• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "VII HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

45 VII HASIL DAN PEMBAHASAN

7.1 Tahap Investigasi

Tahap investigasi dilaksanakan pada 14 Februari 2012 hingga 16 Februari 2012. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini berjalan secara bersamaan dan memiliki dua tujuan. Pertama, diskusi antara peneliti dan pemilik usaha dalam merumuskan visi dan misi Restoran Karimata secara tertulis. Kedua, merumuskan daftar nilai-nilai budaya yang akan diteliti.

7.1.1 Perumusan Visi dan Misi Secara Tertulis

Restoran Karimata belum memiliki visi dan misi secara tertulis sejak awal berdiri. Pemilik usaha pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai dari pendirian restoran ini. Namun, pemilik tidak dapat mengkomunikasikan hal tersebut kepada para karyawan dengan jelas. Hal tersebut dikarenakan pemilik merasa bahwa dengan sebagian besar tingkat pendidikan karyawan yang rendah, karyawan tidak akan paham dengan visi dan misi pemilik. Pemilik pun hanya mengkomunikasikan tujuannya kepada karyawan secara sekilas atau samar-samar setiap kali briefing. Visi dan misi penting untuk dijabarkan dan dijelaskan kepada para karyawan agar karyawan mengetahui arah dan tujuan pendirian restoran tersebut.

Pada tahap ini peneliti membantu pemilik usaha untuk merumuskan visi dan misi Restoran Karimata secara tertulis. Kegiatan diskusi dengan pemilik dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2012. Visi dan misi yang telah dirumuskan akan digunakan sebagai acuan dalam merumuskan budaya Restoran Karimata dan menjadi ideologi dari Restoran Karimata. Visi dan misi tersebut akan dikomunikasikan kepada para karyawan bersamaan dengan rumusan budaya Restoran Karimata saat pada tahap implementasi. Visi dari Restoran Karimata adalah menjadi restoran tradisional Indonesia dengan standar pelayanan dan mutu produk yang tinggi. Misi Restoran Karimata terdiri dari empat misi, yaitu menyajikan makanan dengan penuh bumbu (full taste), memuaskan pelanggan dengan menyajikan produk dalam porsi besar, memberikan pelayanan prima kepada para pelanggan, dan menciptakan iklim kerja yang menyenangkan dengan berlandaskan kekeluargaan.

(2)

46 7.1.2 Daftar Atribut Nilai-Nilai Budaya

Peneliti melakukan pengamatan langsung mengenai kondisi kerja di Restoran Karimata, wawancara dengan pemilik, dan membaca literatur-literatur untuk mendapatkan daftar nilai-nilai budaya yang akan diteliti. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan pada 14 Februari 2012 sampai 16 Februari 2012. Daftar nilai- nilai budaya yang diteliti berbeda-beda untuk setiap tipe responden. Daftar nilai- nilai budaya yang diteliti hanyalah nilai-nilai budaya yang dapat diketahui dan dinilai secara langsung oleh setiap tipe responden.

1. Pemilik dan Karyawan a) Artifacts

Elemen Artifacts yang diteliti, meliputi penggunaan seragam kerja, warna seragam kerja, dan ritual (briefing pagi).

b) Espoused Values (nilai-nilai)

Elemen nilai budaya yang diteliti, meliputi belief (keyakinan akan kemajuan restoran) dan 40 macam nilai yang dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Daftar Atribut Nilai untuk Responden Pemilik dan Karyawan

No. Nilai No. Nilai

1 Konsistensi 21 Saling menghargai

2 Komitmen 22 Berpikiran positif

3 Loyalitas 23 Profesional

4 Kejujuran 24 Efisien

5 Humoris 25 Kerja sama

6 Kepedulian 26 Fokus

7 Integritas 27 Sabar

8 Keteladanan 28 Kerja keras

9 Optimis 29 Rajin

10 Kedisiplinan 30 Tidak boros

11 Inisiatif 31 Orientasi pelanggan

12 Kerapihan 32 Objektif

13 Keramahan 33 Adaptif

14 Ketanggapan 34 Orientasi lingkungan

15 Ketelitian 35 Semangat

16 Bertanggung jawab 36 Efektif

17 Kesopanan 37 Kekeluargaan

18 Tegas 38 Keterbukaan

19 Kreatif 39 Kebersamaan

20 Bersyukur 40 Etika

(3)

47 2. Konsumen

a) Artifacts

Elemen Artifacts yang diteliti, meliputi penggunaan seragam kerja, warna seragam kerja, moto, dan company tag.

b) Espoused values

Nilai budaya yang diteliti adalah 22 macam nilai yang dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Daftar Atribut Nilai untuk Responden Konsumen

No. Nilai No. Nilai

1 Konsistensi 12 Profesional

2 Komitmen 13 Efisien

3 Kejujuran 14 Fokus

4 Humoris 15 Sabar

5 Kepedulian 16 Semangat

6 Kedisiplinan 17 Orientasi pelanggan

7 Kerapihan 18 Objektif

8 Keramahan 19 Orientasi lingkungan

9 Ketanggapan 20 Efektif

10 Ketelitian 21 Kekeluargaan

11 Kesopanan 22 Etika

3. Pemasok

Tingkatan budaya yang diteliti hanya espoused values karena hanya tingkatan budaya ini yang berhubungan dengan pemasok dan dapat dinilai langsung oleh pemasok. Nilai budaya yang diteliti adalah 12 macam nilai yang dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Daftar Atribut Nilai untuk Responden Pemasok

No. Nilai No. Nilai

1 Komitmen 7 Kesopanan

2 Kejujuran 8 Tegas

3 Humoris 9 Profesional

4 Integritas 10 Orientasi lingkungan

5 Keramahan 11 Semangat

6 Ketelitian 12 Etika

(4)

48 7.2 Tahap Analisis

Tahap ini diawali dengan penyebaran kuisioner kepada tiga tipe responden, yaitu pemilik dan karyawan, konsumen serta pemasok. Data hasil penyebaran kuisioner diinput dan diolah sehingga mendapatkan hasil mengenai budaya artifacts dan espoused values yang diteliti. Tahap ini berlangsung pada 26 Februari 2012 hingga 2 April 2012.

1. Pemilik dan Karyawan

Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner, rataan skor elemen artifact penggunaan seragam kerja adalah 3,24. Hal ini berarti penggunaan seragam kerja tergolong penting dan perlu untuk diterapkan di Restoran Karimata. Sekitar 97,22 persen responden setuju bahwa seragam karyawan saat ini yang berwarna coklat dan krem sudah sesuai dengan Restoran Karimata. Sedangkan 2,78 persen responden memilih batik berwarna cerah sebagai seragam kerja yang sesuai dengan Restoran Karimata. Rataan skor ritual briefing pagi adalah 2,98 yang berarti briefing pagi tergolong penting dan perlu untuk diterapkan di Restoran Karimata.

Sekitar 77,78 persen responden memilih kegiatan berdoa bersama sebelum bekerja sebagai bentuk ritual yang sangat penting dan harus diterapkan di Restoran Karimata. Responden lainnya memilih kegiatan pengajian bersama setiap Jumat Malam sebagai salah satu ritual yang sangat penting dan harus diterapkan dengan jumlah persentase sebesar 22,22 persen. Rataan skor belief, keyakinan akan kemajuan restoran, adalah 3,24. Hal ini berarti keyakinan akan kemajuan restoran tergolong penting dan perlu untuk dimiliki oleh karyawan Restoran Karimata.

Berdasarkan hasil rating rataan skor, diambil sepuluh nilai (values) dengan rataan skor tertinggi untuk masuk daftar nilai yang akan dipertimbangkan untuk menjadi budaya Restoran Karimata pada Tabel 15.

(5)

49 Tabel 15. Nilai-Nilai Budaya dengan Rataan Skor Tertinggi bagi Responden

Internal

Nilai Budaya Rataan Skor

Kejujuran 3,68

Ketelitian 3,46

Konsisten 3,45

Kedisiplinan 3,43

Keteladanan 3,43

Kerapihan 3,42

Kepedulian 3,40

Keramahan 3,38

Kerja sama 3,38

Inisiatif 3,38

2. Konsumen

Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner, rataan skor elemen artifact penggunaan seragam kerja adalah 2,88. Hal ini berarti penggunaan seragam kerja tergolong penting dan perlu untuk diterapkan di Restoran Karimata. Sekitar 86 persen responden setuju bahwa seragam kerja saat ini yang berwarna krem dan coklat sudah sesuai dengan Restoran Karimata.

Sedangkan 2 persen responden memilih batik berwarna cerah, 4 persen responden memilih warna orange, dan 8 persen responden memilih warna hijau sebagai warna seragam yang sesuai dengan Restoran Karimata.

Sekitar 96 persen responden setuju bahwa elemen artifact moto restoran yang berbunyi “Enak, Cepat, dan Memuaskan” sudah sesuai dalam menggambarkan Restoran Karimata. Sekitar 96 persen responden setuju bahwa company tag yang berbunyi “Experience The Ultimate In Taste”

sudah sesuai dengan Restoran Karimata. Berdasarkan hasil rating rataan skor, diambil sepuluh nilai (values) dengan rataan skor tertinggi untuk masuk daftar nilai yang akan dipertimbangkan untuk menjadi budaya Restoran Karimata yang dapat dilihat pada Tabel 16.

(6)

50 Tabel 16. Nilai Budaya dengan Rataan Skor Tertinggi bagi Konsumen

Nilai Budaya Rataan Skor

Kesopanan 3,51

Keramahan 3,49

Etika 3,41

Kejujuran 3,33

Ketelitian 3,29

Profesional 3,26

Ketanggapan 3,21

Kekeluargaan 3,20

Kerapihan 3,16

Komitmen 3,16

3. Pemasok

Berdasarkan hasil rating rataan skor, diambil empat nilai (values) dengan rataan skor tertinggi untuk masuk daftar nilai yang akan dipertimbangkan untuk menjadi budaya Restoran Karimata. Keempat nilai ini mendapatkan skor maksimal yang berarti sangat dianggap penting dan sangat perlu untuk diterapkan di Restoran Karimata.

Tabel 17. Nilai Budaya dengan Rataan Skor Tertinggi bagi Pemasok

Nilai Budaya Rataan Skor

Kejujuran 4

Ketelitian 4

Profesional 4

Etika 4

7.3 Tahap Perancangan

Tahap perancangan diawali dengan menggabungkan nilai-nilai budaya yang paling banyak dipilih oleh responden sebagai nilai yang sangat penting dan sangat perlu untuk diterapkan di Restoran Karimata yang dapat dilihat pada Tabel 19. Selanjutnya, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan responden ahli dilakukan untuk merumuskan nilai-nilai budaya Restoran Karimata yang nantinya diuji coba untuk diterapkan selama 14 hari kerja. Nilai-nilai budaya yang menjadi fokus diskusi adalah nilai budaya dalam tingkat espoused values saja. Hal ini dikarenakan elemen budaya artifact yang diteliti dapat dirumuskan sendiri oleh peneliti dan pemilik berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data yang dapat dilihat pada Tabel 18.

(7)

51 Elemen artifacts yang dipilih menjadi rumusan budaya adalah elemen- elemen yang dianggap telah sesuai untuk diterapkan di Restoran Karimata oleh responden, seperti warna seragam kerja yang berwarna cokelat dan krem, moto yang berbunyi “Enak, Cepat, dan Memuaskan”, dan company tag yang berbunyi

“Experience The Ultimate In Taste”. Elemen yang dianggap sangat penting dan sangat perlu untuk diterapkan di Restoran Karimata, yaitu ritual berdoa bersama sebelum bekerja juga masuk dalam rumusan budaya. Elemen briefing pagi tidak masuk dalam rumusan budaya karena menurut pemilik kegiatan tersebut kurang sesuai untuk menjadi ritual. Jadi, kegiatan briefing akan dilakukan sesuai kebutuhan saja. Elemen espoused values, yaitu belief (keyakinan akan kemajuan restoran) juga tidak masuk dalam rumusan budaya karena keyakinan tersebut dianggap akan muncul sendiri saat karyawan telah menerapkan budaya harapan atau cita-cita dengan baik. Visi dan misi Restoran Karimata masuk ke dalam tingkatan budaya basic underlying assumptions karena merupakan ideologi perusahaan. Oleh karena itu, kegiatan FGD dilakukan dengan mempertimbangkan visi dan misi yang telah dirumuskan sebelumnya serta elemen budaya artifacts yang diteliti.

Tabel 18. Elemen Budaya Artifacts Restoran Karimata Elemen Artifacts Warna Seragam Coklat dan Krem

Moto Enak, Cepat, dan Memuaskan

Company Tag Experience The Ultimate In Taste Ritual Berdoa bersama sebelum bekerja

Kegiatan FGD dilaksanakan pada 3 April 2012. Responden ahli pada tahap ini terdiri dari pihak internal restoran, yaitu pemilik dan supervisor serta pihak eksternal restoran, yaitu Bapak Azus Sugar, ahli kuliner yang mengerti mengenai budaya perusahaan. Bapak Azus Sugar menempuh pendidikan untuk menjadi seorang koki. Pada awalnya beliau bekerja sebagai koki restoran di hotel dan kapal pesiar. Namun, saat ini beliau bekerja sebagai Club House & FB Manager di Emeralda. Pemilik restoran memiliki pengalaman bekerja di suatu perusahaan dan menjalani studi pascasarjana mengenai manajemen sehingga paham akan budaya perusahaan. Namun, pemilik belum pernah memiliki pengalaman menjalani usaha restoran sehingga membutuhkan saran dari pihak luar. Supervisor

(8)

52 adalah pihak yang menangani masalah karyawan sehingga mengerti seperti apa karakter dan perilaku para karyawannya. Ahli kuliner diundang menjadi responden ahli untuk menyumbangkan pengalaman dan pengetahuannya mengenai budaya restoran secara umum. Hal ini dilakukan agar diskusi berjalan secara seimbang dan berhasil mendapatkan rumusan budaya restoran yang sesuai.

Tabel 19. Gabungan Nilai-Nilai Budaya dengan Rataan Skor Tertinggi

No. Nilai No. Nilai

1 Kejujuran 9 Komitmen

2 Ketelitian 10 Konsisten

3 Profesional 11 Kepedulian

4 Etika 12 Ketanggapan

5 Kerapihan 13 Kerja sama

6 Keramahan 14 Kedisiplinan

7 Kesopanan 15 Keteladanan

8 Kekeluargaan 16 Inisiatif

Berdasarkan hasil kegiatan FGD, budaya Restoran Karimata telah dirumuskan dalam lima nilai budaya dengan menggabungkan beberapa nilai pada Tabel 19 menjadi satu nilai. Hal tersebut dikarenakan nilai-nilai yang digabung memiliki definisi yang hampir sama dan atau dapat menjadi satu nilai yang memiliki makna campuran dari nilai-nilai tersebut. Penggabungan nilai-nilai tersebut terdiri dari:

1) Kejujuran

2) Ketelitian, profesional, dan inisiatif 3) Komitmen, konsisten, dan disiplin

4) Kekeluargaan, kepedulian, kerja sama, dan ketanggapan 5) Etika, keteladanan, kerapihan, keramahan, dan kesopanan

Kelima penggabungan nilai-nilai di atas kemudian diberi istilah nilai yang baru dan dirumuskan makna dari masing-masing nilai tersebut. Rumusan budaya Restoran Karimata terdiri dari lima budaya perusahaan Restoran Karimata yang disebut “Hi-Five”. Definisi dari istilah tersebut, yaitu bentuk salam dengan seseorang yang dikenal, bukti suatu keberhasilan, atau bentuk ekspresi rasa senang. Namun, istilah tersebut juga merupakan singkatan atau akronim dari istilah kelima budaya dalam bahasa Inggris, yaitu high fairness (jujur), high profesionality (profesional), high consistency (konsisten), high careness (peduli),

(9)

53 dan high expectation (harapan atau cita-cita). Makna yang terkandung dalam istilah tersebut adalah lima budaya yang terkandung dalam “Hi-Five” diharapkan dapat menjadi alat menuju kesuksesan atau keberhasilan dari Restoran Karimata dimana sumberdaya manusia yang terlibat di dalamnya dapat selalu termotivasi bekerja dalam memberikan yang terbaik kepada pihak lain. Rumusan budaya Restoran Karimata yang disebut “Hi-Five” terdiri dari:

1) Jujur (high fairness)

Menjunjung tinggi kejujuran dalam segala hal.

2) Profesional (high profesionality)

Selalu berusaha meningkatkan profesionalitas untuk memenuhi harapan dan kepuasan konsumen.

3) Konsisten (high consistency)

Selalu menjaga mutu dan pelayanan melalui standarisasi produk dan pelayanan.

4) Peduli (high careness)

Selalu peduli dan bertanggung jawab atas semua tindakan yang akan dan telah dilakukan.

5) Harapan atau Cita-Cita (high expectation)

Memberikan motivasi yang terbaik kepada sesama karyawan.

7.4 Tahap Implementasi

Pada tahap ini kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah mengkomunikasikan visi dan misi serta budaya perusahaan Restoran Karimata yang telah dirumuskan kepada seluruh karyawan. Penyampaian visi dan misi serta budaya perusahaan kepada karyawan dilakukan saat kegiatan briefing pada tanggal 4 April 2012. Pada saat briefing tersebut peneliti menjelaskan proses terbentuknya rumusan budaya “Hi-Five” dan contoh-contoh bentuk perilaku yang mencerminkan masing-masing nilai budaya. Namun, peneliti tidak memberitahu kepada karyawan mengenai adanya tahap implementasi untuk menguji penerapan budaya “Hi-Five”. Hal ini bertujuan agar karyawan tetap bersikap dan berperilaku apa adanya. Selanjutnya, budaya perusahaan Restoran Karimata yang telah dirumuskan dicoba untuk diterapkan. Kegiatan penerapan atau uji coba budaya perusahaan Restoran Karimata dilakukan selama dua minggu (14 hari kerja).

(10)

54 Proses sosialisasi budaya perusahaan sebenarnya membutuhkan waktu yang lama untuk dapat diterima secara keseluruhan dan diterapkan dengan tanpa paksaan oleh seluruh anggota organisasi. Pada tahap implementasi ini peneliti hanya mengamati dan menilai penerapan budaya melalui perilaku atau kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh karyawan. Pola perilaku sebagai salah satu elemen artifacts merupakan bentuk representasi dari budaya perusahaan sehingga mudah untuk diamati. Jika budaya restoran tersebut sudah dapat diterapkan oleh sebagian besar karyawan, maka budaya tersebut dapat dikatakan sudah sesuai dengan Restoran Karimata.

Lama tahap implementasi selama 14 hari kerja menurut peneliti sudah cukup untuk melihat kesesuaian budaya Restoran Karimata untuk terus diterapkan melalui penilaian pola perilaku para karyawan. Pemilihan lama waktu tahap implementasi ini adalah dengan mempertimbangkan kemampuan peneliti dalam mengawasi penerapan budaya oleh para karyawan. Tahap ini dilaksanakan pada 5 April 2012 hingga 20 April 2012. Pada dasarnya rumusan budaya yang dibentuk adalah hasil penilaian dari pendapat para karyawan sendiri dan sebagian besar nilai budaya secara tidak sadar sudah sering dilakukan sehari-hari oleh sebagian karyawan. Selain itu, Restoran Karimata sudah mempunyai sebuah moto dan company tag sehingga secara tidak langsung karyawan berusaha untuk memenuhi kedua hal tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama 14 hari kerja, ritual berdoa bersama sebelum bekerja sudah berhasil menjadi sebuah rutinitas di Restoran Karimata. Hal ini dibuktikan bahwa dari 14 kali pengamatan ritual berdoa bersama sebelum bekerja hanya terlewatkan sebanyak dua kali. Peneliti menggunakan tabel khusus berupa checklist untuk menilai pola perilaku karyawan yang mencerminkan masing-masing nilai budaya “Hi-Five”. Peneliti menyiapkan indikator-indikator yang berbeda bagi masing-masing bagian kerja. Indikator- indikator yang diteliti mencakup pengamatan kegiatan atau perilaku tertentu yang disesuaikan dengan kemampuan peneliti dalam mengamati kegiatan atau perilaku yang bersangkutan.

1. Cashier

Indikator budaya jujur untuk bagian cashier terdiri dari dua indikator, yaitu berbicara sesuai fakta/data dan tidak melakukan perbuatan

(11)

55 yang tercela/dilarang oleh agama. Indikator pertama dilakukan dengan mengamati kegiatan pelaporan seluruh keuangan restoran kepada pemilik.

Indikator kedua dilakukan dengan mengamati perilaku responden untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan haknya (uang kas/uang penjualan). Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap melakukan transaksi. Indikator kedua mencakup perilaku dapat menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua mencakup kegiatan menulis semua transaksi dengan cara sesuai yang telah diajarkan. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan.

Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain dalam melayani tamu jika karyawan lain sedang sibuk. Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat ada keluhan tentang kesalahan bill.

Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja

Pada Tabel 20 terlihat bahwa karyawan bagian cashier paling menerapkan budaya jujur dan konsisten. Hal ini dikarenakan karyawan bagian cashier adalah salah satu karyawan yang sudah bekerja di Restoran Karimata sejak awal berdiri. Karyawan bagian cashier menjadi lebih berpengalaman dibandingkan karyawan yang lain sehingga lebih loyal terhadap restoran. Namun, budaya profesional memiliki rataan skor yang paling rendah. Hal ini menandakan karyawan bagian cashier masih hanya mengandalkan ajaran dari pemilik. Akibatnya, beberapa kesalahan tetap terjadi meskipun karyawan bagian cashier adalah karyawan lama.

(12)

56 Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) berbicara sesuai fakta/data, 2) tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama, 3) menaati peraturan yang berlaku di restoran, 4) menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan, 5) peduli/perhatian terhadap sesama, dan 6) menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama.

Tabel 20. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Cashier

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor

Jujur Berbicara sesuai fakta/data 4

Tidak melakukan perbuatan yang tercela 4 4

Profesional Selalu teliti 3

Mempunyai inisiatif 3 3

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 4

Menjalankan tugas berdasarkan 4 standarisasi

4

Peduli Peduli terhadap sesama 4

Bertanggung jawab terhadap tindakan 3,5 yang akan dan telah dilakukan

3 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama

4 Memberikan usaha melebihi kondisi 3,5

normal atau di luar jam kerja

3

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

2. Billing Service

Indikator budaya jujur untuk bagian billing service terdiri dari dua indikator, yaitu berbicara sesuai fakta/data dan tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama. Indikator pertama dilakukan dengan mengamati kegiatan pelaporan seluruh rekap data entry kepada pemilik.

Indikator kedua dilakukan dengan mengamati perilaku responden untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan haknya (uang tip).

Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap memasukkan input data pesanan konsumen. Indikator kedua mencakup perilaku dapat menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan

(13)

57 standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua mencakup merekap data dengan cara yang telah ditentukan. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain dalam melayani tamu jika karyawan lain sedang sibuk. Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat ada keluhan tentang kesalahan bill. Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Pada Tabel 21 terlihat bahwa karyawan bagian billing service paling menerapkan budaya jujur dan konsisten. Karyawan bagian billing service merupakan salah satu bagian kerja yang bertempat di front desk.

Hal ini menyebabkan perilaku responden mudah teramati oleh orang lain sehingga ruang gerak mereka untuk berbuat curang menjadi kecil. Budaya profesional memiliki rataan skor 2,5. Hal ini dikarenakan karyawan bagian billing service masih sering melakukan kesalahan saat bekerja. Karyawan bagian billing service juga masih mengandalkan ajaran dari pemilik. Pada bagian billing service terdapat karyawan yang baru saja masuk menjadi karyawan tetap. Karyawan baru tersebut belum dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan kerjanya. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab beberapa rataan skor budaya lebih rendah dibandingkan budaya yang lain. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) berbicara sesuai fakta/data, 2) tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama, 3) menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan, dan 4) bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan.

(14)

58 Tabel 21. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Billing Service

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Bagian

Rataan Skor

Jujur Berbicara sesuai fakta/data 4

4 Tidak melakukan perbuatan yang

tercela 4

Profesional Selalu teliti 2,5

Mempunyai inisiatif 2,5 2,5

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 3

3,25 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 3,5

Peduli Peduli terhadap sesama 3

3,13 Bertanggung jawab terhadap tindakan

yang akan dan telah dilakukan 3,25 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 2,5

Memberikan usaha melebihi kondisi 2,5

normal atau di luar jam kerja 2,5

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

3. Supervisor

Indikator budaya jujur untuk bagian supervisor dan deputy supervisor terdiri dari dua indikator, yaitu berbicara sesuai fakta/data dan tidak menyembunyikan atau menutupi kebenaran suatu masalah. Indikator pertama dilakukan dengan mengamati kegiatan pelaporan seluruh reservasi tempat atau pesanan konsumen kepada pemilik. Indikator kedua dilakukan dengan mengamati perilaku responden dalam melaporkan kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri maupun karyawan kepada pemilik. Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap menulis pesanan tempat oleh konsumen.

Indikator kedua mencakup perilaku dapat menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua mencakup kegiatan memimpin doa bersama sebelum bekerja. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab

(15)

59 terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk. Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat ada masalah. Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Tabel 22. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Supervisor

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor

Jujur Berbicara sesuai fakta/data 4

3,25 Tidak menyembunyikan kebenaran

suatu masalah 2,5

Profesional Selalu teliti 3,5

Mempunyai inisiatif 2,5 3

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 4

3,75 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 3,5

Peduli Peduli terhadap sesama 4

Bertanggung jawab terhadap 3,5 tindakan yang akan dan telah dilakukan

3 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 3

3,25 Memberikan usaha melebihi

kondisi normal atau di luar jam kerja

3,5

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

Pada Tabel 22 terlihat bahwa budaya profesional memiliki rataan skor yang paling kecil. Supervisor dan deputy supervisor Restoran Karimata pada dasarnya belum memiliki pengalaman dalam hal memimpin sehingga terkadang masih mengalami kesulitan dalam mengatur karyawan.

Budaya jujur memiliki rataan skor 3,25 karena saat terjadi masalah responden cenderung tidak langsung melaporkannya kepada pemilik.

Responden juga terkadang masih belum dapat menentukan prioritas pekerjaan yang harus dilakukan. Hal ini menyebabkan responden belum dapat menjadi contoh yang baik bagi karyawan lain. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) berbicara sesuai fakta/data, 2) selalu teliti

(16)

60 dalam bekerja, 3) menaati peraturan yang berlaku di restoran, 4) menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan, 5) peduli/perhatian terhadap sesama, dan 6) berpartisipasi dalam usaha memajukan restoran.

4. Waiter/ss

Indikator budaya jujur untuk bagian waiter/ss terdiri dari dua indikator, yaitu tidak menyembunyikan fakta/data dan tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama. Indikator pertama melihat apakah waiter/ss menyerahkan seluruh kertas order kuning ke bagian billing service. Indikator kedua dilakukan dengan mengamati perilaku responden untuk tidak mencuri/mengambil barang yang bukan haknya (uang tip/uang kembalian/barang tamu yang tertinggal). Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap menulis pesanan konsumen. Indikator kedua mencakup perilaku dapat menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua mencakup kegiatan melayani pengunjung sesuai dengan standar. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk. Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat dipanggil pengunjung dan menyajikan makanan. Indikator budaya harapan atau cita- cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

(17)

61 Tabel 23. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Waiter/ss

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor

Jujur Tidak menyembunyikan fakta/data 4

4 Tidak melakukan perbuatan yang

tercela 4

Profesional Selalu teliti 3,5

3,13

Mempunyai inisiatif 2,75

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 3,75

3,32 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 2,88

Peduli Peduli terhadap sesama 3,75

3,44 Bertanggung jawab terhadap

tindakan yang akan dan telah dilakukan

3,13 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 2,5

2,32 Memberikan usaha melebihi kondisi

normal atau di luar jam kerja 2,13

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

Pada Tabel 23 terlihat bahwa karyawan bagian waiter/ss paling menerapkan budaya jujur, konsisten, dan peduli. Sejak awal pemilik mengajarkan kepada bagian waiter/ss agar menjaga perilakunya saat berhadapan dengan tamu, termasuk untuk selalu melaporkan barang milik pengunjung yang tertinggal. Hal tersebut berpengaruh terhadap kepercayaan pengunjung terhadap Restoran Karimata. Karyawan bagian waiter/ss juga sering membantu karyawan lain saat sedang tidak sibuk.

Budaya harapan atau cita-cita memiliki rataan skor yang paling rendah.

Karyawan bagian waiter/ss rata-rata masih belum menganggap bahwa bekerja di restoran merupakan bagian dari hidupnya. Hal ini menyebabkan responden tidak selalu bersedia memberikan usaha yang lebih demi restoran. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) tidak menyembunyikan fakta/data, 2) tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama, 3) selalu teliti dalam bekerja, 4) menaati peraturan yang berlaku di restoran, dan 5) peduli/perhatian terhadap sesama.

(18)

62 5. Cleaner

Indikator budaya jujur untuk bagian cleaner, yaitu tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama. Indikator tersebut dinilai dengan mengamati perilaku responden untuk tidak mencuri/mengambil barang yang bukan haknya (uang tip/barang tamu yang tertinggal).

Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti dalam membersihkan meja/lesehan/lantai sampai bersih.

Indikator kedua mencakup perilaku dapat menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua mencakup kegiatan membersihkan meja/lesehan sesuai dengan langkah-langkah yang diajarkan. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk.

Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat timbul masalah.

Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Pada Tabel 24 terlihat bahwa karyawan bagian cleaner paling menerapkan budaya jujur, konsisten, dan peduli. Hal ini dikarenakan karyawan bagian cleaner rata-rata merupakan karyawan baru sehingga masih selalu melaksanakan hal yang disuruh dan berusaha untuk mematuhi peraturan yang ada. Selain itu, pekerjaan sebagai cleaner tidak sulit untuk dilakukan sehingga konsistensi dalam bekerja lebih terjaga.

Budaya harapan atau cita-cita memiliki rataan skor yang paling rendah.

Hal ini dikarenakan karyawan bagian cleaner rata-rata tergolong usia

(19)

63 dewasa muda dan karyawan baru. Responden belum dapat memberikan motivasi kepada karyawan lain karena responden juga masih membutuhkan tuntunan dari karyawan lain. Responden juga belum mempunyai keinginan yang besar dalam memberikan usaha yang lebih demi restoran. Insiatif karyawan bagian cleaner rata-rata masih kurang karena terkadang hanya menunggu perintah dari supervisor atau mengerjakan sesuatu saat diminta oleh konsumen. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) tidak menyembunyikan fakta/data, 2) tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama, 3) selalu teliti dalam bekerja, 4) menaati peraturan yang berlaku di restoran, dan 5) Menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan, 6) peduli/perhatian terhadap sesama, 7) bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan, dan 8) menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama.

Tabel 24. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Cleaner

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor Jujur Tidak melakukan perbuatan yang

tercela 4 4

Profesional Selalu teliti 3,25

Mempunyai inisiatif 2,75 3

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 4

3,75 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 3,5

Peduli Peduli terhadap sesama 4

3,63 Bertanggung jawab terhadap

tindakan yang akan dan telah dilakukan

3,25 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 3,5

2,75 Memberikan usaha melebihi kondisi

normal atau di luar jam kerja 2

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

6. Cook

Indikator budaya jujur untuk bagian cook, yaitu berbicara sesuai fakta/data. Indikator tersebut dinilai dengan mengamati kegiatan pelaporan seluruh stock opname dapur. Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif.

(20)

64 Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap membaca pesanan atau mendengarkan pesanan makanan yang dibacakan oleh checker. Indikator kedua mencakup perilaku dapat menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua dinilai melalui kemampuan bagian cook untuk selalu menjaga kesamaan rasa, bentuk, dan mutu makanan yang dibuat. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk.

Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat timbul masalah.

Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Tabel 25. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Cook

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Bagian

Rataan Skor

Jujur Berbicara sesuai fakta/data 4 4

Profesional Selalu teliti 3,67

3,52

Mempunyai inisiatif 3,36

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 3,72

3,5 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 3,28

Peduli Peduli terhadap sesama 3,22

3,12 Bertanggung jawab terhadap tindakan

yang akan dan telah dilakukan 3,02 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi sesama 3,56

3,21 Memberikan usaha melebihi kondisi

normal atau di luar jam kerja 2,86

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = paling diterapkan

Pada Tabel 25 terlihat bahwa karyawan bagian cook paling menerapkan budaya jujur, profesional, dan konsisten. Karyawan bagian cook dituntut untuk selalu bersikap profesional dan konsisten karena

(21)

65 merupakan salah satu bagian kerja inti dalam usaha restoran. Budaya peduli memiliki rataan skor yang paling rendah. Karyawan bagian cook merupakan bagian kerja yang memerlukan konsentrasi tinggi saat bekerja.

Saat ada waktu luang karyawan bagian cook rata-rata cenderung memilih untuk beristirahat. Karyawan bagian cook menjadi tidak dapat membantu karyawan lain yang sedang sibuk. Karyawan bagian cook juga terkadang mengalami kebingungan saat terjadi masalah, seperti persediaan atau stok habis, yang menandakan bahwa karyawan kurang menyiapkan kebutuhannya dengan baik. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) berbicara sesuai fakta/data, 2) mempunyai inisiatif, 3) menaati peraturan yang berlaku di restoran, dan 4) menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan, dan 5) menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama.

7. Food Checker

Indikator budaya jujur untuk bagian food checker, yaitu bertindak sesuai fakta/data. Indikator tersebut dinilai dengan mengamati kegiatan pengecekan pesanan makanan yang akan diantar ke pengunjung. Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan menekuni bidang pekerjaan yang dijalani. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap mengecek makanan yang akan diantar ke pengunjung. Indikator kedua dinilai dengan melihat kemampuan bagian food checker dalam mengatur agar makanan cepat keluar.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua dinilai melalui kemampuan bagian cook untuk selalu melakukan pengecekan makanan sesuai langkah yang diajarkan. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk.

Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja

(22)

66 untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat timbul masalah.

Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Pada Tabel 26 terlihat bahwa karyawan bagian food checker paling menerapkan budaya jujur dan peduli. Karyawan bagian food checker selalu bersedia membantu karyawan lain saat sedang sibuk, seperti membantu menghias piring saji saat koki sedang sibuk. Karyawan bagian food checker sering lupa untuk menulis nomor meja di baki saat makanan hendak diantar ke tamu sehingga terkadang terjadi salah pengiriman makanan. Budaya harapan atau cita-cita memiliki rataan skor yang paling kecil. Hal ini menandakan bahwa karyawan bagian food checker belum loyal terhadap pekerjaannya di restoran. Namun, responden sudah dapat menunjukkan perilaku yang baik saat berhadapan dengan orang lain sehingga dapat menjadi contoh yang baik. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) bertindak sesuai fakta/data, 2) menaati peraturan yang berlaku di restoran, 3) peduli/perhatian terhadap sesama, 4) bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan, dan 5) menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama.

Tabel 26. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Food Checker

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor

Jujur Bertindak sesuai fakta/data 4 4

Profesional Selalu teliti 3

Menekuni bidang pekerjaan yang 3

dijalani 3

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 4

3 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 2

Peduli Peduli terhadap sesama 4

3,63 Bertanggung jawab terhadap

tindakan yang akan dan telah dilakukan

3,25 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 4

2,75 Memberikan usaha melebihi

kondisi normal atau di luar jam kerja

1,5

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

(23)

67 8. Dishwasher

Indikator budaya jujur untuk bagian dishwasher, yaitu tidak menyembunyikan kebenaran suatu masalah. Indikator tersebut dinilai dengan mengamati perilaku melapor jika ada piring atau gelas yang pecah/retak atau peralatan mencuci yang tidak dapat dipakai lagi. Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan menekuni bidang pekerjaan yang dijalani. Indikator pertama mencakup perilaku teliti dalam mencuci sehingga tidak ada noda yang tertinggal. Indikator kedua dinilai dengan melihat kemampuan bagian dishwasher dalam mencuci piring dengan cepat dan bersih.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua dinilai dengan melihat apakah karyawan bagian dishwasher selalu memakai perlengkapan kerja yang disarankan. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk.

Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat timbul masalah.

Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Pada Tabel 27 terlihat bahwa karyawan bagian dishwasher paling menerapkan budaya jujur dan konsisten. Pekerjaan sebagai dishwasher cenderung monoton dan spesifikasinya tidak banyak. Akibatnya, konsistensi dalam bekerja dapat lebih terjaga. Namun, pekerjaan sebagai dishwasher menyebabkan karyawan terlalu sibuk sehingga jarang memerdulikan situasi sekitar. Karyawan juga terlihat jarang bersedia memberikan usaha lebih karena merasa bekerja sesuai jadwal saja sudah cukup melelahkan. Namun, responden dapat menunjukkan perilaku yang

(24)

68 baik saat berhadapan dengan orang lain, seperti selalu mengerjakan hal yang disuruh dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) tidak menyembunyikan kebenaran suatu masalah, 2) menaati peraturan yang berlaku di restoran, dan 3) menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama.

Tabel 27. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Dishwasher

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor Jujur Tidak menyembunyikan kebenaran

suatu masalah 3,33 3,33

Profesional Selalu teliti 3

Menekuni bidang pekerjaan yang 3

dibebankan 3

Konsisten Menaati peraturan 4

Menjalankan tugas berdasarkan 3,5

standarisasi 3

Peduli Peduli terhadap sesama 2,33

2,67 Bertanggung jawab terhadap

tindakan yang akan dan telah dilakukan

3 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 3,67

2,67 Memberikan usaha melebihi

kondisi normal 1,67

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = sangat diterapkan

9. Bartender

Indikator budaya jujur untuk bagian bartender, yaitu bertindak sesuai fakta/data. Indikator tersebut dinilai dengan mengamati kegiatan pelaporan seluruh stock opname buah dan plastik kepada pemilik.

Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti dalam bekerja dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap menghitung stock opname buah dan plastik serta teliti setiap membaca pesanan minuman pengunjung. Indikator kedua dinilai dengan melihat kemampuan bagian bartender dalam menentukan sendiri kapan mengerjakan suatu pekerjaan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku

(25)

69 masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua dinilai dengan melihat kemampuan karyawan bagian bartender untuk selalu membuat minuman baik dari segi langkah maupun rasa sesuai standar. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan.

Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk. Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat timbul masalah. Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Tabel 28. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Bartender

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Indikator

Rataan Skor

Jujur Bertindak sesuai fakta/data 4 4

Profesional Selalu teliti 3,5

3,25

Mempunyai inisiatif 3

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku di

restoran 3,5

3,75 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 4

Peduli Peduli terhadap sesama 3

3,13 Bertanggung jawab terhadap

tindakan yang akan dan telah dilakukan

3,25 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 4

2,75 Memberikan usaha melebihi

kondisi normal atau di luar jam kerja

1,5

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = paling diterapkan

Pada Tabel 28 terlihat bahwa karyawan bagian bartender paling menerapkan budaya jujur, profesional, dan konsisten. Karyawan bagian bartender tergolong karyawan lama sehingga memiliki pengalaman kerja yang lama dan mampu menjaga konsistensi dalam membuat minuman.

Karyawan juga jarang melakukan kesalahan dalam membuat minuman karena selalu berusaha untuk teliti. Budaya harapan atau cita-cita memiliki

(26)

70 nilai terendah karena karyawan bagian bartender selama tahap implementasi hampir tidak pernah memberikan usaha lebih untuk restoran.

Hal ini dikarenakan responden hanya bekerja sebagai bartender dan kurang mempunyai keinginan untuk membantu di luar jam kerja. Restoran Karimata tidak terlalu mengatur mengenai jadwal lembur (bekerja di luar jam kerja) para karyawan. Hal ini menyebabkan kesediaan beberapa karyawan untuk bekerja di luar jam kerja menjadi rendah. Namun, responden dapat menunjukkan perilaku yang baik saat berhadapan dengan orang lain. Hal ini dikarenakan karyawan bagian bartender memiliki pengalaman kerja yang lebih lama sehingga sudah mengenal lingkungan kerjanya dengan baik. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) bertindak sesuai fakta/data, 2) selalu teliti dalam bekerja, 3) menaati peraturan yang berlaku di restoran, 4) menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan, 5) bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan, dan 6) menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama.

10. Driver

Penilaian indikator-indikator khusus untuk karyawan bagian driver sebagian besar dilakukan dengan cara wawancara mendalam dengan karyawan tersebut. Hal ini dikarenakan hampir keseluruhan tugas yang dikerjakan dilakukan di luar restoran sehingga tidak dapat diamati oleh peneliti. Indikator budaya jujur untuk bagian driver terdiri dari dua indikator, yaitu berbicara sesuai fakta/data dan tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama. Indikator pertama dilakukan dengan mengamati kegiatan pelaporan seluruh nota belanja kepada pemilik. Indikator kedua dilakukan dengan mengamati perilaku responden untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan haknya (uang belanja). Indikator budaya profesional terdiri dari dua indikator, yaitu selalu teliti memasukkan input data pesanan konsumen dan mempunyai inisiatif. Indikator pertama mencakup perilaku teliti setiap melakukan transaksi (tidak salah bayar). Indikator kedua

(27)

71 mencakup perilaku dapat menentukan sendiri dimana harus mencari bahan yang sedang tidak tersedia di tempat langganan.

Indikator budaya konsisten terdiri dari dua indikator, yaitu menaati peraturan yang berlaku di restoran dan menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan. Indikator pertama mencakup perilaku masuk kerja tepat waktu. Indikator kedua mencakup kegiatan membeli bahan-bahan dengan harga dan kualitas yang ditetapkan oleh pemilik. Indikator budaya peduli terdiri dari dua indikator, yaitu peduli/perhatian terhadap sesama dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang akan dan telah dilakukan. Indikator pertama mencakup perilaku membantu karyawan lain jika karyawan lain sedang sibuk. Indikator kedua terdiri dari mempersiapkan kebutuhan dalam bekerja untuk mengantisipasi masalah serta cepat/tanggap saat terjadi kekurangan/kehabisan stok. Indikator budaya harapan atau cita-cita terdiri dari dua indikator, yaitu menjadi contoh/teladan yang baik bagi sesama dan memberikan tenaga atau usaha melebihi kondisi normal atau di luar jam kerja.

Tabel 29. Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Driver

Budaya Indikator Rata-Rata

Per Bagian

Rataan Skor

Jujur Berbicara sesuai fakta/data 4

4 Tidak melakukan perbuatan yang

tercela 4

Profesional Selalu teliti 4

Mempunyai inisiatif 4 4

Konsisten Menaati peraturan yang berlaku 3

3,5 Menjalankan tugas berdasarkan

standarisasi 4

Peduli Peduli terhadap sesama 3

Bertanggung jawab terhadap 3 tindakan yang akan dan telah dilakukan

3 Harapan atau

Cita-Cita

Menjadi contoh yang baik bagi

sesama 3

Memberikan usaha melebihi 3

kondisi normal 3

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan; 1,75-2,49 = jarang diterapkan; 2,5-3,24 = sering diterapkan; 3,25-4 = paling diterapkan

(28)

72 Pada Tabel 29 terlihat bahwa karyawan bagian driver paling menerapkan budaya jujur, profesional, dan konsisten. Hal ini menandakan bahwa karyawan bagian driver dapat menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan arahan pemilik tetapi juga berani berinisiatif.

Namun, karyawan bagian driver juga sering menerapkan budaya peduli dan harapan atau cita-cita. Hal ini dikarenakan driver hanya bekerja saat diperlukan sehingga waktu luangnya seharusnya dapat digunakan untuk mengerjakan hal lain. Karyawan bagian driver sering bersedia long shift dan belanja ke pasar pada pagi hari. Artinya, karyawan tersebut telah cukup memberikan usaha yang lebih untuk restoran. Indikator budaya yang paling diterapkan adalah 1) berbicara sesuai fakta/data, 2) Tidak melakukan perbuatan yang tercela/dilarang oleh agama, 3) selalu teliti dalam bekerja, 4) Mempunyai inisiatif, dan 5) menjalankan tugas berdasarkan standarisasi yang telah ditetapkan.

7.5 Tahap Pemeliharaan

Tahap ini diawali dengan mengevaluasi rataan skor hasil uji coba penerapan budaya perusahaan Restoran Karimata. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui hasil penerapan budaya secara keseluruhan, budaya yang paling diterapkan oleh seluruh karyawan, dan bagian kerja yang paling menerapkan budaya secara keseluruhan.

Tabel 30. Hasil Evaluasi Penerapan Budaya “Hi-Five” Selama 14 Hari Bagian Kerja

Budaya Restoran Karimata

Total Jujur Profesional Konsisten Peduli Harapan

Cashier 4 3 4 3,5 3,5 3,60

Billing Service 4 2,5 3,25 3,13 2,5 3,08

Supervisor 3,25 3 3,75 3,5 3,25 3,35

Waiter/ss 4 3,13 3,32 3,44 2,32 3,24

Cleaner 4 3 3,75 3,63 2,75 3,43

Cook 4 3,52 3,5 3,12 3,21 3,47

Food Checker 4 3 3 3,63 2,75 3,28

Dishwasher 3,33 3 3,5 2,67 2,67 3,03

Bartender 4 3,25 3,75 3,13 2,75 3,38

Driver 4 4 3,5 3 3 3,50

Total 3,86 3,14 3,53 3,28 2,87 3,34

Keteranganː 1-1,74 = tidak diterapkan, 1,75-2,49 = jarang diterapkan, 2,5-3,24 = sering diterapkan, 3,25-4 = sangat diterapkan

(29)

73 Pada Tabel 30 terlihat bahwa budaya jujur dan konsisten merupakan budaya yang paling diterapkan oleh karyawan karena rataan skor di atas rataan total. Rataan skor budaya jujur adalah yang tertinggi. Peneliti mengamati dan menilai sendiri tahap implementasi budaya perusahaan sehingga peneliti memilih indikator yang sesuai dengan kemampuan peneliti dalam menilainya. Pemilihan indikator budaya jujur dilakukan berdasarkan kegiatan atau perilaku yang dapat dinilai secara langsung oleh peneliti. Hal ini menyebabkan budaya jujur hanya dapat dinilai dari luar saja atau hanya berdasarkan pengamatan sekilas. Bahkan, terdapat beberapa bagian kerja yang hanya memiliki satu indikator saja dalam menilai penerapan budaya jujur. Karyawan secara keseluruhan telah menerapkan budaya jujur dengan baik jika melalui penilaian secara eksplisit. Budaya konsisten adalah budaya dengan rataan skor tertinggi kedua. Hal ini dikarenakan sejak awal Restoran Karimata menegaskan agar karyawan selalu menjaga konsistensi yang tercermin dalam moto Restoran Karimata. Selain itu, pada saat briefing, pemilik lebih dahulu menjelaskan beberapa standarisasi yang harus dilakukan oleh masing-masing bagian kerja. Bersamaan dengan tahap penerapan budaya Restoran Karimata, sistem reward and punishment lebih diperketat kepada karyawan dalam menjalankan peraturan yang berlaku.

Tiga budaya dengan rataan skor di bawah rataan total, yaitu budaya profesional, peduli, dan harapan atau cita-cita. Namun, budaya peduli masih tergolong budaya yang sangat diterapkan oleh para karyawan. Hal ini dikarenakan sekitar 63,89 persen karyawan Restoran Karimata tergolong karyawan baru dan sekitar 72,22 persen tergolong usia dewasa muda. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar karyawan belum memiliki pengalaman bekerja yang lama di restoran sehingga mereka masih dalam proses adaptasi. Rataan skor budaya harapan atau cita-cita yang memiliki rataan skor terendah juga menandakan bahwa sebagian besar karyawan, saat ini belum loyal terhadap pekerjaan yang mereka jalani. Selain itu, budaya harapan atau cita-cita merupakan salah satu budaya yang agak sulit untuk dinilai penerapannya karena tergantung pada diri setiap individu dan tidak dapat dipaksakan pelaksanaannya. Hal ini menyebabkan penerapan budaya harapan atau cita-cita membutuhkan waktu yang lebih lama daripada budaya lain untuk dapat diterapkan oleh para karyawan. Budaya harapan

Gambar

Tabel 17.  Nilai Budaya dengan Rataan Skor Tertinggi bagi Pemasok
Tabel 18.  Elemen Budaya Artifacts Restoran Karimata  Elemen Artifacts  Warna Seragam  Coklat dan Krem
Tabel 19.  Gabungan Nilai-Nilai Budaya dengan Rataan Skor Tertinggi
Tabel 20.  Hasil Penerapan Budaya “Hi-Five” Bagian Cashier
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penetapan kadar sari larut dalam air bertujuan untuk memberikan gambaran awal jumlah kandungan senyawa kimia bersifat polar yang dapat diekstraksi, hasil rata-rata yang

Pemberian pollen substitute dilakukan pada saat: (1) Tidak tersedia atau berkurangnya bunga sebagai sumber serbuk sari alami, (2) Serbuk sari alami yang tersedia berkualitas

Teknik ini Perangkat lunak Geolistrik Progress dilakukan untuk memperoleh data struktur versi 3.0 digunakan untuk memodelkan kurva geologi baw ah-permuka an secara ve rtikal,

Jadi setelah melakukan ihram (rukun 1) lalu wukuf (rukun 2), dilanjutkan dengan melempar Jamrah Aqabah, sesorang haji telah diperbolehkan untuk elakukan tahallul pertama.. Orang

Johor Labis Palm Oil Mill PO1000003713 Achi Jaya Plantation Sdn Bhd Lot 677, Jalan Kilang, 85400 Chaah, Johor. LKPP

Karena ada beberapa faktor yang membatasi produksi optimal seperti (bahan baku, kapasitas mesin, tenaga kerja, modal/dana dan jumalah permintaan atau jumlah penjualan) maka

Setelah tahap analisis sistem lama selesai dilakukan dan mendapat kesimpulan bahwa sistem lama masih terdapat kelemahan-kelemahan, maka diperlukan pembangunan sistem

168 Mitra Keluarga Cikarang, RS Jawa Barat Bekasi Jl. Legenda Raya No. Alternatif Cibubur Cileungsi KM 3.5 no. Dasa Darma No. Kaliabang Tengah no.. Raya Parung no. Perdana Raya No.