• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian data

Dalam penelitian selama beberapa bulan penelitian, peneliti mendapat kendala karena minimnya pengetahuan dari ketua PPDI mengenai data kelompok dari penyandang disabilitas tuna wicara-rungu. Bedasarkan hasil

penelitian melalui teknik pengumpulan data pasangan suami-istri penyandang disabilitas memahami arti tentang keluarga sakinah. Dari proses wawancara maka peneliti memaparkan penyajian data sebagai berikut.

1. Tanggung Jawab Suami Istri Penyandang Disabilitas Dalam Membina Rumah Tangga

Ketika saat berkeluarga suami istri harus mengetahui tanggung jawab yang akan dijalankan dalam membina rumah tangganya. Pasangan suami dan istri penyandang disabilitas tuna wicara-rungu dalam tanggung jawabnya yang seperti biasanya yang dilakukan seorang suami maupun istri pada umumnya. walaupun terdapat kekurangan fisik tetap melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai suami dan istri, walaupun ada pengaruh saat berkomunikasi dengan kerabat dan masyarakat. Memang kebanyakan anggota di organisasi PPDI adalah laki-laki yang menjadi kepala keluarga. Ketika seorang laki-laki memutuskan untuk menikah, maka harus siap dengan tanggung jawab memberi nafkah kepada istrinya .mereka berkewajiban memastikan kebutuhan wanita yang dinikahinya ini tercukupi dengan bekerja keras setiap hari. Dan suami istri saling mendukung satu sama lain untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam membina rumah tangga. Berikut pemaparan mengenai tanggung jawab suami istri disabilitas dalam membina keluarga.

a. Bapak Muhammad Sukron Hafidzi dan Anem Yuningsih,( pasangan suami istri penyandang disabilitas tuna wicara-rungu.)

Pasangan suami dan istri disabilitas tuna wicara-rungu seperti, bapak Hafidzi dan ibu Anem, memiliki keunikan tersendiri, karena satu keluarga pastinya memiliki cara tersendiri dalam perannya sebagai suami istri dan orangtua. Perannya sebagai kepala keluarga harus memimpin, melindungi, membina anggota keluarganya. Dengan bahasa isyarat tuna wicara-rungu membina segenap anggota keluarganya. Dan menurut ibunya bahwa hafid dan keluarganya tinggal dalam satu rumah dengan orang tuannya. Sedikit mendapat bantuan dalam membantu baik peran istrinya dalam mengurus rumah dan mengasuh cucunya satu-satunya dari Hafid yaitu Gendis Amania.

Bapak Hafidzi dan keluarganya tinggal di desa Klampok Arum kec.

Tekung. Dalam kehidupan seharinya bapak Hafidz bekerja di sawah milik ayahnya. Bapak Hafidz bekerja bersama ayahnya untuk mengelolah sawahnya. Dengan penghasilannya dengan bagi hasil dengan keluarga ayahnya ketika panen, cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Bapak Hafidz berpendapat di terjemahkan ibunya.

“Sebelumnya saya bekerja di pabrik kayu rumahan di desa Tekung dan berhenti bekerja untuk membantu bapak saya mengelolah sawah miliknya untuk ditanami dari bawang merah, padi dan jagung. Dari hasil bertani itu untuk cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga saya.

Dengan bagi hasil sawah bersama orang tua bapak Hafid yang tinggal dalam satu rumah. Walaupun serba kecukupan bersama istri yang bernama Anem Yuningsih yang juga penyandang disabilitas tuna wicara-rungu sebagai ibu rumah tangga mengurus keperluan keluarga, serta anaknya Gendis Amanita, mereka begitu rukun dan kompak dalam melakukan tanggung jawabnya sebagai suami dan istri dalam keluarga.

Setiap harinya untuk membina keluarga, saya selalumengajak istri dan

anak untuk shalat berjama’ah dengan itu bisa mempererat hubungan kekeluarga saya dan membimbing anak saya Gendis dalam beribadah.65 Sebagai istri dan ibu tanggung jawabnya kepada keluarga, diantaranya sebagai mengurus keperluan rumah tangga, mengasuh anak, dan melayani suami. Saat penulis dan bapak Ali Muslimin tiba dirumahnya, yang menyambut kami adalah ibu dari bapak Hafid ibu Sumaryati.

Karena bapak Hafidz sendiri yang mandi selepas pulang dari sawah.

Sedangkan ibu Anem sedang memasak didapur untuk anaknya sepulang sekolah dan suaminya. Pekerjaan ini sudah menjadi rutinitasnya selama pernikahannya empat tahun yang lalu, Tepatnya tahun 2014. Dari pernikahannya dikarunia satu orang anak Gendis Amanita. Menurut pendapat ibu Anem bahwa mengenai tanggung jawabnya dalam membina keluarga.

“ Ketika saya menjalankan tanggung jawab rumah tangga sebagai istri dan ibu, dengan mengurusi keperluan rumah seperti mengasuh anaknya yang bernama Gendis, mngurusi biaya hidup dalam keluarga dan melayani suami walaupun kondisi saya sebagai penyandang disabilitas tuna wicara-rungu, tidak mengalami kesusahan dalam melaksanakan kewajiban saya dalam keluarga dan kami sebagai pasangan suami istri tuna wicara-rungu, tetap rukun, karena kami saling memahami dan mengerti kondisi dan komunikasi sesamanya”.66

Melalui pengamatan dari keluarga bapak Muhammad Sukron Hafidzi adalah keluarga yang sederhana. Karena bekerja sama dengan ayahnya disawah. Maka setiap hari selalu berkumpul, bercanda dan setiap rutinitasnya selalu bersama anak serta istri. Saat kedatangan peneliti disana terlihat raut wajah yang ceria mereka pasangan suami istri

65 Muhammad Sukron Hafidzi, wawancara, Lumajang, 6 Juli 2018.

66 Anem Yuningsih, wawancara, Lumajang, 6 juli 2018.

disabilitas tuna wicara-rungu bersama-sama mendidik dan membesarkan anaknya. Mereka selalu mensyukuri apa yang didapat dari bertani dan mereka yakin dapat mendidik dan membesarkan anaknya menjadi anak yang shalihah

b. Bapak Muhammad Toha dan ibu Aliyah ( pasangan suami (disabilitas tuna wicara-rungu) dan Aliyah (non Disabilitas)

Indikasi pernikahan suami yang disabilitas dan istri non disabilitas atau normal bukan hal biasa. Sering kali orang tua yang memilihkan jodoh untuk anaknya yang terbaik buat masa depan anaknya dalam berumah tangga. Orang yang akan menjadi panutan pendamping, dan pelindung bagi anaknya adalah penyandang disabilitas tuna wicara-rungu, pasti memiliki kendala dalam hal komunikasi anatra pasangan. Berbeda dengan pasangan suami istri ini, dengan indikator atas kecintaan yang tulus dan orang yang menjadikan panutan, baik segi keagamaan dan semangatnya dalam menjalani kehidupan disamping kekurangannya.

Keseharian bapak Toha yang tinggal di desa Royotrunyan kecamatan Gambiran bekerja dihotel Lumajang.

Menurut bapak Muhammad Toha pendapatnya dalam membina keluarga:

“Bapak Toha berpendapat: diterjemah melalui ibunya Sumarni peran saya dalam keluarga sebagai suami dan ayah dalam memimpin rumah tangganya, saya bekerja menjadi pegawai di hotel lumajang dengan gaji 700.000 bisa mencukupi kebutuhan rumah, membiayai anak sekolah, dan keperluan rumah listrik bensin dan keperluan dapur saya serahkan istri saya untuk mengurusnya. Istri saya yang bernama Aliyah itu ibu rumah tangga, dan dia selalu menerima uang yang saya beri

dengan ramah, karena memang dari awal pernikahan kita berjanji akan menerima apapun keadaan saya dan dia dalam menjalani rumah tangga”.67

Selain itu dalam hal membina keluarga bapak Muhammad Toha dan dibantu istrinya yang menjadi patnernya, membimbing anak Muhammad Yasiruddin. Untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memberikan pembelajaran anaknya untuk mondok.

Bapak Muhammad Toha berpendapat: “dengan saling memahami kekurangan dari saya dan istri. Serta mengajarkan istri dan anak untuk selalu sabar dan syukur yang kita dapatkan. Terus istri saya selalu menyemangati saya, dengan bilang sabar yamas kalau bekerja, yang penting bekerja dulu walaupun gaji kecil, tetap disyukuri”.

c. Pasangan suami istri Bapak Supriyadi dan ibu Hairul ( penyandang disabilitas tuna wicara- Pernikahan bapak Supriyadi dan ibu Hairul dikarunia tiga anak dan anak pertamanya juga penyandang disabilitas Tuna wicara-rungu yang bernama Ika Siti Yuniarti usia 21 tahun sudah bekerja di toko sembako di pasar Tempeh dan kedua adiknya normal yaitu Achmad Tegar Firmansyah umur13 baru masuk SMP dan Gavin Farellyo Haidar umur 9 tahun duduk kelas 3 SD. Saat kami wawancara ketiga anaknya sudah berangkat sekolah. Untungnya bapak Supriyadi belum berangkat bekerja. Lalu saya masuk dan melakukan proses wawancara. Pertanyaan tentang bagaimana tanggung jawab sebagai suami dan ayah penyandang disabilitas dalam membina keluarganya?

Tanggapan bapak Supriadi mengenai tanggung jawab suami dan istri serta sebagai orang tua melakukan kewajibannya sebagai kepala

67 Muhammad Toha, wawancara, Lumajang, 23 Juli 2018.

keluarga dengan mencari nafkah dengan profesi tukang pijat, sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah anaknya.

“Menurut bapak Supriyadi diterjemahkan Istrinya Hairul yang normal:

saya adalah seorang kepala keluarga, dengan kekurangan saya dan pendidikan saya tamatan SD tidak bisa mencari pekerjaan yang gajinya tinggi. Saya bekerja sebagai tukang ojek, dan kalau sore saya mencari rumput untuk makan ternak kambing. Dari itu saya bisa memberi makan istri dan anak-anak. Selama 22 tahun pernikahanku aku dikarunia tiga anak. Dan syukurnya anak-anak saya menurut perintah saya walaupun saya dalam kondisi ini. Ya pernah anak bungsu saya sering minta beli itu dan ini, namun saya selalu mengajarkan selalu sabar. Dan istri saya selalu menerima apa yang saya beri. Kadang selalu ngomel jika semua kebutuhan dapur habis dan biaya lain listrik dan lainnya yang nunggak. Namun saya selalu bilang agar tetap sabar, makan dengan seadanya asalkan gak ngutang hehehe… itulah yang membuat saya menjadi kuat karena dukungan mereka”.68

d. Pasangan suami istri bapak Wawan dan ibu Wiwin (pasangan suami dan istri tuna wicara )

Bapak Wawan tinggal bersama kedua putrinya yang bernama Shafira umur 8 tahun dan Elshinta umur 5 bulan dan istrinya ibu wiwin di desa biting kecamatan Wonorejo. Kesehariannya bapak wawan kerja di sawah. Dengan pendapatannya dari sawah bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Sawahnya ditanami padi untuk dijual dan sebagian dikonsumsi. Saat penulis mendatangi kediaman bapak Wawan, istrinya yang menyambut penulis bersama anaknya bungsunya. Saat penulis bertanya mengenai bagaimana awal pertemuannya dengan bapak Wawan sembari menunggu bapak Wawan pulang. Ibu wiwin menceritakan saat itu bertemu bapak Wawan di pernikahan temannya alumni SMPLB tahun 2007. Lalu saling berkenalan, dan memutuskan

68 Supriyadi, wawancara, Lumajang, 1 Agustus 2018.

tunangan dan nikah di tahun 2009.69 Saat bapak Wawan tiba di rumah dan menemui penulis, istrinya tidak mengetahui apa yang penulis tanyakan dalam media kertas. penulis menanyakan bagaimana tanggung jawab suami istri dalam membina keluarga.

Menurut bapakWawan: tanggung jawab saya membina keluarga, saya bekerja di sawah dan mebuka usaha seleb padi, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti menyekolahkan Shafira dan memberi uang belanja ke istri, dan untuk keperluan elsa. Dan saya membimbing istri dan anak untuk selalu sabar dengan kondisi serta kekurangan dalam keluarga. Dan untuk membahagiakan keluarga, saya selalu mengajak rekreasi setiap minggu, bersama istri dan anak.

Dengan mengajak rekreasi hubungan dalam keluarga semakin harmonis.70

e. Bapak Rafael dan ibu Nur Hasanah (suami tuna wicara-rungu dan istri non disabilitas).

Bapak Rafael bersama istrinya tinggal di desa TambakBoyo kecamatan klakah. Kesehariannya bapak Toha bekerja di sentra pembuatan lemari dari besi, di klakah. Setiap hari kerjanya mengelas besi yang akan dibuat lemari. Gaji yang dihasilkan dari bekerja di sentra pembuatan lemari besi perbulannya 600 ribu, cukup untuk memenuhi kebutuhan bersama istrinya. Di pernikahannya berumur 4 tahun Bapak Rafael dengan ibu Nur Hasanah, belum dikarunia anak. Namun demikian rumah tangganya harmonis. Menurut temannya bapak Rozik, keluarga bapak Rafael dan ibu Nur, jarang sekali cekcok dan saat perkumpulan tuna wicara-rungu istrinya selalu diajak. Pasangan ini adem ayem, dan selalu romantis.71

69 Wiwin, wawancara, Lumajang, 19 Oktober 2018.

70 Wawan, wawancara, Lumajang, 19 Oktober 2018.

71 Rozik, wawancara, Lumajang, 12 Agustus 2018.

Saat penulis mendatangi rumahnya, pada tanggal 19 Agustus 2018. Istrinya sedang tidak ada dirumahnya, karena sedang pergi kerumah saudaranya ada acara hajatan. Dan penulis wawancara dengan bapak Rafael sendiri.

Menurut bapak Rafael: Saya sebagai kepala keluarga mengenai tanggung jawab saya yang juga penyandang disabilitas tuna wicara rungu, sebagai seorang suami dan bapak, saya menjalankan rutinitasnya bekerja disentra pembuatan lemari besi dan dari hasilnya bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sebagai suami saya selalu menjadi imam yang baik. Dengan mengajak istri shalat berjama’ah dan bershadaqoh di panti asuhan, berharap semoga diberi momongan.

2. Kendala Rumah Tangga Penyandang Disabilitas Dan Solusinya

Setiap keluarga disabilitas memiliki permasalahan masing-masing, tergantung bagaimana kita menyikapi permasalahan tersebut dan menanganinya dengan tepat dan baik. Adanya permasalahan ini dapat mengokohkan sebuah rmah tangga, karena suami dan istri suka maupun duka bekerja sama melewati penderitaan dalam menjalani rumah tangga.

Faktor yang mngakibatkan permasalahan keluarga, seperti masalah ekonomi, masalah susahnya mendidik anak, dan lainnya. Pemasalahan rumah tangga yang ada di rumah tangga, disabilitas tuna wicara-rungu rata-rata masalah ekonomi, karena indicator sulitnya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi, seperti pegawai kantor dan buruh pabrik, yang masyarakat pada umumnya berpendapat bahwa pekerjaan itu gajinya besar, dan ada jaminan kesahatan serta ada uang pension atau pesangon.

Terdapat beberapa informan sebagai suami yang tamatan SMP dan ada yang hanya SD seperti bapak Supriyadi. Sehingga dari suami penyandang disabilitas bekerja dengan kemampuannya dan sekedarnya saja.. Ini yang

juga menjadi faktor pendapatan yang minim, sedangkan kebutuhan rumah tangga semakin menumpuk. Istri yang juga kurang pandai mengatur perekonmian keperluan rumah tangga. Namun begitu karena komunikasi antara suami dan istri yang menjadi solusi, dengan berkordinasi, istri mengerti keadaan suami, dan membantu pekerjaan suami dengan berjualan a. Keluarga bapak Rafael penyandang disabilitas (tuna wicara-rungu) dan

ibu Nur Hasanah non disabilitas.

Bapak Rafael dan ibu Nur tinggal di jalan Tambak Boyo Rt 26 Rw 01 kecamatan Klakah. Kabupaten Lumajang. Permaslahan keluarga bapak Rafael diusia pernikahan 4 tahun bapak Rafael dan ibu Nur belum dikarunia anak. Kesehariannya bapak Rafael bekerja di tempat las perkakas rumah seperti lemari dan rak di daerah Klakah. Dengan ikut teman saya bekerja di tempat las gajinya minim. Upahnya perbulan dari hasil ngelas hanya 700 ribu. Dan untuk nambah penghasilan saya punya lahan untuk ditanami pisang untuk tambah-tambah berobat72 Dan usaha agar cepat diberi anak bermacam-macam mulai dari berobat ke dokter kandungan dan obat herbal, serta doa dari pasangan bapak Rafael dan ibu Nur. Dengan usaha itu ternyata ibu Nur hamil.

b. Pasangan bapak Wawan dan ibu Wiwin (pasangan suami istri disabilitas tuna wicara-rungu)

Bapak Wawan menikah dengan ibu Wiwin tahun 2008 dan dikarunia dua putra yaitu Ari dan Jono. Bapak Wawan asli tanggung jember,

72 Rafael, wawancara, Lumajang, 4 September 2018

sedangkan istrinya asli perumahan biting wonorejo dan tinggal dikediaman istri. Bapak Wawan sehari-hari memiliki usaha selep padi.

Dari hasil beerja di selep padi dapat menyekolahkan anaknya. Saat diwawancarai mengenai permasalahan yang sering dihadapi oleh keluarga bapak Wawan dan ibu Wiwin, masalah ekonomi.

Bapak Wawan menjawab pertanyaan penulis, mengenai kendala yang ada di pasangan disabilitas dan solusinya:

Usaha seleb padi saya tidak setiap hari ramai dan kadang juga sepi.

Dan juga mengenai kebutuhan sekolah kedua anak saya yang pertama Ari naik ke kelas 2 SD dan harus membayar uang buku dan dafftar ulang akhirnya saya pinjam dulu ketetangga. Sedangkan adiknya baru masuk TK sehingga bayar uang pendaftaran, baju dan bukunya. Dan juga bayar sewa tempat usaha selep padi yang juga nunggak dua bulan pada tahun kemaren, akhirnya saya dan istri kerja sama untuk menutupi tunggakan tempat sewa, dan biaya sekolah dengan istri saya menjual kerudung online dan saya mencoba jadi sopir travel, ya untungnya cukup, kalau emang bener-bener mau bekerja keras.73

Kerja keras suami dan istri itu tidak hanya dalam menyelesaikan permasalahan, melainkan bisa juga dengan bekerja sama saat membimbing anak dan bekerja sama mengurus rumah.

Menurut Ibu Wiwin: ketika saya sedang sakit atau kurang enak badan, suami saya yang memasak ketika pulang kerja, mengasuh anak, dan menemani saat mengerjakan PR.74

c. Pasangan bapak Supriyadi dan ibu Hairul (pasangan suami tuna wicara-rungu dan istri non disabilitas)

Permasalahan yang dihadapi bapak Supriyadi dan Hairul ada diputrinya Ika Siti yuniarti penyakit tuna wicara-rungu dari bapak

73 Wawan, wawancara, Lumajang, 3 September 2018.

74 Wiwin, wawancara, Lumajang, 3 September 2018.

Supriyadi menurun ke anaknya ika dari umur 2tahun. Dengan perekonomian tidak mampu membeli alat pendengaran. Pekerjaan bapak Supriyadi sebagai tukang pijat yang setiap hari kadang sepi kadang ramai. Kalau ramai bisa mendapat 130 ribu kalau sepi bisa 30 ribu.

Menurut bapak supriyadi melalui terjemah istrinya:

“kalau dari hasil pijat cukup untuk makan yang ada. Kalau bayar sekolah saya dengan merawat kambing tetangga dan memelihara entok sama ayam, itu belinya entok dan ayam dari menyisahkan hasil memijat orang. Dan lagi saya terbantu darianak sulung saya ika yang kerja di toko sembako. Gajinya 500 ribu sering membelikan buku, kue, dan baju untuk adiknya. Saya bangga pada anak sulung saya”.75

Begitu ungkapan dari bapak Supriyadi menceritakan problematika dirumah tangganya yang dapat menjadi motivasi bagi semuanya, mengenai suka dan duka dalam keluarga bapak Supriyadi dan ibu Hairul.

d. Pasangan bapak Hafid dan ibu Anem Yuningsih ( pasangan suami istri penyandang disabilitas tuna wicara-rungu)

Permasalahannya hampir sama dengan bapak supriyadi dan ibu Hairul, namun anak dari pasangan suami istri Hafid dan Anem Yuningsih baru gejala penyakit tuna wicara-rungu bawaan dari orangtuanya. saat wawancara bapak Ali Muslimin selaku ketua PPDI menyarankan untuk anaknya dilatih pendengaran dan bicara, soalnya usia balita bisa disembuhkan dengan mudah. Dengan dilatih atau dipanggil secara keras dan diajak bicara, insyaallah akan sembuh. Dan juga coba

75 Supriyadi, wawancara, Lumajang, 1 agustus 2018.

periksakan kedokter atau kerumah sakit. Kalau dari PPDI obatnya ada namun terbatas. Ibu dari Hafid Sumiati saat penulis dirumahnya kerap sekali memanggil namanya, namun gak ada respon atau jawaban dari gadis kecil yang bernama gendis, dan terus bermain game di hand phonenya.

Menurut ibu Sumiati ibunda dari bapak Muhammad Sukro hafidzi:

masalah kecil maupun besar bisa diselesaikan dengan komunikasi antara suami istri. Juga kan sama Hafid dan istri sama-sama bisutuli.76

e. Bapak Muhammad Toha dan ibu Aliyah ( suami tuna wicara-rungu dan ibu Aliyah non disabilitas).

Permasalahan di keluarga bapak Muhammad Toha adalah permasalahan ekonomi. Minimnya pendapatan dari karyawan hotel Lumajang yang hanya 700 ribu perbulan. Karena hotel Lumajang sekarang sepi pengunjung berdampak gaji karyawan. Dan juga bapak Toha juga harus membiayai anaknya Yasrirudin duduk dibangku TK sebulannya 150 ribu SPPnya.

Menurut bapak Toha diterjemahkan istrinya ibu Aliyah: dengan perekonomian keluarga yang susah, istri saya selalu bilang sabar dan ditekuni pekerjaannya. Dan juga perbanyak doa kepada Allah untuk dilancarkan rezekinya. Dengan dukungan istri, saya mencobabuka usaha ngojek setiap malamnya. Alhamdulillah sedikit menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.77

3. Upaya Dalam Membina Keluarga Sakinah

Upaya mewujudkan sakinah bermacam-bermacam caranya. Namun bagaimana jika itu yang melaksanakan adalah pasangan penyandang

76 Sumiati, wawancara, Lumajang, 6 juli 2018.

77 Muhammad Toha, wawancara, Lumajang, 23 Juli 2018.

disabilitas tuna wicara-rungu. Dengan keterbatasan fisik berupa bicara dan pendengaran, dapat menghambat dalam mengupayakan keluarganya menjadi keluarga bahagia dan sakinah, yang menjadi harapan setiap pasangan suami istri. Faktor interaksi yang intim antara suami istri dalam menjalin hubungan yang romantis dan mesrah di rumah tangga. Salah satu cara menciptakan terhadap pasangan berkata lembut, manis, dan mesrah.

Hadirnya kata-kata manis bisa membuat takjub dan memiliki pengaruh yang besar.terhadap pasangan suami istri, karena hal itu mengandung unsur-unsur prioritas dalam akidah, beribadah, dan bersikap. Berikut tanggapan mengenai upaya mewujudkan keluarga sakinah bagi penyandang disabilitas tuna wicara-rungu.

a. Keluarga bapak Wawan dan ibu Wiwin (pasangan suamiistri penyandang disabilitas tuna wicara-rungu).

Menurut bapak Wawan untuk menjadikan keluarganya untuk menjadi keluarga sakinah dengan cara saling menyayangi suami dan istri. Dan kalau ketika bapak Wawan pergi kerja atau keJember tidak bersama istrinya saling rindu dan kangen, sehingga bisa video callan dengan istrinya.

b. Keluarga bapak Muhammad Toha dan Aliyah (pasangan suami tuna wicara-rungu dan istri non disabilitas).

Saat wawancara dikediaman bapakToha mengenai upaya dalam mewujudkan keluarga sakinah didalam keluarrnya dengan memahami kondisi dan kekurangan dari suami dan istri.

Bapak Muhammad Toha Menjawab diterjemahkan istrinya: dengan saling memahami kekurangan dari saya dan istri. Serta mengajak istri dan anak untuk selalu sabar dan syukur apa yang kita dapatkan , memberikan bimbingan agama. Dan saya selalu mengajak anak shalat di masjid berjama’ah.78

c. Keluarga bapak Supriyadi dan ibu Hairul (pasangan suami tuna wicara-rungu dan istri non disabilitas).

Cara untuk mewujudkan keluarga sakinah kedalam keluarganya bagi bapak Supriyadi sebagai berikut.

Bapak Supriyadi menjawab: usaha saya dan istri untuk membuat keluarga sakinah atau bahagia. Dengan memahami kekurangan dan kelebihan kami, sehingga kami bisa saling melengkapi. Hindari pertengkaran bila ada masalah diantara kami, dan saling mendukung dan bekerja sama untuk memenuhi kewajiban kami dalam keluarga.79 d. Keluarga bapak Rafael dan ibu Nur Hasanah ( pasangan suami tuna

wicara-rungu dan istri non disabilitas).

Menurut pendapat bapak Rafael dalam mewujudkan keluarga sakinah di keluarganya sebagai berikut ini.

Bapak Rafael mencoba menjawab diterjemah istrinya ibu Nur hasanah:

Upaya-upaya untuk membuat keluarga saya bahagia, yaitu saling menyayangi antara saya dan istri saya, serta selalu menjaga keharmonisan keluarga dengan caranya setiap ada masalah keluarga perlu diselesaikan secara musyawarah.80

e. Keluarga bapak Muhammad Sukron hafidzi dan ibu Anem yuningsih (pasangan suami dan istrituna wicara-rungu)

Menurut bapak Hafidzi mengenai uapaya mewujudkan keluarga sakinah, diterjemahkan ibunya: usaha saya agar keluarga tetap

78Muhammad Toha, wawancara, Lumajang, 23 Juli 2018.

79Supriyadi, wawancara, Lumajang, 1 Agustus 2018.

80Rafael, wawancara, Lumajang, 4 September 2018.

Dokumen terkait