BAB I PENDAHULUAN
C. Pokok Bahasan tentang Etika Menuntut Ilmu
10. Tidak Boleh Takabur
“Wahai anakku, apabila Allah memberi nikmat karunia kepadamu, bersyukurlah, jangan engkau takabbur (sombong) terhadap sesama makhluk. Sesungguhnya Allah Dzat yang memberimu nikmat dan Dia kuasa untuk mencabutnya kembali. Sesungguhnya Allah yang mencegah tidak memberikan nikmat kepada selainmu itu kuasa untuk memberinya berlipat ganda dari apa yang telah diberikan kepadamu. Karena itu janganlah engkau membuat murka Allah dengan takabur kepada makhluk-Nya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang takabur” (Muhammad Syakir, 2011: 125).
BAB IV
ANALISIS ETIKA MENUNTUT ILMU DALAM KITAB WASHOYA
A. Analisis Etika Menuntut Ilmu Perspektif Syekh Muhammad Syakir Sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Dzat yang Maha Agung adalah dengan ilmu.Ilmu merupakan medium untuk mengecap kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa adanya ilmu seseorang tidak akan mengecap kebahagiaan dan kedekatan dengan Allah (Kasyafani, 2014:4).
Mencari ilmu berarti menapaki tangga menuju kemuliaan dan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat, firman Allah SWT:
ُُْىٌَ ُالله ِحَغْفَ٠ اُْٛحَغْفبَف ِظٌِبَجٌَّْا ِٝف اُْٛحَّغَفَر ُُْىٌَ ًَْ١ِل اَرِإ إََُِْٛأ َْٓ٠ِزٌَّا بَُّٙ٠َؤَ٠
ٍٝصٍَُِْعٌْا اُْٛرُٚأ َْٓ٠ِزٌَّاَٚ ُُىِِْٕ إََُِْٛأ َْٓ٠ِزٌَّا ُالله ِعَفْشَ٠ اُْٚضُشْٔبَف اُْٚضُشْٔا ًَْ١ِل اَرِإَٚ
ٍدبَجَسَد
طِث ُاللهَٚ
شْ١ِجَخ ٍََُّْْْٛعَر بَّ
ٔٔ
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk mu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al -Mujadilah:11).
akanmemperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah berikut ini:
اُْٛفَسبَعَزٌِ ًَِئبَجَلَّٚ بًجُعُش ُُْىٍََْٕعَجَٚ َٝضُْٔأَٚ ٍشَوَر ِِّْٓ ُُْىَْٕمٍََخ َِّْإ ُطبٌَّٕا بَُّٙ٠َؤَ٠
طَِّْإ
ُُْىَمْرَأ ِالله َذِْٕع ُُْىََِشْوَأ
طشْ١ِجَخ ُْ١ٍَِع َالله َِّْإ
ٖٔ
Arti: “Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang lali-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti” (QS. Al-Hujurat:13).
Ilmu tidak dapat diperoleh dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan.Seorang pelajar yang ingin memperoleh ilmu dan mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut harus senantiasa menghormati guru/ulama.Syekh Muhammad Syakir menyebut guru/ulama dengan sebutan kata Mu‟allim yang dituntut mampu menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan yang diajarkannya dan berusaha membangkitkan siswa untuk mengamalkan dalam kehidupannya agar bisa mendatangkan kemanfaatan dalam kehidupan sehari-hari.Tidak hanya mengembangkan intelektual muridnya, tetapi juga harus bisa memberikan pengetahuan jiwa dan mengembangkan spiritual muridnya.
Dalam proses menuntut ilmu ada hal yang sangat penting yang wajib diperhatikan oleh murid yaitu dalam menuntut ilmu murid sebaiknya berniat yang ikhlas bukan untuk hal-hal yang bersifat duniawi belaka.Akan tetapi diniatkan untuk hal-hal dunia dan akhirat.
Dalam hal ini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa belajar atau menuntut imu merupakan ibadah kepada Allah yang semata-mata untuk mencari ridla dari-Nya.Sehingga nantinya dapat menghantarkan menuju kunci kebahagian di dunia dan di akhirat.
Syekh Muhammad Syakir dalam pemikirannya tentang etika menuntut ilmu dalam kitab Washoya dapat ditarik analisis dalam pembahasannya sebagai berikut:
1. Belajar dengan Sungguh-Sungguh
Seorang murid juga harus bersungguh-sungguh dalam belajar atau menuntut ilmu.Selain bersungguh-sungguh, murid juga diwajibkan selalu kontinu (terus menerus) dalam belajar. Sebagaimana firman Allah SWT sebagia berikut:
بٍََُٕجُع ََُُّْٕٙ٠ِذٌََْٕٙ بَْٕ١ِف اُْٚذَ٘بَج َْٓ٠ِزٌَّاَٚ
ط
َْٓ١ِِٕغْحٌُّْا َعٌََّ َالله َِّْإَٚ
ٙ٦
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk(mencari keridhoan) Kami, benar-benar akanKami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabut:69).
2. Semangat dalam Menuntut Ilmu
Dalam menuntut ilmu seorang murid harus selalu dalam keadaan yang semangat, optimisdan antusiasme maksimal dalam mengikui pelajaran sehingga lebih fokus dan mendapatan hasil yang maksimal.Orang yang semangat dalam belajar berarti telah melakukan
upaya yang tepat dalam menggapai cita-citanya. Namun jika kita menyerah tanpa ada semangat dan usaha, maka kita tidak akan mendapatkan hasil apapun.Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya yang semangat berusaha. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
ِاللهِشَِْا ِِْٓ َُُْٗٔٛظَفْحَ٠ ِِٗفٍَْخ َِِْٓٚ ِْٗ٠َذَ٠ ِْٓ١َث ِِْٓ ذَجِّمَعُِ ٌَُٗ
ٍٝلبَِ ُشِّ١َغُ٠ َلا َالله َِّْإ
ِِٙغُفَْٔؤِث بَِ ْاُٚشِّ١َغُ٠ بَّزَح ٍََْٛمِث
ُْ
ٍٝلٌَُٗ َّدَشَِ َلاَف اًءُْٛع ٍََْٛمِث ُاللهَداَسَا آَرِاَٚ
طبََِٚ
ٍيَّٚ ِِْٓ ُِِْٗٔٚد ِِّْٓ ٌَُُْٙ
ٔٔ
Artinya: “Baginya manusia adalah malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra‟d:11)
Dari ayat diatas dapat diambil manfaatnya bahwasanya jikalau kita ingin mengubah nasib atau keadaan kita, itu semua tergantung pada diri kita masing-masing, bukan orang lain. Apabila semangatnya mulai berkurang, berikan waktu sejenak untuk mengingat orang tua dari jerih payahnya mencari rizki untuk membiayai sekolah kita. Dengan membayangkan wajah kedua orang tua kita, pasti semangat kita akan muncul lagi.Selalu optimis dengan cita-cita yang ingin diwujudkannya. 3. Menghargai Waktu
Di dalam kegiatan belajar mengajar seorang murid harus bersungguh-sungguh dan meninggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat.Karena waktu sangat berharga bagi seorang yang menuntut
ilmu. Waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya yaitu dengan belajar atau muthola‟ah pelajaran yang telah disampaikan oleh sang guru. Apabila pada saat belajar mengalami kesulitan diharapkan untuk tidak malu bertanya dengan teman yang sudah faham atau guru secara langsung.
Apabila memiliki waktu senggang lebih baik dimanfaatkan untuk belajar atau melakukan aktifitas yang lebih bermanfaat, jangan sampai menyesal dikemudian hari karena tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagaimana firman Allah SWT:
ِشْصَعٌْاَٚ
ٔ
ٍشْغُخ ِٝفٌَ َْبَغِْٔ ْلْا َِّْإ
ٕ
ِدبَحٍَِّصٌا اٍَُِّْٛعَٚ إَُِْٛاَء َْٓ٠ِزٌَّا َّلاِإ
ِشْجَّصٌبِث اَْٛص اََٛرَٚ ِّكَحٌْبِث اَْٛص اََٛرَٚ
ٖ
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al -Asr:1-3)
4. Pemahaman
Apabila engkau menghendaki kebaikan atas dirimu, maka ajaklah beberapa teman sekolah untuk muthola‟ah (belajar) bersama, mungkin temanmu dapat menolongmu dalam memahami sesuatu.Apabila telah memahami pelajaranmu, janganlahditinggalkan begitu saja buku pelajaran.Tetaplah belajar dengan teman-teman sekolah tanpa ada rasa bosan.
Sesama teman menuntut ilmu atau saudara muslim haruslah berbuat baik dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan saling
menunjang kesuksesan belajarnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
َشَّۡٙشٌٱ َلاَٚ ِ َّلِلّٱ َشِئَٰٓ َعَش ْاٍُِّٛحُر َلا ْإَُِٛاَء َٓ٠ِزٌَّٱ بَُّٙ٠َؤَٰٓ َ٠
َلاَٚ َٞ ۡذٌَٙۡٱ َلاَٚ ََاَشَحٌۡٱ
ُُۡزٍٍََۡح اَرِإَٚ ۚبأ َٛ ۡظِسَٚ ُِِّۡٙثَّس ِِّٓ الا ۡعَف َُْٛغَزۡجَ٠ ََاَشَحٌۡٱ َذۡ١َجٌۡٱ َٓ١َِِّٰٓاَء َٰٓ َلاَٚ َذِئَٰٓ ٍََمٌۡٱ
ََٕش ُُۡىََِِّٕش ۡجَ٠ َلاَٚ ْۚاُٚدبَط ۡصٱَف
َ
َأ َِاَشَحٌۡٱ ِذِج ۡغٌَّۡٱ َِٓع ُُۡوُّٚذَص َْأ ٍَ َۡٛل ُْب
ْ
ْاُٛمَّرٱَٚ ِْۚ َٚ ۡذُعٌۡٱَٚ ُِۡصِ ۡلْٱ ٍََٝع ْاَُٛٔٚبَعَر َلاَٚ ٰۖ َٜٛۡمَّزٌٱَٚ ِّشِجٌۡٱ ٍََٝع ْاَُٛٔٚبَعَرَٚ ْْۘاُٚذَز ۡعَر
ِةبَمِعٌۡٱ ُذ٠ِذَش َ َّلِلّٱ َِّْإ َٰۖ َّلِلّٱ
ٕ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi‟ar-syi‟ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)hadyu (hewan-hewan kurban) dan Qalaid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda) dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitul Haram, mereka mencari karunia karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabil kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada meeka).Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah: 2)
Ayat di atas memerintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.Apabila ada seorang teman di kelas mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, sudah seharusnya untuk dapat membantu memberikan pemahaman kepadanya.
Selain itu, perbanyaklah mudzakarah (mengkaji ulang) berbagai pelajaran yang di dapatkan.Sebab petaka bagi ilmu pengetahuan adalah
lupa.Oleh sebab itu, jangan sampai mudzakarahmu hanya menghafal kata-kata tanpa tahu arti dan maknanya.Berusahalah untuk mengerti arti dan maksud yang terkandung didalamnya untuk kemudian ditanamkan dalam hati.Karena ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang harus difahami, bukan sesuatu yang harus dihafal.
5. Diskusi
Dalam kitab ini sistem belajar kelompok merupakan sistem belajar yang baik dan banyak membantu dalam menyelesaikan suatu pertanyaan. Ketika salah satu teman tidak bisa, ada teman yang lain yang sudah memahami pembelajaran. Jadi, dalam satu kelompok akan timbul proses transfer ilmu antara satu dengan yang lainnya.
Ulih bukit (1975:29) mengatakan metode diskusi merupakan salah satu penyajian bahan pelajaran dimana guru menugaskan pelajaran atau kelompok pelajar melaksanakan atau kelompok pelajar melaksanakan percakapan ilmiah untuk mencari kebenaran.
Dalam berdiskusi untuk mencari sebuah kebenaran harus dapat menghormati antar satu dengan yang lainnya. Tidak boleh beranggapan diri sendiri lebih menguasai ilmu daripada yang lain, sebab hal tersebut akan menimbulkan sikap sombong dan merendahkan teman yang lain. Jika pada waktu teman lain sedang berbicara untuk menjelaskan atau mengutarakan pendapat, jangan memotong pembicaraannya. Hal tersebut akan membuat rasa tidak enak terhadap teman tersebut.
َُُْْٕٙ١َث ِحَسَٚبَحٌُّْاُساَذَِ َْبَو َّلاِا ِِٗٔاَْٛخِا ِِْٓ ٍحَشُِْص َعَِ تٌِبَغ َعََّزْجابٍَََّّل : ََُّٟٕثبَ٠
بََُْٙٔٛفِشْعَ٠ ِٝزٌَّا ًِِئبَغٌَّْا ِٝف ِخَظَٚبَفٌُّْاَٚ ِحَشَظبٌَُّْٕا ٍََٝع
“Wahai anakku, bila engkau dan teman-temanmu berkumpul untuk diskusi dan saling mengemukakan pendapat dalam berbagai masalah, jangan sekali-kali engkau memutus pembicaraan seseorang yang sedang mengajukan argumentasinya.
Terkait diskusi ini juga disinggung dalam firman Allah sebagai berikut:
ْ١ِجَع ٌَِٝإ اُْٛعْدُا
ِخََٕغَحٌْا ِخَظِع ٌَّْْٛاَٚ ِخَّْىِحٌْبِث َهِّثَس ًِ
ٍٝصَِٝ٘ ِٝزٌَّبِث ٌُُِْْٙدبَجَٚ
َُٓغْحَأ
طٍِِْٗ١ِجَع َْٓع ًََّظ َِّْٓث ٍَُُْعَأ َُٛ٘ َهَّثَس َِّْإ
ٍٝصَْٓ٠ِذَزٌُّْْٙبِث ٍَُُْعَأ ََُٛ٘ٚ
ٕٔ٘
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An -Nahl:125).
6. Saling Menghormati
Seorang pencari ilmu haruslah memiliki sikap saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain. Dengan demikian akan tercipta suasana belajar yang harmonis, dan nyaman.
Dalam penerapannya perilaku seorang murid haruslah mencerminkan perilaku baik saling menghormati apalagi berhubungan dengan gurunya, selain itu juga harus berperilaku baik dengan teman-temannya di sekolah, contohnya:
a. Ketika bertemu guru berperilakulah sopan, seperti memberi salam, mencium tangan gurunya ketika bersalamaan, menggunakan tutur kata yang sopan pada saat berbicara, duduk dengan tenang ketika sang guru sedang menerangkan, sebab sekarang banyak murid yang keliru ketika berperilaku dengan gurunya.
Bentuk saling menghormati dan menghargai yang lainnya adalah jangan menyela sang guru pada saat guru menerangkan atau menjelaskan suatu pelajaran. Hal ini sepadan dengan firman Allah sebagai berikut:
اًشْوِر ُِِْٕٗ َهٌَ َسِذْحُأ َّٝزَح ٍءَْٟش َْٓع ٍَِْٕٝئْغَر َلاَف َِٕٝزْعَجَّرا ِِْئَف َيبَل
٠ٓ
Artinya: “Dia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangakannya kepadamu” (QS. Al-Kahf:70). b. Ketika berperilaku dengan temannya seorang murid haruslah
berperilaku yang baik yaitu dengan cara tidak merendahkan temannya, tidak membanggakan diri sendiri, dan membantu temannya dalam kesulitan. Jangan mengolok-olok antar teman karena hal tersebut termasuk perilaku yang tidak disukai oleh Allah. Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
َُِِّّْٕٓٙ اًشْ١َخ َُّٓىَ٠ َْْا َٝغَع ٍََْٛل ِِّْٓ ََْٛلْشَخْغَ٠َلا إََُِْٛا َْٓ٠ِزٌَّابَُّٙ٠َآَ٠
طَلاَٚ
ِةبَمٌَْ ْلاِث اُْٚضَث بََٕر َلاَٚ ُُْىَغُفَْٔا اُْٚضٍَِّْر
ٍٝلِْبَّْ٠ِ ْلاا َذْعَث ُقُْٛغُفٌْا ُُْعِلاا َظْئِث
طُُُ٘ َهِئٌَُٚبَف ْتُزَ٠ ٌَُّْ ََِْٓٚ
ٍََُِّّْْٛظٌا
ٔٔ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jangan lah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih abik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling menyela satu sama lain, dan janganlah memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman.Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat:11)
7. Akhlaq kepada Guru
Proses belajar mengajar merupakan salah satu bentuk dari ibadah karena dengan melakukan belajar mengajar seseorang mampu mengamalkan ilmunya dan seseorang yang lain menjadi tambah ilmunya. Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
ُِْْٙ١ٌَِإ ِٝحُْٛٔ ًلابَجِس َّلاِإ َهٍِْجَل ِِْٓ بٍََْٕعْسَأ آََِٚ
طَلا ُُْزُْٕو ِْْإ ِشْوِّزٌا ًََْ٘أ آٍَُْٛئْغَف
ْعَر
ٍََُّْْٛ
ٖٗ
Artinya: “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang –orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl:43).
Dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, belajar dianjurkan untuk memilih pelajaran, mementingkan pelajaran yang berhubungan dengan ketauhidan lebih dahulu. Hal ini yang harus diperhatikan adalah memilih guru, karena guru merupakan orang yang menjadi panutan dan orang yang menunjukkan ilmu yang akan dipelajari. Dalam memilih guru haruslah memiliki kesabaran untuk mendapatkan
guru yang cocok dengan cara pembelajarannya. Karena ketika terlanjur datang dan belajar kepadanya, namun ditengah proses pembelajaran tidak sesuai dengan yang diinginkan, kemudian pindah kepada guru lain maka hal tersebut dapat menyebabkan tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu tersebut, maka berfikirlah terlebih dahulu untuk mencari ilmu (Nasiruddin, 1963:51).
Apabila seorang murid sudah memilih guru yang cocok, maka sebaiknya murid tidak boleh membuat guru marah dengan sikap murid yang kurang sopan terhadapnya. Pada saat sang guru memberikan pelajaran hendaknya seorang murid memperhatikan dengan seksama, tidak boleh bergurau atau berbicara dengan teman lainnya dan tidak menyibukkan pikiran dengan sesuatu yang lain berupa bisikan-bisikan hati ditengah pelajaran.
ََُّٟٕثب٠
:ََِْٓٚ ،َُٗمٍَْخ ِْٗ١ِف َتَّجَحَٚ َُٗعَفَس ِ َّ ِلِلّ َعَظاََٛر ََّْٓف ،ُةَدَ ْلااَٚ ُعُظ اََّٛزٌا ٍُِِْعٌْا ُخَْٕ٠ِص
َْلااَءبَعَاَٚشَّجَىَر
.ُِْْٙ١ٌَِا ُالله َُٗعَّغَثَٚ ِطبٌَّٕا ُِٓ١ْعَا ِِْٓ َػَمَع َةَد
“Wahai anakku, tawadlu‟ (rendah hati) dan akhlak yang baik itu adalah hiasan ilmu pengetahuan. Maka barang siapa tawadlu‟ karena Allah,
akan diangkatlah derajatnya. Allah akan menjadikan seluruh makhluk-Nya cinta dan hormat kepadanya. Barang siapa takabur dan berakhlak
tercelamaka jatuhlah martabatnya”.
Sikap tawadlu‟ terhadap guru sangatlah penting, karena manfaat suatu ilmu salah satunya dengan menghormati atau memuliakan guru.Doa guru menjadi bagian penting dalam keberhasilan seorang murid, karena guru merupakan orang tua kedua setelah ayah dan ibu yang melahirkan.
8. Akhlaq kepada Teman/Saudara
Saudara yang dimaksud yaitu saudara sesama muslim. Dalam hal ini adalah teman yang sama-sama dalam menuntut ilmu.Tidak bersikap buruk terhadap sesama teman. Saling menghargai dan saling membantu pada waktu pembelajaran, jika seorang teman tidak bisa dalam suatu pelajaran maka sebaiknya untuk mengajarinya (Syakir, t.th: 13).
Sesama teman atau saudara muslim haruslah berbuat baik dan saling mengasihi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
ََٕج ْطِفْخاَٚ ُِْْٙ١ٍََع َْْضْحَر َلاَٚ ُُِِْْٕٙ بًجاَْٚصَأ ِِٗث بَْٕعَّزَِ بَِ ٌَِٝإ َهْ١َْٕ١َع ََّّْذَُّر َلا
َهَحب
( َْٓ١ِِِْٕؤٌٍُِّْ
۸۸
)
Artinya : Janganlah sekali-kali kamu menunujukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang beriman (Q.S. Al-Hijr:88).
Melalui ayat di atas, Allah SWT memerintahkan setiap muslim untuk bersikap rendah hati diantara saudaranya yang seiman, berbuat baik terhadap mereka, dan berkata lembut agar saling mengasihi dan menyayangi.
Dalam hubungan terhadap sesama sebaiknya dilandasi dengan cinta karena Allah dan persaudaraan seagama, kerja sama dan saling tolong menolong dalam hal kebajikan dan ketaqwaan kepada Allah, mendedikasikan kebaikan bagi semua dan mencegah keburukan dari
sesama teman serta menghiasi diri dengan akhlak-akhlak yang mulia (Hajjaj, 2013: 263).
Apabila ada salah satu teman meminta pertolongan kepada kita, alangkah baiknya kita menolong secara ikhlas dan bersenang hati. Karena jika kita sewaktu-waktu mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan kepada teman, maka teman tersebut akan menolong tanpa mengharap balasan dari kita. Seorang teman merupakan orang terdekat kita setelah keluarga.
Saling melengkapi dan saling mengingatkan untuk kebaikan adalah salah satu tujuan dari pertemanan.Semua manusia di dunia ini pasti memiliki teman, baik teman dalam bisnis, bekerja, teman belajar, teman mengaji atau yang lainnya.Melihat situasi pada zaman sekarang ini kita harus mampu dalam memilih dan memilah teman.Berhati-hatilah dalam memilih teman dan jangan sembarangan dalam bergaul dan berteman.
9. Menuntut Ilmu Harus Tawadlu‟
Tawadlu‟ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya, baik ketika suka maupun dalam keadaan marah (Tim Kajian Nurul Ilmi, 2012: 376). Tawadlu‟ merupakan sikap rendah hati, tidak menganggap diri lebih baik dari orang lain. Sikap seperti inilah yang wajib dimiliki oleh seorang guru dan murid. Allah berfirman:
َْٓ١ِِِْٕؤٌُّْا َِِٓ َهَعَجَّرا ٌَِِّٓ َهَحبََٕج ْطِفْخاَٚ
ٕٔ٘
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS Asy -Syu‟ara:215).
Seorang murid harus senantiasa bersikap rendah hati kepada guru dan temannya. Misalnya bertutur kata dengan sopan, menyapa ketika bertemu. Karena salah satu faktor penyebab berkahnya suatu ilmu adalah dengan sikap tawadlu‟ kepada ahli ilmu yaitu guru.
10. Tidak Boleh Takabur
Sombong (takabur) adalah menganggap orang lain rendah dan merasa dirinya paling tinggi. Merasa memiliki kesempurnaan yang sempurna berkaitan dengan agama atau dunia.Berkaitan dengan agama, misalnya takabur karena merasa paling dekat dengan Allah SWT dibandingkan dengan yang lainnya.Sedangkan yang berkaitan dengan dunia misalnya, merasa lebih cerdas atau pandai dibandingkan dengan yang lainnya.
.ِِٗمٍَْخ ٍََٝع َشَّجَىَزَر َلاَٚ ُٖشُىْشبَف ٍخَّْعِِٕث َهْ١ٍََع ُالله ََُعَْٔا اَرِإ : ََُّٕٝثبَ٠
“Wahai, anakku! Apabila Allah mengarunianimu suatu nikmat, maka bersyukurlah kepada-Nya dan jangan bersikap sombong terhadap makhluknya” (Syakir, t.th:42).Sebagaimana juga dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam QS Al-A‟raf ayat 146:
ٌْا ٍشْ١َغِث ِضْسَ ْلْا ِٝف َُْْٚشَّجَىَزَ٠ َْٓ٠ِزٌَّا ِٝزَ٠ اَء َْٓع ُفِشْصَؤَع
ًَُّو اَْٚشَ٠ ِْْإَٚ ِّكَح
اُْٛثَّزَو ََُُّْٙٔؤِث َهٌَِر ًلاْ١ِجَع ُُْٖٚزِخَّزَ٠ َلا ِذْشُّشٌا ًَْ١ِجَع اَْٚشَ٠ ِْْإَٚ بَِٙث إُِِْْٛؤُ٠ َّلا ٍخَ٠اَء
َْٓ١ٍِِفَغ بََْٕٙع اُْٛٔبَوَٚ بَِٕزَ٠ بَئِث
ٔٗٙ
Artinya: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat ayat-ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi mereka jika melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya, yang demikian itu adalah karena mereka menduakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS Al-A‟raf ayat 146).
B. Relevansi Etika Menuntut Ilmu dalam kitab Washoya Al Aba’ lil Abnaa’
dikaitkan dengan Masa Kekinian.
Washoya Al Aba‟ lil Abnaa‟ adalah kitab yang ditulis oleh Syekh Muhammad Syakir.Kitab ini merupakan warisan pendidikan yang sangat jarang dijumpai di era sekarang ini.Didalamnya mengandung nasehat-nasehat tentang akhlak dan adab sehari-hari dengan tujuan agar para peserta didik memiliki akhlak yang baik dan dapat mengaplikasikan dikehidupannya.
Kitab Washoya merupakan kitab yang harus diberikan kepada seorang murid yang masih menimba ilmu dibangku pendidikan.Sebab masih banyak di luar sana yang masih belum mengetahui secara mendalam bagaimana etika menuntut ilmu yang baik itu menurut kitab Washoya.
Etika menuntut ilmu dalam kitab Washoya meliputi beberapa aspek diantaranya: belajar sungguh-sungguh, semangat dalam menuntut ilmu,
menghargai waktu, pemahaman, diskusi, saling menghormati, akhlak kepada guru, akhlak kepada teman/saudara, tawadlu‟, tidak boleh takabur.Semua itu jika dikaitkan dengan kekinian memang masih dipergunakan dalam menuntut ilmu. Misalnya, diskusi merupakan aspek dalam menuntut ilmu yg masih melekat dan masih digunakan dalam proses belajar mengajar sampai saat ini. Sebab di dalam diskusi murid mampu mengambil manfaatnya antara lain dapat menghargai pendapat orang lain, meningkatnya rasa percaya diri, dapat memberikan pertolongan sesama teman yang belum mengerti. Sikap tawadlu‟ dan tidak boleh takabur merupakan suatu sikap yang harus ditanamkan sejak dini oleh penuntut ilmu sebab keduanya merupakan pondasi agar kelak tidak sombong terhadap orang lain. Oleh sebab itu, kitab Washoya Al Aba‟ Lil Abnaa‟ sangat relevan untuk dijadikan pedoman dalam berakhlak yang baik untuk menghadapi tantangan zaman. Dalam kitab ini, dijelaskan pula bagaimana cara berakhlak terhadap Allah dan Rasulmya, berakhlak kepada orang tua, berakhlak dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui akhalk yang baik dan buruk, serta berakhlak kepada masyarakat dalam menghadapi zaman kekinian.
Menurut penulis relevansi kitab Washoya Al Aba‟ Lil Abnaa‟ dalam menghadapi zaman kekinian adalah dapat menjadi solusi dalam memperbaiki akhlak di berbagai bidang, khususnya dalam menghadapi zaman sekarang.Dan sebaiknya dari masa dini selalu ditanamkan etika yang baik agar kelak menjadi generasi yang berakhlak mulia
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan-pembahasan dan analisa pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dalam kitab Washoya al aba‟ lilAbnaa‟ tentang etika menuntut ilmu untuk seorang murid sangatlah penting sekali. Dimana seorang murid harus mengetahui etika menuntut ilmu dan juga harus dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat diharapkan seorang murid memiliki akhlak yang baik, mempunyai ilmu yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.
1. Biografi Syekh Muhammad Syakir
Muhammad Syakir lahir di Jurja, Mesir pada pertengahan Syawal tahun 1282 H bertepatan pada tahun 1863 M dan beliau wafat pada tahun 1939 M. Ayah beliau bernama Ahmad bin Abdil Qadir bin Abdul Warits. Keluarga Syekh Muhammad Syakir telah dikenal sebagai keluarga yang paling mulia dan yang paling dermawan di kota Jurja.
Pada tanggal 26 April 1904, Muhammad Syakir pun masuk ke Lembaga Keagamaan di Alexandria tempat ayahnya menjadi syekh. Ketika pada 19 April 1909 ayahnya menjadi wakil di Al-Azhar, Muhammad Syakir pun ikut ke Kairo untuk kemudian belajar di Al-Azhar
2. Etika menuntut ilmu yang terdapat dalam kitab Washoya al aba‟ li
lAbnaa‟adalah sebagaiberikut:
a. Seorang murid harus belajar dengan sungguh-sungguh.
b. Harus memiliki semangat yang berkobar dalam menuntut ilmu.
c. Hendaklah seorang murid dapat menghargai waktu dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
d. Selain mengerti akan pelajaran yang diberikan kepada guru, murid juga harus memiliki pemahaman mengenai ilmu yang didapat dari sang guru.
e. Murid harus sering-sering berdiskusi untuk mencari sebuah kebenaran dan melatih otak untuk terus berfikir.
f. Seorang murid harus saling menghormati antara satu dengan yang lainnya agar dapat menciptakan lingkungan yang harmonis.
g. Hendaklah memiliki akhlaq yang baik kepada guru. Agar mendapat ilmu yang barokah.
h. Seorang murid diharuskan memiliki akhlaq yang baik kepada teman. i. Menuntut ilmu harus ditanamkan sikap tawadlu‟sejak awal agar