BAB IV PEMBAHASAN
4. Tahap Penulisan sampai Proses Penyempurnaan
Pada tahap ini, Dinda Natasya menuliskan dengan cepat dan spontan. Barangkali jika tidak, maka kemungkinan besar ide yang baru saja muncul akan cepat hilang atau mati. Bagi Dinda Natasya tidak perlu waktu berlama-lama lagi untuk menuliskan ide atau gagasannya. Karena seperti yang telah dibahas dalam tahapan inspirasi bahwa kespontanitasan Dinda Natasya yang lantas membuatnya tidak membutuhkan waktu yang lama dalam penulisan sampai penyempurnaan. Hal tersebut juga dikarenakan profesinya sebagai penyiar yang dituntut serba cepat dalam berpikir dan lebih banyak bicara. Berikut kutipan hasil wawancara Dinda Natasya yang mencerminkan hal di atas.
Iya, kayak gini, kadang-kadang kayak gini, kalau puisi seketika itu pada, pada artinya mungkin bisa langsung lebih tajam ya karena kan seketika itu kan murni, orisinil gitu. Tapi kalau digubah, kepentingannya kan estetika untuk kepenyiarannya. Harus ada suara yang, untuk cara membacanya di radio itu didengarkan itu nyaman, enak, lurus tidak kudruh atau ruwet gitu loh. Jadi, sesuatu yang mudah dicerna dan enak untuk dinikmati walaupun itu sebuah kalimat yang dibaca dengan bergaya kan gitu. Jadi kalo, puisi mungkin Bunda kan tidak berpuisi seperti para puitis ee apa ya itu para ee itulah seniman yang begitu puitis di panggung seperti itu ya karakternya. Kalo Bunda kan suaranya betul-betul hanya karakter suaranya karena commit to user
menampilkan orang tanpa ee apa namanya ee figur ya, sosok, jadikan benar-benar hanya duduknya sangat santai ya jadi penguasaan suara itu yang penting (Wawancara Dinda Natasya, 31 Maret 2012).
Pada tahap penulisan, kalau saat inspirasi telah muncul maka segeralah lari ke mesin tulis atau computer atau ambil bolpoin dan segera menulis. Keluarkan segala hasil inkubasi selama ini. Tuangkan semua gagasan yang baik atau kurang baik, muntahkan semuanya tanpa sisa dalam sebuah bentuk tulisan yang direncanakannya. Rasio belum boleh bekerja dulu. Bawah sadar dan kesadaran dituliskan dengan gairah besar. Hasilnya masih suatu karya kasar, masih sebuah draft belaka. Spontanitas amat penting di sini (Jakob Sumardjo, 1997:71-72).
Namun bagi Dinda Natasya, dirinya tidak banyak melakukan proses penyempurnaan selain membaca kembali beberapa kali sambil meneliti. Apakah pesan yang disampaikan lewat tulisannya itu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pemikiran Dinda Natasya atau tidak dan bisa dipahami atau dicerna dengan mudah atau tidak oleh pembaca. Proses penyempurnaan yang dilakukan Dinda Natasya ini juga terkait dengan tahap inkubasi atau pengendapan. Hal tersebut tampak dalam kutipan email yang dikirimkan oleh Dinda Natasya kepada peneliti berikut.
Saya termasuk orang yang bisa menulis secara spontan. Saya tak banyak melakukan proses pengendapan selain membaca kembali beberapa kali sambil meneliti apakah pesan yang saya tulis sesuai dengan maksud saya atau tidak dan apakah bisa dipahami atau dicerna dengan mudah atau tidak. Saya lebih cepat bicara dari pada menulis. Bisa seketika saya lakukan begitu ada topik yang menggelitik pikiran saya. Mungkin kebiasaan saya siaran yang menyebabkan saya terlatih untuk bereaksi spontan terhadap suatu masalah (Email Dinda Natasya, 03 Februari 2012 pukul 21.59 WIB).
Seperti yang telah dikemukakan dalam pembahasan tahap persiapan dan dari kutipan email di atas, bahwa Dinda Natasya dapat menulis dengan spontan. commit to user
Dinda Natasya menulis karena apa yang dilihat dan apa yang didengarnya. Dinda Natasya mengaku kadang menempatkan dirinya sebagai mereka yang menjadi objek pemikirannya dan berusaha ikut merasakan apa yang sedang mereka rasakan. Terkadang Dinda Natasya menjadikan menulis hanya sebagai kebiasaannya dalam memotret peristiwa, tetapi bukan menggunakan kamera melainkan mata pena (Email Dinda Natasya, 3 Februari 2012 pukul 21.59 WIB).
Kespontanan dari gaya kepenulisan Dinda Natasya tersebut telah menjadi kekhasan tersendiri bagi Dinda Natasya sebagai seorang penulis yang berprofesi penyiar dan konsultan persoalan sosial yang disebabkan oleh cinta. Sedikit banyak profesinya tersebut sangat mempengaruhi karena sebagai penyiar dan konsultan, Dinda Natasya selain memiliki banyak pengalaman dan bertemu banyak orang, ia juga banyak mendengarkan pengalaman-pengalaman atau kisah-kisah dari orang lain tentang kehidupan mereka. Dari hal tersebut Dinda Natasya juga banyak belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri.
Pengalaman Dinda Natasya tersebut telah mengendap lama dalam batin dan pikirannya sehingga saat Dinda Natasya diberi topik atau pertanyaan maka akan dengan cepat Dinda Natasya mengekspresikan dalam bentuk puisi. Selain itu, Dinda Natasya juga mengolah pengalaman-pengalaman tersebut menjadi karya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pembacanya seperti yang telah dibahas dalam pembahasan sebelumnya.
Tidak banyaknya bahkan relatif tidak adanya proses penyempurnaan bagi Dinda Natasya dalam tahap ini tampak dalam ungkapannya pada kutipan hasil wawancara berikut.
ee..apa..ee ada sih, catetannya kalo tak copyin, tapi kalo diKalah itu ga ada gantinya gitu, Kalah itu asli, asli sekali tulis langsung jadi tanpa ralat. Kalo ga salah ada, kalau ga salah ada...
...atau mungkin satu aja, satu aja udah cukup kalo „Kalah‟ paling karena itu coretan tangan ya. Kalau misalnya garis-garis atau apa itu (Wawancara Dinda Natasya, 31 Maret 2012).
Kemudian berikut juga peneliti mencantumkan tulisan asli beberapa puisi yang digunakan sebagai bukti kerelatifan tidak adanya proses penyempurnaan, yaitu puisi Kalah (hal 70-71), Puisi Penjara Cinta, Lewat Tengah Malam (17-18), dan puisi KPK Untuk Siapa Kau Ada? (hal 101-103).
KALAH
Ya Allah
Engkau yang mengajariku cinta Dalam kegalauan mencoba mencari Apa makna yang telah kau beri Tentang memberi dan menerima Tentang ketulusan dan keikhlasan Ya Allah
Hari ini aku tersesat jauh
Dalam perjalananku meraih cintamu Seseorang datang menghadang langkahku
Aku gagal mendapatkanmu
Karena aku memberi seluruh cintaku Dan menerima fatamorgana ini Yang telah menjauhkanku darimu Ya Allah
Inilah tipu muslihat cinta
Yang kulihat adalah kesenangan dunia Kebahagiaan semu yang ternyata membuatku menderita
Karena cintaku telah melebihi persembahanku padamu Ya Allah
Jika akhirnya tangis dan sesal Tak bisa lagi menolong
Siapakah yang akan menyelamatkanku dari siksa ini
Jika bukan karena kasih sayangmu Ampunilah aku ya Tuhanku Karena cinta ini telah membutakan matahatiku
Ya Allah
Bebaskanlah aku dari penjara cinta ini Biarkan aku kembali padamu
Jangan kau hokum aku atas semua kesalahan ini
Karena mencintainya melebihi cintaku padamu
Seperti yang seharusnya
(Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:70-71)
PENJARA CINTA, LEWAT TENGAH MALAM
Jam satu lewat tengah malam Ruang itu begitu sunyi Kepala berat karena kantuk Hatiku melayang entah kemana Mencoba berjalan menembus lorong Dinding tebal yang basah
Pintu yang terkunci Gembok menggantung Bisu
Angin kepayahan menyusup diantara jeruji besi
Menghitung waktu yang terbuang di kamat ini
Berapa lama lagi?
Wajah-wajah asing dating dan pergi Cerita pilu anak manusia silih berganti Aku merenung wajah siapa yang masih kuingat
Samar-samar semua gambar memudar Perasaanku bercampur aduk
Hampir hilang kesadaran Antara mimpi dan kenyataan
Aku melihat neraca keadilan bergerak Seiring robohnya tembok penjara Jeruji besi meleleh
Pintu-pintu terbuka
Aku merasa tubuhku melayang di atasnya
Hatiku bebas tak ada lagi beban Ringan melepaskan pasungan
Terbang membawa kemenangan dan kebenaran
Didalam tidurku wajah-wajah tersenyum
Menyambut pejuang yang pulang Jam satu dini hari
Diruang ini lewat tengah malam Aku bahagia dengan keikhlasanku Jakarta 9 Januari 2008
***
(Dinda Natasya dan Anto HPrastyo,
KPK UNTUK SIAPA KAU ADA?
KPK, oh KPK
Apakah engkau ini sebenarnya
Seperti tsunami memporak-porandakan tatanan
Begitu banyak kehidupan yang engkau renggut
Begitu banyak harapan kau sirnakan Apakah engkau ini musibah
Apakah engkau ini anugerah? KPKku malang
Kemanakah nurani jika mata tak lagi melihat
Kemanakah serunai jika telinga tak lagi mendengar
Apakah engkau ini buta Apakah engkau ini pekak? Jika mulut tak lagi bicara
Inilah saatnya tangan menyeru hati Lewat lukisan dalam belenggu kanvas Tak bisa pergi tak bisa berlari
Namun anganku bebas mengembara KPK, oh KPK
Aku bicara atas nama cinta
Ketika gerhana tiba dan gelap melanda Kau tak akan mengalahkanku
Boleh kau ikatkan belenggu atasku Dan kau rantai kehidupanku Tapi kemanakah nurani
Jika aku merasa belenggu ini bukan milikku
Kebebasan itu berbatas tipis Apakah aku ini bersalah? Apakah aku ini pendosa? KPK, oh KPK
Jubah mana yang kau kenakan Apakah kau ini malaikat Apakah kau ini petunjuk
Kemanakah perginya sang penyeru Pemberi ingat jiwa yang lupa
Jika hari ini aku di sini terkunci Kau ada di sana
Jika hari ini aku ada di sana Kau di sini terkunci
Siapakah yang kuasa atas kebebasan? Saat kau kalah maka aku yang menang Saat kau meresa menang, maka aku tetap menang
Karena hatiku bebas dari tekanan Karena kebenaranku suci dari politisi Karena kebebasanku adalah nurani KPK, oh KPK
Kemanakah hatimu
Jika nurani terbelenggu jeruri besi Dimanakah tempatmu?
Jika saja engkau bermata
Maka siapakah engkau ini sebenarnya 6 Januari 2008
(Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:101-103)
Tampak jelas dari perbandingan ketiga puisi di atas dan dari pemaparan sebelumnya bahwa tidak banyak perubahan atau penyempurnaan yang dilakukan oleh Dinda Natasya. Ada beberapa perubahan dalam teknis penulisan yaitu berupa penggunaan tanda baca, eksplorasi tanda baca titik dua (:), dan perubahan kata. Seperti pada judul puisi Kalah, yang dilakukan penghilangan dua tanda seru (!!) dan tanda tiga titik (…) dari tulisan asli yaitu pada larik “Ya Allah…” pada saat dicetak menjadi “Ya Allah”, hal tersebut merupakan perbedaan penulisan pada tulisan asli dan pada saat dicetak. Tanda tiga titik (…) sebenarnya merupakan tanda baca yang penting dalam larik puisi karena tanda tiga titik (…) dapat dikatakan juga sebagai pendukung estetika dalam puisi. Dalam tulisan aslinya, puisi Kalah dituliskan tidak berjarak atau tidak ada pembaitan, namun pada saat dicetak lariknya ditulis dengan pembaitan. commit to user
Begitu juga pada tulisan asli puisi Penjara Cinta, Lewat Tengah Malam, judul dalam tulisan asli dituliskan tanpa tanda koma (,) namun pada cetakan ditulis dengan tanda koma (,) yaitu ada di antara kata“Penjara Cinta” dan “Lewat
Tengah Malam”. Kemudian juga terdapat perbedaan pada judul tulisan asli dan
cetakan yaitu dalam tulisan asli “Penjara Cinta”dituliskan hanya pada huruf “P” dan “C” saja yang menggunakan hurul kapital, sedangkan pada cetakan judulnya ditulis dengan menggunakan huruf kapital semua “PENJARA CINTA, LEWAT
TENGAH MALAM”. Pada tulisan asli puisi tersebut lajur baitnya dituliskan tidak
berjarak atau dapat dikatakan tidak ada pembaitan, sedangkan pada cetakan dituliskan berjarak atau terdapat pembaitan. Dalam puisi tersebut juga terdapat penghilangan tanda tiga titik (…) pada larik “hatiku melayang entah kemana…”
dan “bisu…”, hal tersebut merupakan hal yang sama seperti pada puisi Kalah.
Kemudian dalam puisi tersebut terdapat penggantian kata yaitu pada larik tulisan aslinya “…aku merasa diriku melayang di atasnya…” lalu pada saat dicetak diganti dengan “aku merasa tubuhku melayang di atasnya…”. Penambahan kata pada beberapa larik puisi, yaitu (a) pada larik tulisan aslinya “…hatiku bebas tak
ada beban…” lalu pada saat dicetak lariknya mengalami penambahan kata “lagi”
“…hatiku bebas tak ada lagi beban…”. (b) pada larik tulisan aslinya “…di ruang
ini…” lalu pada saat dicetak lariknya mengalami penambahan yaitu “…di ruang
ini lewat tengah malam…”. Selain itu juga terdapat penghilangan kata dalam larik tulisan aslinya “…jam satu pagi dini hari…” lalu pada saat dicetak lariknya mengalami penghilangan kata “pagi” yaitu menjadi “…jam satu dini hari”.
Sama halnya dengan kedua puisi di atas, puisi KPK Untuk Siapa Kau Ada? ada penambahan tanda tanya (?) setelah pada kata “ada” yaitu “KPK
UNTUK SIAPA KAU ADA?”. Pada puisi tersebut juga terdapat penghilangan tanda tiga titik (…) dalam beberapa larik puisi yang dapat dilihat pada halaman depan dan terdapat pembaitan pada cetakan, tidak seperti tulisan aslinya yang tidak terdapat pembaitan. Pada judul puisi tersebut juga terdapat perubahan yaitu penghilangan tanda titik dua (:) yang seharusnya ada di antara kata “KPK” dan
“Untuk” saat dicetak. Kemudian dalam puisi tersebut juga terdapat satu
penggantian kata, yaitu pada larik sebelumnya adalah “…apakah engkau ini
anugerah…” kemudian diganti dengan “…apakah engkau ini pekak”.
Digantinya kata “anugerah” yang pada mulanya Dinda Natasya berkesan positif, lalu karena persoalan sosial yang dicerminkan oleh puisi tersebut berkesan mengkritisi kemudian Dinda Natasya mengubah arah berpikirnya menjadi berkesan negatif dengan menggantinya menjadi “pekak”. Pada larik “KPK..oh
KPK” dalam tulisan asli dituliskan dengan tanda dua titik (..) setelah kata “KPK”, namun terjadi perubahan pada saat dicetak yaitu diganti dengan tanda koma (,) yaitu “KPK, oh KPK”. Terdapat juga penambahan kata dan tanda, larik dalam tulisan aslinya “…Jubah mana kau kenakan…” kemudian ditambah dengan kata
“yang” di antara kata “mana” dan “kau” yaitu “…Jubah mana yang kau
kenakan…”. Selain itu juga terdapat kata yang diganti dalam tulisan aslinya yaitu
“…Boleh kau timpakan belenggu atasku…”, kemudian saat dicetak diganti
dengan “…Boleh kau ikatkan belenggu atasku…”. Demikianlah perbedaan-perbedaan yang peneliti temukan saat membandingkan kedua tulisan, yaitu tulisan asli dan tulisan yang telah dicetak.
B. Konkretisasi Persoalan-Persoalan Sosial dalam Dialog Cinta Oase Samudra Biru
Sebagai pengarang, Dinda Natasya hidup di masyarakat beserta kehidupan sosialnya. Dinda Natasya juga berhadapan dengan suatu kenyataan yang ada dalam masyarakat (realitas objektif) berupa peristiwa-peristiwa, norma-norma dan pandangan hidup. Banyaknya interaksi Dinda Natasya dalam kehidupan sosialnya tersebut, seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan di halaman depan, membuatnya menjadi sangat peka terhadap realitas objektif yang ada di sekitarnya. Terlebih lagi profesinya sebagai penyiar dan “dokter cinta” yang banyak memberinya pengalaman dan inspirasi dari kisah-kisah pendengar maupun “pasien-pasiennya. Persoalan-persoalan sosial yang diangkat oleh Dinda Natasya dalam karyanya yaitu berupa persoalan-persoalan remaja khususnya yang disebabkan oleh cinta, konflik keluarga, abnormalitas masyarakat karena himpitan ekonomi serta ketidakadilan hukum negara. Persoalan-persoalan sosial itulah yang kemudian dimunculkan sebagai karya sastra oleh Dinda Natasya.
Dinda Natasya mengungkapkan apa yang dilihat dan didengarnya melalui tulisan ke dalam karya. Dinda Natasya juga menuliskan pengalaman dan pemikirannya tentang realitas objektif yang ada di sekitarnya. Persoalan sosial atau masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang menghambat kehidupan kelompok sosial (Soerjono Soekanto, 2002:358).
Masalah sosial juga timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis
(kemiskinan, pengangguran, dll), biologis (penyakit menular, keracunan makanan, dsb), biopsikologis (penyakit syaraf, aliran sesat, dsb), dan kebudayaan (perceraian,kenakalan remaja, kejahatan, dll). Setiap masyarakat mempunyai norma yang bersangkut-paut dengan kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma tersebut merupakan gejala abnormal yang merupakan masalah sosial (Soerjono Soekanto, 2002:360).
Masalah sosial muncul karena sebab-sebab dari individu sendiri (intrinsik) dan luar individu (ekstrinsik). Masalah yang mula-mula menggambarkan kondisi individu kemudian menjadi masalah yang menjelaskan kondisi dari sistem di tempat masyarakat hidup yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak pada sebagian besar anggota masyarakat. Sebab-sebab ekstrinsik berasal dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Misalnya persoalan individu sendiri (intrinsik) yang berupa persoalan konflik batin seseorang dengan Tuhannya atau persoalan kebutuhan berupa desakan ekonomi. Kemudian luar individu (ekstrinsik) misalnya persoalan sosial masyarakat di mana pada suatu kondisi tertentu kedua persoalan tersebut dapat saling mempengaruhi. Seperti perceraian, kemiskinan, pelanggaran, kejahatan, dan abnormalitas masyarakat yang dapat pula penyebabnya berawal dari persoalan individu (intrinsik) kemudian berkembang menjadi persoalan luar individu (ekstrinsik). Misalnya himpitan ekonomi yang menuntut seseorang untuk dapat melakukan kejahatan apa saja termasuk abnormalitas masyarakat, seperti yang tampak dalam Kisah Seorang Pramuria (hal 19-22) berikut yang juga merupakan cerminan persoalan sosial yang ada di lingkungan Dinda Natasya.
...Setiap malam bertemu dengan mereka. Dari sekedar pemandu karaoke, tukang pijat (plus), hostess di klub malam dan diskotik serta pekerja sex dari yang di hotel sampai yang tercecer di sepanjang jalan Hayam Wuruk (belum yang nyelip di sudut warung gelap yang kumuh)... (Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:19-20).
Kisah di atas merefleksikan suatu realitas objektif tentang kehidupan penjaja seks yang terjadi dalam masyarakat di jalan Hayam Wuruk. Sebagian besar dari mereka terdesak oleh kebutuhan ekonomi atau karena kemiskinan dan sebagian lain karena tidak memiliki pekerjaan. Seperti yang tampak dalam kutipan “...kebanyakan perempuan yang saya temui, 90% terjun sebagai penjaja cinta karena faktor ekonomi...” (Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:20). Dari pekerjaan menjadi penjaja seks itu mereka juga tidak terhindarkan dari penyakit-penyakit biologis maupun biopsikologis seperti dalam kutipan “(walau resikonya juga besar, dari mulai penyakit kelamin, ancaman garukan dan juga pemerasan dari germok masing-masing)” (Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:20). Penyakit biologis berupa penyakit kelamin dan biopsikologis berupa kejahatan pemerasan dari germo atau muncikari mereka masing-masing.
Hal di atas merupakan karya Dinda Natasya yang merasa gelisah akan ketidakpuasannya terhadap suatu realitas objektif. Berangkat dari kegelisahannya itulah, Dinda Natasya dengan caranya sendiri memprotes, memberontak, mendobrak realitas yang menurutnya tidak memuaskan atau penuh dengan ketidakadilan. Berikut pengetian-pengertian hal di atas: (a) memprotes adalah menyatakan tidak setuju; menyangkal menentang, (b) memberontak adalah melawan; tidak mau menurut perintah; melawan pemerintah (kekuasaan dsb) secara serentak, (c) mendobrak adalah menembus pertahanan; menghapuskan
secara berani dan tegas (tentang tradisi, adat, kebiasaan) (Dendy Sugono, 2008:180-1107).
Dinda Natasya mengekspresikan semua hal tersebut melalui beberapa kutipan karyanya dalam puisi Mimpi 18 Hari (hal 15-16), puisi Sombong (hal 68-69), dan puisi KPK Untuk Siapa Kau Ada? (hal 101-103) berikut.
MIMPI 18 HARI
Suatu hari terasa tubuh begitu letih
Deru kehidupan dunia membuat perih tak berasa lagi Mata telinga mulut terkunci
Jantung berdegup kencang saat prahara datang
Aksi dorong mendorong memaksaku menyerah pada nasib Dilorong kehidupan antara mimpi dan kenyataan
Dipintu kematian antara hukuman dan pengampunan Kubiarkan tubuh ini terbaring
Menikmati mimpi 18 hari... (Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:15) SOMBONG
Wahai
Tak berotakkah kau Bengis dan sombong
Keji picik menghujam perih Di setiap laku dan ucapmu Bak sumpah serapah Pendusta penjilat nista Jika tak disebut munafik Sungguh kesal
Wahai
Berlari menghindar maut
Sembunyilah dari kematian jika kau bisa Bawa anak istrimu serta
Kemas semua harta benda dan tahta Bawa jika kau bisa
Jika kau pergi akankah ada yang turut
Sungguh sombong… (Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:68) KPK UNTUK SIAPA KAU ADA?
KPK, oh KPK
Apakah engkau ini sebenarnya
Seperti tsunami memporak-porandakan tatanan Begitu banyak kehidupan yang kau renggut Bagitu banyak harapan kau sirnakan
Apakah engkau ini musibah
Apa engkau ini anugerah? (Dinda Natasya dan Anto HPrastyo, 2010:101)
Melalui puisi-puisi di atas Dinda Natasya menyuarakan kegelisahannya dengan memprotes, memberontak, dan mendobrak menggunakan bahasa sebagai media. Dinda Natasya memprotes karena merasa ada ketidakadilan dalam hukum negara yang ditunjukkan dalam puisi Mimpi 18 Hari (hal 15-16) berikut “Dipintu kematian antara hukuman dan pengampunan...”. Karena puisi tersebut juga menggambarkan kepasrahan seseorang atas ketidakberdayaannya melawan hukum yang tidak adil. Persoalan sosial lain yaitu adanya kesenjangan sosial berupa kesombongan atas kekayaaan dan kekuasaan sehingga membuat seseorang bersikap sewenang-wenang. Kekayaan dan kekuasaan itu tercermin dalam kutipan
“...Kemas semua harta benda dan tahta. Bawa jika kau bisa...”. Dinda Natasya mengekspresikannya dengan memberontak atau melawan penguasa melalui puisinya yang juga digunakan untuk mengingatkan para penguasa yang sombong agar segera bertaubat. Kemudian juga persoalan sosial mengenai peran KPK yang masih dipertanyakan dalam masyarakat luas. Peran Lembaga Pemberantasan Korupsi yang seharusnya memberantas para koruptor, dewasa ini banyak media mengabarkan justru menjatuhkan orang-orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan atau tidak terlibat dalam skandal korupsi menjadi tersangka. Maka dari itu Dinda Natasya mencoba mendobrak atau menghapuskan tatanan yang sudah ada secara berani untuk mengulas tentang peran KPK.
Selain mencoba untuk mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang ditemukannya. Dinda Natasya juga ingin berpesan kepada pihak-pihak lain tentang sesuatu yang dianggap sebagai masalah atau persoalan manusia tersebut. Hal ini bertujuan agar pihak-pihak yang bersangkutan dapat mendengar dan melihat kebenaran dengan benar. Namun bagi Dinda Natasya, ia hanya sekedar
menuliskan dan meluapkan apa yang ada di sekitarnya dengan ikut merasakan apa yang terjadi. Dinda Natasya juga tidak banyak berharap tulisannya akan dibaca