• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV merupakan Bab Penutup, berupa kesimpulan dan

TABEL V MODUS OPERAND

MODUS OPERANDI Frekuensi Persentase

Cara melakukan

- sendiri 6 24

%

- bersama orang lain 19 76

%

Alat yang digunakan

- gergaji 0 0

%

- perkul (kapak) 13 52

%

- perkul dan gergaji 6 24

%

- Iain-lain 6 24

%

Waktu melakukan jpencurian

- pagi 9 36

%

- slang 4 16

%

- sore 5 20

%

- malam 7 28

%

Cara mengangkut - dipikul/dipanggul 10 40

%

- dipikul dan dengan truk - lain-lain

6 24

%

9 36 #

yang mempunyai radio transistor, 4 orang (16

%)

yang mem­ punyai sawah, 7 orang (28

%)

yang mempunyai *tegal', 6 orang (24

%)

mempunyai ternak kambing/sapi dan 4 orang (16

%)

yang mempunyai ternak ayam.

Dari data hak milik responden tampak bahwa para pelaku pencurian berada dalam garis kemiskinan. Melihat bahwa dalam tabel I mereka mempunyai mata pencaharian sebagai petani, tetapi justru yang memiliki sawah hanya 16

%

dan yang memiliki tegalan 28

%•

Ini pun dalam ukuran yang sangat minim. Hasil dari sawah ataupun tegalan seba­ gai petani tidaklah dapat mencukupi kebutuhan hidup yang layak sebagai petani.

Tabel V tersebut di atas menunjukkan hal-hal yang berhubungan dengan modus operand!, antara lain meliputi cara mereka melakukan (sendiri atau bersama orang lain), alat yang digunakan, waktu pencurian dilakukan (pagi, si- ang atau malara) dan cara mengangkutnya.

Di muka telah saya terangkan, apabila kayu jati yang dicuri lebih dari satu batang atau satu batang namun volumenya besar, biasanya mereka melakukan secara bersa - ma-sama. Dari hasil wawancara saya dengan narapidana dan tahanan di Rumah Tahanan Negara Tuban, tercatat paling banyak dilakukan oleh 9 orang. Namun dari berkas yang sa­ ya teliti di Pengadilan Negeri Tuban dan informasi dari Perum Perhutani, hal ini pernah dilakukan oleh 25 - 30 orang secara bersama-sama.

Alat yang mereka pergunakan dalam melakukan pencu­ rian kayu ini pada umumnya adalah nperkul" (sejenis ka~

pak). Alat ini digunakan untuk menebang sekaligus 'mema - cak* (membentuk kayu gelondong menjadi persegi). Jika pencurian itu dalam jumlah besar, mereka mempergunakan gergaji. Kadang dipergunakan juga alat sejenis kapak yang ukurannya kecil, yang disebut 'caluk1 atau 'menthik**

Tentang waktu melakukan pencurian, pagi, siang atau oalam tidak ada kecenderungan. Sebab menurut penga - matan saya pribadi, pada siang hari pun hutan dan seki- tarnya dalam keadaan sepi, Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan pencurian kayu pada siang hari pun tetap terbuka.

Cara mengangkut kayu hasil curian tersebut, kalau jumlahnya kecil dan tujuannya dekat, diangkut dengan cara "memanggul". Tetapi kalau kayu itu dalam jumlah dan volu­ me yang besar dan akan dibawa ke luar daerah, biasanya di­ angkut dengan truk. Di samping itu sebagai alat bantu un­ tuk mengangkut kayu dari tengah hutan ke tepi hutan sering digunakan bambu dan tali untuk memikul. Ada juga informasi lain dari Perum Perhutani, pada hutan-hutan yang berbatas- an dengan aliran sungai (misalnya KPH Padangan, KPH Bojo - negoro dan KPH Ngawi), kayu hasil curian tersebut diangkut dengan cara menghanyutkan ke dalam sungai, sekaligus su­ dah ada yang mengawalnya.

Sebelum saya akhiri uraian data lapangan ini, ingin 35

s a y a tambahkan beberapa catatan data yang saya peroleh

dari Perum Perhutani dan Kepolisian Resort Tuban.

Dari KPH Jatirogo, angka kerugian akibat pencurian kayu ini dalam lima tahun terakhir (tahun 1981 - tahun 1985

)t

setelah dirata-rata setiap tahun mencapai sekitar fy 254.800.000,00. Di KPH Tuban angka ini mencapai fy 60. 606.000,00. Sedangkan di KPH Parengan ft 90.240.000,00.

Sementara dari Kepolisian Resort Tuban, saya pero- leh penjelasan tentang jumlah perkara pencurian kayu jati yang masuk pada tahun 1986. Sampai pada bulan Oktober 1986 tercatat ada 92 perkara. 89 di antaranya telah dia -

jukan ke persidangan. Sedangkan tunggakan perkara dari tahun-tahun yang lalu sebanyak 57 perkara.

Hal lain yang penting untuk dikemukakan di sini, masih sekitar pelaku kejahatan pencurian kayu jati, ada - lah hasil Operasi Reksawana yang diadakan oleh Laksusda dan Operasi Wana Laga yang diadakan oleh Polri. Keduanya diadakan pada tahun 1983 dan 1984. Tentunya dalam pelak - sanaannya mengikutsertakan beberapa instansi yang terkait.

Dari hasil rekapitulasi yang dibuat oleh Perum Perhutani, menarik untuk dikemukakan yakni tentang iden - titas "tersangka" pelaku pencurian kayu ini. Di KPH Tuban dari 20 tersangka, 2 di antaranya menyandang jabatan se - bagai kepala desa, seorang carik dan 2 orang guru. Sele - bihnya pengusaha dan rakyat biasa.

tersangka setidak-tidaknya raelibatkan 4 orang kepala de- sa, 2 orang polisi hutan, 2 orang mandor perhutani, seo- rang karyawan BRI dan seorang karyawan DPU.

Ada yang janggal dari data hasil Operasi Reksawa- na di KPH Jatirogo ini. Sejumlah nama dalam daftar t e r ­ sangka tiba-tiba "menghilang" dalam proses. Artinya, se- telah saya teliti kembali, nama-nama tersebut tidak saya jumpai lagi, baik dalam daftar tersangka yang sudah divo- nis maupun yang belum diproses.

Data tentang identitas tersangka ini tidak ada da­ lam rekapitulasi Operasi Wana Laga, baik di KPH Tuban ma­ upun di KPH Jatirogo.

Belum saya temui data yang pasti untuk hal terse - but di atas di KPH Parengan. Namun berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Kepolisian Resort Tuban, ada oknum ABRI yang terlibat dalam kasus pencurian kayu jati di wi­ layah KPH Parengan dan telah disidangkan secara koneksi- tas2^ •

4. Latar Belakang Pencurian Kayu Butan di Wilayah Kabupaten Tuban

Dari hasil wawancara saya dengan narapidana dan tahanan di Rumah Tahanan Negara Tuban, tampak bahwa tun- tutan kebutuhan hidup merupakan hal yang menonjol sebagai

26

Wawancara dengan Kasatserse Kepolisian Resort Tu - ban, tanggal 31 Oktober 1986.

latar belakang timbulnya pencurian kayu hutan ini.

TABEL VI

Dokumen terkait