• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF TANAMAN KAMANDRAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF TANAMAN KAMANDRAH"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF TANAMAN

KAMANDRAH (Croton tiglium) DAN BIJI JARAK PAGAR

(Jatropha curcas) SEBAGAI LARVASIDA NABATI

VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE

ADI RIYADHI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008

(2)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul : “IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF TANAMAN KAMANDRAH (Croton tiglium) DAN BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas) SEBAGAI LARVASIDA NABATI VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE” adalah benar hasil karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum pernah dipublikasikan. Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain. Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Januari 2008

Adi Riyadhi G452050051

(3)

ABSTRACT

ADI RIYADHI. Chemical Composition of Plant Croton tiglium and Seed Jatropha curcas and it is Natural Larvicidal Anti Dengue Vector.

Crude aqueous extracts and ethanol extracts of leaf Croton tiglium (Kamandrah), wood Croton tiglium, seed Croton tiglium and seed Jatropha curcas (Jarak pagar) and oil of Croton tiglium and Jatropha curcas were evaluated for larvicidal potential against the Aedes aegypti mosquito. The best extracts for larvicidal were evaluated for chemical composition. Croton tiglium oil possessed a significantly higher larvicidal activity against the 3th instar larvae of Aedes aegypti than Jatropha curcas oil because LC50 values Croton tiglium oil is lower than Jatropha curcas oil, with LC50 values Croton tiglium oil of 769 ppm for 24 h and 384 ppm for 48 h, and LC50 values Jatropha curcas oil of 1507 ppm for 24 h and 866 ppm for 48 h. Crude aqueous extracts and ethanol extracts of leaf Croton tiglium, wood Croton tiglium, seed Croton tiglium and seed Jatropha curcas have not potential for larvicidal. Chemical identification achieved by GC-MS. Qualitative analysis of Croton tiglium oil and Jatropha curcas oil revealed the presence of piperine with library similarity at 83%-88%. Piperine is the Piperidine alkaloids, it has also been used as an insecticide and larvicidal mosquito. It is suggested that the Croton tiglium oil and Jatropha curcas oil possess larvicidal properties that could be developed and used as natural larvicidal for mosquito control.

Keyword Index: Croton tiglium, Jatropha curcas, Aedes aegypti, Piperine, Larvicidal.

(4)

RINGKASAN

ADI RIYADHI. Identifikasi Senyawa Aktif Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) dan Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas) sebagai Larvasida Nabati Vektor Demam Berdarah Dengue

Telah dilakukan uji potensi larvasida nyamuk Aedes aegypti terhadap ekstrak air dan etanol dari daun kamandrah (Croton tiglium), batang kamandrah, biji kamandrah dan biji jarak pagar (Jatropha curcas), serta minyak kamandrah dan minyak jarak pagar. Ekstrak yang paling berpotensi diidentifikasi kandungan kimianya. Minyak kamandrah lebih berpotensi sebagai larvasida Aedes aegypti instar ke tiga di bandingkan dengan minyak jarak pagar, karena nilai LC50 minyak kamandrah lebih kecil dibandingkan dengan minyak jarak pagar. Nilai LC50 minyak kamandrah sebesar 769 ppm untuk 24 jam pengujian dan 384 ppm untuk 48 jam pengujian, sedangkan nilai LC50 minyak jarak pagar sebesar 1507 ppm untuk 24 jam pengujian dan 866 ppm untuk 48 jam pengujian. Ekstrak air dan etanol dari biji jarak pagar, daun kamandrah, batang kamandrah dan biji kamandrah tidak berpotensi sebagai larvasida. Identifikasi kandungan kimia dilakukan pada minyak kamandrah dan minyak jarak pagar dengan menggunakan GC-MS. Hasil analisa GC-MS diduga minyak kamandrah dan jarak pagar mengandung senyawa piperine dengan kemiripan library sebesar 83%-88%. Senyawa piperine adalah golongan alkaloid jenis piperidin yang biasa digunakan sebagai larvasida untuk nyamuk. Minyak kamandrah dan minyak jarak pagar dapat dikembangkan menjadi larvasida alami untuk mengontrol populasi nyamuk. Kata kunci : Croton tiglium, Jatropha curcas, Aedes aegypti, Piperine,

(5)

@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

(6)

IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF TANAMAN KAMANDRAH

(Croton tiglium) DAN BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas)

SEBAGAI LARVASIDA NABATI VEKTOR DEMAM

BERDARAH DENGUE

ADI RIYADHI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Departemen Kimia

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008

(7)
(8)

Judul Tesis : Identifikasi Senyawa Aktif Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) dan Biji Jarak pagar (Jatropha curcas) sebagai Larvasida Nabati Vektor Demam Berdarah Dengue

Nama : Adi Riyadhi

NRP : G452050051

Program Studi : Kimia

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Dyah Iswantini Pradono, M.Agr. Ketua

Dr. Ir. Rosihan Rosman, MS. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS.

Anggota Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Kimia

Prof. Dr. Latifah K. Darusman, MS. Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS.

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga Tesis ini telah berhasil diselesaikan. Judul Tesis ini ialah “Identifikasi Senyawa aktif Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) dan Biji Jarak pagar (Jatropha curcas) sebagai Larvasida Nabati Vektor Demam Berdarah Dengue”. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Dyah Iswantini Pradono, M.Agr., Bapak Dr. Ir. Rosihan Rosman, MS., Ibu Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS. dan Ibu Prof. Dr. Latifah K. Darusman, MS. yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada Ibu Endang Puji Astuti, S.KM., Ibu Trivadila, S.Si., dan Bapak Noor Roufiq Ahmadi, S.TP, MP., yang telah banyak membantu secara teknis selama penelitian. Terimakasih juga disampaikan kepada UIN Syarifhidayatullah Jakarta, Tanoto Foundation dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui program KKP3T yang telah memberikan bantuan dana. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada seluruh keluargaku atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga hasil dari karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2008

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Serang Banten pada tanggal 21 Juni 1978 dari pasangan H. M. Syar’ie BA dan H. Sutihat yahya A.Md. Penulis merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan tingkat dasar di SDN 2 Serang pada tahun 1990, Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Serang, lulus pada tahun 1993, dan Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Serang, lulus pada tahun 1996. Pada tahun 1996 penulis melanjutkan studi pada Jurusan Kimia FMIPA UGM Yogyakarta melalui jalur UMPTN dan lulus pada Agustus 2001.

Penulis pernah bekerja sebagai guru SMK Kimia PGRI Serang pada tahun 2002, kemudian pada tahun 2003 hingga sekarang bekerja sebagai tenaga pengajar tidak tetap pada program studi pendidikan kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, program studi kimia Fakultas Sains dan Teknologi dan sebagai staf di Laboratorium Kimia Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menikah pada tahun 2002 dengan Yusraini Dian Inayati dan telah dikaruniai seorang putra pada tahun 2003 yang bernama Ahmad Rayhaan Yusri.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 4 1.3 Tujuan Penelitian... 4 1.4 Manfaat Penelitian... 5 1.5 Hipotesis... 5 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Tumbuhan Berhasiat Larvasida dan Insektisida Nabati ... 6

2.2 Larvasida Kimia untuk Nyamuk ... 10

2.3 Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) ... 11

2.4 Tanaman Jarak pagar (Jatropha curcas)... 13

2.5 Nyamuk Aedes aegypti dan Proses Penularan DBD ... 15

3 BAHAN DAN METODE ... 19

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 19

3.2 Bahan Uji yang digunakan ... 19

3.3 Alat dan Bahan ... 19

3.4 Metode Penelitian... 20

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27

4.1 Uji Karakteristik dan Uji Pendahuluan Budidaya Tanaman Jarak pagar ... 27

4.2 Uji Karakteristik dan Uji Pendahuluan Budidaya Tanaman Kamandrah ... 30

4.3 Uji Kadar Air dan Uji Fitokimia ... 33

4.4 Pengepresan dan Ekstraksi ... 35

4.5 Uji Potensi Biji Jarak Pagar sebagai Larvasida Aedes aegypti ... 37

(12)

4.6 Uji Potensi Tanaman Kamandrah sebagai Larvasida

Aedes aegypti ... 38

4.7 Penentuan Nilai LC50 Minyak Jarak Pagar sebagai Larvasida Aedes aegypti... 39

4.8 Penentuan Nilai LC50 Minyak Kamandrah sebagai Larvasida Aedes aegypti... 41

4.9 Identifikasi Senyawa Aktif yang Berpotensi sebagai Larvasida Aedes aegyti ... 43

4.10 Identifikasi Minyak Jarak pagar ... 44

4.11 Identifikasi Minyak Kamandrah ...……….... 54

5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 61

5.1 Kesimpulan ... 61

5.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Program pengaturan alat GC-MS ... 26 2 Kadar air sampel ... 33 3 Hasil uji fitokimia serbuk dan ekstrak kamandrah dan jarak pagar .... 34 4 Rendemen hasil ekstrak air dan etanol kamandrah dan jarak pagar.... 36 5 Hasil uji potensi larvasida ekstrak biji jarak pagar

selama 24 jam ... 38 6 Hasil uji potensi larvasida ekstrak tanaman kamandrah

selama 24 jam ... 39 7 Hasil uji larvasida minyak jarak pagar dan sawit ... 40 8 Nilai Letal Consentration (LC) minyak jarak pagar dan minyak sawit ..40 9 Hasil uji larvasida minyak kamandrah ... ... 42 10 Nilai Letal Consentration (LC) minyak kamandrah ... 42 11 Hasil identifikasi komponen minyak jarak pagar dengan

GC-MS metode I …... 46 12 Hasil identifikasi komponen minyak jarak pagar dengan GC-MS

metode II ... 49 13 Hasil identifikasi komponen minyak jarak pagar dengan GC-MS

metode III... 52 14 Hasil identifikasi komponen minyak kamandrah dengan GC-MS

metode IV………. 54 15 Hasil identifikasi komponen minyak kamandrah dengan GC-MS

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Senyawa 12-0-Tetradecanoylphorbol-13-acetate ....………... 3

2 Profil bunga Chrysanthemum cinerariaefolium dan serbuknya... 9

3 Profil tanaman tembakau ……….… 9

4 Profil tanaman Derris elliptica ... 10

5 Profil tanaman kamandrah (Croton tiglium) ………... 13

6 Profil tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) ……….. 15

7 Profil nyamuk dan larva Aedes aegypti ... 16

8 Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti ... 17

9 Profil buah dan biji jarak pagar ... 27

10 Profil minyak jarak pagar ... 27

11 Profil kecambah jarak pagar hari ke-enam dan ke-tujuh... 28

12 Profil kecambah jarak pagar hari ke-delapan dan ke-sepuluh ... 28

13 Tanaman jarak pagar berumur 3 bulan ... 29

14 Profil kepik lembing ... 30

15 Profil buah dan biji kamandrah ... 31

16 Profil tanaman kamandrah ... 31

17 Profil kecambah kamandrah umur 17 hari ... 32

18 Hama tanaman kamandrah ... 32

19 Profil minyak kamandrah dan perbandingan minyak kamandrah, jarak pagar dan sawit ... 35

20 Proses uji larvasida Aedes aegypti ... 37

21 Struktur Asam Oleat (Oleic acid) ... 45

22 Struktur cis-9-Hexadecenal dan 13-Octadecenal, (Z)- ….………….... 45

23 Kromatogram GC-MS minyak jarak pagar metode I ……...….. 47

24 Struktur Dodecanoic acid, 1,2,3-propanetriyl ester atau Trilaurin ….. 48

25 Kromatogram GC-MS minyak jarak pagar metode II ………... 50

26 Gambar struktur asam linoleat (linoleic acid) ……… 51

(15)

28 Struktur Octadecanoic acid, 3-[(1-oxohexadecyl)oxy]-2-[(1 oxotetradecyl)

oxy]propyl ester ……….. 55

29 Kromatogram GC-MS minyak kamandrah metode IV ……… 56

30 Kromatogram GC-MS minyak kamandrah metode V ……… 58

31 Struktur piperine ………. 59

32 Struktur 2-ethyl-piperidine ……… 59

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Diagram alir penelitian ………. 67

2 Rendemen ekstrak air dan etanol ……… 68

3 Rendemen pengepresan minyak kamandrah ………. 68

4 Hasil uji potensi larvasida ………. 69

5 Nilai toksisitas minyak jarak pagar dan kamandrah terhadap larvasida Aedes aegypti ……… 70

6 Hasil analisis probit dengan menggunakan BioStat 2007 ………... 72

7 Spesifikasi alat GC-MS QP2010 Shimadzu ……… 78

8 Program temperatur oven pada GC-MS ... 82

9 Foto alat GC-MS ... 83

10 Foto alat hydroulic pressing ... 83

11 Foto alat Moisture analysis Ohaus MB45 ... 83

12 Foto hasil ekstrak air (A) dan etanol biji Kamandrah (B)... 84

13 Foto hasil ekstrak air (A) dan etanol endosperm biji Jarak pagar (B).. 84

14 Foto hasil ekstrak air (A) dan etanol kulit biji Jarak pagar B)... 84

15 Foto hasil ekstrak air (A) dan etanol daun Kamandrah (B)... 85

16 Foto hasil ekstrak air (A) dan etanol batang Kamandrah ... 85

(17)
(18)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menyatakan wilayah Jakarta dalam status kejadian luar biasa penyakit demam berdarah dengue (Kompas 10 April 2007). Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, sampai akhir Maret, jumlah penderita DBD mencapai 4.408 pasien atau melampaui batas toleransi kejadian luar biasa (KLB) 3.107 pasien. Obat dan vaksin untuk mencegah penyakit demam berdarah belum ditemukan dan masih dalam proses penelitian yang belum membuahkan hasil. Cara yang paling tepat untuk pengendaliannya adalah dengan memutus siklus kehidupan nyamuk dengan menggunakan larvasida dan insektisida.

Penggunaan insektisida sintetik dikenal sangat efektif, relatif murah, mudah dan praktis, tetapi dapat berdampak tidak baik terhadap lingkungan. Salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mencari bahan hayati yang lebih selektif dan aman. Insektisida nabati merupakan salah satu sarana pengendalian hama alternatif yang layak dikembangkan, karena senyawa insektisida dari tumbuhan mudah terurai di lingkungan, tidak meninggalkan residu di udara, air dan tanah serta mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan racun-racun anorganik.

Uji toksisitas beberapa tanaman telah dilakukan terhadap larva nyamuk, seperti minyak atsiri daun Jukut (Hyptis suaveolens) (Noegroho et al. 1997), ekstrak air dari tanaman Piper retrofractum (Chansang et al. 2005), ekstraksi daun Annona muricata (Hamidah 2002), ekstrak tanaman Origanum onites (Cetin dan Yanikoglu 2006) dan minyak tumbuhan yang berasal dari tanaman (Camphor, Thyme, Amyris, Lemon, Cedarwood, Frankincense, Dill, Myrtle, Juniper, Black Pepper, Verbena, Helichrysum and Sandalwood) yang dilaporkan memiliki bioaktivitas sebagai larvasida nyamuk (Amer dan Mehlhorn 2006).

Aminah et al. (2001) melaporkan hormon steroid dalam buah lerak diduga berpengaruh dalam pertumbuhan larva nyamuk, berdasarkan hasil uji menunjukkan larva yang mati lebih panjang sekitar 1-2 mm. Saponin dalam buah

(19)

lerak dapat menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif.

Sebagian besar ekstrak tanaman yang telah diteliti aktivitasnya membutuhkan konsentrasi yang tinggi, ekstrak tanaman yang aktif pada dosis tinggi secara ekonomis tidak menguntungkan. Salah satu cara untuk menurunkan dosis adalah menggabungkan dari beberapa ekstrak tanaman seperti yang dilakukan oleh George dan Vincent (2005) yaitu dengan menggabungkan antara ekstrak tanaman Annona squamosa dan Pongamia glabra dengan perbandingan 1 : 1 telah menurunkan nilai LC50 dari (4,361 ppm dan 1,380 ppm) menjadi 0,288 ppm. Cara lain adalah dengan mencari tanaman lain yang memiliki toksisitas tinggi sehingga aktif pada dosis yang rendah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tumbuhan kamandrah dan jarak pagar sebagai larvasida nabati yang efektif dan aman, sehingga hasil dari penelitian dapat meningkatkan kontribusi tumbuhan obat dalam menanggulangi penyakit demam berdarah dengue yang menjadi masalah nasional. Secara khusus akan dilakukan evaluasi dari ekstrak air dan etanol dari tumbuhan kamandrah (daun, batang dan biji) dan biji jarak pagar (kulit biji dan endosperm biji), serta minyak dari biji kamandrah dan biji jarak pagar hasil pengepresan dengan menggunakan hydraulic press yang mempunyai sifat toksik yang tinggi, serta ingin mengetahui senyawa kimia yang terkandung didalamnya.

Tumbuhan Kamandrah (Croton tiglium) adalah salah satu tumbuhan beracun yang berpotensi sebagai insektisida, seluruh bagian tanaman terutama biji adalah beracun. Senyawa 12-0-Tetradecanoylphorbol-13-acetate (Gambar 1), hasil isolasi dari biji kamandrah dapat membunuh 100% larva Culex pipiens instar ke dua pada konsentrasi 0,6 ppm (Marshall et al. 2005). Senyawa 12-0-Tetradecanoylphorbol-13-acetate (Gambar 1) juga dapat berfungsi sebagai Anti-HIV (Singh et al. 2005). Penelitian yang dilakukan di Untan terhadap ekstrak biji kamandrah melalui kerjasama Pusat Studi Agroindustri dan Agrobisnis (PSAA) Untan dengan Laboratorium Hama Penyakit Fakultas Pertanian Untan diperoleh nilai LC50 ekstrak biji kamandrah pada larva nyamuk adalah 0,06% - 0,07% atau 600 ppm - 700 ppm (Sinar Harapan 6 Februari 2002). Dzulkarnain (1989) melaporkan dalam penelitiannya, biji Croton tiglium dari famili Euphorbiaceae mengandung minyak yang sangat berbahaya, setetes (0,05 gram) dapat

(20)

menyebabkan diare, sedangkan dosis lebih besar sedikit lagi fatal bagi manusia. Yuningsih dan Laba (2007) melaporkan telah melakukan uji efek toksik dari beberapa tanaman beracun, dari berbagai ekstrak tanaman yang diuji, ekstrak yang paling toksik adalah ekstrak biji kamandrah (Croton tiglium ). Secara patologi anatomis ekstrak dari beberapa tanaman beracun menyebabkan pembendungan dan perdarahan umum pada paru-paru, jantung dan hati dan sebagian besar dari area mukosa lambung hanya berupa selaput tipis yang berwarna transparan karena mengalami atrofi (Yuningsih dan Laba 2007).

O O HO H HO O H OH O O H

Tridecanoic acid 9a-acetoxy-4a,7b-dihydroxy-3-hydroxymethyl-1,1,6,8-tetramethyl-5-oxo-1a,1b,4,4a,5,7 a,7b,8,9,9a-decahydro-1H-cyclopropa[3,4]benzo[1,2-e]azulen-9-yl ester

Gambar 1 Senyawa 12-0-Tetradecanoylphorbol-13-acetate

Hasil studi di masyarakat menunjukkan serbuk biji kamandrah sudah biasa digunakan oleh nelayan di pulau Komodo untuk meracuni ikan di perairan agar mudah ditangkap tetapi masih dapat dikonsumsi (Pet 1997), sedangkan di Kalimantan tumbuhan kamandrah biasa digunakan sebagai obat laksatif (Saputera 2007). Selain itu asap pembakaran batang dan daun kamandrah biasa digunakan masyarakat Kalimantan sebagai pengusir nyamuk. Tanaman kamandrah di sekitar Maluku dan Sulawesi Selatan pernah diberitakan digunakan sebagai obat KB, sebenarnya yang terjadi adalah abortus atau bila digunakan pada masa implantasi maka kerjanya sebagai anti implantasi, karena adanya kontraksi yang kuat pada usus dan juga uterus (Dzulkarnain 1989).

Tumbuhan jarak pagar (Jatropa curcas) seperti halnya tumbuhan kamandrah, merupakan tanaman beracun. Jarak pagar dan kamandrah merupakan tanaman yang masih satu famili yaitu Euphorbiaceae. Keseluruhan bagian tanaman jarak pagar adalah beracun, terutama bagian biji. Biji jarak pagar

(21)

mengandung protein curcin yang beracun (Stirpe et al. 1976). Hasil studi di masyarakat, jarak pagar biasa digunakan pada bagian daun sebagai obat penyakit koreng dan gatal-gatal, bagian biji digunakan untuk mengurangi kesulitan buang air besar, mengobati kangker mulut rahim, obat kulit, bisul dan infeksi jamur (Zulkifli 2005). Adebowale dan Adedire (2006) melaporkan bahwa minyak dari biji jarak pagar dapat membunuh telur Callosobruchus maculates.

Tanaman kamandrah dan jarak pagar merupakan tanaman asli Indonesia yang tersebar merata di seluruh Indonesia. Dilihat dari sifat toksiknya, tanaman kamandrah dan jarak pagar memiliki potensi sebagai larvasida nyamuk Aedes aegypti, namun demikian belum banyak penelitian yang menggunakannya, oleh sebab itu penelitian tanaman kamandrah dan jarak pagar sebagai larvasida perlu dilakukan. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah pencarian larvasida yang aman bagi lingkungan, tidak berbahaya bagi manusia atau organisme non-target dan praktis/mudah digunakan

1.2 Perumusan Masalah

Sebagian besar larvasida yang beredar dipasaran berupa bahan kimia sintesis, penelitian larvasida nabati sebagian besar menunjukkan efektivitas yang rendah ditunjukan oleh kecepatan membunuh larva nyamuk yang masih relatif lambat dan nilai LC50 yang masih cukup tinggi. Tanaman kamandrah dan jarak pagar adalah tanaman yang beracun yang berpotensi sebagai pestisida, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian pada tanaman kamandrah dan jarak pagar sebagai larvasida nyamuk vektor demam berdarah.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengevaluasi tumbuhan obat kamandrah dan jarak pagar sebagai larvasida nabati nyamuk Aedes aegypti yang efektif dan aman, secara khusus akan dilakukan evaluasi ekstrak air dan etanol dari tanaman kamandrah (daun, batang dan biji) dan biji jarak pagar (kulit dan endosperm), serta minyak dari biji kamandrah dan biji jarak pagar hasil pengepresan sebagai larvasida nyamuk Aedes aegypti, dan mengetahui senyawa kimia yang terkandung didalamnya.

(22)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah inventarisasi jenis tumbuhan yang mengandung senyawa berkhasiat sebagai larvasida nyamuk yang dapat dimanfaatkan dalam menanggulangi penyakit demam berdarah dengue yang menjadi masalah nasional yang selanjutnya akan berdampak dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan memberikan informasi senyawa yang aktif sebagai larvasida dalam tanaman kamandrah dan jarak pagar.

1.5 Hipotesis

Tanaman Kamandrah (daun, batang dan biji) dan biji jarak pagar (kulit dan endosperm) bersifat toksik terhadap larva nyamuk Aedes aegypti.

(23)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Berkhasiat Larvasida dan Insektisida Nabati Tumbuhan berkhasiat larvasida

Nyamuk Aedes aegypti pada umumnya bertelur ditempat air yang bersih, yang biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan memasak, oleh sebab itu larvasida yang digunakan untuk membunuh larva nyamuk Aedes aegypti harus memiliki sifat tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna dan efektif pada konsentrasi rendah, dan tentunya tidak berbahaya bagi manusia.

Widiyanti dan Muyadihardja (2004) melaporkan hasil uji Jamur Metarhizium anisopliae terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Mortalitas larva Aedes aegypti terjadi karena konidia Metarhizium anisopliae mengandung destruxin A (C29H47O7N5), destruxin B (C25H42O6N4), destruxin C,D,E yang dipertimbangkan sebagai bahan aktif insektisida generasi baru, destruxin berakibat pada organela sel target menyebabkan paralisis sel dan berubahnya fungsi midgut, tubulus malphigi dan jaringan otot.

Aminah et al. (2001) melaporkan ekstrak buah lerak bersifat toksik terhadap larva nyamuk. Ekstrak buah lerak, diduga mengandung saponin dan hormon steroid yang berpengaruh dalam pertumbuhan larva nyamuk. Larva yang mati dalam perlakuan ekstrak buah lerak memperlihatkan kerusakan pada dinding traktus digestivus. Hal ini diakibatkan karena saponin dapat menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif. Pupa tidak terpengaruh oleh saponin karena mempunyai struktur dinding tubuh yang terdiri dari kutikula yang keras sehingga senyawa saponin tidak dapat menembus dinding pupa. Ukuran larva yang mati lebih panjang sekitar 1-2 mm dibandingkan dengan kontrol, diperkirakan terjadi relaksasi urat daging pada larva yang mendapat makan tambahan hormon steroid.

Ekstrak daun kecubung bersifat toksik terhadap larva nyamuk. Pengamatan pada nyamuk yang mati abnormal menunjukkan sebagian tubuh nyamuk ada yang tersangkut selubung pupa sehingga terjadi kegagalan ekslosi. Hal ini diperkirakan karena, alkaloid yang terkandung dalam daun kecubung dapat merangsang

(24)

kelenjar endokrin untuk menghasilkan hormon ekdison, peningkatan hormon tersebut dapat menyebabkan kegagalan metamorfosis (Aminah et al. 2001).

Fitriana (2006), melaporkan hasil uji aktivitas larvasida minyak atsiri kuncup bunga cengkeh (Syzygium aromatikum) terhadap larva nyamuk Anopheles aconitus instar III diperoleh nilai LC90 sebesar 67,69 ppm.

Noegroho et al. (1997), melaporkan aktivitas larvasida minyak atsiri daun jukut Hyptis suaveolens terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar IV memiliki nilai LC50 dan LC90 sebesar = 393,69 ppm dan 1145,92 ppm, hasil analisis GC-MS diperoleh 16 puncak kromatogram, dan 8 puncak yang teridentifikasi, bila dibandingkan dengan National Institute of Standard Technology (NIST) senyawa tersebut adalah 3-karen, bisiklo-3,1,1 heksan, beta-pinen, alfa-felandren, gama-terpinen, 3-sikloheksan-1-ol, beta-kariofilen dan alfa-kariofilen. Tumbuhan jukut (Hyptis suaveolens) termasuk suku Labiatae yang mengandung monoterpen dan seskuiterpen, digunakan oleh masyarakat untuk ramuan obat tradisional, seperti penolak serangga, anti spasmodik, dan anti rematik.

Hamidah (2002), melaporkan bahwa fraksi semi polar ekstraksi daun Annona muricata mempunyai aktivitas larvasida tertinggi dibanding dengan fraksi polar dan non polar, serta fraksi semi polar daun Annona muricata mempunyai pengaruh yang paling kuat dalam menghambat penetasan telur Aedes aegypti. kemudian diikuti fraksi polar dan non polar.

Thomas et al. (2004) melaporkan minyak yang diperoleh dari ekstrak Ipomoea cairica, pada konsentrasi 100 ppm telah berhasil membunuh 100% larva Culex tritaeniorhynchus dengan nilai LC50 14,8 ppm dan pada konsentrasi 120 ppm berhasil membunuh larva Aedes aegypti dengan nilai LC50 22,3 ppm dan pada konsentrasi 120 ppm berhasil membunuh Anopheles stephensi dengan nilai LC50 14,9 ppm dan pada 170 ppm berhasil membunuh larva Culex

quinquefasciatus dengan nilai LC50 58,9 ppm.

Cetin dan Yanikoglu (2006) melaporkan efek insektisida dari esensial oil yang diperoleh dari tanaman Origanum onites terhadap larva Culex pipiens diperoleh nilai LC50 sebesar 22,4 ppm dan LC90 sebesar 61,3 ppm. Efek insektisida esensial oil yang diperoleh dari tanaman Origanum minutiflorum terhadap larva Culex pipiens diperoleh nilai LC50 sebesar 73,8 ppm dan LC90 sebesar 118,9 ppm.

(25)

Amer dan Mehlhorn (2006) melaporkan minyak tumbuhan yang berasal dari tanaman (Camphor, Thyme, Amyris, Lemon, Cedarwood, Frankincense, Dill, Myrtle, Juniper, Black Pepper, Verbena, Helichrysum and Sandalwood) memiliki bioaktivitas sebagai larvasida dengan nilai LC50 Sebesar 1 s/d 101,3 ppm untuk

Aedes aegypti, dan sebesar 9,7 – 101,4 ppm pada Anopheles stephensi dan sebesar 1-50,2 ppm pada Culex quinquefasciatus.

Thangam dan Kathiresan (1997) telah melakukan uji bioaktif larvasida terhadap larva nyamuk Culex quinquefasciatus pada 15 spesies tanaman mangrove (Acanthus ilicifolius, Aegiceras corniculatum, Avicennia marina, Bruguiera cylindrica, Ceriops decandra, Excoecaria agallocha, Rhizophora apiculata, R. lamarckii, R. mucronata, Salicornia brachiata, Sesuvium portulacastrum, Sonneratia apetala, Suaeda maritima, S. monoica and Xylocarpus granatum) dari ke-15 tanaman ekstrak petroleum ether dari tanaman R. apiculata yang paling efektif dengan nilai LC50 sebesar 25,7 mg/L.

Insektisida Nabati

Insektisida nabati yaitu insektisida yang didapatkan dari tanaman. Beberapa insektisida nabati yang umum digunakan yaitu Piretrum, Nikotin, dan Rotenon (Opender dan Dhaliwal 2005)

Piretrum

Piretrum merupakan insektisida nabati yang dipakai untuk mengendalikan berbagai serangga hama permukiman dan tidak berbahaya bagi mamalia. Piretrum berasal dari ekstrak bunga Chrysanthemum cinerariaefolium (Gambar 2). Piretrum bekerja dengan menyerang sistem syaraf pusat pada serangga sehingga dapat melumpuhkan (knockdown) serangga secara cepat (Opender dan Dhaliwal 2005). Di indonesia sebelum maraknya penggunaan piretroid, piretrum digunakan sebagai bahan aktif lingkaran anti nyamuk. Bahkan bahan ampas dari sisa ekstraksi tanaman hingga kini masih digunakan sebagai campuran anti nyamuk bakar (Hadi et al. 2006).

(26)

A B

Gambar 2 Profil bunga Chrysanthemum cinerariaefolium (A) dan serbuknya (B) (Sumber : http://kanchanapisek.or.th)

Nikotin

Nikotin adalah suatu alkaloid yang berasal dari ekstrak tanaman tembakau (Gambar 3). Nikotin bekerja dengan mimik/meniru asetilkholin pada persimpangan neuromuskular binatang yang mengakibatkan kejang, konvulsi dan kematian secara cepat. Pada serangga kejadiannya sama, namun hanya terjadi di ganglia pada sistem saraf pusat (Opender dan Dhaliwal 2005).

Gambar 3 Profil tanaman tembakau (Sumber : www.pnm.my) Rotenon

Rotenon dihasilkan dari akar/rhizome dari tanaman Derris elliptica (Gambar 4). Rotenon biasa digunakan untuk reklamasi kolam untuk kolam pemancingan yaitu dengan mengendalikan ikan yang ada, kemudian digantikan dengan spesies ikan yang dikehendaki. Pada dosis yang disarankan rotenon merupakan pembunuh ikan yang selektif namun tidak toksik terhadap organisme makanan ikan yang ada serta dapat terurai secara cepat (Opender dan Dhaliwal 2005).

Sebagai insektisida, rotenon adalah racun kontak dan perut, yang membunuh serangga secara perlahan yang diikuti dengan aktivitas berhenti makan (stop feeding action). Rotenon banyak digunakan untuk pengendalian serangga di taman dan kebun di sekitar rumah (Opender dan Dhaliwal 2005).

(27)

Gambar 4 Profil tanaman Derris elliptica (Sumber : www.metafro.be) 2.2 Larvasida Kimia untuk Nyamuk

Larvasida yang digunakan untuk membunuh atau mengganggu habitat pertumbuhan larva nyamuk pada umumnya berupa bahan kimia, larvasida digunakan dengan tujuan untuk mengurangi populasi nyamuk di daerah sekitarnya. Larvasida digunakan ketika musim nyamuk bertelur.

Larvasida biasa digunakan pada penampungan air dimana airnya digunakan bagi kebutuhan sehari-hari terutama untuk minum dan masak, oleh sebab itu maka larvasida yang digunakan harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : efektif pada dosis rendah, tidak bersifat racun bagi manusia, tidak menyebabkan perubahan rasa, warna dan bau pada air yang diperlakukan, dan efektivitasnya bertahan lama.

Beberapa larvasida dengan kriteria seperti tersebut di atas, sebagian telah digunakan secara luas (operasional) dan sebagian lainnya masih dalam tahap uji laboratorium atau uji lapangan skala kecil. Berikut ini beberapa jenis larvasida yang beredar dipasaran (Hadi 1997).

Temephos / Abate (C16H20O6P2S3)

Larvasida ini terbukti efektif terhadap larva Aedes aegypti dan daya racunnya rendah terhadap mamalia. Pada program penanggulangan vektor DBD di Indonesia, temephos sudah digunakan sejak 1976 dalam bentuk (formulasi) butiran pasir (sand granules) dengan dosis 1 ppm.

(28)

Larvasida ini termasuk jenis penghambat tumbuh serangga (insect growth regulator). Methoprene bekerja dengan menghambat proses methamorphosis serangga. Pada uji lapangan terbukti berhasil menekan kepadatan nyamuk Aedes aegypti selama sebulan. Methoprene dapat digunakan pada air yang diminum dengan dosis tidak boleh lebih dari 1 mg/L.

Diflubenzuron (C14H9ClF2N2O2)

Larvasida jenis ini memiliki sifat toksik yang rendah pada manusia, namun pada hewan uji diflubenzuron berpengaruh pada haemoglobin. Larvasida jenis ini dapat digunakan pada air minum.

2.3 Tanaman Kamandrah (Croton tiglium )

Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) merupakan salah satu tanaman obat yang banyak terdapat di wilayah Indonesia, sehingga tanaman ini ada yang menamakannya Simalakian (Sumatera Barat), Ceraken (Jawa), Roengkok (Sumatera Utara), Semoeki (Ternate), Kowe (Tidore). Di daerah kalimantan tengah, biji tanaman kamandrah banyak dimanfaatkan masyarakat, karena dipercaya mempunyai khasiat sebagai pencahar berat. Dengan memakan bijinya, maka biasanya akan cepat buang air besar, akan tetapi kelebihannya tidak menimbulkan mules pada perut (Saputera 2007). Di daerah Nusa tenggara timur, tepatnya di pulau komodo, serbuk dari biji kamandrah biasa digunakan nelayan untuk meracuni ikan di perairan sehingga ikan mudah ditangkap, serbuk biji kamandrah adalah ampas dari biji setelah minyak dikeluarkan dari biji kamandrah (Pet 1997).

Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) (Gambar 5) berupa tanaman perdu dengan tinggi tanaman mencapai 12 meter (Duke 1983). Bentuk batang tegak, bulat, berambut dan berwarna hijau, dengan daun tunggal, berseling dan lojong. Bentuk tepi daun bergerigi dengan ujung yang runcing. Panjang daun sekitar 3-4,5 cm, dengan lebar daun sekitar 1-3,4 cm. Bentuk tangkai daun silindris dengan panjang 2-2,5 cm, bentuk pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Bunga tanaman kamandrah majemuk dengan bentuk bulir, berada di ujung batang dengan klopak membulat, memiliki banyak benang sari, kepala putik bulat berwarna kuning dengan mahkota berbentuk corong berwarna kuning. Buah tanaman

(29)

kamandrah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 cm dan berwarna hijau dengan biji bulat telur berwarna coklat kehitam-hitaman. Akar tanaman kamandrah adalah akar tunggang berwarna putih (Saputera 2007).

Klasifikasi tanaman kamandrah

Famili Euphorbiaceae

Genus Croton

Spesies Croton tiglium L

Nama umum/dagang Cerakin

Nama daerah Simalakian (Sumatera Barat),

Ceraken (Jawa), Roengkok (Sumatera Utara), Semoeki (Ternate), Kowe (Tidore), Kamandrah (Kalimantan)

Minyak kamandrah dapat dihasilkan dari biji kamandrah melalui proses ekstraksi atau dengan cara pengepresan dengan menggunakan mesin pengepres biji. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui kadar lemak yang terdapat pada biji kamandrah adalah 40,01%, protein 26,69%, serat 8,45%, abu 3,14% dan karbohidrat 15,51% (Saputera 2007).

Dzulkarnain (1989) melaporkan dalam penelitiannya, biji Croton tiglium dari famili Euphorbiaceae mengandung minyak yang sangat berbahaya. Setetes (0,05 gram) dapat menyebabkan diare, sedangkan dosis lebih besar sedikit lagi fatal bagi manusia. Di sekitar Maluku dan Sulawesi Selatan bahan ini pernah diberitakan digunakan sebagai obat KB. Sebenarnya yang terjadi adalah abortus atau bila digunakan pada masa implantasi maka kerjanya sebagai anti implantasi, karena adanya kontraksi yang kuat pada usus dan juga uterus (Dzulkarnain 1989).

Banerjee dan Sen (1983) melaporkan bahwa lectin dari tanaman Croton tiglium dapat menginhibisi haemagglutination dan haemolysis cell darah merah pada kelinci.

(30)

Gambar 5 Profil tanaman kamandrah (Croton tiglium) (Sumber : Kebun Balittro Bogor)

Yuningsih dan Laba (2007) melaporkan telah melakukan uji efek toksik dari beberapa tanaman beracun di antaranya daun Lelatang (Acalypha indica), biji Karet (Ficus elastica), biji Kapok (Ceiba petandra), biji Jarak (Ricinus communis), daun Tembakau (Nicotiana tabacum), daun Strychnuos nux vomica , akar/batang Tuba (Derris eliptica), daun Tikusan (Clauseva exavata), umbi Gadung, kulit batang Ceremai, batang Kipahit (Pierasma javanica), biji Kamandrah (Croton tiglium) dan biji Picung (Pangium edule), dari berbagai ekstrak tanaman yang diuji, ekstrak yang paling toksik adalah ekstrak biji kamandrah (Croton tiglium) dan ekstrak biji picung (Pangium edule). Secara patologi anatomis ekstrak tanaman beracun tersebut menyebabkan pembendungan dan perdarahan umum pada paru-paru, jantung dan hati dan sebagian besar dari area mukosa lambung hanya berupa selaput tipis yang berwarna transparan karena mengalami atrofi.

Salatino et al. (2007), melaporkan bahwa tanaman dari genus Croton memiliki bioaktivitas anti-hypertensive, anti-inflammatory, antimalarial, antimicrobial, antispasmodic, antiulcer, antiviral dan myorelaxant.

2.4 Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas)

Jarak pagar (Jatropha curcas) (Gambar 6) telah lama dikenal masyarakat berbagai daerah di Indonesia, yaitu sejak diperkenalkan oleh bangsa Jepang pada tahun 1942-an, saat itu masyarakat diperintahkan untuk melakukan penanaman jarak sebagai pagar pekarangan. Beberapa nama daerah tanaman Jarak pagar antara lain; Jarak kosta, Jarak budeg (Sunda); Jarak gundul, Jarak pager (Jawa);

(31)

Kalekhe paghar (Madura); Jarak pager (Bali); Lulu mau, Paku kase, Jarak pageh (Nusatenggara); Kuman nema (Alor); Jarak kosta, Jarak wolanda, Bindalo, Bintalo, Tondo utomene (Sulawesi); Ai huwa kamala, Balacai, Kadoto (Maluku) (Irwanto 2006).

Klasifikasi tanaman jarak pagar

Famili Euphorbiaceae

Genus Jatropha

Spesies Jatropha curcas L.

Nama umum/dagang Jarak pagar

Nama daerah Jarak kosta, jarak budeg (Sunda);

jarak gundul, jarak pager (Jawa); kalekhe paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa tenggara); kuman nema (Alor); jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene (Sulawesi); ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku).

Jarak pagar (Jatropha curcas) seringkali salah diidentifikasi dengan tanaman Jarak kepyar (Ricinus communis) dalam bahasa Inggris disebut ”Castor Bean”. Tanaman Jarak pagar atau Jatropha curcas (Physic Nut) dan Ricinus communis (Castor Bean) ini juga sama-sama banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia, bahkan dari kedua jenis tanaman ini dapat diperoleh ekstrak minyak dari bijinya. Hanya saja tanaman jarak Ricinus communis seringkali terkait dengan produksi ”ricin” yaitu racun yang berbahaya dan banyak digunakan untuk penelitian terapi penyakit kanker, sedangkan tanaman jarak Jatropha curcas menghasilkan racun ”krusin” tetapi lebih banyak terkait dengan informasi ”biodiesel” atau ”biofuel”. Kedua tanaman ini berbeda baik dalam bentuk morfologi tanaman maupun minyak yang dihasilkannya (Irwanto 2006).

Minyak jarak dapat dihasilkan dari daging buah biji jarak melalui proses ekstraksi atau dengan menggunakan mesin pengepres biji. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui kadar lemak yang terdapat pada biji jarak pagar kering adalah 46,25%, protein 18,88%, serat 15,1%, abu 2,62% dan karbohidrat 32,25% (Zulkifli 2005).

(32)

Gambar 6 Profil tanaman jarak pagar (Sumber : Kebun praktikum UIN Jakarta) 2.5 Nyamuk Aedes aegypti dan Proses Penularan DBD

Nyamuk adalah serangga berukuran kecil, halus, langsing, kaki-kaki atau tungkainya panjang langsing, dan mempunyai bagian mulut untuk menusuk kulit dan menghisap darah. Nyamuk dapat dijumpai pada ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut sampai kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan tanah di daerah pertambangan. Nyamuk termasuk ke dalam ordo Diptera, famili Culicidae, dengan 3 subfamili yaitu Toxorhynchitinae (Toxorhynchites), Culicinae (Aedes, Culex, Mansonia, Armigeres) dan Anophelinae (Anopheles). Di seluruh dunia, dilaporkan terdapat sekitar 3100 spesies dari 34 genus. Anopheles, Culex, Aedes, Mansonia, Armigeres, Haemagogus, Sabethes, Culiseta dan Psorophora adalah genus nyamuk yang menghisap darah manusia dan berperan sebagai vector (Hadi et al. 2006).

Penyakit demam berdarah dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini ada hampir di seluruh daerah di Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di ataspermukaan laut (Koban 2005).

Nyamuk Aedes aegypti (Gambar 7) berukuran kecil, berwarna hitam dan bergaris-garis putih pada kaki dan punggungnya. Nyamuk menggigit manusia pada pagi dan sore hari (Info Ristek 2006), hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya.

(33)

Nyamuk jantan tidak menggigit dan menghisap darah, melainkan hidup dari sari bunga tumbuh-tumbuhan. Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan. Kepadatan nyamuk akan meningkat saat musim hujan (DEPKES 2004).

A B

Gambar 7 Profil nyamuk (A) dan larva Aedes aegypti (B) (Sumber : www.mosquitomagnetdepot.com)

Nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang mempunyai sifat yang khas, menggigit pada pada pagi dan sore hari. Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2-3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai adalah tempat yang lembab dan kurang terang seperti kamar mandi dan gantungan baju. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, tempat minum burung dan barang-barang bekas yang dibuang sembarangan yang pada waktu hujan terisi air. Berdasarkan hasil penelitian Hasyimi dan Soekirno (2004), jentik nyamuk paling banyak ditemukan di tempat penampungan air yang terbuat dari logam.

Nyamuk dewasa berkembang biak dengan cara meletakan telurnya di dinding tempat air, sedikit di atas permukaan air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir (DEPKES 2004). Telur Aedes berwarna hitam, oval dan diletakkan di dinding wadah air, biasanya di bagian atas permukaan air. Apabila wadah air ini mengering, telur bisa tahan (dorman) selama beberapa minggu atau bahkan bulan. Ketika wadah air berisi air dan menutupi seluruh bagian telur, maka ia akan menetas menjadi jentik (larva). Jentik dalam kondisi yang sesuai akan berkembang dalam waktu 6-8 hari, dan berubah menjadi pupa (kepongpong). Dalam waktu kurang lebih dua hari, dari pupa akan muncullah nyamuk dewasa. (Hadi et al. 2006). Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak didalam air, tetapi

(34)

tidak makan dan setelah 1-2 hari akan berubah menjadi nyamuk. Jadi total siklus hidup bisa diselesaikan dalam waktu 9-12 hari (DEPKES 2004). Siklus hidup nyamuk dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti (Sumber : http://biotechpestcontrols.com) Proses penularan DBD

Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia telah terjangkit penyakit demam berdarah. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB (kejadian luar biasa) setiap tahun. Kejadian luar biasa DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun-tahun 2000); 21,66 (tahun-tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003) (Kristina et al. 2004).

Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus itu termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus itu telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue tipe satu dan tiga (Kristina et al. 2004).

(35)

Nyamuk penular demam berdarah adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak dalam tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum dan vas bunga. Aedes albopictus juga demikian tetapi biasanya lebih banyak terdapat di bagian luar rumah (Hadi et al. 2006).

Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang mengigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. Nyamuk Aedes aegypti lebih suka berkelana mencari mangsanya di siang hari di banding nyamuk lain yang cenderung menyerang manusia pada malam hari. Setelah menggigit tubuh manusia dengan cepat perutnya menjadi buncit dipenuhi kira-kira dua hingga empat miligram darah atau sekitar 1,5 kali berat badannya. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh (Kristina et al. 2004).

Secara umum pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian nonkimiawi dan kimiawi. Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara menghilangkan tempat perindukan nyamuk dan dapat juga dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh-musuh alami nyamuk seperti ikan pemakan jentik atau larva nyamuk. Ikan pemakan jentik nyamuk adalah sejenis ikan guppy dan Poecilia reticulata yang bersifat lebih toleran terhadap perairan yang tercemar polutan organik. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan cara pemberian larvasida untuk membunuh jentik nyamuk, dan dengan cara pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa (Hadi et al. 2006).

(36)

3 BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka-LPPM-IPB, Laboratorium Balittro Bogor, Laboratorium Kimia dan Kebun Praktikum Agribisnis UIN Syarifhidayatullah Jakarta dan Laboratorium Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dari bulan Maret – September 2007

3.2 Bahan uji yang digunakan

Bahan yang digunakan adalah daun, batang dan biji kamandrah yang telah dikeringkan dan diperoleh dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah (Tamiang layang, Bambulung dan Pasar panas) yang dicampur menjadi satu. Kalimantan Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak 111º BT hingga 116º BT dan 0º 45´ LU serta 3º 30´ LS (Narang 2007), curah hujan 1245-5795 mm/tahun dengan hari hujan 118-154 per tahun, temperatur 26,6-28,20C dan kelembaban udara 69-81%. Rata-rata curah hujan selama tahun 2003-2006 adalah 1699,5 mm/tahun dengan hari hujan 127,3 per tahun, temperatur 27,2 0C dan kelembaban udara 74,45 % (BPPD 2006).

Biji Jarak pagar diperoleh dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB Bogor yang telah dikeringkan dan diambil dari daerah Lampung Sumatera selatan. Sumatera merupakan daerah yang beriklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi. Temperatur udara berkisar antara 25-27º C dengan curah hujan rata-rata 2817 mm per tahun (LAPAN 2007).

Larva nyamuk Aedes aegypti diperoleh dari Laboratorium bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

3.3 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah satu set alat maserasi, rotary evaporator, alat timbang, alat pengepresan biji, GC-MS dan satu set alat dan bahan uji larvasida nyamuk. Bahan yang digunakan adalah etanol teknis 96%, aquades, dan satu set bahan uji fitokimia.

(37)

3.4 Metode Penelitian

Kegiatan penelitian ini terdiri dari persiapan bahan baku berupa biji, batang dan daun dari tanaman kamandrah dan biji dari tanaman jarak pagar yang telah dikeringkan, pengepresan dilakukan pada biji kamandrah dan biji jarak pagar, ekstraksi menggunakan etanol teknis 96% dan air dilakukan untuk (biji, batang dan daun) kamandrah dan (kulit biji dan endosperm biji) jarak pagar. Uji fitokimia dari serbuk dan hasil ekstrak daun, batang dan biji akan dilakukan. Selanjutnya akan dilakukan uji potensi dari berbagai jenis ekstrak dan minyak hasil pengepresan sebagai lavasida Aedes aegypti, sehingga dari tahap ini akan diperoleh ekstrak terpilih yang paling baik sebagai larvasida Aedes aegypti.

Ekstrak terpilih dilakukan uji larvasida ulangan untuk mendapatkan nilai LC50 kemudian dianalisis dengan menggunakan GC-MS dan hasil analisis dibandingkan dengan literatur untuk mencari senyawa yang aktif sebagai larva nyamuk.

Persiapan bahan baku sebagai simplisia

Persiapan simplisia meliputi beberapa kegiatan, yaitu pengumpulan bahan baku, pengeringan dan perajangan dari bagian daun kamandrah, batang kamandrah, biji kamandrah, kulit biji jarak pagar dan endosperm biji jarak pagar.

Pengepresan biji

Biji kamandrah dan jarak pagar memiliki kandungan minyak yang cukup besar. Salah satu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak adalah dengan cara pengepresan (Ketaren 1996).

Pada penelitian ini dilakukan pengepresan dengan menggunakan teknik pengepresan hidraulik. Biji yang akan dipress dimasukan kedalam kantong yang terbuat dari kain berukuran 20 cm x 40 cm, kemudian dimasukan kedalam alat pengepresan hidraulik, lalu ditekan semaksimal mungkin dengan diberikan pemanasan 500C – 600C, sampai seluruh minyaknya keluar.

Ekstraksi

Ekstraksi air biji kamandrah, batang kamandrah dan biji jarak pagar (kulit dan endosperm) dilakukan dengan cara maserasi yaitu perendaman selama 5-6 hari dengan perbandingan sampel dan air sebesar 1/7 g/ml. Ekstrak air dilakukan dalam lemari pendingin (50C) dengan tujuan agar tidak tumbuh jamur,

(38)

berdasarkan pengalaman peneliti apabila ekstrak air dilakukan pada temperatur ruangan (250-300C) selama lebih dari 2 hari, maka ekstrak akan berjamur.

Ekstraksi air daun kamandrah dilakukan dengan cara maserasi selama 2 x 24 jam dalam lemari pendingin, dengan perbandingan sampel dan air sebesar 1/5 g/ml pada 24 jam pertama dilanjutkan dengan maserasi ulangan selama 24 jam kedua dengan perbandingan sampel dan air 1/3 g/ml.

Ekstraksi etanol biji kamandrah, batang kamandrah dan biji jarak pagar (kulit dan endosperm) dilakukan dengan cara maserasi selama 5-6 hari pada temperatur kamar (25-300C) dengan perbandingan sampel dan etanol sebesar 1/7 g/ml. Etanol yang digunakan adalah etanol 96% teknis.

Ekstrak etanol daun kamandrah dilakukan dengan cara maserasi selama 3 x 24 jam pada temperatur kamar (25-300C) dengan perbandingan sampel dan etanol 1/1 gr/ml. Etanol yang digunakan adalah etanol 96% teknis.

Hasil maserasi disaring dan filtratnya diuapkan pada temperatur 500C dengan rotavapor vakum hingga 1/4 dari volume awal, kemudian ekstrak pekat dikeringkan dalam vakum oven (500C) dengan cawan gelas hingga hasil ekstrak bebas pelarut. Hal ini dilakukan untuk menghindari ekstrak kering melekat pada labu rotavapor yang pada akhirnya akan sulit untuk dikeluarkan, sehingga pengeringan dilanjutkan dalam cawan gelas dengan menggunakan vakum oven.

Pada proses maserasi hingga pengeringan dihindari menggunakan temperatur tinggi maksimal 500C dengan harapan dapat menghindari kerusakan bahan aktif dalam sampel karena pemanasan. Selanjutnya masing-masing ekstrak kering ditimbang untuk diketahui rendemennya. Nilai rendemen diperoleh dengan cara menghitung dengan rumus berikut ini :

% 100 ) % 100 ( ) % 100 ( x A S A E R s e    R = Rendemen dalam % E = Berat ekstrak (g)

S = Berat sampel (Bahan baku)

Ae = Kadar pelarut ekstrak (apabila ekstrak kering maka Ae = 0%) As = Kadar air sampel

(39)

Uji fitokimia (metode Harborne 1996)

Uji fitokimia yang akan dilakukan meliputi uji alkaloid, uji flavonoid, uji tanin uji saponin, uji terpenoid, steroid, dan uji Hidrokuinon

Uji alkaloid

Sebanyak 1 gram sampel dilarutkan dengan kloroform dan beberapa tetes NH4OH kemudian disaring dalam tabung reaksi tertutup. Ekstrak kloroform dalam tabung reasi dikocok dengan 10 tetes H2SO4 2M lalu lapisan asamnya dipisahkan dalam tabung reaksi yang lain. Lapisan asam ini diteteskan pada lempeng tetes dan ditambahkan pereaksi Dragendorf, Mayer dan Wagner yang akan menimbulkan endapan dengan warna berturut-turut merah jingga, putih dan coklat.

Uji Flavonoid

Sebanyak 5 gram sampel dilarutkan dalam aquades kemudian dipanaskan selama 5 menit, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring. Sebanyak 5 ml filtrat hasil penyaringan ditambahkan serbuk magnesium (0,5 gram), 1 ml HCl pekat dan amil alkohol, kemudian dikocok kuat-kuat. Terbentuknya warna merah, kuning dan jingga pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya golongan flavonoid.

Uji Tanin

Sebanyak 5 gram sampel dilarutkan dalam aquades kemudian dipanaskan selama 5 menit, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring. Sebanyak 5 ml filtrat hasil penyaringan ditambahkan 3 tetes FeCl3 10%. Terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan terdapatnya tanin.

Uji Saponin

Sebanyak 5 gram sampel dilarutkan dalam aquades kemudian dipanaskan selama 5 menit, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring. Sebanyak 10 ml filtrat hasil penyaringan digunakan untuk pengujian. Uji saponin dilakukan dengan pengocokan 10 ml filtrat ke dalam tabung tertutup selama 10 menit. Timbulnya busa hingga selang waktu 10 menit (buih stabil) menunjukkan adanya saponin.

Uji terpenoid dan steroid

Sebanyak 2 gram sampel dilarutkan dengan 25 mL etanol panas (500) kemudian disaring kedalam pinggan porselin dan diuapkan sampai kering. Residu

(40)

ditambahkan 1 ml dietil eter dan di homogenasikan, ekstrak dietileter dipindahkan ke dalam lempeng tetes lalu ditambahkan 1 tetes anhidrida asam asetat dan 1 tetes H2SO4 pekat (Uji Liemerman-Buchard). Warna merah atau ungu menunjukkan kandungan triterpenoid sedangkan warna hijau atau biru menunjukkan kandungan steroid.

Uji Hidrokuinon

Sebanyak 1 gram sampel ditambah Metanol kemudian dipanaskan selama 5 menit dan disaring. Sebanyak 10 mL filtrat ditambahkan beberapa tetes NaOH 10%. Warna merah yang terbentuk menunjukkan adanya hidrokuinon.

Uji potensi larvasida Aedes aegypti (metode WHO 2005)

Penelitian bagian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kamandrah dan jarak pagar terhadap kelangsungan hidup nyamuk Aedes aegypti pada stadium larva instar III. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu dasar pemikiran dan sumbangan dalam pengendalian nyamuk demam berdarah dengue.

Uji potensi sebagai larvasida Aedes aegypti dilakukan pada ekstrak etanol dan air dari daun kamandrah, batang kamandrah, biji kamandrah, kulit biji jarak pagar dan endosperm biji jarak pagar. Uji potensi larvasida juga dilakukan pada minyak hasil pengepresan biji jarak pagar dan biji kamandrah. Pelarut pada uji larvasida digunakan air aquades dengan larva Aedes aegypti instar III. Sebagai kontrol digunakan air aquades dan kontrol larutan etanol 50%, 20% , 10%, 0,1 %, 0,01 % dan 0,001 %. Uji dilakukan dalam gelas plastik yang berisi larutan ekstrak sebanyak 50 ml dengan jumlah larva nyamuk Aedes aegypti instar III sebanyak 20 ekor.

Uji larvasida mencari nilai LC50 dilakukan pada ekstrak yang paling berpotensi sebagai larvasida. Uji dilakukan dalam gelas plastik yang berisi larutan ekstrak sebanyak 200 ml dengan jumlah larva nyamuk Aedes aegypti instar III sebanyak 25 ekor. Dari masing ekstrak yang akan diuji dibuat masing-masing 5 - 7 tingkat pengenceran dengan satu kontrol. Setiap pengujian dilakukan lima kali ulangan dan satu kontrol. Tingkat konsentrasi larutan ditentukan dengan uji pendahuluan, dicari nilai konsentrasi terkecil yang mampu membunuh larva

(41)

100% selama 24 jam dan nilai konsentrasi tertinggi yang tidak membunuh larva (0%) selama 24 jam.

Cara membuat konsentrasi larutan tersebut dilakukan dengan cara menimbang 6000 mg, 5000 mg, 4000 mg, 3000 mg, 2000 mg, 1000 mg, 500 mg, 300 mg, 100 mg dan 10 mg sampel kemudian masing-masing dilarutkan dalam 1 liter aquades untuk membuat larutan dengan konsentrasi berturut-turut 6000 ppm, 5000 ppm, 4000 ppm, 3000 ppm, 2000 ppm, 1000 ppm, 500 ppm, 300 ppm, 100 ppm dan 10 ppm sebanyak 1 liter.

Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi banyaknya larva yang mati pada masing-masing perlakuan dengan konsentrasi yang berbeda selama 24 jam dan 48 jam.

Analisis data

Untuk mencari angka kematian 50% dan 100% (LC50, LC100), analisis data dalam penelitian ini digunakan analisis probit (Finney Method/Log normal Distribution) dengan menggunakan software Biostat 2007.

Metode pemeliharaan larva dan nyamuk Aedes aegypti Penetasan telur

Gelas piala 250 ml diisi dengan air dan dimasukan juga kertas saring. Kemudian gelas piala dimasukan ke dalam kandang nyamuk. Kertas saring berfungsi untuk menempelnya telur-telur dari nyamuk Aedes aegypti yang telah kenyang darah. Telur akan dihasilkan sampai hari keempat setelah nyamuk makan darah.

Kertas saring yang berisi telur-telur nyamuk kemudian dikeringkan pada suhu kamar dan disimpan dalam wadah tertutup. Untuk penetasan telur, kertas saring dicelupkan ke dalam nampan plastik yang berisi air dan setelah 24 jam telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva instar I .

Pembiakan larva

Telur-telur yang telah menjadi larva instar I kemudian akan mengalami tahap perkembangan menjadi larva instar II, III (4 hari) dan instar IV (2 hari). Setiap 2 hari sekali larva diberi makan berupa pelet ikan sebanyak 1-2 gram. Media

(42)

pembiakan larva setiap 2 hari sekali airnya diganti. Larva akan tumbuh menjadi pupa selama 8 hari.

Pembiakan pupa

Larva instar IV yang telah menjadi pupa kemudian dipindahkan ke dalam gelas piala 250 ml yang berisi air. Gelas dimasukan kedalam kandang nyamuk, maka pupa akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa dalam 2-3 hari. Gelas piala dikeluarkan dari kandang bila semua pupa telah menjadi nyamuk semua. Adapun makanan dari nyamuk dewasa, yaitu air gula 10%.

Analisis GC-MS ekstrak terbaik sebagai larvasida

Analisis GC-MS dilakukan pada ekstrak yang terbaik sebagai larvasida yaitu ekstrak yang memiliki nilai LC50 terkecil. Analisis GC-MS dilakukan dengan menggunakan GC-MS QP2010 Shimadzu dengan automatic sampling system yang mampu menganalisis 50 scans per detik. Kolom yang digunakan Rtx®-1MS (Fused Silica) dengan bahan pengisi 100% dimethyl polysiloxane, yang mampu menganalisis senyawa essential oils, hydrocarbons, semivolatiles dan pesticides.

Analisis GC-MS dilakukan dengan menggunakan pelarut n-Hexane dan Gas pembawa Helium pada berbagai kondisi pengaturan temperatur pada alat GC-MS (Colom, Injection, Ion Source dan Interface) agar diperoleh pemisahan yang baik sehingga senyawa yang terdapat dalam sampel dapat diindentifikasi dengan MS dan hasil spektra massanya dibandingkan dengan data base National Institute Standar and Tecnology (NIST) yaitu NIST 27 dan NIST 147 selain itu dibandingkan juga dengan database WILEY 7 yang memiliki 338.000 spektra. Metode pengaturan alat pada GC-MS dapat dilihat pada Tabel 1. Analisis minyak jarak pagar menggunakan metode I, II dan III, sedangkan analisis minyak kamandrah menggunakan metode IV dan V.

Tabel 1 Program pengaturan alat GC-MS

Parameter Metode I Metode II Metode III Metode IV Metode V

Column Oven Temp (0C) 80 80 150 80 50

Injection Temp (0C) 230 260 250 260 310

Pressure (kPa) 34,3 56,9 26,1 56,9 69,4

Total Flow (mL/min) 66,9 91,1 43,8 91,1 122,8

(43)

Linear Velocity (cm/sec) 30 35 25 35 40

Ion Source Temp (0C) 250 250 260 250 260

(44)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Uji Karakteristik dan Uji Pendahuluan Budidaya Tanaman Jarak Pagar Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap biji jarak pagar yang meliputi bentuk biji, perbandingan berat kulit biji dan endosperm (daging) biji serta uji fitokimia dari kulit dan endosperm biji jarak. Buah jarak pagar berbentuk lonjong dengan ukuran 3-3,5 cm, panjang dan diameter sekitar 2,5 cm (Gambar 9). Buah jarak pagar yang dapat dimanfaatkan bijinya sebagai sumber minyak adalah buah jarak pagar yang sudah tua, dengan ciri-ciri batas antara ruang biji sudah nampak jelas bergaris. Minyak jarak pagar (Gambar 10) diperoleh dengan cara pengepresan dengan menggunakan alat Hydraulic Pressing.

Setiap satu buah jarak pagar terdapat tiga biji. Biji jarak pagar yang sudah tua berwarna hitam (Gambar 9) dan berbentuk lonjong. Panjang biji berkisar antara 1,5-2,0 cm sedangkan diameternya berkisar 1 cm. Perbandingan berat kulit biji jarak pagar dan endosperm (daging) biji jarak pagar pada keadaan basah adalah 30% kulit biji dan 70% endosperm (daging) biji.

A B Gambar 9 Profil buah (A) dan biji jarak pagar (B)

(45)

Tanaman Jarak pagar merupakan tanaman yang tahan kekeringan dan dapat beradaptasi secara luas mulai ketinggian 7 meter sampai 1.600 meter dari permukaan laut dengan kisaran suhu 11-38oC dan curah hujan 300-2000 mm per tahun (Hariyadi 2005). Sesuai dengan namanya, tanaman ini awalnya secara luas ditanam sebagai pagar untuk melindungi lahan dari serangan ternak. Tanaman ini sering digunakan sebagai pengendali erosi dan dapat beradaptasi dengan baik di daerah yang gersang dan tandus.

Pembibitan tanaman ini juga sangat mudah, bahan tanam dapat berasal dari setek cabang atau batang, maupun benih. Hasil uji daya perkecambahan biji jarak pagar yang dilakukan di Kebun Praktikum Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari bulan Juni – September, diperoleh hasil dari 20 biji jarak pagar yang ditanam, pada hari ke-enam ada 12 biji yang berkecambah (Gambar 11), dan pada hari ke sepuluh tinggi tanaman jarak pagar sekitar 20-25 cm (Gambar 12). Biji yang berkecambah pada umumnya tumbuh 5 akar dengan 1 akar tunggang dan 4 akar cabang.

A B

Gambar 11 Profil kecambah jarak pagar hari ke-enam (A) dan ke-tujuh (B)

A B

Gambar 12 Profil kecambah jarak pagar hari ke-delapan (A) dan ke-sepuluh (B) Pada awal pertumbuhan tanaman jarak pagar sangat peka terhadap kekeringan, untuk itu tanaman jarak pagar perlu diberi air seperlunya, agar

(46)

pertumbuhan dapat ideal tanaman perlu dipupuk, yaitu dengan menggunakan pupuk kompos/kandang (pupuk organik). Pemberian pupuk organik disarankan untuk memperbaiki struktur tanah. Pada prinsipnya pemberian pupuk bertujuan untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Jenis dan dosis pupuk yang diperlukan disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah setempat. Belum ada dosis rekomendasi khusus untuk tanaman jarak pagar ini (Hariadi 2005).

Untuk memperoleh benih yang bermutu tinggi, panen buah dilakukan pada saat benih telah mencapai masak fisiologis, pada jarak pagar ditandai dengan buah telah berwarna kuning (berubah warna dari hijau menjadi kuning), bila dibuka biji didalamnya telah berwarna hitam berkilat (Hasnan 2007).

Jarak pagar dapat diperbanyak secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan vegetatif dapat berasal dari setek cabang maupun setek pucuk. Jika menggunakan setek cabang atau batang pilihlah yang telah cukup berkayu. Sedangkan untuk perbanyakan generatif pilihlah benih dari biji yang telah cukup tua yaitu diambil dari buah yang telah masak biasanya berwarna hitam. Pembibitan dapat dilakukan di polibag atau di bedengan. Setiap polibag diisi media tanam berupa tanah lapisan atas (top soil) dan dicampur dengan pupuk kandang. Setiap polibag ditanami 1 (satu) benih. Tempat pembibitan diberi naungan dengan bahan dapat berupa daun kelapa atau jerami (Hariyadi 2005). Hasil perbanyakan tanaman jarak pagar dari biji yang dilakukan di Kebun Percobaan Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13 Tanaman jarak pagar berumur 3 bulan (Sumber : Kebun praktikum UIN Jakarta)

Jarak pagar dikenal sebagai tanaman yang beracun dan mempunyai sifat-sifat sebagai insektisida, tetapi beberapa hama dapat menyerang tanaman ini dan dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomis. Salah satu seranggga yang

(47)

merupakan hama yang umum ditemukan adalah Kepik lebing (Chisochoris javanus west), termasuk ordo Hemiptera, famili Pentatomiddae, genus chrsoris, dengan ciri-ciri panjang badan sekitar 20 mm, antena tiga ruas lebih panjang dari kepala, mempunyai bentuk perisai yang khas. Tubuhnya berwarna jingga kemerahan dan terdapat garis-garis hitam jelas. Metamorfosa sederhana : telur-nimfa - serangga - dewasa. Siklus hidup berkisar 60-80 hari. Kepik lembing (Gambar 14) menyerang jarak pagar pada saat perbungaan menjelang pembentukan buah dan menghisap madu, sehingga menimbulkan kerusakan pada kapsul buah yang sedang berkembang.

Gambar 14 Profil kepik lembing

(Sumber : http//puslitbangbun.litbang.deptan.go.id)

Menurut Rumini dan Karmawati (2007) beberapa hama tanaman yang ditemukan pada jarak pagar adalah Moluska, Valanga nigricornis (belalang), Kutu bertepung putih (Ferrisia virgata Cockerell), rayap dan kepik lembing (Chrysochoris javanus Westw). Menurut Asbani et al. (2007) Hama pada tanaman jarak pagar adalah tungau dari famili Eriophyidae, kutu putih, rayap, kutu sisik (Hemiptera : Diaspididae), kepik Chrysocoris sp dan ulat pengorok daun (Lepidoptera).

4.2 Uji Karakteristik dan Uji Pendahuluan Budidaya Tanaman Kamandrah Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) (Gambar 16) berupa tanaman perdu dengan tinggi tanaman mencapai 12 meter. Bentuk batang tegak, bulat, berambut dan berwarna hijau, dengan daun tunggal, berseling dan lonjong (Duke 1983).

Bentuk tepi daun bergerigi dengan ujung yang runcing. Panjang daun sekitar 3-4,5 cm, dengan lebar daun sekitar 1-3,5 cm. Bentuk tangkai silindris dengan panjang 2-2,5 cm, bentuk pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Bunga tanaman kamandrah majemuk dengan bentuk bulir, berada di ujung batang dengan

(48)

klopak membulat, memiliki banyak benang sari, kepala putik bulat berwarna kuning dengan mahkota berbentuk corong berwarna kuning. Buah tanaman kamandrah (Gambar 15) berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 cm dan berwarna hijau dengan biji bulat telur berwarna coklat kehitam-hitaman. Akar tanaman kamandrah adalah akar tunggang berwarna putih (Saputera 2007).

A B C Gambar 15 Profil buah (A dab C) dan biji kamandrah (B)

Gambar 16 Profil Tanaman Kamandrah (Sumber : Kebun Balittro Bogor)

Budidaya tanaman kamandrah dilakukan dari bulan Juni-September di Kebun Praktikum Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasil uji daya perkecambahan biji kamandrah yang diperoleh dari Kalimantan tengah, dari 20 biji kamandrah yang ditanam tidak ada satupun yang berkecambah. Uji daya perkecambahan dilakukan dua kali, namun tetap saja tidak ditemukan biji yang berkecambah.

Gambar

Gambar 1 Senyawa 12-0-Tetradecanoylphorbol-13-acetate
Gambar 2 Profil bunga Chrysanthemum cinerariaefolium (A) dan serbuknya (B) (Sumber : http://kanchanapisek.or.th)
Gambar 4 Profil tanaman Derris elliptica  (Sumber : www.metafro.be)
Gambar 5  Profil tanaman kamandrah (Croton tiglium) (Sumber : Kebun Balittro Bogor)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tabel tersebut, maka dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut : Pada agen DM dan berdasarkan Gambar 12, terdapat interaksi untuk 4 agen, yaitu, interaksi antar user

Subbagian restoran di hotel yang besar dapat dibagi menjadi:.. 9 Studio Tugas Akhir AR 38313 S | Jurusan Teknik Arsitektur Unikom.. a) Main dining room atau ruang makan utama

Berdasarkan uji statistik dengan spearman rho dengan signifikan α < 0,05 didapatkan hasil α = 0,000 yang nilainya lebih kecil dari α = 0,05 maka dapat

Wa h a i p a r a o r a n g t u a , bukankah kita akan menghargai dan bangga terhadap prestasi anak ketika itu sesuai dengan minat dan harapan kita? Bagaimana kalau

Pada studi awal di Gedung P UK Petra ditemukan bahwa pengguna - pengguna bangunan yang baru (terutama mahasiswa tingkat pertama) mengalami kesulitan untuk

Untuk menganilisis pengaruh rasio pasar, profitabilitas dan aktivitas berpengaruh secara simultan terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di

(2) Permohonan pengurusan perjalanan dinas luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d ditandatangani oleh Sekretaris unit kerja eselon I yang

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN GANGGUAN BODY DISMORPHIC.. PADA