Kesehatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan pembangunan. Kesehatan adalah investasi, oleh karena itu mereka yang selalu memelihara kesehatannya akan memperoleh hasil berupa produktivitas kerja yang semakin meningkat, peluang hidup yang lebih panjang, dan hidup sejahtera tanpa dirongrong penyakit (Khomsan 2002). Produktivitas pada usia remaja dapat tercermin pada prestasi belajarnya. Gangguan kesehatan sekecil apapun akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Status kesehatan seseorang ditentukan oleh faktor-faktor internal (individu) dan faktor eksternal (lingkungan). Faktor internal tersebut antara lain gaya hidup dan kebiasaan makan.
Di Indonesia, populasi remaja berjumlah 21% dari total penduduk, dengan jumlah ±44 juta jiwa. Masa remaja ditandai oleh perubahan yang besar, Hall (1989) dalam Papalia dan Olds (1998) menyebut masa ini sebagai periode
“storm and stress”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar. Pola makan yang tidak teratur dan gaya hidup yang cenderung mudah terbawa arus umumnya menjadi masalah yang timbul pada remaja.
Perkembangan teknologi, industri, dan era keterbukaan informasi saat ini membawa konsekuensi terhadap perubahan gaya hidup, kondisi lingkungan, dan perilaku masyarakat, termasuk remaja. Kecenderungan mengkonsumsi makanan cepat saji dan makanan instan, gaya hidup menjadi lebih sedentary, stres, dan polusi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gaya hidup dan kebiasaan makan yang salah akan secara langsung akan mempengaruhi organ-organ pencernaan dan menjadi pencetus penyakit pencernaan.
Salah satu penyakit pencernaan yang sering dikeluhkan adalah gangguan lambung. Lambung adalah reservoir pertama makanan dalam tubuh dan di organ tersebut makanan melalui proses pencernaan dan penyerapan sebagian zat gizi. Gangguan lambung berupa ketidaknyamanan pada perut bagian atas atau dikenal sebagai sindrom dispepsia. Dispepsia dapat terjadi akibat kelainan organik maupun fungsional. Gangguan organik yang umum terjadi pada lambung antara lain gastritis dan tukak peptik (dikenal dengan sakit maag), esophageal reflux disease, penyakit kandung empedu, gangguan hati, dan patologi lainnya (Beyer 2004). Dalam penelitian ini, dispepsia diteliti sebagai suatu akibat dari adanya riwayat gangguan lambung yaitu gastritis atau tukak peptik serta gaya
hidup sehari-hari (kebiasaan makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, stres, dan lain-lain).
Gatritis merupakan inflamasi dari lapisan mukosa dan submukosa gaster atau lambung. Tukak peptik (ulkus peptikum) adalah suatu istilah yang menunjuk pada suatu kelompok penyakit ulserasi (perlukaan) saluran makanan bagian atas yang melibatkan terutama duodenum dan lambung. Patogenesis tukak peptik sama-sama melibatkan asam-pepsin. Bentuk utama tukak peptik adalah tukak lambung dan tukak duodeni (Mc Guigan 1995). Keluhan paling banyak pada gastritis dan tukak peptik berupa nyeri perut atau ketidaknyamanan perut bagian atas (dispepsia), meliputi mual, muntah, kembung, rasa penuh atau terbakar di perut bagian atas (Darya dan Wibawa 2009). Munculnya gastritis terkait dengan berbagai pengobatan, faktor diet, lingkungan, gaya hidup, infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori), serta faktor psikologis (stres).
Gastritis merupakan masalah kesehatan di masyarakat, prevalensi gastritis yang cukup tinggi, mempengaruhi hingga 50% orang dewasa di negara-negara barat. Di Indonesia prevalensi gastritis sebanyak 0,99% dan insiden gastritis sebesar 115/100.000 penduduk (Yanti 2009). Prevalensi tukak peptik di Indonesia pada beberapa penelitian ditemukan antara 6-15% terutama pada usia 20-50 tahun (Suyono 2001 dalam Annisa 2009).
Prevalensi dispepsia sendiri secara global bervariasi antara 7-45% tergantung pada definisi yang digunakan dan lokasi geografis. Prevalensi dispepsia di Amerika Serikat sebesar 23-25,8%, di India 30,4%, New Zealand 34,2%, Hongkong 18,4%, dan Inggris 38-41% (Mahadeva dan Lee 2006). Di Indonesia, dispepsia menempati urutan ke-15 dari 50 penyakit yang dengan pasien rawat inap terbanyak (Depkes 2006). Laporan rawat jalan di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta menjelaskan bahwa pasien yang datang dengan keluhan dispepsia mencapai 40% kasus per tahun (Dwijayanti, Ratnasari, dan Susetyowati 2008). Menurut poliklinik IPB (2004) gangguan saluran pencernaan berupa gejala mual dan gangguan nafsu makan merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita mahasiswa TPB IPB. Pusing, nyeri lambung, mual, perut kembung merupakan keluhan kesehatan utama yang dialami oleh mahasiswa TPB (Mulyani 2007). Mual merupakan salah satu gejala dispepsia yang ditimbulkan akibat gangguan pencernaan seperti gastritis maupun tukak.
Gastritis dapat berkembang menjadi tukak peptik dan jika berlanjut dapat berkembang menjadi kanker lambung. Penelitian di Inggris menemukan
hubungan antara tukak peptik dengan kanker lambung pada orang dewasa. Gejala-gejala gastritis dan tukak peptik, yang juga dikenal dengan sindrom dispepsia cukup mengganggu penderitanya. Sekitar 30% penderita dispepsia dilaporkan tidak masuk kerja atau sekolah ketika gejala-gejala dispepsia menyerang. Dispepsia merupakan suatu hal yang mahal untuk pelayanan kesehatan karena biaya konsultasi, investigasi, dan pengobatannya.
Sejak tahun 2000, Institut Pertanian Bogor (IPB) mewajibkan seluruh mahasiswa baru tinggal bersama dalam asrama selama satu tahun. Tahun pertama bagi mahasiswa baru IPB disebut Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Perubahan lingkungan dan kebiasan sehari-hari dari yang semula tinggal di rumah bersama keluarga menjadi tinggal di asrama, seringkali membuat stres mahasiswa TPB.
Kondisi lingkungan asrama dan padatnya jadwal kegiatan mahasiswa dapat menyebabkan pola makan tidak teratur dan gaya hidup yang berubah karena berbagai faktor di sekitar mahasiswa. Stres, makan tidak teratur dan sembarangan, merokok, minum alkohol, minum kopi dapat menimbulkan masalah pencernaan, salah satunya berupa gangguan lambung. Seseorang yang telah memiliki masalah pencernaan sebelumnya, akan sangat rentan mengalami dispepsia karena kebiasaan yang tidak sehat. Bagi orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit pun, dimungkinkan untuk terjangkit dispepsia karena faktor-faktor di atas. Masalah gizi pada mahasiswa yang masih tergolong remaja akhir ini perlu mendapat perhatian khusus karena berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta dampaknya pada masalah gizi dan kesehatan pada masa dewasa. Mempertimbangkan hal-hal di atas, penelitian untuk menganalisis faktor risiko Dispepsia pada mahasiswa TPB IPB menarik untuk dilakukan.
Tujuan Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mempelajari faktor risiko dispepsia pada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).
Tujuan Khusus
1. Mempelajari karakteristik contoh.
2. Menganalisis gejala dispepsia pada contoh. 3. Menilai status gizi contoh.
5. Menganalisis kebiasaan merokok contoh.
6. Mengetahui kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol contoh. 7. Mengukur aktivitas fisik contoh.
8. Mengetahui konsumsi obat-obatan contoh. 9. Mengukur tingkat stres contoh.
10. Menganalisis faktor herediter contoh, meliputi golongan darah dan riwayat gangguan lambung pada keluarga contoh.
11. Menganalisis faktor risiko yang berpengaruh pada gejala dispepsia yang dialami contoh.
Hipotesis
1. Terdapat perbedaan status gizi, gejala dispepsia yang dialami, kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, dan faktor herediter contoh pada kelompok kasus dan kontrol.
2. Terdapat hubungan antara status gizi, riwayat gangguan lambung (gastritis atau tukak peptik), kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, dan faktor herediter dengan gejala dispepsia yang dialami contoh.
3. Status gizi, kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, dan faktor herediter merupakan faktor risiko dispepsia contoh
Kegunaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi umum mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan peningkatan atau penurunan risiko gangguan lambung dan dispepsia sehingga menjadi masukan dalam usaha pencegahan penyakit tersebut. Faktor risiko tersebut dapat berupa hal yang menetap (genetik) dan hal yang bisa diubah (kebiasaan makan dan gaya hidup). Upaya pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui pengaturan kebiasaan makan dan gaya hidup. Selain itu, adanya penelitian ini juga dapat memberikan informasi awal untuk penelitian lebih lanjut mengenai faktor risiko gangguan lambung yang lainnya.