BAB II. STUDI PUSTAKA
E. Studi Banding
3. Taman Ismail Marzuki, Jakarta
Gambar 8. Eksterior Taman Ismail Marzuki Sumber: ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021
Taman Ismail Marzuki yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, pusat seni kebudayaan dan edukasi yang diharapkan akan menjadikan kembali sebagai ikon baru kota Jakarta. Seni sendiri memiliki beragam bentuk dalam penyajiannya mulai dari seni yang bisa dinikmati dengan pendengaran seperti seni tarik suara, seni musik, dan seni sastra yang hadir dalam puisi maupun pantun. Seni yang memliki bentuk yang dapat dinikmati dengan penglihatan missal seni lukis, seni bangunan, seni gerak beladiri, seni tari. Sementara yang mengkombinasikan keduanya yaitu seni teater, pertunjukan musik, film, wayang.
Gambar 9. Interior Yalova Cultural Center ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021
Gambar 10. Ruang Pentas Yalova Cultural Center ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021
Struktur bangunan ini yaitu mempresentasikan teknologi dalam karakter futuristik, struktur dan utilitas merupakan karakter yang paling menonjol.
o Material dari gedung ini dinding kaca menggunakan asahimas clear dan panasap hijau
Gambar 11. Kaca Asahimas Clear ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021
o Aluminium frame
Gambar 12. Aluminium Frame ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021
o Spider glass menggunakan system irish
Gambar 13. Spider Glass ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021 o Komposit aluminium warna champne metallic
Gambar 14. Komposit Aluminium ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021 o Pintu frameless fitting
Gambar 15. Pintu Frameles fitting
o Bungkus kolom beton precast
Gambar 16. Bungkus Kolom Beton Precast ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021 o Atap TECU platina dan TECU zin
Gambar 17. Atap TECU Platina ms.wikipedia.org/wiki, 1 juni 2021
BAB III
TINJAUAN LOKASI DAN ANALISIS PERENCANAAN A. Penentuan Lokasi dan Tapak
1. Analisis Pemilihan Lokasi a) Keadaan Geografis
Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten yang letaknya di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan dan berjarak berkisar 174 km dari kota Makassar. Secara astronomis Kabupaten Bone terletak pada posisi 4°13’ hingga 5°6’ Lintang Selatan (LS) dan antara 119°42’ hingga 120°30’ Bujur Timur (BT), secara geografis dengan batas-batas wilayah :
1) Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Soppeng.
2) Timur : Berbatasan dengan Teluk Bone.
3) Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Sinjai dan Gowa.
4) Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep, dan Barru.
Gambar 18. Peta Administrasi Kabupaten Bone Sumber : Peta Kabupaten Bone.
Luas wilayah Kabupaten Bone sekitar 4.559 km2 atau sekitar 9,78 persen dari luasan Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah Kabupaten Bone terbagi menjadi 27 kecamatan dan 372 desa atau kelurahan. Watampone merupakan Ibukota Kabupaten Bone.
b) Keadaan Topografi
Kondisi Topografi Kabupaten Bone pada bagian Timur bertopografi pesisir yang memiliki garis pantai sepanjang 138 km dari arah selatan kearah utara. Sedangkan pada bagian barat dan selatan terdapat pegunungan dan perbukitan yang mempunyai celah berupa aliran sungai, tercatat 194 sungai mengalir di Kabupaten Bone yang telah dimanfaatkan untuk kegiatan aktivitas pertanian setempat. Sungai yang ada dan terpanjang
adalah sungai Walanae yang bertempat di Kecamatan bontocani, yang mengalir Kabupaten Soppeng hingga Danau Tempe yang ada di Kabupaten Wajo, kemudian mengalir lagi masuk ke Bone sehingga bermuara di Teluk Bone. Panjang sungai Walanae mencapai 60 km khusus di wilayah Kabupaten Bone.
1) Ketinggian Tempat
Kabupaten Bone merupakan salah satu daerah yang terletak pada ketinggian yang berbeda-beda mulai dari 0 meter dari tepi pantai hingga lebih dari 1000 meter dari permukaan laut.
2) Kemiringan Lereng
Kabupaten Bone mempunyai berbagai macam permukaan lahan, mulai dari landai, bergelombang hingga curam. Daerah dengan permukaan landai berada disepanjang pantai dan bagian utara, sedangkan daerah dengan permukaan pada umumnya bergelombang hingga curam terdapat di bagian Barat dan bagian Selatan Kabupaten Bone.
3) Analisis Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi untuk dibangunnya Buginese Cultural Center di Kabupaten Bone, dengan memilih lokasi yang strategis dan sesuai tata ruang dan wilayah (RTRW)
Gambar 19. Peta RTRW Kabupaten Bone 2011-2031 Sumber: Peta RTRW Kabupaten Bone
Rencana tata ruang dan wilayah Kabupaten Bone tahun 2011-2031 yang mengemukakan tentang kultur dan social budaya, terjadinya proses perkembangan tidak akan lagi kultur budaya dan adat istiadat yang berlaku akan tetapi tergantikan oleh sifat kepentingan sosial ekonomi akan menjadi dominan. Akan tetapi perubahan dan kultur budaya salah satu ciri khas suatu daerah tidak perlu terjadi, jika masyarakat menjaga teguh kultur dan nilai suatu budaya dari turun-temurun dianutnya.
Menurut peraturan daerah Kabupaten Bone nomor 2 tahun 2013 tentang rencana tata ruang dan wilayah Kabupaten Bone tahun 2011-2031 menjelaskan tentang peraturan zonasi
untuk sistem pusat-pusat kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) terdiri atas:
1. Kegiatan yang diperbolehkan sesuai peruntukan meliputi kegiatan pemerintahan kabupaten atau kecamatan, pusat perdagangan skala kabupaten atau kecamatan, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan industri pengolahan, kegiatan industri kerajinan dan rumah tangga, pelayanan sistem angkutan umum penumpang regional, kegiatan transportasi laut regional, kegiatan transportasi udara, kegiatan pertahanan dan keamanan negara, kegiatan perikanan, kegiatan pariwisata, dan kegiatan pertanian.
2. Kegiatan yang diperbolehkan dengan syarat meliputi kegiatan selain kegiatan sebagaimana dimaksud nomor pertama yang memenuhi persyaratan teknis dan tidak mengganggu fungsi kawasan perkotaan yang ada disekitarnya.
3. Kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi meliputi kegiatan pertambangan, kegiatan industri yang menimbulkan polusi, dan kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan peruntukan kawasan perkotaan di sekitarnya.
4. Pemanfaatan ruang suatu bangunan gedung dengan intensitas sedang dan tinggi, baik ke arah horizontal maupun ke arah vertikal.
5. Pengembangan suatu kawasan perkotaan sengaja diarahkan sehingga mimiliki kualitas daya dukung lingkungan rendah dan memiliki kualitas pelayanan prasarana dan saran rendah.
6. Penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan dan sekitarnya.
Berdasarkan fungsi dan ketentuan yang dijelaskan dalam RTRW Kabupaten Bone maka dipilihlah dua alternatif pemilihan lokasi untuk pembangunan Pusat Seni yaitu Jl. Gor Macannang Watampone, Kelurahan Macannang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, dan Jl. Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kelurahan Macanang, kecamatan Tanete Riattang Barat
a. Lokasi Alternatif 1 (Jl. Gor Macannang Watampone, Kel.
Macannang, Kec. Tanete Riattang Barat).
Gambar 20. Peta kecamatan Tanete Riattang Barat Sumber: kecamatan Tanete Riattang Barat Dalam
Angka 2021
Lokasi alternatif pertama berada pada Jl. Gor Macannang Watampone, Kel. Macanang, Kec. Tanete Riattang Barat. Kelurahan Macanang tepatnya Jl. Gor Macannang Watampone merupakan salah satu kelurahan yang berada dalam daerah yang memiliki dataran rendah dan topografi tanah yang datar, lokasi ini berada tidak jauh dari pusat kota kabupaten Bone.
Alasan memilih lokasi pertama ini yaitu Jl. Gor
Riattang Barat, karena lokasi tersebut sesuai dengan RTRW memiliki letak tidak jauh dari pusat kota Bone dan lokasi tersebut merupakan salah satu daerah pengembangan. Lokasi yang strategis untuk pembangunan Pusat Seni, tingkat kemacetan sedang karena berdekatan dengan Stadion Lapatau Bone yang memiliki aktifitas padat.
b. Lokasi Alternatif II (Jl.Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kel.Macanang, kecamatan Tanete Riattang Barat)
Gambar 21. Peta kecamatan Tanete Riattang Barat Sumber: kecamatan Tanete Riattang Barat Dalam
Angka 2021
Lokasi alternatif kedua berada pada Jl. Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kelurahan Macanang, kecamatan Tanete Riattang Barat. Kelurahan Macanang tepatnya Jl. Dr Wahidin Sudiro Husodo merupakan salah satu kelurahan yang berada dalam daerah yang memiliki dataran rendah dan topografi tanah yang datar, lokasi ini berada tidak jauh dari pusat kota kabupaten Bone.
Alasan memilih lokasi pertama ini yaitu Jl. Gor Macannang Watampone, Kelurahan Macannang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, karena lokasi tersebut memiliki letak tidak jauh dari pusat kota Bone dan lokasi tersebut merupakan salah satu daerah pengembangan.
Lokasi yang strategis karena karena berada dipinggir jalan raya yang memiliki tingkat kemacetan tinggi yang memiliki aktifitas yang padat kendaraan ataupun aktifitas lainnya.
2. Analisis Pendekatan Lokasi
Setelah melakukan beberapa alternatif lokasi guna untuk perencanaan Pusat Seni di Kabupaten Bone, selanjutnya akan melakukan analisa terhadap lokasi yang yang dipilih untuk
menentukan lokasi yang baik.
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menentukan lokasi yang baik dalam hal perencanaan Pusat Kebudayaan di Kabupaten Bone, adalah sebagai berikut:
a. Potensi Lokasi
Dalam pemilihan lokasi harus sesuai dengan rencana tata ruang dan wilayah Kabupaten Bone (RTRW), antara lain:
1) Wilayah berada tahap pengembangan kota.
2) Kondisi lingkungan yang sangat memadai seperti keamanan, kebisingan yang tidak terlalu tinggi, dan kenyamanan yang baik sehingga mendukung fungsi bangunan dan aktivitas yang akan dihasilkan.
3) Sesuai zonasi kawasan.
4) Penyesuaian dengan fasilitas dan infrastruktur yang baik.
5) Penyesuai terhadap sarana dan prasaran yang menunjang kawasan, seperti memfasilitasi bagi pejalan kaki, jalur transportasi dan jalur khusus evakuasi bencana.
b. Potensi Tapak
1) Jalur atau akses yang mudah menuju lokasi tapak, diantaranya menyediakan jaringan jalan yang baik menuju lokasi.
2) Lokasi tapak berada pada lingkungan yang baik.
3) Mempunyai luas yang memungkinkan dan topografi rendah.
4) Keamanan lingkungan yang baik dan aman.
Setelah melakukan pengamatan potensi tapak maka selanjutnya perlu dilakukan sistem pembobotan pada lokasi yang dipilih guna mempermudah pemilihan lokasi yang baik untuk perencanaan Pusat Seni di Kabupaten Bone.
Salah satu hal yang dilakukan yaitu pembobotan adapun nilai standar pembobotan dalam menentukan lokasi tapak yang baik, antara lain:
Tabel 1. Standar Penilaian Lokasi
No Standar Pembobotan Nilai Bobot
1 Sangat Baik 5
2 Cukup Baik 4
3 Kurang Baik 3
4 Memenuhi 2
5 Kurang Memenuhi 1
Sumber: (Analisa penulisan, 2021)
Setelah melakukan penentuan standar nilai pembobotan, maka selanjutnya pemberian nilai terhadap potensi site yang terpilih sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Lokasi dengan nilai tertinggi maka terpilih sebagai site perencanaan Buginese Cultural Center di
Kabupaten Bone.
Tabel 2. Standar Pembobotan Lokasi
No
Aspek Penilaian
Pembobotan Jl.Gor
Macannang Watampone
Jl.Dr Wahidin Sudiro
Husodo
1 Aksebilitas 4 5
2 Luas Lahan 5 5
3 Lingkungan 5 4
4 Strategis 5 4
5 Keamanan 4 4
6 Akumulasi 28 27
Sumber: (Analisa Penulisan, 2021)
Berdasarkan analisa yang telah ditentukan, maka ditemukan lokasi yang dipilih yaitu Jl. Gor Macannang Watampone, Kel. Macannang, Kec. Tanete Riattang Barat sebagai lokasi perencanaan Pusat Seni di Kabupaten Bone.
Gambar 22. Lokasi Terpilih Sumber : Google.com/maps, 1 juni 2021
Lokasi perancangan Pusat Kebudayaan di Kabupaten Bone berada di jalan Gor Macannang Watampone, Kelurahan Macannang, Kecamatan Tanete Riattang Barat. Lokasi ini mudah dicapai karena berdekatan dengan Stadion La Patau Bone yang sering digunakan untuk bertanding dengan tim dari luar Kabupaten Bone. Luas tapak yang memenuhi standar ukuran lahan pembangunan Pusat Kebudayaan yaitu 5 Ha.
- Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
70% x 50.000 m2 = 35.000 m2 (Ruang Terbuka Hijau) 30% x 50.000 m2 = 15.000 m2 (Terbangun)
- Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 50.000 m2 x 2 = 100.000 m2
Minimal 3 Lantai
- Garis Sempadan Bangunan (GSB) 8 meter / sesuai lebar jalan
- Garis Sempadan Jalan (GSJ) 15 meter
Adapun batasan-batasan pada site perancangan, yaitu:
- Batas Utara : Pesawahan Masyarakat
- Batas Selatan : Stadion La Patau kabupaten Bone - Batas Timur : GOR Macannang
Gambar 23. Batasan Site
Sumber : Google.com/maps, 1 juni 2021 3. Analisis SWOT
SWOT merupakan nama lain dari strength, weakness, opportunities, dan threats. SWOT merupakan suatu analisa yang
membahas tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proses perencanaan.
Analisis SWOT pada lokasi perencanaan Cultural Center atau Pusat Kebudayaan dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Strength (kekuatan)
1. Lokasi mudah dijangkau yang berada pada pusat kota berdekatan dengan stadion la patau.
2. Lokasi yang strategis unruk suatu perencanaan Cultural Center atau Pusat Kebudayaan.
3. Lokasi belum memiliki sarana pusat kegiatan yang menyangkut kesenian khusus.
b. Weakness (kelemahan)
1. Jalan menuju lokasi perlu adanya pelebaran jalan . 2. Lokasi sering terjadi kemacetan.
3. Fasilitas umum kurang memadai seperti fasilitas pejalan kaki, fasilitas khusus sepeda dan perlengkapan jalan.
4. Sekitar lokasi perlu adanya penanaman tanaman hijau.
c. Opportunities (peluang)
1. Dapat mewadahi para seniman untuk mengaplikasikan atau menunjukan kesenian dan kebudayaan yang mereka punya.
2. Dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat.
d. Threats (ancaman)
Penyediaan perlengkapan fasilitas umum jalan pada lokasi belum memadai, seperti tidak tersedianaya rambu-rambu dan zebra cross, yang menyebabkan rawan terjadi kecelakaan disekitaran lokasi perencanaan Buginese Cultural Center.
4. Anlisis Pengolah Tapak
Analisis pengolahan tapak mempunyai tujuan untuk memaksimalkan fungsi tapak dengan memantau potensi dan permasalahan pada lokasi. Ada beberapa pertimbangan yang digunakan sebagai dasar analisis pengolahan tapak adalah sebagai berikut:
Gambar 24. Kondisi Tapak Sumber: Dokumentasi google Art, 2021 a. Lingkungan
Lingkungan Tapak menganalisis dengan pertimbangan keadaan lingkungan sekitar tapak.
Gambar 25. Kondisi Tapak Sumber: dokumentasi Pribadi, 2021
b. Topografi
Kondisi tapak memiliki kontur tanah yang rata sehingga dapat mempermudah pada saat perencanaan. Ketinggian tanah memiliki elevasi lebih rendah dari jalan raya, sehingga perlu penambahan ketinggian elevasi tanah supaya terhindar dari banjir. Kondisi tapak sekarang ditumbuhi beberapa pohon dan rumput tinggi yang tidak terurus, sehingga perlu adanya perataan terlebih dahulu.
Kondisi tapak berada pada lingkungan yang dapat dikatakan aktivitas lumayan padat, karena berada pada pusat kota yang tepatnya berada pada daerah sekitaran Stadion Sepak bola, maka perlu adanya perbaikan fasilitas jalan untuk aksebilitas ke lokasi.
Gambar 26. Kondisi Tapak Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2021
c. Analisis Sirkulasi
Pola sirkulasi perlu mempertimbangkan akan atas tercapainya kemudahan dan kelancaran sirkulasi dalam bangunan tersebut. Pola sirkulasi tidak melenceng dari tata masa yang telah ditentukan. Pola sirkulasi dibedakan menjadi dua yaitu pola sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki pada kawasan bangunan pusat kebudayaan bugis.
1) Sirkulasi kendaraan
Pengelolahan jalur kendaraan baik bagi pengunjung, pengelola, yang dilakukan dengan cara:
a) Pemanfaatan sistem pengolahan lansekap dalam site yang mampu mengatur jalannya sirkulasi kendaraan dengan melakukan penambahan tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar, dan pemanfaatan material yang membentuk lanskap lainnya. Vegetasi yang ditanam disamping jalan berfungsi baik sebagai penunjuk arah jalan.
b) Pengggunaan fasilitas seperti tempat parkir kendaraan merupakan sala satu hal terpenting dalam menunjang sirkulasi kendaraan. Letaknya berada tidak jauh dari tempat kegiatan atau bangunan dan kontur tanah yang datar sehingga mempermudah sirkulasi parker.
2) Sirkulasi Pejalan Kaki
Sirkulasi pejalan kaki biasanya bagi pengunjung yang tidak memiliki kendaraan, selain bagi pengunjung ada juga bagi pengelolah maupun pegawai atau yang berkepentingan didalam kawasan Pusat Budaya. Maka perlu adanya sirkulasi yang nyaman untuk pengunjung maupun pengelolah.
a) Analisis View
View dalam tapak kearah selatan merupakan jln.
Gor Macannang sebagai jalan utama menuju lokasi dan merupakan view terbaik. View kearah utara merupakan suatu areah pemukiman atau perumahan warga, view dari timur salah satu view baik karena terdapat Stadion La Patau yang menjadi aikonik kota Bone.
Gambar 27. Analisis View
b) Analisis Arah Matahari
Kondisi tapak berada didaerah lahan pengembangan, lokasi tersebut masih kurang bangunan tinggi sehingga menyebabkan tapak akan terkena matahari secara langsung dari semua arah. Maka perlu adanya penambahan vegetasi sehingga meminimalisir panas secara langsung yang mnengenai bangunan.
Gambar 28. Analisis Matahari Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2021 c) Analisis Pergerakan Angin
Tapak berada pata tahap pengembangan, sehingga analisis arah datangnya angin barat daya maupun angina darat. Maka perlu adanya suatu pereduksi angin, salah satu
pereduksi angina adalah pohon.
Gambar 29. Analisis Pergerakan Angin Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2021 d) Analisis Kebisingan
Dapat kita analisis bahwa tapak berada pada daerah pengembangan, tapak tersebut dekat dengan jalan kabupaten yang merupakan pusat kebisingan yang tinggi, maka diburuhkan sesuatu pereduksi kebisingan terkhusus pada bagian depan fasat bangunan.
Gambar 30. Analisis Kebisingan
B. Analisis Fungsi dan Kebutuhan Ruang 1. Fungsi Bangunan
Fungsi utama perancangan Cultural Center di Kabupaten Bone yaitu gedung yang digunakan sebagai suatu wadah yang memfasilitasi kegiatan kebudayaan yang sebelumnya kurang terfasilitasi, serta menjadi tempat terlaksananya suatu pelatihan seni dan kebudayaan.
2. Analisis Pengguna dan Aktivitas a. Analisis Pengguna
1) Pengunjung atau Penikmat Kebudayaan
Yaitu ditunjukan untuk semua kalangan usia yang mempunyai minat tinggi kepada kebudayaan.
2) Pengguna atau Pelaku kebudayaan
Yaitu ditunjukan pada seseorang memiliki kesenian yang berupa perorangan maupun kelompok untuk mempertunjukan budaya yang dimilkinya dihadapan pengunjung.
3) Pengelolah a) Staf-Staf
Yaitu mengelolah dan memberikan kenyamanan pada pengunjung yang akan menikmati maupun mementaskan suatu kesenian budaya setempat.
Datang
Parkir Informasi
Pendidikan Kesenian Pusat oleh-oleh
Yaitu memberikan kenyamanan kebersihan dan kerapian suatu bangunan baik indoor atau outdoor sehingga menciptakan suasana menjadi lebih bersih dan baik bagi pengunjung maupun pengguna.
c) Security
Melakukan pengamanan lalu lintas kendaran yang baik dan tepat sehingga menciptakan alur kendaraan teratur.
Mengamankan hal-hal yang tidak diinginkan oleh pengunjung maupun pengguna.
Melaporkan sesuatu yang terjadi setiap harinya.
Bertugas melindungi orang yang berada disekitarnya dimana dia bertugas dan melakukan pengawasan dengan baik.
b. Analisis Aktifitas 1) Manusia
a) Pengunjung atau penikmat kebudayaan
Belanja Makan /
minum
b) Pengguna atau pelaku budaya
Datang
Parkir
Belanja Informasi Makan /
minum Pameran Latihan Pertunjukan Mengajar
Pulang
e) Security
Datang
Parkir Makan /
minum
Sumber
Informasi Menjaga keamanan
Pulang
2) Kendaraan
a) Kendaraan Pengunjung
Datang Pengendara
masuk/keluar Pulang
Parkir
b) Kendaraan Pengelolah
Datang Parkir Pulang
c) Kendaraan Servis
Datang Parkir Angkut/turunkan
barang Pulang
3. Kebutuhan Ruang
Tabel 3. Rekapitulasi Analisa Kebutuhan Ruang
Kelompok Ruang Kebutuhan Ruang Sifat Ruang
Kegiatan
Toilet
Toilet Servis Ruang Mekanikal Elektrikal
- ruang Panel
- Ruang Petugas Privat
Sumber : Analisa Penulis, 2021 4. Standar Besaran Ruang
Standar besaran ruang yang dipergunakan pada perencanaan Pusat Seni di Kabupaten Bone yang dipertimbangkan pada
standarisasi sebagai berikut:
Keterangan :
NAD : Neufert Architects Data AS : Asumsi
Tabel 4. Rekapitulasi Analisa Kebutuhan Ruang No Kelompok
R.Perawatan
Sirkulasi : 30% 1,174.356
total 5,087.876
68
2 Pengelola Ruang Informasi
3 Pengunjung Kuliner
4 Servis R.M.E
R.Panel 1 Unit 12m2 NAD 12
R.Pompa 1 Unit 20m2 NAD 20
R.Genset 1 Unit 20m2 NAD 20
Musholah
Tempat Shalat 600 org 0,6 m2/org NAD 360
Tempat Wudhu 15 org 0,72m2 NAD 10.5
Klinik
Ruang Tuggu 10 org 0,80m2 NAD 8
Ruang Periksa 1 Unit 6m2 NAD 6
Ruang Dokter 1 Unit 6m2 NAD 6
Ruang Obat 1 org 5m2 NAD 5
Wc 3 Unit 3m2 NAD 9
Keamanan
Ruang Petugas 4 Org 1,5m2/org NAD 6 Tabel 5. Rekapitulasi Analisa Besaran Ruang
No Kebutuhan Ruang Total/m2
1 Fasilitas Kegiatan Seni 5,087.876 m2
2 Fasilitas Pengelolah 329.276 m2
3 Fasilitas Penunjang 403.676 m2
4 Fasilitas Servis 601.25 m2
Total Seluruhnya 6,422.078 m2
Sumber: (Analisa Penulis, 2021)
5. Analisis Hubungan Ruang
Gambar 31. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
Gambar 32. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
3) Galeri
Gambar 33. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
Gambar 34. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
Gambar 35. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
2) Office
Gambar 36. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
Gambar 37. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
d) Servis
1) Ruang Mekanikal Eletrikal Ruang panel
Gambar 38. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
Gambar 39. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
Gambar 40. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
4) Keamanan Ruang Petugas WC
Keterangan Berhubungan Agak Berhubungan Tidak Berhubungan
Gambar 41. Analisis Hubungan Ruang Sumber: Analisa Penulis, 2021
C. Analisis Bentuk Banguna 1. Tampilan Bangunan
Pemilihan bentuk dan tampilan bangunan sesuai pertimbangan dari studi banding, pertimbangan, dan menyesuaikan konsep yang diambil yaitu arsitektur modern.
Bentuk bangunan dengan menggunakan tulisan lontara bugis sebagai bentuk dasar bangunan yang bertuliskan UGI yang artinya Bugis, karena lontara bugis merupakan salah satu warisan kebudayaan suku bugis. Dengan penerapan ini mampu menekankan pendekatan arsitektur modern karena mengikuti fungsi.
Gambar 42. Analisis Bentuk Bangunan Sumber: Analisa Penulis, 2021
2. Analisis Bentuk Pola Tata Massa
Konsep massa bangunan yaitu transformasi dari bentuk tulisan lontra bugis yang merupakan salah satu warisan kebudayaan bugis.
Gambar 43. Transformasi Bentuk Sumber: Analisa Penulis, 2021 D. Analisis Kelengkapan Bangunan
1. Sistem Struktur
Pada sistem struktur pada bangunan akan dibagi menjadi 2 bagian yaitu struktur bawah dan struktur atas.
a) Struktur Bawah
Sistem struktur ini berada di bawah permukaan tanah yang mempunyai peran penting saat membangunnkarena berfungsi menahan atau menerima beban yang disalurkan oleh struktur atas.
Pada perancangan pusat kebudayaan ini, struktur bagian bawah
bangunan menggunakan pondasi foot plate dan mempergunakan tiang pancang.
b) Struktur Atas
Pada struktur atap ini terdiri atas balok, kolom, plat, dinding, tangga, atap, yang masing-masing memilki peran penting dalam suatu pembangunan.
2. Sistem Penghawaan
Sistem penghawaan proses pengaliran suhu ke seluruh ruangan dengan kondisi suhu yang baik sehingga pengunjung merasa nyaman dengan komdisi bangunan tersebut. Penghawaan terbagi menjadi beberapa bagian antara lain:
a) Penghawaan Buatan
Penghawaan buatan yaitu proses penghawaan dengan udara buatan, proses ini hanya bersifat sementara tidak buat selamanya.
Penghawaan ini menggunakan sistem elektonik yang dibuat oleh manusia, contohnya AC dan kipas angina.
b) Penghawaan Alami
Penghawaan alami yaitu suatu proses penggunaan udara dari alam sekitar yang mengakibatkan penghawaan tidak pernah putus karena didukung dengan penggunaan ventilasi atau bukaan
seperti pintu dan jendela.
3. Sistem pencahayaan
Pencahayaan pada suatu ruangan sangatlah penting pada bangunan, dengan sistem pencahayaan yang ada membuatu suatu ruangan dalam bangunan menjadi lebih berkesan. Ada dua jenis pencahayaan pada bangunan yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan.
a) Pencahayaan buatan
Pencahayaan buatan suatu energi cahaya yang dibuat oleh manusia untuk memberikan penerangan suatu ruangan saat malam hari maupun pada saat cuaca buruk. Jenis lampu yang digunakan yaitu:
Pencahayaan buatan suatu energi cahaya yang dibuat oleh manusia untuk memberikan penerangan suatu ruangan saat malam hari maupun pada saat cuaca buruk. Jenis lampu yang digunakan yaitu: