KEARIFAN RAJA-RAJA DALAM HIKAYAT RAJA PASAI
SKRIPSI
DIKERJAKAN OLEH Netti Irawati Siregar
150702012
PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
KEARIFAN RAJA-RAJA DALAM HIKAYAT RAJA PASAI
SKRIPSI
NETTI IRAWATI SIREGAR
NIM : 150702012
KEARIFAN RAJA-RAJA DALAM HIKAYAT RAJA PASAI
OLEH: NETTI IRAWATI SIREGAR
ABSTRAK
Judul skripsi ini adalah “Kearifan Raja-Raja Dalam Hikayat Raja Pasai” adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini, bagaimanakah unsur intrinsik meliputi (alur,latar dan penokohan) dalam naskah HRP, bagaimana kearifan raja-raja dalam naskah HRP. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan unsur intrinsik meliputi (alur,latar dan penokohan) dalam naskah HRP, mendeskripsikan kearifan raja-raja dalam HRP. Teori yang penulis gunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah teori struktural dan teori kearifan (Jeilani). Metode yang digunakan penulis yaitu metode kualitatif deskritif,
Hasil yang penulis peroleh dalam HRP memiliki unsur intrinsik yang meliputi alur lurus, latar yang ada dalam HRP yaitu latar tempat, latar waktu dan latar sosial- sosial budaya dan tokoh dan penokohan raja-raja yang terdapat dalam HRP terdiri dari Raja Ahmad, Raja Muhammad, Merah Silau/Sultan Malikul Saleh, Sultan Malikul Mahmud, Sultan Malikul Mansur dan Sultan Ahmad Perumal Perumundal dan kearifan raja-raja dalam HRP yang terdiri atas raja harus memahami tugas dan tanggung jawab, penulis menemukan tugas dan tanggung jawab yaitu menerima keluhan masyarakat dan melindungi negeri dari ancaman. Raja harus beriman dan beramal saleh, penulis menemukan agam Islam sebagai iman yang diyakini dan beribadah dalam bentuk berdoa dan membaca Quran, raja menjadi contoh dimasa lalu, penulis menemukan contoh kegiatan yang tidak bermoral berupa inses dan kezaliman, raja bersikap sederhana, penulis menemukan rendah hati, sederhana dan bersyukur, raja harus mendampingi masyarakat, penulis menemukan Sultan Malikul Saleh berperang bersama rakyat, raja harus bersifat adil, penulis menemukan perilaku adil dalam pembagian warisan, perilaku adil menjatuhi hukum dan perilaku adil dalam pembagian derma, raja menghormati tokoh agama, penulis menemukan menerima perintah pengucapan kembali dua kalimat syahadat, Raja yang bijaksana, penulis menemukan pemimpin yang kurang bijaksana dalam menjatuhi hukuman karena seorang perempuan yang tidak direstuinya, raja harus memiliki sifat kasih sayang, penulis menemukan kasih sayang tehadap bawahan dan rakyat dan kasih sayang dalam konteks pengasuhan, raja harus memiliki kepribadian yang baik, penulis menemukan kepribadian yang religius dan idealisme.
Kata kunci: Hikayat Raja Pasai (HRP), Kearifan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini berjudul “Kearifan Raja-Raja Dalam Hikayat Raja Pasai” suatu kajian sosiologi sastra.
Skripsi ini terdiri atas 5 bab. Bab pertama membahas pendahuluan, yang terdiri atas latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Pada bab kedua, membahas kajian pustaka, yang terdiri atas kepustakaan yang relevan dan teori yang digunakan. Pada bab ketiga, membahas tentang isi dari permasalahan beserta hasil-hasil yang diperoleh. Bab kelima, kesimpulan dan saran.
Penulisan proposal ini, disusun dengan semaksimal mungkin dengan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat memperlancar pembuatan proposal ini. untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang berkontribusi untuk penyelesaian proposal ini
Penulis sudah berusaha namun menyadari bahwa penulisan skripsi ini belum sempurna dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca untuk lebih menyempurnakan skripsi ini.
Medan, 04 Maret 2019 PENULIS
Netti Irawati Siregar 150702012
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dalam proses penyelesaian skripsi ini, banyak orang-orang yang telah mendukung pengkaji, sehingga skripsi ini, banyak orang-orang yang telah mendukung penkaji, sehingga skripsi ini akhirnya terselesaikan dengan baik pada kesempatan ini pengkaji mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara
2. Ibunda Dr. Rozanna Mulyani, M.A, selaku Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibunda Dra. Mardiah Mawar Kembaren, M.A, Ph.D sebagai sekretaris program studi Bahasa dan Sastra Melayu, fakultas ilmu budaya, universitas sumatera utara, sekaligus dosen pembimbing pengkaji yang telah membimbing, memotivasi, mendoakan, memberikan saran dan nasehat kepada pengkaji dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak/ibu staf pengajar Program Studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama bangku perkuliahan
5. Kak Tri dan Bang Prayogo, yang telah benyak membantu dalam proses penyelesaian berkasberkas yang terkait pada skripsi penulis
6. Ayahanda tersayang Abidin siregar dan ibunda tersayang Estemina Baringin, yang telah memberikan motivasi, kasih sayang, dan
dorongan serta doa yang sangat luar biasa kepada penulis, sehingga akhirnya pengkaji dapat belajar sampai dijenjang pendidikan perkuliahan, dan dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
7. Saudara-saudara penulis terutama Nella Mei Siregar yang selalu membantu dan memberi semangat kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini.
8. Teman-teman yang penulis sayangi penulis Sastra Melayu 2015, yang telah berjuang bersama-sama menyelesaikan perkuliahan. Terima kasih terkhusus Khairunnisa Rambe, Risa Mawarni, Melati Manik, Raka Gunaika, Muhammad nawawi, Nuriyati dan Atika kalian tidak pernah penulis lupakan, kalian adalah teman seperjuangan selama masa perkuliahan, semoga hubungan persahabatan kita tetapberjalan dengan baik
9. Sahabat pengkaji Khairunnisa Rambe, Yunne elisa Simanungkalit, Kinan Prasasti Marpaung, Kiki kristiani Daulay Munthe, Riska Trinanda, Anton wicaksono, dan Ulil Amri Daulay yang selalu setia menemani pengkaji, memberi semangat, mengingatkan pengkaji ketika jenuh dalam penulisan skripsi ini.
10. Teman sepengurusan UKM pramuka Universitas Sumatera Utara 2019 yang selalu mendukung, mendoakan dan menyemangati penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Medan, 08 oktober 2019 Penulis , Netti Irawati Siregar
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...I
KATA PENGANTAR ... IV
DAFTAR ISI ... VII
DAFTAR DIAGRAM ... X
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Batasan Masalah ... 5
1.3.Rumusan Masalah ... 5
1.4.Tujuan Masalah ... 5
1.5.Manfaat Penelitian ... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 KAJIAN YANG RELEVAN ... 7
2.2 TEORI YANG DIGUNAKAN ... 8
2.2.1 Teori Struktural ... 8
2.2.2 Kearifan ... 9
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 12
3.1. Metode Penelitian ... 12
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 12
3.4 Teknik Analisis Data . ... 13
BAB IV. PEMBAHASAN ... 14
4.1 Ringkasan Cerita HRP ... 14
4.2 Analisis Alur, Latar, dan Penokohan HRP ... 23
4.2.1 Alur Cerita HRP ... 23
4.2.2 Latar Cerita HRP ... 42
4.2.3 Tokoh dan Penokohan ... 53
4.3 Analisis Kearifan Raja-Raja Dalam HRP ... 59
4.3.1 Raja Memahami Tugas dan Tanggungjawab ... 60
4.3.2 Raja Harus Beriman dan Beramal Saleh ... 66
4.3.3 Raja Menjadi Contoh Dimasa lalu ... 68
4.3.4 Raja Bersifat Sederhana ... 73
4.3.5 Raja Harus Mendampangi Masyarakat ... 71
4.3.6 Raja Harus Bersifat Adil ... 76
4.3.7 Raja Menghormati Tokoh Agama ... 79
4.3.8 Raja Yang Bijaksana ... 80
4.3.9 Raja Harus Memiliki Sifat Kasih Sayang ... 81
4.3.10 Raja Memiliki Kepribadian Yang Baik ... 83
BAB V. KESIMPULAN... 87
5.1 Kesimpulan ... 87
5.2 Saran ... 91
DAFTAR PUSTAKA ... 92
LAMPIRAN ... 96
DAFTAR DIAGRAM
4.2.1 Diagram Alur ... 41
4.2.2 Diagram Latar ... 53
4.2.3 Diagram Tokoh Dan Penokohan ... 59
4.3.1 Diagram Raja Harus Memahami Tugas Dan Tanggung Jawab ... 65
4.3.2 Diagram harus memiliki iman dan beramal saleh ... 68
4.3.3 Diagram Raja Harus Sebagai Contoh Dimasa Lalu ... 73
4.3.4 Diagram raja bersifat sederhana ... 75
4.3.5 Diagram Raja Harus bersifat Sederhana ... 76
4.3.6 Diagram Raja harus mendampingi masyarakat ... 79
4.3.7 Diagram raja harus adil ... 80
4.3.8 Diagram Raja harus bijaksana ... 81
4.3.9 Diagram Raja memiliki kasih sayang ... 83
4.3.10 diagram raja berkepribadian baik ... 86
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Naskah tradisional Melayu merupakan hasil khazanah keintelektual masyarakat Melayu pada masa lampau. Naskah merupakan salah satu warisan nenek moyang berbentuk tulisan tangan yang mengandung berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai wujud hasil budaya masa lampau (Baried,1985:54).
Khazanah naskah Melayu merupakan rujukan berbagai bidang kajian tentang dunia Melayu, meliputi sejarah, sastra, budaya, pendidikan, filsafat dan ilmu lainnya yang mencerminkan kekayaan pemikiran serta kegemilangan Melayu yang perlu dipelihara, dinikmati dan dipelajari oleh generasi masa kini hingga generasi yang akan datang (Harun 2003:10). Naskah Melayu merupakan tradisi yang hidup di dalam masyarakat yang mencerminkan perkembangaan peradaban (civilization) regenerasi bangsa yang memilikinya (Amin, 2011:89).
Naskah Melayu pada umumnya berisi fikah, tauhid, tasawuf, tajwid, sejarah, undang-undang, hukum adat, hikayat dan syair (Harun, 2003:43). Amin (2011:89) mengatakan bahwa naskah berisi tentang ketuhanan, ajaran budi pekerti, sejarah, cerita rakyat (dogeng, legenda), mantra, silsilah, jimat, syair, politik, pemerintahan, undang-undang, hukum adat, pengobatan tradisional, hikayat dan sebagainya. Berbagai jenis isi naskah tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji naskah Melayu yang berbentuk hikayat.
Hikayat merupakan salah satu jenis prosa Melayu berisi berbagai ragam cerita yang menjelaskan tentang sastra rakyat, dongeng-dongeng atau cerita-cerita yang muncul setelah masuknya Islam, berupa sastra keagamaan, sastra sejarah dan
sastra undang-undang Fang (dalam Huda 2011). Hikayat merupakan jenis cerita bermakna yang diterima oleh masyarakat trasidional yang berisi cerita, kisah, riwayat dan sebagainya (Sharif,1993:134). Hikayat merupakan cerita berbentuk tulisan menggunakan bahasa Melayu tradisional. Hikayat mengisahkan cerita ajaib sebagai hasil dari imajinasi dan fantasi pengarang yang menceritakan tentang kepahlawanan orang-orang di sekitar istana, para raja, atau orang suci.
Peristiwa yang diceritakan bersifat rekaan tetapi memuat cerita sejarah dan silsilah (Emeis dalam Sharif,1993:138). Usman (dalam Rafiek, 2011) mengatakan bahwa hikayat adalah kesusastraan tradisional mengisahkan cerita bersifat khayal (fantasi) atau sejarah(historis) berlandaskan kenyataan.
Ada beberapa contoh kesusastraan Melayu berbentuk hikayat bersifat sejarah (historis) misalnya, Hikayat Negeri Johor, Hikayat Raja Banjar Dan Kota Waringin, Hikayat Hang Tua, Misa Melayu, Sejarah Melayu dan Hikayat Raja Pasai ( Baried, 1985:22). Naskah Melayu yang bersifat sejarah mengandung nilai sejarah sebagai sumber informasi pada masa lampau, hal ini dapat mengetahui budaya Melayu pada masa lampau dan menelaah cara pemikiran, silsilah keturunan dan falsafah perjalanan hidup masyarakat Melayu (Kembaren, 2011:1).
Naskah Melayu yang menjadi objek kajian penulis yaitu naskah Melayu yang berjudul Hikayat Raja Pasai. (selanjutnya penulis menyebutnya menjadi HRP) versi Russel Jones 1986.
HRP merupakan karya sastra Melayu bersifat sejarah yaitu karya agung yang menceritakan negeri, organisasi pemerintahan, sosial budaya dan politiknya (Istiqamatunisak,2017:360). HRP merupakan karya sastra sejarah Melayu yang berbentuk tulisan tangan menggunakan huruf jawi dan telah ditransliterasi ke
dalam huruf rumi versi Russel Jones dalam bentuk buku yang dapat dibaca dengan baik sehingga menjadi bahan kajian.
HRP menceritakan tentang peristiwa yang terjadi pada masa 1250 -1350 M. HRP berisi unsur-unsur yang bersifat mitos yang menguraikan asal-mula keturunan raja, keluarga raja dan konflik yang terjadi diantara mereka.
Berdasarkan fakta sejarah, pemerintah Merah Silau mengganti nama menjadi Malikul Shaleh setelah memeluk agama Islam (Jones,1985:viii). Harun (2003:226) mengatakan bahwa HRP menceritakan tentang silsilah raja, sejarah negara atau kota, menggambarkan cara berfikir, mengkritik, memberi nasihat, memperlihatkan nilai pengajaran yang baik dan menghargai sejarah pada masa lampau. Rahman (2017) menyebutkan bahwa karya agung HRP versi Rossel Jones (1999) membagi hikayat atas tiga bab. Sejalan dengan yang dilakukan oleh Hill ketika ia memperkenalkan dan menganalisis HRP atas tiga bagian yaitu:
pertama, dari awal Pasai sampai dengan disebut Sultan Malikul Mahmud dan naiknya takhta Sultan Ahmad. Kedua, kerajaan Sultan Ahmad dan riwayat putra baginda Tun Biraim Bapa. Ketiga, riwayat putri Gemerencang, putri Raja Majapahit yang jatuh cinta pada Tun Abdul Jail putera Sultan Ahmad, dan Pasai dikalahkan oleh Majapahit beserta.
Kisah dalam cerita HRP (Jones, 1985) bermula ketika Raja Muhammad menemukan seorang putri ditengah rimbunan betung yang kemudian diangkatnya menjadi anaknya bernama Putri Betung. Raja Ahmad menemukan seorang putra yang diasuh oleh seeokor gajah bernama Merah Gajah. Seiring berjalannya waktu putri betung dan merah gaji menikah. Dari perkawinan itu Merah Gajah dan Putri
akan mengubah namanya menjadi Sultan Malikul Saleh) dan Merah Hasum.
Merah Silau menikahi Putri Ganggang dari kerajaan Perlak. Pernikahan Merah Silau dan Putri Ganggang di karuniai seorang anak laki-laki bernama Sultan Malikul Tahir kemudian memiliki keturunan bernama Sultan Malikul Mahmud yang akan menjadi raja di kerajaan Pasai dan Sultan Malikul Mansur yang akan menjadi raja di kerajaan Samudera. Sultan Malikul Mahmud memiliki keturunan bernama Sultan Ahmad perumudal Perumal kemudian dua putera Sultan Ahmad yang akan diceritakan selanjutnya. Berawal dari konflik Sultan Ahmad Birahi kepada putrinya kemudia Sultan Ahmad membunuh dua puteranya bernama Tun Biraim Bapa dan Tun Abdul Jalil karena cemburu tentang wanita yang birahi kepada Tun Biraim Bapa dan Tun Abdul Jalil.
Kerajaan Pasai diserang Kerajaan Majapahit. Penyerangan bermula karena mendengar kematian Putri Gemerencang yang tenggelam di laut Jambu Air.
Kematian Putri Gemerencang bermula kerena kesedihannya kehilangan Tun Abdul Jalil yang dibunuh oleh Sultan Ahmad. Kemudian kerajaan Pasai jatuh ke tangan Majapahit. Setelah penyerangan Pasai usai, maka Kerajaan majapahit memperluas penaklukan wilayah agar tunduk pada Kerajaan Majapahit dan berakhir kalah dari Palau Parca.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik mengkaji HRP karena mampu memberikan gambaran kepada pemimpin sebagai identitas tertinggi dimasyarakat yang mengemban kearifan. Alasan yang paling mendasar adalah kajian ini belum ada yang mengkaji tentang kearifan raja-raja dalam HRP.
1.2 Batasan Masalah
Kajian ini dibatasi agar terfokus pada masalah yang telah dibatasi, sehingga tidak terjadi pembahasan yang terlalu luas. Penulis membuat batasan masalah sesuai dengan judul dan latar belakang. Kajian ini difokuskan pada analisis teks HRP versi Rossel Jones, untuk mengungkapkan kearifan raja-raja yang terdapat dalam HRP .
Dalam penelitian ini data yang digunakan penulis untuk menganalisis kearifan raja-raja dalam teks HRP hanya terfokus kepada cerita yang berkaitan dengan masa pemerintahan Kerajaan Pasai. Teks cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Pasai sampai dengan keruntuhan Kerajaan Pasai dimulai dari halaman 1-68 dan halaman 69-75 bercerita tentang wilayah-wilayah yang ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit dan berakhir kalah dengan Pulau Parca, hal ini membuktikan bahwa cerita HRP bagian akhir tidak bercerita tentang Pasai.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini :
1). Bagaimana unsur intrinsik meliputi (Alur, Latar dan penokohan) dalam naskah HRP?
2). Bagaimana kearifan raja-raja dalam naskah HRP ? 1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini :
1). Mendeskripsikan unsur intrinsik meliputi (Alur, Latar dan penokohan) dalam naskah HRP.
2). Mendeskripsikan kearifan raja-raja dalam naskah HRP.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dalam karya ilmiah ini terdiri atas:
a). Teoritis
1). Kajian ini dapat dijadikan sebagai acuan pustaka selanjutnya khususnya dalam penelitian tentang naskah HRP .
2). Kajian ini dapat dimanfaatkan sebagai media informasi mengenai naskah Melayu khususnya naskah HRP dalam khazanah sastra tradisional.
3). Kajian ini dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai objek yang diteliti yaitu kearifan raja-raja dalam HRP.
b). Praktis
1). Kajian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi generasi muda tentang deskripsi kearifan raja-raja dalam HRP.
2). Memperkenalkan kearifan raja-raja dalam HRP.
3). Memberikan informasi mengenai kearifan raja-raja dalam HRP.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan
Kepustakaan relevan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan penganalisisan terhadap buku, literatur, catatan dan berbagai laporan yang sudah pernah dilakukan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas (Nazir 2005:93). Dalam menyusun karya ilmiah ini penulis menggunakan jurnal dan skripsi untuk dijadikan bahan referensi dan pendukung bagi penulis dalam menulis karya ilmiah ini, yaitu :
Norazimah Zakaria (jurnal, 2015) tentang “ Bayangan Inses Dalam Hikayat Raja Pasai”. Jurnal ini menjelaskan tentang psikoanalisis Freud terhadap watak Sultan Admad Perumudal Perudal.
Skripsi Fahrul Fuadi, (2017) tentang “Analisis Psikologi Sastra Terhadap Tokoh-Tokoh Cerita Hikayat Raja Pasai”. Skripsi ini menjelakan tentang unsur- unsur intrinsik, dan aspek-aspek psikologis pada cerita Hikayat Raja Pasai
Skripsi Nadhifa Indana Zulfan Rahma (2017) tentang “Sistem Simiologi Dan Idiologi Dalam Hikayat Raja Pasai”. skripsi menjelaskan tentang sisi dongeng yang menemukan makna struktur linguistik, struktur mistis dan idiologi yang ingin disampaikan dalam Hikayat Raja Pasai.
Istiqamatunisak, (Jurnal 2017) tentang ”Interkulturalisme Bahasa Melayu Dalam Hikayat Raja Pasai”. Jurnal ini menjelaskan tentang pengaruh Hikayat Raja Pasai pada kemunculan bahasa Melayu dalam kehidupan masyarakat aceh pada masa itu dan membahas dua budaya yang saling berhadapan.
Berdasarkan keempat kajian di atas membantu penulis untuk menyelesaikan kajian ini, walaupun berbeda kajian tetapi berkaitan dengan analisis teks cerita HRP, namun kajian ini sangat berbeda dengan kajian di atas. Untuk itu, dalam kajian kali ini penulis melakukan pengkajian nilai kearifan raja-raja dalam HRP.
2.2 Teori Yang Digunakan
Dalam sebuah penelitian untuk memecahkan sebuah masalah yang diteliti dibutuhkan seperangkat teori untuk menguraikan persoalan dengan tepat.
Landasan teori merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematis melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena, Neuman (dalam Sugiyono, 2012 :2). Dua teori sebagai panduan yang digunakan penulis dalam menganalisis kajian ini yaitu teori struktural dan teori kearifan.
2.2.1 Teori Struktural
Strukturalisme memandang teks sebagai sebuah struktur. Nurgyantoro (2015:57) mengatakan bahwa Sebuah teks sastra, fiksi dan puisi, menurut pandangaan kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensi oleh unsur pembangunnya. Abrams (dalam Nurgyantoro, 2015:57) mengatakan bahwa struktur karya sastra merupakan susunan, penegasan dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Strukturalisme memandang teks sebagai sebuah struktur. Struktur karya sastra juga merujuk pada pengertian adanya hubungan unsur intrinsik yang bersifat timbal-balik dan saling berkaitan membentuk satu kesatuan yang utuh, (Nurgyantoro, 2015:57).
Nasution (2017:27) menegaskan bahwa konsep dasar yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa di dalamnya karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom sehingga karya sastra dapat dikaji dengan struktur karya sastra itu sendiri.
Teeuw (1984:135) mengatakan bahwa analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitaan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan makan menyeluruh. Nurgyantoro (2015:60) mengatakan bahwa analisis struktural terfokus pada unsur-unsur intrinsik dengan cara mendeskripsikan berbagai elemen yang membangun dalam menunjang makna menyeluruh. Dalam menganalisis secara struktural kajian ini hanya membatasi pada penokohan, alur dan latar yang ada dalam HRP.
2.2.2 Teori Kearifan (Jeilani Harun)
Penulis mendeskripsikan kearifan raja-raja menggunakan teori yang dikembangkan oleh jeilani Harun dalam kajiannya tentang Pemikiran Adab Ketatanegaraan Kesultanan Melayu yang mengandung berbagai panduan tentang tata cara hubungan raja dengan rakyat. yang dikaji secara mendalam dan menjadi panduan bagi penulis.
Jeilani (2003:151-159) mengatakan bahwa 10 ciri prinsip keadilan raja sebagai panduan pemerintah untuk memelihara kesejahteraan dan kedamaian yang meliputi ciri, syarat dan contoh teladan tentang kepribadian raja yang adil dalam kajiannya berjudul Pemikiran Adab Ketatanegaraan Kesultanan Melayu, yaitu;
a. Raja harus mengetahui tugas dan tanggungjawab. Raja harus mengetahui tugas dan tanggungjawab sebagai pemimpin yang memikul amanah dari rakyat dan negara.
b. Raja harus memiliki iman dan beramal saleh. Raja/Pemimpin harus beriman terhadap Tuhan dan melaksanakan kewajibannya dalam beribadah. Sifat keadilan yang tercermin dalam pemimpin yaitu selalu memeriksa diri sendiri, menyempurnakan diri dan melakukan amalan yang baik.
c. Raja harus sebagai contoh dimasa lalu. Raja harus melakukan hal-hal yang bernilai dalam kehidupanya. Sifat keadilan dan kebijaksanaan bukan hanya sebagai catatan sejarah tetapi sebagai bentuk hikayat dan cerita nasehat sebagai panduan dan contoh untuk generasi selanjutnya.
d. Raja harus bersifat sederhana. raja harus menanamkan prinsip cara hidup yang sederhana, rendah hati, dan bersyukur.
e. Raja harus mendampingi masyarakat. Raja harus mengetahui keadaan rakyat dengan cara melihat secara langsung. Raja harus menangani permasalahan rakyat secara langsung tanpa utusan dari istana.
f. Raja harus adil. Raja harusmenyelesaikan masalah dengan cara yang adil tanpa pilih kasih.
g. Raja harus menghormati tokoh agama. Raja dituntut untuk mematuhi ajaran-ajaran agama yang dipandu oleh para tokoh agama berdasarkan
h. Raja harus bijaksana. Raja yang bijaksana harus memiliki pola pikir yang baik,nilai moral dan mampu menyelesaikan masalah dengan baik.
i. Raja harus memiliki kasih sayang. Raja harus memiliki sifat kasih sayang terhadap rakyat kerena kasih sayang yang dimiliki raja akan membawa kesejahteraan terhadap rakyat. Sifat kasih sayang berupa sabar, murah hati, dan pemaaf.
j. Raja harus memiliki kepribadian yang baik. Raja harus menghindari perbuatan yang tidak bermoral yang akan menjadi pandangan yang buruk bagi rakyat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif merupakan metode penelitian bertujuan untuk menguraikan data berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka (Moleong, 2005:11). Penulis menggunakan metode kuliatatif bersifat deskriptif untuk mengungkapkan kearifan raja-raja dalam HRP.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam kajian ini mengunakan metode kepustakaan (library research) merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan penganalisisan terhadap berbagai buku, literatur, catatan dan laporan yang berhubungan dengan masalah yang ingin dipecahkan (Nazir 2005: 13).
3.3 Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam pengkajian ini adalah naskah HRP.
Judul : Hikayat Raja Pasai
Translator Versi : Russell Jones
Penerbit : Fajar Bakti Sdn.Bhd
Tahun Terbit : 1985
Tebal :125 Hal
Sampul Depan : Hijau Sampul Belakang : Hijau
Ukuran : 140 Mm X 210 Mm
Warna Kertas : Coklat
Warna Tulisan : Hitam
3.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data merupakan usaha yang dilakukan untuk bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat dikelola untuk menemukan fakta-fata yang terdapat dalam teks yang akan diceritakan kepada orang lain, (Moleong, 2005:248).
Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam mengalisis data adalah sebagai berikut:
1). Mentranslitrasi teks objek kajian kedalam bahasa indonesia.
2). Membaca objek kajian
3). Mengklasifikasikan dengan menandai kata-kata kunci dan gagasan- gagasan yang ada didalam data.
4). Menganalisis data berdasarkan teori yang digunakan
5). Membuat kesimpulan berdasarkan kajian, sehingga dapat dipaparkan dengan baik
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Ringkasan Cerita Hikayat Raja Pasai
Hikayat Raja Pasai berawal dari kisah dua orang raja bersaudara bernama Raja Ahmad dan Raja Muhammad. Pada mulanya Raja Ahmad dan Raja Muhammad berkeinginan untuk memperluas negeri Samarlangga.
Pada suatu hari Raja Muhammad pergi ke hutan dengan seluruh rakyatnya untuk menebas hutan. Di tengah hutan itu terdapat sekelompok betung (bambu) yang sangat luas. Raja Muhammad menemukan rebung yang sangat besar di tengah-tengah bambu itu, maka Raja Muhammad menebas rebung itu keluarlah seorang anak perempuan yang cantik jelita. Kemudian Raja Muhammad membawa anak itu kepada istrinya dan diberi nama Putri Betung. Raja Ahmad mendengar kabar bahwa saudaranya mendapatkan seorang putri dari rebung.
Setelah mendengar hal itu Raja Ahmad pergi ke hutan untuk berburu dan menemukan seorang anak lelaki yang dijaga oleh seekor gajah dan diberi nama Merah Gajah. Merah Gajah dan Putri Betung dinikahkan oleh orang tuanya masing-masing. Dari perkawinan Merah Gajah dan Putri Betung dikaruniai dua orang putra bernama Merah Silau dan Merah Hasum.
Pada suatu hari Putri Betung tertidur dan Merah Gajah menemukan rambut berwarna emas di kepala Putri Betung segera dicabutnya rambut Putri Betung itu, akibat dari bekas cabutannya itu keluarlah darah berwarna putih yang tiada henti kemudian Putri Betung pun hilang. Setelah Raja Muhammad mendengar tentang Putri Betung, Raja Muhammad sangat marah kemudian membunuh Merah Gajah.
Mendengar kematian putranya Raja Ahmad sangat marah dan menhampiri Raja Muhammad, maka terjadilah perang saudara. Akhirnya Raja Ahmad dan Raja Muhammad meninggal dunia. Setelah peperangan usai tinggalah Merah Silau dan Merah Hasum di Negeri Samarlangga. Merah Silau dan Merah Hasum pergi meninggalkan Samarlangga. Merah Silau dan Merah Hasum pergi mencari negeri baru untuk ditempati dengan mengikuti arah matahari tenggalam, maka sampailah Merah Silau dan Merah Hasum di Negeri Biruan.
Pada suatu hari Merah Silau pergi ke sungai yang ada di Negeri Biruan untuk memancing ikan. Merah Silau tidak mendapat ikan tetapi menemukan gelang di dalam jalanya. kemudian Merah Silau membawa gelang itu dan dimasaknya tiba-tiba gelang itu berubah menjadi emas, Maka Merah Silau menjadi kaya raya. Merah Silau menggunakan kekayaannya untuk untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Merah Hasum mendengar berita itu merasa malu tentang kelakuan saudaranya, maka Merah Silau meninggalkaan Negeri Biruan kerena tidak sependapat dengan Merah Hasum. Merah Silau pergi dengan para senawatnya menuju hulu sungai Pasangan. Merah Silau beristirahat di Simpang Hulu Karang, ia diusir warga karena kerbau yang dibawanya memakan tanaman penduduk. Kemudian ia pergi dan beristirahat di Bulu Telang disana ia bertemu Megat Sekandar yang sepemahaman dengan Merah Silau dan mengangkatnya menjadi raja di Negeri Rimba Jerami. Sultan Malikul Nasir saudara dari Megat Sekandar menyerang Merah Silau kerena tidak setuju atas tahta yang diberikan Megat Sekandar, maka terjadilah perang kerajaan antara Merah Silau dan Sultan Malikul Nasir. Sultan Malikul Nasir kalah dan melarikan diri.
Nabi Muhammad bersabda kepada sahabatnya Khalifah Syarif di Mekkah
“bahwa ada sepeninggalanku, sebuah negeri dibawah angin bernama Samudera.
Jika kamu mendengar tentang negeri itu bawalah seluruh peralatan kerajaan ke negeri itu dan jadikan masyarakat di sana menganut agama Islam serta mengucapkan kalimat syahadat dan negeri itu akan dijadikan Allah sebagai wali Allah terbanyak, kemudian bawa seorang fakir dari Negeri Mengiri ke Negeri Samudera itu.
Pada suatu hari Merah Silau pergi berburu ke hutan dengan membawa seekor anjing kesayangannya bernama Pasai, ketika anjing itu dilepas ia menyalak ketika melihat seekor semut besar seperti kucing di atas tanah tinggi. Kemudian Merah Silau membangun sebuah negeri di atas tanah tinggi itu yang diberi nama Samudera yang artinya semut yang saangat besar. Keberadaan Negeri Samudera didengar oleh Khalifa Syarif, maka Khalifah Syarif memerintahkan untuk mengisi perkakas alat kerajaan ke sebuah kapal untuk dibawa ke Negeri Samudera.
Khalifa Syarif mengamanahkan tugas itu kepada Syarif Syekh Ismail, kemudian Syarif Syekh Ismail membawa seorang fakir dari di teluk Negeri Mangiri untuk dibawa ke Negeri Samudera.
Merah Silau bermimpi bertemu dengan seseorang, ia memerintahkan Merah Silau mengucapkan kalimat syahadat dan mengubah namanya menjadi Sultan Malikul Saleh. sesampainya Syeikh Ismail di Teluk Terli ia bertemu penjala ikan yang memberi informasi tentang Negeri Samudera kepada Syeikh Ismail. Keesokan harinya Syeikh Ismail bertemu Sultan Malikul Saleh. Syeikh Ismail memerintahkan Sultan Malikul Saleh mengucapkan kalimat dua syahadat dan mengajak seluruh penduduk di negeri itu menggucapkan kalimat syahadat dan
menamai Negeri Samudera sebagai Negeri Darussalam, lalu Syeikh Ismail memohon pulang. Sultan Malikul Saleh membekalinya dengan oleh-oleh berupa ambar, kapur barus, gaharu cendana, kemenyan, khelembek dan cengkeh pala.
Sultan Malikul Saleh dianjurkan oleh para menterinya menikah dan mendapatkan keturunan. Maka Sultan Malikul Saleh menikahi putri ganggang dari raja parlak. Dari pernikahan Merah Silau dan Putri Ganggang mereka karuniai anak laki-laki yang diberi nama Sultan Malikul Tahir, setelah genap usianya Sultan Malikul Tahir diangkat menjadi raja.
Pada suatu hari Sultan Malikul Saleh pergi berburu ke hutan dengan membawa anjingnya Pasai. Anjingnya itu menemukan seekor pelanduk yang duduk di atas tanah yang tinggi di tempat itulah negeri Pasai didirikan dan diserahkanya kepada Sultan Malikul Tahir. Setelah beberapa lama tinggal di Pasai Sultan Malikul Tahir dikaruniai dua orang putra bernama Sultan Malikul Mahmud dan Sultan Malikul Mansur. Beberapa lama kemudian Sultan malikul Tahir meninggal dunia. Setelah Sultan Malikul Shaleh mangkat, maka Sultan Malikul Mahmud menjadi raja Pasai dan Sultan Malikul Mansur raja di Samudera. Sultan Malikul Mahmud membawa Negeri Pasai mencapai kegemilangannya. Raja Siam mendengar kabar kegemilangan negeri Pasai, kemudian meminta ufti (upeti) dan menyerang pasai, tetapi Sultan Malikul Mahmud tidak melayaninya maka terjadilah perang. Penduduk Pasai banyak yang terlibat dalam perang melawan raja siam dan berakhir menang.
Setetelah peperangan selesai Sultan Malikul Mahmud menikah dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Anak laki-lakinya bernama Sultan Ahmad Perumudal Perumal. Pada suatu hari Sultan Malikul Mahmud pergi
bermain-main dan mengadakan perjamuan dengan seluruh hulubalangnya ke hulu sungai. Sultan Malikul Mansur diam-diam mengadakan perjamuan di tepi laut setelah mendengar tentang perjamuan yang diadakan oleh Sultan Malikul Mahmud kemudian menghiraukan nasehat menterinya Sayid Samayamuddin.
Ketika mengadakan perjamuan Sultan Malikul Mansur melihat seorang perempuan cantik dari luar istana. Sultan Malikul Mansur menikahi wanita itu dan dikaruniai tiga orang anak satu laki-laki dan dua orang perempuan. Sultan Malikul Mahmud sangat marah ketika mendengar kabar bahwa saudaranya menikahi perempuan dari luar istana. Malikul Mansur di penjara bersama manterinya.
Sultan Malikul Mahmud membunuh Semayamuddin kemudian mengasingkan Sultan Malikul Mansur ke Negeri Tamiang. Sultan Malikul Mahmud menyesali perbuatannya, Sultan Malikul Mahmud mengutus hulubalang untuk menjemput kembali Sultan Malikul Mansur. Sebelum kembali ke Negeri Pasai Sultan Malikul Mansur ziarah ke makam Semayamuddin. Sultan Malikul Mansur meninggal dunia di Padang Maya sebelum sampai ke Negeri Pasai. Sultan Malikul Mahmud sangat berduka hingga sakit dan meninggal dunia, maka Sultan Ahmad naik tahta kerajaan.
Beberapa lama kemudian Sultan Ahmad dikaruniai 30 orang anak diantaranya tiga orang anak laki-laki bernama Tun Beraim Bapa, Tun Abdul Jalil dan Tun Abul Fadil serta dua orang perempuan bernama Tum Medam Peria dan Tun Takiah Dara yang sangat cantik. Sultan Ahmad menyukai kedua putrinya sebagai lawan jenisnya, mendengar hal itu Tun Biraim Bapa membawa kedua saudara perempunya itu ke Tukas.
Pada suatu hari ada sebuah kapal besar berlabuh di Teluk Terli dalam kapal tersebut ada empat orang pendekar keling yang perkasa. Mereka ingin mencari lawan dengan cara melanggar aturan ditempat larangan yang ada di Negeri Pasai. Raja Ahmad mendengar kelakuan pendekar itu, kemudian Sultan Ahmad mengutus seseorang untuk meminta bantuan kepada anaknya Tun Beraim Bapa. Tum Beraim Bapa datang dengan segala orang-orangnya untuk melawan pendekar keling itu. Peperang tidak terkendali lagi akhirnya pendekar keling kalah dan pulang ke asalnya.
Pada saat hari jumat Tun Beraim Bapa bermain-main bersama wanita di istana. Sultan Ahmad marah mendengar kabar yang dilakukan Tun Beraim Bapa.
Sultan Ahmad selalu mencoba untuk membunuh Tun Biraim Bapa tetapi selalu gagal. Sultan Ahmad mengutus sesorang pergi ke pantai untuk memberikan obat yang mengandung racun tetapi Tun Biraim Bapa mengetahuinya. Tun Beraim Bapa berfikir lebih baik mati dari pada durhaka terhadap orang tua, ketika Tun Beraim Bapa hendak memakannya Tun Medan Peria dan Tun Takiah Dara menyelamatkanya. Tun Beraim Bapa akhirnya meninggal dunia karena terkena peluru senapan dan mengeluarkan banyak darah. Tun Biraim Bapa dimakamkan di Bukit Fudul Allah atas perintah Sultan Ahmad.
Putri Gemerencang anak Ratu Majapahit dari Negeri Jawa jatuh cinta kepada Tun Abdul Jalil yang dilihatnya melalui gambar. Sultan Ahmad mendengar kabar itu merasa cemburu dan membunuh Tun Abdul Jalil. Mayat Tun Abdul Jalil dibuang ke laut Jambu Air. Kematian Tun Abdul Jalil sampai ke telinga Putri Gemerancang dari pengawalnya yang mengatakan bahwa ada badak makan anaknya. Putri Gemerancang sangat sedih dan langsung berangkat ke laut
Jambu Air. Putri Gemerencang berdoa kapalnya tenggelam agar ia dapat bertemu dengan Tun Abdul Jail akhirnya kapalnya tenggelam dan Putri Gemerencang mati disana. Raja Nata mendengar kabar tentang kematian putrinya, maka diperintahkannya kepada laskarnya untuk menyerang Negeri Pasai. Maka terjadilah perang antar Kerajaan Pasai dan Kerajaan Majapahit. Sultan Ahmad kalah dan melarikan diri ke Menduga. Akhirnya Negeri Pasai mengalami keruntuhan dan jatuh ke tangan Majapahit.
Setelah peperangan usai maka senapati kerajaan majapahit berangkat untuk menghadap sang nata. Mereka membawa seluruh pengawal, rakyat, harta rampasan, dan seluruh hewan, sebelum sampai ke Majapahit mereka berhenti di Jambi dan palembang untuk menaklukkan kedua negeri itu. senapati langsung menghadap sang nata setelah sampai di Majapahit dan menyerahkan seluruh bawaanya. Maka sang nata membagi tiga harta rambasanya dan membebaskan seluruh rakyat tawanan tinggal di tanah jawa dimanapun berada.
Sang Nata memerintahkan Patih Gajah Mada, Temenggung Macan Negara, Demang Singa Perkuasa Dan Senapati Ing Laga untuk menaklukkan beberapa negeri agar tunduk dibawah pemerintahan Majapahit akhirnya mereka membawa hasil yang baik untuk negeri majapahit. Maka kerajaan pasai sangat mansyur, banyak negeri yang takluk kepada Sang Nata kecuali Pulau Parca.
Sang Nata memerintahkan untuk menaklukkan Pulau Parca kepada Patih Gajah Mada. Berita penyerangan Pulau Parca di dengar oleh Patih Suatang, kemudian Patih Suatang bertindak dengan mengumpulkan segala hulubalangdan rakyatnyauntuk bersiap-siap melawan utusan Sang Nata. Seluruh prajurit Sang Nata sampai ke Pariangan mereka bertarung dengan cara mengadu laga kerbau
dengan syarat jika kerbau Patih Suatang kalah maka mereka harus tunduk kepada Sang Nata Majapahit jika kerbau Sang Nata kalah maka mereka akan memakai pakaian wanita sejawa, maka diterima oleh patih suatang.
Kerbau Sang Nata kalah mereka sangat malu dan hendak pergi tetapi patih suatang menghentikan mereka. Mereka dijamu dengan cara menuangkan minuman kemulutnya secara berlebihan hingga mati dan rakyat yang melarikan diri kembali ke Majapahit dan memberitahu kejadiannya ke pada Sang Nata, tetapi Sang Nata tidak berkata apa-apa lagi, kerena terlalu banyak prajurit dan segala hulubalangnya yang hilang. Demikianlah cerita Hikayat Raja Pasai.
STRUKTUR RINGKASAN CERITA HRP Kisah dua raja bernama Raja Muhammad dan Raja Ahmad di Samarlangga yang masing-masing mendapat anak-anaknya dari hutan
belantara bernama Putri Betung dan Merah Gajah. (HRP: 1-5)
Merah Gajah dan Putri Betung menikah dan memiliki dua orang putra bernama Merah Silau dan Merah Hasum kemudian peperangan antara kerajaan Sultan Ahmad dan Sultan Muhammd akibat kesalahan Merah
Gajah (HRP:5-7)
Kisah Merah Silau dan Merah Hasum meninggalkan Samarlangga dan pengembaraanya untuk mencari negeri baru hingga diangkat menjadi
Raja (HRP:7-12)
Kisah pengembaraan Merah Silau dimulai dari mengubah namanya menjadi Sultan Malikul Saleh setelah menganut agama Islam, kisah Sultan Malikul Saleh menikahi Putri Ganggang dan mengantikan putranya Sultan Malikul Tahir untuk menjaga negeri dan putranya hingga menyerahkannya kembali kepada Sultan Malikul Mahmud dan Sultan Malikul Mansur (HRP:12-26)
Kisah pengembaraan Sultan Malikul Mahmud dimulai dari peperangan penolakan ufti dari Raja Siam, pengasinganya sudaranya Sultan Malikul Mansur ke Negeri Tamiang hingga penyesalan Sultan Malikul Mahmud yang membawa hingga meninggal dunia (HRP:26-35).
Kisah pengembaraan Sultan Ahmad dimulai dari kisah Sultan Ahmad birahi terhadap putrinya, kisah Sultan Ahmad mengutus putra untuk melawan pendekar keling yang sedang mencari masalah, kisah rasa cemburu Sultan Ahmad kepada Tun Biraim Bapa dan Tun Abdul Jalil karena seorang wanita hingga kisah penyerangan Kerajaan Pasai dari Negeri Majapahit dan akhir keruntuhannya. (HRP:36-60)
Kisah keruntuhan Kerajaan Pasai tangan Sultan Ahmad jatuh ke tangan Majapahit dan pengembaraan Sang Nata dalam menaklukan negeri untuk tunduk kepada Sang Nata dan berakhir dengan kehilangan sang pendekar
4.2 Alur, Latar dan Tokoh dalam HRP
4.2.1 Alur Cerita HRP
Nurgyantoro (2015:201) mengatakan bahwa alur merupakan struktur unsur sebuah cerita yang khusus memenuhi tuntutan kejadian antara satu dengan yang lainnya, kejadian yang dipaparkan lebih awal menceritakan yang akan datang, saling berkaitan dengan yang lainnya. Setiap kejadian harus jelas, logis dan dapat dikenali hubungan kewaktuannya terlepas dari tempat dalam cerita yang diawal, tengah dan akhir
Intisari dari dari alur merupakan konfilk yang terjadi di dalam cerita.
Namun konflik yang terjadi dalam cerita harus dipaparkan secara kronologis dengan tahap-tahap struktur alur yang terdiri atas lima tahap ialah tahap situation, tahap generating, tahap ricing action, tahap climax dan tahap denouemen (Tasrif dalam nurgyantoro 2015:209-210). Maka penulis menggunakan tahapan alur yang dipaparkan oleh Tasrif yaitu,
A. Tahap Situasi (Situation)
Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, informasi awal, dan lain lain yang bertujuan untuk mendukung cerita yang kisahkan pada tahap berikutnya.
Terlihat pada kutipan cerita sebagai berikut:
”Maka ada raja dua bersaudara seorang namanya Raja Ahmad dan seorang namanya Raja Muhammad. Adapun yang tua bernama Raja Ahmad. Maka kedua baginda bersaudara itu hendak berbuat negeri di Samarlangga.”
(HRP: 1)
Berdasarkan kutipan di atas, tahap penyituasian diawali dengan dua orang raja yang bersaudara yang ingin membuka negeri di Samarlangga. Dua orang raja bersaudara itu bernama Raja Ahmad sebagai yang tertua dan Raja Muhammad.
Pada suatu hari Raja Muhammad dan rakyat pergi ke hutan untuk menebas rimba. Ditengah-tengah hutan itu Raja Muhammad menemukan sekelompok betung (bambu) yang sangat luas. Raja Muhammad menemukan rebung yang sangat besar ditengah-tengah betung. Raja Muhammad berniat memotong rebung itu tetapi seorang anak perempuan yang cantik jelita keluar dari rebung itu. Raja Muhammad membawa anak itu ke istana. Hal dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Raja Muhammad itu pergilah ia ke hutan dengan segala rakyatnya untuk menebas rimba itu. Maka ada di tengah rimba itu serumpun betung terlalu amat tebalnya betung.
Maka ditebas oleh segala rakyat itu tiada habis ditebasnya, habis-habis tumbuh pula. Maka raja kendiri menebas betung itu, maka habislah betung itu. Maka dilihat Raja Muhammad pada sama tengah betung itu ada rebungnya seperti badannya besar; maka hendak diparang Raja Muhammad rebung itu, maka keluarlah seorang kanak- kanak perempuan terlalu baik sekali parasnya; maka dibuangkannyalah gedubangnya, maka diambilnya kanak- kanak itu dan didukungnya lalu dibawanya kembali ke rumahnya. Setelah itu dilihat istri baginda raja mendukung kanak-kanak itu, maka segeralah didapatkan istri baginda lalu disambutnya. Maka duduklah dua laki istri itu. Maka dilihat istri baginda budak-budak perempuan. Maka telalu sukacita baginda laki istri itu. Maka baginda pun berkabarlah kepada adinda itu daripada pertamanya datang kesudahannya peri baginda mendapat kanak-kanak di dalam rebung betung. Maka dinamainya oleh baginda Putri Betung. Maka dipeliharakannya baginda seperti anak segala raja dengan inang pengasuhnya serta dengan dayang-dayangnya lengkap dengan pakaiannya. Maka terlalu kasih baginda akan ananda itu, makin sehari makin besar dan rupanya pun menjelis.”(HRP: 1-2).
Berdasarkan kutipan di atas, Raja Muhammad menemukan seorang putri dari rebung bambu dan merawat anak perempuan itu layaknya anak raja pada umumnya dan diberi nama Putri Betung. Raja Muhammad menyayangi Putri Betung yang semakin hari semakin cantik.
Raja Ahmad pergi ke hutan dihari yang baik. Raja Ahmad menemukan seorang anak laki-laki yang dirawat oleh seekor gajah. Raja Ahmad mengambil anak itu dan dibawanya pulang ke istananya, hal ini dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Syahadan maka datanglah kepada hari jumaat. Maka keluarlah gajah itu dari dalam rimba membawa kanak- kanak itu memandikan ke sungai pada tempat dimandikannya dahulu itu. Setelah ia datang ke sungai, maka dimandikannya kanak-kanak itu; Setelah sesudah dimandikannya di tebing sungai, maka gajah itu pun memandikan dirinya. Maka segera Raja Ahmad mengambil kanak-kanak itu. Lalu dibawanya segera jalan.” (HRP: 4).
Berdasarkan kutipan di atas, Raja Ahmad membawa anak itu dari atas tebing sungai ketika seekor gajah itu sedang mandi, kemudian Raja Ahmad kembali ke negerinya bersama dengan para pendekarnya. Dapat di lihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Maka Raja Ahmad pun berjalanlah ia ke negerinya dengan segala laskarnya. Hatta maka sampailah ke istananya maka tuan putri pun berdiri di pintu istana mengalun-alunkan Raja Ahmad itu. Maka putri pun melihat kepada kanak-kanak itu maka segeralah didapatkannya, lalu disambutinya daripadanya Raja Ahmad. Maka terlalu baik parasnya. Maka dinamainya Merah Gajah.” (HRP: 4-5).
Berdasarkan kutipan HRP di atas, kedatangan Raja Ahmad disambut oleh istrinya di depan pintu istana dan mengalun-alunkan kedatangan Sultan Ahmad.
Tuan Putri melihat anak yang dibawa oleh Raja Ahmad dengan cepat tuan putri mengambil anak itu kemudian diberi nama Merah Gajah.
Raja Ahmad mencapai kejayaan kerena memiliki seorang putra.
Kebahagian yang dirasakan Raja Ahmad didengar oleh Raja Muhammad. Setelah beberapa lama kemudian besarlah kedua anak-anak itu. Merah Gajah dan Putri Betung menikah. Dapat dilihat dari kutipan cerita HRP sebagai berikut:
“Alkisah peri mengatakan hikayat Putri Betung dan Merah Gajah diceritakan oleh dua orang yang empunya cerita, hatta maka beberapa lamanya duduk Merah Gajah dengan Putri Betung dua laki istri itu. Syahadan maka dengan takdir Allah Taala maka Putri Betung hamillah; maka setelah genap bulannya, maka Putri Betung pun beranak laki-laki, maka dinamanya anaknya Merah Silau. Maka kemudian daripada itu Putri Betung hamil pula. setelah genaplah bulannya maka ia pun beranaklah. Maka anaknya itu pun laki-laki juga. Maka di namanya Merah Hasum.”
(HRP: 5)
Berdasarkan kutipan HRP di atas, Merah Gajah dan Putri Betung dikaruniai dua orang putra bernama Merah Silau dan Merah Hasum.
B. Tahap Munculnya Konflik (Generating Circumstances).
Tahap munculnya konflik merupakan tahap permasalahan dan peristiwa-peristiwa terjadinya konflik mulai mencuat seperti, munculnya awal konflik dalam cerita HRP. Terlihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Maka suatu hari Tuan Putri itu pun tertidur. Maka dibantunnya oleh Merah Gajah rambut istrinya itu, pada bicaranya itu tiada akan mengapa Tuan Putri itu. Maka keluarlah darah daripada liang rambut itu tiada berputusan lagi keluar darahnya putih. Maka berhentilah darahnya itu, Maka tuan putri menghilanglah.”( HRP, hal 6)
Berdasarkan kutipan di atas, tahap munculnya konflik (generating
tertidur Merah Gajah mencabut rambutnya maka keluarlah darah putih pada bekas cabutannya itu, kemudian Putri Betung menghilang.
Prajurit menyampaikan kabar kepada Raja Muhammad tentang tentang perbuatan Merah Silau terhadap Putri Betung. Raja Muhammad sangat marah mendengar kabar tentang inangnya itu. Raja muhammad membunuh Merah Gajah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut;
“Maka segala hamba sahayanya pun segeralah berlari untuk memberitahu kepada ayahanda Raja Muhammad, maka ujarnya “ ya tuanku, paduka anakda tuan kami Putri Betung telah hilang sebab dibantunnya oleh Merah Gajah sehelai rambutnya ditengah kepalanya”. Setelah sesudah Raja Muhammad mendengar khabar inangnya itu maka ia pun menghampaskan dirinya dan membelah-belah bajunya dan mencarik-carik kainnya. Maka ia pun terlalu marah, maka ia pun menghimpunkan segala lasykarnya, maka dimendatanginya Merah Gajah lalu membunuhnya.”
( HRP: 6)
Setelah Merah Gajah meninggal dunia, maka seseorang menyampaikan kabar kepada Raja Ahmad bahwa Merah Gajah dibunuh oleh mertuanya.
Mendengar kematian Merah Gajah, maka Raja Ahmad sangat marah. kemudian Raja Ahmad memerintahkan seluruh pendekarnya untuk berperang yang dilengkapi dengan senjata. Maka terjadilah perang saudara antara Raja Muhammad dan Raja Ahmad yang saling membunuh hingga mati. Hal dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Setelah Merah Gajah mati, maka seseorang segeralah membawa kabar kepada ayahanda Raja Ahmad, demikian katanya, “ wah, tuanku paduka anakda Merah Gajah itu/
telah mati dibunuh oleh mertuanya* sebab karna ia membantunkan sehelai rambut yang ada ditengah kepala Putri Betung itu. Maka fikir anakda Merah Gajah itu tiada akan| mati”. Setelah sesudah ia mendengar ayah bondanya
dirinya dan menbelah-belah bajunya dan mencarik-carik kainnya. Maka Raja Ahmad pun terlalu sangat marahnya serta ia menghimpunkan segala lasykarnya lengkap dengan segala senjatanya. Maka ketika pada yang baik, maka berangkatlah Raja Ahmad itu pergi mendatangi saudaranya Raja Muhammad. Maka apabila berhadapanlah kedua pihak laskar itu, maka peranglah mereka itu terlalu ramai kalam-kabut. Maka duli* pun berbangkit lalu ke udara tiadalah berkenalan lagi seorang dengan seorang jua pun. Maka tempik segala hulubalang dan segala rakyat juga yang kedengaran dan gemercang bunyi segala senjata dan pendahan segala pahlawan juga kedengaran. Maka bahananya datang ke tengah rimba belantara. Maka kedua belah pihak laskar itu banyaklah mati dan luka sebab beramuk-amukan sama sendirinya dan berbunuh-bunuhan mereka itu hingga matilah kedua raja-raja.”( HRP: 6-7)
Berdasarkan kutipan di atas sudah muncul permasalahan dan peristiwa- peristiwa yang menyebabkan konflik muncul setelah cerita awal. Dari kisah di atas jelas bahwa penulis mulai menggerakkan jalan cerita sehingga penikmat karya sastra mulai tertarik dengan cerita selanjutnya.
C. Tahap Peningkatan Konflik (Rising Action)
Tahap peningkatan konflik merupakan konflik yang terjadi sebelumnya semakin berkembang secara intensif yang mengarah kepada klimaks yang tidak dapat terhindari, seperti peristiwa-peristiwa yang mulai berkembang dalam HRP.
Terlihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Maka tinggalah Merah Silau dengan Merah Hasum kedua bersaudara itu dan segala yang hidup daripada perang itu berhimpunlah| ia menyembah anak raja kedua itu dan hidup bersama-sama di negeri itu. maka beberapa lama diantaranya maka kata Merah Silau kepada saudaranya Merah Hasum itu. “hai saudaraku betapa bicara kita? Karna kita ini hanya dua bersaudara juga tinggal, karrena nenek* dan ibu bapak kita telah hilang dalam negeri Samarlangga jikalau kita diam dalam negeri ini nescaya kitapun demikian lagi, karna kita duduk dalam negeri ini sekali-kali tiada ada memberi manfaat akan kita,
baik yang lain supaya kita dian di sana.” Setelah sesudah ia berbicara dua bersaudara demikian itu, maka pada ketika yang baik, maka keluarlah ia dari dalam negeri itu mengikuti jalan ke matahari mati daripada suatu perhentian datang kepada suatu perhentian. Maka takdir Allah taala maka sampailah ia kepada suatu negeri yang bernama biruan. Maka duduklah ia di sana, seorang sebelah sungai dalam negeri kedua bersudara.”
( HRP: 7)
Berdasarkan kutipan di atas, tinggalah Merah Silau dan Merah Hasum setelah peperangan usai. Merah Silau dan Merah Hasum pergi meninggalkan negeri Samarlangga kerena merasa tidak memberi manfaat lagi kepada mereka.
Maka Merah Silau dan Merah Hasum pergi dengan mengikuti arah matahari terbenam hingga sampai lah mereka di negeri bernama Biruan. Suatu hari Merah Silau pergi ke sungai untuk mencari ikan tetapi Merah Silau hanya menemukan gelang-gelang dibubuannya. Merah Silau membawa gelang-gelang itu lalu direbusnya hingga gelang-gelang itu berbuih dan berubah menjadi emas. Merah Silau menjadi kaya raya. Kabar Merah Silau yang mendapat gelang-gelang emas didengar oleh adiknya Merah Hasum, tetapi Merah Hasum tidak merespon. Merah Silau melakukan hal yang tidak terpuji yaitu siasat kerbau jalang yang tidak berguna kepada orang. Merah Hasum tidak sepemahaman dengan Merah Silau karena merasa malu atas tindakkan suadaranya, oleh karena itu Merah Silau meninggalkan Negeri Biruan. Merah Silau beristirahat kerena kelelahan di Bulu Telang dan bertemu Megat Sekandar yang sepemahaman dengannya. Megat Sekandar bermusyawarah dengan orang-orang besar di negeri itu untuk mengangkat Merah Silau menjadi raja. Megat Sekandar dan orang-orang dinegeri itu mengangkat Merah Silau menjadi raja di Rimba Jerana. Sultan Malikul Nasir
dan Merah Silau berperang setelah Merah Silau diangkat menjadi raja di Rimba Jerama, sesuai dengan kutipan cerita HRP sebagai berikut:
“Maka peranglah ia terlalu ramai; maka banyaklah orang yang mati dan terluka. Maka Sultan Malikul Nasir itu pun pecahlah perangnya lalu ia berlepas dirinya ke belakang gunung Telawas; maka dikubu-kubuinya oleh Merah Silau akan Sultan itu, lepas juga ia daripada kubunya. Maka di namai Merah Silau tempat itu Kubu, disebut orang sekarang. Maka sultan itu berlepas dirinya kepada suatu negeri. Maka sampailah ia kepada suatu jurang yang picik lagi dalam, maka tekersang hulubalangnya Sultan itu. Maka dinamai jurang dan negeri itu Pakersang. Maka Sultan Malikul Nasir pun lalu dari sana sampai ke Kumat.” (HRP: 11)
Berdasarkan kutipan diatas peningkatan konflik ditandai dengan Sultan Malikul Nasir lari ke belakang gunung Telawas karena peperangan sanagt hancur, kemudian Merah Silau membuat perangkap kepada Sultan Malikul Nasir sebagai pertahanan, tetapi Sultan Malikul Nasir melarikan diri kesuatu negeri. Megat Sekandar datang ke Kumat untuk berperang. Sultan Malikul Nasir kalah. Merah Silau menjadi raja Rimba Jerana.
Zaman Nabi Muhammad ada cerita bahwa Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wassalam) bersabda kepada sabahatnya di mekah untuk negeri Samudera. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
“Maka bersabda ia kepada sahabat baginda di mekkah, demikian sabda baginda “bahawa ada peninggalanku wafat itu, ada sebuah negeri di bawah angin, samudera namanya; apabila ada didengar khabar negeri itu, maka kamu suruh sebuah kapal membawa perkakas alat kerajaan dan kamu bawa orang dalam negeri itu masuk agama Islam serta mengucapkan dua kalimat syahadat.”
(HRP: 12)
Berdasarkan kutipan di atas, bahwa pesan yang disampaikan oleh
negeri itu untuk menganut agama Islam. Allah Subhanahu Wataala akan menjadikan negeri itu sebagai wali terbanyak dari segala negeri. Langkah pertama yang dilakukannya adalah membawa seorang fakir dari negeri Mangiri.
Pada suatu hari Merah Silau pergi kehutan untuk berburu dengan membawa anjingnya bernama Pasai. Anjingnya menemukan seekor semut yang besar di atas tanah tinggi. Merah Silau membangun negeri di atas tanah tinggi itu bernama Samudera yang berarti semut yang sangat besar. Khalifah Syarif yang berada di Mekah mendengar kabar tentang negeri bernama Samudera. Ia memerintahkan syarif syeikh ismail membawa kapal dan perkakas alat kerajaan.
Khalifah syarif berpesan kepada Syarif Syeikh Ismail untuk singgah di negeri Mengiri dengan membawa seorang fakir ke Negeri Samudera. Pada awalnya Merah Silau bermimpi bertemu seseorang, kemudian orang itu memintanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengubah namanya menjadi Sultan Malikul Nasir, dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
“Sebermula maka bermimpi Merah Silau dilihatnya dalam mimpinya itu ada seorang menampung dagunya dengan segala jarinya dan matanya pun ditutupnya dengan empat jarinya demikian katanya, “ hai Merah Silau, ucap olehmu dua kalimat syahadat.”(HRP:14)
“Maka ujarnya akan Merah Silau, “hai Merah Silau, engkaulah Sultan Malikul Saleh namamu, sekarang Islamlah engkau dengan mengucapakan dua kalimat syahadat itu, dan segala binatang yang hidup lagi halal engkau sembelih maka kaumakan, dan yang tiada disembelih jangan engkau makan.” HRP:14
“Maka sabda Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wassalam) akan Merah silau itu “tunduklah engkau kebawah” maka tunduklah merah silau kebawah, serta jaga ia daripada tidurnya maka dilihatnya kebawah sucilah. Maka katanya,
“ Asyhadu an laa ilaaha illallāh wahdahu, la sharika lahu, wa-ashhadu anna muhammad „abduhu wa-Rasuluhu.”
Berdasarkan kutipan diatas, Merah Silau terbangun dari tidur setelah mendengar perintah dari Rasulullah. Merah Silau mengucapkan dua kalimat syahadat. Merah Silau membaca Quran tiga puluh juz seorang diri tanpa bantuan orang lain. Kapal Syeikh Ismail sampai di Teluk Terli dan bertemu dengan penjala ikan. Syeikh Ismail mengetahui tentang Negeri Samudera bahwa pemimpinnya bernama Merah Silau yang bergelar Sultan Malikul Saleh dari penjala ikan itu. Syeikh ismail bertemu Sultan Malikul Saleh. Pertemuan Syeikh Ismail disambut baik oleh Sultan Malikul saleh. Syeikh ismail meminta Sultan Malikul Saleh mengucap dua kalimat syahadat. Setelah sesudah itu Syeikh Ismail mengumpulkan segala masyarakat yang ada di negeri itu, dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Setelah sudah, maka disuruh oleh Syeikh Ismail himpunkan segala hulubalang dan segala rakyat besar kecil, dan tuha muda, laki-laki dan perempuan. Maka apabila sudah berhimpunlah sekaliannya, Maka diajar oleh Syeikh Ismail mengucap kalimat syahadat akan mereka itu sekalian. Maka segala mereka itu pun relalah ia mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tulus dan ikhas yakin hatinya. Sebab itulah dinamai negeri Samudera itu negeri Darulsalam, Karena tiada sekaliannya orang itu dengan digagahi dan dengan tiada dimusakatkannya dan dengan diperlelahkanya pada mengerjakan kerja masuk agama Islam.”(HRP: 16)
Berdasarkan kutipan di atas, bahwa seluruh rakyat yang berada di Negeri Samudera menganut agama Islam dan dinamai negeri Samudera itu menjadi negeri Darulsalam. Pakaian kerajaan yang dibawa dari mekkah di sematkan kepada Sultan Malikul Saleh. Syeikh Ismail memohon pulang dan Sultan Malikul Saleh membekalinya dengan oleh-oleh kapur barus, kemenyan, gaharu cendana, kelembek dan cengkeh sebanyak seratus bahara dan seorang fakir itu tinggal di
samudera untuk mengajarkan agama Islam. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
“Setelah beberapa lama Syeikh Ismail di Samudera Darusalam, maka ia pun pun berdatang sembah kepada Sultan Malikul Saleh mohon kembali, maka Sultan pun menghimpunkan fidayah akan Khalifah Syarief seperti ambar dan kapur barus dan gaharu candana dan kemenyan dan khelembak dan cengkeh pala, sekaliannya itu ada kira- kira seratus bahara, maka sekalianya itu dipersembahkaan kepada Syeikh Ismail.” (HRP:16-17)
Sultan Malikul Saleh belum menikah. Para menteri dan hulubalangnya datang menghadap Sultan Malikul Saleh kemudian menyarankan untuk menikah agar keturunannya tetap berlanjut secara turun temurun. Sultan Malikul Saleh menerima saran para menterinya dan memerintahkan prajurit untuk mencari seorang wanita. Prajurit Sultan Malikul Saleh menganjurkan tiga orang putri kerajaan dari Raja Parlak. Sultan Malikul Saleh mengutus prajuritnya untuk menemui Raja Parlak. Raja Parlak menyambut utusan Sultan Malikul Saleh dan menjamunya bersama putri-putrinya. Sultan Malikul Saleh menikahi Putri Ganggang dari Raja Parlak. Setelah beberapa lama Putri Ganggang Hamil dan melahirkaan seorang anak laki-laki bernama Sultan Malikul Tahir kemudian diangkat menjadi raja. Sultan Malikul Saleh pergi ke hutan membawa anjingnya Pasai. Anjing itu menyalak karena menemukan seekor pelanduk duduk diatas tanah tinggi itu, kemudian Sultan Malikul Saleh membuka negeri diatas tanah tinggi itu. Anjing perburuan itu mati dan dikuburkan di atas tanah tinggi itu, kemudian tanah tinggi itu dinamai Pasai. Sultan Malikul Tahir dikarunia dua orang anak bernama Sultan Malikul Mahmud dan Sultan Malikul Mansur. Sultan Malikul Tahir mangkat dan jabatan diambil alih oleh Sultan Malikul Saleh karena
Malikul Saleh mengamanahkan Sultan Malikul Mahmud kepada Sayid Ghiatuddin dan Sultan Malikul Mansur kepada Sayid Semayamuddin untuk belajar berbagai ilmu. Setelah Sultan Malikul Saleh meninggal dunia, maka Kerajaan Pasai dipimpin oleh Sultan Malikul Mahmud dan Kerajaan Samudera dipimpin oleh Sultan Malikul Mansur. Hal dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut:
“Maka Sultan Malikul Mahmud itulah Kerajaan Pasai dan Sultan Malikul Mansur itulah kerajaan di Samudera. Maka negeri yang kedua itu pun terlalu ramai dan memberi segala rakyat dalam negeri itu beberapa daripada gajah dan kuda jenuh* makanannya dan beberapa daripada segala rezeki yang lain tiada terhisapkan banyak zaman baginda kedua bersuadara itu.” (HRP: 26)
Berdasarkan kutipan di atas, kedua bersaudara itu hidup dengan makmur.
Kehidupan seluruh rakyatnya diperhatikan oleh sultan malikul mahmud dan sultan Malikul Mansur dengan cara membagi rezeki berupa hewan peliharaan dan makanan kepada rakyat yang tidak habis-habis. Kejayaan Negeri Pasai terdengar sampai ke negeri Siam, maka Raja Siam memerintahkan untuk melengkapi kapal yang akan berangkat ke Pasai dengan tujuan meminta ufti (upeti ). Utusan raja siam yang berada dalam perahu menyampaikan maksud dan tujuannya kepada seorang laksamana utusan Sultan Malikul Mahmud, dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut:
“ Adapun perahu kami ini datangnya dari Benua Siam dan akan maksud kami disuruh oleh Raja Siam untuk meminta ufti negeri ini. Jikalau ada maksud seperti kami ini, niscaya kembalilah kami membawa ufti itu dan jikalau tidak demikian itu, niscaya kami pun perangilah negeri kamu ini, dan Talak Sejang panglimanya.”(HRP:27).
Berdasarkan kutipan di atas, utusan Raja Siam menyampaikan maksud dan
Talak Sejang akan menyerang Pasai jika tidak mendapatkan tujuannya. Seorang laksamana menyampaikan kabar yang didapatkannya kepada Sultan Malikul Mahmud mendengar hal itu Sultan Malikul Mahmud sangat marah, kemudian memerintahkan Sayid Ali Ghiatuddin mengumpulkan hulubalang dan seluruh rakyat untuk berperang. Talak Sejang mendengar kabar itu, kemudian memerintahkan seluruh prajuritnya naik ke darat untuk berperang. Peperangan antar kedua pihak membuat konflik semakin memuncak.
D.Tahap klimaks (climax)
Tahap klimaks merupakan konflik pertentangan yang dilakukan oleh para tokoh mencapai puncak, seperti klimaks dalam HRP. Terlihat dalam kutipan berikut ini;
“Maka Sultan Malikul Mahmud terlalu amarah melihat hal itu. Maka Sultan pun menyuruh menghimpunkan segala rakyat besar kecil hingga dapat memegang senjata masing-masing dengan senjatanya. Maka Sultan pun keluar sendiri pergi mendatangi talak sejang. Maka ia pun keluar dari dalam kotanya berdiri di medan bersaf-saf, maka berhadapanlah kedua pihak laskar itu.” (HRP:28)
Berdasarkan kutipan di atas, Sultan Malikul Mahmud memerintahkan seluruh rakyatnya beperang sambil membawa senjatanya masing-masing untuk menyerang pasukan Talak Sejang. Sultan Malikul Mahmud melawan Talak Sejang ketempatnya. Pertempuran antara Talak Sejang dengan Sultan Malikul Mahmud tidak dapat dihindari sehingga banyak prajurit kedua belah pihak yang mati dan terluka. Sultan Malikul Mahmud menang dalam peperangan itu.
Sultan Malikul Mahmud dikarunia seorang anak laki-laki dan dua orang perempuan. anak laki-lakinya bernama Sultan Ahmad Perumudal Perumal. setelah
beberapa lama Sultan Malikul Mahmud memerintah dalam kerajaan itu, maka Sultan Malikul Mahmud pergi ke hulu sungai untuk mengadakan perjamuan dengan seluruh hulubalang dan prajuritnya. Sultan Malikul Mansur mendengar perjamuan yang diadakan oleh Sultan Malikul Mahmud, maka Sultan Malikul Mansur diam-diam mengadakan perjamuan ke tepi laut. Sayid Semayamuddin menasehati Sultan Malikul Mansur tetapi dihiraukanya. Sultan Malikul Mansur bertemu dengan seorang wanita yang dicintainya dari luar istana ketika Sultan Malikul Mansur dalam perjalanan pulang, kemudian Sultan Malikul Mansur menikahinya. Sultan Malikul Mahmud sangat marah ketika mendengar kabar Sultan Malikul Mansur yang menikahi gadis yang tidak berasal dari istana. Sultan Malikul Mahmud mengasingkan Sultan Malikul Mansur, hal ini dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:
“Maka disuruh Sultan lengkapi perahu barang empat lima buah perahu mengantarkan Sultan Malikul Mansur ke Negeri Tamiang, akan memeliharakan Tun Jaya Pangliran. setelah itu, maka Sultan Malikul Mansur pun dibawa oranglah baginda keperahu dengan artanya dan segala hamba sahayanya.” (HRP: 32)
Berdasarkan kutipan di atas, Sultan Malikul Mansur diasingkan ke Negeri Tamiang beserta hartanya sebanyak lima buah perahu untuk mengantarkan Sultan Malikul Mansur dengan membawa beberapa harta dan seluruh pelayannya.
Menteri Sayid Samayamuddin di bunuh. Kepala Sayid Samayamuddin diikatkan di perahu Sultan Malikul Mansur. Sultan Malikul Mansur melihat jasad Sayid Samayamuddin lalu di kuburkannya di Padang Maya. Sultan Malikul Mahmud menyesal dan mengutus seseorang untuk menjemput kembali Sultan Malikul Mansur. Sebelum kembali Sultan Malikul Mansur berziarah ke makam Sayid