• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Peningkatan Konflik (Rising Action)

Dalam dokumen KEARIFAN RAJA-RAJA DALAM HIKAYAT RAJA PASAI (Halaman 40-47)

STRUKTUR RINGKASAN CERITA HRP Kisah dua raja bernama Raja Muhammad dan Raja Ahmad di

C. Tahap Peningkatan Konflik (Rising Action)

Tahap peningkatan konflik merupakan konflik yang terjadi sebelumnya semakin berkembang secara intensif yang mengarah kepada klimaks yang tidak dapat terhindari, seperti peristiwa-peristiwa yang mulai berkembang dalam HRP.

Terlihat dalam kutipan sebagai berikut: dalam negeri Samarlangga jikalau kita diam dalam negeri ini nescaya kitapun demikian lagi, karna kita duduk dalam negeri ini sekali-kali tiada ada memberi manfaat akan kita,

baik yang lain supaya kita dian di sana.” Setelah sesudah ia berbicara dua bersaudara demikian itu, maka pada ketika yang baik, maka keluarlah ia dari dalam negeri itu mengikuti jalan ke matahari mati daripada suatu perhentian datang kepada suatu perhentian. Maka takdir Allah taala maka sampailah ia kepada suatu negeri yang bernama biruan. Maka duduklah ia di sana, seorang sebelah sungai dalam negeri kedua bersudara.”

( HRP: 7)

Berdasarkan kutipan di atas, tinggalah Merah Silau dan Merah Hasum setelah peperangan usai. Merah Silau dan Merah Hasum pergi meninggalkan negeri Samarlangga kerena merasa tidak memberi manfaat lagi kepada mereka.

Maka Merah Silau dan Merah Hasum pergi dengan mengikuti arah matahari terbenam hingga sampai lah mereka di negeri bernama Biruan. Suatu hari Merah Silau pergi ke sungai untuk mencari ikan tetapi Merah Silau hanya menemukan gelang-gelang dibubuannya. Merah Silau membawa gelang-gelang itu lalu direbusnya hingga gelang-gelang itu berbuih dan berubah menjadi emas. Merah Silau menjadi kaya raya. Kabar Merah Silau yang mendapat gelang-gelang emas didengar oleh adiknya Merah Hasum, tetapi Merah Hasum tidak merespon. Merah Silau melakukan hal yang tidak terpuji yaitu siasat kerbau jalang yang tidak berguna kepada orang. Merah Hasum tidak sepemahaman dengan Merah Silau karena merasa malu atas tindakkan suadaranya, oleh karena itu Merah Silau meninggalkan Negeri Biruan. Merah Silau beristirahat kerena kelelahan di Bulu Telang dan bertemu Megat Sekandar yang sepemahaman dengannya. Megat Sekandar bermusyawarah dengan orang-orang besar di negeri itu untuk mengangkat Merah Silau menjadi raja. Megat Sekandar dan orang-orang dinegeri itu mengangkat Merah Silau menjadi raja di Rimba Jerana. Sultan Malikul Nasir

dan Merah Silau berperang setelah Merah Silau diangkat menjadi raja di Rimba Jerama, sesuai dengan kutipan cerita HRP sebagai berikut:

“Maka peranglah ia terlalu ramai; maka banyaklah orang yang mati dan terluka. Maka Sultan Malikul Nasir itu pun pecahlah perangnya lalu ia berlepas dirinya ke belakang gunung Telawas; maka dikubu-kubuinya oleh Merah Silau akan Sultan itu, lepas juga ia daripada kubunya. Maka di namai Merah Silau tempat itu Kubu, disebut orang sekarang. Maka sultan itu berlepas dirinya kepada suatu negeri. Maka sampailah ia kepada suatu jurang yang picik lagi dalam, maka tekersang hulubalangnya Sultan itu. Maka dinamai jurang dan negeri itu Pakersang. Maka Sultan Malikul Nasir pun lalu dari sana sampai ke Kumat.” (HRP: 11)

Berdasarkan kutipan diatas peningkatan konflik ditandai dengan Sultan Malikul Nasir lari ke belakang gunung Telawas karena peperangan sanagt hancur, kemudian Merah Silau membuat perangkap kepada Sultan Malikul Nasir sebagai pertahanan, tetapi Sultan Malikul Nasir melarikan diri kesuatu negeri. Megat Sekandar datang ke Kumat untuk berperang. Sultan Malikul Nasir kalah. Merah Silau menjadi raja Rimba Jerana.

Zaman Nabi Muhammad ada cerita bahwa Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wassalam) bersabda kepada sabahatnya di mekah untuk negeri Samudera. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:

“Maka bersabda ia kepada sahabat baginda di mekkah, demikian sabda baginda “bahawa ada peninggalanku wafat itu, ada sebuah negeri di bawah angin, samudera namanya; apabila ada didengar khabar negeri itu, maka kamu suruh sebuah kapal membawa perkakas alat kerajaan dan kamu bawa orang dalam negeri itu masuk agama Islam serta mengucapkan dua kalimat syahadat.”

(HRP: 12)

Berdasarkan kutipan di atas, bahwa pesan yang disampaikan oleh

negeri itu untuk menganut agama Islam. Allah Subhanahu Wataala akan menjadikan negeri itu sebagai wali terbanyak dari segala negeri. Langkah pertama yang dilakukannya adalah membawa seorang fakir dari negeri Mangiri.

Pada suatu hari Merah Silau pergi kehutan untuk berburu dengan membawa anjingnya bernama Pasai. Anjingnya menemukan seekor semut yang besar di atas tanah tinggi. Merah Silau membangun negeri di atas tanah tinggi itu bernama Samudera yang berarti semut yang sangat besar. Khalifah Syarif yang berada di Mekah mendengar kabar tentang negeri bernama Samudera. Ia memerintahkan syarif syeikh ismail membawa kapal dan perkakas alat kerajaan.

Khalifah syarif berpesan kepada Syarif Syeikh Ismail untuk singgah di negeri Mengiri dengan membawa seorang fakir ke Negeri Samudera. Pada awalnya Merah Silau bermimpi bertemu seseorang, kemudian orang itu memintanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengubah namanya menjadi Sultan Malikul Nasir, dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:

“Sebermula maka bermimpi Merah Silau dilihatnya dalam mimpinya itu ada seorang menampung dagunya dengan segala jarinya dan matanya pun ditutupnya dengan empat jarinya demikian katanya, “ hai Merah Silau, ucap olehmu dua kalimat syahadat.”(HRP:14)

“Maka ujarnya akan Merah Silau, “hai Merah Silau, engkaulah Sultan Malikul Saleh namamu, sekarang Islamlah engkau dengan mengucapakan dua kalimat syahadat itu, dan segala binatang yang hidup lagi halal engkau sembelih maka kaumakan, dan yang tiada disembelih jangan engkau makan.” HRP:14

“Maka sabda Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wassalam) akan Merah silau itu “tunduklah engkau kebawah” maka tunduklah merah silau kebawah, serta jaga ia daripada tidurnya maka dilihatnya kebawah sucilah. Maka katanya,

“ Asyhadu an laa ilaaha illallāh wahdahu, la sharika lahu, wa-ashhadu anna muhammad „abduhu wa-Rasuluhu.”

Berdasarkan kutipan diatas, Merah Silau terbangun dari tidur setelah mendengar perintah dari Rasulullah. Merah Silau mengucapkan dua kalimat syahadat. Merah Silau membaca Quran tiga puluh juz seorang diri tanpa bantuan orang lain. Kapal Syeikh Ismail sampai di Teluk Terli dan bertemu dengan penjala ikan. Syeikh Ismail mengetahui tentang Negeri Samudera bahwa pemimpinnya bernama Merah Silau yang bergelar Sultan Malikul Saleh dari penjala ikan itu. Syeikh ismail bertemu Sultan Malikul Saleh. Pertemuan Syeikh Ismail disambut baik oleh Sultan Malikul saleh. Syeikh ismail meminta Sultan Malikul Saleh mengucap dua kalimat syahadat. Setelah sesudah itu Syeikh Ismail mengumpulkan segala masyarakat yang ada di negeri itu, dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:

“Setelah sudah, maka disuruh oleh Syeikh Ismail himpunkan segala hulubalang dan segala rakyat besar kecil, dan tuha muda, laki-laki dan perempuan. Maka apabila sudah berhimpunlah sekaliannya, Maka diajar oleh Syeikh Ismail mengucap kalimat syahadat akan mereka itu sekalian. Maka segala mereka itu pun relalah ia mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tulus dan ikhas yakin hatinya. Sebab itulah dinamai negeri Samudera itu negeri Darulsalam, Karena tiada sekaliannya orang itu dengan digagahi dan dengan tiada dimusakatkannya dan dengan diperlelahkanya pada mengerjakan kerja masuk agama Islam.”(HRP: 16)

Berdasarkan kutipan di atas, bahwa seluruh rakyat yang berada di Negeri Samudera menganut agama Islam dan dinamai negeri Samudera itu menjadi negeri Darulsalam. Pakaian kerajaan yang dibawa dari mekkah di sematkan kepada Sultan Malikul Saleh. Syeikh Ismail memohon pulang dan Sultan Malikul Saleh membekalinya dengan oleh-oleh kapur barus, kemenyan, gaharu cendana, kelembek dan cengkeh sebanyak seratus bahara dan seorang fakir itu tinggal di

samudera untuk mengajarkan agama Islam. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:

“Setelah beberapa lama Syeikh Ismail di Samudera Darusalam, maka ia pun pun berdatang sembah kepada Sultan Malikul Saleh mohon kembali, maka Sultan pun menghimpunkan fidayah akan Khalifah Syarief seperti ambar dan kapur barus dan gaharu candana dan kemenyan dan khelembak dan cengkeh pala, sekaliannya itu ada kira-kira seratus bahara, maka sekalianya itu dipersembahkaan kepada Syeikh Ismail.” (HRP:16-17)

Sultan Malikul Saleh belum menikah. Para menteri dan hulubalangnya datang menghadap Sultan Malikul Saleh kemudian menyarankan untuk menikah agar keturunannya tetap berlanjut secara turun temurun. Sultan Malikul Saleh menerima saran para menterinya dan memerintahkan prajurit untuk mencari seorang wanita. Prajurit Sultan Malikul Saleh menganjurkan tiga orang putri kerajaan dari Raja Parlak. Sultan Malikul Saleh mengutus prajuritnya untuk menemui Raja Parlak. Raja Parlak menyambut utusan Sultan Malikul Saleh dan menjamunya bersama putri-putrinya. Sultan Malikul Saleh menikahi Putri Ganggang dari Raja Parlak. Setelah beberapa lama Putri Ganggang Hamil dan melahirkaan seorang anak laki-laki bernama Sultan Malikul Tahir kemudian diangkat menjadi raja. Sultan Malikul Saleh pergi ke hutan membawa anjingnya Pasai. Anjing itu menyalak karena menemukan seekor pelanduk duduk diatas tanah tinggi itu, kemudian Sultan Malikul Saleh membuka negeri diatas tanah tinggi itu. Anjing perburuan itu mati dan dikuburkan di atas tanah tinggi itu, kemudian tanah tinggi itu dinamai Pasai. Sultan Malikul Tahir dikarunia dua orang anak bernama Sultan Malikul Mahmud dan Sultan Malikul Mansur. Sultan Malikul Tahir mangkat dan jabatan diambil alih oleh Sultan Malikul Saleh karena

Malikul Saleh mengamanahkan Sultan Malikul Mahmud kepada Sayid Ghiatuddin dan Sultan Malikul Mansur kepada Sayid Semayamuddin untuk belajar berbagai ilmu. Setelah Sultan Malikul Saleh meninggal dunia, maka Kerajaan Pasai dipimpin oleh Sultan Malikul Mahmud dan Kerajaan Samudera dipimpin oleh Sultan Malikul Mansur. Hal dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut:

“Maka Sultan Malikul Mahmud itulah Kerajaan Pasai dan Sultan Malikul Mansur itulah kerajaan di Samudera. Maka negeri yang kedua itu pun terlalu ramai dan memberi segala rakyat dalam negeri itu beberapa daripada gajah dan kuda jenuh* makanannya dan beberapa daripada segala rezeki yang lain tiada terhisapkan banyak zaman baginda kedua bersuadara itu.” (HRP: 26)

Berdasarkan kutipan di atas, kedua bersaudara itu hidup dengan makmur.

Kehidupan seluruh rakyatnya diperhatikan oleh sultan malikul mahmud dan sultan Malikul Mansur dengan cara membagi rezeki berupa hewan peliharaan dan makanan kepada rakyat yang tidak habis-habis. Kejayaan Negeri Pasai terdengar sampai ke negeri Siam, maka Raja Siam memerintahkan untuk melengkapi kapal yang akan berangkat ke Pasai dengan tujuan meminta ufti (upeti ). Utusan raja siam yang berada dalam perahu menyampaikan maksud dan tujuannya kepada seorang laksamana utusan Sultan Malikul Mahmud, dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut:

“ Adapun perahu kami ini datangnya dari Benua Siam dan akan maksud kami disuruh oleh Raja Siam untuk meminta ufti negeri ini. Jikalau ada maksud seperti kami ini, niscaya kembalilah kami membawa ufti itu dan jikalau tidak demikian itu, niscaya kami pun perangilah negeri kamu ini, dan Talak Sejang panglimanya.”(HRP:27).

Berdasarkan kutipan di atas, utusan Raja Siam menyampaikan maksud dan

Talak Sejang akan menyerang Pasai jika tidak mendapatkan tujuannya. Seorang laksamana menyampaikan kabar yang didapatkannya kepada Sultan Malikul Mahmud mendengar hal itu Sultan Malikul Mahmud sangat marah, kemudian memerintahkan Sayid Ali Ghiatuddin mengumpulkan hulubalang dan seluruh rakyat untuk berperang. Talak Sejang mendengar kabar itu, kemudian memerintahkan seluruh prajuritnya naik ke darat untuk berperang. Peperangan antar kedua pihak membuat konflik semakin memuncak.

Dalam dokumen KEARIFAN RAJA-RAJA DALAM HIKAYAT RAJA PASAI (Halaman 40-47)

Dokumen terkait