• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pelatihan Syukur 1. Pengertian Pelatihan Syukur

2. Tahapan Pelatihan Syukur

Keyakinan seseorang untuk bersyukur tidaklah datang begitu saja, melainkan muncul melalui suatu proses tertentu pada diri seseorang.

Mengenal datangnya suatu nikmat berupa kesehatan, rejeki, dan ilmu kepada diri seseorang dapat menjadi proses seseorang untuk menambah keyakinan dalam bersyukur (Al-Fauzan, 2008). Selain itu, syukur juga dapat dilakukan dengan cara mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya pemberi nikmat, meskipun terkadang nikmat itu didapatkan melalui perantara seorang manusia dan sumber daya alam yang lainnya. Clore, dkk (dalam Emmons dan McCullough, 2003) mengatakan bahwa syukur dapat dimunculkan dengan cara berperilaku positif sebagai balasan dan wujud dari rasa terimakasih kepada sumber yang mendatangkan nikmat. Selanjutnya, Emmons (2007) menambahkan bahwa syukur dapat dimunculkan melalui dua langkah proses kognitif. Pertama, seseorang mengakui bahwa dirinya telah mendapat suatu hasil yang positif atau nikmat. Kedua, seseorang mengakui bahwa terdapat sumber eksternal yang berperan sehingga ada hasil positif tersebut. Emmons (2007) menjabarkannya menjadi menghargai nikmat atau kebaikan (recognize

the benefit), mengakui nikmat atau kebaikan (acknowledge receiving its), dan

mengembalikan tindakan baik atau bersyukur (return the favor or

appreciate).

Peneliti menggunakan beberapa tahapan yang mengacu kepada keterampilan praktis yang diungkapkan oleh Emmons (2007) berupa pengembangan dari hambatan-hambatan bersyukur dan merupakan model eksperimen yang pernah dilakukan dalam penelitiannya. Keterampilan ini bukanlah suatu model yang runtut, namun saling membangun dan

menguatkan. Emmons (2007) menjelaskan bahwa keterampilan-keterampilan tersebut adalah:

a. Mengingat Keburukan (Remember the Bad)

Keterampilan ini dapat meningkatkan syukur karena mengingat keburukan merupakan proses mental yang biasa terjadi pada setiap manusia. Tidak ada alasan bahwa syukur hanya menyangkut hal-hal yang menyenangkan, dengan mengingat hal yang buruk kita menjadi lebih mampu menghargai datangnya hal-hal yang baik. Ketrampilan ini akan membantu seseorang menemukan makna dan tujuan hidup mereka. b. Tanyakan pada Diri Anda Tiga Pertanyaan (Ask Yourself Three Question)

Pertanyaan pertama adalah pertanyaan yang menyangkut ingatan seseorang terhadap hal baik yang pernah diterima individu. Hal ini dapat lebih membuat individu bersyukur dibandingakan ketika mereka berusaha membuang hal-hal buruk. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang memfokuskan terhadap hal baik yang telah diberikan kepada orang lain. Hal ini akan membuat individu lebih menyadari tentang hubungan sesama manusia dan menghilangkan rasa meminta balasan dari kebaikan orang lain. Terakhir, adalah pertanyaan yang menyangkut rasa sakit yang telah diterima orang lain baik karena pikiran, perkataan, dan perbuatan individu. Ketrampilan ini akan membantu individu dalam proses kegiatan terarah.

c. Datanglah ke Indera Anda (Come to your Senses)

Panca indera akan membuat individu bersyukur atas penciptaannya sebagai manusia. Hal yang paling mendasar adalah bernafas. Bernafas merupakan kenikmatan paling mendasar yang terkadang dilupakan oleh seorang individu. Ketenangan ini akan lebih menyadarkan individu bahwa selama ini kehidupan yang dia jalani merupakan kehidupan yang bermakna dan pantas untuk disyukuri.

d. Berjanji untuk Berlatih Syukur (Make a Vow to Practice Gratitude) Perjanjian ini merupakan salah satu cara belajar bersyukur yang memanfaatkan kekuatan internal (perasan bersalah) apabila tidak dipenuhi. Ketrampilan ini akan membantu individu dalam proses keterikatan diri dan kegiatan terarah.

e. Melalui Aksi (Go Through the Motions)

Salah satu aksi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan syukur adalah tersenyum. Tersenyum dapat menghasilkan perasaan bahagia dan beberapa eksperimen menemukan bahwa ada hubungan antara mimik ekspresi wajah dengan kebahagiaan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengucapkan terima kasih atau menulis surat yang berisi ungkapan syukur. Hal ini dapat menghasilkan sesuatu yang positif baik bagi individu yang memberikan maupun menerimanya. Ketrampilan ini akan membantu individu untuk lebih menemukan kegiatan yang terarah terkait dengan syukur.

f. Jurnal Kebersyukuran (Keep a Gratitude Journal)

Emmons telah melakukan eksperimen melalui metode Keep a

Gratitude Journal yang terbukti mampu membuat individu lebih bahagia.

Metode ini mengharuskan individu untuk menulis catatan harian menganai hal-hal yang mampu membuatnya bersyukur. Kegiatan ini mampu membuat individu mengenang kejadian-kejadian yang telah terjadi dalam hidupnya, baik kejadian biasa, kepribadian, maupun orang lain yang telah memberikan kebaikan kepada dirinya. Selain itu, kegiatan ini juga mampu membuat individu lebih mengorganisasikan pikiran dan mengintegrasikannya serta membantu individu menerima pengalamannya sendiri pada konteks yang sesuai. Hal tersebut akan membantu individu mendapatkan makna dari setiap kejadian yang dialaminya atau menciptakan makna sendiri bagi setiap kejadian yang terjadi.

Hanaco (2012) menyebutkan cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan syukur adalah sebagai berikut:

a. Membuat “Daftar Karunia Tuhan”, yakni membuat urutan yang dipenuhi oleh daftar yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Urutan yang ditulis tidak dibatasi jumlahnya, semakin banyak nikmat yang ditulis maka semakin baik. Hal ini memperlihatkan bahwa individu tersebut merasakan banyak hal positif yang didapatkan dalam kehidupan. Sama halnya dengan jurnal kebersyukuran, ketrampilan ini membantu individu dalam hal pengubahan sikap karena membuat seseorang sadar bahwa mereka telah mendapatkan banyak kebaikan selama ini.

b. Memandang Kegagalan Sebagai Kesempatan Baru, yakni menerima kegagalan yang dialami dengan lapang dada agar individu dapat mengambil hikmah dari kegagalan yang dia dapatkan.

c. Menganggap Masalah Sebagai Pelajaran Hidup, merupakan cara yang digunakan agar seseorang menjadi individu yang lebih kuat karena memiliki banyak “tantangan”. Persoalan hidup dianggap sebagai sebuah tantangan dimana ketika individu menghadapi persoalan ini dia tidak akan menjadi individu yang mudah putus asa. Individu yang menghadapi masalah dengan cara yang positif maka akan cenderung lebih dapat mengambil manfaat dari masalah tersebut dan tidak banyak mengeluh atau bahkan menyalahkan Tuhan.

d. Berbagi Keberhasilan, terdapat tiga cara yang dapat dilakukan. Pertama, berbagi kepada orang yang membutuhkan. Hal ini akan memberikan makna yang luar biasa karena kita benar-benar memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkannya. Kedua, berbagi dan melupakan. Artinya, ketika kita sudah berbagi kepada orang lain seharusnya kita tidak mengingat-ingat apa yang telah kita bagi agar terhindar dari rasa sombong dan merasa berjasa kepada orang lain. Terakhir adalah berbagi setiap ada kesempatan. Hal ini mengajarkan kepada seseorang bahwa kita harus menjadi orang yang bermanfaat setiap waktu.

e. Melihat “Ke Bawah”, yakni melihat kelemahan orang lain agar kita mampu mensyukuri apa yang telah kita miliki dan tidak dimiliki oleh orang lain. Kita dapat menanamkan keyakinan di dalam hati bahwa apa

yang kita miliki adalah hal terbaik yang dihadiahkan oleh Tuhan. Ketrampilan ini akan membantu proses pengubahan sikap individu terhadap segala kebaikan atau nikmat yang telah mereka dapatkan selama ini.

Dokumen terkait