• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.9. Tabungan

2.2.9.1. Pengertian Tabungan

Secara umum pengertian tabungan adalah bagian dari pendapatan yang tidak dibelanjakan dan tidak dikeluarkan untuk konsumsi.(dumairy, 1997:125)

Sedangkan menurut Udang –undang perbankan Nomor 10 tahun 1998 merupakan simpanan yang penarikanya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Simpanan tabungan adalah simpanan pada bank yang penarikanya sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh bank. penarikan tabungan dilakukan menggunakan buku tabungan, slip penarikan, kuintansi atau kartu anjungan tunai mandiri (ATM)

2.2.9.2. Motivasi Menabung di Bank

Masyarakat yang memiliki pendapatan yang lebih cenderung untuk menabungkan uangnya dibank. Adapun motivasi masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank adalah:

a. Tingkat suku bunga yang tinggi .

Dengan menyimpan uangnya dibank, masyarakat akan mendapatkan tingkat bunga, dari pada membiarkan uangnya menganggur dirumah. Terutama memilih bank yang menetapkan tingkat bunga yang tinggi.

b. Bonafiditas

Pada umumnya masyarakat tidak akan menyimpan uang nya di bank yang bonafiditasnya diragukan. Masyarakat lebih mempercayai bank pemerintah dan sebagaian bank swasta

c. Uang yang disimpan dibank akan terjamin keamanannya karena bank merupakan lembaga keuangan yang memproduksi jasa dan kepercayaan oleh karena itu masyarakat yang mempunyai uang di bank berarti bank tersebut telah memperoleh kepercayaan dari masyarakat.

d. Dengan menyimpan uang di bank akan meringankan pembayaran pada beberapa bank penabung akan memperoleh manfaat dan fasilitas yang diberikan oleh bank.

e. Mendidik untuk hidup hemat dan berencana untuk tidak berpola konsumerisme yang berlebihan.(Rosyidi,1994:144)

2.2.9.3. Menabung di Bank Syariah

Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh islam, karena dengan menabung berarti orang muslim mempersiapkan diri untuk perencanaan masa yang akan dating sekaligus untuk menghadapi masalah yang tidak diinginkan,

dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang secara tidak langsung memerintahkan kaum muslimin untuk memper siapkan hari esok secara lebih baik misalkan :

1. Al-Qur’an surat An-Nisa : 9 yaitu:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka kwatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mengucapkan perkataan yang benar

2.2.9.4. Jenis Tabungan di Bank Syariah

Bank syariah menetapkan dua akaddalam tabungan,yaitu wadiah dan mudharabah.

a. Tabungan yang menerapkan akad wadiah mengikuti prinsip-prinsip wadiah yad adh-dhamanah artinya tabungan ini tidak mendapatkan keuntungan karena ia titipkan dan dapat di ambil sewaktu-waktu dengan menggunakan buku tabungan atau media lain seperti kartu ATM. Tetapi bank tidak dilarang jika ingin memberikan bonus atau hadiah.

b. Tabungan yang menerapkan akad mudharabah mengikuti prinsip akad mudharabah di antaranya adalah pertama keuntungan dari dana yang digunakan harus dibagi antara sohibul maal (nasabah) dan mudharib (Bank). Kedua adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan dengan pembagian keuntungan, karena untuk melakukan investasi dengan memutar dana itu diperlukan waktu yang cukup. (Antonio, 1999:208).

2.2.10. Bagi Hasil

2.2.10.1. Sistem Bagi Hasil Bank Syariah

Tingkat bagi hasil adalah prosentase tingkat keuntungan yang didapat oleh nasabah sebagai bentuk kompensasi atas dana masyarakat yang dikelola oleh bank. Salah satu perbedaan prinsip antara bank syari’ah dengan bank konvensional adalah pada tata cara atau ketentuan pemberian imbalan. Bank konvensional memberikan imbalan dalam bentuk bunga sedangkan bank syariah memberikan imbalan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian realisasi imbalan yang diterima nasabah akan berbeda-beda setiap bulanya, tergantung dari pendapatan investasi yang dilakukan bank pada bulan bersangkutan. Menurut Algaoud dan lewis (2001: 64), yang menjadikan sistem bagi hasil boleh dalam islam, sementara sistem bunga tidak boleh, karena dalam sistem bagi hasil, yang ditetapkan sebelumnya hanyalah rasio (nisbah), bukan tingkat keuntunganya.

Secara syari’ah ada dua instrumen bagi hasil dalam sistem bank syari’ah yaitu mudharabah dan musyarakah. Diantara kedua model ini maka mudharabah adalah metode yang paling umum digunakan. Berdasarkan metode ini, bank islam akan berfungsi sebagai mitra, baik dengan penabung maupun dengan peminjam dana. Dengan penabung bank bertindak sebagai pengelola dana dan disisi lain, dengan peminjam dana, bank akan bertindak sebagai pemilik dana.

Dalam menjalankan prinsip bagi hasil, ada beberapa faktor penting yang menentukan besar kecilnya prosentase keuntungan yang akan dibagikan antara pihak bank dan penabung maupun dengan peminjam dana, faktor-faktor tersebut, menurut Antonio (2001: 139), ialah:

a. Investement rate, merupakan prosentase aktual dana yang diinvestasikan dari total dana bank.

b. Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Investemen rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan, akan menghasilkan jumlah dana aktual yang digunakan.

c. Nisbah bagi hasil (profit sharing ratio).

Pada dasarnya, menurut Muhammad (2002: 110), bank bagi hasil memberikan keuntungan pada deposan dengan pendekatan loan to deposit ratio (LDR), sedangkan bank konvensional dengan pendekatan biaya. Artinya, dengan mengakui pendapatan, bank syariah menimbang rasio antara dana pihak ketiga dan pembiayaan yang diberikan, serta pendapatan yang dihasilkan dari perpaduan dua hal tersebut. Sedangkan bank konvensional langsung menganggap semua bunga yang diberikan adalah biaya, tanpa memperhitungkan berapa pendapatan yang dapat dihasilkan dari dana yang di himpun tersebut. Maka dalam hal ini, bank syariah terdapat unsur ketidak pastian dalam memperoleh keuntungan, karena berapa rupiah pendapatan riil yang akan diperoleh nasabah sangat bergantung kepada pendapatan yang akan diperoleh bank.

Maka agar tetap dapat bersaing dengan bank konvensional, bank syariah memberikan special nisbah yang kira-kira indikasinya sama dengan special rate pada bank konvensional. Caranya dengan mengurangi porsi bank atau dengan kata lain menambah biaya bagi hasil dana pihak ketiga. Special

nisbah yang diberikan hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Muhammad, 2002: 111):

1. Nisbah bagi hasil

2. Bobot

3. Pendapatan

4. Rata-rata saldo harian produk simpanan

Dengan demikian, jelas bahwa bank syariah tetap menguntungkan dan memberi bagian keuntungan yang adil kepada semua pihak yang terlibat, yaitu nasabah (debitur/deposan) dan bank. Keuntungan yang diperoleh bukan berdasarkan bunga yang dihitung terhadap saldo simpanan atau beasarnya kredit, namun persen dari pendapatan riil nasabah debitur dan bank. Perbedaan bank diakui pada saat bagi hasil diterima (cash based) bukan bunga yang masih akan diterima (accural based).

Cara menghitung penentuan tingkat bagi hasil menggunakan rumus sebagai berikut: berjalan tahun rugi laba x Ketiga Pihak Dana Jumlah Nasabah Harian rata Rata Saldo / 

= A

A x % Bagi Hasil = Tingkat Bagi Hasil

2.2.10.2. Sumber dan Alokasi Pendapatan

Bank memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi antara unit-unit yang berkelibahan dana dengan unit-unit yang mengalami kekurangan dana. Maka sesuai dengan fungsi tersebut, dana pihak ketiga yang telah di kumpulkan Bank Syariah akan dikelola dengan penuh amanah dan istiqomah dengan harapan dana

tersebut mendapat keuntungan besar baik untuk nasabah atau pihak bank. Sumber dana yang telah diperoleh pihak bank bank syariah akan dialokasikan pada berbagai portofolio pembiayaan yang ada di bank syariah, maka sumber pendapatan bank syariah dapat diperoleh dari:

1. Bagi hasil denganakad kerja sama mudharabah atau musyarakah

2. Margin atau keuntungan dari akad jual beli atau mudharabah

3. Hasil sewa atau akad ijarah

4. Fee atau biaya administrasi atas jasa-jasa yang diberikan oleh pihak bank terhadap masyarakat

2.2.10.3 Likuiditas Bank

Secara umum likuiditas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kuwajiban membayar uang kas apabila diperlukan. Definisi ini bersifat umum dan mungkin dapat diperlakukan pada perorangan atau lembaga perusahaan apasaja termasuk perusahaan perbankan dalam pengertian seperti itu, likuiditas mempunyai peranan yang penting bagi suatu perusahaan.

Asas likuiditas yaitu suatu asas yang mengharapkan bank untuk tetap dapat menjaga likuiditasnya, karena suatu bank yang tidak likuid akibatnya akan parah yaitu hilangnya kepercayaan dari para nasabahnya karena sebagian dana yang dimiliki dan disalurkan dalam bentuk kredit maupun pembiayaan yang berasal dari masyarakat.

Suatu bank dikatakan likuid apabila memenuhi beberapa criteria antara lain :

Bank memiliki cash asset sebesar kebutuhan yang akan digunakan untuk memenuhi likuiditasnya.

 Bank tersebut memiliki asset lainnya yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya.

Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset baru melalui berbagai bentuk hutang.

Hingga demikian pengelolaan likuiditas akan meliputi kegiatan dalam perencanaan dan penyediaan kebutuhan likuiditas untuk memenuhi ketentuan penguasa moneter yang berlaku serta dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerjanya sendiri. (Muljono, 1989:19).

2.2.10.4. Fungsi Likuiditas Bank

Menurut sinkey, adalima fungsi utama likuiditas bank yaitu:

1. Menunjukan dirinya sebagai tempat yang aman untuk menyimpan uang.

2. Memungkinkan bank memenuhi komitmen pinjamannya.

3. Untuk menghindari penjualan aktiva yang tidak menguntunkan.

4. Untuk menghindarkan diri dari penyalahgunaan kemudahan atau kesan “negative”, dari penguasa moneter karena meminjam likuiditas dari bank sentral.

5. Memperkecil penilaian resiko ketidakmampuan membayar kewajiban penarikan dana. (Latumerissa, 1999:20).

Dokumen terkait