BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
D. Anak Tahanan di Rutan
80
D. Anak Tahanan di Rutan
Anak merupakan salah satu aset pembangunan nasional, patut dipertimbangkan dan diperhitungkan dari segi kualitas dan masa depannya. Tanpa kualitas yang handal dan masa depan yang jelas bagi anak, pembangunan nasional akan sulit dilaksanakan dan nasib bangsa akan sulit pula dibayangkan.65
Anak – anak banyak melakukan perbuatan yang tergolong tindak pidana, khususnya tindak pidana pencurian, penganiayaan, pembunuhan dan narkotika. Keberadaan anak yang melakukan tindak pidana di Indonesia saat ini merambah ke segi –segi kriminal yang secara yuridis formal menyalahi ketentuan – ketentuan yang tercantum di dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP), atau perundang – undangan pidana di luar KUHP, misalnya Undang – Undang Narkotika, dan Undang – Undang Perlindungan Anak.66
Istilah anak nakal yang terdapat dalam Undang – Undang Pengadilan Anak, dalam Undang – Undang Sistem Peradilan Pidana Anak tidak digunakan lagi. Peristilahan disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, istilah anak nakal diganti menjadi Anak yang berhadapan dengan hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah
65 Bunadi Hidayat, Pemidanaa Anak di bawah Anak, (Bandung: Alumni, 2014), hal. 1 66
Sudarsono, Kenakalan Anak, Prevensi, Rehabilitasi, dan Resosialisasi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hal. 5
81
orang yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun, yang diduga melakukan tindak pidana.67
Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di rumah tahanan negara, Cabang Rumah Tahanan Negara atau di tempat tertentu oleh penyidik ataupun penuntut umum atau hakim. Orang yang ditahan berarti setiap orang yang dirampas kebebasan pribadinya kecuali sebagai akibat hukuman karena suatu pelanggaran. Mengenai anak – anak ditahan karena menunggu proses peradilan, baik instrumen internasional maupun instrumen lokal secara jelas menyatakan bahwa penahanan terhadap anak – anak yang disangka atau dituduh telah melakukan pelanggaran hukum pidana hanya boleh dilakukan sesuai hukum yang berlaku dan hanya dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir dan dalam waktu sesingkat mungkin dengan jaminan pemenuhan atas semua hak – haknya sebagai orang yang ditahan dan hak –
haknya sebagai anak. Hak – hak anak yang ditahan di antaranya adalah hak untuk diperlakukan sebagai orang yang tidak bersalah, hak memperoleh semua bantuan yang diperlukan dalam setiap tahapan peradilan, ditahan dalam tempat yang khusus untuk anak, dipisahkan dari terpidana dan hak pemenuhan kebutuhan khusus sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan pemasyarakatan adalah bagian dari tata peradilan pidana dari segi pelayanan tahanan, pembinaan narapidana, anak negara dan bimbingan klien pemasyarakatan yang dilaksanakan secara terpadu
67
Wagiati Soetedjo dan Melani, Hukum Pidana Anak, (Bandung: Refika Aditama, 2013), hal. 166
82
(dilaksanakan bersama – sama dengan aparat penegak hukum) dengan tujuan agar mereka setelah menjalani pidananya dapat kembali menjadi warga masyarakat yang baik. Orang yang dipenjara berarti siapa pun yang dirampas kebebasan pribadinya sebagai akibat hukuman karena suatu pelanggaran. Meskipun instrumen internasional dan instrumen lokal menyebutkan bahwa putusan pidana penjara adalah pilihan terakhir dan harus diputuskan dengan amat hati – hati dengan pertimbangan yang seksama bahwa tidak ada alternatif lain yang memadai untuk merehabilitasi anak pelaku pelanggaran hukum pidana, tetapi realita menunjukkan banyak anak – anak yang diberi hukuman penjara. Terhadap anak – anak ini telah diberikan hak atas jaminan standar perlakuan minimum orang – orang yang dipidana penjara dan haknya sebagai anak. Hak tesebut di antaranya adalah hak ditahan di tempat yang khusus bagi anak dan jaminan bahwa anak – anak ini memperoleh manfaat atas program –
program kegiatan yang dilakukan oleh lembaga, hak untuk tidak menjadi sasaran hukuman dan penganiayaan dan jaminan atas kebutuhan –
kebutuhannya yang khas sesuai umur, jenis kelamin, pelanggaran dan minatnya.
Menghilangkan kebebasan berarti bentuk penahanan atau hukuman penjara apapun atau penempatan seseorang pada suatu tempat penahanan, dimana orang tesebut tidak diperkenankan pergi sesukanya, atas perintah suatu pihak kehakiman, administrasi atau pihak umum lainnya.68
68
Purnianti, Mamik Sri Supatmi, dan Ni Made Martini Tinduk, Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) di Indonesia, (Jakarta: Unicef, 2004), hal. 124
83
Definisi dan peran pihak – pihak yang terlibat, yaitu:
a. Pengadilan Anak adalah pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada di lingkungan peradilan umum. Sidang pengadilan anak yang selanjutnya disebut sidang anak, bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara anak sebagaimana ditentukan dalam UU ini (UU No. 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak).
b. Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan yang berlaku bagi anak tersebut ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal (Konvensi Hak – hak Anak).
c. Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya (UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia).69
d. Seorang remaja adalah seorang anak atau orang muda yang menurut sistem hukum masing – masing dapat diperlakukan atas suatu pelanggaran hukum dengan cara yang berbeda dari perlakuan terhadap orang dewasa (Peraturan – Peraturan Minimum Standar Perserikatan Bangsa – Bangsa mengenai Administrasi Peradilan bagi Anak / The Beijing Rules, Res.No.40/33 tahun 1985).
e. Seorang remaja adalah seseorang yang berusia di bawah 18 tahun. Batas usia di bawah mana tidak diizinkan untuk menghilangkan kebebasan
69
Purnianti, Mamik Sri Supatmi, dan Ni Made Martini Tinduk, Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) di Indonesia, (Jakarta: Unicef, 2004), hal. 2
84
seorang anak harus ditentukan oleh UU (Peraturan – Peraturan Perserikatan Bangsa – Bangsa bagi Perlindungan Anak yang kehilangan kebebasannya, Res.No.45/113 tahun 1990).
f. Anak nakal adalah anak yang melakukan tindak pidana atau anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan – peraturan perundang – undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan (UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak). Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 tahun tapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin (UU No. 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak).
g. Seorang pelanggar hukum berusia remaja adalah seorang anak atau orang muda yang diduga telah melakukan atau yang telah ditemukan melakukan suatu pelanggaran hukum (Peraturan – Peraturan Minimum Standar Perserikatan Bangsa – bangsa mengenai Administrasi Peradilan Bagi Anak / The Beijing Rules, Res.No.40/33 tahun 1985).70
h. Orang yang ditahan berarti setiap orang yang dirampas kebebasan pribadinya kecuali sebagai akibat hukuman karena suatu pelanggaran (Kumpulan Prinsip –Prinsip untuk Perlindungan Semua Orang yang berada di bawah Bentuk Penahanan apapun atau Pemenjaraan, Res.PBB No. 43/173 tahun 1988).
70
Purnianti, Mamik Sri Supatmi, dan Ni Made Martini Tinduk, Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) di Indonesia, (Jakarta: Unicef, 2004), hal. 3
85
i. Orang yang dipenjara berarti siapapun yang dirampas kebebasan pribadinya sebagai akibat hukuman karena suatu pelanggaran (Kumpulan Prinsip –Prinsip untuk Perlindungan Semua Orang yang berada di bawah Bentuk Penahanan apapun atau Pemenjaraan, Res.PBB No. 43/173 tahun 1988).71
j. Terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (UU. No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan UU No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana).72
k. Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan yang patut diduga sebagai tindak pidana (UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana).
l. Terdakwa adalah seorang yang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan (UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana).73
m. Lembaga pemasyarakatan (lapas) adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan narapidana dan anak didik pemasyarakatan (UU No. 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan).74
n. Rumah Tahanan Negara (Rutan) adalah unit pelaksana teknis tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan dan
71
Purnianti, Mamik Sri Supatmi, dan Ni Made Martini Tinduk, Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) di Indonesia, (Jakarta: Unicef, 2004), hal. 4
72Ibid., hal. 5 73
Ibid., hal. 7 74
86
pemeriksaan di sidang pengadilan (Keputusan Menteri Kehakiman No. M.02.PR.08.03 Tahun 1999 tentang Pembentukan Balai Pertimbangan Pemasyarakatan dan Tim Pengamat Pemasyarakatan).75
Jadi, Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah, Terduga adalah yang belum berstatus tersangka karena belum ada bukti – bukti yang cukup ditersangkakan, Tersangka adalah bukti kena pelanggaran sudah kuat berdasarkan proses penyidikan yang ditangani oleh pihak berwenang, dan Terpidana adalah tersangka yang sudah dituntut oleh Hakim Pengadilan dengan kekuatan hukum yang tetap. Jadi, tahanan adalah masuk dalam ranah tersangka, dan Rutan adalah tempat bagi tersangka dan terpidana.