BAB IV PEMBAHASAN
A. Pertimbangan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi dalam Putusan
Indonesia ialah negara yang menganut sistem hukum tertulis pada Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, dan dalam konstitusi tertulis, ”Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat) tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat)”. Terdapat dasar lain yang ada hubungannya mengenai kaidah negara hukum termasuk di dalamnya tercantum tentang penjelasannya yakni
“Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi, tidak berdasarkan absolutisme”
Bahwa mengenai Negara hukum lebih baik dijalankan dengan prinsip yang demokratis atau dengan kedaulatan rakyat (demokratische rechtsstaat).78
Janganlah hukum ditafsirkan, diciptakan, ditegakkan dan diputuskan dalam kepentingan sendiri (machtsstaat). Prinsip negara hukum janganlah melalaikan prinsip demokrasi yang sudah ada dalam UUD 1945. Oleh karenanya, harus ada ketegasan mengenai kedaulatan yang berada ditangan rakyat karena sudah tercantum dalam UUD (constitutional democracy). Pada Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang tertulis, “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD 1945.79
78 Jimly Asshidiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme (Jakarta: Kerjasama MK dengan Pusat studi HTN FH-UI, 2004), 56.
79 Asshidiqie, 56.
Menurut Ibnu Tricahyo mengartikan mengenai pemilu dari pandangan yang lebih abstrak bahwa pemilu bukan cuma sekedar teknis. Akan tetapi, terkandung nilai filosofisnya. Mengenai hal ini Ibnu Tricahyo juga mengutarakan bahwa pemilu ialah instrumen dalam menciptakan kedaulatan rakyat yang memiliki tujuan membangun pemerintahan yang benar dengan cara mengekspresikan harapan dan keinginan rakyat. Sistem yang dikemukakan oleh Ibnu Tricahyo pemilu ialah tempat dimana tidak terlepaskan dalam berpolitik di Negara yang menganut demokrasi modern. Mengenai pola dalam berpolitik demokrasi modern, pemilu adalah hal yang wajib dilaksanakan. Menurut Ben Reilly yang dipetik dari Joko J. Prihatmoko mengemukakan, yang intinya bahwa pemilihan dibuat agar mencukupi ketiga hal yang dimaksud adalah mempunyai satu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan80
Demokrasi lebih baik diaplikasikan melalui semua lapisan masyarakat.
Dimana demokrasi langsung merupakan demokrasi dengan tingkat yang paling tinggi. Semua negara menganggap bahwa negaranya sendiri sudah menjalankan sistem demokrasi. Sistem demokrasi merupakan sistem yang mementingkan kedaulatan rakyat yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Mengenai hal ini salah satu bagian menjalankan pola demokrasi adalah pemilihan umum atau yang dikenal oleh semua kalangan dengan sebutan pemilu.81
Pemilu diakui oleh berbagai negara sebagai tempat dalam menjalankan demokrasi perwakilan dan juga mengadakan peralihan pemerintahan dalam
80 Khairul Fahmi, Pemilihan Umum & Kedaulatan Rakyat (Jakarta: PT RajaGrafindo Perseda, 2012), 3.
81 Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum Dan Negara ( Bandung: Nusa Media, 2016), 408.
beberapa periode. Berdasarkan teori demokrasi minimalis (Schumpetrian), pemilu ialah sebagai tempat mewadahi kompetisi antara parpol untuk mendapatkan kekuasaan, politik dan liberasi hak-hak sipil warga negara, keikutsertaan politik rakyat untuk memutuskan pilihan. Dalam berdemokrasi harus memastikan bahwa pemilu sebagai peluang untuk parpol oposisi dan rakyat dalam melaksanakan metode check and balances atas parpol dengan pemilik kekuasaan dalam pemerintahan.82
Pemilu sangat begitu penting bagi wakil rakyat yaitu DPR ataupun juga pejabat pemerintahan dalam menghitung legitimasi atau tingkat kepercayaan dan dukungan masyarakat kepada wakil rakyat yaitu (DPR) dan pemerintah. Menjadi pejabat bukan hanya sekedar mendapatkan legalitas secara hukum, namun juga legitimasi dalam berpolitik. Dapat dipastikan tugas jabatan dapat dikerjakan dengan sangat baik, sebab mereka dipercaya dan diterima oleh rakyat sebagai penanggung jawab. Pemilu begitu penting bagi kelompok masyarakat yang terhimpun dalam suatu fraksi dalam parpol, agar bisa diketahui presentase kepercayaan dan dukungan rakyat kepada fraksi parpol tersebut.83
Tingkat dukungan dan kepercayaan oleh rakyat dapat kita lihat dari aspirasi rakyat yang nyata dalam memegang atau pemilik dari kedaulatan rakyat dan kekuasaan tertingg. Sehingga nantinya semua kebijakan atau peraturan yang dibuat oleh pemerintah bisa bermusyawarah dengan rakyat sebagai suatu gagasan dalam menentukan suatu kebijakan.
82 Daud M. Liando, “Pemilu dan Partisipasi Politik Masyarakat (Study Pada Pemilihan Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Calon Wakil Presiden di Kabupaten Minahasa Tahun 2014)”, Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum, Vol. 3, No. 2 (2016): 16.
83 Jimly Assiddhiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2007), 755.
Para pemohon sudah mengajukan permohonan tepatnya pada tangga 13 Juni 2018, yang sudah diterima oleh Kepaniteraan MK bertanggal 21 Juni 2018 dan sudah tertulis dengan Nomor 98/PAN.MK/2018 dan sudah tertulis dengan Nomor 49/PUU-XVI/2018 pada tanggal 25 Juni 2018, yang sudah diperbaiki dan diterima di oleh MK bertanggal 9 Juli 2018.
Adapun nama-nama para pemohon dalam permohonan dalam pengujian pasal UU tentang pemilu dan sudah tercatat dengan Nomor 49/PUU-XVI/2018 diajukan oleh Feri Amsari, Muhammad Chatib Basri, Muhammad Busyro Muqoddas, Angga Dwimas, Rocky Gerung, Haidar Nafis Gumay, Hasan,Bambang Widjojanto, Robertus Robet, Faisal Batubara, Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah, dan PERLUDEM.
Latar belakang munculnya permohonan tersebut menurut para pemohon mengenai pasal 222 UU tentang pemilu yang tertulis “Pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya.”
Mengenai pengujian UU atas UUD 1945 merupakan kewenangan yang dimiliki MK sebagai tujuan dasar atau asas konstitusionalitas UU yang dibuat oleh DPR dan pemerintah agar tidak berbenturan terhadap UUD 1945. MK sebagai pengawas konstitusi beralaskan kewenangannya dalam mengadili dimana jika ada suatu perundang-undangan sudah sesuai dengan tujuan konstitusi atau
malah menyimpang.84 Dalam hal ini Abdul Latif menyatakan mengenai pengujian konstitusionalitas UU tidak bisa dilakukan tanpa kewenangan menafsirkan pasal dalam berkonstitusi yang terdapat kekuatan hukum.85
Pertimbangan MK dalam Perkara yang sudah tertulis No. 49/PUU-XVI/2018 tentang pengujian Pasal 222 tentang pemilu. MK lebih dahulu berdasakan pertimbangan hukum pada putusan sebelumnya mengenai ambang batas pencalonan presiden dan Wapres antara lain:
Bahwa dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51-52-59/PUUVI/2008, dalam pengujian Pasal 9 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang berbunyi, “Pasangan calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh perseratus) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25% (dua puluh lima perseratus) dari suara sah nasional dalam Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden”, Mahkamah menolak permohonan Pemohon dengan pertimbangan antara lain:
Bahwa Pemohon I mendalilkan Pasal 9 UU 42/2008 sangat diskriminatif dan mematikan kesempatan untuk diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan partai Politik dan penerapannya menimbulkan ketidakadilan, sehingga bertentangan dengan Pasal 1 ayat (2), Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945, adalah tidak benar karena untuk menentukan Pemohon dapat diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden akan lebih dahulu ditentukan oleh rakyat dalam Pemilu legislatif yang akan datang, yang berlaku secara sama bagi semua Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden;86
Menurut pendapat MK mengenai definisi tentang diskriminasi yang sebenarnya ialah jika terdapat suatu hal yang sama diperlakukan secara tidak sama, dan dalam perbedaan tersebut hanya didasari dengan perbedaan manusia
84 Feri Amsari, Perubahan UUD 1945: Perubahan Konstitusi NKRI Melalui Putusan Mahkamah, (Jakarta: Konstitusi, Rajawali Pers, 2011), 80-81.
85 Abdul Latif, Fungsi Mahkamah Konstitusi: Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi (Yogyakarta: Total Media, 2009), 323-324.
86 Putusan MK Nomor 49/PUU-XVI/2018.
atas ekonomi, status sosial, jenis kelamin, agama, suku, bahasa, ras, golongan,etnik, kelompok, dan keyakinan politik. Perlakuan yang berbeda itu memiliki akibat yakni, penyimpangan, mencederai HAM dan kebebasan dalam berkehidupan.
Menurut Mirza nasution berpendapat presidential threshold telah menjadi sebuah rangka bangun sistem ketatanegaraan dalam hal pemilu presiden dan wakil presiden di Indonesia dalam beberapa periode. Sehingga jika presidential threshold dihapuskan maka akan meruntuhkan rangka bangun sistem ketatanegaraan yang telah dibangun selama ini. Artinya saat ini dengan adanya ambang batas 20% tersebut merupakan syarat pencalonan paslon presiden dan wakil presiden harus diusulkan oleh partai atau gabungan partai politik dan melarang pencalonan secara independen.87
Menurut Benny K Harman menyatakan bahwa ambang batas pencalonan Presiden dapat membatasi hadirnya tokoh alternatif dalam pemilu Presiden dan Wapres. Sehingga, rakyat dalam memilih Presiden dan Wapres dibatasi. Oleh karena itu, patut ada calon Presiden alternatif agar kompetisi elektoral semakin bertambah, bisa bertambahnya partisipasi sehingga mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Persyaratan mengenai ambang batas dipandang mencederai hak rakyat dalam memilih untuk mendapatkan pemimpin negara yang berkompeten.88
Dampak dari presidential threshold bagi partai politik yang baru pertama kali berpartisipasi dalam Pemilu dipastikan tidak bisa mengajukan pasangan calon
87 Opini: Urgensi Presidential Threshold dalam Sistem Pemilu Indonesia | Tagar. Diakses pada tanggal 5 Januari 2023
88 Abdul Ghofur, “Problematika Presidential Threshold; Putusan Mahkamah Konstitu si Dan Pengalaman Di Negara Lain”, Jurnal Konstitusi, Vol. 15, No. 3 (2018): 485.
pilihan, melainkan hanya dapat berkampanye terhadap pasangan Capres dan Cawapres yang didukung. Karena parpol yang baru tersebut belum mendapatkan dan mencapai suara yang cukup di kursi DPR, berbeda dengan parpol yang lama yang sudah mendapatkan suara di DPR dan dapat mengusung pasangan Presiden dan Wapres meskipun parpol yang lama wajib membentuk koalisi terlebih dahulu karena kekurangan suara.89
Menurut pandangan dari John mengemukakan tantang keadilan bahwa sangat penting dalam keadilan terhadap semua peranan, kedudukan, kesempatan, dan juga manfaat atau nilai-nilai sosial yang ada dalam bermasyarakat.90 Dalam bernegara bahwa demokrasi haruslah terdapat sikap keadilan dalam menjunjung tinggi kekuasaan politik melalui diselenggarakan setiap 5 tahun sekali.91 Dalam pandangan dari Merloe yang menggolongkan pemilu yang demokratis terdapat tiga hal yang penting, antara lain:
a. Terdapat persaingan yang adil dari peserta pemilu
b. Ada tidaknya perlindungan, pengakuan, dan pemupukan HAM c. Terciptanya kepercayaan dalam masyarakat terhadap pemilu yang
menghasilkan pemerintahan yang legitimasi.92
Mengenai ambang Batas dalam mencalonkan Presiden dan Wapres dapat dinyatakan berbenturan terhadap Pasal 28D ayat (1) dan (3) UUD 1945. Peraturan tersebut bertentangan dengan UUD 1945 sebab ketidakadilan untuk peserta
89 Donald A. Rumokoy & Audi H. Pondaag, “Tinjauan Yuridis Mengenai Ambang Batas Pencalonan Presiden Dan Wakil Presiden Menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum,” Lex Administratum, Vol. 8, No. 3 (2020): 49.
90Dessy Artina, “Keterwakilan Politik Perempuan dalam Pemilu Legislatif Provinsi Riau Periode 2014-2019”, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Vol. 23, No. 3 (2015): 129.
91Anwar Arifin, Komunikasi Politik (Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan Strategi dan Komunikasi Politik Di Indonesia (Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011), 43.
92Harry Setya Nugraha, “Redesain Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia,” Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Vol. 22, No. 3 (2015): 427.
pemilihan Presiden dan Wapres yang paling utama bagi parpol baru yang sudah dinyatakan lolos sebagai peserta pemilu dan juga paling penting bagi seseorang yang ingin mendaftarkan diri menjadi Presiden dan Wapres. Karena diterapkannya sistem ambang batas dapat membatasi hak warga negara dalam pemerintahan sebab ada persyaratan yang wajib dicapai padahal konstitusi sudah melindunginya.
Menurut penulis bahwa prinsip dalam keadilan yang seimbang ialah jika dilaksanakan aturan berpolitik yang sesuai dengan yang diamanatkan oleh konstitusi. Prinsip tersebut menjelaskan mengenai semua hak warga negara memperoleh kesetaraan dalam mengambil bagian, dan dalam menentukan hasil dalam cara konstitusional.93 Bahwa Presiden yang sudah terpilih sebagai hasil dari pemilu yang diadakan wajib melalui tahap konstitusi yang berkeadilan dan sah tanpa merugikan maupun menguntungkan pihak yang lain, seperti golongan dan parpol tertentu. Sehingga dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa pasal 222 UU pemilu tidak mencerminkan keadilan bagi seluruh warga Masyarakat dan juga partai politik. Selanjutnya pertimbangan kedua menurut hakim Mk sebagai berikut:
Bahwa dalil Pemohon II (Partai Bulan Bintang) yang menyatakan bahwa Pasal 9 telah bertentangan dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 sebagai ketentuan yang lebih tinggi dalam hierarki perundang-undangan, karena dengan ketentuan Pasal 6A ayat (2) tersebut Pemohon sebagai Partai Politik peserta Pemilu telah dapat mengusulkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, tetapi dengan Pasal 9 UU 42/2008 Pemohon harus memenuhi syarat tambahan. Lagi pula, muatan Pasal 9 UU 42/2008 seharusnya diatur dalam UUD, dan kalau diatur dalam UndangUndang akan mereduksi UUD dan bertentangan dengan Pasal 22E ayat (2) juncto
93 John Rawls, Teori Keadian: Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujdudkan Kesejahteraan Sosial dalam Negara (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2011), 280.
Pasal 6A ayat (2) UUD 1945. Mahkamah tidak sependapat dengan dalil Pemohon tersebut, karena materi muatan Pasal 9 UU 42/2008 tidak benar merupakan materi muatan UUD 1945, karena merupakan satu norma konkret yang merupakan penjabaran Pasal 6A ayat (2) UUD 1945.
Kebijakan syarat perolehan suara 20% (dua puluh perseratus) dari kursi DPR atau 25% (dua puluh lima perseratus) perolehan suara sah nasional dalam Pemilu DPR, sebagaimana telah menjadi pendapat Mahkamah dalam putusan-putusan terdahulu, merupakan kebijakan hukum (legal policy) yang terbuka yang didelegasikan oleh Pasal 6A ayat (5) UUD 1945 yang menentukan, ”Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden lebih lanjut diatur dalam undang-undang”, dan Pasal 22E ayat (6) UUD 1945 yang menentukan, ”Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang”.94
Menurut MK mengatakan bahwa presidential threshold ialah kebijakan dari pembuat UU yaitu DPR yang dimana merupakan kewenangannya. Sehingga, menurut MK sudah jelas, apalagi MK sudah memutuskan langsung dalam putusannya tersebut bahwa sistem ambang batas Presiden murni yang ada dalam pasal 222 merupakan kebijakan pembuat UU. Apalagi jika ada yang berfikir bahwa hal ini buruk dan kontroversial. Maka para pihak juga dapat berfikir bahwa yang dimaksud buruk dalam hal tersebut belum tentu melanggar konstitusi, kecuali apabila terdapat suatu norma yang sudah terang-terangan melanggar rasionalitas, moralitas dan juga terdapat prinsip ketidakadilan yang intolerable.95
Bahwa mengenai kewenangan open legal policy menurut MK ialah suatu kebijakan yang mutlak dari pembentuk UU dan juga kekuasaan atribusi lembaga yang memiliki tugas legislasi yang dipercayai oleh MK salah satu lembaga pengawal konstitusi.96 Prosedur pembuat open legal policy ialah suatu kerangka (frame) politik hukum (open legal policy) yang memiliki kebijakan oleh
94 Putusan MK Nomor 49/PUU-XVI/2018.
95 Achmadudin Rajab, “Batas Pencalonan Presiden Dalam UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum”, Jurnal Rechts Vinding Online, Vol. 2, No. 3 (2017): 4-5.
96 Jumadi, “Negara Hukum dan Pembangunan Nasional Berwawasan Hukum,” Jurnal Jurisprudentie, Vol. 4, No. 2 (2017): 74.
pemangku kekuasaan dalam membuat dan menerjemahkan produk dalam hukum yang sifatnya multitafsir. Maksudnya, setiap produk kebijakan hukum memiliki tujuan pada pemangku sebuah kebijakan tersebut.97
Menurut pandangan Menko Polhukam Mahfud MD, tentang presidential threshold dalam pencalonan Presiden dan Wapres yang banyak digugat ke MK.
Mengenai gugatan tersebut, bahwa ambang batas sebesar 20% dapat dihapus menjadikan 0%. Menurut pandangan Mahfud MD selaku Menko Polhukam, ada atau tidaknya presidential threshold ialah hak dari pembuat UU yaitu DPR.
Menurut beliau MK sudah berulang ulang dalam memutus mengenai ketentuan ada atau tidaknya ambang batas dalam pemiluialah hak dari pembuat UU itu merupakan open legal policy. Menurutnya tergantung lembaga Legislatif untuk membuatnya. Beliau sudah mengungkapkan bahwa syarat menjadi Capres dan Cawapres sudah diatur dalam UUD 1945. Menurut Mahfud MD, hal serupa juga sama dengan ambang batas pencalonan Presiden, dimana peraturan tersebut dikembalikan lagi kepada pembuat UU yakni DPR.98
Pendapat MK dikritik oleh Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas dan juga salah satu Dosen Hukum Tata Negara Feri Amsari. Pendapat MK yang menyatakan ketentuan ambang batasialah open legal policy merupakan salah dan tidak benar. Menurutnya pendapat MK hanya akal-akalan saja. Beliau berpendapat bahwa MK melepas tanggung jawabnya dalam menguji pasal 222 konstitusionalitas ambang batas. Menurutnya,
97 Mahfud MD, Politik Hukum di Indoesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), 9.
98 “Mahfud MD Sebut Presidential Threshold Sebagai Open Legal Policy,” Jendala Hukum,https://jendelahukum.com/mahfud-md-sebut-presidential-threshold-sebagai-open-legal-policy/ Diakses pada1 November 2022.
MK harus jeli dalam memutuskan suatu kebijakan mengenai ambang batas meski peraturan tersebut menjadi hak bagi pembentuk UU dalam merubahnya. Dalam hal ini jangan karena bisa membuat peraturan hukum terbuka lalu diserahkan seluruhnya kepada pembentuk UU. Maka tetap Harus diuji tentang peraturan tersebut sudah sesuai dalam penerapan yang terkandung dalam UUD 1945 atau malah melanggar.99
Pengamat politik angkat bicara yakni Rocky Gerung mengemukakan ambang batas 20% tidak memperoleh kecerdasan junto agar dapat mensejahterakan rakyat. Menurutnya putusan MK gagal dalam membuktikan bahwa ambang batas pencalonan Presiden itu menjadi efektif padahal tidak efektif sama sekali. Argument mengenai open legal policy tersebut memberikan diskresi kepada kekuasaan. Sehingga beliau mengharapkan kepada pakar Hukum Tata Negara dapat berpihak kepada hak-hak rakyat.100
Mengenai hal tersebut bahwa dalam pertimbangan hukum diatas menampakkan argumentasi tentang sistem presidential threshold adalah kebijakan hukum terbuka. Menurut peneliti harus difikir kembali terhadap putusannya.
Karena pada pasal tersebut setelah peneliti menelisik kembali Naskah Komprehensif Perubahan UUD NRI Tahun 1945 khususnya padabab V mengenai pemilu tidak ada ulasan tentang original intent terkait persyaratan ambang batas
99 Fahreza Rizky, “Polemik Presidential Threshold: MK Lepas Tangan, DPR Tak Mau Revisi,” tirto.id, https://tirto.id/polemik-presidential-threshold-mk-lepas-tangan-dpr-tak-mau-revisi-gpqj, Diakses pada1 November 2022.
100 Inkana Izatifiqa R Putri, “Presidential Threshold 20% Dinilai Belum Efektif Perkuat Presidensiil,” Detik News, https://news.detik.com/berita/d-5889903/presidential-threshold-20-dinilai-belum-efektif-perkuat-presidensiil Diakses pada1 November 2022.
pencalonan Presiden dan Wapres.Apalagi berlandaskan dari jumlah kursi dan suara sah secara nasional pemilu Legislatif sebelumnya.101
Dapat dimaknai bahwa semestinya yang disebut sebagai ambang batas ialah yang ada pada pasal 6A Ayat (3) yang berbunyi : “Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden”.102 Menurut peneliti itulah sebagai syarat keterpilihan pasangan Presiden dan Wapres bukanlah syarat sebagai pencalonan.
Dalam pembentukan UU terhadap UU organik atau amanah UUD 1945 tentang open legal policy dilaksanakan oleh pembuatUU diakibatkan yaitu:
a. UUD 1945 memberikan pilihan tafsir atas Pasal walaupun frase yang terkandung dalam UUD 1945.
b. PembuatUU dapat menggunakan ketentuan open legalpolicy dengan pertimbangan menyesuaikan dengan dinamika ketatanegaraan yang berkembang.
Hasil dari pembahasan Radita Ajie mengemukakan sebenarnya pembuat UU memberikan keleluasaan dalam memutuskan suatu larangan, aturan, kewajiban atau batasan- batasan yang dimuat dalam suatu norma UU yang sedang
101 Ghafur Jamaludin, “Allan Fatchan Gani Wardhana, Rekonstruksi Politik Hukum Presidential Threshold Ditinjau Dari Sistem Presidensial dan Penyederhanaan Partai Politik”, jurnal Seminar Nasional Hukum Universitas Negeri Semarang Vol. 4, No. 3 (2018): 28.
102 Pasal 6A Ayat 2 Undang-undang Dasar 1945.
dibuat yang merupakan kebijakan dari pembuat UU sesuai dengan prinsip antara lain:103
a. Tidak bertentangan dengan Norma dasar Negara Republik Indonesia yakni UUD 1945
b. Tidak bertentangan dengan dasar Pancasila sebagai jati diri Bangsa Indonesia
c. Tidak menyalahgunakan kewenangan tersebut
d. Tidak melampaui kewenangan yang diberikan kepada pembentuk UU Atas dasar tersebut, peneliti menyimpulkan mengenai norma Pasal 222 UU tentang Pemilu tidak termasuk suatu kebijakan hukum terbuka atau open legal policy sebab sangat tidak sesuai dan berbenturan dengan norma dasar dengan menambahkan ambang batas baru yang sebenarnya tidak terdapat dalam rumusan pasal 6A Ayat (2) UUD NRI 1945 sebagai prinsip dasar Negara Republik Indonesia.Selanjutnya pertimbangan ketiga menurut hakim Mk sebagai berikut:
Bahwa terhadap dalil Pemohon III (Partai Hanura, Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Buruh, Partai Peduli Rakyat Nasional, dan Partai Republik Nusantara) yang menyatakan Pasal 9 UU 42/2008 berpotensi menyebabkan tidak terselenggaranya Pemilu yang demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, Mahkamah berpendapat tidak ada korelasi yang logis antara syarat dukungan 20% (dua puluh perseratus) kursi DPR atau 25% (dua puluh lima perseratus) suara sah secara nasional yang harus diperoleh Partai untuk mengusulkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden dengan Pemilihan umum yang demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, karena justru pencapaian partai atas syarat tersebut diperoleh melalui proses demokrasi yang diserahkan pada rakyat pemilih yang berdaulat. Hal demikian juga untuk membuktikan apakah partai yang mengusulkan Calon Presiden dan Wakil Presiden mendapat dukungan yang luas dari rakyat pemilih;104
103 Radita Ajie, “Batasan Pilihan Kebijakan Pembentuk Undang-Undang (Open Legal Policy) Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Berdasarkan Tafsir Putusan Mahkamah Konstitusi,” Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 13, No. 2 (2016): 117.
104 Putusan MK Nomor 49/PUU-XVI/2018
Menurut MK bahwa mengenai ambang batas dalam pencalonan Presiden dan Wapres memungkinkan parpol yang bisa mencalonkan mendapat dukungan yang kuat dari rakyat dan juga apakah partai politik tersebut layak menjadi pengusung calon Presiden.
Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi menilai, bahwa adanya ambang batas presiden atau presidential threshold sangat diperlukan. Karena sebagai penghargaan terhadap parpol yang telah berjuang hingga lolos pemilihan umum. "Adanya presidensial threshold sebagai bentuk insentif atau penghargaan kepada partai politik yang sudah berjuang di pemilu”.
Alasan lainnya, presidential threshold membuat presiden terpilih mendapat dukungan parpol di parlemen. Tujuannya, agar kebijakan yang dibuat presiden tidak terhambat kedepannya.
Disisi lain penerapan presidential threshold berdampak terhadap parpol yang akan mengusung. Karena dalam pasal 222 pada pokoknya telah menjelaskan yakni presidential threshold 20% kursi di DPR atau 25% suara sah nasional yang dimiliki parpol atau gabungan parpol. Dalam sistem ambang batas tersebut diambil dari Pileg pada pemilu sebelumnya. Hal tersebut sangat nyata dapat mencederai parpol lainnya. Parpol sangat tidak diuntungkan secara konstitusi sebab sebenarnya parpol sudah dijamin oleh konstitusi bisa mengusungkan pasangan Calon Presiden dan Wapres yang tertulis pada UUD 1945 Pasal 6A ayat 2.
Menurut pandangan Siti Zuhro (Peneliti LIPI) mengenai presidential threshold tidak tepat. Sebab Parpol yang mengikuti pemilu Legislatif sudah
diverifikasi sangat ketat agar bisa ikut pemilu dan juga untuk bisa lolos ke parlemen harus terpenuhinya parliamentary threshold. Apabila UU mengenai pencalonan Presiden dan Wapres tidak direvisi berarti UU yang lama tetap dipergunakan.105
Menurut politikus Partai Gerindra Arief Poyuno memberikan pandangannya bahwa pemilu akan diselenggarakan di tahun 2024 mendatang ini inkostitusional. Karena menggunakan suara dan kursi hasil perolehan pemilihan Legislatif pada tahun sebelumnya. Menurutnya banyak masyarakat saat pemilihan Legislatif sebelumnya yakni 2019 belum memiliki hak dalam memilih. Jumlahnya sekitar puluhan juta dan bisa memiliki hak memilih pada tahun 2024 mendatang.
Menurutnya Pilpres yang diseleggarakan bebarengan dengan pileg banyak merugikan masyarakat umum. 106
Dengan diterapkannya peraturan ambang batas dalam mencalonkan Presiden dan Wapres sangat merugikan warga negara dengan hak-hak konstitusional. Mengenai hal tersebut hak berpolitik sebagai warga negara tertutup dalam proses memilih dan dipilih, dan juga menghapuskan hak parpol baru dan parpol yang sudah mendapatkan suara meskipun sedikit dalam pemilu yang diadakan tahun sebelumnya. Terdapat asas pemilu yakni asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Sesuai asas tersebut sebenarnya pilpres diselenggarakan dengan diberikannya keleluasan yang sama bagi kelompok,
105 Shanti Dwi Sartika, “Presidential Threshold Dalam Revisi UU Pilpres”, Info Singkat Hukum, Vol. 4, No.14 (2013): 2.
106 Mia Kamila, “Arief Poyuono Blak-blakan: PemiluSerentak 2024 Inkonstutusional,”
Genpi.com, https://www.genpi.co/polhukam/153460/arief-poyuono-blak-blakan-pemilu-serentak-2024-inkonstitusional, diakses pada 15 November 2022
rakyat dan parpol lainnya dan juga tidak bertolak belakang terhadap UUD 1945 sebagai rujukan tertinggi dalam suatu Negara .107
Bahwa dalam sistem ambang batas dipandang terlalu dibatasi hak warga negara dan kemauan para parpol dalam keikutsertaan menuju pemilu. Bertambah banyak calon yang akan maju dalam penyelenggaraan pemilu maka bertambah juga pilihan masyarakat dalam memilih Presiden yang berkompeten. Adanya pasal 222 membatasi calon Presiden dan hak-hak berpolitik warga negara.
Sejalan dengan pendapat ini, mengenai sistem pemilu merupakan hakikat untuk berdemokrasi bagi warga negara dalam melaksanakan kontrak sosial dengan calon peserta pemilu agar terciptanya representative government.108
Pemerintahan yang demokratis sudah tertuang dalam Pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945, tertulis: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang Dasar”. Ini sebagai rujukan dan dapat disimpulkan bahwa sebenarnya rakyat memiliki kekuasaan tertinggi di negara ini. Semua berada di tangan rakyat sesuai dengan batas-batas konstitusionalitas dalam UUD 1945. Bahwa pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. yang menjunjung tinggi hak warga negara, maka proses dalam memilih dan dipilih diselenggarakannya pemilu merupakan wujud dari kedaulatan rakyat. Itu semua
107 Muhammad Mukhtarrija, I Gust i Ayu Ketut Rachmi Handayani & Agus Riwanto,
“Inefektifitas Pengaturan Presidential Threshold dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum”, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Vol. 24 No. 4 (2017): 653.
108 Darussalam Syamsuddin, “Implemntasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum Kota Makassar: Studi Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan,” Jurnal Vo Populi, Vol. 2, No. 2 (2019): 110.