• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Kajian Teori

2.2.1 Pendekatan Saintifik

2.2.1.6 Tabel 1 Aktivitas Kegiatan Pembelajaran Scientific

Kegiatan Aktivitas Belajar

Mengamati

(observing)

Melihat, mengamati, membaca, mendengar,

menyimak (tanpa dan dengan alat).

Menanya

(questioning)

Mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai ke

yang bersifat hipotesis; diawali dengan bimbingan

kebiasaan).

Pengumpulan Data

(experimenting)

Menentukan data yang diperlukan dari pertanyaan

yang diajukan,

menentukan sumber data (benda, dokumen, buku,

eksperimen), mengumpulkan data.

Mengasosiasi

(associating)

Menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,

menentukan hubungan data/kategori, menyimpulkan

dari hasil analisis data; mulai dari unstructured-uni structure-multistructure-complicated structure.

Mengomunikasikan Menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk

lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau media

lainnya.

a) Mengamati (Observing)

Kegiatan pertama pada pendekatan ilmiah (scientific approach)

adalah pada langkah pembelajaran mengamati/observing. Metode

observasi adalah salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan

pendekatan kontekstual dan media asli dalam rangka membelajarkan siswa

yang mengutamakan kebermaknaan proses belajar. Dengan metode

observasi, siswa akan merasa tertantang mengeksplorasi rasa

keingintahuannya tentang fenomena dan rahasia alam yang senantiasa

menantang, metode observasi mengedepankan pengamatan langsung pada

data yang objektif yang kemudian dianalisis sesuai tingkat perkembangan

siswa. Item yang dianalisis siswa kemudian digunakan sebagai bahan

penyusunan evaluasi bagi siswa.

Mengamati/observing adalah “kegiatan studi yang disengaja dan

sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan

pengamatan dan pencatatan”. Dalam kegiatan pembelajaran: siswa

mengamati objek yang akan dipelajari. Kegiatan belajarnya adalah

membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa tau dengan alat).

Kompetensi yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian,

mencari informasi. Dalam hal ini, guru menyajikan perangkat

pembelajaran berupa media pembelajaran. Dalam kegiatan mengamati,

guru menyajikan video, gambar, miniatur, tayangan atau objek asli. Siswa

bisa diajak untuk bereksplorasi mengenai objek yang akan dipelajari

(Hosnan, 2014: 39-40).

b) Menanya (Questioning)

Langkah kedua pada pendekatan ilmiah atau scientific approach adalah questioning (menanya). Kegiatan belajarnya adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati

atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang

diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang

bersifat hipotetik). Kompetensi yang dikembangkan adalah kreativitas,

pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

Pada kegiatan pembelajaran ini, siswa melakukan pembelajaran bertanya.

Dalam pembelajaran, aktivitas bertanya perlu ditingkatkan.

Diprediksi bahwa dalam pembelajaran saat ini, masih banyak siswa yang

belum secara aktif bertanya dalam proses pembelajaran. Apabila hal itu

benar, penyebab kurangnya siswa memberanikan diri untuk bertanya lebih

dikarenakan: (1) siswa merasa dirinya tidak lebih tahu daripada guru,

sebagai akibat dari kebiasaan yang satu arah: (2) adanya ganjalan

psikologis karena guru lebih dewasa daripada usia siswa: (3) kurang

kreatifnya guru untuk mengajukan persoalan-persoalan yang menantang

siswa untuk bertanya. Karena itu, ada dua tugas guru yang perlu

dilakukan, yaitu mencairkan hambatan psikologis antara guru dengan

siswa dan memperkaya topik-topik pembelajaran yang aktual dengan

perkembangan dan kontekstual dengan kebutuhan siswa (Hosnan, 2014:

48-49).

c) Mengumpulkan Informasi

Kegiatan “mengumpulkan informasi” merupakan tindakan lanjut

dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan

mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara.

Untuk itu, peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak,

memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan

informasi. Dalam permendikbud No. 81 A Tahun 2013, aktivitas

mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca

sumber lain selain buku teks, mengamati objek atau kejadian atau aktivitas

wawancara dengan narasumber, dan sebagainya. Adapun kompetisi yang

diharapkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai

pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan

mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,

mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.

Pada kegiatan menanya ini, peserta didik diharapkan dapat

mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan gambar

yang ada. Jika peserta didik mengalami kesulitan, dalam mengungkapkan

pertanyaan, maka guru dapat memberikan panduan pertanyaan awal untuk

kemudian dilanjutkan oleh peserta didik yang lain (Hosnan, 2014: 57).

d) Mengasosiasikan/Mengolah Informasi/Menalar (Associating)

Langkah berikutnya pada scientific approach adalah (menalar/mengolah informasi). Istilah menalar (associating) dalam

kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut

dalam kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta

didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan

situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah

proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang

Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meskipun penalaran

nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.

Kegiatan belajarnya adalah; pertama, mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil mengumpulkan/eksperimen

maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan

informasi; kedua, pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber, yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada

yang bertentangan. Kompetensi yang dikembangkan adalah

mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan serta deduktif

dalam menyimpulkan. Pada kegiatan ini, siswa akan menalar, yaitu

menghubungkan apa yang sedang dipelajari dengan apa yang ada dalam

kehidupan sehari-hari (Hosnan, 2014: 67-68).

e) Mengomunikasikan Pembelajaran

Pada pendekatan saintifik, guru diharapkan memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk mengomunikasikan apa yang telah

mereka pelajari. Pada tahapan ini, diharapkan peserta didik dapat

mengomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara

bersama-sama dalam kelompok, dan atau secara individu dari hasil

kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengomunikasikan ini

dapat diberikan klarifikasi oleh guru agar peserta didik akan mengetahui

yang harus diperbaiki. Hal ini dapat diarahkan pada kegiatan konfirmasi

sebagaimana pada standar proses.

Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau

menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi,

mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di

kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau

kelompok peserta didik tersebut. Adapun kompetensi yang diharapkan

dalam kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,

kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat

dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan

benar (Hosnan, 2014: 75-76).

f) Membentuk Jejaring (Networking)

Langkah kelima pada scientific approach adalah networking (membentuk jejaring). Model networked adalah model pembelajaran berupa kerjasama antara siswa dengan seorang ahli dalam mencari data,

keterangan, atau lainnya sehubungan dengan mata pelajaran yang

dikuasainya atau yang diminatinya sehingga siswa secara tidak langsung

mencari tahu dari berbagai sumber. Sumber dapat berupa buku bacaan,

internet, saluran radio, TV, atau teman, kakak, orang tua atau guru yang

dianggap ahli olehnya. Siswa memperluas wawasan belajarnya sendiri,

artinya siswa termotivasi belajar karena rasa ingin tahunya yang besar

Menurut pandangan (Robin Forgaty, 1991 dalam Hosnan, 2014:

77) networked merupakan model pemanduan pembelajaran yang mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan

masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa

mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi maupun konteks yang

berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara

terus-menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman

dan kenyataan yang dihadapi siswa.

Networking adalah kegiatan siswa untuk membentuk jejaring pada kelas. Kegiatan belajarnya adalah menyampaikan hasil pengamatan,

kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media

lainnya. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap

jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan

pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan

berbahasa yang baik dan benar. Pada tahapan ini, siswa mempresentasikan

kemampuan mereka mengenai apa yang telah dipelajari sementara siswa

lain menanggapi. Tanggapan siswa lain bisa berupa pertanyaan, sanggahan

atau dukungan tentang materi presentasi.

Guru berfungsi sebagai fasilitator dalam kegiatan ini, semua siswa

secara proporsional akan mendapatkan kewajiban dan hak yang sama.

Siswa akan terlatih untuk menjadi narasumber, menjadi orang yang akan

mempertahankan gagasannya secara ilmiah dan orang yang bisa mandiri

Para siswa melakukan kegiatan networking ini harus dengan perasaan riang dan gembira tanpa ada rasa takut dan tekanan dari siapa

pun. Guru akan melakukan penilaian autentik dalam proses pembelajaran

ini dan penilaian hasil pembelajaran siswa yang aktif dan berani

mengemukakan gagasan/pendapatnya secara ilmiah tentu akan

mendapatkan nilai yang lebih baik. Siswa yang masih mempunyai rasa

takut dan kurang percaya diri akan terlatih sehingga menjadi pribadi yang

mandiri dan pribadi yang bisa dipercaya. Semua kegiatan pembelajaran

akan kembali pada pencapaian ranah pembelajaran, yaitu ranah sikap,

ranah kognitif dan ranah keterampilan.

Peserta didik membuat jaringan dengan orang lain baik dalam

bidang yang mereka tekuni maupun di luar bidang tersebut dan mereka

menghubungkan ide-ide baru ke dalam ide-ide lama secara kontinu atau

terus-menerus. Peserta didik menyaring semua yang mereka pelajari

melalui kajian para ahli dan membuat koneksi internal yang mengarah ke

jaringan internal ahli bidang terkait. Model ini digambarkan, seperti

sebuah bangun prisma, yaitu merupakan sebuah bangun yang apabila

dilihat dapat menciptakan berbagai dimensi dan arah fokus. Pendidikan

seorang manusia tidak pernah selesai sampai ia mati (Robert E. Lee dalam

Dokumen terkait