TAFSIR AYAT MUTASYABIHAT PERIODE KLASIK DAN MODRN
D. Tafsir Ayat Mutasyabihat Menurut Ulama Modern (Khalaf) (Khalaf)
Ulama modern atau ulama khalaf sering kali disebut ulama muta’akhirin. Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk pada ulama yang lahir setelah abad ke-III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan yang dimiliki salaf. Karakteristik yang menonjol dari khalaf adalah penakwilan terhadap ayat mutasyabihat khusunya tentang sifat Tuhan yang serupa dengan mahluk pada pengertian yang sesuai dengan ketinggian dan kesucian-Nya.12
Diantara ulama yang termasuk ulama khalaf adalah Al-Asy’ari nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan ‘Ali bin Isma’il bin Ishaq Bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Asy’ari. Menurut beberapa Riwayat Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/875 M. Setelah berusia lebih dari 40 tahun, ia berhijrah ke kota Baghdad dan wafat disana pada tahun 324 H/935 M.13
Perbedaan pendapat dikalangan mutakallimin mengenai sifat-sifat Allah tidak dapat dihindarkan. Pada masanya Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandanga kelompok yang ekstrem. Pada satu pihak, ia berhadapan dengan kelompok sifatiah (pemberi sifat) yaitu kelompok mujassimah (antromorfis), dan kelompok musyabbihah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa sifat-sifat itu harus
12 Prof. Dr. H Abdul Rozak dkk, “Ilmu Kalam", (Bandung: CV Pustaka Setia 2018) hal.145
13 Prof. Dr. H Abdul Rozak dkk, “Ilmu Kalam”, (Bandung: CV Pustaka Setia 2018) hal.146
dipahami menurut arti harfiahnya. Pada pihak lain, ia berhadapan dengan kelompok muktazilah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain selain esensi-Nya, dan tangan, kaki, telinga Allah atau Arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara harfiah, tetapi harus dijelaskan secara alegoris. Menghadapi dua kelompok yang berbeda tersebut, Al-Asy’ari bahwa Allah memiliki sifat-sifat (bertentangan dengan muktazilah) dan sifat-sifat itu seperti mempunyai tangan dan kaki, tidak boleh diartikan secar harfiah, tetapi secara simbolis (berbeda dengan pendapat kelompok sifatiah). Kemudian Al-Asy’ari berependapat bahwa sifat-sifat Allah unik dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.14
As’ariyyah berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Karena itulah para mufassir pengikut aqidah Al-Asy’ari mentakwil Istawa dengan Istawla atau Qahara yang memberikan pemahaman bahwa Allah menguasai ‘Arsy, bukan Allah berada di atas ‘Arsy.15 Seperti penafsiran yang diungkapkan oleh al-Razi yang merupakan ulama khalaf dan berakidah ahlusunnah wal-Jama’ah (As’ariyyah) dalam kitab Tafsirnya Al-Kabir beliau menafsirkan makna Istawa pada QS. Thaha:5 sebagai berikut:
ررَٰىَوَ تۡسٱرِشۡرَعۡلٱرىَلَعرُنََٰۡحَّرلٱ
Al-Razi menafsirkan kata Istawa berdalilkan firman Allah surah Al-An’am ayat:18, maka kata istawa ditakwil kepada makna
14 Prof. Dr. H Abdul Rozak dkk, “Ilmu Kalam”, (Bandung: CV Pustaka Setia 2018) hal.148
15 Abdulloh Dardum, Teologi Asy’ari dalam Kitab Tafsir (Analisa Metode Ta’wil Tafsili dalam Memahami Ayat Istiwa’)” Jurnal Kalimah, Vol. 15, No.2, September 2017.hal 62
Qahara yan berarti Allah maha berkuasa diatas sekalain mahluk-Nya termasuk Arsy firman Allah QS. Al-An’am ayat 18
رُميِكَۡلٱرَوُهَورۚۦِهِداَبِعرَقۡوَ فرُرِهاَقۡلٱرَوُهَو
ررُيِبَۡلۡٱر
ر
Artinya: “Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha bijaksana, Maha mengetahui.”
Rincian penjelasan juga berdalilkan pada QS. Al-Ikhlas ayat 1 yang tidak menggambarkan berlakunya tajsim bagi Allah, karena kata Ahad pada suat Al-Ikhas secara langsung menafikan sifat jismiyyah pada Zat Allah. Dan kalimat Ahad dianggap sebagai hujah yang paling mantap bagi penunujukkan keesaan Allah SWT.16
Maka jika melihat pada penafsiran yang dilakukan Al-Razi didapati bahwa belaiu menafsirka suatu ayat berdalilkan ayat yang lain.
Mengenai pemahaman ulama khalaf mayoritas dari mereka memalingkan makna teks yang mutasyabihat dari makna-makna literalnya dan memberikan makna-makna yang sesuai dengan ayat muhkamat. Mereka memastikan kesucian Allah dari arah, tempat dan anggota tubuh seperti mahluk-nya mereka menggunakan takwil tafshili. Maka dari itu mereka menafsirkan istawa dengan kekuasaan Allah.17 Seperti yang dilakukan Al-Razi dalam menafsirkan ayat mutasyabihat surat Tahaha ayat 5 beliau menakwil kata Istawa dengan ayat muhkamat yaitu QS. Al-An’am:18 dengan bermakna Qahara yakni lafal istawa memiliki arti berkuasa.
16 Al-Razi, Tafsir Al-Kabir, (Misr:al-Matba’ah al-Bahiyyah al-Misriyyah bi Midan al-Azhar, juz 4 hal.112
17 Abdulloh Dardum, Teologi Asy’ari dalam Kitab Tafsir (Analisa Metode Ta’wil Tafsili dalam Memahami Ayat Istiwa’)” Jurnal Kalimah, Vol. 15, No.2, September 2017.hal 58
Imam fakhruddin al-Razi juga dalam tafsirnya memberikan penjelasan tentang firman Allah QS. Thaha:5 sebagai berikut:
رَٰىَوَ تۡسٱرِشۡرَعۡلٱرىَلَعرُنََٰۡحَّرلٱ
رلطرباراذهور.شرعلارىلعرسلاجرمهدوبعمرنأرفرةيلآارهذبِرتقلعترةهبشلما
هوجورنمرلقنلاورلقعلبا
ر.
Kaum Musyabbihah menjadikan ayat ini sebagai rujukan dalam menetapkan keyakinan mereka bahwa Tuhan mereka duduk, bertempat atau bersemayam di atas ‘Arsy. Pendapat mereka ini jelas batil terbantahkan dengan dalil akal dan naqli dari berbagai segi.
أ
رر:اهدح
أ
احبسرهن
رجاتيحرلرقللۡارقلخرالمرور,ناكمرلَّورشرعرلَّورناكرلاعتورهن
رراهيلعرلزيرلرتىلارةفصلباروهفر,رهنعراينغرناكرلبرناكمرلا
رإ
رمعرزيرنأرلَّ
معز
ر
رهنأ
رشرعراللهرعمرلزيرل.
Yang pertama: bahwa Allah ada tanpa permulaan. Dia ada sebelum menciptakan 'Arsy dan tempat. Dan setelah Dia menciptakan segala makhluk Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, tidak butuh kepada tempat, Dia maha kaya dari segala makhluk-Nya. Artinya bahwa Allah azali tanpa permulaan dengan segala sifat-sifat-Nya, dia tidak berubah, kecuali bila ada orang yang berkeyakinan bahwa 'Arsy sama azali seperti Allah. Dan jelas ini kekufuran karena menetapkan sesuatu yang Azali kepada selain Allah.
ردبلَّرشرعلارىلعرسلالْارنأر:اهينثاو
ررروأ
رشرعرينيمرفرهنمرلصالارءزلْارنوكيرن
ركلذكرناكرامرلكور,ابكرمرافلؤمرهسفنرفرنوكيفر,رشرعلارراسيرفرلصالاريغ
لامُّركلاذور,ربكرلماورفلؤلمارلارجاتحا
.
Yang kedua: bahwa sesuatu yang duduk di atas 'Arsy dipastikan adanya bagian-bagian pada zatnya. Bagian zatnya yang berada di sebelah kanan ‘Arsy jelas bukan bagian zatnya yang berada di sebelah kiri 'Arsy. Dengan demikian jelas bahwa sesuatu itu adalah merupakan benda yang memiliki bagian-bagian yang tersusun. Dan segala sesuatu yang memiliki bagian-bagian dan tersusun maka ia pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam susunannya tersebut. Dan hal itu jelas mustahil bagi Allah.
رلَّروارةكرلاورلاقتنلإارنمرانكمتمرنوكيررنأررامرإررشرعلارىلعرسلالْاررنأرر:اهثلثاو
ررةكرلارلمُّرراصردقفرلولۡارناكرنافر,كلذرهنكيم
ر,ةلمُّلَّرثادمُّررنوكيفرنوكسلاو
ركرنياثلارناكرناو
ا
مزلراكرناكرلبرطوبرلم
ررن
رءاشراذارنمزلارنافر,هنمرلَّاحرأوسأرلب
مهردوبعمرىلعرنكممريغروهور,كلذرهنكمأرهتقردحورهسأررفرةكرلا
.
Yang ketiga: bahwa sesuatu yang duduk di atas ‘Arsy dipastikan ia berada diantara dua keadaan, dalam keadaan bergerak, dan berpindah-pindah atau dalam keadaan diam sama sekali tidak bergerak. Jika dalam keadaan pertama, maka berarti ‘Arsy menjadi tempat bergerak dan diam, dan dengan demikian maka ‘Arsy jelas berarti baharu. Jika dalam keadaan kedua maka berarti ia seperti sesuatu yang terikat, bahkan seperti seorang yang lumpuh. Karena seorang yang lumpuh jika ia berkehendak terhadap sesuatu ia masih dapat menggerakkan kepala atau kelopak matanya. Sementara Tuhan keyakinan mereka yang berada di atas ‘Arsy diam saja.
رناكمرفرلصيحررنأرمهمزلرناكمرلكرفىرلصيحرنأرامارمهدوبعمرنأروهر:اهعبارو
رلوقيرلَّركلذور,تاروذاقلاورتاساجنلا
هرر
رناكمرنودرناكمرفرلصحرناور,لقاع
رصصيخرصوصمخرلاررقتفا
رر
لامُّراللهرىلعروهوراجتمُّرنوكيفرناكلماركلاذب .
Keempat: jika demikian berarti Tuhan dalam keyakinan mereka adakalanya berada pada semua tempat atau hanya pada satu tempat saja tidak pada tempat lain. Jika mereka berkeyakinan pertama berarti menurut mereka Tuhan berada di tempat-tempat yang najis dan menjijikan. Pendapat semacam ini jelas tidak akan diungkapkan oleh seorang yang memiliki akal sehat. Kemudian jika mereka berkeyakinan kedua maka berarti menurut mereka Tuhan membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam kekhususan tempat dan arah tersebut. Dan semacam ini semua mustahil atas Allah.
رر:ىروشلا(رءيشرهلثمكرسيلرهلوقرنأرر:اهسماخو
11
رنمرةاواسلمارىفنرلوانتير)
لاقيرنارنسيحرهنإفر,ءانثتسلَّارةحصرليلدبرهوجولارعيجم
رر
رلَّارءيشرهلثمكرسيل(
رعيجمرلوخدرىضتقترءانثتسلَّارةحصلاور)نوللارفىرلَّاوررادقلمارفرلَّاورسوللْارفى
جرناكولفر,هتترروملۡارهذه
ايمرنمرلصلراسلا
ئ
نخفر,رسوللْارفىرهل
ئ
رلطبيرذي
ةيلآارنىعم
.Yang kelima: sesungguhnya Allah berfirman "tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya" diperolehnya peniadaan penyerupaan dari berbagai segi dengan dalil pengecualian yang benar, karena sesungguhnya apa yang difirmankan oleh Allah itu sebenarnya, ("tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya kecuali pada tempat duduknya ukurannya dan pada warnanya)" pengecualian yang benar itu menunjukkan masuknya seluruh
perkara di bawahnya, apabila Allah adalah zat sesuatu yang duduk maka akan diperoleh ada seseorang yang condong pada tempat duduk tersebut, maka hal ini adalah makna yang batil.
رر:ةقالار:ةينثمرذئمويرمهقوفركبررشرعرلميحو(ر:لاعترهلوقر:اهسداسو
17
راذافر)
رنأرمزليفرمهدوبعمرناكمرشرعلارورشرعللرينلماحراوناك
رر
رينلماحرةكئلالمارنوكت
لۡ
لا
رر,ررقولخلمارظفيحريذلاوهرقلالۡارنلۡرلوقعمريغركلذور،مهدوبعمورمهق
رأ
رام
هلميحرلَّورقلالۡارظفيحرلافر,ررقولخلما
ر.
Yang keenam: Allah telah berfirman:"dan malaikat-malaikat berada di penjuru penjuru langit, dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy tuhanmu di atas kepala mereka (As Al-Haqqah:17) apabila para malaikat yang menjunjung ‘Arsy dan ‘Arsy adalah tempat ibadah para malaikat maka wajib bagi para malaikat menjunjung kepada penciptanya dan tempat ibadahnya, dan yang demikian itu tidaklah masuk akal karena sesungguhnya Allah adalah dzat yang menjaga makhluk-Nya adapun makhluk tidak bisa menjaga Allah dan tidak bisa menjunjung nya.
Jika keagungan Allah disebabkan dengan tempat atau arah atas maka tentunya tempat dan arah atas tersebut menjadi sifat bagi zatnya kemudian itu berarti bahwa keagungan Allah terhasil kan dari sesuatu yang lain, yaitu tempat. Dan jika demikian berarti arah atas lebih sempurna dan lebih agung daripada Allah sendiri, karena Allah mengambil dari arah tersebut. Dan berarti Allah tidak memiliki kesempurnaan. Tentu saja Ini adalah hal yang sangat mustahil bagi Allah18.
18 Al-Razi, “Tafsir Al-Kabir wa Mafaatih al-Ghaib” (Beirut: Daarul Fikr, Juz 22). hal 5-6
Abu Zaid memberikan catatan penting bahwa ta’wil terhadap ayat mutasyabihat haruslah dipahami berdasarkan ayat-ayat muhkamat yaitu dengan memposisikan ayat muhkamat sebagai induk teks yang berfungsi untuk melakukan penjelasan dan keterangan terhadap ayat mutasyabihat. Mayoritas penafsir mutaakhirin menggunakan takwil dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat. Seperti Muhammad Asad ia memaknai ayat-ayat mutasyabihat sebagai ayat yang menggunakan redaksi majazi (metaforis) dan memiliki makna simbolis. Maka dari itu, pemahaman metaforis ta’wil harus digunakan agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan ataupun memahami jiwa ajaran Al-Qur’an.19
19 Fikria Najitama, “Diskursus Muhkam dan Mutasyabih dalam Tafsir”,
49
BAB III
MENGENAL BIOGRAFI SYEKH FADI DAN YAYASAN