dan pelayanan UGD 24 jam.
1.4.2 Pembagian Wilayah Administrasi
UPT Puskesmas Kuta I mewilayahi 3 kelurahan yaitu kelurahan Kuta, Tuban dan Kedonganan. Jumlah banjar pada masing-masing kelurahan adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1 Jumlah Banjar di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta I Tahun 2018 Kelurahan Banjar Dinas Banjar Suka Duka Desa Adat Kuta 13 3 1 Tuban 4 4 2 Kedonganan 6 6 1 Jumlah 23 13 4
1.4.3 Data Penduduk Tahun 2018
Jumlah penduduk di wilayah UPT Puskesmas Kuta I tahun 2018 adalah 40222 jiwa dan 9542 KK yang terbagi di tiga kelurahan, masing- masing kelurahan adalah seperti pada tabel berikut:
5
Tabel 1.2 Distribusi Penduduk dan Kepala Keluarga Di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta 1 Tahun 2018
Kelurahan Laki- Laki Perempuan Jumlah Penduduk Jumlah KK Kuta 8.884 9.048 17.932 3.766 Tuban 8.281 7.070 15.351 4.041 Kedonganan 3.883 3.056 6.939 1.735 Jumlah 21.048 19.174 40.222 9.542
Untuk distribusi penduduk menurut sasaran program dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.3 Distribusi Penduduk Menurut Sasaran Program di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta I Tahun 2018
Kelurahan Bumil Bayi Balita Resti Bulin/ Bulfas Anak Balita Kuta 937 851 2.476 187 894 1.627 Tuban 802 726 2.119 160 766 1.390 Kedonganan 362 330 963 73 346 633 Puskesmas 2.101 1.910 5.560 420 2.006 3.650
6 1.4.4 Sumber Daya Kesehatan
1.4.4.1 Ketenagaan
Tabel 1.4. Daftar Ketenagaan UPT. Puskesmas Kuta 1 No. Kualifikasi
pendidikan
Jumlah Yang Ada Keterangan
L P Total
1. Dokter umum 4 4 8 1 Sebagai Ka. Pusk 1 Dokter tugas belajar 2. Dokter gigi - 5 5 3. Keperawatan 1 19 20 SPK 2 orang, D3 2 orang keperawatan, 1 orang D4 dan10 orang S1 keperawatan 4. Kebidanan - 23 23 5. SPRG - 1 1 6. Kefarmasian 1 1 2 7. Kesehatan lingk/ Sanitarian 2 2 SPK 1 orang, Kesling 1 orang 8. Kesehatan Masyarakat 2 2 9. Gizi 1 1 10. Analisis kesehatan 1 2 3 11. Radiologi 1 1 12. Umum SD 1 1 SMP 1 1 SMA / SLTA 2 1 3 D3 Umum 1 1 S1 / Sarjana Ekonomi 1 1 S2 / Magister Umum Pekarya Kesehatan 1 1 SPM Jumlah 13 62 75
7 - Tenaga kesehatan keliling 4 12 16 - Jumantik 11 17 28 Total Semua 28 91 119 1.4.4.2 Sarana Prasarana
Sarana pelayanan kesehatan UPT Puskesmas Kuta 1 terdiri dari :
a. Puskesmas induk terdiri dari 2 (dua) gedung , gedung 1 untuk pelayanan rawat jalan dan administrasi berlokasi di Jalan Raya Kuta No. 117, sedangkan gedung 2 untuk pelayanan UGD 24 jam dan rawat inap persalinan, yang berlokasi di Gang Mawar, Abianbase.
b. 2 (dua) Puskesmas pembantu, yaitu - Puskesmas pembantu Tuban - Puskesmas pembantu Kedonganan c. 3 (tiga) Poskesdes, meliputi :
- Poskesdes Kuta - Poskesdes Tuban - Poskesdes Kedonganan d. 7 Klinik swasta
e. 32 posyandu, terdiri dari: - 17 posyandu Kuta - 9 posyandu Tuban - 6 posyandu Kedonganan f. 4 rumah sakit
g. Sarana Komunikasi dan Transportasi UPT Puskesmas Kuta I meliputi: - Mobil Ambulans : 4 buah
- Sepeda Motor : 6 buah - Telepon : 4 buah
8 - H T ( Handy Talky) : 1 buah 1.4.5 Data Sekunder
Data sekunder kejadian karies gigi pada anak usia sekolah UPT Puskesmas Kuta I tahun 2018 dicantumkan pada lampiran.
1.5 Permasalahan-Permasalahan Yang Ditemukan
1. Karies pada anak usia Sekolah Dasar 2. Karies pada anak usia SMP
3. Kalkulus pada lansia
1.6 Penetapan Prioritas Masalah
Penetapan prioritas masalah ditetapkan menggunakan metode USG (Urgency, seriousness, growth) (Pramukti, 2012)
Tabel 1.5 Penetapan prioritas Masalah
Kriteria masalah U (Urgency) S (seriousness) G (Growth) Total
karies anak usia sekolah dasar
4 4 5 13
Karies pada anak usia SMP
3 3 3 9
Kalkulus pada lansia 2 2 3 7
Keterangan: Berdasarkan skala 1 : sangat kecil 2 : kecil 3 : sedang
9 4 : besar
5 : sangat besar
Berdasarkan hasil analisis penetapan prioritas masalah menggunakan metode USG, didapatkan bahwa karies pada anak usia sekolah dasar sebagai prioritas masalah di wilayah kerja UPT. Puskesmas Kuta I.
10
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Karies
2.1.1 Definisi karies
Karies berasal dari bahasa Latin yaitu caries yang memiliki arti membusuk (Shafer dkk., 2012). Karies diawali dengan terjadinya kerusakan jaringan di permukaan gigi yaitu dari bagian enamel ke dentin yang kemudian meluas kearah pulpa (Tarigan, 2013). Lesi karies dapat berkembang apabila terdapat lapisan biofilm (plak gigi) yang dibiarkan dalam waktu yang lama di permukaan gigi (Kidd, 2005).
2.1.2 Patofisiologi karies
Terjadinya karies bergantung pada proses dinamis demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi silih berganti. Proses demineralisasi yang terus berulang dan tidak diimbangi oleh proses remineralisasi akan menyebabkan larut dan hancurnya jaringan keras gigi (Heymann dkk., 2013). Proses terjadinya karies didalam rongga mulut dimulai dari proses pembentukan plak terlebih dahulu.
Proses pembentukan plak terdiri dari tiga fase. Fase tersebut diawali dengan pembentukan pelikel pada permukaan gigi, kemudian tahap perlekatan dan diakhiri dengan proses pematangan plak (Newman dkk., 2015). Pelikel adalah lapisan tipis protein saliva yang translusen, halus, dan tidak berwarna yang melekat di permukaan gigi yang sudah dibersihkan (Manson dan Eley, 2013). Kemudian dalam beberapa hari, terjadi tahap perlekatan. Perlekatan terjadi antara mikroorganisme kokus fakultatif gram positif yang membentuk lapisan yang lebih tipis dan berkolonisasi dengan pelikel. Mikroorganisme-mikroorganisme tersebut disebut sebagai kolonisasi primer yang menyediakan tempat baru untuk proses perlekatan mikroorganisme lain di rongga mulut. Tahap selanjutnya yaitu tahap pematangan plak. Pada tahap ini terjadi proses
11
mikrokoloni dan pada akhirnya terbentuk plak yang matang (Newman dkk., 2015). Bakteri kariogenik yang terdapat dalam plak akan memproduksi asam laktat dan asam asetat yang merupakan hasil fermentasi dari karbohidrat. Produksi asam ini akan menyebabkan pH pada daerah yang dilekati plak akan menurun di bawah 5. Menurunnya pH yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan proses demineralisasi. Asam ini masuk ke dalam enamel, kemudian melarutkan
hydroxyapatite crystal surface dan menurunkan jumlah ion kalsium dan fosfat.
Penurunan jumlah ion kalsium dan fosfat pada enamel ini mengawali terbentuknya
white spot (Kidd, 2005; Cameron, 2008; Shafer dkk., 2012).
Proses awal karies ditandai dengan munculnya white spot berwarna chalky
white yang menunjukkan adanya proses demineralisasi. Gejala umum yang sering
terjadi saat proses awal terjadinya karies adalah sensitivitas gigi yang meningkat, seperti pada rangsangan panas, dingin dan makanan manis. Selain white spot, lesi karies juga dapat berupa diskolorisasi gigi menjadi coklat atau hitam dan terbentuknya kavitas. (Langlais dkk., 2009).
2.1.3 Etiologi karies
Gambar 1. Etiologi karies (Shafer dkk., 2012)
Terjadinya karies disebabkan oleh serangkaian proses dan faktor yang saling mempengaruhi selama beberapa kurun waktu. Terdapat empat faktor utama penyebab
12
karies, keempat faktor tersebut adalah host, mikroorganisme, substrat dan waktu (Shafer dkk., 2012). Sebagai proses multifaktorial, keseimbangan dari faktor utama didalam rongga mulut dipengaruhi oleh faktor risiko luar. Faktor risiko luar dijabarkan menjadi usia, status sosial dan ekonomi, tingkat pendidikan, pengetahuan serta perilaku (Cappelli dan Mobley, 2008)
2.1.3.1 Faktor utama
a. Host
Enamel merupakan jaringan pada gigi yang terdiri dari 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat, flour), 1% air dan 2% bahan organik. Kandungan mineral mempengaruhi kepadatan kristal enamel dari gigi tersebut. Selain faktor enamel, keadaan morfologi gigi pun memiliki pengaruh terhadap terjadinya karies. Hal ini dikarenakan adanya bagian dari permukaan gigi yaitu pit dan fissure yang dalam sehingga dapat menjebak makanan dan menyebabkan mikroorganisme dan debris berkembang dengan cepat. Gigi yang berada diluar lengkung rahang dan mengalami rotasi cenderung membuat gigi lebih sulit dibersihkan, hal ini pun dapat menyebabkan terjadinya akumulasi debris sehingga risiko terjadinya karies lebih tinggi (Shafer dkk., 2012).
Saliva memiliki pengaruh dalam proses terjadinya karies yaitu dengan mengurangi akumulasi plak serta meningkatkan laju pembersihan karbohidrat di rongga mulut. Saat bakteri plak penyebab karies sedang melakukan proses fermentasi karbohidrat, sistem buffer asam karbonat- bikarbonat, kandungan amonia dan urea dalam saliva dapat menetralkan penurunan pH sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya demineralisasi (Bechal, 2012). Selain itu, diperlukan volume saliva dalam jumlah normal untuk melakukan self-cleansing dalam mengangkat dan mengeluarkan debris-debris sisa makanan dari rongga mulut secara efektif (Hollins, 2013).
b. Mikroorganisme
13
terjadinya demineralisasi adalah bakteri Streptococcus mutans. Streptococcus mutans adalah bakteri Gram positif dengan bentuk rantai kokus pendek hingga sedang (Shafer dkk., 2012). Streptococcus mutans dapat memetabolisme berbagai jenis karbohidrat dan mensintesisnya menjadi dekstran, yaitu polisakarida yang lengket sebagai faktor penting proses terjadinya plak dalam memproduksi asam (Tortora dkk., 2013). Kondisi asam tersebut kemudian menyebabkan mikroorganisme Lactobacillus sp.berkembang pada rongga mulut dan meneruskan peran dalam proses pembentukan kavitas pada gigi (Cappelli dan Mobley, 2008). Selain mikroorganisme yang disebutkan diatas, terdapat beberapa mikroorganisme lainnya tergantung dari tipe karies yang terjadi yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.1. Mikroorganisme penyebab karies (Masthan, 2011)
Tipe Karies Bak teri penyebab karies
Pit dan fissure S. mutans, S. sanguis, dan Lactobacillus sp. Smooth surface S. mutans dan S. salivarius.
Permukaan akar A. Viscosus, A. Naeslundii, S. mutans, dan S. sanguis.
Karies dentin Lactobacilli sp dan A. Naeslundii
c. Substrat
Pengaruh substrat terhadap pembentukan plak sangat besar karena substrat membantu kolonisasi bakteri di permukaan enamel serta menyediakan bahan untuk proses metabolisme. Bakteri mampu memanfaatkan semua jenis karbohidrat untuk melakukan metabolisme. Berdasarkan kandungannya, karbohidrat dibagi menjadi 3 jenis yaitu polisakarida, disakarida dan monosakarida. Sukrosa merupakan jenis disakarida dan paling sering terlibat dalam proses terjadinya karies karena sukrosa merupakan jenis gula yang paling sering dikonsumsi dan disintesis lebih cepat
14
dibandingkan glukosa, fruktosa, dan laktosa (Tarigan, 2013; Heymann dkk., 2013; Kidd, 2005).
d. Waktu
Proses demineralisasi dan remineralisasi di dalam rongga mulut terjadi secara silih berganti, oleh karena itu seseorang tidak akan bebas dari risiko karies. Karies dapat terjadi apabila keseimbangan antara proses demineralisasi dan remineralisasi terganggu. Hal ini dapat terjadi dalam hitungan bulan hingga tahun tergantung frekuensi serta intensitas struktur gigi yang terpapar oleh asam dan mengakibatkan kristal enamel gigi hancur. Selain frekuensi dan intensitas struktur gigi yang terpapar asam, komposisi dan jumlah plak, konsumsi gula, paparan fluoride, kualitas dan kuantitas enamel dan respon imun juga memiliki peran dalam proses terjadinya karies yang berhubungan dengan waktu (Cameron, 2008).
2.1.3.2 Faktor risiko luar
a. Usia
Presentase kejadian karies meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini dikarenakan gigi lebih lama terpapar oleh faktor risiko penyebab karies. Pada periode gigi bercampur, gigi molar pertama permanen memiliki risiko tinggi terkena karies (Tarigan, 2013). Gigi molar pertama permanen memiliki prevalensi karies tertinggi karena memiliki pit dan fissure yang dalam, lebih awal erupsi pada periode mix
dentition dan sulit dilakukan pembersihan karena posisinya yang terletak paling
belakang pada gigi sulung (Jaradat dkk., 2013). Pada masa pubertas, diantara usia 14-20 tahun dapat terjadi perubahan hormonal yang mengakibatkan pembengkakan gusi sehingga kebersihan mulut susah dijaga. Sedangkan pada usia 40-50 tahun, masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi adalah resesi gingiva yang berpengaruh terhadap kesulitan pembersihan debris pada daerah tersebut (Tarigan, 2013).
15 b. Status sosial dan ekonomi
Status sosial ekonomi keluarga memiliki pengaruh terhadap kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk kebutuhan terkait dengan upaya perawatan kesehatan gigi (Susi dkk., 2012). Hasil penelitian Maulida (2014) yang berjudul “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak di TK Aisyiyah Bustanul Aftal Desa Lebaksiu Lor” menunjukan data responden dengan tingkat sosial ekonomi keluarga rendah dan cukup semuanya menderita karies, sedangkan responden dengan tingkat sosial ekonomi keluarga yang tinggi memiliki angka kejadian karies yang rendah (Maulida, 2014).
c. Tingkat pendidikan
Pendidikan terkait dengan proses pematangan intelektual, emosional dan kemanusiaan yang dilakukan secara terus menerus. Pendidikan diusahakan secara sadar melalui proses bimbingan, pengajaran dan pelatihan (Setyaningsih, 2016). Seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi memiliki risiko karies yang lebih rendah dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Hal ini karena tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi pengetahuannya dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut (Saldunaite, 2014).
d. Pengetahuan mengenai perawatan gigi
Pengetahuan mengenai perawatan gigi dan mulut merupakan pengertian seseorang mengenai bagaimana cara menjaga atau merawat kebersihan gigi dan mulut. Pengetahuan kebersihan gigi dan mulut dapat diperoleh melalui pemberian Dental
Health Education (DHE) seperti penyuluhan atau promosi kesehatan mengenai cara
menjaga kebersihan gigi dan mulut dan jenis makanan yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut (Notoatmojo, 2011; Ali, 2016). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramadhan (2016), terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai perawatan gigi terhadap kejadian karies (Ramadhan, 2016).
16 e. Perilaku mengenai perawatan gigi
Pembersihan gigi dengan cara mekanis yaitu menggunakan sikat gigi dapat membantu pembersihan plak di permukaan gigi, sehingga mencegah proses terjadinya karies (Heymann dkk., 2013). Beberapa penelitian menunjukan bahwa kebiasaan menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi dan penggunaan pasta gigi yang mengandung
fluoride memiliki pengaruh pada kejadian karies gigi (Lakhanpal, 2014). Menyikat
gigi dilakukan minimal 2 kali sehari dengan pasta gigi mengandung fluoride pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk pencegahan karies.
Daerah interproksimal sulit dijangkau oleh sikat gigi saat prosedur menyikat gigi, padahal pembersihan plak pada daerah tersebut penting untuk mencegah karies gigi, mencegah penyakit periodontal serta menjaga kesehatan gingiva. Dental floss atau benang gigi merupakan solusi yang digunakan untuk melakukan pembersihan pada daerah tersebut. Penggunaan dental floss sebaiknya dilakukan sebelum menyikat gigi, selain karena dapat membersihkan daerah interdental yang tidak bias dicapai dengan sikat gigi, penggunaan dental floss dapat membantu fluoride yang terkandung dalam pasta gigi mencapai daerah interproksimal tersebut (Magfirah, 2014).
2.1.4 Indeks karies
2.1.4.1 Indeks karies gigi permanen
Menurut Fitriana (2013) pengukuran status serta keparahan karies pada gigi permanen menggunakan indeks DMF-T (Decayed, Missing, Filled Tooth)
1. Decayed (D) : semua gigi yang mengalami karies, karies sekunder pada
tumpatan serta gigi dengan tumpatan sementara.
2. Missing (M) : gigi yang hilang atau dicabut karena karies, gigi yang
terdapat karies tidak dapat ditumpat dan diindikasikan untuk dicabut. 3. Filled (F) : gigi dengan tumpatan permanen.
17 a. DMF-T pada individu
Jumlah masing-masing komponen secara terpisah :
b. DMF-T pada populasi
Fitriana (2013) mengklasifikasikan tingkat keparahan karies gigi pada usia 12 tahun atau lebih sebagai berikut :
1. Nilai DMF-T sebesar 0,0 – 1,1 untuk tingkat keparahan sangat rendah
2. Nilai DMF-T sebesar 1,2 – 2,6 untuk tingkat keparahan rendah 3. Nilai DMF-T sebesar 2,7 – 4,4 untuk tingkat keparahan sedang 4. Nilai DMF-T sebesar 4,5 – 6,6 untuk tingkat keparahan tinggi 5. Nilai DMF-T sebesar > 6,6 untuk tingkat keparahan sangat tinggi
Perhitungan DMF-T berdasarkan pada 28 gigi permanen, ada pun gigi yang tidak dihitung adalah sebagai berikut :
1. Gigi molar ketiga.
2. Gigi yang belum erupsi. Gigi dikatakan erupsi apabila terdapat bagian gigi yang menembus gusi baik itu erupsi awal (clinical
emergence), erupsi sebagian (partial eruption) atau erupsi penuh
(full eruption).
3. Gigi yang tidak ada karena kelainan kongenital dan gigi berlebih (supernumerary teeth).
4. Gigi yang hilang bukan karena karies, misalnya karena impaksi DMF-T = Decayed (D) + Missing (M) + Filled (F)
18
def-t = d (decay) + e (indicated for extraction) + f (filling). atau kebutuhan perawatan ortodontik.
5. Gigi yang direstorasi bukan karena karies, melainkan gigi yang mengalami trauma yang dibuatkan bridge atau restorasi lain untuk kepentingan estetik.
6. Gigi susu yang belum tanggal.
2.1.4.2 Indeks karies gigi sulung
Indeks def-t (decayed, extracted/indicated for extraction, filling tooth) berfungsi untuk menilai status serta keparahan karies pada gigi sulung.
1. Angka decayed (d) : termasuk seluruh gigi sulung yang mengalami karies, karies sekunder pada tumpatan, gigi dengan tumpatan sementara 2. Angka extracted/indicated for extraction (e) : gigi sulung yang hilang atau dicabut disebabkan karena karies atau sisa akar gigi dengan karies yang tidak dapat ditumpat dan diindikasikan pencabutan.
3. Angka filling (f) : Gigi sulung dengan tumpatan permanen.
Beberapa gigi tidak terhitung dalam indeks def-t yaitu : gigi yang hilang termasuk unerupted teeth, congenitally missing teeth, supernumerary teeth dan gigi yang direstorasi untuk alasan lain selain karies gigi.
a. def-t pada individu :
Jumlah masing-masing komponen secara terpisah :
b. def-t pada populasi: Rata-rata def-t :
19
Fitriana (2013) mengklasifikasikan tingkat keparahan karies gigi sebagai berikut :
1. Nilai def-t sebesar 0,0 – 1,1 untuk tingkat keparahan sangat rendah 2. Nilai def-t sebesar 1,2 – 2,6 untuk tingkat keparahan rendah
3. Nilai def-t sebesar 2,7 – 4,4 untuk tingkat keparahan sedang 4. Nilai def-t sebesar 4,5 – 6,6 untuk tingkat keparahan tinggi 5. Nilai def-t sebesar > 6,6 untuk tingkat keparahan sangat tinggi
2.1.4.3 Indeks karies mix dentition
Pengukuran yang digunakan untuk menilai status dan keparahan karies pada anak-anak dengan periode gigi geligi mix dentition adalah indeks DMF-T dan def-t dengan perhitungannya dilakukan secara terpisah dan tidak dijumlahkan (Marya, 2011). Untuk dapat menentukan sebab kehilangan gigi karena karies atau tanggal fisiologis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Usia pasien yang mendekati waktu gigi tanggal fisiologis.
2. Bentuk ridge. Apabila bentuk ridge cekung, menandakan alasan gigi tersebut hilang adalah karena karies, sedangkan apabila bentuk ridge datar menandakan alasan gigi tesebut hilang karena tanggal fisiologis dan terkadang gigi permanen penggantinya telah menembus gusi. 3. Indeks DMF-T / def-t yang tinggi karena adanya kehilangan gigi akibat
karies terutama gigi dengan posisi berdekatan dan kontra lateral. 4. Kebersihan rongga mulut pasien, karena kebersihan rongga mulut yang
buruk mempengaruhi peningkatan kehilangan gigi akibat karies. Untuk menentukan kehilangan gigi karena karies atau persyaratan perawatan ortodontik yaitu dengan cara memperhatikan:
1. Berdasarkan jenis gigi, pada umumnya dalam kebutuhan perawatan ortodontik gigi yang diekstraksi adalah gigi 4 atau 5, namun untuk kehilangan gigi karena karies dapat melibatkan semua gigi.
20
berhubungan dengan perawatan ortodontik, namun berbeda dalam kasus kehilangan gigi karena karies.
3. Indeks DMF-T / def-t yang tinggi biasanya karena kehilangan gigi akibat karies terutama gigi dengan posisi berdekatan dan kontra lateral. 4. Kebersihan rongga mulut pasien, karena kebersihan rongga mulut yang
buruk mempengaruhi peningkatan kehilangan gigi akibat karies. 5. Adanya crowding atau alat ortodontik pada perawatan ortodontik.
2.2 Pengetahuan orang tua mengenai perawatan gigi anak 2.2.1 Gambaran pengetahuan secara umum
Pengetahuan merupakan hasil ‘tahu’ yang dapat terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek-objek tertentu. Pengetahuan merupakan faktor yang memiliki pengaruh penting dalam pembentukan perilaku individu. Apabila penerimaan perilaku baru didasari dengan pengetahuan dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bertahan dalam waktu yang lama (Notoatmodjo, 2011). Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah dan memiliki arti dapat mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan dan menginterpretasi tentang objek yang diketahui dengan benar.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4. Analisis (analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek ke dalam komponen-komponen yang berkaitan satu sama lain di suatu struktur organisasi.
21 5. Sintesis (synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jastifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian tersebut dapat didasari suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.
2.2.2 Pengetahuan Orang tua Mengenai Perawatan Gigi Anak
Pengetahuan orang tua yang diperoleh baik formal maupun informal memberikan pengaruh dalam pengambilan suatu keputusan atau tindakan. Program pendidikan kesehatan dapat memotivasi, mengubah pandangan serta perilaku orang tua mengenai nilai-nilai kesehatan yang akan berpengaruh pada keluarga. Beberapa pengetahuan mengenai kesehatan gigi yang perlu diketahui oleh seorang orang tua berkaitan dengan perawatan gigi anak meliputi pengetahuan tentang pemilihan sikat gigi, pemilihan dan pemakaian pasta gigi, pengetahuan mengenai makanan kariogenik dan pengetahuan mengenai peran dokter gigi dalam perawatan gigi anak.
a. Pemilihan sikat gigi
Pemilihan sikat gigi yang dilakukan oleh orang tua untuk anak sebaiknya dilakukan secara seksama. Orang tua dianjurkan memilih sikat gigi yang ukurannya kecil dengan tangkai yang mudah digenggam anak, bulu sikat bertekstur halus dan pada bagian kepala sikat menyempit agar mudah menjangkau bagian dalam rongga mulut anak. American Dental Association menganjurkan diameter kepala sikat gigi balita adalah 15 mm (ADA, 2016).
b. Pemilihan dan pemakaian pasta gigi
Pemilihan pasta gigi bagi anak merupakan hal yang penting. Orang tua dianjurkan untuk memilih pasta gigi yang mengandung fluoride karena peranannya
22
yang berguna untuk mencegah perkembangan awal lesi karies dan proses remineralisasi di dalam rongga mulut. Penggunaan pasta gigi yang mengandung
fluoride harus dimulai semenjak gigi pertama anak erupsi. Pasta gigi yang
mengandung 1000 atau 1450 ppm fluoride dianjurkan untuk digunakan oleh anak-anak (Deery dan Toumba, 2012). Orang tua harus tetap melakukan pengawasan terhadap jumlah pasta gigi yang digunakan anak. Anjuran jumlah pasta yang diletakkan pada sikat gigi, kira-kira sebesar kacang polong kecil (Deery dan Toumba, 2012).
Tabel 2.2 Rekomendasi penggunaan pasta gigi pada anak (Deery dan Toumba, 2012).
Umur
Konsentrasi fluoride (ppm)
ganggunaan dalam 1 hari
perkiraan jumlah yang digunakan
6 bulan-<2 tahun 500 2 kali Sebesar
kacang polong
2-<6 tahun 1000+ 2 kali Sebesar
kacang polong
23
Gambar 2. Penggunaan pasta gigi sebesar
kacang polong (Duggal dkk., 2013).
c. Pengetahuan mengenai makanan kariogenik
Makanan manis yang mengandung gula tinggi, memiliki kecenderungan melekat pada permukaan gigi dan dapat menyebabkan karies disebut dengan makanan kariogenik (Kartikasari dan Nuryanto, 2014). Perilaku anak dalam mengonsumsi makanan kariogenik sering kali berlebihan karena makanan tersebut memiliki bermacam-macam rasa dan berbentuk menarik. Beberapa contoh makanan yang tergolong ke dalam makanan kariogenik adalah permen, coklat, donat, kue isi selai, kue lapis, dodol, gulali, arumanis, makanan ringan (snack), dan biskuit manis (Kartikasari dan Nuryanto, 2014). Sedangkan contoh makanan non kariogenik adalah nasi, jagung, kentang, ubi jalar, singkong, sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan (Worotitjan dkk., 2013). Frekuensi konsumsi makanan kariogenik memiliki pengaruh terhadap risiko terjadinya karies gigi, karena peningkatan frekuensi tersebut dapat menjadi faktor pemicu kehilangan mineral gigi akibat paparan asam yang dihasilkan (Talibo dkk., 2016).
Pencegahan karies dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi makanan kariostatik seperti lemak dan protein dibanding dengan konsumsi makanan kariogenik. Lemak dan protein berfungsi untuk meningkatkan pH dan volume saliva. Selain itu, pengganti gula adalah faktor lain dalam pencegahan karies selain peningkatan
24
konsumsi makanan kariostatik. Pengganti gula dibedakan menjadi xylitol dan