TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
2) Syarat- syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Arifin (2015: 56) terjadinya interaksi sosial dikarenakan saling mengerti maksud dan tujuan masing-masing pihakl dalam hubungan sosial. Dalam proses sosial dapat dikatakan terjadi interaksi sosial, apabila memenuhi persyaratan sebagai aspek kehidupan bersama, yaitu sebagai berikut :
44 a) Kontak sosial
Kontak sosial merupakan tahap pertama ketika seseorang hendak melakukan interaksi. Dalam konsep kontak sosial terdapat dua jenis kontak sosial , yaitu kontak sosial primer dan kontak sosial sekunder. Kontak sosial primer adalak kontak sosial yang dikembangkan secara intim dan mendalam yang berupa pergaulan tatap muka ketika hubungan secara visual dan perasaan berkaitan dengan pendengaran senantiasa diperdengarkan. Adapun kontak sekunder adalah kontak yang ditandai oleh pengaruh keadaan luar dan jarak yang lebih besar. Kontak sekunder merupakan kontak sosial yang memerlukan pihak perantara, misalnya pihak ketiga. Hubungan sekunder dapat dilakukan melalui alat-alat, misalnya telepon, telegraf, radio, intetrnet dan seterusnya.
Kontak sosial pada prinsipnya adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat. Kontak sosial dapat terjadi langsung ataupun tidak langsung, antara pihak satu dengan pihak lainnya.
44 b) Komunikasi
Syarat-syarat terjadinya interaksi juga melibatkan komunikasi, bahwa sesorang memberikan tafsiran kepada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak badaniah, atau sikap) perasaan yang ingin disampaikan kepada orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain.
Komunikasi sosial juga memiliki cara dalam penyampaiannya. Dalam sosiologi dikenal dua cara dalam menyampaikan komunikasi, yaitu komunikasi secara langsung. Pihak komunikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada pihak komunikan. Komunikasi tidak langsung. Pihak komunikator menyampaikan pesannya kepada pihak komunikan melalui perantara pihak ketiga, yaitu dengan menggunakan internet, telepon dan sebagainya.
Menurut Santoso (2014: 189) proses interaksi sosial perlu menempuh tahap-tahap berikut :
a) Ada kontak/hubungan
44
Pada tahap ini, individu-individu saling mendahului kontak/
hubungan, baik langsung maupun tidak langsung dan tiap-tiap individu ada kesiapan untuk saling mengadakan kontak.
Missal, si A berbicara kepada si B.
b) Ada bahan dan waktu
Pada tahap ini individu perlu memiliki bahan-bahan untuk berinteraksi sosial seperti informasi penting, pemecahan masalah, dan bahan-bahan dariu aspek kehidupan yang lain. Missal, si A akan dating besok untuk diajari PR.
c) Timbul problema
Walaupun proses interaksi sosial ini telah direncanakan dengan baik, namun bahan-bahan interaksi sosial seringkali menimbulkan problema bagi individu-individu yang ada.
d) Timbul ketegangan
Pada tahap ini masing-masing memiliki rasa tegang yang tinggi karena masing-masing individu dituntut mencari penyelesaian terhadap problem yang ada.
e) Ada integrasi
Sering terjadi bahwa pada proses interaksi sosial, permasalahan/problem yang timbul dapat dipecahkan bersama-sama walaupun proses interaksi sosial itu berlangsung berulang-ulang.
44
Menurut Gillin dan Gillin dalam Soekanto (2002: 71) menjelaskan bahwa ada dua golongan proses sosial sebagai akibat dari interaksi sosial, yaitu:
a) Proses Asosiatif
Proses yang terjadi saling pengertian dan kerja sama timbal balik antara orang per orang atau kelompok satu dengan yang lainnya, dimana proses ini menghasilkan pencapaian tujuan-tujuan bersama, antara lain:
(1) Kerja sama adalah usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Contohnya: gotong royong, kerja bakti, koalisi, dan tawar menawar.
(2) Akomodasi adalah proses sosial dengan dua makna, makna pertama adalah proses sosial yang menunjukkan pada suatu keadaan yang seimbang dalam interaksi sosial antara individu dan antar kelompok didalam masyarakat, terutama yang ada hubungannya dengan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Kedua adalah menuju pada suatu proses yang
sedang berlangsung, di mana akomodasi menampakkan suatu proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi di masyarakat, baik
44
pertentangan yang terjadi di antara individu, kelompok dan masyarakat maupun dengan norma dan nilai yang ada di masyarakat itu. Contohnya: paksaan, kompromi, mediasi, dan toleransi.
b) Proses Disosiatif
Proses ini merupakan proses perlawanan yang dilakukan oleh individu-individu dan kelompok dalam proses sosial diantara mereka pada suatu masyarakat, antara lain:
persaingan, konflik dan perdebatan.
Dari beberapa pendapat diatas mengenai syarat-syarat proses terjadinya interaksi sosial bertujuan agar proses terjadinya interaksi sosial berjalan dengan baik dengan memahami syarat-syarat terjadinya interaksi sosial yang sudah di jabarkan diatas sehingga pelaku iteraksi sosial mampu berinteraksi.
d. Bentuk-bentuk Proses Interaksi Sosial
Menurut Arifin (2015: 58), proses-proses interaksi yang pokok adalah sebagai berikut :
a. Kerja Sama
Kerja sama adalah bentuk proses sosial yang didalamnya terdapat aktivitas tertentu, yang ditujukkan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami terhadap aktivitas masing-masing.
Bentuk kerja sama yaitu:
44 b. Persaingan
Persaingan terjadi karena proses interaksi, yaitu penafsiran makna perilaku tidak sesuai dengan maksud dari pihak yang melakukan aksi sehingga tidak terdapat keserasian antar-kepentingan para pihak yang melakukan interaksi. Karena terjadi suatu situasi yang tidak serasi untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, pihak yang melakukan aksi berusaha menghilangkan pihk yang menjadi penghalangnya itu.
c. Pertentangan
Pertentangan sosial merupakan konflik yang timbul akibat faktor-faktor sosial, contohnya salah paham. Pertentangan sosial ini merupakan salah satu akibat dari adanya perbedaan-perbedaan dari norma yang menyimpang di kehidupan masyarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pertentangan sosial, antara lain :
1) Rasa iri antara satu sama lain.
2) Rasa tidak puas dengan perlakuan atau tindakan yang diterima dan diberikann oleh orang lain.
3) Adu domba diantara masyarakat, kelompok, atau di dalam pemerintahan.
d. Akomodasi
44
Akomodasi adalah keadaan hubungan antara kedua belah pihak yang menunjukkan keseimbanganyang berkaitan dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Contohnya : paksaan, kompromi, perwasitan, mediasi, konsiliasi, toleransi, buntu, dan keputusan pengadilan.
Menurut Santoso (2014: 198) bentuk-bentuk interaksi sosial yaitu :
a. Communalism, yakni suatu bentuk interaksi sosial yang dilaksanakan sekedarnya, artinya tanpa ada perjanjian lebih dahulu. Missal, interaksi sosial antara penjual dan pembeli.
b. Parasitism, yakni suatu bentuk interaksi sosial yang menguntungkan salah satu pihak. Misalnya, sistem ijon dimana tengkulak yang memperoleh keuntungan.
c. Mutualism, yakni suatu bentuk interaksi sosial yang menggantungkan kedua belah pihak. Misal, hubungan koperasi dengan anggotanya.
d. Sociality, artinya bentuk interaksi sosial yang telah bersifat kemasyarakatan. Missal, hubungan dalam kelompok belajar.
Berdasarkan pendapat diatas tentang beberapa bentuk-bentuk interaksi sosial maka dapat kita ketahui di dalam bentuk-bentuk interaksi sosial ada sisi positif dan negatif yaitu interaksi ada yang
44
menguntungkan dan ada pula yang merugikan bagi si pelaku yang melakukan interaksi sosial .
e. Jenis-jenis Interaksi
Menurut Shaw dalam Ali (2004: 88) membedakan interaksi menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Interaksi verbal. Interaksi verbal terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat artikulasi. Prosesnya terjadi saling tukar percakapan satu sama lain.
b. Interaksi fisik. Interaksi fisik terjadi manakala dua orang atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa tubuh.
c. Interaksi emosional. Interaksi emisional terjadi manakala individu melakukan kontak dengan satu sama lain dengan melakukan curahan perasa