• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Beban Belajar

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN - Kurikulum SD (Halaman 105-116)

Muatan per mata pelajaran

C. Pengaturan Beban Belajar

Beban belajar yang diterapkan di SDN 5 Barandasi I adalah Sistem Paket. Beban belajar dengan sistem paket sebagaimana diatur dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan merupakan pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester gasal dan genap dalam satu tahun ajaran. Beban belajar pada sistem paket terdiri atas pembelajaran tatap muka,penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri. Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan

mandiri, maksimal 40% untuk SD/MI.

Pengaturan beban belajar di SDN 5 Barandasi I sebagai berikut :

Satuan Pendidika n Kelas Satu Jam Pembelajaran Tatap Muka (Menit) Jumlah Jam Pelajaran Per Minggu Minggu Efektif Per Tahun Pelajaran Waktu Pembelajaran Per Tahun Jumlah Jam Per Tahun (@ 60 Menit) SD III 35 Kelas : III. 33 36 Kelas : III. 1.155 Jam Pembelajaran Kelas : III. 41.580 Kelas : III. 693 VI 35 VI 37 36 VI. 1.295 Jam Pembelajara n Kelas : VI. 46.620 VI. 777

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 105

Satuan Pendidika n Kelas Satu Jam Pembelajaran Tatap Muka (Menit) Jumlah Jam Pelajaran Per Minggu Minggu Efektif Per Tahun Pelajaran Waktu Pembelajaran Per Tahun Jumlah Jam Per Tahun (@ 60 Menit) SD I 35 30 36 1.080 Jam Pembelajaran 37.800 630 II 35 32 36 1.152 Jam Pembelajaran 40.320 672 IV 35 38 36 1.368 Jam Pembelajaran 47.880 798 IV 35 38 36 1.368 Jam Pembelajaran 47.880 798 d. Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan .

Kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional

Menurut pasal 3 Permendikbud No. 62 Tahun 2014 kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas :

a. Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib; dan b. Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan.

Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib sebagaimana dimaksud di atas adalah berbentuk pendidikan kepramukaan.

Satuan pendidikan memberikan penilaian terhadap kinerja peserta didik dalam Kegiatan Ekstrakurikuler secara kualitatif dan dideskripsikan pada rapor peserta didik.

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 106

Satuan pendidikan melakukan evaluasi Program Kegiatan Ekstrakurikuler pada setiap indicator yang telah ditetapkan.

Sebagai catatan bahwa :

• Kepala sekolah sebagai penanggung jawab Kegiatan Ekstrakurikuler di satuan

pendidikan;

• Tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan instruktur sebagai pengembang dan

pembina Kegiatan Ekstrakurikuler, dan

• Komite sekolah/madrasah sebagai mitra sekolah yang mewakili orang tua

peserta didik dalam pengembangan program dan dukungan pelaksanaan

program ekstrakurikuler.

e. Kriteria Ketuntasan Belajar

Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi dasar, dengan mempertimbangkan kompleksitas/keluasan dan kedalaman, daya dukung/kondisi satuan pendidikan dan karekteristik peserta didik.

Ketuntasan Belajar adalah tingkat minimal pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan meliputi ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar.

Ketuntasan Belajar terdiri atas ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar. Ketuntasan

penguasaan substansi yaitu ketuntasan belajar KD yang merupakan tingkat penguasaan peserta didik atas KD tertentu pada tingkat

penguasaan minimal atau di atasnya, sedangkan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar terdiri atas ketuntasan dalam setiap

semester, setiap tahun ajaran, dan tingkat satuan pendidikan.

14Ketuntasan Belajar untuk sikap (KD pada KI-1 dan KI-2) ditetapkan dengan predikat Baik (B). Sedangkan nilai ketuntasan kompetensi

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 107

pengetahuan dan keterampilan dituangkan dalam bentuk angka 0 – 100. KKM dirumuskan di awal tahun pelajaran.

SDN 5 Barandasi I mematok KKM untuk semua kelas adalah 67, jadi peserta didik yang belum mencapai KKM 67 harus mengikuti program perbaikan (remidi) sedangkan peserta didik yang telah mencapai KKM lebih dari 67 mengikuti program pengayaan.

Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM) ditetapkan oleh sekolah pada awal tahun pelajaran dengan memperhatikan : a) Intake (kemampuan rata-rata peserta didik), b)Kompleksitas (mengidentifkasi indikator sebagai penanda tercapainya kompetensi dasar), c) Kemampuan daya pendukung (berorientasi pada sumber belajar).

Fungsi KKM adalah :

a) sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik

sesuai KD

mata pelajaran yang diikuti,

b) sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian

mata pelajaran,

c) dapat dilakukan sebagai evaluasi program yang dilaksanakan di sekolah,

d) merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi

tiap mata

pelajaran.

Prinsip penetapan KKM sebagai berikut:

1. Dilakukan melalui analisis dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung

dan intakepeserta didik.

2. KKM Kompetensi Dasar merupakan rata-rata dari KKM indikator yang terdapat

dalam kompetensi dasar tersebut.

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 108

3. Kriteria KKM setiap Standar Kompetensi merupakan rata-rata KKM Kompetensi

Dasar yang terdapat dalam Standar Kompetensi tersebut.

4. KKM Mata Pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM Standar Kompetensi

yang terdapat dalam 1 semester atau 1 tahun pelajaran dan dicantumkan dalam

buku raport peserta didik.

5. Pada setiap indikator/kompetensi dasar dimungkinkan adanya perbedaan nilai

ketuntasan minimal.

Langkah-langkah penetapan KKM sebagai berikut:

1. Hasil penetapan KKM oleh guru/kelompok mapel disahkan oleh Kepala Sekolah

untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian.

2. KKM yang ditetapkan, disosialisasikan kepada peserta didik, orang tua, dinas

pendidikan.

3. KKM dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar/raport pada saat hasil penilaian

dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik.

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) SDN 5 BARANDASI I

TAHUN PELAJARAN 2017- 2018

NO. KOMPONEN KELAS

I II III IV V VI A. Mata Pelajaran 1. Pendidikan Agama 2. PKN 3. Bahasa Indonesia 4. Matematika 5. IPA 6. IPS

7. Seni Budaya dan

67 67 67 67 -67 67 67 67 67 -67 70 67 70 67 70 67 67 70 67 70 71 70 70 72 70 70 70 67 70 68 72 70 70 70 71 70 70 72 Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros

B. C. Keterampilan 8. PJOK Muatan Lokal 1. Bahasa Makassar Pengembangan Diri 1. Pramuka 70 67 B 70 67 B 70 68 B 70 70 B 70 70 B 70 70 B KKM SDN 5 Barandasi adalah 67 sebagai angka yang terendah untuk predikat Cukup.

Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan:

a. mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran;

b. mencatat perilaku peserta didik dengan menggunakan lembar Observasi/pengamatan;

c. menindaklanjuti hasil pengamatan; dan d. mendeskripsikan perilaku peserta didik.

Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tahapan: a. menyusun perencanaan penilaian;

b. mengembangkan instrumen penilaian; c. melaksanakan penilaian;

d. memanfaatkan hasil penilaian; dan

e. melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan deskripsi.

Penilaian aspek keterampilan dilakukan melalui tahapan: a. menyusun perencanaan penilaian;

b. mengembangkan instrumen penilaian; c. melaksanakan penilaian;

d. memanfaatkan hasil penilaian; dan

e. melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan deskripsi.

f. Pendidikan Karakter dan Budaya Sekolah

“Saat kita memasuki milenium barus ingatlah baik-baik bahwa ukuran kemajuan suatu negara bukanlah besarnya pendapatan nasionals kemajuan teknologis atau kekuatan militernyas melainkan karakter penduduknya” (Thomas Lickonas 2008)

Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 110

permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat

kebijakan terpadu dalam mewujudkannilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Sumber: Buku Induk Kebijakan

Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025).

Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional.

Atas dasar apa yang telah diungkapkan di atas, pendidikan karakter bukan hanya sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Lebih dari itu, pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action) sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik.

Sebagaimana diketahui, wadah untuk pendidikan karakter adalah keluarga, sekolah, media masa, dan masyarakat (lingkungan sosial).

Kita menyadari bahwa pengembangan karakter memerlukan waktu lama. Karena itu,pengembangan karakter harus dilakukan sedini mungkin. Sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai perilaku baik yang ingin kita lihat di masyarakat nanti menjadi wadah yang sangat strategis.Adapun tahapan penerapan pendidikan karakter di tingkat satuan pendidikan adalah sebagai berikut:

1) Melakukan analisis konteks tentang karakter di satuan pendidikan

2) Mencanangkan komitmen bersama antara seluruh warga sekolah

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 111

3) Menyusun penjadwalan pengembangan karakter dalam budaya sekolah secara terjadwal secara harian, mingguan, dan bulanan. 4) Melakukan penilaian penerapan pendidikan karakter di sekolah Pelaksanaan pendidikan karakter di SD diintegrasikan dengan pengembangan pengetahuan dan ketrampilan, yakni dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap pelajaran. Wibowo (2013:16) menyatakan bahwa pendidikan karakter yang terintegrasi dalam proses pembelajaran artinya pengenalan nilai-nilai, kesadaran akan pentingnya nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan mencanangkan empat nilai karakter utama yang menjadi ujung tombak penerapan karakter di kalangan peserta didik di sekolah, yakni jujur (dari olah hati), cerdas (dari olah pikir), tangguh (dari olah raga), dan peduli (dari olah rasa dan karsa). Dengan demikian, ada banyak nilai karakter yang dapat dikembangkan dan diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Menanamkan semua butir nilai tersebut merupakan tugas yang sangat berat. Oleh karena itu, perlu dipilih nilai-nilai tertentu yang diprioritaskan penanamannya pada peserta didik.

Pada tahap perencanaan pembelajaran, baik silabus maupun RPP dirancang agar muatan maupun kegiatan pembelajarannya berwawasan pendidikan karakter. Setidaknya perlu dilakukan perubahan pada tiga komponen, yaitu: (1) Penambahan dan/atau modifkasi kegiatan pembelajaran sehingga ada kegiatan pembelajaran yang mengembangkan karakter; (2) Penambahan dan/atau modifkasi indikator pencapaian sehingga ada indikator yang terkait dengan pencapaian peserta didik dalam hal karakter; (3) Penambahan dan/atau modifkasi teknik penilaian sehingga ada teknik penialain yang dapat mengembangkan dan/atau mengukur perkembangan karakter.

Bahan ajar juga harus disiapkan pada tahap perencanaan pembelajaran. Bahan ajar yang biasanya diambil dari buku ajar (buku teks)

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 112

perlu disiapkan dengan merevisi atau menambah nilai-nilai karakter ke dalam pembahasan materi yang ada di dalamnya.

Wibowo (2013:183-184) menjelaskan ada sejumlah cara yang dapat dilakukan guru untuk mengenalkan nilai, membangun kepedulian akan nilai, dan membantu internalisasi nilai atau karakter pada tahap pendahuluan. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut: 1) Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan adalah disiplin); 2) Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada peserta didik ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang ditanamkan adalah santun, peduli); 3) Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan adalah religius); 4) Mengecek kehadiran peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan adalah disiplin, rajin); 5) Mendoakan peserta didik yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan adalah religius, peduli); 6) Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter.

Pada tahap kegiatan inti pembelajaran peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Pada tahap kegiatan penutup pembelajaran ada beberapa hal yang menurut Wibowo (2013:188) perlu diperhatikan agar internalisasi nilai-nilai terjadi dengan lebih intensif, diantaranya: 1) Selain simpulan yang terkait dengan aspek pengetahuan, agar peserta didik difasilitasi membuat pelajaran moral yang berharga yang dipetik dari pengetahuan/keterampilan dan proses pembelajaran yang telah dilaluinya; 2) Penilaian tidak hanya mengukur pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik, tetapi juga pada perkembangan karakter mereka; 3) Umpan balik baik yang terkait dengan produk maupun proses, harus menyangkut kompetensi dan juga karakter, dan dimulai dengan aspek-aspek positif yang ditunjukkan oleh peserta didik; 4) Karya-karya peserta didik dipajang untuk mengembangkan sikap saling menghargai karya orang lain dan rasa percaya diri; 5) Kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi, program pengayaan, layanan konseling, dan

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 113

pemberian tugas diberikan tidak hanya terkait dengan pengembangan kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.

Dalam penilaian pendidikan karakter, penilaian tidak hanya menyangkut pencapaian kognitif peserta didik, tetapi juga pencapaian afektif dan psikomorotiknya. Penilaian karakter lebih mementingkan pencapaian afektif dan psikomotorik peserta didik dibandingkan pencapaian kognitifnya.

Dalam pelaksanaan pendidikan karakter, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus menjadi model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik. Selain itu, sekolah juga perlu memfasilitasi kondisi yang kondusif dalam pembentukkan

karakter yang baik bagi peserta didik.

g. Kenaikan Kelas dan Kelulusan

a. Kriteria Kenaikan Kelas

Kenaikan kelas peserta didik ditetapkan melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang telah disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan, seperti minimal kehadiran, ketaatan pada tata tertib, dan peraturan lainnya yang berlaku di satuan pendidikan tersebut. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas apabila hasil belajar dari paling sedikit 3 (tiga) mata pelajaran pada kompetensi pengetahuan keterampilan belum tuntas dan/atau sikap belum baik.

Peserta didik diupayakan mengikuti proses pembelajaran dan penilaian yang maksimal. Oleh karena itu apabila ada peserta didik yang terpaksa harus tidak naik kelas, maka hal ini harus menjadi umpan balik bagi pendidik, satuan pendidikan, dan orangtua sehingga diharapkan semua peserta didik pada

akhirnya dapat naik kelas.8

b. Kriteria Kelulusan dari Satuan Pendidikan

Kelulusan dan kriteria kelulusan peserta didik dari Satuan Pendidikan ditetapkan melalui rapat dewan guru. Peserta didik dinyatakan lulus dari Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Menengah setelah memenuhi syarat berikut.

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 114

(1) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran; (2) Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal Baik; dan (3) Lulus Ujian Sekolah seluruh muatan/mata pelajaran.

h. Literasi

Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

Tahapan Pelaksanaan GLS

1. Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015).

2. Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.

3. Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: menggunakan

buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Prinsip-prinsip kegiatan membaca

a) Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.

b) Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik.

Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.

c) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak diikuti

oleh tugas-tugas menghafalkan cerita, menulis sinopsis, dan lain-lain. d) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat diikuti

dengan diskusi informal tentang buku yang dibaca/dibacakan, atau kegiatan

yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan apabila waktu memungkinkan. Tanggapan dalam diskusi dan kegiatan lanjutan ini

Kurkulum SDN 5 Barandasi I Tahun 2017 Kec. Lau Kab. Maros 115

tidak

dinilai/dievaluasi.

e) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini berlangsung

dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Guru menyapa peserta didik

dan bercerita sebelum membacakan buku dan meminta mereka untuk membaca

buku

BAB III

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN - Kurikulum SD (Halaman 105-116)

Dokumen terkait