BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Subjek Penelitian
1) Tahap Orientas
73
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Orentasi ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas masalah yang akan diteliti sebelum pengumpulan data, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Studi literatur sebagai bahan rujukan untuk dijadikan dasar dalam permasalahan yang dijadikan focus penelitian
b. Studi penjajagan, dimana peneliti berusaha mengenal lingkungan tempat diselenggarakannya pengembangan model manajemen program pendidikan yaitu di Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal Regional I Bandung
c. Menyusun desain penelitian d. Mengikuti seminar penelitian e. Mengurus ijin penelitian 2) Tahap Ekplorasi
Tahap ekplorasi ini adalah kreatifitas yang dilakukan oleh peneliti di tempat penelitian, yaitu pengumpulan data melalui observasi partisipasi dan indepth interview. Kegiatan yang dilakukan peneliti meliputi:
a. mengadakan kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan pengembangan model manajemen program pendidikan dan inovasi pendidikan.
b. mengadakan wawancara kepada pamong belajar, dan pejabat di lingkungan Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal Regional I Bandung, serta Direktorat Jenderal PAUDNI.
c. mengamati kegiatan pamong dalam melaksanakan pengembangan model manajemen program pendidikan.
d. membuat catatan, komentar dan pertanyaan yang berkembang di lapangan e. membuat rangkuman dan merumuskan temuan-temuan di lapangan. 3) Tahap Member Check
Dilakukan untuk mengecek kebenaran dari data dan informasi yang telah dikumpulkan agar hasil penelitian lebih dapat dipercaya dan selanjutnya ditulis dalam bentuk laporan penelitian.
74
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
75
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3. Teknik Penggalian Data
Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yaitu:
Gambar 3.2
Hubungan Instrumen (Peneliti) dan Pengumpulan Data
(Adopsi dari Djam’an Satori, 2007: 13)
a. Wawancara
Pada penelitian ini salah satu teknik penggalian data yang digunakan adalah wawancara. Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara menggunakan pedoman umum wawancara, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998).
Instrumen
Penelitian Data
Metode pengumpulan data 1. Pengamatan 2. Indepth Interview 3. Dokumen & Artifak 4. Teknik tambahan
76
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Kerlinger (dalam Hasan, 2000) menyebutkan tiga hal yang menjadi kekuatan metode wawancara:
1) Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.
2) Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu. 3) Menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak
dapat dilakukan. b. Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari, 1998) tujuan observasi adalah mendeTesiskan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian di lihat dari perspektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
Menurut Patton (dalam Poerwandari, 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena:
a) Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau sedang terjadi.
77
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
b) Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.
c) Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.
d) Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
e) Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.
a. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam metode penelitian kualitatif dengan menelaah data-data yang berbentuk dokumen baik itu tulisan, foto, rekaman, ataupun video sebagai sumber informasi. Seperti
diungkapkan Djam’an Satori, (2007: 90), bahwa dokumen merupakan sumber
informasi yang bukan manusia (non human resources), sedangkan studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data.
Nurul Zuriah (2005: 191) mengemukakan teknik dokumenter adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip, termasuk juga buku tentang teori, pendapat, dalil atau hukum dan lain sebagainya yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Studi dokumentasi merupakan usaha untuk memperoleh keterangan/ informasi melalui dokumen-dokumen baik yang berbentuk audio (rekaman), audio visual (video), ataupun tulisan-tulisan yang menggambarkan tentang manajemen dalam perspektif inovasi pendidikan dalam pengembangan pengembangan model PNF pada PP-PAUDNI untuk melengkapi hasil wawancara dan observasi lapangan.
78
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 4. Prosedur Pengelolaan
Menurut Marshall dan Rossman (dalam Kabalmay, 2002) dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan diantaranya:
a. Mengorganisasikan Data
Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan.
b. Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan Pola Jawaban
Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data, perhatian yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.
Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap pengalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek.
79
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data
Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kembali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai hubungan antara konsep-konsep dan faktor-faktor yang ada.
d. Mencari Alternatif Penjelasan Bagi Data
Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari suatau alternatif penjelasan lain tentang kesimpulan yang telah didapat. Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternatif penjelasan yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdapat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terpikir sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternatif lain melalui referensi atau teori-teori lain, alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran.
e. Menulis Hasil Penelitian
Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis mengerti benar permasalahanya,
80
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencakup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian. C. Instrument Penelitian
Kualitas hasil penelitian dalam penelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitaif dipengaruhi oleh kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data. Dengan demikian instrument penelitian merupakan suatu hal
yang paling krusial dalam suatu penelitian. Menurut Djam’an Satori (2007: 9)
“instrument penelitian merupakan tumpahan teori dan pengetahuan yang dimiliki
si peneliti mengenai fenomena yang diharapkan mampu mengungkap informasi-
informasi penting dari fenomena yang diteliti”. Hal ini karena instrument
penelitian merupakan acuan yang akan dijadikan sebagai guide line peneliti dalam melakukan penelitian. Semenarik apapun permasalahan yang akan diteliti, jika peneliti tidak mampu mengungkapkan apa yang terjadi dalam fenomena yang akan diteliti maka penelitian itu tidak akan ada artinya.
Adapun instrument dalam penelitian kualitatif diperankan oleh peneliti itu sendiri, hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Nasution dalam Sugiyono (2011: 223) mengatakan bahwa:
“Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan
manusia sebagai instrument penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-
satunya yang dapat mencapainya”
Dengan demikian peneliti sebagai instrument dalam penelitian kualitatif memiliki peran penting dalam penggalian data atau mengumpulkan data, menganalisis data dengan pemahaman yang baik terhadap bidang kajian penelitian
81
Dani Darmawan, 2013
Implementasi Manajemen Inovasi Pendidikan Nonformal
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
tentunya dengan berbagai metode yang dapat memperdalam penggalian data. Hal
ini dikemukakan pula oleh Djam’an Satori (2007: 10) bahwa peneliti harus
mampu untuk mendapatkan berbagai informasi penting dengan menggunakan pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman dokumentasi yang dijabarkan dari kisi-kisi penelitian yang telah dibuat sebelumnya sebagai acuan dalam mendapatkan informasi yang dicari, hal demikian atau peneliti oleh Sugiyono disebut sebagai key instrument dalam proses penelitian kualitatif.
Adapun instrumen dalam penelitian ini yang terdiri dari kisi-kisi penelitian, komponen dan indikator penelitian, pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman studi dokumentasi terdapat pada lampiran penelitian ini.