) Gambar 2.5 Ikhtisar Metabolisme Lemak(Koolman dan Roehm , 2005)
2.6 Tanaman Obat
Gambar 2.5 Ikhtisar Metabolisme Lemak(Koolman dan Roehm, 2005)
2.6 Tanaman Obat
2.6.1 Definisi Tanaman Obat
Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat karena mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak mengandung zat aktif tertentu tetapi mengandung efek resultan/sinergi dari berbagai zat yang berfungsi mengobati, serta digunakan sebagai obat dalam pencegahan penyakit (Esha Flora Plants dan Tissue Culture, 2008).
Senyawa fitokimia sebagai senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman obat mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan termasuk fungsinya dalam pencegahan terhadap penyakit degeneratif (Esha Flora Plants dan Tissue Culture, 2008).
2.6.2 Penggunaan Tanaman Obat 1. Waktu Pengumpulan
Untuk mendapatkan bahan yang terbaik dan tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat.
a. Daun : dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak
b. Bunga : dikumpulkan sebelum atau sesaat sesudah mekar c. Buah : dipetik dalam keadaan masak
d. Biji : dikumpulkan dari buah yang masak sempurna
e. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus) : dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhan berhenti.
2. Pencucian dan Pengeringan
Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci bersih, sebaiknya dengan air yang mengalir. Setelah bersih, dapat segera dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian yang segar. Namun, bisa pula dikeringkan untuk disimpan.Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan mencegah pembusukan oleh bakteri. Bahan kering juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.
Pengeringan cara bahan obat :
a. Bahan berukuran besar dan banyak mengandung air dapat dipotong – potong seperlunya terlebih dahulu.
b. Pengeringan dapat langsung dibawah sinar matahari atau memakai pelindung seperti kawat halus jika menghendaki pengeringan tidak terlalu cepat.
c. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan mengangin-anginkan bahan
ditempat yang teduh atau di dalam ruang pengering yang aliran udaranya baik (Tanaman obat, 2012).
2. 7Tanaman Bungur atau Ketangi (Lagerstroemia speciosa)
2.7.1Klasifikasi Tanaman Bungur (Lagerstroemia speciosa)
Tanaman bungur diklasifikasikan ke dalam golongan sebagai berikut (Anonim, 2015a; 2015b) :
Kingdom : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Myrtales Genus : Lagerstroemia Subkingdom : Tracheobionta Divisi : Magnoliophyta Sub Kelas : Rosidae
Famili : Lythraceae
Spesies :Lagerstroemia speciosa
Salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa obat yaitu Bungur atau Ketangi (Lagerstroemia speciosa Pers.).Bungur аԁаƖаh jenis pohon Crepe Myrtle уаnɡ menghasilkan bunga berwarna merah muda atau putih.Tanaman bungur tumbuh ԁі daerah Filipina, Thailand, Indonesia ԁаn Jepang.Tanaman ini relatif lebih mudah tumbuh di berbagai jenis tanah (Liu et al, 2011).
Bungur ditanam sebagai pohon hias atau pohon pelindung di tepi jalan. Di Jawa, bungur dapat tumbuh sampai ketinggian 800 m dpl. Selain itu, bungur banyak ditemukan pada ketinggian di bawah 300 m. Pohon, tinggi 10-30 m. Batang bulat, percabangan mulai dari bagian pangkalnya, berwarna cokelat muda. Daun tunggal, bertangkai pendek.Helaian daun berbentuk oval, elips, atau memanjang, tebal seperti kulit, panjang 9-28 cm, lebar4-12 cm, berwarna hijau tua. Bunga majemuk berwarna ungu, tersusun dalam malai yang panjangnya 10-50 cm, keluar dari ketiak daun atau ujung ranting. Buahnya buah kotak, berbentuk bola sampai bulat memanjang, panjang 2-3,5 cm, beruang 3-7, buah yang masih muda berwarna hijau, setelah masak menjadi cokelat. ( Anonim, 2013 )
2.7.2 Metabolit Sekunder pada Tanaman Bungur (Lagerstroemia speciosa)
Senyawa metabolit sekunder dalam tumbuhan biasanya tersebar merata ke seluruh bagian tumbuhan tetapi dalam kadar yang berbeda-beda (Anonim, 2014). Daun bungur mengandung senyawa asam korosolat, ellagitanin dan lagerstroemin (Hayashiet al., 2002) , senyawa saponin, flavonoid, alkaloid. (Liu et al.,2001)
Saponin adalah senyawa berbentuk glikosida yang tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi, namun dengan konsentrasi berbeda-beda pada bagian tertentu, tergantung dari varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Penelitian menunjukkan bahwa saponin dapat meningkatkan sistem imun, bersifat antioksidan, dapat mencegah kanker, anti virus, dapat menghambat pertumbuhan jamur, dan biasanya digunakan sebagai bahan antiseptic (Anonim,2014).
2.7.2.2. Flavonoida
Merupakan suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman berwarna hijau, kecuali alga.Senyawa ini dapat ditemukan pada batang, daun, bunga, dan buah tanaman. Manfaat flavonoid antara lain untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C, mencegah keropos tulang, sebagai zat anti inflamasi, antioksidan, antibiotik, dan sebagai pencegah kanker (zat antioksidan). Flavonoid sendiri dikatakan dapat mencegah terjadinya penyakit degeneratif (penyakit yang terjadi seiring berjalannya proses penuaan atau pertambahan usia) dengan cara mencegah terjadinya proses peroksidasi lemak dengan cara menangkap radikal bebas dan menghelat ion logam transisi. (Anonim, 2015b)
2.7.2.3 Tanin
Tanin adalah suatu polifenol yang merupakan senyawa antara suatu metabolisme pada tanaman tingkat tinggi. Merupakan suatu ester dari Galloyl atau turunannya, yang terikat pada inti catechin dan triterpenoid (gallo-tannins, ellagitannins and complex tannins), bisa juga suatu oligomer dan polimer
proanthocyanidins yang mempunyai substitusi flavanil yang berlainan (condensed tannins)(Rahastuti et al, 2011).
Flavonoid dan tanin dapat menghambat enzim HMG-COA reduktase yang berperan mensintesis kolesterol. Terhambatnya HMG-COA reduktase akan menurunkan sintesis kolesterol di hati sehingga menurunkan sintesis APO B dan meningkatkan reseptor LDL pada permukaan hati. Kemudian kolesterol dalam darah dapat ditarik ke hati sehingga menurunkan kolesterol LDL dan VLDL. Selain itu tanin berefek menghambat enzim lipase pankreas sehingga penyerapankolesterol oleh hepar terhambat dan sekresi kolesterol melalui feses meningkat (Rahastutiet al, 2011)
Tanin jugadapatmenghambat enzimAcylCoA Cholesterol Acyl Transferase(ACAT)yang berperan dalam esterifikasi kolesterol sehingga menghambat penggabungan kolesterol ester membentuk kilomikron dan VLDL. Menurunnyakadar APO B menyebabkan pembentukan kilomikron, LDL dan VLDL terganggu yang menyebabkan trigliserida tidak terbentuk sehingga ukuran partikel sdLDL besar (Rahastuti et al, 2011).
Kandungan alkaloid memiliki efek menghambat aktivitas enzim lipase, sehingga dapat menghambat pemecahan lemak menjadi molekul-molekul lemak yang lebih kecil. Hal ini mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah lemak yang dapat diabsorbsi sehingga konsetransi trigliserida dalam usus menurun yangmenyebabkan peningkatan ukuran partikel sdLDL (Olivera et al, 2007 dan Rahastuti et al , 2011)
Pengujian pada hewan juga menunjukkan bahwa ekstrak Bungur dapat meningkatkan insulin, aktivitas hipoglikemik dan hipolipidemik(Hernawan, 2003).Pengujian bahan dilakukan dalam bentuk ekstrak di Laboratorium Analisis Pangan, Fakultas Pertanian UNUD.Adapun hasil uji yang diperoleh dapat dilihat pada table dibawah ini.(Lampiran 3)
Tabel 2.5
Kandungan Senyawa Kimia Daun Bungur
No. Jenis Analisis Jumlah Satuan Hasil
1 Kapasitas Antioksidan 1 ppm GAEAC 36,8
2 Kadar Total Fenol 1 % GAE 2.31
3 Kadar Tanin 1 %TAE 80,42
4 Kadar Flavonoid 1 %QE 13,65
Keterangan :
GAEAC : Garlic Acid Equivalent antioksidant capacity
GAE : Garlic Acid Equivalent
TAE : Tannic Acid Equivalent
QE : Quarsetic equivalent
Kandungan antioksidan dalam ekstrak daun bungur mempunyai efek yang menguntungkan pada fungsi yaitu menurunkan oksidasi LDL dan meningkatkan produksi nitric oxide (NO), Oksidasi LDL akan menginduksi respon inflamasi dengan memproduksi leukosit dan cytokine pada endotel. Nitric oxide adalah vasodilator endogenous yang mempunyai kemampuan anti aterogenesis. Oksidasi LDL akan menghasilkan Reactive oxygen species(ROS) yang bersifat toksik, dan jika berikatan dengan NO akan membentuk peroksinitrik oksidan. Oksidasi kolesterol ini dapat memacu terjadinya proses aterogenesis (Vita, 2005)
Dengan makin meningkatnya usia seseorang, sel-sel tubuh mengalami degenerasi, proses metabolisme terganggu, respon imun menurun. Semua faktor ini dapat memicu berbagai penyakit degeneratif.Oleh karena itu tubuh kita memerlukan substansi penting yaitu antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas dan meredam dampak negatifnya.Konsumsi antioksidan yang memadai dilaporkan menurunkan kejadian penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular, kanker, aterosklerosis, osteoporosis dan lain-lain.Konsumsi makanan yang mengandung antioksidan disebut-sebut dapat meningkatkan status imunologis dan menghambat timbulnya penyakit degeneratif akibat penuaan (Winarsi, 2007).