• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas)

Gambar 5 Profil tanaman kamandrah (Croton tiglium) (Sumber : Kebun Balittro Bogor)

Yuningsih dan Laba (2007) melaporkan telah melakukan uji efek toksik dari beberapa tanaman beracun di antaranya daun Lelatang (Acalypha indica), biji Karet (Ficus elastica), biji Kapok (Ceiba petandra), biji Jarak (Ricinus communis), daun Tembakau (Nicotiana tabacum), daun Strychnuos nux vomica , akar/batang Tuba (Derris eliptica), daun Tikusan (Clauseva exavata), umbi Gadung, kulit batang Ceremai, batang Kipahit (Pierasma javanica), biji Kamandrah (Croton tiglium) dan biji Picung (Pangium edule), dari berbagai ekstrak tanaman yang diuji, ekstrak yang paling toksik adalah ekstrak biji kamandrah (Croton tiglium) dan ekstrak biji picung (Pangium edule). Secara patologi anatomis ekstrak tanaman beracun tersebut menyebabkan pembendungan dan perdarahan umum pada paru-paru, jantung dan hati dan sebagian besar dari area mukosa lambung hanya berupa selaput tipis yang berwarna transparan karena mengalami atrofi.

Salatino et al. (2007), melaporkan bahwa tanaman dari genus Croton memiliki bioaktivitas anti-hypertensive, anti-inflammatory, antimalarial, antimicrobial, antispasmodic, antiulcer, antiviral dan myorelaxant.

2.4 Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas)

Jarak pagar (Jatropha curcas) (Gambar 6) telah lama dikenal masyarakat berbagai daerah di Indonesia, yaitu sejak diperkenalkan oleh bangsa Jepang pada tahun 1942-an, saat itu masyarakat diperintahkan untuk melakukan penanaman jarak sebagai pagar pekarangan. Beberapa nama daerah tanaman Jarak pagar antara lain; Jarak kosta, Jarak budeg (Sunda); Jarak gundul, Jarak pager (Jawa);

Kalekhe paghar (Madura); Jarak pager (Bali); Lulu mau, Paku kase, Jarak pageh (Nusatenggara); Kuman nema (Alor); Jarak kosta, Jarak wolanda, Bindalo, Bintalo, Tondo utomene (Sulawesi); Ai huwa kamala, Balacai, Kadoto (Maluku) (Irwanto 2006).

Klasifikasi tanaman jarak pagar

Famili Euphorbiaceae

Genus Jatropha

Spesies Jatropha curcas L.

Nama umum/dagang Jarak pagar

Nama daerah Jarak kosta, jarak budeg (Sunda);

jarak gundul, jarak pager (Jawa); kalekhe paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa tenggara); kuman nema (Alor); jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene (Sulawesi); ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku).

Jarak pagar (Jatropha curcas) seringkali salah diidentifikasi dengan tanaman Jarak kepyar (Ricinus communis) dalam bahasa Inggris disebut ”Castor Bean”. Tanaman Jarak pagar atau Jatropha curcas (Physic Nut) dan Ricinus communis (Castor Bean) ini juga sama-sama banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia, bahkan dari kedua jenis tanaman ini dapat diperoleh ekstrak minyak dari bijinya. Hanya saja tanaman jarak Ricinus communis seringkali terkait dengan produksi ”ricin” yaitu racun yang berbahaya dan banyak digunakan untuk penelitian terapi penyakit kanker, sedangkan tanaman jarak Jatropha curcas menghasilkan racun ”krusin” tetapi lebih banyak terkait dengan informasi ”biodiesel” atau ”biofuel”. Kedua tanaman ini berbeda baik dalam bentuk morfologi tanaman maupun minyak yang dihasilkannya (Irwanto 2006).

Minyak jarak dapat dihasilkan dari daging buah biji jarak melalui proses ekstraksi atau dengan menggunakan mesin pengepres biji. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui kadar lemak yang terdapat pada biji jarak pagar kering adalah 46,25%, protein 18,88%, serat 15,1%, abu 2,62% dan karbohidrat 32,25% (Zulkifli 2005).

Gambar 6 Profil tanaman jarak pagar (Sumber : Kebun praktikum UIN Jakarta) 2.5 Nyamuk Aedes aegypti dan Proses Penularan DBD

Nyamuk adalah serangga berukuran kecil, halus, langsing, kaki-kaki atau tungkainya panjang langsing, dan mempunyai bagian mulut untuk menusuk kulit dan menghisap darah. Nyamuk dapat dijumpai pada ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut sampai kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan tanah di daerah pertambangan. Nyamuk termasuk ke dalam ordo Diptera, famili Culicidae, dengan 3 subfamili yaitu Toxorhynchitinae (Toxorhynchites), Culicinae (Aedes, Culex, Mansonia, Armigeres) dan Anophelinae (Anopheles). Di seluruh dunia, dilaporkan terdapat sekitar 3100 spesies dari 34 genus. Anopheles, Culex, Aedes, Mansonia, Armigeres, Haemagogus, Sabethes, Culiseta dan Psorophora adalah genus nyamuk yang menghisap darah manusia dan berperan sebagai vector (Hadi et al. 2006).

Penyakit demam berdarah dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini ada hampir di seluruh daerah di Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di ataspermukaan laut (Koban 2005).

Nyamuk Aedes aegypti (Gambar 7) berukuran kecil, berwarna hitam dan bergaris-garis putih pada kaki dan punggungnya. Nyamuk menggigit manusia pada pagi dan sore hari (Info Ristek 2006), hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya.

Nyamuk jantan tidak menggigit dan menghisap darah, melainkan hidup dari sari bunga tumbuh-tumbuhan. Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan. Kepadatan nyamuk akan meningkat saat musim hujan (DEPKES 2004).

A B

Gambar 7 Profil nyamuk (A) dan larva Aedes aegypti (B) (Sumber : www.mosquitomagnetdepot.com)

Nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang mempunyai sifat yang khas, menggigit pada pada pagi dan sore hari. Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2-3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai adalah tempat yang lembab dan kurang terang seperti kamar mandi dan gantungan baju. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, tempat minum burung dan barang-barang bekas yang dibuang sembarangan yang pada waktu hujan terisi air. Berdasarkan hasil penelitian Hasyimi dan Soekirno (2004), jentik nyamuk paling banyak ditemukan di tempat penampungan air yang terbuat dari logam.

Nyamuk dewasa berkembang biak dengan cara meletakan telurnya di dinding tempat air, sedikit di atas permukaan air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir (DEPKES 2004). Telur Aedes berwarna hitam, oval dan diletakkan di dinding wadah air, biasanya di bagian atas permukaan air. Apabila wadah air ini mengering, telur bisa tahan (dorman) selama beberapa minggu atau bahkan bulan. Ketika wadah air berisi air dan menutupi seluruh bagian telur, maka ia akan menetas menjadi jentik (larva). Jentik dalam kondisi yang sesuai akan berkembang dalam waktu 6-8 hari, dan berubah menjadi pupa (kepongpong). Dalam waktu kurang lebih dua hari, dari pupa akan muncullah nyamuk dewasa. (Hadi et al. 2006). Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak didalam air, tetapi

tidak makan dan setelah 1-2 hari akan berubah menjadi nyamuk. Jadi total siklus hidup bisa diselesaikan dalam waktu 9-12 hari (DEPKES 2004). Siklus hidup nyamuk dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti (Sumber : http://biotechpestcontrols.com) Proses penularan DBD

Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia telah terjangkit penyakit demam berdarah. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB (kejadian luar biasa) setiap tahun. Kejadian luar biasa DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun-tahun 2000); 21,66 (tahun-tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003) (Kristina et al. 2004).

Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus itu termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus itu telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue tipe satu dan tiga (Kristina et al. 2004).

Nyamuk penular demam berdarah adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak dalam tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum dan vas bunga. Aedes albopictus juga demikian tetapi biasanya lebih banyak terdapat di bagian luar rumah (Hadi et al. 2006).

Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang mengigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. Nyamuk Aedes aegypti lebih suka berkelana mencari mangsanya di siang hari di banding nyamuk lain yang cenderung menyerang manusia pada malam hari. Setelah menggigit tubuh manusia dengan cepat perutnya menjadi buncit dipenuhi kira-kira dua hingga empat miligram darah atau sekitar 1,5 kali berat badannya. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh (Kristina et al. 2004).

Secara umum pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian nonkimiawi dan kimiawi. Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara menghilangkan tempat perindukan nyamuk dan dapat juga dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh-musuh alami nyamuk seperti ikan pemakan jentik atau larva nyamuk. Ikan pemakan jentik nyamuk adalah sejenis ikan guppy dan Poecilia reticulata yang bersifat lebih toleran terhadap perairan yang tercemar polutan organik. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan cara pemberian larvasida untuk membunuh jentik nyamuk, dan dengan cara pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa (Hadi et al. 2006).

Dokumen terkait