• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap-tahap pembelajaran dalam pedagogi kritis

BAB II KAJIAN TEOR

C. Kajian tentang Pembelajaran

6. Tahap-tahap pembelajaran dalam pedagogi kritis

Sub bab ini memaparkan tentang pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan yang terdiri dari tiga fase atau tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi. Tahap-tahap tersebut didasarkan atas karakteristik pembelajaran Pedagogi Kritis dan model pembelajaran konstruktivistik. Adapun ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tahap perencanaan pembelajaran

Tahap perencanaan pembelajaran merupakan tahap penyusunan sesuatu untuk dilaksanakan agar mendapatkan tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini terdapat hal-hal yang harus dipersiapkan agar pembelajaran dapat berjalan efektif dan

efisien. Perencanaan proses pembelajaran biasanya meliputi dua hal, yaitu silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Silabus sebagai acuan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar (Rusman, 2011:5). Silabus akan menjadi panduan bagi guru untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan kurikulum yang berlaku.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan jabaran dari silabus. RPP disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih (Abdul Majid, 2013:38). RPP akan memandu guru dan pebelajar dalam menjalankan kegiatan pembelajaran.

Adapun komponen-komponen RPP menurut Rusman (2011:5) adalah sebagai berikut:

1) Identitas mata pelajaran

Terdiri dari satuan pendidikan, kelas, semester, program, mata pelajaran/tema pelajaran, dan jumlah pertemuan.

2) Standar kompetensi

Adalah kualifikasi kemampuan minimal pebelajar yang menggambarkan penguasan pengetahuan, sikap, dan keterampilan

yang diharapkan dicapai pada kelas dan atau semester pada suatu mata pelajaran.

3) Kompetensi dasar

Sejumlah kemampuan yang harus dikuasai pebelajar dalam mata pelajaran tertentu sebagai tujuan penyusunan indikator dalam suatu mata pelajaran.

4) Indikator pencapaian kompetensi

Perilaku yang dapat diukur atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

5) Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh pebelajar sesuai dengan kompetensi dasar.

6) Materi ajar

Memuat fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

7) Alokasi waktu

Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian kompetensi dasar dan beban belajar.

8) Metode pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pebelajar mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan.

9) Kegiatan pembelajaran

Perencanaan kegiatan pembelajaran biasanya dibagi menjadi tiga, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Pendahuluan adalah kegiatan awal pada pertemuan pembelajaran untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian pebelajar. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Sedangkan penutup adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, refleksi, dan umpan balik.

10) Penilaian hasil belajar

Merupakan prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar. Biasanya disesuaikan dengan indikator pen-capaian kompetensi dan mengacu pada standar penilaian

11) Sumber belajar

Biasanya ditentukan berdasarkan standar kompetensi, kompetensi dasar, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Perlu diperhatikan bahwa dalam konteks pembelajaran Pedagogi Kritis, tahap perencanaan yang dilakukan tidak terlalu kaku seperti dalam pembelajaran konvensional. Dalam tahap perencaan pembelajaran Pedagogi Kritis, guru dan pebelajar melakukan bersama-sama dengan cara berdialog. Seperti yang dilakukan Ira Shor yang merupakan salah satu tokoh Pedagogi Kritis. Ira shor mengajak pebelajar untuk menentukan kelas, aturan, silabus, perencanaan pembelajaran, dan bagaimana mereka akan dievaluasi (Rakhmat Hidayat: 2013,101). Ruang demokratisasi dalam pembelajaran Pedagogi Kritis dimulai dari tahap perencanaan, sehingga tercipta perencanaan yang mengakomodir ide dari semua yang berkepentingan, baik guru maupun pebelajar.

Dari beberapa komponen RPP yang telah disampaikan di atas, terdapat beberapa komponen yang memiliki sifat khas dalam pembelajaran Pedagogi Kritis. Yang pertama adalah tujuan pembelajaran. Pedagogi Kritis berangkat dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran transitif kritis. kesadaran transitif kritis adalah pebelajar mampu memandang kritis lingkungannya, memisahkan dirinya dengan keadaan sekitar yang menindas, kemudian bertindak untuk membebaskan dirinya (Rakhmat Hidayat, 2013:28). Apapun mata pelajaran yang akan dibahas bersama antara guru dan pebelajar, tujuan dari hal tersebut haruslah menumbuhkan

kesadaran transitif kritis walaupun pada akhirnya pebelajar juga menguasai indikator-indikator tertentu pada mata pelajaran.

Hal yang kedua adalah komponen materi ajar. Materi ajar memang berisi fakta dan konsep yang sebelumnya telah diketahui kebenarannya. Kebenaran tersebut dalam pembelajaran konvensional disampaikan secara verbalistik oleh guru kepada pebelajar. Tugas guru dalam pendidikan adalah menceritakan realitas-realitas, seolah- olah sesuatu yang tidak bergerak, statis, terpisah satu sama lain, dan dapat diramalkan (Rakhmat Hidayat,2013:28). Seakan-seakan ilmu pengetahuan yang ada dalam materi ajar bersifat mutlak dan pasti, sehingga akan mematikan daya kritis pebelajar untuk melakukan penggalian ilmu pengetahuan.

Pedagogi Kritis menolak penyampaian materi ajar yang bersifat kaku seperti yang disampaikan di atas. Pedagogi Kritis mendorong penggalian ilmu pengetahuan dalam materi ajar dengan model-model pembelajaran yang lebih demokratis, seperti model pembelajaran kontekstual, model pembelajaran berbasis masalah/problem posing, model pembelajaran kooperatif, dan model pembelajaran inquiry/penemuan. Metode pembelajaran yang dipilih dalam pembelajaran Pedagogi Kritis adalah yang bersifat dua arah, seperti dialog. Dialog adalah bentuk perjumpaan di antara sesama manusia dengan perantara dunia dalam rangka menamai dunia (Freire,

1985:73). Pedagogi Kritis mendorong bentuk-bentuk pembelajaran yang humanis.

b. Tahap pelaksanaan pembelajaran

Tahap pelaksanaan adalah implementasi dari perencaaan yang telah dibuat. Tahap pelaksanaan meliputi tiga bagian, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Adapun uraian dari ketiga bagian tersebut menurut Abdul Majid (2013:43) adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan pendahuluan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pendahuluan adalah:

a) Guru menyiapkan pebelajar secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran.

b) Guru berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan akan dipelajari.

c) Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan silabus yang disepakati.

Kegiatan pendahuluan seperti yang telah disampaikan di atas sejalan konsep Pedagogi Kritis yang menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengajak pebelajar untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada pebelajar. Guru juga perlu mempersiapkan pebelajar untuk

siap mengikuti kegiatan pembelajaran dengan motivasi-motivasi yang diberikan.

2) Kegiatan inti

Pelaksanaan inti dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang memotivasi pebelajar untuk ber- partisipasi aktif, serta memberikan cukup ruang bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pebelajar. Rusman (2011:11) menyebutkan bahwa dalam kegiatan inti terdapat 3 hal yang dilakukan, yaitu:

a) Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi yang dilakukan adalah dengan senantiasa melibatkan pebelajar mencari informasi yang luas dalam menentukan topik/tema materi yang akan dipelajari dengan prinsip “alam takambang” jadi guru dan pebelajar belajar dari aneka sumber; guru memfasilitasi interaksi yang akan terjadi antara sesama pebelajar, pebelajar dengan- lingkungan, dan dengan sumber belajar lainnya; melibatkan pebelajar secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; guru memfasilitasi pebelajar melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

b) Elaborasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam elaborasi adalah membiasakan pebelajar membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; memfasilitasi pebelajar melalui tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; memberi kesempatan pebelajar untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; memfasilitasi pebelajar dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; memfasilitasi pebelajar untuk membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; memfasilitasi pebelajar untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok; memfasilitasi pebelajar melakukan pameran dari produk yang dihasilkan; memfasilitasi pebelajar melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggan dan rasa percaya diri.

c) Konfirmasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konfirmasi yaitu memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan pembelajar; memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi pebelajar melalui berbagai sumber; memfasilitasi pebelajar melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman

belajar yang telah dilakukan; memfasilitasi pebelajar untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar; guru memfasilitasi dengan membantu menyelesaikan masalah; guru memberi acuan pebelajar dalam pengecekan hasil eksplorasi; membantu pebelajar untuk mendapatkan informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; guru memberikan motivasi kepada pebelajar yang kurang berpartisipasi secara aktif.

Poin-poin di atas menunjukkan bahwa guru mengajak pebelajar untuk melakukan kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dalam kegiatan inti pembelajaran. Ketiga kegiatan tersebut sangat memberi ruang bagi pebelajar untuk mendapatkan pengetahuan sendiri dan menemukan makna dalam pembelajaran. Dalam proses tersebut, guru bertindak sebagai fasilitator yang senantiasa membantu pebelajar dengan berproses bersama.

3) Kegiatan penutup

Pada kegiatan penutup hal-hal yang harus diperhatikan adalah guru bersama-sama dengan pebelajar untuk membuat rangkuman atau kesimpulan; melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan; guru memberikan umpan balik terhadap proses yang telah dilakukan.

c. Penilaian hasil pembelajaran

Penilaian pembelajaran dilakukan untuk mengukur kompetensi yang telah didapatkan oleh pebelajar. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematis, dan terprogram dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek atau produk, portofolio, serta penilaian diri. (Rusman, 2011:13). Apapun bentuk penilaian yang akan digunakan, dalam pandangan Pedagogi Kritis hal tersebut harus berdasarkan kesepakatan antara guru dan pebelajar. Dengan terjadinya sebuah kesepakatan, maka pebelajar dapat bertanggungjawab terhadap bentuk penilaian yang dipilih.

Dokumen terkait