• Tidak ada hasil yang ditemukan

65 Tanah Sunda

Dalam dokumen QEMAH RIPAtt U/IBAU/A MUKTI (Halaman 67-76)

setiap harinja, sekalipun umpamanja setelah dua hari demam- nja sudah hilang.

Kina penting sekali baik bagi Indonesia sendiri maupun bagi seluruh dunia.

P a b rik kina b agian dalam .

,,Kantukku hilang Kang, mendengarkan tjeritera akang jang

menarik itu.” •

*,Ja, walaupun begitu, karena hari sudah djauh malam, ma­

ri kita pergi tidur/’ .

Tidak lama kemudian Maman dan Didi sudah tidur dengan njenjaknja. Hanja dengkur mereka sadja jang sekali-kali ter- dengar.

x n . KE KAWAH GUNUNG TANGKUBANPERAHU. Hari Minggu pagi2 benar Maman dan Didi sudah bangun. Walaupun hawa masih dingin mereka memberanikan diri djuga untuk mandi. Mereka menggigil kedinginan. Badju mereka rasa- nja kurang tebal.

„ Makan pagi dahulu,” kata Tjeu Jati. ,,Untuk disana kita se- lakan djuga makanan. Membawa makanan perlu, sebab di tem­ pat dingin perut lekas merasa lapar.”

Habis makan kang Herlan memeriksa djipnja, kalau2 ke- kurangan air atau minjak. Teliti benar ia memeriksanja. Kotak perkakas, ban tjadanganpun tidak dilewatinja. Achirnja motor- nja didjalankan. Didengarkan suaranja. Puas dia sekarang rupa- nja.

Maman dan Didi memasukkan barang2 jang akan dibawa. Tjeu Jati djuga akan turut. Sedjurus kemudian djip Jceluar ha-

larnan rumah dan meluntjur ke djalan raja, .

Djalan Dr. Setiabudi sudah mulai ramai dengan lalulintas. Kendaraan2 jang mewah berlomba-lomba. Melihat tanda-tanda- nja,' kendaraan2 itu kebanjakan berasal dari luar Bandung.

„Pada hari Minggu atau hari libur banjak sekali orang2 dari kota2 lain datang ke Bandung. Umumnja mereka djuga ti­ dak lupa berkundjung ke Lembang dan ke kawah,” kata Tjeu- Jati.

Djalan berliku-liku dan mendaki terus.

„Tuh, gedung jang nampak dari sini „Bumi Siliwangi” , ja­ itu Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.”

Jang ditundjuk semakin dekat. ,,Gedung2 jang ditepi dja­ lan adalah perumahan2 para gurubesar.”

,,Mengapa rumah2 itu seperti tidak ada atapnja, Kang ? Suatu kegandjilan lagi bagiku.”

,,Memang disengadja 'dibuat demikian, Di. 'Katanja model Amerika. Atapnja tidak bergenting tetapi dibuat dari beton.”

Rumah2 ini masih baru. Tetapi gedung jang besar berting- kat itu jang diperguhakan untuk perguruan sendiri, sudah la- ' ma. Gedung ini dahulu dibangun oleh seorang wartawan-harta- wan bangsa asing, Berretty namanja. Gedungnja sendiri diberi nama „Isola” . Dalam zaman repolusi mengalami kerusakan2 he- bat sekali. Setelah dibangun kembali, sekarang didjadikan ge­ dung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan bernama

,.Bumi Siliwangi” . .

Kiri kanan djalan sawah jang sedang menguning diselingi oleh gedung- jang' beraneka gajanja. Diantaranja banjak j.ang masih baru atau belum selesai dibangun.

Djalan mendaki terus. Banjak benar hotel2 dan tempat per- istirahatan. ditepi djalan ini. Achirnja mereka tiba dimuka Grand Hotel Lembang” . Mobil2 jang mentereng, beraneka-war- na dan bentuknja berderet-deret berhenti di halaman hotel,

sampai di djalan dimukanja. Anak2 maupun orang dewasa ba­ njak jang mempergunakan kesempatan berkendara kuda sewa- an.

„Ada keramaian apa disini begitu banjak mobil2 berkum-

pul.” ,

,,Tak ada keramaian apa2. Jang mengundjungi hotel ini

hampir semua pelantjong2 jang berkelebihan uang. Mereka da­

tang untuk berenang, berdansa, bermain tenis ada djuga jang hanja untuk beromong-omong sambil makan-minum.”

G ed u n g F .K .T .P . B an d un g.

L,ewat pasar djalan membelok ke kanan, Ditepi djalan se- 'arang nampak kebun-kebun kol dan kentang. Disana-sini djuga

^ebun djagung dan palawidja lainnja. Sampai simpang tiga kang

Herlan membelokkan djipnja ke kiri. Bangunan2 besar mulai

berkurang sekarang. Djalan mulai lagi berbelok-belok dan me-

naik-turun melalui djembatan2 jang sempit. Tjuatja tjerah dan angm mendesir ke telinga. Tak seorangpun berbitjara, semua di-

am sadja. Mereka diam sambil menikmati keindahan peman-

dangan dan mengagumi kemegahan alam. Pemandangan mulai

berubah.

Tumbuh-tumbuhan jang sekarang nampak adalah pohon"

tusam (Pinus merkusii) jang ditanam oleh Djawatan Kehutanan.

Pohon tusam menghasilkan getah jang mengandung terpenten

dan gandarukem (bahan batik). Tetapi karena biaja2 jang ting­ gi untuk mengerdjakannja, terpenten jang dihasilkan harganja

tinggi pula j sehingga tidak dapat bersaingan dengan terpenten- buatan jang didatangkan dari luarnegeri.

Ketjuali diambil getahnja pohon tusam menghasilkan kaju jang berguna, umpamanja untuk korek api, bahan bangunan dan bahan kertas.

T e m p a t pem bajaran sum bangan kepada Bandung P erm ai.

Djip tiba2 berhenti. Kedua anak jang sedang terpesona oleh kebesaran alam seakan-akan tersentak dari lamunannja.

„Mengapa berhenti?” tanja mereka agak tjemas. •

„Djalan jang akan kita tempuh sekarang adalah djalan jang dirawat oleh sebiiah badan partikelir, jaitu „ B a n d u n g Permai” . Oleh karena itu setiap kendaraan jang mempergunakannja harus membajar Rp. 10,— sebagai sumbangan.”

Setelah memenuhi kewadjiban kendaraan2 jang berderet- deret itu berganti-ganti- bergerak lagi. Begitu pula djip kang Herlan.

Djalan bertambah sempit, dakian bertambah berat, tetapi Kang Herlan dengan tenang dan tabah mengemudikan kendara- annja. Sekali2 djuga mengelakkan langgaran dengan kendaraan lain jang sekonjong^konjong muntjul dari balik tebing tanpa

memberi isjarat. , ^

Bau belerang mulai tertjium sekarang.

,,Sudah dekat ke 'kawah kita sekarang,” kata Tjeu Jati. „Bau

belerang sudah tertjium.” .

Tumbuh-tumbuhan jang nampak kini djuga berubah : po­ hon- jang besar- dan tinggi tak ada lagi. Jang ada hanja p o h o n - an kerdil dan djenis paku. Dakian habis dan djalan jang

ditem-puh tak beraspal lagi.

Dari dalam sebuah djurang keluar asap mengepul.

K aw a h R a tu .

„Nah sekarang ki-ta sudah sampai ke tempat jang ditudju.

Di tempat perhentian kendaraan mereka turun. Disini su­ dah banjak kendaraan- lain. Sebagian dari pengundjung se- dang asjik mengamat-amati kawah dari tepi. Lainnja naik keatas „gubug pemandangan” agar mendapat pemandangan jang le­ bih luas lagi. Ada djuga jang masuk rumahmakan atau meanbeli penganan jang didjadjakan disitu.

„Mari kita djalan2 mengitari kawah. Penganan baik kita bawa sadja. Kita nanti dapat makan-minum didekat pos penga- wasan. Disana tempatnja baik.

Disalahsatu bangku di. halaman pos pengawasan mei'eka mengaso.

„Kalau kita berdjalan kaki dari Lembang, kita keluar dise­ belah sana,” kata Kang Herlan sambil menuding sebuah tebing

jang tinggi jang nampak diseberang kawah. ,,,Perdjalanan tentu lebih bei'at tetapi bagi para pentjinta alam lebih menarik. Dari tebing ini turun kebawah dan dengan melalui tebing jang ada dibawah itu, jang merupakan batas antara Kawah Ratu dan Ka­

wah Upas tibalah kita ditepi sebelah sini ”

„ Seram benar nampaknja djalan itu,-apalagi pendakiannja. Lain kali kalaii kita mempunjai lebih banjak waktu, akupun ingin menempuh djalan itu. Berapa dalamnja kawah2 ini Kang?” „Menurut keterangan Kawah Ratu 170 m dan Kaioah Upas

110 m dihitung dari tempat duduk kita.”

,,Bukan main dalamnja !”

Sambil menikmati makanan jang dibawa dari rumah, Ma­ man teringat dongengan mengenai djadinja Gunung Tangkuban­ perahu ini.

„Apa benar, Kang, gunung ini asalnja dari perahu ? Bagai- mana kisah jang sebenarnja ? Ku pernah dengar hanja sedikit2

sadja.” ’

,;Ah, itu hanja dongeng sadja jang tak perlu kita pertjajai. Walaupun demikian ada baiknja djika kita mengetahui dongeng atau tjeritera-temurun jang ada sangkut-pautnja dengan tem­ pat2 jang ada di tanah air kita.”

* XIII. SANG KURIANG DAN DA JANG SUMBI

Djaman dahulukala adalah seorang putri, Dajang Sumbi namanja. Ia mempunjai seorang anak laki2 jang bernama Sang

Kuriang.

Pada suatu hari terdjadilah pertengkaran antara ibu dan anak. Sang Kuriang dipukul oleh ibunja dengan senduk jang kena kepalanja hingga luka. Sang Kuriang, karena sakithati, me- ninggalkan rumah ibunja dan pergi mengembara tanpa mem­ punjai tudjuan tertentu. Setelah berlangsung berpuluh-puluh tahun Sang Kuriang dengan tidak disadarinja kembali ke kam­ pung halamannja semula. Ia sudah mendjadi pemuda jang tampan rupanja. Ibu dan anak bertemu kembali. Anehnja Dajang Sumbi dalam waktu jang sekian lamanja itu tidak nampak men­ djadi tua. Ia tetap muda dan rupanja tetap tjantik. Sang Kuriang tak mengenai ibunja lagi dan Dajang Sumbi pun tidak mengenai anaknja.

Sang Kuriang djatuh tjinta pada putri jang rupawan ini, dan Dajang Sumbi membalas tjinta dari sang pemuda jang gagah dan tampan itu. Ia tidak berkeberatan untuk mendjadi isteri

Sang Kuriang. .

Karena sesuatu hal Dajang Sumbi mengetahui bahwa Sang Kuriang mempunjai ^bekas luka di kepalanja. Suatu penemuan jang sangat mengedjutkannja. Ia sadar .bahwa pemuda bakal su- aminja itu adalah anaknja sendiri. Sjukur belum texiambat. pi' kirnja. Besar benar dosanja, djika ia djadi diperisterikan oleh anaknja sendiri ! '

Penemuan ini ditjeriterakan kepada Sang Kuriang. Tetapi anaknja tidak mau pertjaja ; disangkanja ini hanja akal sadj dari Dajang Sumbi untuk membatalkan perkawinan. Tidak m a n i­ kin bahwa ibunja jang sudah ia tinggalkan sedemikian lamania itu, masih semuda ini.

Sang Kuriang tetap pada niatnja : Dajang Sumbi

harus-mendjadi isterinja. ■

Dajang Sumbi mendjadi bingung. Haruslah ia m e n e p a t i

djandjinja dan' membuat dosa jang sekian besarnja ? Tidak.

perkawinan dengan anaknja harus digagalkan. ,

Dalam suasana bingung dan ,takut ini ia mendapat akal. De-

ngan lemah lembut ia katakan kepada Sang Kuriang bahwa ia

mempunjai permintaan. Djika perkawinan sudah dilangsung- kan ia ingin berlajar-lajaran dengan perahu diatas danau. Oleh karena itu Sang Kuriang harus'membuat perahu dan, memben- un£ Tjitarum untuk didjadikan danau. Pekerdjaan ini harus selesai dalam satu malam.

Permintaan ini sangat berat dan tak mungkin dapat dilak- sanakan oleh siapapun. Tetapi Sang Kuriang, oleh karena mak- -sudnja ingin terlaksana, menjanggupinja ; malam itu akan ia

kerdjakan. . ^

Baru sadja matahari terbenam disebelah Barat mulailah Sang Kuriang bekerdja. Dengan bantuan machluk halus Tjita­ rum sudah dibendung dan airnja sudah mulai naik. Perahu se­

karang mulai dibuat. .

Sementara itu Dajang Sumbi dengan tjemas m e m p e r h a t i -

an djalannja pekerdjaan. Air di danau sudah irfendekati tepi perahupun sudah mendekati penjelesaiannja. Tetapi tekad* nJa tetap : perkawinan harus digagalkan.

Maka dilaksanakannjalah akal jang terachir. Ia memben- tangkan kain-saktinja jang disebut boeh larang dan menaburkan daun2 adjaib, daun kingkilaban. Tak lama kemudian tjahaja me- rah nampak di ufuk Timur. Lesung dipukulnja dan ajam2 djan- tan jang terbangun mulai berkokok ganti-berganti menjambut fadjar menjingsing.

Sang Kuriang, demi melihat bahwa maksudnja tak akan tertja'pai, mendjadi marah dan malu. Perahu jang belum lagi se- lesai ditendangnja hingga terbalik (Sunda = nangkub). Dajang Sumbi dikedjar-kedjarnja, tetapi sempat menghilang masuk ke-

dalam bunga djaksi. _

Itulah dongeng Sang Kuriang dan Dajang Sumbi. Kata orang oerahu jang terbalik itu mendjadi Gunung Tangkubanperahu. Tunggak pohon jang batangnja diambil untuk membuat perahu mendjadi Gunung Bukittunggul (tunggul = tunggak). Dahan2 jang dibuang dari batang pohon mendjadi Gunung Burangrang (rangrang = dahan). Tempat2 lain jang dihubungkan dengan dongeng ini adalah Gunung Putri tempat Dajang Sumbi meng­ hilang dan Pasir Hajam. Bekas bendungan danau itu diberi ■nama Sanghiang Tikoro. Di tempat ini Tjitarum membuat te- rowDngan didalam bukit batu. Letaknja dekat Radjamandala. Benar tidaknja dongeng ini tak seorangpun dapat membukti-

kannja.

-Akan tetapi, bahwa danau itu dahulu kala ada, menurut penjelidikan para ahli memang benar.

Dataran tinggi, dimana sekarang terletak Bandung, bebe- rapa ribu tahun jang lampau merupakan dasar dari sebuah situ atau danau jang sangat luas. Pandjangnja dari Tjitjalengka sampai Radjamandala dan lebarnja dari Dago sampai Soreang. Tentu tidak rata bentuknja. Dibeberapa" tempat mempunjai teluk2 dan di tempat2 lain mempunjai tandjung2. Nama2 tempat

Tandjungsari dan Udjungberung menguatkan, bahwa Kota

Bandung dan sekitarnja itu berasal dari danau.

Danau ini terdjadi karena meletusnja Gg. Burangrang. Dari kawah gunung ini keluar lahar jaitu lumpur panas jang mengalir ke Barat-Daja dan masuk kedalam Tjitarum. Setelah membeku mendjadi bendungan, jang membendung air Tjitarum.

Bendungan itu letaknja di Sanghiang Tikoro sekarang. Air meluap bertambah lama bertambah tinggi dan setelah

ratus mungkin beribu-ribu tahun mendjadi dansfu jang luas jaitu Talaga Bandung.

Tetapi diantara batu jang membendung, air danau mene- mukan djalan untuk mengalir. Mula- merembes sedikit demi sedikit. Rembesan jang ketjil .mengkikis batu. Rembesan

ber-O'v*, 5? >/,i,

^ 4 t , v 4 I v ,g . t a m g k u b a n PA R A H U

"■■g:bur‘ an6 'ran6 j i „... c

Dalam dokumen QEMAH RIPAtt U/IBAU/A MUKTI (Halaman 67-76)

Dokumen terkait