HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
4.1.1.6 Tahap Refleks
Adapun kelebihan dan kelemahan yang terjadi dalam pelaksanaan tindakan siklus I dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
a. Guru sudah cukup mampu memberi soal-soal pemecahan masalah yang sering terjadi dalam kehidupan siswa.
b. Guru sudah cukup mampu memberi pertanyaan lisan ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
2. Dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
a. Guru kurang mampu memulai pelajaran dengan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.
b. Guru kurang mampu menggunakan alat peraga yang membantu siswa menemukan rumus.
c. Guru kurang mampu membimbing siswa menggunakan alat peraga.
d. Guru kurang mampu memberi waktu kepada siswa untuk membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal.
e. Guru kurang mampu memberi penjelasan tentang materi dan penemuan siswa.
f. Guru kurang mampu memberi pertanyaan yang berkaitan dengan materi lain dalam mata pelajaran matematika.
g. Guru kurang mampu memberi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
3. Dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa memiliki beberapa kelebihan, yaitu: a. Siswa cukup mampu dalam menyebutkan aplikasi pengetahuan yang
diperoleh dalam kehidupan nyata.
b. Siswa cukup mampu dalam melakukan pemodelan untuk menemukan penyelesaian soal-soal.
c. Siswa cukup mampu berdiskusi dengan siswa yang lain.
4. Dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa memiliki beberapa kelemahan, yaitu: a. Siswa kurang mampu membuat pemodelan sendiri dalam mencari
penyelesaian formal.
b. Siswa kurang mampu menemukan sendiri (mengkonstruksi) penyelesaian secara formal.
c. Siswa kurang mampu merespon aktif pertanyaan lisan dari guru.
d. Siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam matematika.
e. Siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
5. Rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah siklus I adalah 60,8.
Untuk memperbaiki berbagai kegagalan dan meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I maka sebelum siklus II diadakan kegiatan sebagai berikut:
1. Guru memberikan penguatan bagaimana membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal.
2. Guru memberikan penguatan bagaimana menemukan sendiri (mengkonstruksi) penyelesaian secara formal.
3. Guru memberikan penguatan bagaimana agar siswa mampu merespon aktif pertanyaan lisan dari guru.
4. Guru memberikan penguatan bagaimana agar siswa mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam matematika.
6. Guru memberikan penguatan bagaimana agar siswa mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
4.1.2 Siklus II
4.1.2.1 Permasalahan
Dari hasil tindakan I telah diketahui seberapa besar pencapaian siswa untuk tes kemampuan pemecahan masalah yang diberikan pada Lembar Aktivitas Siswa untuk mengerjakan masalah kontekstual A dengan rata-rata pencapaian skor kemampuan pemecahan masalah siklus I adalah 60,8. Beberapa masalah yang ditemukan pada siklus I adalah : (1) Siswa kurang mampu membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal, (2) Siswa kurang mampu menemukan sendiri (mengkonstruksi) penyelesaian secara formal, (3) Siswa kurang mampu merespon aktif pertanyaan lisan dari guru, (4) Siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam matematika, (5) Siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
4.1.2.2 Tahap Perencanaan Tindakan (Alternatif Pemecahan)
Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan tindakan kelas pada siklus II (alternatif pemecahan masalah) dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami siswa pada siklus I. Alternatif pemecahan yang dilakukan antara lain :
1. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang akan dialami siswa pada tahap pelaksanaan tindakan diberikan, beberapa alternatif pemecahan yang dilakukan sebagai berikut :
a. Guru mempersiapkan Lembar Aktivitas Siswa.
b. Guru memastikan alat peraga dalam pembelajaran matematika realistik dalam keadaan tersedia.
c. Guru mempersiapkan buku pendukung pembelajaran, spidol, dan penghapus papan tulis.
d. Guru membagikan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) kepada siswa yang berisi soal-soal dari Masalah Kontekstual B.
e. Mempersiapkan lembar observasi, dan lembar penilaian.
2. Guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat langkah-langkah kegiatan belajar mengajar melalui pembelajaran matematika realistik untuk meningkatkan kemampuan pemecahann masalah matematika pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel.
4.1.2.3 Tahap Pelaksanaan Tindakan
Guru dalam hal ini peneliti melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun dan melaksanakan alternatif pemecahan masalah yang telah dibuat. Pada siklus II terdiri dari satu kali pertemuan, yaitu pertemuan pada jam kedua. Pada pertemuan di jam kedua siswa hanya diberikan Lembar Aktivitas Siswa untuk Masalah Kontekstual B.
Adapun kegiatan belajar mengajar yang dilakukan antara lain:
1. Guru membimbing siswa untuk membentuk kelompok belajar dan menyajikan masalah kontekstual B (LAS).
2. Guru sebagai fasilitator memberi bantuan pada siswa untuk memahami masalah kontekstual B (LAS).
3. Guru sebagai fasilitator, berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain mengamati dan memberi dorongan tentang berbagai kemungkinan model of yang sesuai.
4. Meminta salah seorang siswa untuk menyajikan model of dan cara penyelesaian soal dari masalah kontekstual B pada LAS di depan kelas.
5. Memberi kesempatan pada beberapa orang siswa yang lain untuk menyajikan model of lain yang berbeda.
6. Memberi kesempatan pada siswa untuk menanggapi dan memilih model of yang sesuai dan benar.
7. Guru melakukan negoisasi, intervensi kooperatif, penjelasan, refleksi dan evaluasi, untuk membimbing siswa hingga sampai memahami konsep matematika formal.
8. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan dari materi pelajaran yang baru dibahas.
9. Guru menilai secara pribadi proses pembelajaran yang baru dilakukan.
4.1.2.4 Tahap Observasi
Pada saat pelaksanaan tindakan di siklus II terdiri satu kali pertemuan, pertemuan di siklus II Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru diobservasi oleh guru bidang studi matematika tempat kelas yang diteliti dan Hasil Observasi Aktivitas Siswa diobservasi oleh anggota peneliti yang lain. Berdasarkan Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru diperoleh bahwa peneliti belum maksimal dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar melalui pembelajaran matematika realistik pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi terhadap guru (peneliti) pada lampiran 8 bahwa persentase skor dalam pertemuan kedua sebesar 38,89%.
Dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru dapat diperoleh beberapa informasi sebagai berikut:
1. Guru kurang mampu memberi waktu kepada siswa untuk membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal .
3. Guru kurang mampu memberi pertanyaan yang berkaitan dengan materi lain dalam mata pelajaran matematika.
4. Guru kurang mampu memberi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
Kemudian dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa diperoleh informasi bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa kurang, hal tersebut dapat dilihat pada lampiran 9 dengan persentase skor dalam pertemuan kedua sebesar 40,62%.
Dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa dapat diperoleh beberapa informasi sebagai berikut:
1. Siswa kurang mampu menemukan sendiri (mengkonstruksi) penyelesaian jawaban secara formal.
2. Siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam matematika.
3. Siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
4.1.2.5 Tahap Analisis Data
Dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru diobservasi oleh guru bidang studi matematika tempat kelas yang diteliti dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru (peneliti) dalam melaksanakan pengajaran melalui pembelajaran matematika realistik belum maksimal tetapi meningkat sedikit dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru pada siklus I. Dari data yang diperoleh teridentifikasi bahwa peneliti kurang paham dalam memberi waktu kepada siswa untuk membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal, kurang paham dalam memberi penjelasan tentang materi dan penemuan siswa, kurang paham dalam memberi pertanyaan yang berkaitan dengan materi lain dalam mata pelajaran matematika, dan kurang paham dalam memberi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain, di
mana dalam hal Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru memiliki rata-rata aktivitas peneliti sebesar 38,89%.
Dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa oleh anggota peneliti yang lain dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa kurang. Dari data yang diperoleh teridentifikasi bahwa siswa kurang mampu menemukan sendiri (mengkonstruksi) penyelesaian jawaban secara formal, siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam matematika, siswa kurang mampu menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain, di mana dalam hal Observasi Aktivitas Siswa memiliki rata-rata aktivitas siswa sebesar 40,62%.
Untuk melihat apakah ada peningkatan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika antara siklus I dengan siklus II juga dapat dilihat dengan uji t-test sebagai berikut :
D
∑
¿ ¿ ¿2 ¿ ¿N ¿ ¿ D2 −¿∑
¿ ¿ √¿ t=D´¿Tabel 4.1 Perbandingan Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Siklus I dan Siklus II
No SiswaKode Siklus ISkor Siklus IISkor D D2
1 S1 63 50 13 169
2 S2 50 49 1 1
3 S3 45 40 5 25
4 S4 60 65 5 25
6 S6 49 65 16 256 7 S7 48 55 7 49 8 S8 67 56 11 121 9 S9 69 65 4 16 10 S10 66 65 1 1 11 S11 59 58 1 1 12 S12 48 50 2 4 13 S13 67 65 2 4 14 S14 59 54 5 25 15 S15 67 65 2 4 16 S16 40 43 3 9 17 S17 66 62 4 16 18 S18 65 65 0 0 19 S19 59 50 9 81 20 S20 67 65 2 4 21 S21 59 55 4 16 22 S22 48 49 1 1 23 S23 67 65 2 4 24 S24 55 56 1 1 25 S25 59 60 1 1 26 S26 65 65 0 0 27 S27 60 60 0 0 28 S28 67 65 2 4 29 S29 69 63 6 36 30 S30 70 65 5 25 31 S31 68 65 3 9 32 S32 59 60 1 1 33 S33 65 65 0 0 34 S34 75 65 10 100 35 S35 72 60 12 144 Jumlah 2128 2063 143 1157 Rata-Rata 60,8 58,94 4,08 33,06
Dari data diperoleh
∑
D=143,∑
D2=1157, D´=4,086 , N=35 maka dapat dihitung peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dari siklus I ke siklus II sebagai berikut:D
∑
¿ ¿ ¿2 ¿ ¿N ¿ ¿ D2−¿∑
¿ ¿ √¿ t=D´¿ t= 4,08√
1157−(143) 2 35 (35−1) t= 4,086√
572,74 (34) t=0,995Dengan demikian diperoleh bahwa thtung=0,995 untuk
∑
D=143,∑
D2=1157, D´=4,086 , N=35 . Dari harga α=0,05 dandk=N−1=35−1=34 maka diperoleh t0,95(34) di mana harga t0,95(34)
merupakan harga ttabel . Karena t0,95(34) tidak terdapat dalam tabel nilai
persentil untuk distribusi t, maka digunakan interpolasi linier untuk menaksir
harga t0,95(34). Diperoleh dengan pendekatan C=C0+
(
C1−C0)
(
B1−B0)
(B−B0)Keterangan :
C = Nilai harga kritis tabel yang akan diberi Co = Nilai tabel dibawah C
C1 = Nilai tabel diatas C
B = dk atau n nilai yang akan dicari
B0 = dk atau n dibawah nilai yang akan dicari
C=1,68+(1,70−1,68) (30−40) (34−40) C=1,68+(0,02) (−10)(−6) C=1,68+(0,02) (−10)(−6) C=1,68+0,012 C=1,692
Dari harga C = 1,692 maka ditetapkan t0,95(34)=1,692 . Ternyata t hasil perhitungan lebih kecil dari t tabel, yaitu thitung=0,995<ttabel=1,692 , maka dapat dijelaskan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kemampuan pemecahan masalah siklus I dengan kemampuan pemecahan masalah siklus II, dimana kemampuan pemecahan masalah siklus I lebih baik dibandingkan dengan kemampuan pemecahan masalah siklus II. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran matematika realistik tidak dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel di kelas VII4 SMP Nurul Hasanah Padang
Bulan Medan Tahun Akademik 2013 – 2014.
4.1.2.6 Tahap Refleksi
Adapun kelebihan dan kelemahan yang terjadi dalam pelaksanaan tindakan siklus II dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
a. Guru sudah cukup mampu dalam memulai pelajaran dengan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.
b. Guru sudah cukup mampu dalam memberi soal-soal pemecahan masalah yang sering terjadi dalam kehidupan siswa.
c. Guru sudah cukup mampu dalam menggunakan alat peraga yang membantu siswa menemukan rumus.
d. Guru sudah cukup mampu dalam membimbing siswa menggunakan alat peraga.
e. Guru sudah cukup mampu dalam memberi pertanyaan lisan ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
2. Dari Hasil Observasi Penerapan Prinsip PMR oleh Guru memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
a. Guru kurang mampu memberi waktu kepada siswa untuk membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal.
b. Guru kurang mampu memberi penjelasan tentang materi dan penemuan siswa.
c. Guru kurang mampu memberi pertanyaan yang berkaitan dengan materi lain dalam mata pelajaran matematika.
d. Guru kurang mampu memberi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
3. Dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa memiliki beberapa kelebihan, yaitu: a. Siswa sudah cukup mampu dalam menyebutkan aplikasi pengetahuan
yang diperoleh dalam kehidupan nyata.
b. Siswa sudah cukup mampu dalam melakukan pemodelan untuk menemukan penyelesaian soal-soal.
c. Siswa sudah cukup mampu dalam membuat pemodelan sendiri dalam mencari penyelesaian formal.
d. Siswa sudah cukup mampu dalam merespon aktif pertanyaan lisan dari guru.
e. Siswa sudah cukup mampu dalam berdiskusi dengan siswa yang lain. 4. Dari Hasil Observasi Aktivitas Siswa memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
a. Siswa kurang mampu dalam menemukan sendiri (mengkonstruksi) penyelesaian secara formal.
b. Siswa kurang mampu dalam menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam matematika.
c. Siswa kurang mampu dalam menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
5. Rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah siklus II adalah 58,94.
Berdasarkan hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam siklus I mengalami penurunan dari kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam siklus II.