Sumber : BPS
TAHUKAH ANDA ?
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 2018 mengalami peningkatan menjadi 68,46
persen.
47,35%
13,38%
39,27%
Pertanian Industri Pengolahan Jasa
https://jambi.bps.go.id
(UMP) Jambi. Selama periode 2016 – 2018 UMP Provinsi Jambi selalu meningkat hingga pada tahun 2018 sebesar 2,24 juta rupiah.
Berdasarkan perbandingan menurut tiga sektor utama, pilihan bekerja di sektor Pertanian masih mendominasi pasar kerja di Jambi dengan persentase sebesar 47,35 persen pada tahun 2018, yang diikuti dengan sektor Perdagangan dengan persentase sebesar 15,43 persen, serta sektor Jasa Kemasyarakatan sebesar 12,15 persen.
DDiantara penduduk bekerja, yang terbesar adalah berpendidikan Sekolah Dasar (SD) kebawah sebesar 41,07 persen dan selanjutnya berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat yaitu sebesar 20,70 persen. Sedangkan penduduk bekerja dengan tingkat pendidikan tinggi yaitu Diploma 1 ke atas jumlahnya paling sedikit diantara seluruh jenjang pendidikan, hanya sebesar 12,24 persen.
Jumlah pengangguran naik sebesar 3,41 persen dan tingkat pengangguran (TPT) menurun dari 3,87 persen menjadi 3,86 persen pada kurun waktu 2017-2018.
Bila diklasifikasikan menurut status pekerjaan utama, maka sebagian besar penduduk yang bekerja berstatus sebagai
4
TAHUKAH ANDA ?
Pada Tahun 2018 jumlah pengangguran di Provinsi Jambi menurun sebesar 3,86 persen.
Ketenagakerjaan
Grafik 4.2. Penduduk Bekerja di Provinsi Jambi menurut Status Pendidikan, 2018
Sumber : BPS
Grafik 4.3. Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di
Provinsi Jambi, 2018
<=SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA Perguruan Tinggi
1000000
Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan 4
buruh/pegawai yaitu sebesar 39,51 persen.
Diikuti penduduk yang berusaha sendiri (21,17 persen), berusaha dibantu buruh tidak tetap (15,12 persen), pekerja keluarga (12,7 persen), dan pekerja bebas serta pekerja berusaha dibantu buruh tetap persentasenya di bawah 10 persen.
Pada tahun 2014 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 5,08 persen.
Angka ini turun menjadi 4,34 persen pada tahun 2015 dan kembali turun mejadi 4,00 persen pada tahun 2016 sedangkan pada tahun 2017 menjadi 3,87 persen. Trend penurunan berlanjut sampai tahun 2018 menjadi sebesar 3,86 persen.
Bila diklasifikasikan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan, sebagian besar pengangguran berpendidikan SMA sederajat yaitu sebesar 15,14 persen. Sementara, pengangguran yang tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD jumlahnya sangat sedikit, sebesar 1,29 persen.
Sumber foto : http://map.seedmap.org dan
http://dinamika-Grafik 4.4. Jumlah Pengangguran dan TPT di Provinsi Jambi, 2014 - 2018
Sumber : BPS
Grafik 4.5. Pengangguran Terbuka di Provinsi Jambi menurut Status Pendidikan, 2018
TAHUKAH ANDA ?
Sebagian besar pengangguran di Jambi berpendidikan SMA sederajat yaitu sebesar
15,14 persen.
2014 2015 2016 2017 2018
13,38%
12,45%
55,74%
18,44%
<=SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA Perguruan Tinggi
https://jambi.bps.go.id
4 Ketenagakerjaan
Halaman ini sengaja dikosongkan
https://jambi.bps.go.id
Ketenagakerjaan
Tabel 5.1. Beberapa Indikator Pendidikan Provinsi Jambi 2016- 2018
Uraian 2016 2017 2018
Harapan Lama Sekolah
Laki-laki+Perempuan 12,72 12,85 12,90 Rata-rata Lama Sekolah
Laki-laki+Perempuan 8,07 8,15 8,23 Angka Partisipasi Sekolah
7-12 99,57 99,59 99,67
13-15 95,35 95,89 96,14
16-18 71,20 71,54 71,94
Sumber : BPS, Hasil Susenas Gabungan 2016-2018
Grafik 5.1. Jumlah Murid di Provinsi Jambi, 2018
Sumber : BPS
5
Pendidikan
Pendidikan sangat berperan penting bagi pembangunan di suatu negara.
Tingginya pendidikan pada suatu daerah akan mendorong kemajuan pada wilayah tersebut. Salah satu indikator pendidikan yang digunakan untuk melihat mutu dan kualitas penduduk adalah Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Indikator rata-rata lama sekolah menunjukkan rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua pendidikan formal yang pernah atau sedang dijalani. RLS hingga tahun 2018 di Provinsi Jambi adalah 8,23 tahun, ini berarti rata-rata penduduk Provinsi Jambi mengenyam pendidikan hingga kelas VIII atau kelas 2 SMP.
Selama periode 2010 hingga 2018, rata-rata lama sekolah tumbuh 1,58 persen per tahun.
Pertumbuhan positif ini merupakan modal penting dalam membangun kualitas manusia di Provinsi Jambi yang lebih baik. Sedangkan harapan lamanya sekolah yang akan dirasakan anak pada umur tertentu di masa mendatang disebut Harapan Lama Sekolah (HLS). HLS di Provinsi Jambi adalah 12,90 tahun. Harapan penduduk Provinsi Jambi dapat bersekolah sampai jenjang perkuliahan. Tertinggi terdapat di Kota Sungai Penuh sebesar 14,77 tahun.
Penduduk laki-laki di Provinsi Jambi seperti juga di daerah lain memiliki kemampuan baca tulis lebih tinggi dibanding perempuan.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Provinsi Jambi terus mengalami kenaikan tiap tahunnya pada semua kelompok umur.
TAHUKAH ANDA ?
Selama periode 2010 hingga 2018, rata-rata lama sekolah tumbuh 1,58 persen per tahun.
389.444
Peningkatan angka ini menunjukkan semakin terbukanya peluang dalam mengakses pendidikan pada kelompok umur tertentu.
Pada tiap tahunnya APS pada kelompok umur 7-12 selalu berada pada posisi tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Pada tahun 2018 nilainya sebesar 99,67 persen, ini berarti hampir semua penduduk usia tersebut berkesempatan mengenyam pendidikan dasar. Sedangkan angka partisipasi sekolah terkecil ada pada penduduk kelompok umur 19-24, nilainya hanya 22,16 persen. Kurang dari seperempat penduduk Jambi usia 19-24 yang berkesempatan sekolah atau berkuliah.
Semakin tinggi jenjang pendidikan maka kecenderungan pencapaian APS makin rendah.
Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan sesuai pada jenjang pendidikannya. Angka ini dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan, yaitu SD (usia 7-12 tahun), SMP (usia 13-15 tahun), dan SMA (usia 16-18 tahun).
Sama halnya APS, kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah nilai pencapaian APM.
Angka partisipasi tertinggi ada pada tingkat pendidikan SD sebesar 99,04 persen. Pada jenjang pendidikan SMP dan SMA sederajat masih relatif lebih rendah, yaitu 79,38 persen dan 60,92 persen.
Pendidikan
5
Grafik 5.2. Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Jambi, 2018
Sumber : BPS
TAHUKAH ANDA ?
K
ecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah nilai pencapaian APM dan APS.Grafik 5.3. Angka Partisipasi Murni Provinsi Jambi, 2017-2018
Umur 7-12 Umur 13-15 Umur 16-18 Umur 19-24
98,41
Pendidikan
Penduduk Provinsi Jambi usia 15 tahun ke atas menurut ijazah tertinggi yang dimiliki, yang memiliki ijazah tertinggi SD ke bawah ada 40,55 persen, ini merupakan jumlah terbanyak diantara yang lain.
Penduduk dengan ijazah tertinggi SMA/sederajat ada sebanyak 27,58 persen.
Sedangkan ijazah perguruan tinggi hanya ada 9,79 persen.
Capaian di bidang pendidikan terkait erat dengan ketersediaan fasilitas pendidikan.
Untuk tingkat SD pada tahun 2018 seorang guru rata-rata mengajar 15 murid SD, untuk jenjang pendidikan SMP rata-rata seorang guru mengajar 13 murid, SMA rata-rata seorang guru mengajar 13 murid dan di jenjang SMK beban seorang guru mengajar juga 13 orang murid.
Jumlah guru yang tersedia pada suatu sekolah baik secara langsung maupun secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pendidikan di suatu sekolah. Semakin besar angka rasio ini, angka mutu pendidikan di harapkan akan lebih baik, dibandingkan sekolah yang mempunyai guru sedikit.
Rata-rata setiap SD di Provinsi Jambi memiliki 11 orang guru, untuk tingkat SMP rasio ini menjadi 15 guru per sekolah, sedangkan untuk SMA dan SMK rata-rata setiap sekolah mempunyai 20 dan 23 orang guru.
5
Pendidikan
Grafik 5.4. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke atas menurut Ijazah yang Dimiliki, 2018
Sumber : BPS
Grafik 5.5 Rasio Murid-Guru, Guru-Sekolah, dan Murid-Sekolah menurut Jenjang Pendidikan, 2018
Sumber : BPS
40%
22%
28%
10%
<SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA PT
8,82 4,29 37,87
14,79 10,40 153,85
12,15 14,56 176,92
12,18 19,12 232,87
12,45 22,98 286,13
MURID/GURU GURU/SEKOLAH MURID/SEKOLAH
RA SD SMP/MTs SMA/MA SMK
https://jambi.bps.go.id
Pendidikan
5
Halaman ini sengaja dikosongkan
https://jambi.bps.go.id
Tabel 6.1. Beberapa Indikator Kesehatan Provinsi Jambi, 2016 - 2018
Uraian 2016 2017 2018 Tempat Berobat (%Ya-Tidak)
Rumah Sakit 13,01 16,13 16,17
Praktek Dokter 47,56 45,26 47,49
Puskesmas 36,73 32,51 34,50
Petugas Kesehatan 2,08 1,21 3,16
Batra 2,20 3,44 3,23
Lainnya 2,74 1,48 2,04
Penolong Proses Kelahiran Terakhir (%)
2016 2017 2018
Dokter 19,55 28,52 25,76
Bidan 70,29 61,77 62,49
Tenaga Medis Lain 0,58 9,61 0,19
Dukun 9,58 0,00 11,44
Lainnya 0 0,10 0,12
Umur Harapan Hidup
(Tahun) 70,71 70,76 70,89
Sumber : BPS, Hasil Susenas Gabungan 2016-2018
Sumber : http://www.jambiupdate.co
6
Kesehatan
Salah satu tujuan dari SDGs adalah menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Di samping itu, secara nasional Pemerintah Indonesia membuat suatu program jangka panjang di bidang kesehatan yaitu Indonesia Sehat guna meningkatkan kesejahteraan bagi penduduknya. Untuk mencapai semuanya itu, dilakukan upaya peningkatan derajat kesehatan dengan membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, dan peningkatan kualitas dalam pelayanan kesehatan serta mampu menjangkau seluruh penjuru tanah air.
Jumlah fasilitas kesehatan yang tersebar di Provinsi Jambi tiap tahunnya mengalami kenaikan. Pada tahun 2018, jumlah Rumah Sakit ada 35 unit yang berada di kabupaten dan kota seluruh Jambi.
Puskesmas maupun Puskesmas Pembantu (Pustu) yang merupakan unit fasilitas kesehatan terkecil berjumlah 206 unit dan 610 unit. Posyandu yang merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat. Diharapkan dengan adanya posyandu, pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita) dapat terjangkau di semua lokasi. Jumlah posyandu saat ini sebanyak 3.471 unit posyandu di Provinsi Jambi.
https://jambi.bps.go.id
6 Kesehatan
TAHUKAH ANDA ?
Lebih dari 90 persen kelahiran di Jambi meng-gunakan tenaga medis, yaitu dokter, bidan dan
perawat sebagai penolong kelahiran.
Paling banyak fasilitas kesehatan yang dikunjungi penduduk yang berobat jalan adalah praktek Dokter/Bidan yaitu sebesar 45,49 persen. Berikutnya tempat yang sering dijadikan rujukan berobat jalan adalah puskesmas mencapai 34,50 persen.
Kedua tempat berobat ini dipilih masyarakat karena dianggap layak dan terjangkau, serta mudah dalam mengaksesnya. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan lain seperti Rumah Sakit Swasta, klinik/Praktek Dokter Bersama, UKBM, dan Praktek Pengobatan Tradisonal tidak terlalu banyak menjadi tempat rujukan pengobatan jalan, persentase penduduk kurang dari 10 persen.
Penolong kelahiran terakhir pada tahun 2018 dilakukan bidan mencapai 62,49 persen dan yang dilakukan dokter mencapai 25,76 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan penduduk di bidang kesehatan cukup tinggi dengan memahami pentingnya keselamatan ibu dan bayi yang dilahirkan. Pemerintah mengupayakan agar para ibu hamil dapat melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan yang telah didistribusikan ke berbagai wilayah termasuk ke daerah-daerah terpencil dan daerah perdesaan. Dengan demikian persalinan yang ditolong oleh dukun tradisional diharapkan terus menurun.
Grafik 6.1. Persentase Penolong Kelahiran, 2018
Sumber : BPS, Hasil Susenas 2018
Grafik 6.2. Persentase Tempat Persalinan, 2018
25,76
62,49 0,19 11,44
0,12
Dokter Bidan Tenaga Medis Lain Dukun Lainnya
RS Pemerintah/
Cakupan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan yang cukup tinggi pada tahun 2018 yaitu sebesar 88,44 persen.
Tetapi belum tentu semua persalinan tersebut bertempat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Persalinan yang dilakukan di rumah menempati persentase tertinggi yaitu 39,59 persen. Tempat persalinan lainnya yaitu RS mencapai 24,45%, Rumah Bersalin sebanyak 20,01%, Puskesmas/Pustu/Polindes/Pratek Nakes sebanyak 15,66 %, sisanya ditempat lainnya.
Realisasi jumlah akseptor Keluarga Berencana (KB) di Provinsi Jambi dalam kurun waktu 2014-2018 mengalami penurunan, serta pada empat tahun terakhir tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Tahun 2013 realisasi akseptor KB mencapai 132.078 orang (105,45 persen), selanjutnya tahun 2014 jumlahnya menurun menjadi 130.982 orang (112,73 persen). Jumlah akseptor terus menurun pada tahun 2015 dan 2016, yaitu 104.281 orang (88,86 persen) dan 89.664 orang (85,55 persen). Sedangkan pada 2018 jumlah akseptor KB hanya sebesar 85.454 orang (83,59).
Tahun 2017 persentase wanita yang tidak/berhenti menggunakan alat KB lagi sebesar 27,70 persen. Persentase “drop out”
dalam ber-KB ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 11,06 persen.
Persentase wanita yang sedang menggunakan KB pada tahun 2017 lebih rendah yaitu
Kesehatan 6
Grafik 6.3. Persentase Wanita menurut Alat KB yang Digunakan, 2018
Sumber : BPS, Hasil Susenas 2018
Grafik 6.4. Persentase Pengguna KB Menurut Lokasi, 2018
Sumber : BPS, Hasil Susenas 2018
TAHUKAH ANDA ?
Realisasi jumlah akseptor Keluarga Berencana (KB) di Provinsi Jambi dalam kurun waktu
2014-2018 mengalami penurunan
IUD Pil MOP MOW Implant Kondom Suntikan
11,51
Pernah Sedang Tidak Pernah
Perkotaan Perdesaan
https://jambi.bps.go.id
Kesehatan
6
sebesar 58,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 61,11 persen. Jika dilihat dari lokasinya, maka persentase wanita yang sedang menggunakan alat KB di pedesaan lebih banyak daripada perkotaan.
Alat atau metode KB yang masih menjadi pilihan bagi sebagian besar wanita di Provinsi Jambi adalah suntikan KB (60,81 persen) dan pil KB (24,38 persen). Lebih dari 85 persen masih menggunakan metode KB jangka pendek. Metode KB jangka panjang seperti IUD/spiral hanya digunakan 3,32 persen wanita, susuk KB (8,43 persen), dan steril wanita/MOW (0,44 persen) serta sterilisasi pria/MOP (1,12 persen).
Grafik 6.5. Target dan Realisasi Akseptor KB Provinsi Jambi, 2018
Sumber : Jambi Dalam Angka 2019
112,73%
88,86% 85,55% 84,61% 83,59%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
120,00%
0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000
2014 2015 2016 2017 2018
Target Realisasi Persentase
https://jambi.bps.go.id
Tabel 7.1. Statistik Perumahan Provinsi Jambi 2015 - 2017
Uraian 2016 2017 2018 Rumah tangga menurut kualitas perumahan (%) Lantai bukan tanah 98,29 98,04 98,17 Atap terluas
Layak (non ijuk/rumbia) 99,35 99,58 99,32 Dinding terluas permanen
Tembok/kayu 97,88 98,88 99,21
Penggunaan bahan bakar
Listrik/gas 69,69 75,83 77,59
7
Perumahan
Pertumbuhan jumlah penduduk yang diiringi dengan pertumbuhan jumlah rumah tangga membuat masalah penyediaan lahan dan kepemilikan rumah menjadi penting.
Budaya masyarakat Indonesia yang lebih memilih tinggal di rumah jenis Grounded House dibandingkan dengan jenis rumah susun atau apartemen menjadi masalah tersendiri. Secara umum masalah perumahan mungkin akan lebih pelik terjadi di wilayah perkotaan.
Dengan kenaikan jumlah rumah tangga setiap tahunnya, penyediaan lahan baru bagi pembangunan perumahan mendesak untuk direalisasikan agar permasalahan perumahan dapat diatasi. Jika secara rata-rata dalam satu rumah tangga ada sebanyak empat anggota, kelayakan tinggal terpenuhi paling tidak ketika rumah tangga tersebut menempati rumah dengan luas 32 meter persegi.
Kualitas perumahan masyarakat di Provinsi Jambi sebagian besar sudah dapat dikatakan layak. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang tempat tinggal berlantai bukan tanah sudah 99,17 persen.
Sebagian besar rumah tangga di Jambi lantai terluasnya menggunakan semen/bata merah (48,71 persen), berikutnya menggunakan keramik dan kayu/papan kualitas rendah.
Untuk penggunaan atap, lebih dari setengah rumah tangga di Provinsi Jambi
Grafik 7.1. Persentase Rumah Tangga menurut Lantai 2018
Sumber : BPS, Hasil Susenas 2018 1,18
menggunakan seng. Mayoritas rumah tangga sudah menggunakan dinding berupa tembok persentasenya sebesar 63,19 persen.
Berdasarkan hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, air minum yang dikonsumsi rumah tangga di Jambi paling banyak bersumber dari sumur terlindung yaitu sebanyak 28,82 persen.
Disusul kemudian air minum yang berasal dari air isi ulang dan sumur tak terlindung, masing-masing sebesar 26,28 persen dan 13,81 persen. Air yang berasal dari air hujan dan leding meteran hanya digunakan 9,91 persen dan 4,57 persen rumah tangga di Provinsi Jambi. Sumber air minum lainnya seperti sumur bor, air kemasan bermerek, leding eceran, air permukaan (seperti sungai sungai, danau), mata air masingmasing hanya digunakan oleh kurang dari 6 persen rumah tangga di Provinsi Jambi.
Apabila dikategorikan menurut status kepemilikan rumah maka sebagian besar rumah tangga di Provinsi Jambi sudah memiliki rumah sendiri (83,64 persen). Status kepemilikan terbanyak selanjutnya adalah rumah bebas sewa mencapai 8,01 persen, kontrak/sewa sebanyak 7,06 persen, dan rumah dinas sebanyak 1,29 persen.
7 Perumahan
Grafik 7.2. Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Air Minum, 2016
Grafik 7.3. Persentase Rumah Tangga menurut Status Kepemilikan Bangunan, 2018
Sumber : BPS, Hasil Susenas 2018
Sumber : BPS, Hasil Susenas 2018
10,16% 4,57%