• Tidak ada hasil yang ditemukan

kuadran IV Kuadran III

OPPORTUNITIES (O) (tentukan faktor peluang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.8 Tahapan Analisis

Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan kegiatan usahatani, maka tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif atau perumusan strategi.

Dalam hal ini digunakan model matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. Setelah tahapan analisis tersebut selesai maka, faktor-faktor internal dan eksternal tersebut diberi bobot, guna memberikan gambaran terhadap seberapa besar peluang atau ancaman dalam kegiatan usahatani tersebut. Hasil pemeberian bobot dan skala rating dapat dilihat pada data Tabel 20.

Tabel 20. Faktor Strategis Internal

40 Sumber : Data setelah diolah 2014

Berdasarkan Tabel 20 menunjukkan nilai pembobotan dari setiap faktor internal baik itu kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Akan tetapi sebelum memberikan nilai bobot pada setiap poin faktornya terlebih dahulu menentukan nilai rating disetiap faktornya, sehingga nilai bobot disetiap faktor dapat diperoleh. Dimana pada hasil pembobotan diperoleh persentase antara kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses) yaitu berkisar 0,97 % untuk kekuatan (strength) sedangkan kelemahan (weaknesses) berkisar 0,98%.

Tabel 21. Faktor strategi eksternal No.

Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor B x R

Tersedianya areal pengembangan jagung yang luas Keadaan lahan yang mendukung dalam budidaya jagung

Tersedianya tenaga kerja terampil Sarana transportasi yang memadai

Tidak membutuhkan keahlian khusus dalam budidayanya

Jauhnya lokasi usahatani dari pemukiman petani Modal petani masih lemah

Saluran pemasaran yang belum efektif Teknik budidaya yang masih belum efektif Kurangnya pemahaman petani terhadap informasi harga

41

No. Faktor Strategi Eksternal bobot Rating Skor

B x R

Permintaan pasar yang cukup besar Tersedianya lembaga permodalan usaha Meningkatnya harga jagung dari tahun ketahun Agroklimat lahan yang baik untuk budidaya jagung Semakin tingginya permintaan jagung dipasaran

0,09

Semakin tingginya harga saran produksi

Ketersediaan sarana produksi yang tidak tepat waktu

Iklim yang tidak menentu Banyaknya pesaing

Sumber : Data setelah diolah 2014.

Berdasarkan Tabel 21 menunjukkan nilai pembobotan pada faktor eksternal yang terdiri dari peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats). Pada hasil pembobotan diperoleh nilai peluang (Opportunity) yaitu berkisar 0,98% sedangkan ancaman (Threats) yaitu 0,97%. Hasil ini menunjukkan bahwa peluang (Opportunity) lebih tinggi dibanding dengan ancaman (Threats).

42 Dari kedua tabel diatas yaitu tabel 20 dan 21 diperoleh nilai pembobotan dan rating yang nantinya dapat dijadikan sebagai nilai statistic dalam melakukan analisis peluang pengembangan usahatani jagung di Desa Marayoka, dengan menggunakan matriks IFAS dan EFAS seperti berikut :

Tabel 22. Matriks analisis IFAS dan EFAS Faktor Strategis

Internal/Eksternal O T

S SO

(3,26 + 2,42 = 5.68)

ST

( 3,26+ 2.06= 5.32)

W WO

( 3,1+ 2,42 = 5.52 )

WT

( 3,1+ 2.06 = 5.16 )

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2014

Dari analisis di atas, maka alternatif strategi pengembangan usahatani jagung di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto dengan prioritas berdasarkan jumlah skor tertinggi adalah sebagai berikut pertama Strategi SO = 5,68 Strategi WO = 5,52, Strategi ST = 5,32, strategi WT = 5,16

Sesuai hasil analisis dan pembahasan di atas bahwa faktor strategi yang dapat menentukan kondisi usahatani jagung guna pengembangan kedepan, menunjukkan pada keadaan kekuatan dan peluang lebih besar dari kelemahan dan ancaman.

Dengan demikian prioritas utama strategi yang perlu diterapkan adalah strategi SO dengan upaya memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada untuk meminimalkan kelemahan dan ancaman.

43 Tabel 23 : Strategi SWOT Dalam Pengembangan Usahatani Jagung (Zea Mays L.) di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Tahun 2014.

IFAS

pengembangan jagung yang luas

2. Keadaan lahan yang mendukung dalam budidaya jagung

3. Tersedianya tenaga kerja terampil

4. Sarana transportasi yang memadai

5. Tidak membutuhkan keahlian khusus dalam budidayanya

3. Saluran pemasaran yang belum efektif 4. Teknik budidaya yang

masih belum efektif

7. Tersedianya lembaga permodalan usaha 8. Meningkatnya harga

jagung dari tahun ketahun

9. Agroklimat lahan yang baik untuk budidaya jagung

10. Semakin tingginya permintaan jagung di paasaran

Strategi S – O

a.Petani mengoptimalkan penggunaan lahan dengan tenaga kerja terampil yang ada

b.Petani menjalin komunikasi yang baik antara petani, pemerintah dengan pedagang untuk informasi pemasaran

c.Bantuan Modal dari pemilik modal memberikan kemudahan petani untuk mendapat keuntungan dalam usahataninya melalui pelatihan baik petani maupun petugas b.Perlunya bantuan

pemerintah maupun

11. Adanya gangguan OPT 12. Semakin tingginya

harga sarana produksi 13. Ketersediaan sarana

produksi yang tidak tepat waktu

14. Iklim yang tidak menentu

15. Banyaknya pesaing

Strategi S – T

a.Petani melakukan pengendalian OPT dengan pestisida dengan memanfaatkan modal dari pemilik modal

b.Petani dan pemerintah perlu mengektifkan saluran pemasaran dengan alat transportasi yang memadai pemerintah dan pemilik modal dalam pengadaan benih unggul

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2014.

44 Dari hasil analisis menggunakan matriks IFAS dan EFAS strategi pengembangan usahatani jagung di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto adalah strategi SO, maka berdasarkan matrik SWOT pada tabel 23 maka dapat dijelaskan bahwa operasional strategi yang diterapkan adalah sebagai berikut : a. Petani mengoptimalkan penggunaan lahan dengan tenaga kerja terampil yang ada b. Petani menjalin komunikasi yang baik antara petani, pemerintah dengan pedagang

untuk informasi pemasaran

c. Bantuan Modal dari pemilik modal memberikan kemudahan petani untuk mendapat keuntungan dalam usahataninya

d. Pemerintah yang bersangkutan perlu meningkatkan pengembangan SDM melalui pelatihan baik petani maupun petugas

e. Perlunya bantuan pemerintah maupun pemilik modal untuk bantuan pengangkutan hasil produksi ke perusahaan terkait

f. Petani melakukan pengendalian OPT dengan pestisida dengan memanfaatkan modal dari pemilik modal

g. Petani dan pemerintah perlu mengektifkan saluran pemasaran dengan alat transportasi yang memadai

h. perlunya dukungan pemerintah dalam pengadaan infrastruktur

i. perlunya peran pemerintah dan pemilik modal dalam pengadaan benih unggul

45 VI. PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap Strategi pengembangan usahatani jagung di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto dengan menggunakan metode analisa SWOT, maka disimpulkan sebagai berikut :

1. Strategi kelompok tani dalam pengembangan usahatani di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto adalah strategi SO, dimana strategi ini digunakan untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada untuk meminimalkan kelemahan dan ancaman.

2. Pengembangan usahatani jagung di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto, dapat dilakukan karna terdapatnya areal pertanaman jagung yang luas, agroklimat yang mendukung serta social budaya masyarakat setempat yang sejalan dengan pengembangan usahatani jagung.

3. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam pengembangan usahatani jagung di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto, maka diperlukan peran pemerintah maupun instansi-instansi yang terkait dalam pelaksanaannya.

4. Sumberdaya manusia sangat berperan penting dalam keberhasilan pengembangan usahatani jagung di desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jenponto karna merupakan faktor utama dalam kegiatan tersebut.

5. Untuk mempertahankan eksistensi usahatani yang dilakukan maka perlu mempertahankan sifat kontinuitas produk yang dihasilkan.

46 6.2 Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan pengembangan usahatani jagung maka disarankan hal – hal sebagai berikut:

a. Dalam upaya peningkatan usahatani jagung perlu keterlibatan semua pihak baik pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha yang bersangkutan dalam bidang agribisnis yang diikuti dukungan kuat oleh petani dengan memperlihatkan kesungguhan untuk melakukan kegiatan usahatani jagung secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

b. Perlunya pembinaan insentif oleh instansi secara teknis untuk melakukan pembinaan perbaikan teknik budidaya jagung sesuai anjuran sehingga produksi lebih baik.

c. Perlunya keterlibatan instansi terkait untuk membantu petani dalam penentuan harga, kemudahan pemasaran, serta memberikan modal kepada petani.

Dokumen terkait