ( Heliothis sp. ) Gejala: daun pucuk tanaman terserang berlubang-lubang dan habis. Pengendalian: kumpulkan dan musnah telur / ulat, sanitasi kebun, semprot pestisida.

d. Nematoda ( Meloydogyne sp. ) Gejala : bagian akar tanaman tampak bisul-bisul bulat, tanaman kerdil, layu, daun berguguran dan akhirnya mati. Pengendalian: sanitasi kebun,

e. Kutu – kutuan ( Aphis Sp, Thrips sp, Bemisia sp.) pembawa penyakit yang disebabkan virus. Pengendalian: predator Koksinelid

f. Hama lainnya Gangsir (Gryllus mitratus ), jangkrik (Brachytrypes portentosus), orong-orong (Gryllotalpa africana), semut geni (Solenopsis geminata), belalang banci (Engytarus tenuis).

2. Penyakit

a. Hangus batang ( damping off ), Penyebab : jamur Rhizoctonia solani. Gejala: batang tanaman yang terinfeksi akan mengering dan berwarna coklat sampai hitam seperti terbakar. Pengendalian : cabut tanaman yang terserang dan bakar.

b. Lanas, Penyebab : Phytophora parasitica var. nicotinae. Gejala: timbul bercak-bercak pada daun berwarna kelabu yang akan meluas, pada batang, terserang akan lemas dan menggantung lalu layu dan mati. Pengendalian: cabut tanaman yang terserang dan bakar

IV-20 c. Patek pucuk daun, Penyebab : jamur Cercospora nicotianae.

Gejala: di atas daun terdapat bercak bulat putih hingga coklat, bagian daun yang terserang menjadi rapuh dan mudah robek. Pengendalian: desinfeksi bibit, renggangkan jarak tanam, olah tanah intensif, gunakan air bersih, bongkar dan bakar tanaman terserang.

d. Bercak coklat, Penyebab : jamur Alternaria longipes. Gejala: timbul bercak-bercak coklat, selain tanaman dewasa penyakit ini juga menyerang tanaman di persemaian. Jamur juga menyerang batang dan biji. Pengendalian: mencabut dan membakar tanaman yang terserang.

e. Busuk daun, Penyebab : bakteri Sclerotium rolfsii. Gejala: mirip dengan lanas namun daun membusuk, akarnya bila diteliti diselubungi oleh massa cendawan. Pengendalian: cabut dan bakar tanaman terserang.

f. Penyakit Virus, Penyebab: virus mozaik (Tobacco Virus Mozaic /TVM), Kerupuk (Krul), Pseudomozaik, Marmer, Mozaik ketimun (Cucumber Mozaic Virus). Gejala: pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Pengendalian: menjaga sanitasi kebun, tanaman yang terinfeksi di cabut dan dibakar.

g. Layu daun, penyebabnya apabila tanah terlalu basah dan tanah mengandung zat besi.

11) Panen

Pemetikan daun tembakau yang baik adalah jika daun-daunnya telah cukup umur dan telah berwarna hijau kekuning-kuningan. Untuk golongan tembakau cerutu maka pemungutan daun yang baik pada tingkat tepat masak/hampir masak hal tersebut di tandai dengan warna keabu-abuan. Sedangkan untuk golongan sigaret pada tingkat kemasakan tepat masak/masak sekali, apabila pasar menginginkan

IV-21 krosok yang halus maka pemetikan dilakukan tepat masak. Sedangkan bila menginginkan krosok yang kasar pemetikan diperpanjang 5 -10 hari dari tingkat kemasakan tepat masak.

Daun dipetik mulai dari daun terbawah ke atas. Waktu yang baik untuk pemetikan adalah pada sore/pagi hari pada saat hari cerah. Pemetikan dapat dilakukan berselang 3 - 5 hari, dengan jumlah daun satu kali petik antara 2 - 4 helai tiap tanaman. Untuk setiap tanaman dapat dilakukan pemetikan sebanyak 5 kali.

Sortir daun berdasarkan kualitas warna daun yaitu: a) Trash (apkiran): warna daun hitam

b) Slick (licin/mulus): warna daun kuning muda

c) Less slick (kurang liciin): warna daun kuning (seperti warna buah jeruk lemon)

d) More grany side ( sedikit kasar ) : warna daun antara kuning-oranye.

Pemanenan pada tembakau rakyat secara umum dilakukan secara manual, dalam pelaksanaannya diperlukan identifikasi terhadap rangkaian proses menjelang sampai waktu dilakukan pemanenan, antara lain pengamatan terhadap tingkat kematangan daun, waktu pemanenan, cara pemanenan serta pengamanan terhadap hasil panen.

Daun masak diartikan sebagai daun yang telah berada dalam kondisi optimal siap panen untuk menghasilkan Tembakau Irisan (TIS) yang bermutu baik. Penentuan kemasakan daun secara umum didasarkan kepada perubahan warna, dimana daun tepat masak secara kasat mata dapat dilihat mempunyai warna hijau, kuning atau kemerah-merahan. Tingkat kemasakan daun terhadap mutu tembakau mole mempunyai pengaruh yang sangat besar dan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

IV-22 1. Daun kurang masak, warna hijau dan bobot timbangan berat,

fase untuk agar cepat pematangan lama.

2. Daun masak, warna kuning keputih-putihan kualitas, rasa dan aroma bagus,

3. Daun layu, warna menjadi kecoklat-coklatan kadar tar dan nikotin naik/tinggi, kualitas rendah

Dokumen terkait