• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap III: Tahap Evaluasi/Pengujian Model

Tahap I : Studi Pendahuluan

1. tahap studi pendahuluan dilakukan dengan menerapkan pendekatan deskriptif

kualitatif. Studi kualitatif diawali dengan studi literatur, kemudian studi lapangan tentang produk yang akan dikembangkan.

2. Pada studi pendahuluan ini diakhiri dengan ” deskrips dan analisis temuan (Model

Faktual)

Tahap II : Tahap Pengembangan Model

Dalam tahap ini hendaknya memuat butir-butir

1. Model pengembangan (desain Produk)

Model pengembangan dapat berupa model prosedural, model konseptual, dan model teoretik. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model konseptual adalah model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen (misalnya model pengembangan rancangan pengajaran Dick dan Carey, 1985). Model teoretik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa.

Dalam bagian ini perlu dikemukakan secara singkat struktur model yang digunakan sebagai dasar pengembangan produk. Apabila model yang digunakan merupakan adaptasi dari model yang sudah ada, maka pemilihannya perlu disertai dengan alasan, komponen- komponen yang disesuaikan, serta kekuatan dan kelemahan model itu.

Apabila model yang digunakan dikembangkan sendiri, maka informasi yang lengkap mengenai setiap komponen dan kaitan antarkomponen dari model itu perlu dipaparkan. Perlu diperhatikan bahwa uraian model diupayakan seoperasional mungkin sebagai acuan dalam pengembangan produk.

2. Validasi desain

Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk lebih efektif atau tidak. Dalam tahap ini vadasi masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta dilapangan. Validasi produk dpat dilakukan dengan mengahdirkan beberapa pakar.

STKIP MUHAMMADIYAH BUKU PEDOMAN PENYUSUNAN PROPOSAL DAN

KUNINGAN PENULISAN SKRIPSI

3. Revisi Desain 4. Uji coba produk

Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya tarik dari produk yang dihasilkan.

Dalam butir uji coba produk secara terbatas perlu diungkapkan

(a) desain uji coba

Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Dalam kegiatan pengembangan, pengembang mungkin hanya melewati dan berhenti pada tahap uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok kecil, atau sampai uji lapangan. Hal ini sangat tergantung pada urgensi dan data yang dibutuhkan melalui uji coba itu.

Desain uji coba produk bisa menggunakan desain yang biasa dipakai dalam penelitian kuantitatif, yaitu desain deskriptif atau eksperimental. Yang perlu diperhatikan adalah ketepatan memilih desain untuk tahapan tertentu (perseorangan, kelompok kecil, atau lapangan) agar data yang dibutuhkan untuk memperbaiki produk dapat diperoleh secara lengkap.

(b) subjek uji coba

Karakteristik subjek uji coba perlu diidentifikasi secara jelas dan lengkap, termasuk cara pemilihan subjek uji coba itu. Subjek uji coba produk bisa terdiri dari ahli di bidang isi produk , ahli di bidang perancangan produk, dan/atau sasaran pemakai produk. Subjek uji coba yang ahli di bidang isi produk dapat memiliki kualifikasi keahlian tingkat S1 (untuk skripsi), S2 (untuk tesis), dan S3 (untuk disertasi). Yang penting setiap subjek uji coba yang dilibatkan harus disertai identifikasi karekteristiknya secara jelas dan lengkap, tetapi terbatas dalam kaitannya dengan produk yang dikembangkan.

Teknik pemilihan subjek uji coba juga perlu dikemukakan agak rinci.

(c) jenis data

Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Dalam konteks ini sering pengembang tidak bermaksud mengumpulkan data secara lengkap yang mencakup ketiganya. Bisa saja, sesuai dengan kebutuhan pengembangan,pengembang hanya melakukan uji coba untuk melihat daya tarik dari suatu produk, atau hanya untuk melihat tingkat efisiensinya, atau keduanya.

Penekanan pada efisiensi suatu pemecahan masalah akan membutuhkan data tentang efisiensi produk yang dikembangkan. Begitu pula halnya dengan penekanan pada keefektifan atau daya tarik. Atas dasar ini, maka jenis data yang perlu dikumpulkan harus disesuaikan dengan informasi apa yang dibutuhkan tentang produk yang dikembangkan itu.

Paparan mengenai jenis data yang dikumpulkan hendaknya dikaitkan dengan desain dan pemilihan subjek uji coba. Jenis data tertentu, bagaimanapun juga, akan menuntut desain tertentu dan subjek uji coba tertentu.

Misalnya, pengumpulan data mengenai kecermatan isi dapat dilakukan secara perseorangan dari ahli isi, atau secara kelompok dalam bentuk seminar kecil, atau seminar yang lebih luas yang melibatkan ahli isi, ahli desain, dan sasaran pemakai produk.

(d) instrumen pengumpulan data

Bagian ini mengemukakan instrumen yang digunakan untuk

mengumpulkan data seperti yang sudah dikemukakan dalam butir sebelumnya. Jika mengunakan instrumen yang sudah ada, maka perlu ada uraian mengenai karakteristik instrumen itu, terutama mengenai keshahihan dan keterandalannya. Apabila instrumen yang digunakan dikembangkan sendiri, maka prosedur pengembangannya juga perlu dijelaskan.

(e) teknik analisis data.

Teknik dan prosedur analisis yang digunakan untuk menganali-sis data uji coba dikemukakan dalam bagian ini dan disertai alasannya. Apabila teknik analisis yang digunakan sudah cukup dikenal, maka uraian tidak perlu rinci sekali. Akan tetapi, apabila teknik tersebut belum banyak dikenal, maka uraian perlu lebih rinci

5. Revisi Produk,

Revisi Produk ini dilakukan apabila dalam pemakaian kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelemahan

6. Evaluasi dan Penyempurnaan,

7. Model Hipotetik (Model akhir hasil revisi pada tahap pengembangan model) Tahap III : Tahap Evaluasi/Pengujian Model

Setelah pengujuan terhadap produk berhasil, maka selanjutnya produk tersebut diterapkan dalam kondisi nyata untuk lingkup yang lebih luas. Dalam tahap ini, dignakan metode eksperimen. Setelah pngujian model, masih dimungkinkan ada revisi produk, kemudian barulah menjadi MODEL FINAL, yang siap untuk DISEMINASI.

C. Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian harus jelas dan jadwal ini merupakan agenda peneliti yang harus dilaksanakan setiap bulanya selama satu semester sebagaimana tabel di bawah ini dan peneliti menulis agendanya sendiri-sendiri selama proses penelitian dengan berurutan dan diberi tanda atau warna:

STKIP MUHAMMADIYAH BUKU PEDOMAN PENYUSUNAN PROPOSAL DAN

KUNINGAN PENULISAN SKRIPSI

Sistematika Penulisan Proposal Penelitian R & D (Research and Development)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Pengembangan

D. Pentingnya Pengembangan

E. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

F. Asumsi Dan Keterbatasan Pengembangan

G. Definisi Istilah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

B. Penelitian Yang Relevan

C. Kerangka Berpikir

D. Rancangan Model

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

B. Prosedur Penelitian/ Pengembangan

Tahap I : Studi Pendahuluan

Tahap II : Tahap Pengembangan Model

a. Model Pengembangan (Desain Produk)

b. Validasi Desain

c. Revisi Desain

d. Uji Coba Produk

a. Desain Uji Coba

b. Subjek Uji Coba

c. Jenis Data

d. Instrumen Pengumpulan Data

c. Teknik Analisis Data

a. Revisi Produk

b. Evaluasi Dan Penyempurnaan

c. Model Hipotetik (Model Akhir Hasil Revisi pada Tahap Pengembangan Model)

Tahap III : Tahap evaluasi/Pengujian model

C. Jadwal Penelitian

BAB II

PENULISAN SKRIPSI A. Pengertian Skripsi

Skripsi adalah karya ilmiah resmi seorang mahasiswa untuk mernyelesaikan program Sarjana (S1) dan memperoleh gelar sarjana pada program studi yang ditekuninya. Skripsi merupakan bukti kemampuan akademik mahasiswa dalam penelitian yang berhubungan dengan bidang keahliannya. Penyusunan skripsi didasarkan pada kajian ilmiah yang didahului oleh penelitian pustaka dan atau penelitian lapangan, serta hasil akhir dipertanggungjawabkan secara resmi dan terbuka kepada komunitas ilmiah dalam sidang skripsi.

B. Karakteristik

Sebagai karya ilmiah, skripsi memiliki karakteristik yang membedakannya dengan karya ilmiah lain. Skripsi disusun dengan karakteristik sebagai berikut:

1. mengarahkan pada eksplorasi permasalahan atau pemecahan masalah dan topik-topik

bidang keilmuan yang sesuai dengan program studi yang ditempuh;

2. ditulis atas dasar hasil penelitian lapangan dan /atau penelitian pustaka yang relevan;

3. ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar;

4. skripsi berbobot 6 SKS ;

C. Fungsi dan Kedudukan Skripsi

Skripsi berfungsi sebagai media publikasi hasil penelitian ilmiah masyarakat perguruan tinggi dalam rangka pengembangan ilmu, khususnya dalam ilmu pendidikan. Dalam jangkauan yang lebih luas, skripsi juga dapat menjadi media komunikasi dalam masyarakat ilmiah pada umunya, apabila memenuhi syarat untuk dipublikasikan secara luas.

D. Wilayah Penelitian Skripsi

Wilayah kajian setiap jurusan secara umum disesuaikan dengan visi dan misi jurusan, dan memperhatikan kontekstualisasi pendidikan dan perkembangannya.

E. Bimbingan Skripsi

1. Persyaratan

a. Telah lulus minimal 75% dari seluruh mata kuliah dengan IPK minimal 2,75

b. Telah lulus mata kuliah Metodologi Penelitian dengan nilai minimal 2,0.

2. Prosedur bimbingan

a. Tahap persiapan

b. Pemilihan wilayah kajian hendaknya didiskusikan tersebih dahulu dengan dosen

pembimbing akademik.

c. Mahasiswa menyusun proposal skripsi sesuai dengan wilayah kajian yang sudah

disetujui ketua prodi dan berkonsultasi dengan dosen wilayah kajian, selanjutnya menjadi dosen pembimbing skripsi.

d. Selain dengan dosen wilayah kajian yang telah ditunjuk, mahasiswa dianjurkan juga

untuk berkonsultasi dengan dosen lain yang ahli pada bidang yang relevan dengan masalah penelitian dalam proposal itu untuk mempertajam rumusan masalah dan mendapatkan rancangan skripsi yang lebih lengkap.

e. Setelah mendapat persetujuan dosen wilayah kajian, mahasiswa mengajukan proposal

STKIP MUHAMMADIYAH BUKU PEDOMAN PENYUSUNAN PROPOSAL DAN

KUNINGAN PENULISAN SKRIPSI

f. Dalam seminar proposal, mahasiswa akan mendapatkan masukan yang berguna untuk

penyempurnaan proposal skripsi.

g. Proposal yang telah disetujui diajukan kepada ketua prodi untuk mendapatkan penentapan

dan penunjukan pembimbing.

h. Pembimbing resmi akan ditetapkan dengan SK Ketua. Bersaman dengan itu, mahasiswa

juga mendapatkan surat pengantar untuk melakukan penelitian ke lokasi yang telah ditentukan.

BAB III

TEKNIK PENULISAN SKRIPSI A. Ketentuan Umum

Beberapa ketentuan umum yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa dalam menulis Skripsi adalah:

1. Isi Skripsi

a. Bagian Awal. Bagian awal Skripsi meliputi Cover dalam, Lembar pernyataan Keaslian

Skripsi, Lembar Persetujuan Pembimbing, Lembar Pengesahan (setelah ujian), Biodata Diri, Abstrak, Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, dan Daftar Lampiran.

b. Bagian Isi/Bab. Bagian isi Skripsi berisi Bab I (Proposal/Pendahuluan), Bab II, Bab III, Bab

IV dan Bab V (Penutup).

c. Bagian Akhir. Bagian akhir Skripsi berisi daftar pustaka, lampiran- Tebal Skripsi.

2. Penggunaan Bahasa. Bahasa yang dipakai Skripsi adalah bahasa Indonesia baku dengan gaya

bahasa keilmuan yang bercirikan antara lain:

a. Berpedoman pada pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD)

dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Untuk Skripsi yang berbahasa Inggris diserahkan kepada masing-masing pembimbing.

b. Penulisan Skripsi harus menggunakan bahasa baku (formal) yaitu bahasa yang tidak

berbelit-belit, sistematis dan logis serta mudah dapat dipahami.

c. Penggunaan kata dan istilah harus mengacu pada Kamus Umum Bahasa Indonesia atau

kamus lain yang relevan dan otoritatif.

d. Kalimat dan paragraf tidak terlalu panjang.

e. Format dan tata cara penulisan harus konsisten.

f. Penulisan nama, kata atau kalimat yang berasal dari bahasa Arab yang belum diadopsi

dalam bahasa Indonesia harus berpedoman pada sistem transliterasi.

g. Tanda baca seperti titik, koma, titik dua, tanda seru, tanda tanya, tanda persen, tanda

penghubung, garis miring dan lainnya harus mengikuti pedoman ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

h. Untuk penulisan kata atau kalimat Arab yang belum diadopsi ke dalam bahasa

Indonesia, gunakanlah sistem transliterasi (sebagaimana dijelaskan di bawah).

B. Ketentuan Khusus

1. Cover Skripsi dibuat dari kertas tebal (hard cover) dengan warna merah tua. Pada sampul

tersebut dicetak judul Skripsi, nama lengkap mahasiswa S-1, baris SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH KUNINGAN dan tahun penyelesaian. Judul Skripsi, nama lengkap mahasiswa dan baris SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH KUNINGAN ditulis dengan

huruf kapital dan dicetak tebal. Judul Skripsi, kata “SKRIPSI”, nama mahasiswa, NIM, dan

Program Studi ditulis dengan huruf Time New Roman Capital ukuran 12 cetak tebal (bold). Kata oleh ukuran 12, cetak tebal.

2. Logo STKIP yang tercantum dalam Cover bentuknya transparan warna hitam-putih

STKIP MUHAMMADIYAH BUKU PEDOMAN PENYUSUNAN PROPOSAL DAN

KUNINGAN PENULISAN SKRIPSI

3. Kertas yang digunakan untuk pengetikan menggunakan kertas putih jenis HVS 80 gram

ukuran A4 (210 mm x 297 mm).

4. Jenis huruf yang digunakan Times New Roman dengan ukuran huruf (front size) 12. Khusus

untuk penulisan Bab dan Sub Bab ditulis dengan huruf Kapital yang tebal (Bold), dan

diletakkan di tengah-tengah kertas (aligment center).

5. Batas pengetikan (Margins)

a. Batas Atas/Top Margin = 4 cm.

b. Batas Bawah/Bottom Margin = 3 cm.

c. Batas Kiri/Left Margin = 4 cm.Batas Kanan/Right Margin = 3 cm.

d. Batas Header = 2 cm.

e. Batas Footer = 2 cm.

6. Spasi dan Paragraf :

a. Penulisan Skripsi dari Bab I dan Bab V adalah 2 spasi.

b. Abstrak ditulis dengan 1 spasi, tidak lebih dari satu halaman dan memuat secara singkat

latar belakang, rumusan masalah tujuan penelitian, metodologi penelitian, dan temuan penelitian.

c. Kata Pengantar Skripsi ditulis 1 ½ spasi.

d. Awal Paragaraf (paragraph ideantation) atau alenia baru diketik menjorok = 1 tab atau 7

ketukan dari kiri.

7. Penomoran Halaman (Page Numbers)

a. Penomeran halaman bagian awal Skripsi diletakkan di bagian bawah tengan (

buttom-centre) dengan menggunakan angka Romawi kecil (i, ii, iii, iv, dan seterusnya).

b. Penomeran halaman bagian isi dan bagian akhir Skripsi diletakkan di bagian bawah

kanan dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya, kecuali pada setiap halaman pertama Bab. Penomeran pada halaman pertama/awal setiap Bab diletakkan di bagian bawah tengah.

8. Numbering Bab, Sub bab dan sub dari sub bab.

a. Penomoran Bab menggunakan angka Romawi besar (I, II, III, dst).

b. Penomoran sub bab menggunakan Huruf Besar (A, B, C, dst).

c. Penomoran sub dari sub bab menggunakan angka (1, 2, 3, dst).

d. Jika di dalam sub dari sub bab masih terdapat perincian, penomoran menggunakan

huruf latin kecil (a, b, c, dst).

e. Apabila di dalam perincian tersebut masih terdapat perincian, penomoran menggunakan

angka yang diberi tanda kurung tutup 1). 2), 3), dst.

Secara lebih detail penjelasan penomoran Bab, sub bab, dan sub dari sub bab dapat dilihat pada contoh di bawah ini:

Gambar 2.1. Contoh Penomoran

BAB I

PENDAHULUAN

A. Sub Bab

1. Sub dari sub bab

Dokumen terkait