PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki tingkat penyakit infeksi yang relatif tinggi, sehingga masih membutuhkan obat-obat antibiotik untuk mengatasinya. Penggunaan antibiotik secara terus menerus dapat menyebabkan sifat resistensi mikroorganisme. Harga antibiotik yang relatif mahal menyebabkan masyarakat lebih banyak menggunakan obat herbal yang harganya relatif murah dan diduga memiliki khasiat yang sama dengan antibiotik. Beberapa simplisia tanaman yang banyak digunakan sebagai obat herbal adalah glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, dan borneo camphor. Glycyrrhizae radix merupakan simplisia akar dari tanaman Glycyrrhiza glabra (kayu manis) yang banyak digunakan untuk menyembuhkan sakit tenggorokan, alergi, rematik, persendian, diare, jantung berdebar, batuk, dan sebagai penangkal racun.
Borneo camphor merupakan produk
berupa kristal putih yang diperoleh dari tanaman Dryobalanops camphora. Dalam pengobatan tradisional Cina, camphor banyak digunakan sebagai antipiretik dan analgesik untuk sakit kepala, nyeri pada otot (myalgia), dan nyeri pada persendian. Camphor juga memiliki aktivitas sebagai antimalaria dan antialergi (Ravindran et al. 2004).
Coptidis rhizoma adalah simplisia berupa rhizoma dari tanaman Coptis chinensis. Coptidis rhizoma digunakan untuk obat sakit diare, disentri, insomnia (susah tidur), antipiretik, antiradang, dan obat bisul (Lian 2006). Coptidis rhizoma dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhy ATCC 19943 dan Salmonella paratyphi A (Lee et al. 2006) serta Streptococcus mutans ATCC 27351 (Choi et al. 2007).
Berdasarkan penelitian Listyarini (1994), obat sakit tenggorokan yang mengandung glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, borneo
camphor, dan beberapa komponen lainnya
dapat menghambat pertumbuhan
Streptococcus β-hemolyticus dan
Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang
merupakan bakteri penyebab sakit tenggorokan. Sifat antibakteri dan golongan senyawa antibakteri dari glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, dan borneo camphor belum diketahui, sehingga pengujian antibakteri dan identifikasi golongan senyawa antibakteri terhadap glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, dan borneo camphor perlu dilakukan. Upaya ini diharapkan dapat menunjukkan aktivitas
antibakteri dan golongan senyawa antibakteri dari masing-masing simplisia.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antibakteri dan golongan senyawa antibakteri dari glycyrrhizae radix, coptidis
rhizoma, dan borneo camphor terhadap
Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus
aureus, serta mengetahui pengaruh
pencampuran ketiga bahan tersebut terhadap aktivitas antibakterinya.
TINJAUAN PUSTAKA
Glycyrrhizae radix
Glycyrrhizae radix adalah simplisia berupa akar yang telah dikeringkan dari tanaman Glycyrrhiza glabra, G. inflata, G. uralensis (Gambar 1). Ketiga tanaman ini termasuk dalam famili Leguminosae (Tierra 2000). Glycyrrhizae radix mengandung ± 4% asam glisirizinat, memiliki bau yang khas, sedikit aromatis, dan rasanya sangat manis (Farmakope 1995).
Akar G. uralensis berbentuk silinder dengan panjang 25-100 cm dan diameternya 0.6-3.5 cm. Biasanya berwarna cokat kemerahan atau coklat keabu-abuan. Jaringan kulit kayunya padat, sedikit berserat, berwarna putih kekuningan, memiliki pati, lingkaran kambium terlihat jelas (Gan 2006).
Gambar 1 Akar Glychyrrhiza uralensis Akar G. uralensis mengandung glisirizhin, yang merupakan glikosida menyerupai saponin (Sabbioni et al. 2006) dan golongan flavonoid seperti likuiritin, isolikuiritin, dan likuiritigenin (Rie et al. 2003). Flavonoid yang diisolasi dari akar tanaman G. uralensis diketahui dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, Bacillus substilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli. Beberapa isoflavon seperti flavonoid, pterocarpan, dan pterocarpen dari akar tanaman G. uralensis juga diketahui dapat menghambat pertumbuhan S. aureus (He et al. 2006).
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki tingkat penyakit infeksi yang relatif tinggi, sehingga masih membutuhkan obat-obat antibiotik untuk mengatasinya. Penggunaan antibiotik secara terus menerus dapat menyebabkan sifat resistensi mikroorganisme. Harga antibiotik yang relatif mahal menyebabkan masyarakat lebih banyak menggunakan obat herbal yang harganya relatif murah dan diduga memiliki khasiat yang sama dengan antibiotik. Beberapa simplisia tanaman yang banyak digunakan sebagai obat herbal adalah glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, dan borneo camphor. Glycyrrhizae radix merupakan simplisia akar dari tanaman Glycyrrhiza glabra (kayu manis) yang banyak digunakan untuk menyembuhkan sakit tenggorokan, alergi, rematik, persendian, diare, jantung berdebar, batuk, dan sebagai penangkal racun.
Borneo camphor merupakan produk
berupa kristal putih yang diperoleh dari tanaman Dryobalanops camphora. Dalam pengobatan tradisional Cina, camphor banyak digunakan sebagai antipiretik dan analgesik untuk sakit kepala, nyeri pada otot (myalgia), dan nyeri pada persendian. Camphor juga memiliki aktivitas sebagai antimalaria dan antialergi (Ravindran et al. 2004).
Coptidis rhizoma adalah simplisia berupa rhizoma dari tanaman Coptis chinensis. Coptidis rhizoma digunakan untuk obat sakit diare, disentri, insomnia (susah tidur), antipiretik, antiradang, dan obat bisul (Lian 2006). Coptidis rhizoma dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhy ATCC 19943 dan Salmonella paratyphi A (Lee et al. 2006) serta Streptococcus mutans ATCC 27351 (Choi et al. 2007).
Berdasarkan penelitian Listyarini (1994), obat sakit tenggorokan yang mengandung glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, borneo
camphor, dan beberapa komponen lainnya
dapat menghambat pertumbuhan
Streptococcus β-hemolyticus dan
Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang
merupakan bakteri penyebab sakit tenggorokan. Sifat antibakteri dan golongan senyawa antibakteri dari glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, dan borneo camphor belum diketahui, sehingga pengujian antibakteri dan identifikasi golongan senyawa antibakteri terhadap glycyrrhizae radix, coptidis rhizoma, dan borneo camphor perlu dilakukan. Upaya ini diharapkan dapat menunjukkan aktivitas
antibakteri dan golongan senyawa antibakteri dari masing-masing simplisia.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antibakteri dan golongan senyawa antibakteri dari glycyrrhizae radix, coptidis
rhizoma, dan borneo camphor terhadap
Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus
aureus, serta mengetahui pengaruh
pencampuran ketiga bahan tersebut terhadap aktivitas antibakterinya.
TINJAUAN PUSTAKA
Glycyrrhizae radix
Glycyrrhizae radix adalah simplisia berupa akar yang telah dikeringkan dari tanaman Glycyrrhiza glabra, G. inflata, G. uralensis (Gambar 1). Ketiga tanaman ini termasuk dalam famili Leguminosae (Tierra 2000). Glycyrrhizae radix mengandung ± 4% asam glisirizinat, memiliki bau yang khas, sedikit aromatis, dan rasanya sangat manis (Farmakope 1995).
Akar G. uralensis berbentuk silinder dengan panjang 25-100 cm dan diameternya 0.6-3.5 cm. Biasanya berwarna cokat kemerahan atau coklat keabu-abuan. Jaringan kulit kayunya padat, sedikit berserat, berwarna putih kekuningan, memiliki pati, lingkaran kambium terlihat jelas (Gan 2006).
Gambar 1 Akar Glychyrrhiza uralensis Akar G. uralensis mengandung glisirizhin, yang merupakan glikosida menyerupai saponin (Sabbioni et al. 2006) dan golongan flavonoid seperti likuiritin, isolikuiritin, dan likuiritigenin (Rie et al. 2003). Flavonoid yang diisolasi dari akar tanaman G. uralensis diketahui dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, Bacillus substilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli. Beberapa isoflavon seperti flavonoid, pterocarpan, dan pterocarpen dari akar tanaman G. uralensis juga diketahui dapat menghambat pertumbuhan S. aureus (He et al. 2006).
Borneo camphor
Camphor adalah produk berupa kristal putih yang diperoleh dari tanaman Dryobalanops aromatic. atau D. camphora (famili Dypterocarpaceae) seperti yang terlihat pada Gambar 2. D. aromatic adalah pohon yang selalu berdaun hijau, tumbuh dalam ukuran yang besar, bergetah bening, daun agak tipis, bila diremas berbau harum kamper (Grive 2000).
Gambar 2 Borneo camphor
Camphor diperoleh dengan cara
memotong atau membelah bagian kayu dari batang atau akar tanaman D. camphora. Potongan kayu tersebut didistilasi uap dan diperoleh camphor kasar. Camphor kasar ini kemudian disublimasi sehingga diperoleh camphor murni (Ravindran et al. 2004). Camphor sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam etanol, kloroform, eter, dan minyak atau lemak. Titik leleh camphor adalah 174-179 oC (Farmakope 1995).
Camphor mengandung terpenoid jenis
monoterpenoid dan seskuiterpenoid (Grive 2000). Minyak atsiri adalah golongan senyawa monoterpenoid yang terdapat dalam camphor. Minyak atsiri dalam camphor sering disebut dengan minyak camphor. Camphor digunakan sebagai antiseptik dan insektisida dalam pertanian(Guenther 1990).
Coptidis rhizoma
Coptidis rhizoma adalah simplisia berupa rhizoma yang telah dikeringkan dari tanaman Coptis chinensis, C. deltoidea, C. teeteodies yang termasuk famili Ranunculaceae (Gambar 3). Rhizoma dari tanaman C. chinensis kebanyakan hidup berkelompok, bentuknya melengkung, panjangnya 3-6 cm, dan diameternya 0.3-0.8 cm. Berwarna kuning keabu-abuan atau coklat kekuningan. Coptidis rhizoma memiliki jaringan yang kuat, retakan tulang tidak rata, kulit kayu merah kekuningan
atau coklat tua, sedikit berbau, dan rasanya sangat pahit (Lian 2006).
Gambar 3 Rhizoma Coptis chinensis Coptidis rhizoma mengandung alkaloid jenis berberin, protoberberin, palmatin, dan koptisin. Berberin dan koptisin adalah senyawa aktif yang bersifat antibakteri (Lian 2006). Ekstrak coptidis rhizoma memiliki aktivitas sebagai antifungi (Seneviratne et al. 2008) dan antibakteri (Lee et al. 2006 & Choi et al. 2007).
Bakteri
Bakteri merupakan mikroorganisme bersel satu yang bersifat prokariotik. Bakteri memiliki dinding sel yang kaku dan diameternya tidak lebih dari 2-3 m. Bakteri berkembang biak dengan membelah diri atau dengan membentuk sel khusus yang disebut spora.
Berdasarkan sifat atau komponen dinding selnya bakteri digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam tekoat. Bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar lipopolisakarida yang terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (Pelzcar & Chan 1986).
Berdasarkan bentuknya bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu kokus adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, basil adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan spiril adalah bakteri yang berbentuk lengkung (Brock & Madigan 1991).
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, pH, oksigen, kelembaban, dan cahaya. Suhu memiliki efek yang besar pada pertumbuhan bakteri. Beberapa bakteri memiliki suhu optimum yang rendah, yaitu 5-10 oC dan ada bakteri yang memiliki suhu optimum mencapai 100
o
C. Umumnya bakteri dapat tumbuh pada suhu 30-40 oC dan tidak dapat tumbuh pada suhu lebih dari 100 oC. Bakteri dapat tumbuh baik pada kisaran pH 5-9.
Berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen bakteri dibedakan menjadi dua, yaitu bakteri aerob dan anaerob. Bakteri aerob memerlukan oksigen untuk hidup dan bakteri anaerob tidak memerlukan oksigen untuk hidup. Bakteri anaerob dibedakan menjadi dua, yaitu anaerob fakultatif dan anaerob obligat. Bakteri anaerob fakultatif masih bisa tumbuh dengan adanya oksigen dalam jumlah yang relatif kecil. Bakteri anaerob obligat tidak dapat tumbuh jika ada oksigen.
Pertumbuhan bakteri memerlukan kelembaban yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dalam protoplasma seperti pada proses pembekuan dan pengeringan menyebabkan kegiatan metabolisme berhenti. Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian (Dwidjoseputro 1978).
Streptococcus pyogenes
Streptococcus pyogenes adalah salah satu jenis bakteri Streptococcus beta hemolitikus grup A, yaitu streptococcus yang dapat menyebabkan terjadinya hemolisis sel darah merah yang disertai dengan pelepasan hemoglobin. S. pyogenes adalah bakteri Gram positif, non-spora, bersifat fakultatif anaerob, dan selnya berbentuk bulat dengan diameter 0.6-1 m. Biasanya struktur tersusun dalam bentuk rantai yang panjangnya beragam atau pasangan sel (Todar 2002).
S. pyogenes mudah tumbuh dalam semua media. Untuk isolasi primer harus dipakai media yang mengandung darah lengkap, serum, dan transudat. Dalam lempeng agar-agar darah yang didiamkan pada suhu 37 oC setelah 18-24 jam bakteri ini akan membentuk koloni kecil keabu-abuan. Bentuk selnya bulat, pinggiran rata, pada permukaan media koloni tampak sebagai setitik cairan. S.
pyogenes dapat menyebabkan penyakit
epidemik seperti scarlet fever, radang tenggorokan, rematik, dan infeksi pada kulit (Todar 2002).
Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus adalah bakteri
Gram positif, berbentuk bulat, umumnya hidup berkelompok, non-spora, dan dapat menghemolisis sel darah. Sifatnya anaerob fakultatif yang dapat hidup dengan respirasi aerob dan fermentasi glukosa yang menghasilkan asam laktat. S. aureus dapat hidup dalam media agar-agar yang mengandung NaCl 1.5% pada suhu 15-45 oC dan membentuk koloni berwarna kuning (Todar 2005).
S. aureus bersifat patogen terhadap manusia, yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit seperti bisul dan infeksi pada saluran air seni. Bakteri ini juga dapat menyebabkan beberapa infeksi serius seperti radang paru-paru (pneumonia), radang otot, dan pembengkakan otak bagian luar (Todar 2005).
S. aureus adalah bakteri penyebab
keracunan yang memproduksi enterotoksin. Bakteri ini sering ditemukan pada makanan yang mengandung protein tinggi, misalnya sosis dan telur. Enterotoksin yang diproduksi oleh S. aureus bersifat tahan panas, dan masih aktif setelah dipanaskan pada suhu 100 oC selama 30 menit (Fardiaz 1989).
Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang mampu membasmi mikroba yang bersifat patogen terhadap manusia atau hewan tetapi relatif tidak toksik terhadap inangnya (Gan 1987). Cara kerja antibakteri ada yang bersifat mematikan bakteri (bakterisida) dan ada yang hanya menghambat pertumbuhan bakteri disebut sebagai bakteriostatik (Shcunack 1990). Kerja antibakteri dipengaruhi oleh konsentrasi zat uji, jumlah bakteri, adanya bahan organik, dan pH (Pelzcar & Chan 1986).
Menurut Pelzcar & Chan (1986) senyawa yang bersifat sebagai antibakteri antara lain adalah etanol, senyawa fenolik, klor, iodin, dan etilen oksida. Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan yang mempunyai satu atau dua gugus hidroksil.
Flavonoid merupakan senyawa fenol yang paling banyak terdapat pada tumbuhan dan berfungsi sebagai pertahanan. Penelitian sebelumnya telah banyak melaporkan bahwa flavonoid yang diisolasi dari beberapa tumbuhan memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Flavonoid dalam daun beluntas
(Pluchea indica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus sp, Propionobacterium sp, dan Corynebacterium (Purnomo 2001). Flavonoid yang diisolasi dari akar tanaman G. glabra juga dapat menghambat pertumbuhan S. aureus (He et al. 2006).
Flavon, flavonoid, dan flavonol telah disintesis oleh tanaman dalam responsnya terhadap infeksi mikroba sehingga mereka efektif secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme. Aktivitas mereka disebabkan oleh kemampuannya untuk membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan dengan dinding sel (Naim 2004).
Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam bentuk gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid dapat menghambat pertumbuhan bakteri baik Gram positif maupun Gram negatif. Alkaloid yang diisolasi dari daun Senna racemosa dapat menghambat pertumbuhan S. aureus dan Bacillus substilis (Peraza et al. 2000). Berberin adalah salah satu contoh alkaloid yang potensial efektif terhadap typanosoma dan plasmodia (Naim 2004).
Tanin merupakan senyawa polifenol yang dapat larut dalam air, gliserol, propilenglikol tetapi tidak larut dalam benzena, kloroform, dan petroleum eter (Harbone 1987). Tanin atau asam tanat dapat menghambat dan membunuh Salmonella typhi (Mahtuti 2007). Metabolit sekunder jenis terpenoid juga memiliki aktivitas antibakteri. Terpenoid pada cabai yang dikenal dengan nama kapsaisin diketahui dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, Bacillus subtilis, Sarcina lutea, dan Escherichia coli (Sylvia 1996).
Minyak atsiri yang termasuk senyawa terpenoid diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Minyak atsiri dari daun sirih dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans (Yunilawati 2002)
Spektrofotometer Ultraviolet
Spektrofotometer ultraviolet digunakan untuk identifikasi senyawa-senyawa kimia karena banyak senyawa menunjukkan sifat khusus pada daerah UV. Spektrum UV senyawa-senyawa kimia dalam tumbuhan dapat ditentukan dengan larutan yang sangat encer (Suradikusumah 1989).
Pengukuan absorbans dalam spektrofotometer ultraviolet digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif spesies kimia. Absorpsi dalam daerah UV
menyebabkan eksitasi elektron ikatan. Puncak absorpsi (λ maks) dapat dihubungkan dengan jenis ikatan-ikatan yang ada dalam senyawa kimia (Khopkar 1990).
Spektrofotometer UV terdiri atas sumber cahaya, monokromator, dan detektor. Sumber cahaya yang biasa digunakan adalah lampu deuterium yang menghasilkan radiasi elektromagnetik pada wilayah UV. Sumber cahaya yang kedua adalah lampu tungsten yang digunakan untuk wilayah panjang gelombang sinar tampak (Pavia et al. 1996). Spektrum UV pada prinsipnya dihasilkan dengan cara melewatkan radiasi melalui monokromator menembus contoh kemudian ditangkap oleh detektor dan akhirnya dicetak pada kertas rekorder.
Spektrofotometer Inframerah
Spektrofotometer inframerah digunakan untuk menentukan gugus fungsi suatu senyawa. Komponen utama alat ini adalah sumber radiasi, monokromator, tempat sampel, dan detektor. Sumber radiasi yang digunakan umumnya adalah pemijar Nernst dan Globar. Monokromator dalam spektrofotometer IR terdiri atas celah masuk dan celah keluar, alat pendispersi yang berupa kisi difraksi atau prisma, dan beberapa cermin untuk memantulkan dan memfokuskan berkas sinar. Detektor yang digunakan adalah termokopel, bolometer, dan sel Golay (Sudjadi 1983).
Spektrofotometer inframerah dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Daerah yang paling banyak digunakan adalah daerah pertengahan dengan kisaran bilangan gelombang 4000-600 cm-1 atau dengan panjang gelombang 2.5-15 µm (Suradikusumah 1989). Spektrum IR pada prinsipnya dihasilkan dengan cara melewatkan radiasi IR ke contoh kemudian diproses dengan menggunakan interferometer. Keadaan ini secara kontinu akan menghasilkan sinyal pada detektor yang disebut interferogram (Sudjadi 1983).
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah borneo camphor, akar G. glabra, dan rhizoma C. chinensis koleksi suatu perusahaan herbal, isolat S. aureus dan S. pyogenes koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, FMIPA, IPB, agar bacto, medium
(Pluchea indica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus sp, Propionobacterium sp, dan Corynebacterium (Purnomo 2001). Flavonoid yang diisolasi dari akar tanaman G. glabra juga dapat menghambat pertumbuhan S. aureus (He et al. 2006).
Flavon, flavonoid, dan flavonol telah disintesis oleh tanaman dalam responsnya terhadap infeksi mikroba sehingga mereka efektif secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme. Aktivitas mereka disebabkan oleh kemampuannya untuk membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan dengan dinding sel (Naim 2004).
Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam bentuk gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid dapat menghambat pertumbuhan bakteri baik Gram positif maupun Gram negatif. Alkaloid yang diisolasi dari daun Senna racemosa dapat menghambat pertumbuhan S. aureus dan Bacillus substilis (Peraza et al. 2000). Berberin adalah salah satu contoh alkaloid yang potensial efektif terhadap typanosoma dan plasmodia (Naim 2004).
Tanin merupakan senyawa polifenol yang dapat larut dalam air, gliserol, propilenglikol tetapi tidak larut dalam benzena, kloroform, dan petroleum eter (Harbone 1987). Tanin atau asam tanat dapat menghambat dan membunuh Salmonella typhi (Mahtuti 2007). Metabolit sekunder jenis terpenoid juga memiliki aktivitas antibakteri. Terpenoid pada cabai yang dikenal dengan nama kapsaisin diketahui dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, Bacillus subtilis, Sarcina lutea, dan Escherichia coli (Sylvia 1996).
Minyak atsiri yang termasuk senyawa terpenoid diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Minyak atsiri dari daun sirih dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans (Yunilawati 2002)
Spektrofotometer Ultraviolet
Spektrofotometer ultraviolet digunakan untuk identifikasi senyawa-senyawa kimia karena banyak senyawa menunjukkan sifat khusus pada daerah UV. Spektrum UV senyawa-senyawa kimia dalam tumbuhan dapat ditentukan dengan larutan yang sangat encer (Suradikusumah 1989).
Pengukuan absorbans dalam spektrofotometer ultraviolet digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif spesies kimia. Absorpsi dalam daerah UV
menyebabkan eksitasi elektron ikatan. Puncak absorpsi (λ maks) dapat dihubungkan dengan jenis ikatan-ikatan yang ada dalam senyawa kimia (Khopkar 1990).
Spektrofotometer UV terdiri atas sumber cahaya, monokromator, dan detektor. Sumber cahaya yang biasa digunakan adalah lampu deuterium yang menghasilkan radiasi elektromagnetik pada wilayah UV. Sumber cahaya yang kedua adalah lampu tungsten yang digunakan untuk wilayah panjang gelombang sinar tampak (Pavia et al. 1996). Spektrum UV pada prinsipnya dihasilkan dengan cara melewatkan radiasi melalui monokromator menembus contoh kemudian ditangkap oleh detektor dan akhirnya dicetak pada kertas rekorder.
Spektrofotometer Inframerah
Spektrofotometer inframerah digunakan untuk menentukan gugus fungsi suatu senyawa. Komponen utama alat ini adalah sumber radiasi, monokromator, tempat sampel, dan detektor. Sumber radiasi yang digunakan umumnya adalah pemijar Nernst dan Globar. Monokromator dalam spektrofotometer IR terdiri atas celah masuk dan celah keluar, alat pendispersi yang berupa kisi difraksi atau prisma, dan beberapa cermin untuk memantulkan dan memfokuskan berkas sinar. Detektor yang digunakan adalah termokopel, bolometer, dan sel Golay (Sudjadi 1983).
Spektrofotometer inframerah dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Daerah yang paling banyak digunakan adalah daerah pertengahan dengan kisaran bilangan gelombang 4000-600 cm-1 atau dengan panjang gelombang 2.5-15 µm (Suradikusumah 1989). Spektrum IR pada prinsipnya dihasilkan dengan cara melewatkan radiasi IR ke contoh kemudian diproses dengan menggunakan interferometer. Keadaan ini secara kontinu akan menghasilkan sinyal pada detektor yang disebut interferogram (Sudjadi 1983).
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah borneo camphor, akar G. glabra, dan rhizoma C. chinensis koleksi suatu perusahaan herbal, isolat S. aureus dan S. pyogenes koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, FMIPA, IPB, agar bacto, medium
TSA (tryptone soy agar), TSB (tryptone soy broth), kaldu tioglikolat, etanol 50% (v/v), pereaksi Lieberman-Buchard, pereaksi Mayer, Wagner, dan Dragendorf. Alat-alat yang digunakan adalah spektrofotometer UV/Vis tipe Pharmaspex Shimadzu 1700 dan spektrofotometer FTIR tipe Bruker Tensor 37.
Metode
Metode penelitian ini terdiri atas 5 tahap, yaitu penentuan kadar air, ekstraksi sampel, uji fitokimia, identifikasi senyawa, dan uji antibakteri (Lampiran 1).
Persiapan Sampel
Sebanyak 100 g akar G. uralensis dan rhizoma C. chinensis yang telah dikeringkan serta borneo camphor dihaluskan sampai menjadi serbuk dengan ukuran 100 mesh. Serbuk yang diperoleh sebanyak 40 g.
Penentuan kadar air
Cawan porselen dipanaskan dalam oven dengan suhu 105 oC selama 30 menit, dan didinginkan dalam desikator selama 30 menit,` kemudian ditimbang. Sebanyak 2 g serbuk borneo camphor, glycyrrhizae radix, atau coptidis rhizoma dimasukkan ke dalam cawan porselen, dipanaskan dalam oven dengan suhu 105 oC selama 4 jam, didinginkan dalam desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang bobotnya dan dilakukan berulang sampai bobotnya konstan. Penentuan kadar air dilakukan triplo.
Ekstraksi sampel
Sebanyak 20 g serbuk borneo camphor, glycyrrhizae radix, atau coptidis rhizoma ditambahkan 200 ml etanol 50% (v/v), kemudian direfluks selama 26 jam pada suhu 80 oC. Sisa pelarut diuapkan dengan rotary evaporator, sehingga diperoleh ekstrak kasar dan ditentukan rendemennya (Choi et al. 2007).
Uji Fitokimia (Harborne 1987)
Uji Flavonoid. Sebanyak 1 g ekstrak
borneo camphor, glycyrrhizae radix, atau coptidis rhizoma ditambahkan 100 ml air panas, kemudian dididihkan selama 5 menit dan disaring. Filtrat yang diperoleh diambil sebanyak 10 ml, ditambahkan 0.5 g serbuk Mg, 1 ml HCl pekat, dan 3 ml amil alkohol. Campuran dikocok kuat. Uji positif ditandai
dengan munculnya warna merah, kuning, atau jingga pada lapisan amil alkohol.
Uji Terpenoid dan Steroid. Sebanyak 2 g ekstrak borneo camphor, glycyrrhizae radix, atau coptidis rhizoma dimaserasi dengan 25