• Tidak ada hasil yang ditemukan

COMMUNITY ASSESMENT PUSKESMAS KUTA I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "COMMUNITY ASSESMENT PUSKESMAS KUTA I"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

i

COMMUNITY ASSESMENT PUSKESMAS KUTA I

Disusun Oleh: drg. Putri Rejeki, SKG NIK. 1987100920181123001

PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN GIGI DAN

PROFESI DOKTER GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2019

(2)

ii

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah IKGM-P dengan judul “Community Assesment Puskesmas Kuta 1”.

Penulis menyadari kelemahan serta keterbatasan yang ada sehingga dalam menyelesaikan laporan ini memperoleh bantuan dari berbagai pihak, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih banyak kekurangan baik isi maupun susunannya. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis juga bagi para pembaca.

Jimbaran 4 Oktober 2019,

(3)

iii

DAFTAR ISI

Halaman Judul……… i

Lembar Pengesahan………. ii

Kata Pengantar……… iii

Daftar Isi……….. iv

Daftar Tabel………. vi

Daftar Singkatan………... vii

BAB 1 PENDAHULUAN………...……… 1 1.1 Latar Belakang………... 1 1.2 Tujuan……… 2 1.2.1 Tujuan Umum………...……… 2 1.2.2 Tujuan Khusus………...…. 2 1.3 Manfaat……….. 2 1.3.1 Manfaat Akademis……….... 2 1.3.2 Manfaat Praktis………. 2 1.4 Analisis Situasi……… 3 1.4.1 Data Umum………..………. 3 1.4.1.1 Geografis………..…. 3 1.4.1.2 Spesifikasi Puskesmas……….…….. 4

1.4.2 Pembagian Wilayah Administratif……….……..…………. 4

1.4.3 Data Penduduk Tahun 2018……….… 4

1.4.4 Sumber Daya Kesehatan……… 6

1.4.4.1 Ketenagaan………...…. 6

1.4.4.2 Sarana Prasarana………...……. 7

1.4.5 Data Sekunder………..…. 8

1.5 Permasalahan-permasalahan yang Ditemukan………..………… 8

1.6 Penetapan Prioritas Masalah……….. 8

BAB 2 LANDASAN TEORI………...……… 10

(4)

iv

2.1.1 Definisi Karies……… 10

2.1.2 Patofisiologi Karies………... 10

2.1.3 Etiologi………..……… 11

2.1.3.1 Faktor Utama……….……….... 12

2.1.3.2 Faktor Resiko Luar………. 14

2.1.4 Indeks Karies………. 16

2.1.4.1 Indeks Karies Pada Gigi Permanen……… 16

2.1.4.2 Indeks Karies Pada Gigi Sulung………...… 18

2.1.4.3 Indeks Karies Pada Mix Dentition……… 19

2.2 Pengetahuan Orang Tuan Mengenai Perawatan Gigi Anak………… 20

2.2.1 Gambaran Pengetahuan Secara Umum……… 20

2.2.2 Pengetahuan Orang Tuan Mengenai Perawatan Gigi Anak………. 21

2.3 Prilaku Orang Tua Dalam Merawat Gigi Anak………... 25

2.3.1 Gambaran Prilaku Secara Umum…………...……….. 25

2.3.2 Prilaku Orang Tua Dalam Merawat Gigi Anak……….... 25

BAB 3 ANALISIS DATA PRIMER………... 29

BAB 4 PENENTUAN AKAR PENYEBAB MASALAH………..…. 31

BAB 5 PENETAPAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH……….. 32

BAB 6 PEMECAHAN PENYEBAB MASALAH DAN ALTERNATIFNYA……… 34

6.1 Alternatif Pemecahan Masalah……….. 34

6.2 Prioritas Pemecahan Masalah……… 34

BAB 7 RENCANA KEGIATAN JANGKA PENDEK……….. 36

BAB 8 RENCANA KEGIATAN JANGKA PANJANG……… 37

BAB 9 PENUTUP………...……… 38

9.1 Kesimpulan ………...……….. 38

9.2 Saran………..……… 39

DAFTAR PUSTAKA………. 40

(5)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Jumlah Banjar di Wilayah UPT. Puskesmas

Kuta I Tahun 2018………...…… 4

Tabel 1.2 Distribusi Penduduk dan Kepala Keluarga Di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta 1 Tahun 2018……… 5

Tabel 1.3 Distribusi PendudukMenurut Sasaran Program di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta I Tahun 2018………. 5

Tabel 1.4. Daftar Ketenagaan UPT. Puskesmas Kuta 1………..………… 6

Tabel 1.5 Penetapan prioritas Masalah……….... 8

Tabel 2.1. Mikroorganisme penyebab karies (Masthan, 2011)…...……… 13

Tabel 2.2 Rekomendasi penggunaan pasta gigi pada anak (Deery dan Toumba, 2012)………. 22

Tabel 3.1 Hasil screening di beberapa Sekolah Dasar dalam wilayah UPT Puskesmas Kuta I………. 29

Tabel 5.1 Penetapan prioritas penyebab masalah dengan metode USG………...……… 32

Tabel 6.1 . Penentuan prioritas pemecahan masalah menggunakan metode CARL………..…… 34

Tabel 7.1 Rencana Kegiatan Jangka Pendek………...………… 36

(6)

vi

DAFTAR SINGKATAN

Balita : Bawah Lima Tahun

Bulfas : Ibu Nifas (masa setalah melahirkan sampai 40 hari ) Bulin : Ibu Bersalin

Bumil : Ibu Hamil

CARL : Capability, Accessibility, Readiness, Leverage

def-T : Total Decayed, Extracted/ Indicated For Extraction, Filling Tooth DHE : Dental Health Education

DMF-T : Total Decayed, Missing, Filled Resti : Resiko Tinggi

(7)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Upaya kesehatan gigi dan mulut adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut masyarakat menjadi salah satu tujuan penyelengaaraan puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut tingkat pertama (Permenkes No.89, 2015)

Persentase penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut menurut Riskesdas tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2% menjadi 25,9%. Karies merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di Indonesia. Prevalensi karies di Indonesia diukur berdasarkan indeks karies dan diperoleh indeks karies nasional sebesar 4,6 yang termasuk dalam tingkat keparahan tinggi (Riskesdas, 2013). Menurut Centers of Control Disease Prevention 2013, 25 % kejadian karies gigi terjadi pada usia anak 6-11 tahun dan 59% pada anak usia 12-19 tahun. Prevalensi masalah gigi dan mulut di Bali sebesar 24%, sedangkan angka prevalensi nasional sebesar 25,9%, perbandingan ini menunjukan masalah gigi dan mulut di daerah Bali tergolong cukup tinggi karena prevalensi kejadiannya mendekati angka prevalensi nasional (Riskesdas,2013).

Upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut telah dilakukan Puskesmas Kuta I, salah satunya upaya peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut sejak dini, berupa Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang dilakukan secara terpadu dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan

(8)

2

penjaringan kesehatan gigi dan mulut dan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan data hasil penjaringan Puskesmas Kuta I tahun 2019 Di Sekolah Dasar yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kuta I, angka kejadian karies masih cukup tinggi.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mengetahui masalah kesehatan gigi dan mulut di wilayah kerja UPT puskesmas Kuta I

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui tingkat kejadian karies anak usia Sekolah Dasar di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I.

2. Mengetahui prioritas penyebab masalah tingginya tingkat kejadian karies anak usia Sekolah Dasar di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I.

3. Merumuskan pemecahan masalah tingginya tingkat kejadian karies anak usia Sekolah Dasar di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I.

1.3 Manfaat

1.3.1 Manfaat Praktis

Sebagai bahan masukan dan informasi dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat khusunya kesehatan gigi dan mulut pada puskesmas. 1.3.2 Manfaat Akademis

Penulis dapat menganalisa dan mengetahui berbagai permasalahan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan gigi dan mulut pada puskesmas, serta memberi masukan mengenai pemecahan masalah yang ada.

(9)

3

1.4 Analisis Situasi

1.4.1 Data Umum

UPT Puskesmas Kuta I adalah salah satu puskesmas di wilayah kecamatan Kuta , Kabupaten Badung, yang berlokasi di jalan Raya Kuta No. 117, Kuta, Badung, Bali. UPT Puskesmas Kuta I berdiri sejak tahun 1974. UPT Puskesmas Kuta I mencakup 3 wilayah kelurahan yaitu kelurahan Kuta, Tuban , dan Kedonganan. 1.4.1.1 Geografis

UPT Puskesmas Kuta I berada di kecamatan Kuta, Kabupaten Badung yang mewilayahi 3 kelurahan yaitu Kelurahan Kuta, Tuban, Kedonganan. Adapun batas-batas wilayah sebagai berikut :

• Sebelah Utara : Kelurahan Legian • Sebelah Barat : Samudera Hindia • Sebelah Selatan : Kelurahan Jimbaran

• Sebelah Timur : Kecamatan Denpasar Selatan

Luas wilayah UPT Puskesmas Kuta I adalah 11,82 km2 dengan ketinggian ±500 m diatas permukaan laut. Sedangkan jarak dari ibukota kecamatan adalah :

- Kelurahan Kuta : 0 km - Kelurahan Tuban : 4 km - Kelurahan Kedonganan : 5 km

Karakteristik keadaan geografis wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I terdiri dari 30% wilayah pantai dan 70% daerah pemukiman. Terletak di Bali Selatan dengan ketinggian 500 m diatas permukaan laut. Untuk kondisi topografi ketiga kelurahan yaitu dengan bentuk permukaan tanah daratan yang merupakan daerah pantai dengan rata-rata tinggi curah hujan adalah 2.000-3.000 mm.

1.4.1.2 Spesifikasi Puskesmas

UPT. Puskesmas Kuta 1 merupakan puskesmas perkotaan berdasarkan karakteristik wilayah kerja, dengan kategori kemampuan penyelenggaraan rawat inap

(10)

4 dan pelayanan UGD 24 jam.

1.4.2 Pembagian Wilayah Administrasi

UPT Puskesmas Kuta I mewilayahi 3 kelurahan yaitu kelurahan Kuta, Tuban dan Kedonganan. Jumlah banjar pada masing-masing kelurahan adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Jumlah Banjar di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta I Tahun 2018 Kelurahan Banjar Dinas Banjar Suka Duka Desa Adat Kuta 13 3 1 Tuban 4 4 2 Kedonganan 6 6 1 Jumlah 23 13 4

1.4.3 Data Penduduk Tahun 2018

Jumlah penduduk di wilayah UPT Puskesmas Kuta I tahun 2018 adalah 40222 jiwa dan 9542 KK yang terbagi di tiga kelurahan, masing- masing kelurahan adalah seperti pada tabel berikut:

(11)

5

Tabel 1.2 Distribusi Penduduk dan Kepala Keluarga Di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta 1 Tahun 2018

Kelurahan Laki- Laki Perempuan Jumlah Penduduk Jumlah KK Kuta 8.884 9.048 17.932 3.766 Tuban 8.281 7.070 15.351 4.041 Kedonganan 3.883 3.056 6.939 1.735 Jumlah 21.048 19.174 40.222 9.542

Untuk distribusi penduduk menurut sasaran program dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.3 Distribusi Penduduk Menurut Sasaran Program di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta I Tahun 2018

Kelurahan Bumil Bayi Balita Resti Bulin/ Bulfas Anak Balita Kuta 937 851 2.476 187 894 1.627 Tuban 802 726 2.119 160 766 1.390 Kedonganan 362 330 963 73 346 633 Puskesmas 2.101 1.910 5.560 420 2.006 3.650

(12)

6 1.4.4 Sumber Daya Kesehatan

1.4.4.1 Ketenagaan

Tabel 1.4. Daftar Ketenagaan UPT. Puskesmas Kuta 1 No. Kualifikasi

pendidikan

Jumlah Yang Ada Keterangan

L P Total

1. Dokter umum 4 4 8 1 Sebagai Ka. Pusk 1 Dokter tugas belajar 2. Dokter gigi - 5 5 3. Keperawatan 1 19 20 SPK 2 orang, D3 2 orang keperawatan, 1 orang D4 dan10 orang S1 keperawatan 4. Kebidanan - 23 23 5. SPRG - 1 1 6. Kefarmasian 1 1 2 7. Kesehatan lingk/ Sanitarian 2 2 SPK 1 orang, Kesling 1 orang 8. Kesehatan Masyarakat 2 2 9. Gizi 1 1 10. Analisis kesehatan 1 2 3 11. Radiologi 1 1 12. Umum SD 1 1 SMP 1 1 SMA / SLTA 2 1 3 D3 Umum 1 1 S1 / Sarjana Ekonomi 1 1 S2 / Magister Umum Pekarya Kesehatan 1 1 SPM Jumlah 13 62 75

(13)

7 - Tenaga kesehatan keliling 4 12 16 - Jumantik 11 17 28 Total Semua 28 91 119 1.4.4.2 Sarana Prasarana

Sarana pelayanan kesehatan UPT Puskesmas Kuta 1 terdiri dari :

a. Puskesmas induk terdiri dari 2 (dua) gedung , gedung 1 untuk pelayanan rawat jalan dan administrasi berlokasi di Jalan Raya Kuta No. 117, sedangkan gedung 2 untuk pelayanan UGD 24 jam dan rawat inap persalinan, yang berlokasi di Gang Mawar, Abianbase.

b. 2 (dua) Puskesmas pembantu, yaitu - Puskesmas pembantu Tuban - Puskesmas pembantu Kedonganan c. 3 (tiga) Poskesdes, meliputi :

- Poskesdes Kuta - Poskesdes Tuban - Poskesdes Kedonganan d. 7 Klinik swasta

e. 32 posyandu, terdiri dari: - 17 posyandu Kuta - 9 posyandu Tuban - 6 posyandu Kedonganan f. 4 rumah sakit

g. Sarana Komunikasi dan Transportasi UPT Puskesmas Kuta I meliputi: - Mobil Ambulans : 4 buah

- Sepeda Motor : 6 buah - Telepon : 4 buah

(14)

8 - H T ( Handy Talky) : 1 buah 1.4.5 Data Sekunder

Data sekunder kejadian karies gigi pada anak usia sekolah UPT Puskesmas Kuta I tahun 2018 dicantumkan pada lampiran.

1.5 Permasalahan-Permasalahan Yang Ditemukan

1. Karies pada anak usia Sekolah Dasar 2. Karies pada anak usia SMP

3. Kalkulus pada lansia

1.6 Penetapan Prioritas Masalah

Penetapan prioritas masalah ditetapkan menggunakan metode USG (Urgency, seriousness, growth) (Pramukti, 2012)

Tabel 1.5 Penetapan prioritas Masalah

Kriteria masalah U (Urgency) S (seriousness) G (Growth) Total

karies anak usia sekolah dasar

4 4 5 13

Karies pada anak usia SMP

3 3 3 9

Kalkulus pada lansia 2 2 3 7

Keterangan: Berdasarkan skala 1 : sangat kecil 2 : kecil 3 : sedang

(15)

9 4 : besar

5 : sangat besar

Berdasarkan hasil analisis penetapan prioritas masalah menggunakan metode USG, didapatkan bahwa karies pada anak usia sekolah dasar sebagai prioritas masalah di wilayah kerja UPT. Puskesmas Kuta I.

(16)

10

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Karies

2.1.1 Definisi karies

Karies berasal dari bahasa Latin yaitu caries yang memiliki arti membusuk (Shafer dkk., 2012). Karies diawali dengan terjadinya kerusakan jaringan di permukaan gigi yaitu dari bagian enamel ke dentin yang kemudian meluas kearah pulpa (Tarigan, 2013). Lesi karies dapat berkembang apabila terdapat lapisan biofilm (plak gigi) yang dibiarkan dalam waktu yang lama di permukaan gigi (Kidd, 2005).

2.1.2 Patofisiologi karies

Terjadinya karies bergantung pada proses dinamis demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi silih berganti. Proses demineralisasi yang terus berulang dan tidak diimbangi oleh proses remineralisasi akan menyebabkan larut dan hancurnya jaringan keras gigi (Heymann dkk., 2013). Proses terjadinya karies didalam rongga mulut dimulai dari proses pembentukan plak terlebih dahulu.

Proses pembentukan plak terdiri dari tiga fase. Fase tersebut diawali dengan pembentukan pelikel pada permukaan gigi, kemudian tahap perlekatan dan diakhiri dengan proses pematangan plak (Newman dkk., 2015). Pelikel adalah lapisan tipis protein saliva yang translusen, halus, dan tidak berwarna yang melekat di permukaan gigi yang sudah dibersihkan (Manson dan Eley, 2013). Kemudian dalam beberapa hari, terjadi tahap perlekatan. Perlekatan terjadi antara mikroorganisme kokus fakultatif gram positif yang membentuk lapisan yang lebih tipis dan berkolonisasi dengan pelikel. Mikroorganisme-mikroorganisme tersebut disebut sebagai kolonisasi primer yang menyediakan tempat baru untuk proses perlekatan mikroorganisme lain di rongga mulut. Tahap selanjutnya yaitu tahap pematangan plak. Pada tahap ini terjadi proses

(17)

11

mikrokoloni dan pada akhirnya terbentuk plak yang matang (Newman dkk., 2015). Bakteri kariogenik yang terdapat dalam plak akan memproduksi asam laktat dan asam asetat yang merupakan hasil fermentasi dari karbohidrat. Produksi asam ini akan menyebabkan pH pada daerah yang dilekati plak akan menurun di bawah 5. Menurunnya pH yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan proses demineralisasi. Asam ini masuk ke dalam enamel, kemudian melarutkan

hydroxyapatite crystal surface dan menurunkan jumlah ion kalsium dan fosfat.

Penurunan jumlah ion kalsium dan fosfat pada enamel ini mengawali terbentuknya

white spot (Kidd, 2005; Cameron, 2008; Shafer dkk., 2012).

Proses awal karies ditandai dengan munculnya white spot berwarna chalky

white yang menunjukkan adanya proses demineralisasi. Gejala umum yang sering

terjadi saat proses awal terjadinya karies adalah sensitivitas gigi yang meningkat, seperti pada rangsangan panas, dingin dan makanan manis. Selain white spot, lesi karies juga dapat berupa diskolorisasi gigi menjadi coklat atau hitam dan terbentuknya kavitas. (Langlais dkk., 2009).

2.1.3 Etiologi karies

Gambar 1. Etiologi karies (Shafer dkk., 2012)

Terjadinya karies disebabkan oleh serangkaian proses dan faktor yang saling mempengaruhi selama beberapa kurun waktu. Terdapat empat faktor utama penyebab

(18)

12

karies, keempat faktor tersebut adalah host, mikroorganisme, substrat dan waktu (Shafer dkk., 2012). Sebagai proses multifaktorial, keseimbangan dari faktor utama didalam rongga mulut dipengaruhi oleh faktor risiko luar. Faktor risiko luar dijabarkan menjadi usia, status sosial dan ekonomi, tingkat pendidikan, pengetahuan serta perilaku (Cappelli dan Mobley, 2008)

2.1.3.1 Faktor utama

a. Host

Enamel merupakan jaringan pada gigi yang terdiri dari 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat, flour), 1% air dan 2% bahan organik. Kandungan mineral mempengaruhi kepadatan kristal enamel dari gigi tersebut. Selain faktor enamel, keadaan morfologi gigi pun memiliki pengaruh terhadap terjadinya karies. Hal ini dikarenakan adanya bagian dari permukaan gigi yaitu pit dan fissure yang dalam sehingga dapat menjebak makanan dan menyebabkan mikroorganisme dan debris berkembang dengan cepat. Gigi yang berada diluar lengkung rahang dan mengalami rotasi cenderung membuat gigi lebih sulit dibersihkan, hal ini pun dapat menyebabkan terjadinya akumulasi debris sehingga risiko terjadinya karies lebih tinggi (Shafer dkk., 2012).

Saliva memiliki pengaruh dalam proses terjadinya karies yaitu dengan mengurangi akumulasi plak serta meningkatkan laju pembersihan karbohidrat di rongga mulut. Saat bakteri plak penyebab karies sedang melakukan proses fermentasi karbohidrat, sistem buffer asam karbonat- bikarbonat, kandungan amonia dan urea dalam saliva dapat menetralkan penurunan pH sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya demineralisasi (Bechal, 2012). Selain itu, diperlukan volume saliva dalam jumlah normal untuk melakukan self-cleansing dalam mengangkat dan mengeluarkan debris-debris sisa makanan dari rongga mulut secara efektif (Hollins, 2013).

b. Mikroorganisme

(19)

13

terjadinya demineralisasi adalah bakteri Streptococcus mutans. Streptococcus mutans adalah bakteri Gram positif dengan bentuk rantai kokus pendek hingga sedang (Shafer dkk., 2012). Streptococcus mutans dapat memetabolisme berbagai jenis karbohidrat dan mensintesisnya menjadi dekstran, yaitu polisakarida yang lengket sebagai faktor penting proses terjadinya plak dalam memproduksi asam (Tortora dkk., 2013). Kondisi asam tersebut kemudian menyebabkan mikroorganisme Lactobacillus sp.berkembang pada rongga mulut dan meneruskan peran dalam proses pembentukan kavitas pada gigi (Cappelli dan Mobley, 2008). Selain mikroorganisme yang disebutkan diatas, terdapat beberapa mikroorganisme lainnya tergantung dari tipe karies yang terjadi yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1. Mikroorganisme penyebab karies (Masthan, 2011)

Tipe Karies Bak teri penyebab karies

Pit dan fissure S. mutans, S. sanguis, dan Lactobacillus sp. Smooth surface S. mutans dan S. salivarius.

Permukaan akar A. Viscosus, A. Naeslundii, S. mutans, dan S. sanguis.

Karies dentin Lactobacilli sp dan A. Naeslundii

c. Substrat

Pengaruh substrat terhadap pembentukan plak sangat besar karena substrat membantu kolonisasi bakteri di permukaan enamel serta menyediakan bahan untuk proses metabolisme. Bakteri mampu memanfaatkan semua jenis karbohidrat untuk melakukan metabolisme. Berdasarkan kandungannya, karbohidrat dibagi menjadi 3 jenis yaitu polisakarida, disakarida dan monosakarida. Sukrosa merupakan jenis disakarida dan paling sering terlibat dalam proses terjadinya karies karena sukrosa merupakan jenis gula yang paling sering dikonsumsi dan disintesis lebih cepat

(20)

14

dibandingkan glukosa, fruktosa, dan laktosa (Tarigan, 2013; Heymann dkk., 2013; Kidd, 2005).

d. Waktu

Proses demineralisasi dan remineralisasi di dalam rongga mulut terjadi secara silih berganti, oleh karena itu seseorang tidak akan bebas dari risiko karies. Karies dapat terjadi apabila keseimbangan antara proses demineralisasi dan remineralisasi terganggu. Hal ini dapat terjadi dalam hitungan bulan hingga tahun tergantung frekuensi serta intensitas struktur gigi yang terpapar oleh asam dan mengakibatkan kristal enamel gigi hancur. Selain frekuensi dan intensitas struktur gigi yang terpapar asam, komposisi dan jumlah plak, konsumsi gula, paparan fluoride, kualitas dan kuantitas enamel dan respon imun juga memiliki peran dalam proses terjadinya karies yang berhubungan dengan waktu (Cameron, 2008).

2.1.3.2 Faktor risiko luar

a. Usia

Presentase kejadian karies meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini dikarenakan gigi lebih lama terpapar oleh faktor risiko penyebab karies. Pada periode gigi bercampur, gigi molar pertama permanen memiliki risiko tinggi terkena karies (Tarigan, 2013). Gigi molar pertama permanen memiliki prevalensi karies tertinggi karena memiliki pit dan fissure yang dalam, lebih awal erupsi pada periode mix

dentition dan sulit dilakukan pembersihan karena posisinya yang terletak paling

belakang pada gigi sulung (Jaradat dkk., 2013). Pada masa pubertas, diantara usia 14-20 tahun dapat terjadi perubahan hormonal yang mengakibatkan pembengkakan gusi sehingga kebersihan mulut susah dijaga. Sedangkan pada usia 40-50 tahun, masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi adalah resesi gingiva yang berpengaruh terhadap kesulitan pembersihan debris pada daerah tersebut (Tarigan, 2013).

(21)

15 b. Status sosial dan ekonomi

Status sosial ekonomi keluarga memiliki pengaruh terhadap kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk kebutuhan terkait dengan upaya perawatan kesehatan gigi (Susi dkk., 2012). Hasil penelitian Maulida (2014) yang berjudul “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak di TK Aisyiyah Bustanul Aftal Desa Lebaksiu Lor” menunjukan data responden dengan tingkat sosial ekonomi keluarga rendah dan cukup semuanya menderita karies, sedangkan responden dengan tingkat sosial ekonomi keluarga yang tinggi memiliki angka kejadian karies yang rendah (Maulida, 2014).

c. Tingkat pendidikan

Pendidikan terkait dengan proses pematangan intelektual, emosional dan kemanusiaan yang dilakukan secara terus menerus. Pendidikan diusahakan secara sadar melalui proses bimbingan, pengajaran dan pelatihan (Setyaningsih, 2016). Seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi memiliki risiko karies yang lebih rendah dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Hal ini karena tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi pengetahuannya dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut (Saldunaite, 2014).

d. Pengetahuan mengenai perawatan gigi

Pengetahuan mengenai perawatan gigi dan mulut merupakan pengertian seseorang mengenai bagaimana cara menjaga atau merawat kebersihan gigi dan mulut. Pengetahuan kebersihan gigi dan mulut dapat diperoleh melalui pemberian Dental

Health Education (DHE) seperti penyuluhan atau promosi kesehatan mengenai cara

menjaga kebersihan gigi dan mulut dan jenis makanan yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut (Notoatmojo, 2011; Ali, 2016). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramadhan (2016), terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai perawatan gigi terhadap kejadian karies (Ramadhan, 2016).

(22)

16 e. Perilaku mengenai perawatan gigi

Pembersihan gigi dengan cara mekanis yaitu menggunakan sikat gigi dapat membantu pembersihan plak di permukaan gigi, sehingga mencegah proses terjadinya karies (Heymann dkk., 2013). Beberapa penelitian menunjukan bahwa kebiasaan menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi dan penggunaan pasta gigi yang mengandung

fluoride memiliki pengaruh pada kejadian karies gigi (Lakhanpal, 2014). Menyikat

gigi dilakukan minimal 2 kali sehari dengan pasta gigi mengandung fluoride pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk pencegahan karies.

Daerah interproksimal sulit dijangkau oleh sikat gigi saat prosedur menyikat gigi, padahal pembersihan plak pada daerah tersebut penting untuk mencegah karies gigi, mencegah penyakit periodontal serta menjaga kesehatan gingiva. Dental floss atau benang gigi merupakan solusi yang digunakan untuk melakukan pembersihan pada daerah tersebut. Penggunaan dental floss sebaiknya dilakukan sebelum menyikat gigi, selain karena dapat membersihkan daerah interdental yang tidak bias dicapai dengan sikat gigi, penggunaan dental floss dapat membantu fluoride yang terkandung dalam pasta gigi mencapai daerah interproksimal tersebut (Magfirah, 2014).

2.1.4 Indeks karies

2.1.4.1 Indeks karies gigi permanen

Menurut Fitriana (2013) pengukuran status serta keparahan karies pada gigi permanen menggunakan indeks DMF-T (Decayed, Missing, Filled Tooth)

1. Decayed (D) : semua gigi yang mengalami karies, karies sekunder pada

tumpatan serta gigi dengan tumpatan sementara.

2. Missing (M) : gigi yang hilang atau dicabut karena karies, gigi yang

terdapat karies tidak dapat ditumpat dan diindikasikan untuk dicabut. 3. Filled (F) : gigi dengan tumpatan permanen.

(23)

17 a. DMF-T pada individu

Jumlah masing-masing komponen secara terpisah :

b. DMF-T pada populasi

Fitriana (2013) mengklasifikasikan tingkat keparahan karies gigi pada usia 12 tahun atau lebih sebagai berikut :

1. Nilai DMF-T sebesar 0,0 – 1,1 untuk tingkat keparahan sangat rendah

2. Nilai DMF-T sebesar 1,2 – 2,6 untuk tingkat keparahan rendah 3. Nilai DMF-T sebesar 2,7 – 4,4 untuk tingkat keparahan sedang 4. Nilai DMF-T sebesar 4,5 – 6,6 untuk tingkat keparahan tinggi 5. Nilai DMF-T sebesar > 6,6 untuk tingkat keparahan sangat tinggi

Perhitungan DMF-T berdasarkan pada 28 gigi permanen, ada pun gigi yang tidak dihitung adalah sebagai berikut :

1. Gigi molar ketiga.

2. Gigi yang belum erupsi. Gigi dikatakan erupsi apabila terdapat bagian gigi yang menembus gusi baik itu erupsi awal (clinical

emergence), erupsi sebagian (partial eruption) atau erupsi penuh

(full eruption).

3. Gigi yang tidak ada karena kelainan kongenital dan gigi berlebih (supernumerary teeth).

4. Gigi yang hilang bukan karena karies, misalnya karena impaksi DMF-T = Decayed (D) + Missing (M) + Filled (F)

(24)

18

def-t = d (decay) + e (indicated for extraction) + f (filling). atau kebutuhan perawatan ortodontik.

5. Gigi yang direstorasi bukan karena karies, melainkan gigi yang mengalami trauma yang dibuatkan bridge atau restorasi lain untuk kepentingan estetik.

6. Gigi susu yang belum tanggal.

2.1.4.2 Indeks karies gigi sulung

Indeks def-t (decayed, extracted/indicated for extraction, filling tooth) berfungsi untuk menilai status serta keparahan karies pada gigi sulung.

1. Angka decayed (d) : termasuk seluruh gigi sulung yang mengalami karies, karies sekunder pada tumpatan, gigi dengan tumpatan sementara 2. Angka extracted/indicated for extraction (e) : gigi sulung yang hilang atau dicabut disebabkan karena karies atau sisa akar gigi dengan karies yang tidak dapat ditumpat dan diindikasikan pencabutan.

3. Angka filling (f) : Gigi sulung dengan tumpatan permanen.

Beberapa gigi tidak terhitung dalam indeks def-t yaitu : gigi yang hilang termasuk unerupted teeth, congenitally missing teeth, supernumerary teeth dan gigi yang direstorasi untuk alasan lain selain karies gigi.

a. def-t pada individu :

Jumlah masing-masing komponen secara terpisah :

b. def-t pada populasi: Rata-rata def-t :

(25)

19

Fitriana (2013) mengklasifikasikan tingkat keparahan karies gigi sebagai berikut :

1. Nilai def-t sebesar 0,0 – 1,1 untuk tingkat keparahan sangat rendah 2. Nilai def-t sebesar 1,2 – 2,6 untuk tingkat keparahan rendah

3. Nilai def-t sebesar 2,7 – 4,4 untuk tingkat keparahan sedang 4. Nilai def-t sebesar 4,5 – 6,6 untuk tingkat keparahan tinggi 5. Nilai def-t sebesar > 6,6 untuk tingkat keparahan sangat tinggi

2.1.4.3 Indeks karies mix dentition

Pengukuran yang digunakan untuk menilai status dan keparahan karies pada anak-anak dengan periode gigi geligi mix dentition adalah indeks DMF-T dan def-t dengan perhitungannya dilakukan secara terpisah dan tidak dijumlahkan (Marya, 2011). Untuk dapat menentukan sebab kehilangan gigi karena karies atau tanggal fisiologis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Usia pasien yang mendekati waktu gigi tanggal fisiologis.

2. Bentuk ridge. Apabila bentuk ridge cekung, menandakan alasan gigi tersebut hilang adalah karena karies, sedangkan apabila bentuk ridge datar menandakan alasan gigi tesebut hilang karena tanggal fisiologis dan terkadang gigi permanen penggantinya telah menembus gusi. 3. Indeks DMF-T / def-t yang tinggi karena adanya kehilangan gigi akibat

karies terutama gigi dengan posisi berdekatan dan kontra lateral. 4. Kebersihan rongga mulut pasien, karena kebersihan rongga mulut yang

buruk mempengaruhi peningkatan kehilangan gigi akibat karies. Untuk menentukan kehilangan gigi karena karies atau persyaratan perawatan ortodontik yaitu dengan cara memperhatikan:

1. Berdasarkan jenis gigi, pada umumnya dalam kebutuhan perawatan ortodontik gigi yang diekstraksi adalah gigi 4 atau 5, namun untuk kehilangan gigi karena karies dapat melibatkan semua gigi.

(26)

20

berhubungan dengan perawatan ortodontik, namun berbeda dalam kasus kehilangan gigi karena karies.

3. Indeks DMF-T / def-t yang tinggi biasanya karena kehilangan gigi akibat karies terutama gigi dengan posisi berdekatan dan kontra lateral. 4. Kebersihan rongga mulut pasien, karena kebersihan rongga mulut yang

buruk mempengaruhi peningkatan kehilangan gigi akibat karies. 5. Adanya crowding atau alat ortodontik pada perawatan ortodontik.

2.2 Pengetahuan orang tua mengenai perawatan gigi anak 2.2.1 Gambaran pengetahuan secara umum

Pengetahuan merupakan hasil ‘tahu’ yang dapat terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek-objek tertentu. Pengetahuan merupakan faktor yang memiliki pengaruh penting dalam pembentukan perilaku individu. Apabila penerimaan perilaku baru didasari dengan pengetahuan dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bertahan dalam waktu yang lama (Notoatmodjo, 2011). Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah dan memiliki arti dapat mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan dan menginterpretasi tentang objek yang diketahui dengan benar.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

4. Analisis (analysis)

Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek ke dalam komponen-komponen yang berkaitan satu sama lain di suatu struktur organisasi.

(27)

21 5. Sintesis (synthesis)

Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jastifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian tersebut dapat didasari suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.

2.2.2 Pengetahuan Orang tua Mengenai Perawatan Gigi Anak

Pengetahuan orang tua yang diperoleh baik formal maupun informal memberikan pengaruh dalam pengambilan suatu keputusan atau tindakan. Program pendidikan kesehatan dapat memotivasi, mengubah pandangan serta perilaku orang tua mengenai nilai-nilai kesehatan yang akan berpengaruh pada keluarga. Beberapa pengetahuan mengenai kesehatan gigi yang perlu diketahui oleh seorang orang tua berkaitan dengan perawatan gigi anak meliputi pengetahuan tentang pemilihan sikat gigi, pemilihan dan pemakaian pasta gigi, pengetahuan mengenai makanan kariogenik dan pengetahuan mengenai peran dokter gigi dalam perawatan gigi anak.

a. Pemilihan sikat gigi

Pemilihan sikat gigi yang dilakukan oleh orang tua untuk anak sebaiknya dilakukan secara seksama. Orang tua dianjurkan memilih sikat gigi yang ukurannya kecil dengan tangkai yang mudah digenggam anak, bulu sikat bertekstur halus dan pada bagian kepala sikat menyempit agar mudah menjangkau bagian dalam rongga mulut anak. American Dental Association menganjurkan diameter kepala sikat gigi balita adalah 15 mm (ADA, 2016).

b. Pemilihan dan pemakaian pasta gigi

Pemilihan pasta gigi bagi anak merupakan hal yang penting. Orang tua dianjurkan untuk memilih pasta gigi yang mengandung fluoride karena peranannya

(28)

22

yang berguna untuk mencegah perkembangan awal lesi karies dan proses remineralisasi di dalam rongga mulut. Penggunaan pasta gigi yang mengandung

fluoride harus dimulai semenjak gigi pertama anak erupsi. Pasta gigi yang

mengandung 1000 atau 1450 ppm fluoride dianjurkan untuk digunakan oleh anak-anak (Deery dan Toumba, 2012). Orang tua harus tetap melakukan pengawasan terhadap jumlah pasta gigi yang digunakan anak. Anjuran jumlah pasta yang diletakkan pada sikat gigi, kira-kira sebesar kacang polong kecil (Deery dan Toumba, 2012).

Tabel 2.2 Rekomendasi penggunaan pasta gigi pada anak (Deery dan Toumba, 2012).

Umur

Konsentrasi fluoride (ppm)

ganggunaan dalam 1 hari

perkiraan jumlah yang digunakan

6 bulan-<2 tahun 500 2 kali Sebesar

kacang polong

2-<6 tahun 1000+ 2 kali Sebesar

kacang polong

(29)

23

Gambar 2. Penggunaan pasta gigi sebesar

kacang polong (Duggal dkk., 2013).

c. Pengetahuan mengenai makanan kariogenik

Makanan manis yang mengandung gula tinggi, memiliki kecenderungan melekat pada permukaan gigi dan dapat menyebabkan karies disebut dengan makanan kariogenik (Kartikasari dan Nuryanto, 2014). Perilaku anak dalam mengonsumsi makanan kariogenik sering kali berlebihan karena makanan tersebut memiliki bermacam-macam rasa dan berbentuk menarik. Beberapa contoh makanan yang tergolong ke dalam makanan kariogenik adalah permen, coklat, donat, kue isi selai, kue lapis, dodol, gulali, arumanis, makanan ringan (snack), dan biskuit manis (Kartikasari dan Nuryanto, 2014). Sedangkan contoh makanan non kariogenik adalah nasi, jagung, kentang, ubi jalar, singkong, sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan (Worotitjan dkk., 2013). Frekuensi konsumsi makanan kariogenik memiliki pengaruh terhadap risiko terjadinya karies gigi, karena peningkatan frekuensi tersebut dapat menjadi faktor pemicu kehilangan mineral gigi akibat paparan asam yang dihasilkan (Talibo dkk., 2016).

Pencegahan karies dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi makanan kariostatik seperti lemak dan protein dibanding dengan konsumsi makanan kariogenik. Lemak dan protein berfungsi untuk meningkatkan pH dan volume saliva. Selain itu, pengganti gula adalah faktor lain dalam pencegahan karies selain peningkatan

(30)

24

konsumsi makanan kariostatik. Pengganti gula dibedakan menjadi xylitol dan pengganti gula alami. Xylitol merupakan bentuk fermentasi dari bahan xylose, sedangkan pengganti gula alami biasanya secara alami terkandung pada buah dan sayur (Cappelli dan Mobley, 2008; Ramayanti dan Purnakarya, 2013).

d. Peran dokter gigi dalam perawatan gigi anak

Kunjungan pertama anak ke dokter gigi diharapkan membetuk hubungan yang menyenangkan sehingga anak mudah mengenal lingkungan dokter gigi dan tidak memiliki rasa cemas maupun takut ke dokter gigi. The American Academy of

Pediatric Dentistry (AAPD) dan American Dental Association(ADA)

merekomendasikan seorang anak harus mulai melakukan kunjungan ke dokter gigi setelah gigi sulung pertamanya erupsi dan tidak boleh melebihi usia 12 bulan. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi dan mengontrol berbagai penyakit gigi dan mulut serta sarana konsultasi dan edukasi bagi orang tua untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut anak dengan baik dan benar (Anwar, 2014; Horax dan Ayub, 2016).

Fissure sealant merupakan salah satu tindakan preventif untuk mencegah

perkembangan lesi karies pada anak dan orang dewasa yang dapat dilakukan di dokter gigi. Fissure sealant diaplikasikan pada pit dan fissure gigi yang berguna untuk menutup pit dan fissure yang dalam sehingga mempermudah pembersihan gigi dari sisa makanan yang menempel dan menurunkan akumulasi plak. Beberapa studi mengatakan bahwa sealant berbahan resin lebih dipilih dibandingkan dengan sealant berbahan dasar glass ionomer. Bahan sealant berbahan glass ionomer dapat digunakan hingga gigi erupsi sempurna kemudian diganti dengan menggunakan sealant berbahan resin. Walau menunjukan tingkat retensi yang rendah, sealant berbahan dasar glass

ionomer terbukti menurunkan angka kejadian karies karena dapat melepaskan fluoride

yang meningkatkan retensi dinding fissure terhadap proses demineralisasi (Cameron, 2008; Duggal dkk., 2013; Tarigan, 2013). Pada anak, fissure sealant diindikasikan untuk gigi molar pertama yang mengalami karies, gigi anak dengan pit dan fissure yang dalam, anak dengan kebersihan rongga mulut yang tidak terjaga, anak dengan

(31)

25

riwayat medis atau penyakit tertentu dan anak berkebutuhan khusus (Duggal dkk., 2013; Tarigan, 2013).

Selain pengaplikasian fissure sealant, pengaplikasian fluoride pun merupakan salah satu tindakan preventif pencegahan terhadap karies. Fluoride telah digunakan secara luas untuk mencegah karies. Penggunaan fluoride yang dapat dianjurkan oleh dokter gigi adalah pasta gigi dan obat kumur mengandung fluoride, pemberian tablet fluoride dan fluoride varnish (Cameron, 2008).

2.3 Perilaku orang tua dalam merawat gigi anak 2.3.1 Gambaran perilaku secara umum

Perilaku dari pandangan ilmu biologi merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme. Perilaku terbentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor– faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua, yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern meliputi pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan sekitar (fisik dan nonfisik) seperti iklim, manusia, sosial ekonomi dan kebudayaan (Notoatmodjo, 2011).

2.3.2 Perilaku orang tua dalam merawat gigi anak

Orang tua adalah sosok utama dalam pemberi pendidikan dan memegang tanggung jawab penuh terhadap proses pertumbuhan anak. Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh peran lingkungan serta perilaku orang tua itu sendiri. Pada anak usia prasekolah, perawatan gigi dan mulut masih bergantung kepada perilaku orang tua khususnya orang tua sebagai figur terdekat seorang anak (Afiati dkk., 2017; Kumar dkk., 2013). Beberapa perilaku perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dapat diterapkan dan merupakan peran dari orang tua adalah :

a. Perilaku menyikat gigi

(32)

26

kesehatan gigi. Hal tersebut bertujuan agar gigi tetap bersih dari sisa makanan dan plak yang dapat menimbulkan karies gigi. Menyikat gigi dilakukan minimal 2 kali sehari dengan pasta gigi mengandung fluoride pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk pencegahan karies. Pada pagi hari, menyikat gigi dilakukan 2 kali, yaitu sebelum makan dan 30 menit sesudah makan. Menyikat gigi sebelum makan bertujuan untuk mengurangi potensi erosi mekanis pada permukaan gigi yang terdemineralisasi. Sedangkan pada malam hari ketika tidur, efek buffer akan berkurang karena penurunan aliran saliva sehingga perlu menyikat gigi sebelum tidur untuk menjaga kebersihan mulut (Duggal dkk., 2013; Tarigan, 2012).

Anak-anak baru dapat menyikat gigi secara efektif pada usia 6-7 tahun, oleh karena itu anak dibawah usia tersebut masih memerlukan bantuan, pengawasan dan bimbingan orang tua dalam proses penyikatan giginya. Orang tua dapat membantu proses anak dalam menyikat gigi dengan cara berdiri dibelakang anak dengan kepala anak sedikit dimiringkan ke belakang atau berlutut dibelakang anak untuk memudahkan aksesibilitas dan visibilitas (Hidayat dan Tandiari, 2016; Deery dan Toumba, 2012; Duggal dkk., 2013).

Metode menyikat gigi dibedakan menjadi 2 berdasarkan gerakan menyikat yaitu, metode scrub dan bass. Metode scrub merupakan gerakan menyikat gigi dengan arah horizontal dan digunakan untuk membersihkan permukaan oklusal gigi. Metode

scrub ini direkomendasikan untuk anak- anak. Sedangkan metode bass dilakukan

dengan gerakan memutar pada gagang sikat yang efektif digunakan untuk menghilangkan plak di area berdekatan dan di bawah batas tepi gingiva karena bulu sikat diarahkan langsung pada daerah tersebut (Kidd, 2005).

Pada fase awal mix dentition, daerah interproksimal dari gigi molar permanen memiliki risiko yang tinggi terkena karies, oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan dengan melakukan flossing pada daerah kontak diantara gigi tersebut oleh orang tua. Apabila anak sudah beranjak dewasa nantinya, orang tua dapat mengajarkan bagaimana melakukan flossing untuk diri sendiri (Cameron, 2008).

(33)

27

Gambar 3. Proses penyikatan gigi dengan bantuan orang tua

(Deery dan Toumba, 2012) b. Pengawasan konsumsi makanan kariogenik

Peran orang tua sangat penting untuk menghilangkan dan membentuk kebiasaan baik mengenai diet anak serta melakukan pengawasan mengenai konsumsi makanan kariogenik . Membiasakan anak tidak tidur menggunakan susu botol dan mengurangi asupan minuman dan makanan ringan tinggi kalori yang dapat menyebabkan anak merasa kenyang sebelum waktu makan tiba merupakan hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan pembentukan kebiasaan baik mengenai diet anak. Selain itu, pengawasan mengenai konsumsi makanan kariogenik oleh orang tua terhadap anak sangat diperlukan karena pada anak yang mengkonsumsi makanan kariogenik ≥ 3 kali sehari di antara jam makan akan meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Sebaiknya, konsumsi makanan yang bersifat kariogenik dilakukan hanya pada jam makan yaitu pada saat sarapan, makan siang dan makan malam (Kartikasari dan Nuryanto, 2014; Deery dan Toumba, 2012).

c. Frekuensi kunjungan ke dokter gigi

Kunjungan ke dokter gigi dapat segera dilakukan setelah gigi anak mulai erupsi, yaitu sekitar 6-12 bulan. Kunjungan rutin ke dokter gigi penting dilakukan setiap setiap 6 bulan sekali untuk memonitor pertumbuhan dan perkembangan gigi anak serta melakukan pemeriksaan berkala. Selain itu, diskusi mengenai cara pemeliharaan kesehatan gigi anak secara baik dan benar juga dapat dilakukan saat

(34)

28

kunjungan ke dokter gigi. Apabila diagnosis penyakit gigi dan mulut anak seperti karies dapat ditegakkan sedini mungkin, dokter gigi akan dapat melihat masalah- masalah potensial yang ada serta melakukan penanganan yang cepat sebelum kerusakan meluas (Hidayat dan Tandiari, 2016 ). Karies dapat menyebabkan gigi goyang dan tanggal prematur atau dicabut sebelum waktunya. Hal tersebut dapat membuat daya kunyah anak terganggu yang berdampak pada pertumbuhannya.

(35)

29

BAB 3

ANALISIS DATA PRIMER

Data primer diperoleh berdasarkan hasil pendataan (screening) saat kegiatan BIAS yang dilakukan program Layanan KIA UPT. Puskesmas Kuta 1. BIAS yang dilakukan pada bulan September dilakukan di beberapa Sekolah Dasar yaitu SD 3 Tuban, SD 4 Tuban, SD 5 Tuban, SD Al Azhar, JB School, SD 5 Kuta, dengan target siswi kelas I dan VI. Screening dilakukan di beberapa SD dengan target siswa-siswi kelas I selama kegiatan BIAS berlangsung.

Tabel 3.1 Hasil screening di beberapa Sekolah Dasar dalam wilayah UPT Puskesmas Kuta I

Keterangan :

d : Jumlah gigi karies (Decay)

e : Jumlah gigi yang terindikasi untuk diekstraksi (Extraction) f : Jumlah restorasi/tumpatan pada gigi (Filling)

def-t : Metode yang digunakan untuk mengetahui

Jumlah Subjek d E f Total Indeks def-t Mean Indeks def-t Kategori SD 3 Tuban 25 66 14 7 87 3.48 Sedang SD 4 Tuban 71 254 61 4 319 4.49 Tinggi SD 5 Tuban 29 94 36 0 130 4.48 Tinggi SD Al Azhar 82 137 95 0 232 2.83 Sedang JB School 78 144 116 4 264 3.38 Sedang SD 5 Kuta 48 144 26 3 173 3.60 Sedang TOTAL 333 839 348 18 1205 3.62 Sedang

(36)

30

prevalensi karies gigi pada gigi desidui Rumus rata-rata def-t :

Fitriana (2013) mengklasifikasikan tingkat keparahan karies gigi sebagai berikut:

• Nilai def-t sebesar 0,0 – 1,1 untuk tingkat keparahan sangat rendah • Nilai def-t sebesar 1,2 – 2,6 untuk tingkat keparahan rendah

• Nilai def-t sebesar 2,7 – 4,4 untuk tingkat keparahan sedang • Nilai def-t sebesar 4,5 – 6,6 untuk tingkat keparahan tinggi • Nilai def-t sebesar > 6,6 untuk tingkat keparahan sangat tinggi

(37)

31 Karies pada siswa siswi tingkat SD di wilayah Puskesmas Kuta I BAB 4

PENENTUAN AKAR PENYEBAB MASALAH

Gambar. Fishbone akar penyebab masalah

Sarana

Lingkungan

Kurangnya Media Penyuluhan

Manusia

Metode

Tingginya Konsumsi Makanan Kariogenik Kurangnya Kesadaran ke Dokter Gigi Kurangnya Tenaga Medis Kurangnya Pengetahuan Anak

Metode Penyuluhan Kurang Menarik

Materi Penyuluhan yang Sulit Dimengerti

Kurangnya Pengetahuan Orang

Tua Pengaruh Lingkungan terhadap pola jajan yang buruk

(38)

32

BAB 5

PENETAPAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH

Berdasarkan hasil wawancara dengan pemegang program UKGS UPT Puskesmas Kuta I, ditetapkan prioritas masalah dengan uraian sebagai berikut:

1. Konsumsi makanan kariogenik 2. Kurangnya pengetahuan anak 3. Kurangnya pengetahuan orang tua 4. Kesadaran ke dokter gigi

5. Kurangnya media penyuluhan

6. Metode penyuluhan yang kurang menarik 7. Materi penyuluhan yang kurang dimengerti

Penetapan prioritas masalah dengan menggunakan metode USG (Urgency, seriousness, growth) (Pramukti, 2012)

Tabel 5.1 Penetapan prioritas penyebab masalah dengan metode USG

No Prioritas Penyebab Masalah USG Total Urutan

U S G 1 Konsumsi makanan kariogenik 2 2 4 4 VII 2 Kurangnya pengetahuan anak 3 3 3 9 II 3 Kurangnya pengetahuan orang tua 4 4 5 13 I 4 Kurangnya kesadaran ke dokter gigi 3 2 3 5 VI 5 Kurangnya media penyuluhan 2 3 3 6 V

6 Metode penyuluhan yang kurang menarik

3 2 3 8 III

7 Materi penyuluhan yang kurang dimengerti

(39)

33 Keterangan scoring : 1 = Sangat kecil, 2= kecil, 3= sedang 4= besar 5= sangat besar

Berdasarkan hasil data pioritas masalah pada tabel di atas menunjukan bahwa kurangnya pengetahuan orang tua memiliki nilai scoring tertinggi, yang menunjukan bahwa kurangnya pengetahuan orang tua menjadi prioritas dari penyebab masalah. Pada anak terutama pada usia anak sekolah dasar kesehatan anak masih sangat ditentukan oleh prilaku serta kebiasaan yang di ajarkan orang tua kepada anaknya. Dimana kurangnya pengetahuan orang tua khususnya mengenai masalah kesehatan akan berdampak pada kebiasaan dan kondisi kesehatan pada anak.

(40)

34

BAB 6

PEMECAHAN PENYEBAB MASALAH DAN ALTERNATIFNYA

6.1 Alternatif Pemecahan Masalah

Alternatif pemecahan masalah yang ditemukan yaitu: 1. Pembuatan media promosi yang menarik 2. Penyuluhan kesehatan pada anak dan orang tua 3. Evaluasi program berkelanjutan

6.2 Prioritas Pemecahan Masalah

Penentuan prioritas masalah menggunakan metode CARL (Pramukti, 2012)

Tabel 6.1 Penentuan prioritas pemecahan masalah menggunakan metode CARL

No Daftar Pemecahan Masalah C A R L Total Nilai

(CxAxRxL)

Urutan

1 Pembuatan media promosi yang menarik

8 7 7 8 3136 III

2 Penyuluhan anak dan orang tua 9 8 8 8 4608 I

3 Evaluasi berkelanjutan 9 7 8 8 4032 II Ket : C : Capability A : Accessibility R : Readiness L : Leverage

(41)

35

masalah yaitu penyuluhan kesehatan yang dilakuakan kepada anak dan orang tua sebagai program jangka pendek. Selanjutnya dilakukan evaluasi berkelanjutan yang dilakukan sebagai program jangka Panjang diiringi dengan pembuatan media promosi yang menarik untuk mempermudah pemahaman dan menarik minat dari anak.

(42)

36

BAB 7

RENCANA KEGIATAN JANGKA PENDEK

Tabel 7.1 Rencana Kegiatan Jangka Pendek

No Rencana Kegiatan Tujuan Kegiatan Tempat/Loka si Kegiatan

Waktu Sasaran Target

Metode yang Digunakan

Indikator

Keberhasilan Metode Evaluasi

Penanggung Jawab Kegiatan Anggar an 1. Penyuluh an kesehatan gigi dan mulut pada siswa sekolah dasar dan beserta orang tua siswa Meningkat kan pengetahu an orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut SD 4 Tuban 2020 Siswa sekolah dasar dan orang tua di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I Orang Tua mampu memberikan edukasi dan contoh prilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang baik dan benar, sehingga anak- anak mampu menerapkan dikehudupan sehari-hari secara mandiri Penyuluhan kepada orang tua dan siswa sekolah

dasar dengan menggunakan

media visual,audiovisu al, dan alat peraga

Orang tua dana anak mampu memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut Membandingkan hasil pre-test dan pos-test pada

anak-anak sekolah dasar dan

orang tua drg.Koman g Triana Wulandari A. K Rp.1.0 00.000

(43)

37

BAB 8

RENCANA KEGIATAN JANGKA PANJANG

Tabel 8.1 Rencana Kegiatan Jangka Panjang

No. Rencana Kegiatan Tujuan Kegiatan Tempat/Lo kasi

Kegiatan Waktu Sasaran Target

Metode yang Digunakan Indikator Keberhasil an Metode Evaluasi Penangg ung Jawab Kegiatan Anggara n 1. Melakuk an evaluasi berkelanj utanpada siswa SD dan orang tua mengena i kesehata n gigi dan mulut Untuk mengevalu asi program penyuluhan jangka pendek yang dilakukan pada siswa SD dan orang tua Semua SD di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I 2020 Siswa sekolah dasar dan orang tua di wilayah kerja UPT Puskesm as Kuta I Siswa SD kelas I di wilayah kerja UPT Puskesm as Kuta I Melakukan evaluasi atau pemeriksaan mengenai kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD yang sudah mendapatka n penyuluhan program jangka pendek dan memberikan program lanjutan sesuai dengan hasil evaluasi yang didapat Orang tua dana anak mampu memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut Membandingk an hasil pre- test

dan pos- test pada anak- anak

sekolah dasar dan orang tua, dan melakukan screening pada siswa SD drg.Kom ang Triana Wulanda ri A. K Rp.2.000 .000

(44)

38

BAB 9 PENUTUP

9.1 Kesimpulan

1. Prioritas masalah yang ditemukan selama kegiatan IKGM-P di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta I adalah tingginya prevalensi karies pada anak usia Sekolah Dasar. Penetapan prioritas masalah didasarkan pada data sekunder penjaringan sokolah dasar di wilayah UPT Puskesmas Kuta I tahun 2019 dan data primer hasil screening saat kegiatan BIAS UPT. Puskesmas Kuta 1 di 6 Sekolah Dasar.

2. Data primer hasil screening yang dilakukan, didapatkan SD 3 Tuban indeks karies tertinggi pada SD 4 Tuban, dengan indeks def 4.49 (kategori tinggi), dan indeks karies terendah pada SD AL- AZHAR, dengan indeks def 2.83 (ketegori sedang).

3. Puskesmas Kuta I selama ini sudah melakukan upaya untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut terutama pada anak usia Sekolah Dasar berupa Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang dilakukan secara terpadu dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan penjaringan kesehatan gigi dan mulut dan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Akan tetapi, masih terdapat Tingginya angka kejadian karies pada anak usia Sekolah Dasar di wilayah kerja Puskesmas Kuta I. Hal ini disebabkan masih banyak faktor yang harus perhatikan, seperti konsumsi makanan kariogenik, kurangnya pengetahuan anak, kurangnya pengetahuan orang tua, kesadaran ke dokter gigi, kurangnya media penyuluhan, metode penyuluhan yang kurang menarik, materi penyuluhan yang kurang dimengerti. Penyebab masalah yang kami jadikan sebagai prioritas selama kegiatan IKGM-P adalah kurangnya pengetahuan orang tua dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak.

(45)

39

4. Alternatif yang dapat dijadikan sebagai pemecahan masalah diantaranya pembuatan media promosi yang menarik, penyuluhan kesehatan pada anak dan orang tua, dan evaluasi program berkelanjutan. Alternatif yang dijadikan prioritas pemecahan masalah yaitu penyuluhan kesehatan yang dilakuakan kepada anak dan orang tua sebagai program jangka pendek. Selanjutnya dilakukan evaluasi berkelanjutan yang dilakukan sebagai program jangka Panjang diiringi dengan pembuatan media promosi yang menarik untuk mempermudah pemahaman dan menarik minat dari anak.

9.2 Saran

Perlu dilakukan upaya promosi kesehatan dengan pendekatan yang ditujukan tidak hanya ke anak, tetapi juga ke orang tua untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut anak usia Sekolah Dasar.

(46)

40

DAFTAR PUSTAKA

Bechal JS, Kidd MAE., 2012, Dasar-dasar Karies: Penyakit dan Penanggulangan (terj.), Jakarta: EGC, 2012 hal. 56-73.

Cameron, A. C., 2008, Handbook of Pediatric Dentistry, 3rd ed., Elsevier, China, hal.39-41.

Cappelli, David P. and Mobley, Connie C.,2008, Preventive in Clinical Oral Health

Care, 1st ed., Elsevier, Amsterdam, hal. 48-50.

Heymann, H. O., Swift, E.J. Jr., Ritter, A. V., 2013, Sturdevant Art and Science of

Operative Dentistry, 6th ed., Elsevier Mosby, Canada, hal.41-86.

Hollins, C., 2013, NVQs for Dental Nurses, 2nd ed., A John Wiley & Sons, Ltd, United Kingdom, hal. 109-110.

Jaradat, T., Ghozlan, M., Showeiter, M., Otom, A., dan Kana’an, N., 2013, The

Awareness of Parents of the Time of Eruption of First Permanent Molar and Caries Prevalence in this Tooth in Children in the South of Jordan, Pakistan

Oral & Dental Journal., 33 (3) : 498 – 500.

Kidd, E., 2005, Essentials of Dental Caries The Disease and its Management, 3rd ed.,

Oxford University Press Inc., New York, hal. 60-82

Kemenkes RI. 2017. Profil Kesehatan Indonesia 2016. Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Langlais, R. P., Miller, C. S., dan Nield-Gehrig, J. S., 2009, Color Atlas of Common

Oral Diseases, 4th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, hal 63-67,

http://www.LWW.com (10/04/2017).

Laporan Tahunan Puskesmas Kuta I, Profil UPT Puskesmas Kuta I Tahun 2018

Maulida, S., Siska, G., Oktiawati, A., 2014, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan

Kejadian Karies Gigi di TK Aisyiyah Lebaksiu Lor, Jurnal Keperawatan Anak.,

(47)

41

Notoatmodjo, P. D. 2012. Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor 75 Tahun 2014, Tentang Pusat Kesahatan Masyarakat

Pramukti, D.,S., Istika, D., K., 2012, Organisasi dan Manejemen Kesehatan, Yogyakarta

Puskemas Kuta I, http://dikes.badungkab.go.id/puskesmaskutasatu/

Saldunaite, K., Bendoraitiene, EA., Slabsinskiene E., Vasiliauskiene, I., Andruskeviciene, V. and Zubiene, J., 2014, the Role of Parental Education and

Socioeconomic Status in Dental Caries Prevention Among Lithuanian Children, Sciencedirect, hal. 156-161.

Setyaningsih, R., Prakoso, I., 2016, Hubungan Tingkat Pendidikan, Sosial Ekonomi

dan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Perawatan Gigi Dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak Usia Balita di Desa Mancasan Srkoharjo ,

Kosala, 1(4) : 13-24.

Shafer, W. G., Hine, M. K, Levy, B. M, 2012, Shafer’s Textbook of Oral Pathology, 7th ed., Elsevier, India, hal. 419 - 469.

Tarigan, Rasinta., 2013, Karies Gigi, 2nd ed., EGC, Jakarta, hal. 15-22.

Tortora, G.J., Funke, B.R., dan Case, C.L., 2013, Microbiology: An Introduction, 11th

(48)

42

(49)

43

LAMPIRAN DATA PRIMER

SD 4 TUBAN No d e f Skor 1 4 1 2 2 2 3 6 1 4 2 1 5 3 1 6 1 7 4 2 8 1 2 9 7 10 3 11 5 1 12 6 1 13 1 1 14 1 15 10 16 3 1 17 10 18 4 2 19 2 20 4 21 2 22 2 23 8 24 1 25 3 26 5 27 2 28 14

(50)

44 29 4 4 30 1 31 4 2 32 1 33 10 34 4 1 35 1 1 36 4 1 37 2 38 1 1 39 5 1 40 3 3 41 42 3 2 43 7 44 1 45 9 46 4 2 47 1 48 1 49 3 50 4 51 3 52 5 2 53 8 54 2 1 55 3 56 5 57 2 58 2 1 59 3 1 60 4 1

(51)

45 61 3 2 62 12 63 2 64 4 1 65 2 1 66 7 67 3 1 68 7 1 69 3 70 1 71 3 SD 5 KUTA No d e f Skor 1 1 1 2 3 3 1 1 4 5 1 6 2 1 7 1 8 1 9 2 10 3 11 5 12 11 13 7 1 14 15 1 16 5 17 18

(52)

46 19 1 20 21 2 22 8 3 23 5 2 24 9 3 25 7 4 26 1 27 3 28 6 1 29 10 1 30 31 2 32 5 33 1 34 35 3 36 37 4 38 2 39 3 2 40 2 41 42 11 43 3 44 3 45 46 10 47 3 48 5 SD AL AZHAR

(53)

47 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1 3 2 4 4 4 1 1 2 1 3 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 2 4 2 1 3 2 3 1 1 2 2 4 1

(54)

48 5 3 3 1 2 4 1 2 1 1 1 1 5 6 4 1 1 1 2 1 2 1 6 2 1 1 3 1 3 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1 3 2 1

(55)

49 4 1 4 1 2 1 2 1 3 2 2 3 1 1 2 1 1 2 2 2 4 2 1 3 1 4 5 JB SCHOOL 1 3 2 0 4 2 0 1 3 0 2 4 1 3 3 3 1 2 1 1 1

(56)

50 2 2 5 3 3 2 1 4 3 3 3 3 2 1 1 1 1 3 2 3 3 1 1 1 3 2 3 2 3 1 5 4 2 3 2 4 2 1 2 1 2 1 1 2 1 3 2 5 3

(57)

51 2 2 2 2 2 3 3 4 2 3 2 1 3 1 1 2 3 2 2 2 1 2 2 1 1 3 4 2 4 3 3 2 2 2 1 1 3 2 3 4 1 2 2 3 2 2 2 1 3

(58)

52 2 3 SD 5 Tuban 1 4 2 6 1 2 4 3 2 5 1 2 2 2 1 2 5 1 4 1 2 2 1 3 6 1 1 7 2 2 4 1 2 3 3 2 4 1 6 3 4 2 6 4 3 1 2

(59)

53 1 1 SD 3 Tuban 1 4 1 1 4 2 2 6 5 1 1 1 1 5 1 4 2 2 3 1 3 1 4 3 1 1 1 3 1 3 1 6 5 4 3 PENJARINGAN SD 1 KEDONGANAN NO D M F DMF d e f def 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0

(60)

54 3 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 2 2 0 4 5 0 0 0 0 2 1 0 3 6 0 0 0 0 0 2 0 2 7 0 0 0 0 0 6 0 6 8 0 0 0 0 2 0 0 2 9 0 0 0 0 1 0 0 1 10 0 0 0 0 1 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 4 0 4 13 0 0 0 0 1 0 0 1 14 0 0 0 0 2 0 0 2 15 0 0 0 0 0 1 0 1 16 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 2 0 0 2 18 0 0 0 0 0 0 0 0 19 0 0 0 0 4 0 0 4 20 0 0 0 0 1 2 0 3 21 0 0 0 0 0 4 0 4 22 0 0 0 0 1 0 0 1 23 0 0 0 0 0 0 0 0 24 0 0 0 0 0 0 0 0 25 0 0 0 0 0 0 0 0 26 0 0 0 0 0 0 0 0 27 0 0 0 0 0 1 0 1 28 0 0 0 0 0 0 0 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 4 0 0 4 31 0 0 0 0 3 0 0 3 32 0 0 0 0 0 2 0 2 33 0 0 0 0 0 0 0 0 34 0 0 0 0 2 0 0 2 35 0 0 0 0 0 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 0 0 2 0 0 2 38 0 0 0 0 1 1 0 1 39 0 0 0 0 0 0 0 0 40 0 0 0 0 0 0 0 0 41 0 0 0 0 0 0 0 0 42 0 0 0 0 0 0 0 0 43 0 0 0 0 1 2 0 3 44 0 0 0 0 2 0 0 2 45 0 0 0 0 1 0 0 1 46 0 0 0 0 0 6 0 6 47 0 0 0 0 0 2 0 2

(61)

55 48 0 0 0 0 0 2 0 2 49 0 0 0 0 0 5 0 5 50 0 0 0 0 0 4 0 4 51 0 0 0 0 0 0 0 0 52 0 0 0 0 0 2 0 2 53 0 0 0 0 0 1 0 1 54 0 0 0 0 2 0 0 2 55 0 0 0 0 1 0 0 1 56 0 0 0 0 2 0 0 2 57 0 0 0 0 3 0 0 3 58 0 0 0 0 0 4 0 4 59 0 0 0 0 0 2 0 2 60 0 0 0 0 2 2 0 4 61 0 0 0 0 2 0 0 2 62 0 0 0 0 2 0 0 2 63 0 0 0 0 2 0 0 2 64 0 0 0 0 2 0 0 2 65 0 0 0 0 0 0 0 0 66 0 0 0 0 0 0 0 0 67 0 0 0 0 0 2 0 2 68 0 0 0 0 1 0 0 1 69 0 0 0 0 0 2 0 2 70 0 0 0 0 0 2 0 2 71 0 0 0 0 0 2 0 2 72 0 0 0 0 2 0 0 2 73 0 0 0 0 1 0 0 1 74 0 0 0 0 0 6 0 6 75 0 0 0 0 0 2 0 2 76 0 0 0 0 0 1 0 1 77 0 0 0 0 0 1 0 1 78 0 0 0 0 0 2 0 2 79 0 0 0 0 0 2 0 2 80 0 0 0 0 0 0 0 0 81 0 0 0 0 0 2 0 2 82 0 0 0 0 0 2 0 2 83 0 0 0 0 0 6 0 6 84 0 0 0 0 0 2 0 2 85 0 0 0 0 0 0 0 0 86 0 0 0 0 0 4 0 4 87 0 0 0 0 0 3 0 3 88 0 0 0 0 0 2 0 2 89 0 0 0 0 2 0 0 2 90 0 0 0 0 0 2 0 2 91 0 0 0 0 0 0 0 0 92 0 0 0 0 0 2 0 2

(62)

56 93 0 0 0 0 0 2 0 2 94 0 0 0 0 1 0 0 1 95 0 0 0 0 1 0 0 1 96 0 0 0 0 0 1 0 1 97 0 0 0 0 0 4 0 4 98 0 0 0 0 2 0 0 2 99 0 0 0 0 0 4 0 4 100 0 0 0 0 0 4 0 4 101 0 0 0 0 0 1 0 1 102 0 0 0 0 2 0 0 2 103 0 0 0 0 0 1 0 1 104 0 0 0 0 0 0 0 0 105 0 0 0 0 0 1 0 1 TOTAL 0 187 PENJARINGAN SD 1 TUBAN NO D M F DMF d e f def 1 0 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 4 0 0 4 5 0 0 0 0 2 0 0 2 6 0 0 0 0 6 0 0 6 7 0 0 0 0 3 0 0 3 8 0 0 0 0 4 0 0 4 9 0 0 0 0 2 0 0 2 10 0 0 0 0 6 0 0 6 11 0 0 0 0 6 0 0 6 12 0 0 0 0 4 0 0 4 13 0 0 0 0 8 0 0 8 14 0 0 0 0 2 0 0 2 15 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 4 1 0 5 17 0 0 0 0 3 0 0 3 18 0 0 0 0 1 0 0 1 19 0 0 0 0 2 0 0 2 20 0 0 0 0 0 2 0 2 21 0 0 0 0 4 0 0 4 22 0 0 0 0 4 0 0 4 23 0 0 0 0 2 0 0 2 24 0 0 0 0 0 1 0 1 25 0 0 0 0 4 0 0 4 26 0 0 0 0 4 0 0 4

(63)

57 27 0 0 0 0 1 0 0 1 28 0 0 0 0 0 4 0 4 29 0 0 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 2 0 2 31 0 0 0 0 0 2 0 2 32 0 0 0 0 0 0 0 0 33 0 0 0 0 2 0 0 2 34 0 0 0 0 0 2 0 2 35 0 0 0 0 0 2 0 2 36 0 0 0 0 2 0 0 2 37 0 0 0 0 2 0 0 2 38 0 0 0 0 2 0 0 2 39 0 0 0 0 0 0 0 0 40 0 0 0 0 0 0 0 0 41 0 0 0 0 3 0 0 3 42 0 0 0 0 4 1 0 5 43 0 0 0 0 2 0 0 2 44 0 0 0 0 4 0 0 4 45 0 0 0 0 5 0 0 5 46 0 0 0 0 0 1 0 1 47 0 0 0 0 2 0 0 2 48 0 0 0 0 4 0 0 4 49 0 0 0 0 0 0 0 0 TOTAL 0 128 PENJARINGAN SD 2 KUTA NO D M F DMF d e f def 1 0 0 0 0 2 1 0 3 2 0 0 0 0 1 1 0 2 3 0 0 0 0 2 0 0 2 4 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 4 0 0 4 6 0 0 0 0 1 1 0 2 7 0 0 0 0 2 0 0 2 8 0 0 0 0 0 3 0 3 9 0 0 0 0 0 1 0 1 10 0 0 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 4 0 4 15 0 0 0 0 0 1 0 1 16 0 0 0 0 0 1 0 1

(64)

58 17 0 0 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 2 0 2 19 0 0 0 0 0 0 0 0 20 0 0 0 0 0 0 0 0 21 0 0 0 0 0 0 0 0 22 0 0 0 0 0 2 0 2 23 0 0 0 0 1 0 0 1 24 0 0 0 0 0 0 0 0 25 0 0 0 0 0 1 0 1 26 0 0 0 0 0 2 0 2 27 0 0 0 0 0 2 0 2 28 0 0 0 0 0 2 0 2 29 0 0 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 4 0 4 31 0 0 0 0 0 1 0 1 32 0 0 0 0 0 7 0 7 33 0 0 0 0 0 4 0 4 34 0 0 0 0 0 0 0 0 35 0 0 0 0 0 0 0 0 36 0 0 0 0 0 2 0 2 37 0 0 0 0 4 0 0 4 38 0 0 0 0 2 0 0 2 39 0 0 0 0 4 0 0 4 40 0 0 0 0 2 2 0 2 41 0 0 0 0 0 1 0 1 42 0 0 0 0 1 4 0 5 43 0 0 0 0 0 0 0 0 44 0 0 0 0 0 0 0 0 45 0 0 0 0 2 0 0 2 46 0 0 0 0 0 2 0 2 47 0 0 0 0 0 2 0 2 48 0 0 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 4 0 4 50 0 0 0 0 0 2 0 2 51 0 0 0 0 0 0 0 0 52 0 0 0 0 0 0 0 0 TOTAL 0 85 PENJARINGAN SD 3 KEDONGANAN NO D M F DMF d e f def 1 0 0 0 0 2 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0

Gambar

Tabel 1.1 Jumlah Banjar di Wilayah UPT. Puskesmas Kuta I   Tahun 2018  Kelurahan  Banjar  Dinas  Banjar Suka Duka  Desa Adat  Kuta  13  3  1  Tuban  4  4  2  Kedonganan  6  6  1  Jumlah  23  13  4
Tabel 1.3 Distribusi Penduduk Menurut Sasaran Program di Wilayah  UPT. Puskesmas Kuta I Tahun 2018
Tabel 1.4. Daftar Ketenagaan UPT. Puskesmas Kuta 1  No.  Kualifikasi
Tabel 1.5 Penetapan prioritas Masalah  Kriteria masalah  U  (Urgency)  S  (seriousness)  G  (Growth)  Total
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai pedoman umum; stenosis sebaiknya tidak dihilangkan jika cacat sekat ventrikel tidak dapat ditutup, sebab hilangnya tekanan pada ventrikel kanan mengakibatkan terjadinya

Penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa rubrik, seperti esai dan sudut di situs berita mojok.co, ada gaya bahasa sindiran yang sengaja digunakan oleh penulis

namun pada kenyataannya cairan infus meiliki jenis yang macam macam, sehingga tidak serta merta dikatan bahwa infus adalah makanan pengganti bagi orang

• Mengadakan safety talk, safety meeting, safety induction, safety patrol, safety morning dilingkungan proyek. • Pemantauan efektifitas tindakan perbaikan dan pencegahan kecelakaan

Pada iklan produk kecantikan, kaum perempuan di dorong untuk merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya saat tidak sesuai dengan standar tertentu yang telah

Pelarut organik yang digunakan pada penelitian ini memiliki tingkat hidrofobisitas antara 2 sampai 4 seperti toluena, heksana, dan heptana.Tujuan dari penelitian ini

 berguna untuk untuk sintesis sintesis senyawa-senyawa senyawa-senyawa aromatik aromatik yang yang mengandung mengandung atom atom N N dan dan senyawa lainya yang

Perlu dilakukan penanaman pohon peneduh dan penghijauan Stasiun KA Lingkungan Stasiun Sampah (termasuk gulma) Sebaran sampah sedikit. LOKASI KOMPONEN SUB KOMPONEN HASIL