• Tidak ada hasil yang ditemukan

Synurbization di Kota–Kota Lain yang Tersebar di Dunia

BAB 3 STUDI KASUS DAN ANALISA : KOTA WATANSOPPENG DAN

3.2 Synurbization di Kota–Kota Lain yang Tersebar di Dunia

! 26!

Universitas Indonesia

Secara tidak langsung, manusia pada kota ini tidak dapat terlepas dari kehidupan kalong karena fungsinya terhadap hutan. Kehadiran kalong dalam kota membuat kota bertahan dalam jangka panjang dengan adanya ekosistem yang bekerja secara maksimal. Sistem tersebut berfungsi untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Kota tidak perlu membatasi antara kalong dan manusia karena kalong membawa dampak positif dalam menjaga keseimbangan ekosistem kota.

3.2 Synurbization di Kota–Kota Lain yang Tersebar di Dunia

Masih banyak kota-kota lain yang sudah terjadi synurbization ataupun kota tersebut sengaja membuat keadaan agar terjadi synurbization. Berikut ini merupakan 8 contoh kota-kota yang mempunyai ide dari synurbization tersebut.

3.2.1 Ikan Koi di Sungai Kota Hida Furukawa

Kota Hida Furukawa di Jepang merupakan tempat terjadinya

synurbization ikan koi. Sungai yang bernama Sungai Seto mengalir melalui kota kecil Hida Furukawa, air sungai tersebut merupakan aliran dari Sungai Miya yang berada dekat dari kota. Sungai Seto yang bersih menjadi habitat bagi ikan Koi untuk hidup di tengah–tengah hunian warga (lihat gambar 3.9).

Gambar 3.8 Pola integral urbanism yang dihasilkan dari integrasi manusia dan kalong Sumber : ilustrasi pribadi

!

! 27!

Universitas Indonesia

Ikan koi yang hidup di Sungai Seto menjadi penanda bahwa air sungai tersebut bersih. Air merupakan elemen yang penting dalam kehidupan manusia. Ikan koi dapat memakan kotoran ataupun lumut yang ada pada sungai. Ikan koi juga berperan dalam menjaga dan memelihara kebersihan air pada sungai yang ada di tengah-tengah kehidupan manusia. Air sungai di Kota Hida Furukawa dapat dikatakan bersih karena terdapat kehidupan ikan koi di dalamnya.

Gambar 3.9 Peta Kota Hida Furukawa

Sumber : http://www.hida-kankou.jp/kanko/foreign/en/plan-your-visit/pdf/Hida_Furukawa_Sightseeing_Map.pdf

!

Gambar 3.10 Suasana kota dengan Sungai Seto

Sumber (a&b): http://uniqpost.com/91760/ikan-koi-hidup-tenang-di-sungai-jepang/ Sumber (c): http://lifetoreset.wordpress.com/2012/05/30/canals-and-carps-of-hida-furukawa/

!

! 28!

Universitas Indonesia

Dengan kota yang menyediakan ruang untuk ikan koi, menandakan kota mempunyai integrasi dengan alam (lihat gambar 3.10). Kehadiran koi-koi ini menjadi penting karena terdapat hubungan yang saling menguntungkan antara kota (manusia yang menghuni kota) dengan ikan koi. Fungsi, pola, dan proses kehidupan ikan koi menjadi indikator bagi kebersihan air dan lingkungan di sungai kota yang dibutuhkan oleh manusia.

3.2.2 Kunang-Kunang di Sungai dalam Kota

Synurbization kunang-kunang terjadi di salah satu sungai kota di Jepang berdasarkan film “Hotaru no Hoshi”. Berawal dari seorang guru dan murid– muridnya yang ingin mendatangkan kembali kunang-kunang yang sudah lama hilang di Kota Jepang. Guru dan murid-muridnya berusaha untuk menciptakan keadaan sungai yang sesuai dengan habitat kunang–kunang di tengah kota.

Diceritakan bahwa sungai di tengah kota sangatlah kotor dan terdapat banyak sampah (lihat gambar 3.11), sementara kunang-kunang membutuhkan air yang bersih dan tidak tercemar. Guru dan murid-muridnya berusaha membersihkan sungai dari kotoran dan sampah untuk dapat melihat kunang-kunang kembali. Mereka berusaha menciptakan lingkungan yang bersih dan adaptif bagi kunang-kunang. Usaha yang mereka lakukan termasuk upaya mengintegrasi alam dengan wilayah urban.

Kasus ini membuktikan seberapa besar perkembangan urban telah mematikan organisme lain dan seberapa jauh telah mengubah alam. Kunang-kunang merupakan binatang yang sangat sensitif terhadap lingkungan, sehingga sangat sulit bagi kunang-kunang untuk beradaptasi dengan lingkungan kota.

Gambar 3.11 Keadaan sungai film "Hotaru no Hoshi"

Sumber : Film “Hotaru no Hoshi”

!

! 29!

Universitas Indonesia

Seperti yang terlihat pada gambar 3.12, kunang-kunang hidup pada lingkungan yang masih asri dan jauh dari polusi dan keramaian kota.

Kunang–kunang adalah binatang yang tidak merugikan manusia sama sekali. Mereka tidak menggigit, tidak mempunyai capit, tidak menyerang, tidak membawa penyakit, tidak beracun, dan tidak dapat terbang dengan cepat. Larva dari beberapa spesies kunang-kunang menjadi predator spesialis pemakan larva serangga lain, yaitu keong dan siput. Beberapa dari kunang-kunang saat dewasa menjadi predator tetapi ada juga beberapa spesies yang tidak memakan apapun (berdasarkan http://aggie-horticulture.tamu.edu/galveston/beneficials/beneficial-40_lightning_ bug.htm).

This summer, I raised fireflies with children. I never noticed the environment around me. Then I opened my ears to the river’s murmur, the sound of the wind, the bird’s song, and the frog’s chorus, nature’s whisper. But more than anything, I noticed the importance of water (Miwa, 2004).

Kunang–kunang hidup pada air yang bersih pada saat menjadi larva, kemudian hidup di darat dan terbang saat menjadi dewasa. Sama seperti pada kasus ikan koi di Kota Hida Furukawa bahwa air merupakan kebutuhan mendasar dari manusia. Dengan adanya kunang-kunang, warga dapat mengetahui bahwa sungai tersebut bersih karena ada kehidupan di dalamnya. Kunang-kunang yang

Gambar 3.12 Kunang–kunang dengan habitat alaminya

Sumber : http://travel.nationalgeographic.com/travel/365-photos/fireflies-grand-ledge-michigan/

!

! 30!

Universitas Indonesia

sangat sensitif dengan lingkungan yang kotor dapat menjadi indikator kebersihan air di sungai maupun lingkungan sekitarnya karena mereka hanya hidup pada habitat yang bersih. Lingkungan yang bersih tidak hanya dibutuhkan oleh kunang-kunang melainkan manusia.

Habitat kunang-kunang dengan habitat manusia dapat terintegrasi untuk meningkatkan kualitas hidup bersama di kota. Sesuai dengan pernyataan Ellin (2006) tentang kualitas dan ciri integral urbanism adalah dengan adanya hybridity

dan connectivity yangmemperlakukan alam yaitu kunang-kunang dengan manusia sebagai simbiosis yang saling menguntungkan.

3.2.3 Burung Black Redstarts di Kota Birmingham

Kota Birmingham West Midlands merupakan kota tempat terjadinya

synurbization burung Black Redstart. Kota tersebut didatangi burung tersebut karena kecocokan akan dengan lingkungannya. Burung tersebut merupakan burung langka, sehingga masyarakat setempat dan beberapa institusi berupaya untuk menjaganya. Upaya menjaga kehadiran burung tersebut adalah dengan menyediakan habitat yang adaptif melalui proyek-proyek bangunan green roof

atau brown roof (lihat gambar 3.13).

20.000 green/brown roof dirancang oleh Moore environment, sebuah perusahan Landscape Architects and Environmental Designers and Assessors. Singkatnya, desain dibuat untuk menyediakan sebuah lingkungan luar yang menarik untuk pendatang dan staf dan untuk menjadi replika bagi lapangan berwarna coklat, yang dianggap dapat menyediakan habitat yang bernilai dan bervariasi untuk berbagai fauna dan flora. Tapak di Birmingham diketahui sebagai tempat menarik bagi Black Redstart langka, burung robin berukuran kecil yang telah beradaptasi untuk hidup di jantung pusat industri dan perkotaan, di mana mempunyai permukaan lapangan coklat, dengan batu bata dan puing-puing beton menyerupai habitat pegunungan alami. Menciptakan habitat yang menarik spesies ini adalah

tujuan utama untuk desain atap. (berdasarkan

!

! 31!

Universitas Indonesia

Burung dapat membantu penyerbukan tumbahan dan menambah keanekaragaman hayati. Kota Birmingham sudah mempunyai kondisi fisik yang memancing burung Black Redstart untuk berdatangan. Melalui proyek-proyek

green/brown roof, synurbization burung Black Redstart difasilitasi agar dapat ekosistem urban. Proyek tersebut telah mengintegrasi kehidupan antara manusia dengan burung dan menjadikan burung black redstart bagian dari kehidupan di kota.

3.2.4 Kupu–Kupu di Taman Wolverhampton

Kupu–kupu adalah spesies yang sangat berperan dalam penyerbukan tanaman. Young (2008) melakukan studi pada taman-taman di perumahan Wolverhampton dan memetakan pergerakannya karena taman banyak didatangi oleh kupu-kupu (Lihat gambar 3.14).

Gambar 3.14 Taman di perumahan Wolverhampton dengan kupu-kupu Sumber: http://www.urbanhabitats.org/v05n01/butterfly_full.html

Gambar 3.13 Proyek brown/green roof

Sumber: http://www.greenroofs.com/projects/pview.php?id=802

!

! 32!

Universitas Indonesia

Dalam proses kupu-kupu untuk berfungsi sebagai pembantu penyerbukan tumbuhan, dapat terlihat pada arah pergerakannya di taman Wolverhampton (lihat gambar 3.15), kupu-kupu menjadi indikator kesuburan akan taman tersebut. Habitat kupu-kupu dan manusia terintegrasi bersamaan dalam wilayah urban, yang menunjukan kualitas integral urbanism.

Manusia hidup di lingkungan kota membutuhkan taman untuk memberi kesejukan dan kenyamanan lingkungan. Kupu-kupu menjaga tanaman di taman agar tetap tumbuh subur dan manusia mendapatkan manfaatnya. Sementara, kupu–kupu mendapatkan habitat pada taman hunian tersebut. Pada akhirnya, manusia dan kupu–kupu dapat hidup saling melengkapi satu sama lain dalam satu tempat untuk memfungsikan ekosistem setempat.

3.2.5 Kodok di Korea Selatan

Kodok merupakan binatang amfibi yang membutuhkan ruang hidup yang banyak untuk proses kehidupannya, mulai dari air hingga dataran tinggi. Mereka menjadi bintang yang menguntungkan bagi manusia. Kodok dapat mengindikasi pencemaran lingkungan dan menjadi binatang sebagai pengingat secara alami jika terjadi gempa bumi (KV., 2010). Itulah sebabnya, mereka penting untuk tinggal bersama dengan manusia di tengah–tengah kehidupannya.

Permasalahannya kodok sangat sensitif pada lingkungan, sementara lingkungan kota seringkali menjadi tantangan yang sangat sulit bagi kodok untuk

Gambar 3.15 Pergerakan kupu–kupu yang aktif di taman Sumber: http://www.urbanhabitats.org/v05n01/butterfly_full.html

!

! 33!

Universitas Indonesia

beradaptasi. Namun, tidak bagi di beberapa bagian dari negara Korea Selatan (lihat gambar 3.16). Banyak ditemukan spesies amfibi di sekitarnya karena perkembangan urban yang vertikal bukan ke samping sehingga banyak ruang bagi amfibi untuk bertempat tinggal (Fidenci dalam Hance, 2009).

Gambar 3.16 Kodok di wilayah urban

Sumber : http://news.mongabay.com/2009/0909-hance_fidenci.html

Kota-kota yang berkembang seperti demikianlah dapat menjadi adaptif dan memancing kodok ini datang ke wilayah urban tersebut dan hidup tinggal bersama-sama dengan manusia. Kodok menjadi penting yang dibutuhkan manusia di kota karena kodok dapat menjadi indikator dari kebersihan lingkungan. Antara manusia dan kodok dapat hidup harmonis dan saling melengkapi dalam satu wilayah urban.

3.2.6 Bat House di Londonuntuk Kelelawar

Bat house merupakan sebuah proyek arsitektur dari kompetisi RIBA yang didesain oleh Jorgen Tandberg dan Yo Murata dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas ekosistem urban setempat. Desain dapat memfasilitasi tempat tinggal kelelawar di area London. Proyek tersebut ingin membuat rumah yang sesuai dengan kelelawar sehingga menjadi habitat bagi kelelawar (lihat gambar 3.17).

I’m interested in initiating a project suitable for bats in London. ... There is great pressure on bat numbers in London as buildings get redeveloped and home improvements leave little space for bats to live in. In this structure the bats are the client and we hope to be able to accommodate different species

!

! 34!

Universitas Indonesia that have different housing needs, the raising of a family, hibernation etc.

(Deller, nd)

Kelelawar mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Mereka adalah bintang yang aktif untuk penyerbukan tumbuhan dan memakan serangga hama. Tidak semua jenis kelelawar memakan serangga, tetapi semua jenis kelelawar yang ada di London memakan serangga. Satu ekor kelelawar dapat memakan hingga 3000 serangga hama dalam 1 malam (Gunnel, 2012).

Jadi, kelelawar menjadi binatang yang menjaga lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem dengan fungsinya memakan hama di lingkungan sekitar dan membantu penyerbukan. kehadiran kelelawar membawa dampak positif bagi kehidupan warga di kota. Proyek bat house memberi kesempatan bagi kelelawar untuk terintegrasi dengan manusia di kota.

3.2.7 Elevator B di New York untuk Lebah Madu

Silo City berusaha untuk mendatangkan lebah madu dengan membangun proyek Elevator B. Lebah madu mempunyai manfaat baik secara ekonomis yaitu untuk madunya, selain itu lebah madu berperan dalam membantu penyerbukan

Gambar 3.17 Bat House

Sumber: http://www.architecture.com/UseAnArchitect/FindAnArchitect/ Competitions/CaseStudiesNew/Structures/BatHouse/BatHouse.aspx#.U3Iyl62SyAo

!

! 35!

Universitas Indonesia

tumbuhan. Sebuah komunitas arsitektur membuat proyek Elevator B yang sesuai dengan habitat lebah madu untuk dijadikan tempat tinggalnya (lihat gambar 3.18).

Komunitas arsitektur berusaha menciptakan habitat yang adaptif bagi lebah madu dengan memperhatikan suhu, pemilihan material, arah angin, dan lain lain. Hal tersebut dipertimbangkan karena keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan masyarakat menjadi penting. Lebah juga berhak mendapatkan ruang seperti pada habitat alaminya.

Seperti pada gambar 3.19, perencanaan Elevator B berada dekat dari hunian warga. Lebah madu membawa dampak positif bagi kesuburan tumbuhan di kota dan memberi efektifitas ekosistem. Proyek Elevator B membuat kota terjadi synurbization lebah madu dan mengintegrasi kehidupan antara manusia dengan lebah madu.

Gambar 3.18 Elevator B

Sumber: http://www.wired.co.uk/news/archive/2013-05/8/tower-for-bees

Gambar 3.19 Perencanaan Elevator B

Sumber: http://hivecity.wordpress.com/design/phase-2-schematic-design.#sthash.aUSoAOhJ.dpuf

!

! 36!

Universitas Indonesia 3.2.8 Wildlife Bridge di Berbagai Negara

Wildlife bridge merupakan jembatan menyebrang bagi binatang liar. Jalan raya yang melintasi hutan dapat mengganggu siklus kehidupan binatang liar untuk berpindah-pindah tempat. Banyak terjadi kecelakaan di jalanan akibat tabrakan antara binatang dan mobil. Hal ini disebabkan terputusnya ruang hidup binatang karena adanya jalan. Binatang liar ini merupakan bagian dari alam yang mempunyai ekosistem dan terdapat rantai makanan. jika kehidupan mereka terganggu, pada akhirnya akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia. Beberapa negara dan masyarakatnya menyadari pentingnya kehidupan binatang liar ini, sehingga mereka mengakomodasi kehidupan binatang dengan membuat

wildlife bridge (lihat gambar 3.20).

Manusia tidak bisa mengambil ruang milik binatang. Antara manusia dengan binatang membutuhkan ruangnya masing-masing, sehingga mereka perlu

Gambar 3.20 A. Christmas Island National Park, Australia; B. Banff National Park, Alberta, Canada; C. Ecoduct, France; D. Ecoduct, The Netherlands; E. Green bridge over the

A20 near Grevesmühlen, Germany; F. Highway 464 near Boeblingen, Germany; G. Montana,

USA; H. Near Keechelus Lake, Washington, USA.

!

!

Dokumen terkait