KATA PENGANTAR
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TANAMAN ILES-ILES 1 Botani Iles-iles
Iles-iles dan sejenisnya merupakan tanaman yang berasal dari India dan Srilanka. Melalui Indocina, Malaka dan Sumatera, akhirnya iles-iles menyebar di Jawa hingga Filipina dan Jepang (Sunarto 1986). Menurut Indo (1983) dalam Ermiati dan Laksamanaradja (1996), iles-iles yang termasuk kedalam marga Amorphophallus, terdiri atas 80 jenis. Di Indonesia, yang paling banyak dijumpai adalah A. campanulatus, A. oncophyllus, A. variabilis, A. spectabilis, A. decumsilvae, A. mulleri dan A. titanium yang dikenal sebagai bunga bangkai (Sufiani 1993).
Jenis iles-iles yang dibudidayakan dan dipergunakan sebagai bahan makanan dan industri adalah A. campanulatus, A. oncophyllus dan A. variabilis. Di Pulau Jawa, A. campanulatus disebut suweg sedangkan A. oncophyllus dan A. variabilis disebut iles-iles (Jawa), kembang bangke (Melayu), acung (Sunda), badur (NTB), lacong atau kruwu (Madura). Suweg ternyata tidak mengandung glukomanan dan berbatang halus, sedangkan iles-iles banyak mengandung glukomanan terutama spesies A. oncophyllus dan berbatang kasar (Ohtsuki 1968). Suweg sudah biasa ditanam di perkarangan sebagai sumber pangan di musim paceklik terutama di daerah Jawa Tengah, sedangkan iles-iles tumbuh di hutan-hutan secara liar dan tidak dapat dimakan sebelum diolah terlebih dahulu.
Umbi suweg tersebar di seluruh Pulau Jawa. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak dijumpai tanaman suweg akan tetapi belum dibudidayakan secara besar-besaran melainkan sebagai tanaman sampingan. Suweg juga banyak tersebar di Filipina, Malaysia sampai ke Pasifik dan telah dibudidayakan di daerah Chitoor dan Taluk (Kriswidarti 1980). Berbeda dengan suweg, iles-iles kuning (A. oncophyllus) ditemukan dalam jumlah besar disebelah utara Gunung Tangkuban Perahu dan Bukit Tunggul, sekitar Gunung Cereme, sebelah selatan Pekalongan yaitu di daerah sebelah utara Pegunungan Kendeng dan di lereng selatan Gunung Raung. Selain tersebar di Pulau Jawa, A. oncophyllus tersebar pula di luar Pulau Jawa yaitu di daerah Sulawesi dan Flores (Soedarsono dan Abdulmanap 1963). A. variabilis banyak terdapat di daerah sekitar Purwekerto, Surakarta, Surabaya dan beberapa daerah di Pulau Madura. Selain itu, A. variabilis juga terdapat di pegunungan kapur dan hutan-hutan tropis.
Iles-iles biasanya tumbuh alami di daerah vegetasi sekunder, di tepi-tepi hutan dan belukar, hutan jati, atau hutan desa. Tanaman iles-iles pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman iles-iles dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman iles-iles, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya.
Tanaman tersebut dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian hingga 700 m di atas permukaan laut, namun paling baik pada ketinggian antara 100 – 600 m diatas permukaan laut. Dengan rata-rata suhu optimum berkisar antara 25ºC – 35ºC dan suhu optimal tanah 22ºC – 30ºC. Tanaman ini cocok tumbuh pada jenis tanah liat berpasir. Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara pH 6 – 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja, tetapi tanah liat saja dapat menghambat perkembangan umbi tersebut. Walaupun demikian, tanaman jenis tersebut lebih menyukai tanah-tanah dengan drainase baik (tidak tergenang air) dengan kandungan humus yang tinggi. Iles-iles yang dibudidayakan pada galian dengan ukuran tertentu, diberikan pupuk, terutama pupuk kandang dan penyiangan terhadap rumput gulma.
Tanaman Iles-iles mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh) karena tanaman ini hanya membutuhkan
4 cahaya maksimum sampai 40%. Hal ini disebabkan oleh, terik sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan daun menjadi layu dan tanaman tidak tumbuh optimal, bahkan mati (Gumbira Sa’id dan Rahayu 2009). Naungan yang ideal untuk tanaman Iles-iles adalah jenis tanaman jati, mahoni sono dan lain-lain. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat naungan maka semakin baik untuk tanaman iles-iles (Mastrianto 2010). Selain itu, menurut Syaefulah (1990), tanaman iles-iles dapat ditanam bersama-sama dengan tanaman pisang, jahe, pinang, kacang tanah dan jagung serta cocok sebagai tanaman sela diperkebunan karet, cengkeh, kopi, cokelat, kelapa sawit dan jati.
Perkembangbiakan tanaman Iles-iles dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan tanaman secara vegetatif dari bagian-bagian umbi merupakan kegiatan budidaya iles-iles yang paling umum dilakukan karena lebih mudah dan dapat dilakukan dengan cepat. Menurut Mastrianto (2010), secara umum perkembangbiakan tanaman iles-iles dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu: perkembangbiakan dengan umbi, perkembangbiakan dengan bulbil (umbi biji), perkembangbiakan dengan umbi batang dan perkembangbiakan dengan buah atau biji.
2.1.2 Komposisi Kimia Umbi
Umbi iles-iles mengandung polisakarida yang mampu menyerap air yang disebut manan atau lebih tepatnya glukomanan. Fungsi glukomanan yang serupa dengan serat pangan memiliki kelebihan- kelebihan tertentu, yaitu: meningkatkan fungsi pencernaan dan sistem imun, menurunkan kadar kolesterol dan gula darah, serta membantu menurunkan berat badan (Zhang et al. 2005). Keberadaan glukomanan inilah yang menjadi pembeda antara iles-iles (A. oncophyllus) dengan umbi lain sejenis (A. campanulatus). Tidak hanya glukomanan, umbi iles-iles juga mengandung kristal kalsium oksalat yang jika dimakan mentah akan membuat mulut, lidah dan kerongkongan terasa tertusuk-tusuk atau gatal. Kristal kalsium oksalat ini merupakan produk buangan dari metabolisme sel yang tidak digunakan lagi oleh tanaman dan terdapat di dalam dan di luar sel manan. Adapun komposisi kimia umbi iles-iles kuning selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi kimia umbi iles-iles kuning (Amorphophallus oncophyllus) Nutrisi Umbi iles-iles (%bk)
Air 81.05 (%bb) Abu 4.31 Protein 6.38 Lemak 0.98 Karbohidrat 91.79 Serat kasar 10.61 Glukomanan 23.52 Ca-Oksalat 0.85 Sumber: Nurjanah (2010)
5
2.2 GLUKOMANAN
Glukomanan adalah salah satu komponen kimia terpenting yang terdapat dalam umbi iles-iles yang merupakan polisakarida dari jenis hemiselulosa. Glukomanan termasuk heteropolisakarida yang memiliki ikatan rantai utama glukosa dan manosa. Ohtsuki (1968) menyebutkan bahwa hasil analisa hidrolisa-asetolisis dari glukomanan dihasilkan suatu trisakarida yang tersusun oleh dua D-mannosa dan satu D-glukosa, sehingga dalam satu molekul glukomanan terdapat D-mannosa sejumlah 67% dan D-glukosa sejumlah 33%. Hasil analisis secara metilasi menunjukkan bahwa glukomanan terdiri atas komponen penyusun berupa D-glukopiranosa dan D-manopiranosa dengan ikatan β-1,4 glikosidik. Menurut Parry (2010), glukomanan memiliki gugus asetil setiap 10-19 unit gugus karbon pada posisi C2, C3 dan C6. Gugus asetil tersebut berperan pada sifat fisikokimia glukomanan seperti sifat kelarutan glukomanan dalam air panas maupun air dingin.
Glukomanan memiliki bobot molekul relatif tinggi, yaitu 200,000 – 2,000,000 Dalton dengan ukuran antara 0.5 – 2 mm, 10 – 20 kali lebih besar dari sel pati. Struktur kimia glukomanan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 1. Struktur kimia glukomanan (Anonim 2002)
Bobot molekul yang relatif tinggi membuat glukomanan memiliki karakteristik antara selulosa dan galaktomanan, yaitu dapat mengkristal dan membentuk struktur serat-serat halus. Keadaan tersebut menyebabkan glukomanan dapat dimanfaatkan lebih luas dibandingkan selulosa dan galaktomanan. Menurut Deptan (2010), senyawa glukomanan mempunyai sifat-sifat khas sebagai berikut:
(1)Larut dalam air
Glukomanan dapat larut dalam air dingin dan membentuk larutan yang sangat kental. Tetapi, bila larutan kental tersebut dipanaskan sampai menjadi gel, maka glukomanan tidak dapat larut kembali di dalam air.
(2)Membentuk gel
Karena glukomanan dapat membentuk larutan yang sangat kental di dalam air. Dengan penambahan air kapur zat glukomannan dapat membentuk gel, di mana gel yang terbentuk mempunyai sifat khas dan tidak mudah rusak.
(3)Merekat
Glukomanan mempunyai sifat merekat yang kuat di dalam air. Namun, dengan penambahan asam asetat sifat merekat tersebut akan hilang.
6 (4)Mengembang
Glukomanan mempunyai sifat mengembang yang besar di dalam air dan daya mengembangnya mencapai 138 – 200%, sedangkan pati hanya 25%.
(5)Transparan (membentuk film)
Larutan glukomanan dapat membentuk lapisan tipis film yang mempunyai sifat transparan dan film yang terbentuk dapat larut dalam air, asam lambung dan cairan usus. Tetapi jika film dari glukomannan dibuat dengan penambahan NaOH atau gliserin maka akan menghasilkan film yang kedap air.
(6)Mencair
Glukomanan mempunyai sifat mencair seperti agar sehingga dapat digunakan dalam media pertumbuhan mikroba.
(7)Mengendap
Larutan glukomanan dapat diendapkan dengan cara rekristalisasi oleh etanol dan kristal yang terbentuk dapat dilarutkan kembali dengan asam klorida encer. Bentuk kristal yang terjadi sama dengan bentuk kristal glukomanan di dalam umbi, tetapi bila glukomanan dicampur dengan larutan alkali (khususnya Na, K dan Ca) maka akan segera terbentuk kristal baru dan membentuk massa gel. Kristal baru tersebut tidak dapat larut dalam air walaupun suhu air mencapai 100ºC ataupun dengan larutan asam pengencer. Dengan timbal asetat, larutan glukomanan akan membentuk endapan putih stabil.