• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Keempat, Pengembalian Dan Penyerahan

BAB II : KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM

C. Pengembalian Aset Melalui Jalur Pidana

4. Tahap Keempat, Pengembalian Dan Penyerahan

Setelah melalui tahap penyitaan barulah dapat dilakukan tahap keempat terhadap aset-aset yang disita, yaitu pengembalian dan penyerahan aset-aset kepada negara korban. Agar dapat melakukan pengembalian aset-aset, baik negara penerima maupun negara korban perlu melakukan tindakan legislatif dan tindakan lainnya

170

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Jilid I, Op.cit., hal. 297.

171

menurut prinsip-prinsip hukum nasional masing-masing negara sehingga badan yang berwenang dapat melakukan pengembalian aset-aset tersebut.172

Pengembalian aset merupakan salah satu tujuan pemidanaan yang baru dalam hukum pidana pemberantasan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pemberantasan tindak pidana pencucian uang.173 Pengembalian aset hasil kejahatan merupakan suatu

perkembangan hukum dengan perspektif yang relatif baru dalam upaya memerangi

dan memberantas kejahatan, yakni dari suspect-oriented perspective ke profit-

oriented perspective, suatu perspektif orientasi pada konfiksasi hasil-hasil kejahatan yang diperoleh, dikuasai, dan dinikmati oleh para pelaku kejahatan. Tekanannya bukan lagi pada pelaku kejahatan atau criminal person (in personam), tetapi pada aset hasil kejahatan atau criminal property (in rem atau fructus sceleris).174

Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Korupsi (KAK) 2003, tidak dijelaskan pengertian pengembalian aset. Menurut Matthew H. Fleming dalam dunia internasional, tidak ada defenisi pengembalian aset yang disepakati bersama. Fleming sendiri tidak mengemukakan rumusan defenisi, tetapi menjelaskan bahwa pengembalian aset adalah proses pelaku-pelaku kejahatan dicabut, dirampas, dihilangkan haknya dari hasil tindak pidana dan/atau dari sarana tindak pidana. Dalam konteks tindak pidana korupsi, pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi mengacu kepada proses pelaku tindak pidana korupsi dicabut, dirampas, dihilangkan

172

Purwaning M. Yanuar, Op.cit., hal. 231.

173

Ibid., hal. 102.

174

Purwaning M. Yanuar, Bukan RUU Perampasan Aset , http://www.suarakarya- online.com/news.html?id=232893 , diakses terakhir tanggal 10 Desember 2010.

haknya atas hasil/keuntungan-keuntungan dari tindak pidana dan/atau dicabut, dirampas, dihilangkan haknya untuk menggunakan hasil/keuntungan-keuntungan tersebut sebagai alat/sarana untuk melakukan tindak pidana lain. Pendapat Fleming tersebut lebih menekankan pada: pertama, pengembalian aset sebagai proses pencabutan, perampasan, penghilangan; kedua, yang dicabut, dirampas, dihilangkan adalah hasil/keuntungan dari tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana, ketiga, salah satu tujuan pencabutan, perampasan, penghilangan adalah agar pelaku tindak pidana tidak dapat menggunakan hasil/keuntungan-keuntungan dari tindak pidana sebagai alat/sarana melakukan tindak pidana lainnya.175

Pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi melalui jalur kepidanaan (criminal procedure) diatur dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20

Tahun 2001. Pengembalian aset (asset recovery) pelaku tindak pidana korupsi

melalui jalur kepidanaan sebagaimana ketentuan pasal 38 ayat (5), pasal 38 ayat (6) dan pasal 38 B ayat (2) dengan proses penyitaan dan perampasan. Apabila diperinci pengembalian aset dari jalur kepidanaan ini dilakukan melalui proses persidangan dimana hakim di samping menjatuhkan pidana pokok juga dapat menjatuhkan pidana tambahan. Pidana tambahan dapat dijatuhkan hakim dalam kapasitasnya yang berkorelasi dengan pengembalian aset melalui prosedur pidana ini dapat berupa176:

175

Purwaning M. Yanuar, Pengembalian Aset Hasil Korupsi,Op.cit., hal. 102-104.

176

Lilik Mulyadi, Pengembalian Aset (Asset Recovery) Pelaku Tindak Pidana Korupsi Menurut Undang-Undang Korupsi Indonesia Pasca Konvensi PBB Anti Korupsi 2003, http://pn- kepanjen.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=107:pengembalian-aset-asset- recovery-pelaku-tindak-pidana-korupsi-menurut-undang-undang-korupsi-indonesia-pasca-konvensi- pbb-anti-korupsi-2003&catid=23:artikel&Itemid=36 , diakses terakhir tanggal 26 Maret 2011.

(1) Perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud atau barang yang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan barang- barang tersebut. (Pasal 18 ayat (1) huruf a UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001).

(2) Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam UU ini lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan. (Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2), (3) UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001).

(3) Pidana denda dimana aspek ini dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi mempergunakan perumusan sanksi pidana (strafsoort) bersifat

kumulatif (pidana penjara dan atau pidana denda), kumulatif-alternatif (pidana penjara dan atau pidana denda) dan perumusan lamanya sanksi pidana (strafmaat) bersifat determinate sentence dan indifinite sentence.

(4) Penetapan perampasan barang-barang yang telah disita dalam hal terdakwa

meninggal dunia (peradilan in absentia) sebelum putusan dijatuhkan dan

terdapat bukti yang cukup kuat bahwa pelaku telah melakukan tindak pidana korupsi. Penetapan hakim atas perampasan ini tidak dapat dimohonkan upaya hukum banding dan setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan yang telah menjatuhkan penetapan tersebut dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman. (Pasal 38 ayat (5), (6), (7) UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001).

(5) Putusan perampasan harta benda untuk negara dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa harta benda tersebut diperoleh bukan karena tindak pidana korupsi yang dituntut oleh Penuntut Umum pada saat membacakan tuntutan dalam perkara pokok. (Pasal 38B ayat (2), (3) UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001).

Pengembalian aset hasil korupsi dapat dibedakan kedalam dua kelompok besar, yaitu pengembalian aset hasil korupsi yang berada di Indonesia dan pengembalian aset hasil korupsi yang berada di luar negeri. Untuk yang terakhir

peluang untuk mewujudkannya terbuka dengan Undang-Undang No. 7 tahun 2006 yang merupakan ratifikasi atas United Nations Convention Against Corruption 2003 (UNCAC 2003). Sekalipun sesuai dengan sifatnya sebagai hukum yang berasal dari konvensi internasional, yang masih membutuhkan pemberian bentuk positif (Roeslan Saleh: 1983) lebih lanjut, mengingat belum dapat berlaku langsung sebagai hukum positif, tetapi paling tidak dengan meratifikasinya membuka kesempatan Indonesia untuk memanfaatkan prosedur dan protokol pengembalian aset hasil korupsi yang diatur didalamnya. Dalam konvensi ini disadari bahwa kepentingan untuk dapat menarik kembali aset hasil korupsi di luar negeri praktis hanya dapat dilakukan dalam kerangka kerjasama internasional. Hal ini menjadi motivasi utama bagi Indonesia untuk menandatangani UNCAC 2003 (Romli Atmasasmita: 2004) dan meratifikasinya. Mengingat, salah satu arti penting konvensi ini bagi Indonesia, adalah untuk meningkatkan kerjasama internasional khususnya dalam melacak, membekukan, menyita, dan mengembalikan aset-aset hasil tindak pidana korupsi yang ditempatkan di luar negeri (Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 7 tahun 2006).177

Bagian yang terpenting dalam penegakan hukum pidana adalah pemulihan kembali dampak kejahatan. Hukum pidana (materiil dan formil) tidak menjadikan pemulihan dampak kejahatan sebagai bagian dari substansi penegakan hukum pidana sehingga tidak menjadi bagian integral dalam hukum pidana (materil dan formil).

177

Chairul Huda, Problematika Seputar Pengembalian Aset (Asset Recovery) Hasil Tindak Pidana Korupsi, Op.cit.

Persoalan pemulihan dampak kejahatan dalam hukum acara pidana merupakan persoalan yang terkait dengan fundamental hukum pidana dan pemidanaan yakni terkait dengan landasan filsafat dari sistem hukum pidana dan pemidanaan dalam suatu Negara.178

Sistem hukum pidana belum menjadikan sepenuhnya pemulihan dampak kejahatan sebagai bagian substansi dari sistem hukum pidana nasional sehingga pemulihan dampak kejahatan tidak menjadi sasaran/fokus materi hukum pidana yang penting. Hukum pidana yang berlaku sekarang mengenai pemulihan dampak kejahatan hanya sebagai simbolik dalam penyelenggaraan hukum pidana, konsekuensinya kepentingan pemulihan dampak kejahatan diatur secara tidak langsung dan bersifat abstrak. Jika ada ketentuan hukum pidana yang mengatur pemulihan dampak kejahatan bersifat parsial yang tidak memiliki alas teori dan filsafat hukum pidana sehingga menjadi sulit untuk ditegakkan dalam praktek penegakan hukum pidana.179

Adanya celah substantif mengenai pemulihan dampak kejahatan membawa kompleksitas persoalan tindakan hukum oleh aparat hukum pada tahap implementasinya. Pada satu sisi aparat dituntut cepat tanggap terhadap implikasi hukum dari kejahatan, namun disisi lain bahwa tindakan aparat penegak hukum harus berdasarkan pada asas legalitas, hal ini membawa dampak kurang efektifnya penegakan hukum di tingkat implementasi karena cerobohnya formulasi hukum sejak

178

Mudzakir, Op.cit.

179

diundangkan. Lebih jauh bahwa pada tahap implementasi hukum sering ditemukan kebocoran-kebocoran formulasi hukum yang bermuara pada tindakan kesewenang- wenangan serta memunculkan celah hukum untuk “dimainkan” oleh oknum aparat hukum yang bermental korup dalam suatu proses penegakan hukum.

Dengan diaturnya ketentuan tentang bantuan hukum timbal balik dalam Pasal 46 Bab IV KAK 2003 tentang kerja sama internasional, diharapkan upaya-upaya pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi efektif dan efisien dapat terlaksana.180

Penggunaan instrumen hukum bantuan hukum timbal balik dalam pengembalian aset- aset korupsi, menurut Addullahi Shehu, mempunyai beberapa keuntungan yaitu: Efektif dalam menjamin alat-alat bukti, efesien dalam investigasi kasus-kasus pidana karena melalui otoritas sentral, dapat mengatasi masalah kerahasiaan bank dan tidak adanya biaya advokat yang biasanya mahal. Sedangkan kelemahannya adalah prosedur pengembalian dana tidak jelas, dan pendekatan bilateral menghasilkan apa yang disebut sebagai hasil sepotong-sepotong, tidak sekaligus.

Menurut Tim Daniel, bantuan hukum timbal balik dapat menjadi sangat efektif, tetapi sekaligus dapat menjadi proses yang lama dan berbelit-belit. Hal ini mengakibatkan banyaknya peluang bagi target yang diinvestigasi, yang memiliki banyak uang hasil tindak pidana korupsi, menggunakan sebagaian dari uang tersebut untuk menggagalkan atau memperlambat proses bantuan hukum timbal balik.181

Upaya Indonesia dalam pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi yang ditempatkan para pelaku tindak pidana di luar negeri melalui jalur pidana, harus melalui perjanjian-perjanjian internasional untuk bantuan hukum timbal balik, baik bilateral maupun multilateral, dengan negara-negara penerima atau dengan organisasi internasional atau subjek hukum internasional. Indonesia, sebagaimana juga dengan

180

Purwaning M. Yanuar, Op.cit., hal. 233.

181

115

negara atau organisasi internasional atau subjek hukum internasional lainnya, harus tunduk dan terikat pada norma-norma dasar perjanjian dalam hukum internasional dalam pembuatan perjanjian hukum timbal balik tentang pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi.182

182