Bentuk Batang : silindris
Warna Batang : hijau garis ungu Bentuk Daun : lanset
Warna Daun : hijau tua Warna Kepala Putik : kuning Warna Kepala Sari : ungu Warna Mahkota Bunga : putih Warna Kelopak Bunga : hijau
Posisi Bunga : menggantung Bentuk Buah : memanjang Bentuk Ujung Buah : runcing
Warna Buah Intermediet : ungu kecoklatan Warna Buah Masak : merah
Tinggi Tanaman (cm) : 75.37 ± 5.20 Tinggi Dikotomus (cm) : 25.05 ± 0.56 Lebar Kanopi (cm) : 56.87 ± 4.16 Diameter Batang (mm) : 8.12 ± 0.82 Panjang Daun (cm) : 6.38 ± 0.19 Lebar Daun (cm) : 2.12 ± 0.16 Umur Berbunga (HST) : 33.67 ± 0.58 Umur Panen (HST) : 100.00 ± 1.00 Panjang Buah (cm) : 10.67 ± 0.66 Diameter Buah (mm) : 6.49 ± 0.94 Tebal Kulit Buah (mm) : 1.24 ± 0.07 Bobot per Buah (g) : 1.97 ± 0.28 Jumlah Buah per Tanaman (buah) : 36.78 ± 3.06 Bobot Buah per Tanaman (g) : 127.33 ± 6.03 Produktivitas (ton/ha) : 4.07 ± 0.19
Yield Evaluation of 14 Chili Pepper (Capsicum annuum L.) Lines IPB in Boyolali, Central Java
Annisa Rachmi Ayurihana1dan Muhammad Syukur2
1
Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB
2
Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB
Abstract
This research was intended to evaluate the yield of 14 chili pepper lines from Plant Breeding Program, Department of Agronomy and Horticulture, IPB, and then compare them with five commercial varieties. This research was done from February until July 2011 in Boyolali, Central Java.
Plant material was used to this research were 14 chili pepper lines, that were IPB001004, IPB002001, IPB002003, IPB002005, IPB002046, IPB009002, IPB009003, IPB009004, IPB009019, IPB015002, IPB015008, IPB019015, IPB110005, and IPB120005, and then five commercial varieties as comparator, that were Tombak, Gelora, Tit Super, Trisula, dan Lembang 1 variety. This research was arranged in Randomized Complete Block Design with three replications.
The result showed that IPB009004 was identified as line with the first early flowering as compared with all of commercial varieties except Tombak. Days to harvesting of IPB002005 was earlier than Tombak, Gelora, and Trisula. IPB009004 line had a lot of chili pepper¶VIUXLWWKDQ7RPEDN*HORUD, and Trisula. Line of IPB009003 had a number of totally weight and productivity was bigger as compared with Lembang 1.
Latar Belakang
Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Cabai memiliki berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia. Cabai mengandung antioksidan yang berfungsi menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Cabai juga mengandung lasparaginase dan capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker. Cabai merupakan kebutuhan yang harus ada karena dikonsumsi setiap hari dan dalam keadaan segar. Menurut Navarro et al. (2006), cabai merupakan salah satu tanaman famili Solanaceae yang sangat penting di dunia.
Produksi cabai di Indonesia pada tahun 2006 adalah sebesar 1 185 057 ton, namun pada tahun 2007 terjadi penurunan produksi menjadi 1 128 792 ton. Produksi cabai kemudian meningkat pada tahun 2008 dan 2009, yaitu 1 153 060 dan 1 378 727 ton, tetapi mengalami penurunan kembali pada tahun 2010 menjadi 1 328 864 ton. Pada tahun 2009, luas panen cabai adalah 233 904 ha dengan produktivitas sebesar 5.89 ton/ha. Pada tahun 2010, luas panen cabai adalah 237 105 ha dengan produktivitas sebesar 5.60 ton/ha. (Badan Pusat Statistik, 2011). Menurut Purwati et al. (2000), potensi produktivitas tanaman cabai dapat mencapai 12 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas cabai nasional masih belum teroptimalkan.
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai di Indonesia adalah belum optimalnya teknik budidaya yang digunakan. Selain itu, terbatasnya ketersediaan varietas unggul dan berdaya hasil tinggi, serta besarnya kehilangan hasil yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit juga menjadi kendala untuk mencapai produktivitas cabai yang tinggi.
Berbagai usaha dalam meningkatkan produktivitas cabai sangat perlu dilakukan untuk memenuhi permintaan cabai yang semakin meningkat. Benih bermutu dari varietas unggul merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan produksi di bidang pertanian. Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas cabai adalah dengan perakitan varietas unggul melalui kegiatan pemuliaan tanaman (Syukuret al., 2010).
Saat ini banyak petani yang telah menggunakan benih varietas unggul, akan tetapi sebagian benih tersebut merupakan benih impor. Perakitan varietas dalam negeri diharapkan mampu menghasilkan varietas unggul baru yang sesuai untuk ditanam di berbagai daerah di Indonesia.
Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB telah melakukan perakitan cabai sejak tahun 2003 dan sudah melepas varietas cabai besar hibrida IPB CH3 pada Mei 2010. Saat ini telah diperoleh beberapa galur cabai yang berpotensi unggul yang akan dilepas sebagai varietas baru. Calon varietas ini diharapkan mampu bersaing dengan varietas cabai yang beredar di pasaran.
Calon varietas galur cabai IPB tersebut sedang diuji di beberapa lokasi dalam rangka pelepasan varietas, salah satu lokasinya adalah di Boyolali. Boyolali merupakan salah satu sentra produksi cabai di Jawa Tengah. Penanaman yang dilakukan adalah penanaman tahun kedua yang merupakan salah satu tahapan untuk pelepasan varietas.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan daya hasil 14 galur cabai IPB dibandingkan dengan lima varietas pembanding.
Hipotesis
Terdapat satu atau lebih galur cabai IPB yang memiliki daya hasil lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding.
Botani dan Morfologi Cabai
Cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk kedalam famili Solanaceae. Terdapat sekitar 20-30 spesies yang termasuk kedalam genus Capsicum, termasuk diantaranya adalah lima spesies yang telah dibudidayakan, yaitu C. baccatum, C. pubescens, C. annuum, C. chinense, dan C. frutescens (Greenleaf, 1986; Pickersgill, 1989). C. baccatum dan C. pubescens mudah diidentifikasi dan dibedakan satu dengan lainnya, karena terdapat perbedaan yang jelas pada kedua spesies tersebut. Namun C. annuum, C. chinense, dan C. frutescens hampir mempunyai banyak sifat yang sama. Untuk membedakannya dapat dengan mengamati komposisi bunga dan buah dari masing-masing spesies.
Klasifikasi tanaman cabai adalah sebagai berikut (Lawrence, 1951) : Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Ordo : Tubiflorae Famili : Solanaceae Genus : Capsicum
Spesies :Capsicum annuum L.
C. annuum berasal dari Meksiko, termasuk komoditi penting dan banyak dibudidayakan di Meksiko dan negara-negara lain di dunia. Sebelum abad ke-15, spesies ini lebih banyak dikenal di Amerika Tengah dan Selatan. Kemudian diintroduksi ke daratan Eropa tahun 1943. Setelah Columbus membawa dan menyebarkan cabai ke Eropa, C. annuum menyebar cepat dari Eropa ke Asia dan Afrika (Kusandriani, 1996).
Menurut Siemonsma dan Piluek (1994), Capsicum annuum L. merupakan tanaman semusim (annual) yang berbentuk semak dengan tinggi mencapai 0.5-1.5 m serta memiliki akar tunggang yang sangat kuat dan bercabang-cabang. Tanaman cabai mempunyai batang berkayu dengan tipe pertumbuhan tegak atau menyebar, diameter batang mencapai 1 cm, berwarna hijau sampai hijau
kecoklatan dan umumnya terdapat bercak ungu di dekat node. Daun berbentuk ovatedengan ukuran 10 cm x 5 cm hingga 16 cm x 8 cm dan berwarna hijau muda sampai hijau tua. Mahkota bunga cabai berbentuk campanulate hingga rotate dengan 5-7 helai dan berwarna putih. Tanaman ini memiliki 5-7 benangsari yang berwarna biru hingga keunguan. Panjang buah cabai mencapai 30 cm, berwarna hijau, kuning, krim atau keunguan ketika masih muda, dan berwarna merah, oranye, kuning hingga coklat ketika sudah tua.
Bunga cabai termasuk bunga hermaprodit dan bersifat kasmogami. Bunga hermaprodit adalah bunga yang mempunyai putik dan polen yang terdapat pada satu bunga, sedangkan bersifat kasmogami berarti waktu penyerbukan terjadi pada saat bunga sudah mekar. Oleh karena itu, pada cabai masih memungkinkan terjadi penyerbukan silang (Sujiprihati et al., 2008). Penyerbukan silang pada cabai secara alami dapat terjadi dengan bantuan lebah. Persentase penyerbukan silangnya dapat mencapai 7.6-36.8%, dengan rata-rata 16.5% (Greenleaf, 1986). Umumnya biji cabai berwarna putih kekuningan berbentuk ginjal dan keras (Kusandriani dan Permadi, 1996). Komponen rasa pedas pada cabai ditimbulkan oleh zat capsaicin (C18H27NO3) yang terkandung dalam jaringan sekat buah dan
plasentanya, tetapi tidak terdapat di dalam dinding buah atau biji (Rutabatzky dan Yamaguchi, 1999).
Syarat Tumbuh Tanaman Cabai
Tanaman cabai mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Tanaman ini dapat diusahakan pada setiap jenis tanah, baik pada tanah ringan sampai tanah berat. Tanaman ini dapat ditanam di dataran rendah (suhu tinggi) maupun dataran tinggi (suhu rendah) sampai pada ketinggian 1400 m diatas permukaan laut (m dpl), tetapi pertumbuhannya di dataran rendah lebih cepat.
Kondisi fisik tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah tanah yang strukturnya remah dan kaya akan bahan organik, pH tanah antara 6.0-7.0, dan tempatnya terbuka atau sedikit ternaungi. Pada umumnya, cabai ditanam di sawah setelah panen padi, tetapi ada pula yang ditanam di tegalan. Apabila ditanam di sawah, biasanya ditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di tegalan biasanya ditanam pada awal musim hujan. Pemilihan musim ini diharapkan agar di tanah
sawah kandungan airnya tidak berlebihan dan di tanah tegalan cukup air untuk pertumbuhan cabai. Namun pada waktu tanaman berbunga dan berbuah, keadaannya sedang tidak hujan lebat, karena dapat mengakibatkan banyak bunga dan bakal buah yang gugur serta busuk (Suwandi, 1995).
Pemuliaan Tanaman Cabai
Pemuliaan tanaman merupakan suatu usaha untuk memperbaiki bentuk atau sifat tanaman. Cara ini lebih cepat bila dibandingkan dengan perbaikan secara alamiah. Pemuliaan tanaman merupakan perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan, serta memerlukan kegiatan lapangan secara terus-menerus dan berkesinambungan selama beberapa tahun. Proses pemuliaan tanaman diawali dengan mendapatkan variabilitas genetik, kemudian melalui kegiatan seleksi pada sumber genetik yang bervariasi tersebut dilakukan persilangan-persilangan dan seleksi lanjutan. Proses selanjutnya adalah pemurnian, uji generasi lanjut, percobaan varietas, kemudian pelepasan varietas.
Cabai merupakan tanaman yang kebanyakan menyerbuk sendiri (self polinated), sehingga metode pemuliaannya sesuai dengan metode-metode yang berlaku umum bagi tanaman menyerbuk sendiri. Metode yang paling banyak digunakan adalah seleksi massa, seleksi galur murni, silang balik (back cross), pedigree, dan SSD (Single Seed Descent). Tujuan pemuliaan cabai adalah untuk memperbaiki daya dan kualitas hasil, perbaikan daya resistensi terhadap hama dan penyakit, perbaikan sifat-sifat hortikultura, dan perbaikan terhadap kemampuan untuk mengatasi cekaman lingkungan (Kusandriani dan Permadi, 1996).
Pelepasan Varietas
Pelepasan varietas adalah pengakuan pemerintah terhadap varietas unggul hasil pemuliaan di dalam negeri dan/atau introduksi yang dinyatakan dalam Keputusan Menteri Pertanian bahwa varietas tersebut dapat disebarluaskan (Badan Benih Nasional, 2007). Menurut pedoman Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura (2004), syarat pelepasan varietas adalah silsilah tetua dan cara mendapatkannya harus jelas, lebih unggul dibandingkan dengan varietas komersial yang sudah dikembangkan sebelumnya, harus terdapat deskripsi
varietas yang lengkap dan jelas, serta ketersediaan benih. Untuk memenuhi semua persyaratan tersebut, perlu dilakukan uji daya hasil yang merupakan salah satu rangkaian uji multi lokasi terhadap genotipe cabai yang akan dilepas sebagai varietas baru. Dalam pengujian tersebut harus ada varietas pembanding dari varietas komersial yang sudah ada. Hasil pengujian harus menunjukkan bahwa genotipe cabai calon varietas baru harus mempunyai potensi yang lebih unggul daripada varietas pembanding.
Varietas Cabai Pembanding
Tombak merupakan varietas introduksi dari Thailand yang dikembangkan oleh PT. Tanindo Subur Prima. Gelora merupakan varietas cabai merah besar yang dikembangkan oleh PT. Sinar Bumi. Tit Super merupakan varietas lokal murni yang dikembangkan oleh PT. East West Seed Indonesia. Tinggi tanaman varietas Tit Super adalah 60 cm, buah muda berwarna hijau, buah tua berwarna merah, panjang buah 12 cm, ujung buah runcing, permukaan buah agak bergelombang, umur panen 60 hari setelah tanam (HST), dan mempunyai potensi hasil 20 ton/ha serta tahan terhadap penyakit antraknosa (Suwandi, 1995).
Trisula merupakan varietas bersari bebas asal Blitar yang dikembangkan oleh UD. Ridwan Tani. Tinggi tanaman varietas ini mencapai 70-80 cm, umur mulai berbunga 45 HST, umur mulai panen 75 HST, bentuk kanopi kompak, warna batang hijau tua, warna daun hijau tua dengan ukuran daun yaitu panjang 13-14 cm dan lebar 5-6 cm, warna kelopak bunga hijau tua, warna tangkai bunga hijau, warna mahkota bunga putih dan berjumlah 6 helai, warna kotak sari abu- abu dan berjumlah 5 buah, serta warna kepala putik kuning.
Bentuk buah varietas Trisula adalah pada bagian pangkal besar dengan ujung meruncing dan kulitnya halus, tebal kulit buah 0.1-0.2 cm, warna buah muda hijau tua, warna buah matang merah tua, ukuran buah dengan panjang 14-17 cm dan diameter 1-1.5 cm, bobot per buah 10-15 g, rasa buah agak pedas, serta bobot buah per tanaman 1-1.5 kg. Potensi produktivitas varietas Trisula sebesar 17-20 ton/ha dan dapat ditanam pada daerah sampai ketinggian 1 200 m dpl, tanah yang gembur dengan pH 6-7 serta suhu antara 18-300C (Keputusan Menteri Pertanian, 2003).
Lembang 1 merupakan varietas hasil seleksi tanaman di Pengalengan yang dikembangkan oleh Balitsa Lembang. Varietas ini mempunyai umur mulai panen yaitu 63 HST, tinggi tanaman ± 65 cm, tipe tumbuh kompak, posisi tangkai bunga saat antesis merunduk, warna mahkota bunga putih, warna buah muda hijau, dan warna buah tua merah. Diameter buah varietas Lembang 1 adalah 0.8 cm (ramping), panjang buah 11.8 cm serta tebal kulit buah 0.7 cm, dengan ujung buah runcing dan kadar capsaicin sebesar 1.2 mg/g. Berat 1000 bijinya yaitu 3 g dengan
penampang melintang buah bergelombang dan memiliki potensi hasil 5.6-19 ton/ha. Varietas ini agak toleran terhadap hama penghisap daun (trips) dan
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dari bulan Februari hingga Juli 2011.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 14 galur cabai IPB dan lima varietas cabai komersial sebagai varietas pembanding (Tabel 1). Genotipe yang digunakan merupakan genotipe bersari bebas. Galur cabai IPB diperoleh dari persilangan hasil penelitian Laboratorium Pemuliaan Tanaman AGH IPB. Varietas pembanding diperoleh dari berbagai perusahaan benih di Indonesia.
Tabel 1. Galur Cabai IPB yang Dievaluasi dan Varietas Pembanding yang Digunakan dalam Penelitian
No Genotipe Asal Benih Golongan
1 IPB001004 F7001004-5-3 cabai besar 2 IPB002001 F8002001-4-3 cabai besar 3 IPB002003 F7002003-6-15 cabai besar 4 IPB002005 F7002005-2-9-20 cabai besar 5 IPB002046 F7002046-2-2 cabai besar 6 IPB009002 F8009002-1-19 cabai besar 7 IPB009003 F7009003-5-3 cabai besar 8 IPB009004 F8009004-3-13 cabai besar 9 IPB009019 F8009019-3-12 cabai besar 10 IPB015002 F7015002-8-6 cabai besar 11 IPB015008 F8015008-5-17 cabai besar 12 IPB019015 F8019015-1-11 cabai besar 13 IPB110005 F4110005-91-13 cabai semi keriting 14 IPB120005 F4120005-5-66 cabai semi keriting 15 Tombak PT. Tanindo Subur Prima cabai besar 16 Gelora PT. Sinar Bumi cabai besar 17 Tit Super PT. East West Seed Indonesia cabai besar 18 Trisula UD. Ridwan Tani cabai besar 19 Lembang 1 Balitsa Lembang cabai keriting
Sarana produksi yang digunakan untuk aspek budidaya tanaman adalah tray semai, mulsa plastik hitam perak, ajir, pupuk kandang, NPK Mutiara, Urea, SP36, KCl, ZA, Gandasil B, Gandasil D, Furadan, Curacron, Antracol, Dithane, Samite, dan Bamex. Alat pertanian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, kored, sprayer, timbangan digital, jangka sorong, meteran, penggaris, label, dan alat tulis.
Metode Pelaksanaan
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal, yaitu 14 galur cabai IPB dan lima varietas pembanding. Setiap perlakuan terdiri atas tiga ulangan, sehingga terdapat 57 satuan percobaan, dimana tiap satuan percobaan terdiri atas 20 tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman contoh.
Model rancangan yang digunakan adalah :
<LM ĮLȕMİLM
Keterangan :
Yij = Nilai pengamatan tanaman genotipe ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai tengah populasi
ĮL = Pengaruh genotipe ke-i (i = 1, 2, 3, ..., 19)
ȕM = Pengaruh ulangan ke-j (j = 1, 2, 3)
İLM = Pengaruh galat percobaan genotipe ke-i dan ulangan ke-j (Gomez dan Gomez, 1995)
Jika nilai F-hitung berbeda nyata pada taraf 5%, maka dilanjutkan dengan Uji Dunnett pada taraf 5%. Pengujian dilakukan menggunakan fasilitas SAS 9.0.
Pelaksanaan Penelitian Penyemaian
Media semai terdiri atas tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Sebelum ditanam, benih cabai direndam larutan PGPR selama 6 jam. Perendaman ini dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan, menyehatkan akar, meningkatkan kemampuan akar menyerap unsur hara, serta memberikan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Penyemaian menggunakan tray semai 72 lubang dan masing-masing lubang ditanam dua benih. Tray diletakkan di tempat yang teduh dan ternaungi dari sinar matahari langsung. Persemaian disiram dua kali sehari.
Pengolahan Lahan
Lahan sudah disiapkan satu minggu sebelum tanam, meliputi pencangkulan dan pembuatan bedengan. Ukuran bedengan yaitu panjang 5 m, lebar 1 m, dan tinggi 50 cm. Jarak antar bedeng ± 50 cm dan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang (20 ton/ha), Urea (150 kg/ha), ZA (400 kg/ha), SP36 (150 kg/ha), dan KCl (100 kg/ha). Mulsa plastik hitam perak dipasang setelah pemupukan dan pembuatan bedengan. Kemudian dibuat lubang tanam dengan diameter 10 cm lalu dipasang ajir setinggi ± 1.5 m pada masing-masing lubang tanam tersebut.
Penanaman
Pemindahan lapang dilakukan pada 5 minggu setelah semai (MSS), dimana tinggi bibit ± 10 cm dan sudah mempunyai 5-7 helai daun sejati. Penanaman dilaksanakan pada sore hari agar bibit tidak layu akibat terik cahaya matahari. Satu bibit ditanam pada satu lubang tanam kemudian bibit disiram.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, penyulaman, pemupukan, pewiwilan, penyiangan gulma, serta pengendalian hama dan penyakit. Pemupukan dilakukan menggunakan NPK Mutiara dengan dosis 10 g/L dicampur Antracol/Dithane dengan dosis 2 g/L. Pupuk disiramkan pada akar tanaman ± 250 ml per tanaman. Pemberian pupuk kocor ini dilakukan seminggu sekali.
Pewiwilan dilakukan apabila sudah terdapat tunas air di bawah percabangan pertama pada batang utama. Penyiangan dilakukan dengan membuang gulma di sekitar tanaman utama dengan cara manual menggunakan cangkul/kored.
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila terjadi gejala serangan hama dan penyakit. Aplikasi pestisida dilakukan sesuai dosis anjuran.
Panen
Pemanenan dilakukan pada saat buah sudah mencapai matang 75% hingga buah matang penuh. Panen dilakukan secara bertahap selama delapan kali.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman contoh untuk setiap satuan percobaan. Karakter yang diamati mengacu pada pedoman penilaian dan pelepasan varietas hortikultura (Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2004), sedangkan cara pengamatan dilakukan berdasarkan deskriptor cabai (IPGRI, 1995).
Karakter kuantitatif yang diamati :
1. Tinggi tanaman (cm), diukur dari permukaan tanah sampai pucuk tanaman tertinggi pada saat panen pertama.
2. Tinggi dikotomus (cm), diukur dari permukaan tanah sampai percabangan pertama pada saat panen pertama.
3. Lebar kanopi (cm), diukur dari titik tajuk terlebar pada saat panen pertama. 4. Diameter batang (mm), diukur pada bagian tengah batang utama pada saat
panen pertama.
5. Panjang daun (cm), diukur dari 10 daun dewasa saat 50% populasi tanaman dalam petak telah panen.
6. Lebar daun (cm), diukur dari 10 daun dewasa saat 50% populasi tanaman dalam petak telah panen.
7. Umur berbunga (HST), jumlah hari setelah transplanting sampai 50% populasi tanaman dalam petak telah mempunyai bunga mekar pada percabangan pertama.
8. Umur panen (HST), jumlah hari setelah transplanting sampai 50% populasi tanaman dalam petak telah mempunyai buah masak pada percabangan pertama.
9. Panjang buah (cm), dihitung dari rata-rata panjang buah dari 10 buah segar pada saat panen kedua, diukur dari pangkal hingga ujung buah.
10. Diameter buah (mm), dihitung dari rata-rata diameter buah dari 10 buah segar pada saat panen kedua, diukur pada bagian pangkal buah.
11. Tebal kulit buah (mm), dihitung dari rata-rata tebal kulit buah dari 10 buah segar pada saat panen kedua.
12. Bobot per buah (g), dihitung dari rata-rata bobot buah dari 10 buah segar pada saat panen kedua.
13. Jumlah buah per tanaman (buah), dihitung dari rata-rata jumlah total buah dari 10 tanaman contoh selama delapan kali panen.
14. Bobot buah per tanaman (g), dihitung dari total bobot buah dari 10 tanaman contoh selama delapan kali panen.
15. Produktivitas (ton/ha) = Luas lahan x 80 % x Bobot buah per tanaman Jarak tanam
Karakter kualitatif yang diamati :
1. Bentuk batang : silindris, bersudut, dan rata. Diamati ketika tanaman dewasa. 2. Warna batang : hijau, hijau dengan garis ungu, dan ungu. Diamati setelah
panen pertama.
3. Bentuk daun : delta, oval, dan lanset. Diamati ketika buah pertama mulai masak pada 50% populasi.
Gambar 1. Bentuk Daun
4. Warna daun : kuning, hijau muda, hijau, hijau tua, ungu terang, ungu, dan varigata. Diamati ketika buah pertama mulai masak pada 50% populasi.
5. Posisi bunga : menggantung, menengah, dan tegak. Diamati pada saat tanaman 50% berbunga.
Gambar 2. Posisi Bunga 6. Warna kepala putik : Diamati pada saat bunga mekar.
7. Warna kepala sari : putih, kuning, biru pucat, biru, biru keunguan, dan ungu. Diamati pada saat bunga mekar.
8. Warna mahkota bunga : putih, kuning terang, kuning, kuning kehijauan, ungu dengan dasar putih, putih dengan dasar ungu, putih dengan garis ungu, dan ungu. Diamati pada saat tanaman 50% berbunga.
9. Warna kelopak bunga : hijau muda, hijau, dan hijau tua. Diamati pada saat antesis.
10. Bentuk buah : panjang, membulat, segitiga, campulate, dan blocky. Diamati pada saat buah telah masak penuh.
Gambar 3. Bentuk Buah
11. Bentuk ujung buah : runcing, tumpul, cekung, dan berlekuk. Diamati pada saat buah telah masak penuh.
Gambar 4. Bentuk Ujung Buah
12. Warna buah intermediet : putih, kuning, oranye, hijau, ungu, dan ungu kecoklatan. Diamati saat buah akan mengalami kemasakan.
13. Warna buah masak : putih, kuning, oranye, merah terang, merah, merah tua, ungu, coklat, dan hitam. Diamati pada saat buah masak penuh.
Kondisi Umum
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Juli 2011 di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Berdasarkan data BMKG Kecamatan Sawit (2011), pada bulan Februari hingga Juni 2011 menunjukkan rata-rata jumlah hari hujan 10.20 hari per bulan dan curah hujan