• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Pemeliharaan

Dalam dokumen VII HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 28-34)

Tahap ini diawali dengan mengevaluasi rataan skor hasil uji coba penerapan budaya perusahaan Restoran Karimata. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui hasil penerapan budaya secara keseluruhan, budaya yang paling diterapkan oleh seluruh karyawan, dan bagian kerja yang paling menerapkan budaya secara keseluruhan.

Tabel 30. Hasil Evaluasi Penerapan Budaya “Hi-Five” Selama 14 Hari Bagian Kerja

Budaya Restoran Karimata

Total Jujur Profesional Konsisten Peduli Harapan

Cashier 4 3 4 3,5 3,5 3,60

Billing Service 4 2,5 3,25 3,13 2,5 3,08

Supervisor 3,25 3 3,75 3,5 3,25 3,35

Waiter/ss 4 3,13 3,32 3,44 2,32 3,24

Cleaner 4 3 3,75 3,63 2,75 3,43

Cook 4 3,52 3,5 3,12 3,21 3,47

Food Checker 4 3 3 3,63 2,75 3,28

Dishwasher 3,33 3 3,5 2,67 2,67 3,03

Bartender 4 3,25 3,75 3,13 2,75 3,38

Driver 4 4 3,5 3 3 3,50

Total 3,86 3,14 3,53 3,28 2,87 3,34

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan, 1,75-2,49 = jarang diterapkan, 2,5-3,24 = sering diterapkan, 3,25-4 = sangat diterapkan

73 Pada Tabel 30 terlihat bahwa budaya jujur dan konsisten merupakan budaya yang paling diterapkan oleh karyawan karena rataan skor di atas rataan total. Rataan skor budaya jujur adalah yang tertinggi. Peneliti mengamati dan menilai sendiri tahap implementasi budaya perusahaan sehingga peneliti memilih indikator yang sesuai dengan kemampuan peneliti dalam menilainya. Pemilihan indikator budaya jujur dilakukan berdasarkan kegiatan atau perilaku yang dapat dinilai secara langsung oleh peneliti. Hal ini menyebabkan budaya jujur hanya dapat dinilai dari luar saja atau hanya berdasarkan pengamatan sekilas. Bahkan, terdapat beberapa bagian kerja yang hanya memiliki satu indikator saja dalam menilai penerapan budaya jujur. Karyawan secara keseluruhan telah menerapkan budaya jujur dengan baik jika melalui penilaian secara eksplisit. Budaya konsisten adalah budaya dengan rataan skor tertinggi kedua. Hal ini dikarenakan sejak awal Restoran Karimata menegaskan agar karyawan selalu menjaga konsistensi yang tercermin dalam moto Restoran Karimata. Selain itu, pada saat briefing, pemilik lebih dahulu menjelaskan beberapa standarisasi yang harus dilakukan oleh masing-masing bagian kerja. Bersamaan dengan tahap penerapan budaya Restoran Karimata, sistem reward and punishment lebih diperketat kepada karyawan dalam menjalankan peraturan yang berlaku.

Tiga budaya dengan rataan skor di bawah rataan total, yaitu budaya profesional, peduli, dan harapan atau cita-cita. Namun, budaya peduli masih tergolong budaya yang sangat diterapkan oleh para karyawan. Hal ini dikarenakan sekitar 63,89 persen karyawan Restoran Karimata tergolong karyawan baru dan sekitar 72,22 persen tergolong usia dewasa muda. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar karyawan belum memiliki pengalaman bekerja yang lama di restoran sehingga mereka masih dalam proses adaptasi. Rataan skor budaya harapan atau cita-cita yang memiliki rataan skor terendah juga menandakan bahwa sebagian besar karyawan, saat ini belum loyal terhadap pekerjaan yang mereka jalani. Selain itu, budaya harapan atau cita-cita merupakan salah satu budaya yang agak sulit untuk dinilai penerapannya karena tergantung pada diri setiap individu dan tidak dapat dipaksakan pelaksanaannya. Hal ini menyebabkan penerapan budaya harapan atau cita-cita membutuhkan waktu yang lebih lama daripada budaya lain untuk dapat diterapkan oleh para karyawan. Budaya harapan

74 atau cita-cita masih tergolong budaya yang sering diterapkan oleh karyawan karena hampir seluruh karyawan lama sudah loyal terhadap restoran.

Pada Tabel 30 juga terlihat bahwa karyawan bagian cashier, supervisor, cleaner, cook, bartender, dan driver merupakan karyawan yang secara keseluruhan telah menerapkan budaya “Hi-Five” dengan baik karena rataan skor yang berada di atas rataan total. Namun, karyawan bagian cashier merupakan bagian kerja yang paling menerapkan budaya “Hi-Five”. Hal ini dikarenakan karyawan bagian cashier termasuk karyawan lama dan secara tidak sadar telah menerapkan nilai-nilai budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karyawan bagian dishwasher adalah bagian kerja dengan rataan skor penerapan budaya “Hi-Five” yang terendah. Hal ini dikarenakan seluruh karyawan bagian dishwasher merupakan karyawan baru sehingga masih berada dalam tahap adaptasi. Pekerjaan sebagai dishwasher menyebabkan karyawan hanya fokus bekerja mencuci piring sehingga kurang memperhatikan lingkungannya.

Budaya “Hi-Five” secara keseluruhan sudah dapat diterapkan oleh karyawan. Pada dasarnya para karyawan ikut berpartisipasi dalam perumusan budaya Restoran Karimata melalui pengisian kuisioner. Pada kegiatan FGD pun supervisor sebagai wakil dari para karyawan dan yang paling mengetahui karakter karyawan, ikut dalam merumuskan budaya. Para karyawan pun secara tidak sadar sebelumnya sudah sering melakukan kegiatan atau berperilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai budaya “Hi-Five”. Namun, pada saat itu para karyawan hanya sekedar mengerjakan tugas masing-masing karena belum mengetahui secara jelas budaya yang muncul dari perilaku mereka tersebut. Saat tahap implementasi para karyawan sudah mengetahui budaya yang harus dianut karena telah dirumuskan budaya yang jelas dan tertulis. Oleh karena itu, penerapan budaya “Hi-Five”

secara keseluruhan dapat dikatakan baik.

Selanjutnya, peneliti mengomunikasikan kembali kepada pemilik mengenai hasil penerapan budaya Restoran Karimata yang telah dirumuskan. Proses sosialisasi budaya Restoran Karimata kepada karyawan yang telah bekerja dilakukan melalui sistem reward and punishment pada masa-masa awal pelaksanaannya. Hal ini dilakukan agar karyawan mau tidak mau berusaha untuk menerapkan budaya tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu sistem tersebut

75 harus semakin dibatasi agar karyawan tidak merasa terpaksa atau tertekan dalam menjalani budaya tersebut. Pemilik juga akan menggunakan rumusan budaya tersebut dalam merekrut karyawan baru agar calon karyawan tersebut tidak sulit dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja di restoran. Rumusan Budaya Restoran Karimata yang dapat dilihat pada Tabel 31 harus terus diterapkan dalam jangka waktu tertentu agar budaya tersebut tidak lagi dilakukan secara terpaksa dan dapat diterima secara sepenuhnya oleh karyawan.

Tabel 31. Rumusan Budaya Restoran Karimata Artifacts

Warna Seragam Coklat dan Krem

Moto Enak, Cepat, dan Memuaskan

Company Tag Experience The Ultimate In Taste

Ritual Berdoa bersama sebelum bekerja

No. Espoused Values

Budaya “Hi-Five” Restoran Karimata 1 Jujur

Menjunjung tinggi kejujuran dalam segala hal.

2 Profesional

Selalu meningkatkan profesionalitas untuk memenuhi harapan dan kepuasan konsumen.

3 Konsisten

Selalu menjaga konsistensi mutu dan pelayanan melalui standarisasi produk dan pelayanan.

4 Peduli

Selalu peduli dan bertanggung jawab atas semua tindakan yang akan dan telah dilakukan.

5 Harapan atau Cita-Cita

Memberikan motivasi yang terbaik kepada sesama karyawan.

Basic Underlying Assumption

Visi Menjadi restoran tradisional Indonesia dengan standar pelayanan dan mutu produk yang tinggi

Misi 1. Menyajikan makanan dengan penuh bumbu (full taste).

2. Memuaskan pelanggan dengan menyajikan produk dalam porsi besar.

3. Memberikan pelayanan prima kepada para pelanggan.

4. Menciptakan iklim kerja yang menyenangkan dengan berlandaskan kekeluargaan.

76 Kegiatan evaluasi juga dilakukan dengan melihat pengaruh penerapan budaya perusahaan terhadap perilaku kerja karyawan yang diukur melalui disiplin kerja, kinerja karyawan yang diukur melalui kualitas pelayanan terhadap konsumen, dan rata-rata jumlah pengunjung Restoran Karimata. Namun, evaluasi ini hanya dilakukan secara deskriptif karena hanya ingin melihat apakah ada perubahan yang terjadi sebelum adanya penerapan budaya perusahaan dan saat budaya perusahaan telah diterapkan. Ukuran waktu sebelum adanya penerapan budaya Restoran Karimata adalah pada Maret 2012 sampai 4 April 2012. Ukuran waktu sesudah diterapkannya budaya adalah mulai 5 April 2012 sampai 31 Mei 2012.

Evaluasi perubahan perilaku kerja karyawan akan diukur melalui disiplin kerja dengan melihat perubahan perilaku karyawan dalam menaati peraturan.

Indikator yang dinilai, yaitu perubahan jumlah absen karyawan yang izin tanpa keterangan dan jumlah karyawan yang terlambat masuk kerja. Evaluasi kinerja karyawan akan diukur melalui perubahan kualitas pelayanan kepada pengunjung.

Indikator yang dinilai, yaitu lama waktu menunggu makanan datang, lama waktu menunggu bill, dan jumlah pengunjung dalam waiting list.

Rumusan budaya Restoran Karimata mengandung seperangkat nilai dan norma yang membimbing perilaku etis para karyawan. Dengan adanya budaya Restoran Karimata, para karyawan memiliki dasar dalam berperilaku saat berhadapan dengan pihak lain, seperti konsumen. Karyawan juga dapat memperbaiki perilaku kerjanya karena peraturan yang diterapkan juga semakin jelas. Jika karyawan telah dapat menerapkan budaya Restoran Karimata dengan baik, maka seharusnya pelayanan yang diberikan kepada konsumen juga semakin membaik. Para karyawan seharusnya juga semakin dapat mempertahankan dan meningkatkan pelayanan melalui pelaksanaan moto dan company tag Restoran Karimata. Jika terjadi perubahan jumlah pengunjung yang semakin meningkat setelah diterapkannya budaya Restoran Karimata, maka dapat dikatakan rumusan budaya Restoran Karimata juga mampu merubah kinerja perusahaan menjadi lebih baik, dan sebaliknya.

Pada Tabel 32 terlihat adanya perubahan perilaku kerja dan kinerja karyawan sebelum dan sesudah diterapkannya budaya Restoran Karimata.

77 Disiplin kerja karyawan terlihat mengalami peningkatan dengan adanya penurunan jumlah karyawan yang absen tanpa keterangan dan jumlah karyawan yang terlambat masuk kerja. Tingkat perubahan disiplin kerja karyawan tidak terlalu besar namun karyawan terlihat mulai merubah perilakunya menjadi lebih baik sedikit demi sedikit. Perubahan kualitas pelayanan juga terlihat membaik yang berarti pelayanan yang diberikan oleh para karyawan saat ini menjadi semakin cepat sehingga mengurangi jumlah pengunjung yang marah atau mengkritik karena pelayanan yang diberikan lama. Hal tersebut menunjukkan bahwa rumusan budaya Restoran Karimata dinilai telah sesuai untuk diterapkan di Restoran Karimata karena mampu memberikan dampak positif pada perilaku dan kinerja karyawan.

Tabel 32. Indikator Disiplin Kerja dan Kualitas Pelayanan Karyawan

Indikator Sebelum Penerapan Budaya Sesudah Penerapan Budaya Disiplin Kerja

a. Jumlah absen karyawan tanpa keterangan

4 orang 2 orang

b. Jumlah karyawan yang telat masuk kerja

11 orang 7 orang

Kualitas Pelayanan

a. Lama waktu menunggu makanan datang

20 menit 15 menit

b. Lama waktu menunggu bill

4 menit 2 menit

c. Jumlah waiting list 3-4 orang 1-2 orang

Tabel 33 menunjukkan adanya perubahan jumlah pengunjung Restoran Karimata sebelum adanya penerapan budaya perusahaan dan setelah diterapkannya budaya perusahaan. Rata-rata jumlah pengunjung Restoran Karimata per minggu mengalami peningkatan setelah diterapkannya budaya perusahaan. Besar peningkatan rata-rata jumlah pengunjung ini tidak terlalu besar karena budaya perusahaan baru berjalan selama tujuh minggu sampai akhir bulan Mei 2012. Namun, rata-rata jumlah pengunjung setelah diterapkannya budaya perusahaan semakin mendekati target jumlah pengunjung. Artinya, efek dari penerapan budaya perusahaan ini juga cukup dirasakan oleh pihak eksternal, yaitu konsumen.

78 Tabel 33. Rata-Rata Jumlah Pengunjung per Minggu Sebelum dan Sesudah

Penerapan Budaya Perusahaan

Rata-Rata Jumlah Pengunjung Restoran Karimata (orang)

Target Sebelum Penerapan Budaya Sesudah Penerapan Budaya

3.000 1.948 2.145

Dalam dokumen VII HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 28-34)

Dokumen terkait