• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tan Malaka dan Rancangan Ekonomi Sosialis

BAB II. SOSOK TAN MALAKA

III.4. Tan Malaka dan Rancangan Ekonomi Sosialis

128

pertentangan di antara kerja bersama oleh yang tak berpunya melawan milik perseorangan yang berpunya akan hilang lenyap. Masyarakat sedang menuju komunisme modern yang (seperti masyarakat) sosialis berdasarkan kerja bersama dan milik bersama atas alat dan hasil produksi. Hal tersebut merupakan cita-cita revolusi sosial yang dicita-citakan Tan Malaka bagi kemakmuran bangsa Indonesia.

Dalam masa genting revolusi nasional saat itu, Tan Malaka menyadari melaksanakan maksimum program dari pada minimum program adalah sesuatu yang rumit. Untuk menerapkannya, ia tetap mendasarkan pada kondisi yang ada dalam masyarakat Indonesia. Seperti yang pernah diungkapkannya; “merdeka dan sosialisme seratus persen” bisa dijalankan, adalah tergantung kekuatan lahir batin bangsa Indonesia sendiri dan keadaan di sekitar bangsa Indonesia. Ia menilai bangsa Indonesia terdiri dari petani yang merepresentasikan kelompok Islam dan borjuasi kelas menengah sebagai kelompok nasionalis serta kelompok proletar yang mewakili sosialis. Ketiga komponen ini harus bersatu untuk melakukan perjuangan. Oleh karena itu perlu dicari “persamaaan sebagai semen yang mempersatukan batu tembok” dan persamaan itu terdapat dalam satu rencana ekonomi sosialis. Seperti yang ditulisnya dalam brosur Rentjana Ekonomi129

129

Tan Malaka, Rencana Ekonomi Jakarta: Yayasan Massa, 1978

, ekonomi sosialis menurutnya merupakan rencana ekonomi yang dapat menolong rakyat Murba Indonesia keluar dari cengkraman kekuatan ekonomi kapitalis. Strategi itu didasarkan pada argumen tentang surplus value yang dikemukakan oleh Marx. Surplus

Value merupakan perampokan kelompok kapitalis terhadap rakyat Murba, oleh

dunia yang menurutnya perekonomian yang berdasarkan pada kapitalisme, demokrasi dan fasisme tidak mungkin mensejahterakan rakyat Indonesia.

Dalam perspektif keindonesiaan, kekuatan ekonomi yang ada telah dirampas oleh penjajah Hindia Belanda, sehingga tidak ada lagi yang tersisa, yang dapat dikembangkan oleh pengusaha-pengusaha pribumi. Hal inilah yang menyebabkan tidak adanya daya saing antar pengusaha pribumi terhadap pengusaha-pengusaha Belanda. Tidak adanya pengusaha bumiputera yang mempu menandingi imperialisme Belanda berarti tidak ada borjuasi lokal yang memiliki daya saing. Dalam kondisi ini, perjuangan melalui parlemen dan melakukan pemboikotan sebagimana yang terjadi di Philipina dan India tidak dapat dilaksanakan di Indonesia.

Tan Malaka menilai bahwa kapitalisme Indonesia adalah cangkokan dari Eropa yang dalam beberapa hal tentunya berbeda dengan kapitalisme modal Eropa dan Amerika Utara. Di Indonesia kapitalisme masih muda dan baru mulai di awal abad keduapuluh ketika industrialisasi pertanian mulai mengolah gula, karet, teh, dan beberapa produk pertambangan. Industrialisasi yang baru muncul itupun masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan beberapa tempat di Sumatera. Bahkan Tan Malaka menganggap Jawa sulit untuk diadakan industrialisasi modern mengingat keadaan bahan baku yang tidak memadai. Sedangkan di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain sangat kaya dengan bahan mentah, sehingga tinggal menunggu pengolahannya.130

Tan Malaka mengambil contoh di Inggris sebagai negara yang pertama kali menerapkan sistem industrialisasi. Negara tersebut pada pertengahan abad ke 19 telah mengadakan perubahan yang tepat dalam perindustriannya. Negeri-negeri Eropa yang lain dan Amerika Utara, merujuk pula dengan apa yang telah dirintis Inggris tersebut.

130

Teknik dan peraturan kerja di sana telah sampai pada tingkat setinggi-tingginya, yang belum pernah terjadi di belahan dunia manapun. Tenaga produksi dan distribusi jauh melewati batas kebutuhan nasional negaranya. Dengan mengikuti model tersebut, Eropa dan Amerika menjadi negara kapitalis yang mapan.131

Mengenai jumlah perdagangan (impor-ekspor) di Indonesia pada tahun 1924 (sesudah perang dunia II) ada f.2.208.800 (menurut International Ocean, no. 526, negeri Jerman pada tahun 1913 (sebelum perang dunia II ada f.13.375.000.000). Angka-angka tersebut, bagi Tan Malaka menunjukkan kemunduran Indonesia. Namun menurutnya, jika dibandingkan dengan negeri seperti Inggris, India, dan Philipina, kelihatannya Indonesia belum seberapa mundur. Dan bila dibandingkan dengan Turki, Siam, dan Tiongkok,

Pada prinsipnya, penggunaan model kapitalisme memberikan jarak antara kota dan desa. Kota menghasilkan produksi industri dan produksi pertanian. Makin maju kapitalisme, semakin banyak penduduk yang tadinya di desa-desa tertarik ke kota. Realitas tersebut dapat terjadi jika di kota tatanan sosial politiknya mendukung, artinya terciptanya keselarasan dan kedamaian, sehingga dengan demikian terbuka lapangan kerja yang luas dan merebaknya ruang pendidikan, kesenian, dan hiburan daripada di desa. Pada tahun 1790, di kota-kota berdiam 3,4% dan di desa-desa 96,6% penduduk dari seluruh jumlah penduduk. Dan pada tahun 1920 menjadi 51% dan 49%. Tan Malaka mengutip Loods No. 73 bahwa jumlah penduduk dari kota-kota yang mempunyai lebih dari 10.000 jiwa, di Jawa dan Madura pada saat itu baru 60% dari jumlah penduduk yang ada. Dengan demikian Tan Malaka menyimpulkan, jika menggunakan perbandingan penduduk kota dan desa sebagi ukuran kemajuan industri, niscaya pada saat itu Indonesia masih dalam keadaan bayi.

131

Indonesia jauh lebih baik. Dengan membandingkan tersebut, Tan Malaka berkesimpulan bahwa betapa mudanya kapitalisme di Indonesia.132

Namun dalam pandangan Tan Malaka saat itu, apa yang terjadi di Indonesia belum mencerminkan hal tersebut, sehingga harmonisasi ekonomi masih timpang dan belum terkoordinasikan. Ia menyebutkan misalnya di kota belum merepresentasikan sebagai produsen dari peralatan kebutuhan keluarga dan pertanian. Namun yang terjadi di kota hanyalah melakukan proses impor yang mendatangkan peralatan tersebut dari luar negeri oleh badan-badan imperialis. Demikian juga sebaliknya desa tidak mampu menghasilkan produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota, karena untuk keperluan mereka sendiri pun belum mencukupi. Sebagaimana dicontohkan Tan Malaka,

Dalam pandangan Tan Malaka, kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan dengan cara-cara produksi bumiputera yang menurut pada kemauan alam. Melainkan sebuah peralatan dan model asing, yang digunakan untuk kepentingan asing dengan cara kekerasan dan mendesak sistem produksi bumi putera. Hal tersebut sebagaimana yang terjadi di Amerika, tatkala model industrialisasi lokal mulai tergantikan dengan sistem kapitalisasi Eropa, meskipun perubahannya tidak begitu nampak jelas. Namun pada perkembangan tertentu jelas terlihat, ketika perubahannya begitu cepat.

Teori yang paling mendasar, sebagai penanda bahwa telah terjadi kemajuan industri di negara-negara, adalah berbanding lurus dengan berdirinya kota-kota yang telah berhasil memproduksi perkakas dan perlengkapan hajat hidup orang banyak seperti barang-barang besi, peralatan pertanian, dan obat-obatan. Ini diimbangi dengan hasil produksi desa yang terdiri dari beras, sayur, ternak, susu dan lain sebagainya. Di sinilah kontak ekonomi untuk saling menutupi kebutuhan satu sama lain.

132

beras sebagai makanan pokok, pada tahun 1921 harus didatangkan dari luar negeri dengan harga f.114.160.000. Ironisnya, sesungguhnya bangsa inipun pandai dalam dalam mengelola persawahan, tetapi mengapa harus impor? Jika demikian terus-menerus, dalam pandangan Tan Malaka hanya akan menguntungkan setan-setan luar negeri yang memiliki modal (kapital).133

Seandainya bangsa Indonesia tidak dirampok, dan memiliki kepandaian teknik serta dipengaruhi oleh orang asing, tentulah bangsa ini akan maju sesuai dengan tuntutan alam. Pada dasarnya kolonialisasi Belanda telah menghisap seluruh kekuatan ekonomi yang ada, sehingga tak meninggalkan satu pun yang berharga. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, muncullah para pengusaha bumiputera yang mulai bangkit bersamaan dengan kesadaran nasionalismenya. Bagi Tan Malaka, maju dalam perjuangan ekonomi melawan raksasa asing -dengan maksud meningkatkan industri nasional- sama dengan “menjaring angin”.

Politik “merampok” yang dilakukan bangsa kolonial Belanda terhadap kekayaan Nusantara sudah berlangsung sejak lama. Perampokan ini bahkan telah melumpuhkan dan memusnahkan benih-benih model industri bumiputera yang modern. Hongi-hongi

cultuurstelsel , monopoli stelsel, dan gencetan pajak yang membabi buta kian

mempersulit para pengusaha bumiputera. Ditambah lagi pemasukan dari saudagar Tionghoa yang teratur pada zaman kompeni (VOC) menghancurkan seluruh alat-alat ekonomi dan teknik nasional yang kuat.

134

Dengan demikian, jelaslah bahwa melindungi industri bumiputera modern menurut pandangan ekonomi baru tidak akan ada sama sekali. Sebab industri bumiputera

133

Ibid, hal. 40-41

134

modern memang tidak ada. Rakyat hanya ditindas, diinjak-injak, dan ditipu. Pemecatan kaum buruh secara sepihak bukanlah keanehan, dan cengkeraman pajak makin lama makin erat. Ekonomi rakyat tidak usah disebut-sebut, sebab negeri Belanda sangat bergantung pada kapital luar negeri.

Menurut Tan Malaka, perbaikan ekonomi rakyat Indonesia belumlah cukup, hanya dengan mendirikan apa yang dinamakan ‘braintrust’ (kelompok pemikir). Perbaikan perekonomian rakyat Indonesia hanya dapat dilakukan dengan bantuan dan watak rakyat sendiri. Buruh dan pedagang Indonesia sendiri harus turut campur dalam perencanaan produksi (penghasilan), distribusi (pembagian) serta pertukaran barang. Bagi Tan Malaka, tidaklah cukup selusin orang bertitel untuk memikirkan kepentingan buruh dan tani, tanpa mengikutsertakan buruh dan tani tersebut dalam proses produksi, distribusi, dan pertukaran barang. Buruh dan tani Indonesia akan giat bekerja apabila mereka merasakan sendiri manfaat dalam setiap perencanaan ekonomi.

Dengan demikian, Braintrust merencanakan produksi dan distribusi hanya untuk segelintir kepentingan manusia. Maka rencana itu tak akan bertahan lama di Indonesia. Apalagi bila rencana Braintrust itu harus disandarkan pada kerjasama dengan Belanda dan kekuatan modal asing lainnya. Rencana tersebut hanya akan menjadi rencana modal asing saja. Dan Braintrust hanya akan menjadi kuda troya bagi kekuatan modal asing tersebut.135

Penyakit perekonomian rakyat Indonesia sudah begitu akut, sebagai akibat dari wabah kapitalisme Belanda yang berkembang selama 350 tahun, dan sebagai akibat dari kapitalisme-militerisme Jepang selama 3,5 tahun. Bagi Tan Malaka, penyakit masyarakat tersebut tersebut tidak dapat diobati dengan pil lagi, melainkan harus dilakukan

135

penbedahan melalui operasi. Baginya, perekonomian Indonesia terutama sekali baru dapat diselenggarakan dalam republik yang merdeka 100%, dimana minimal 60% rakyat memiliki dan menguasai produksi, distribusi, upah, ekspor, dan impor.136

Dalam strategi ekonominya, Tan Malaka menghendaki kepada kaum Murba untuk tanggap terhadap setiap proses ekonomi yang dihadapi dan tidak hanya berpangku tangan saja. Murba yang terdiri dari buruh, tani, pedagang, rakyat, serta kelompok intelektual harus menunda rencana ekonomi sejati hingga Revolusi Indonesia selesai dengan kemenangan kaum Murba. Namun demikian, kaum Murba dalam masa revolusi juga tetap dianjurkan untuk tetap menjalankan rencana ekonomi, yaitu ‘rencana ekonomi perang’. Dalam perang ekonomi melawan Belanda, Tan Malaka merumuskan dua hal;

Pertama, mengambil sikap dan tidakan dalam ekonomi (yaitu dalam produksi, distribusi

dan lain-lain) untuk merugikan perekonomian Belanda, Kedua, mengambil sikap dan tindakan dalam ekonomi yang bersifat menguntungkan rakyat yang sedang melakukan revolusi.

137

Demikianlah rencana ekonomi secara garis besar yang diuraikan Tan Malaka. Paling tidak, ia mengidealkan kemandirian ekonomi dari bangsa Indonesia yang

Siasat ekonomi hendaknya bisa menambah apa yang sudah ada. Para ahli hendaknya terus memikirkan untuk menghasilkan perkakas dan obat-obatan seperti yang telah dihasilkan dari zaman Jepang sampai sekarang. Hasil yang menggembirakan bagi rakyat, harus diteruskan dan diperbesar serta diperbaiki. Selain itu, Tan Malaka juga mengharuskan adanya sistem koperasi untuk mengisi kekurangan dalam siasat ‘perang ekonomi’ dalam menghadapi perekonomian musuh.

136

Untuk mengetahui lebih lengkap strategi ekonomi lihat pada: Tan Malaka, Rencana Ekonomi Jakarta: Yayasan Massa, 1978

137

berangkat dari kultur dan cara kerja ekonomi bangsa sendiri. Sekalipun demikian, juga diperlukan strategi perlawanan terhadap hegemoni kekuatan ekonomi kapitalistik, melalui strategi yang berbasiskan pada tradisi dan kekayaan pengetahun bumiputera. Rakyat harus ikut serta dalam setiap proses produksi, sehingga mereka merasa memiliki dan dilibatkan, yang pada akhirnya akan bahu-membahu membentengi perekonomian nasional dari campur tangan asing. Perjuangan ekonomi tersebut dapat diwujudkan jika kita telah merdeka 100%. Selama kemandirian belum terbentuk, maka mustahil akan tercipta tatanan ekonomi yang mandiri. Dengan demikian, akan tercipta keseimbangan ekonomi antara Indonesia dengan masyarakat internasional lainnya.

Dokumen terkait