• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA

Selama 5 Tahun Terakhir

Tabel 4.33. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Oktober

Selama 5 Tahun Terakhir ……… Tabel 4.34. Peramalan Penumpang Regresi Bulan Oktober 2016 ………… Tabel 4.35. Pergerakan Penumpang Pada Bulan November

Selama 5 Tahun Terakhir ……… Tabel 4.36. Peramalan Penumpang Regresi Bulan November 2016 ……… Tabel 4.37. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Desember

Selama 5 Tahun Terakhir ……… Tabel 4.38. Peramalan Penumpang Regresi Bulan Desember 2016 ………. Tabel 4.39. Luasan Tingkat Pelayanan Level of service ………... Tabel 4.40. Pendistribusian Level of Service ………

78 78 80 81 83 83 85 87 100

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1.1 Lokasi Studi Penelitian ………...

Gambar 2.1 Grafik Penentuan Distribusi Penumpang ... Gambar 4.1 Grafik Jumlah pergerakan penumpang domestic

pada tahun 2007-2011 ... Gambar 4.3. Grafik Jumlah Pergerakan Penumpang Domestik

Tahun 2007-2011 ……….……….. Gambar 4.4. Peramalan Pergerakan Kedatangan Penumpang Domestik …….. Gambar 4.5. Peramalan Pergerakan Keberangkatan Penumpang Domestik …. Gambar 4.6. Peramalan Pergerakan Kedatangan dan Keberangkatan

Penumpang Domestik ……… Gambar 4.7. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan

Januari 5 Tahun Terakhir ……… Gambar 4.8. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Januari ……….. Gambar 4.9. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Februari

Selama 5 Tahun Terakhir ……….. Gambar 4.10. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Februari ………. Gambar 4.11. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Maret

Selama 5 Tahun Terakhir ………. Gambar 4.12. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Maret ……… Gambar 4.13.Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan April

5 20 35 37 41 42 43 56 57 59 59 61 62

Selama 5 Tahun Terakhir ………

Gambar 4.14. Pergerakan Penumpang Pada Bulan April ……….

Gambar 4.15. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Mei Selama 5 Tahun Terakhir ……….

Gambar 4.16. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Mei ………

Gambar 4.17. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Juni Selama 5 Tahun Terakhir ……….

Gambar 4.18. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Juni ………..

Gambar 4.19. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Juli Selama 5 Tahun Terakhir ……….

Gambar 4.20. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Juli ………...

Gambar 4.21. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Agustus ………

Gambar 4.22. Pergerakan Penumpang Pada Bulan Agustus ………

Gambar 4.23. Pergerakan Penumpang Pada Bulan September Selama 5 Tahun Terakhir ………

Gambar 4.24. Pergerakan Penumpang Pada Bulan September ………

Gambar 4.25. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Oktober Selama 5 Tahun Terakhir ……….

Gambar 4.26. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Oktober …………

Gambar 4.27. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan November Selama 5 Tahun Terakhir ………...

Gambar 4.28. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan November ……… Gambar 4.29. Grafik Pergerakan Penumpang Pada Bulan Desember

64 66 67 69 69 71 72 74 74 76 77 79 79 81 82

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Di Indonesia terdapat berbagai macam moda transportasi baik transportasi darat,laut maupun udara. Dalam pemilihan penggunaan ketiga moda transportasi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan, hal ini disebabkan ketiga moda tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing sehingga adanya usaha ketiga jenis moda tersebut untuk meningkatkan kualitas pelayanan untuk menjadi lebih baik. Untuk perjalanan jarak jauh ada hal-hal yang harus diperhitungkan dalam memilih moda transportasi adalah waktu, keamanan dan kenyamanan serat biaya, salah satu alternatifnya dengan menggunakan pesawat terbang, karena pesawat terbang mampu menjangkau daerah-daerah terpencil atau perjalanan yang sangat jauh dengan waktu yang relatif singkat.

Bandara Internasional Juanda merupakan salah satu Bandara Internasional yang dimiliki Indonesia dengan luas 477,3 ha dan memiliki gedung terminal seluas 62.701 m²dengan kapasitas 6.000.000 pax/year dengan luas terminal domestik 31.275 m² dan untuk luas ruang tunggu domestik 2016 m². Bandara Internasional Juanda juga merupakan sebagai pintu gerbang transportasi udara sebagai penghubung antar kota, provinsi maupun antar negara. Bandara Internasional Juanda yang dikelola oleh PT.Angkasa Pura I (Persero) tersebut memiliki nilai strategis dalam upaya mengembangkan moda transportasi udara di Indonesia.

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, perekonomian nasioanal, industri dan pariwisata di Indonesia, terjadi pula peningkatan terhadap transportasi udara baik dalam skala domestik maupun skala internasioanal, untuk pergerakan keberangkatan domestik saja terus mengalami peningkatan yang signifikan per tahunnya

Tabel 1.1.Data Penumpang Domestik Tahun 2007– 2011

PENUMPANG (Pax mov’t) URAIAN 2007 2008 2009 2010 2011 DATANG 3.907.395 3.765.862 4.631.457 5.137.186 5.874.994 BERANGKAT 3.572.705 3.539.582 4.265.708 4.968.584 5.570.504 TRANSIT 494.711 543.680 577.857 671.755 686.447

Sumber :PT.Angkasa Pura I(Persero)

Tabel 1.2.Data Penumpang Internasional Tahun 2007– 2011

PENUMPANG (Pax mov’t) URAIAN 2007 2008 2009 2010 2011 DATANG 480.570 544.725 595.318 626.444 722.059 BERANGKAT 456.984 459.721 542.976 586.386 693.824 TRANSIT 18.409 25.726 20.409 13.744 4.830

Sumber :PT.Angkasa Pura I(Persero)

Dari tuntutan ini juga berpengaruh besar bagi pengguna jasa moda transportasi udara khususnya Bandara Internasional Juanda, oleh sebab itu untuk mendukung tuntutan tersebut diperlukan pembangunan atau perluasan saran dan prasarana transportasi udara dalam hal ini ruang tunggu kedatangan dan keberangkatan penumpang domestik.

Arus keberangkatan dan kedatangan penumpang domestik yang terjadi di Bandara Internasional Juanda yaitu melalui daerah pertemuan dengan pintu masuk (gate) dimana penumpang berpindah dari cara perjalanan pada jalan masuk kebagian (terminal frontage) sirkulasi dan naik turunnya penumpang di pelataran terminal merupakan kegiatan utama pada bagian ini. Setelah itu penumpang melalui bagian pemrosesan dimana penumpang sebelumnya melalui pemeriksaan keamanan, setelah melewati pemeriksaan keamanan penumpang bersama pengantar berkumpul di daerah lobi terminal (passanger lounge), secara umum daerah lobi harus dapat menampung penumpang yang antri, dan penumpang yang menunggu, di daerah ini penumpang diproses dalam

persiapan untuk memulai suatu perjalanan udara, kegiatan-kegiatan utama dalam bagian ini adalah penjualan ticket, lapor masuk begasi, pemesanan tempat duduk, pelayanan pengawasan dan keamanan. Bagian yang terakhir adalah penumpang menuju daerah pertemuan dengan pesawat, dimana penumpang sebelumnya melewati ruangan terbuka (concourse) yang berfungsi untuk sirkulasi penumpang dan ruang tunggu bagi tamu, setelah melewati daerah tersebut penumpang masuk menuju ruang tunggu keberangkatan (departure lounge), ruang tunggu keberangkatan yang digunakan menunggu keberangkatan pesawat merupakan bagian dari fasilitas terminal yang harus cukup besar untuk dapat menampung jumlah penumpang yang diharapkan ada diruangan ini 60 menit sebelum keberangkatan pesawat begitu juga dengan ruang tunggu kedatangan yang digunakan untuk menunggu kedatangan penumpang setelah melakukan penerbangan. Luas ruang tunggu bersama untuk kedatangan dan keberangkatan didasarkan pada jumlah total penumpang yang akan datang dan naik pesawat pada jam puncak untuk pintu gerbang ke pesawat yang dilayani ruang tunggu tersebut.

1.2.Perumusan Masalah

Bandara Internasional Juanda Surabaya merupakan Bandar udara yang melayani penerbangan domestik dan internasional. Namun pada perkembangannya, jumlah penerbangan dan penumpang yang makin meningkat dan pesat, hal tersebut juga menuntut adanya perluasan ruang tunggu kedatangan dan ruang tunggu keberangkatan penumpang, sebagai salah satu fasilitas pendukung bandara untuk melayani arus penerbangan domestik. Kondisi ini yang memicu penulisan tugas akhir ini dilakukan dengan permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dan dianalisa sebagai berikut :

1. Menentukan kebutuhan ruang tunggu keberangkatan pada terminal domestik?

2. Bagaimana perkiraan perbandingan jumlah penambahan penumpang pada jalur keberangkatan diterminal domestik untuk kondisi eksisting dan 5 tahun mendatang? 3. Apakah luasan dan fasilitas ruang tunggu yang ada sekarang masih dapat menampung

penumpang 5 tahun mendatang ?

1.3.Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah untuk memecahkan masalah seperti yang telah dijelaskan pada bagian yang sebelumnya, yaitu :

1. Mengetahui kebutuhan ruang tunggu keberangkatan pada terminal domestik.

2. Memperkirakan jumlah penambahan penumpang pada jalur keberangkatan diterminal domestik untuk kondisi eksisting dan 5 tahun mendatang.

3. Mengetahui luasan dan fasilitas ruang tunggu yang ada sekarang masih dapat menampung penumpang 5 tahun mendatang.

1.4.Batasan Masalah

Pembahasan tugas akhir ini akan dibatasi pada masalah-masalah antara lain : 1. Evaluasi luasan ruang tunggu hanya dilakukan pada bagian ruang tunggu

keberangkatan dan kedatangan penumpang domestik.

2. Pada evaluasi tidak akan dibahas tentang perhitungan kekuatan structural (konstruksi) dan metoda konstruksi.

4. Diasumsikan penumpang pada masing-masing gate akan menunggu jadwal penerbangan disekitar gate yang bersangkutan (domestik).

5. Evaluasi ruang tunggu ini hanya mengacu pada 9 maskapai domestik.

1.5.Lokasi Studi

Lokasi studi evaluasi ruang tunggu keberangkatan dan kedatangan domestik yang terdapat pada Bandara Internasional Juanda Surabaya.

Sumber : Google map

Gambar 1.1.Lokasi Studi Penelitian

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Umum

Daerah terminal adalah suatu simpul dalam sistem jaringan perangkutan.Oleh karena itu bandara dapat kita samakan dengan terminal, yang mempunyai fungsi pokok sebagai tempat :

1. Sebagai pengendali dan mengatur lalu lintas angkutan udara dalam hal ini adalah pesawat.

2. Sebagai tempat pergantian moda bagi penumpang.

3. Sebagai tempat naik atau turun penumpang dan bongkar muat barang/muatan.

4. Sebagai tempat operasi berbagai jasa seperti: perdagangan, fasilitas umum, fasilitassosial, fasilitas transit, promosi, dan lain-lain.

Sebagai elemen tata ruang wilayah, yakni titik tumbuh dalam perkembangan wilayah.

2.2. Fasilitas Umum

Sejumlah fasilitas disediakan untuk melaksanakan fungsi-fungsi dari sistem terminal penumpang.Fasilitas-fasilitas tersebut disediakan untuk setiap bagian yang disebutkan diatas.

1. Tempat pelayanan ticket (ticket counter) dan kantor yang digunakan untuk penjualan ticket, ruang masuk bagasi (baggage check-in). Informasi penerbangan serta pegawai dan fasilitas administratif.

2. Ruang pelayanan terminal yang terdiri dari daerah umum, fasilitas-fasilitas untuk penumpang dan pengunjung, ruang untuk menyiapkan makanan serta gudang bahan makanan dan barang-barang lain.

3. Lobi untuk sirkulasi penumpang dan ruang tunggu bagi tamu.

4. Daerah sirkulasi umum untuk sirkulasi umum bagi penumpang dan pengunjung, terdiri dari daerah seperti tangga, escalator, lift dan koridor.

5. Ruangan untuk bagasi, yang tidak boleh dimasuki oleh umum, untuk menyortir dan memproses bagasi yang akan dimasukkan ke pesawat (outbond baggage space). 6. Ruangan bagasi yang digunakan untuk memproses bagasi yang dipindahkan dari satu

pesawat ke pesawat yang lain dari perusahaan penerbangan yang sama atau perusahaan penerbangan yang berbeda (Intraline and Intraline baggage space). 7. Ruangan bagasi yang digunakan untuk menerima bagasi dari pesawat yang tiba dan

untuk menyerahkan bagasi pada penumpang (inbound baggage space).

8. Ruangan pelayanan dan administrasi Bandar udara yang digunakan untuk manajemen, operasi dan fasilitas pemeliharaan Bandar udara.

2.3.Terminal Penumpang Bandar Udara 2.3.1. Definisi Ter minal Penumpang

Definisi dari terminal penumpang adalah semua bentuk bangunan yang menjadi penghubung sistem transportasi darat dan sistem transportasi udara yang menampung kegiatan-kaegiatan transisi antara akses dari darat ke pesawat terbang begitu sebaliknya, tempat pemrosesan penumpang datang, berangkat maupun singgah sementara (transit) serta transfer atau pemindahan penumpang dan bagasi dari ke pesawat terbang. Terminal

penumpang harus mampu menampung kegiatan operasional, administrasi dan komersial serta harus memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan operasi penerbangan.

2.3.2. Dasar-Dasar Per encanaan Bangunan Ter minal Penumpang

Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam perencanaan terminal pada bandar udara/lapangan terbang :

1. Jumlah penumpang pengguna jasa transportasi udara.

Hal ini berpengaruh pada kapasitas penerimaan dan pelayanan penumpang pada terminal bandar udara, seperti perkiraan kebutuhan ruangan pelayanan pada terminal bandar udara ruang tunggu keberangkatan, (front-counter) untuk pemesanan tiket, fasilitas pelayanan barang (baggage claim), koridor terminal serta jumlah pengguna fasilitas apron, landasan penghubung (taxiway) dan landasan pacu (runway) untuk operasional penerbangan.

2. Perencanaan jalur akses masuk kawasan bandar udara dan pengembangannya.

3. Kebutuhan fasilitas pendukung pada terminal bandar udara seperti : kapasitas tempat parkir kendaraan (parking area), dimensi atau ukuran dari terminal frontage, dan fasilitas keamanan pada gedung terminal bandar udara.

Perencanaan sebuah terminal pada bandar udara dapat dibagi dua yakni perencanaan statis dan dinamis.

Perencanaan statis ini disebut juga mendimensi. Perencanaan statis ini memungkinkan untuk mengatur secara proporsional dalam mendimensi atau menentukan ukuran dari bagian tersendiri pada bangunan terminal. Ukuran atau dimensi dari bagian tersendiri pada bangunan terminal biasanya dilakukan dengan dasar hubungan terhadap

kondisi jam puncak (peak hour) dari pelayanan terminal. Untuk menentukan ukuran dari bangunan terminal beberapa program komputer dapat digunakan seperti IATA Airport Terminal Capacity Analysis/Airport Terminal Facility Sizing. Bagian-bagian tersendiri dari terminal bandar udara yang dapat ditentukan ukurannya antara lain adalah :

a. Panjang dari pembatas jalur keberangkatan (departure kerb). b. Panjang dari pembatas jalur kedatangan (arrival kerb).

c. Ukuran dari arus keberangkatan penumpang (departure concourse). d. Jumlah dari (check-in counter).

e. Jumlah dari (passport control counter) pada terminal keberangkatan. f. Ukuran dari ruang tunggu penumpang pada terminal keberangkatan. g. Ukuran dari ruang (passengers gate).

h. Jumlah dari (passport control counter) pada terminal kedatangan. i. Ukuran dari bagian (baggage claim).

j. Luasan yang dibutuhkan untuk penumpang yang berada di (baggage claim). k. Jumlah dari (customs counter) pada terminal kedatangan.

l. Ukuran dari arus kedatangan penumpang (arrival concourse).

Pendekatan standar untuk memenuhi ruang yang mencukupi adalah memilih jam sibuk yang mewakili atau representative, yakni pada beberapa jam tiap tahun dalam hal ini terdapat lebih banyak lalu lintas operasional penerbangan. Metode dari FAA memberikan persyaratan dalam appropriate space (ruangan yang mencukupi) adalah sebesar 23 m² tiap Typical Peak Hour Passenger (TPHP) untuk terminal domestik, dan tambahan sebesar 14 m² untuk terminal internasional.

Sedangkan perencanaan dinamis adalah membuat simulasi dari bagian tersendiri dari bangunan terminal, yakni memasukkan bagian tersebut untuk dipertimbangkan beroperasi dibawah kondisi yang berbeda sebagai masukan (misal: 3 orang penumpang pada antrian untuk penumpang kelas utama, 5 orang penumpang pada antrian untuk penumpang kelas bisnis dan 90% pada seluruh penumpang dengan waktu tunggu kurang dari 15 menit dan sebagainya).

Dalam menerapkan persyaratan dalam kelancaran operasional penerbangan, bangunan terminal diklasifikasikan menjadi tiga kelompok bagian, yaitu:

1.Ruangan umum. 2.Ruangansemi steril. 3.Ruangansteril.

2.3.3. Ruangan Umum

Ruangan umum adalah tempat tempat yang berfungsi untuk menampung segala bentuk aktivitas yang bersifat umum, baik oleh penumpang, pengunjung atau pengantar penumpang maupun karyawan (petugas) bandar udara. Untuk memasuki ruangan ini tidak perlu melalui pemeriksaan yang berhubungan dengan kelengkapan administrasi atau surat-surat kelengkapan perjalanan. Ruangan umum ini adalah ruangan utama pada bandar udara yakni lobby, dan bagian (frontage) area pada terminal penumpang. Perencanaan fasilitas umum ini tergantung pada kebutuhan ruang dan kapasitas penumpang dengan memperhatikan:

a. Fasilitas-fasilitas penunjang seperti ruang tunggu penumpang dan toilet harus direncanakan berdasarkan kebutuhan minimum.

b. fasilitas penunjang ini perlu dilengkapi dengan fasilitas lain seperti pusat informasi, restoran, kafetaria, atm, bank, gift shop, took obat, pos bantuan kesehatan darurat (emergency medical aid) dan kios majalah atau koran.

2.3.4. Ruang Semi Steril

Ruangan semi steril adalah ruangan yang digunakan untuk pelayanan penumpang seperti proses pendaftaran penumpang dan bagasi atau check-in serta proses pengambilan bagasi bagi kedatangan penumpang serta proses penumpang transit atau transfer. Penumpang yang akan memasuki harus malalui pemeriksaan petugas keamanan bandar udara.

2.3.5. Ruangan Steril

Ruangan steril adalah ruangan yang khusus disediakan bagi penumpang yang akan berangkat atau naik pesawat terbang. Ruangan ini biasa disebut juga ruang tunggu keberangkatan penumpang. Untuk memasuki ruangan ini penumpang harus melalui pemeriksaan tiket penerbangan dan boarding pass oleh petugas keamanan bandar udara dan didampingi oleh petugas dan maskapai penerbangan yang bersangkutan.

2.4. Sirkulasi Penumpang

Sirkulasi penumpang dibedakan atas dua arus, yakni arus sirkulasi keberangkatan penumpang dan arus sirkulasi kedatangan penumpang. Sirkulasi penumpangan ini dilayani sesuai pada terminal yang menanganinya di bandar udara yakni terdiri atas terminal keberangkatan (departure terminal) dan terminal kedatangan (arrival terminal).

2.4.1. Arus Sir kulasi Keberangkatan Penumpang

Arus sirkulasi keberangkatan penumpang diatur pada terminal keberangkatan (departure terminal). Terminal keberangkatan (departure terminal) adalah terminal yang mengatur proses keberangkatan penumpang mulai dari masuk pada area frontage terminal, pemesanan tiket penerbangan (seat reservation), pelayanan barang-barang penumpang, dan pengiriman barang melalui jasa transportasi udara.

2.4.2. Arus Sir kulasi Kedatangan penumpang

Arus sirkulasi kedatangan penumpang diatur pada terminal kedatangan (arrival terminal). Terminal kedatangan (arrival terminal) adalah terminal yang mengatur proses kedatangan penumpang pesawat terbang menuju bagian pemeriksaan administratif bandar udara (ruangan steril) dan fasilitas keluar bandara udara (airport exit facility).

2.5.Pertemuan Dengan Pesawat (Flight Interface)

Bagian ini menghubungkan terminal dengan pesawat yang diparkir dan biasanya meliputi fasilitas-fasilitas sebagai berikut :

1. Ruangan terbuka (concourse), untuk ke sirkulasi munuju keruang tunggu keberangkatan, yang digunakan pemupang untuk menunggu keberangkatan, pada ruangan ini terdapat berbagai macam toko-toko penjualan dan restoran-restoran. 2. Ruang tunggu keberangkatan

Ruangan yang digunakan penumpang untuk menunggu keberangkatan pesawat juga dipakai sebagai jalan keluar bagi penumpang yang turun dari pesawat (garbarata), di Bandara Juanda Surabaya dengan system ruang tunggu bersama

hubungan antara ruang tunggu dengan pesawat tidak menggunakan garbarata melainkan dengan menggunakan bus atau berjalan kaki. Pada umumnya, ruangan ini harus cukup besar untuk menapung sejumlah penumpang yang diharapkan ada di ruangan ini 15 menit sebelum jam keberangkatan pesawat, dengan menganggap bahwa waktu itu adalah waktu dimana penumpang dapat mulai masuk ke pesawat. Dalam ruangan ini harus terdapat tempat duduk, ruangan bagi perusahaan untuk memproses keberangkatan, ditambah untuk antrian dan jalan keluar bagi penumpang yang baru turun dari pesawat.

Luas ruang tunggu keberangkatan bersama didasarkan pada jumlah total penumpang yang naik ke pesawat pada jam puncak (peak hour) untuk gate masuk yang dilayani oleh ruang tunggu tersebut. (Horonjoff McKelvey,1993).

Fungsi utama ruang tunggu keberangkatan ini untuk mengumpulkan penumpang dengan penerbangan yang sama sambil menunggu jadwal waktu keberangkatannya. Ada beberapa persyaratan yang harus di penuhi antara lain :

a. Ruangan ini tidak boleh berhubungan langsung dengan ruangan lain, artinya ruangan ini dibatasi oleh sekat pemisah dan memiliki satu jalan akses keluar masuk.

b. Ruangan ini steril, artinya semua penumpang yang ada didalamnya telah melewati pemeriksaan keamanaan yang cukup ketat dan proses lain.

3. Ruangan operasi perusahaan penerbangan yang digunakan untuk pegawai, peralatan dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kedatangan dan keberangkatan pesawat.

Tabel 2.1. Luasan Standar Ruang Tunggu Keberangkatan.

Fasilitas Luasan Standar

Ruang tunggu keberangkatan 1 – 1,5 m² /tempat duduk penumpang

1,2 m² /penumpang berdiri dengan kereta barang 1 m² /penumpang berdiri, untuk 50 %

penumpang duduk Sumber : N. Ashford, Paul H. Wright, 1984

2.5.1.Penentuan peak hour r encana

Ramalan (forecast) biasanya dinyatakan dalam bentuk volume tahunan, mengingat data yang tersedia pada umumnya dalam bentuk tahunan. Telah diketahui pula bahwa volume tahunan merupakan kumpulan dari volume tiap jam mempunyai nilai yang tidak sama, volume tiap jam dapat berubah dari waktu ke waktu. Dalam satu hari, terdapat harga maksimun dari volume tiap jam. Yang dimaksud harga maksimum adalah jumlah gerakan pesawat, penumpang terbanyak yang dapat dicapai dalam satuan waktu 60 menit atau satu jam. Harga maksimum ini digunakan sebagai dasar perencanaan pengembangan fasilitas prasarana ruang tunggu penumpang.

Dalam penulisan tugas akhir ini data yang tersedia dalam bentuk volume tahunan dan bulanan, sehingga peramalan dapat dilakukan dalam bentuk bulanan dan tahunan yang kemudian hasil peramalan bulanan dan tahunan tersebut dapat dibandingkan.

2.5.2. Penentuan Peak Hour Rencana Pesawat

Untuk mengubah bentuk volume bulanan pesawat menjadi volume pada jam puncak diperlukan suatu proses penyesuaian. Langkah-langkah penyesuaianya adalah sebagai berikut :

a. Mencari volume harian rata-rata (average day), yakni dengan cara membagi puncak bulanan (peak month) dengan jumlah hari rata-rata dalam satu bulan (31 hari). Volume penerbangan harian rata-rata adalah :

Volume harian rata-rata = Volume bulanan maksimum / 31 hari

b. Mencari jumlah total pergerakan harian yang terjadi pada saat ini dan menentukan prosentase tiap jam keberangkatan keberangkatan terhadap total.

% tiap jam keberangkatan = ∑ Pergerakan tiap jam keberangkatan

∑ Total pergerakan harian

x

100% …...(1)

c. Mencari volume pada jam puncak rencana (forecast), yaitu besarnya volume gerakan pesawat harian rata-rata hasil dari peramalan dan mengalikan dengan prosentase tiap jam keberangkatan.

∑ pergerakan pesawat tiap jam = prosentase tiap jam x ∑ pergerakan harian

Perhitungan tersebut dilakukan dengan asumsi jadwal penerbangan tidak mengalami perubahan.

2.5.3. Penentuan Peak Hour Rencana Penumpang

Untuk mengubah bentuk volume bulanan penumpang menjadi volume pada jam puncak diperlukan suatu proses penyesuaian. Langkah-langkah penyesuaiannya adalah : a. Mencari volume harian rata-rata (average day), yakni dengan cara membagi peak

month dengan jumlah hari rata-rata dalam satu bulan (31 hari).

b. Mencari jumlah total pergerakan harian yang terjadi pada saat ini dan menentukan prosentase tiap jam keberangkatan keberangkatan terhadap total.

% tiap jam keberangkatan = ∑ Pergerakan tiap jam keberangkatan

∑ Total pergerakan harian

x

100% …..(1)

Mencari volume pada jam puncak rencana (forecast), yaitu besarnya volume gerakan pesawat harian rata-rata hasil dari peramalan dan mengalikan dengan prosentase tiap jam keberangkatan.

∑ pergerakan pesawat tiap jam = prosentase tiap jam x ∑ pergerakan harian

Perhitungan tersebut dilakukan dengan asumsi jadwal penerbangan tidak mengalami perubahan.

Dalam penentuan luas fasilitas-fasilitas dalam gedung terminal FAA menghubungkannya dengan angka typical peak hour passenger (TPHP).Besarnya nilai TPHP ini berdasarkan pada volume penumpang tahunan. Prosentase TPHP berdasarkan volume tahunan menurut FAA dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.2.ProsentaseTPHP

Total annual passanger TPHP as a% annual passanger

20 million an over 0,030 10.000.000 – 19.999.999 0,035 1.000.000 – 9.999.999 0,040 500.000 – 999.999 0,050 100.000 – 499.999 0,065 Under – 100.000 0,120 Sumber :N.AshfordandP.Wright, 1992

Namun cara penetapan luas area fasilitas terminal dengan TPHP ini tidak akan dipakai seluruhnya dalam perencanaan karena perhitungan masing-masing fasilitas kurang terperinci. Selanjutnya untuk perhitungan luasan bagian-bagian terminal dipakai cara FAA yang perhitungannya didasarkan pada harga Equivalent Aircraft (EQA), yaitu kombinasi antara jumlah gerakan pesawat pada jam sibuk dan kapasitas tempat duduk pesawat terbang. Adapun langkah-langkah perhitungan dengan luasan metode EQA adalah sebagai berikut :

1. Mendapatkan faktor konversi untuk masing-masing kelas pesawat berdasarkan kapasitas tempat duduknya.

2. Menghitung harga EQA untuk masing-masing kelas pesawat, dengan rumus :EQA = EQA Conversion Factor x jumlah pesawat ………..(2)

3. Menghitung jumlah harga EQA semua kelas pesawat (EQA total)

4. Dengan harga EQA total ini, dapat dicari luasan komponen fasilitas terminal dengan menggunakan tabel-tabel atau grafik yang telah disediakan.

Jika dalam satu kelas pesawat terdapat lebih dari satu macam pesawat dengan kapasitas tempat duduk yang berbeda, maka juga perlu diketahui radio tipe pesawat tersebut per kelas pesawat. Data nilai EQA factor sesuai dengan jumlah tempat duduk dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.3.EQA Conversion Factor

Dokumen terkait