PROFIL TZU CH
B. Tanggap Darurat Bencana
No Jenis Bantuan Jumlah
1 Bantuan Beras Rutin 1.203 Kepala keluarga (14.410 Kg)
Sejak awal dimulai, Tzu Chi Indonesia berusaha untuk mengirimkan bantuan bagi wilayah yang tertimpa bencana di berbagai pelosok di Indonesia. Kepala Hubungan Masyarakat (Humas), Sopyan Tjiawi (38 tahun) mengatakan,
saat memberikan bantuan, insan Tzu Chi berpedoman “Datang paling awal, pulang paling akhir”, tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga berusaha
memberikan solusi dan pendampingan. Semua itu dilakukan untuk menampilkan kembali senyuman di wajah para korban yang tertimpa bencana.
Dalam setiap pemberian bantuan bencana, Tzu Chi memegang prinsip
“langsung, prioritas, sesuai kebutuhan, menghargai dan cepat”. Prinsip “Langsung” mengkondisikan relawan untuk berinteraksi langsung dengan penerima bantuan. Prinsip “Prioritas” menjadi pegangan relawan saat harus menentukan pihak yang dibantu. Sedangkan prinsip “Menghargai” menunjukkan
bahwa Tzu Chi memandang penerima bantuan dengan penuh penghormatan sebagai sesama manusia.
Tahun-tahun setelah terjadinya bencana Tsunami tahun 2004 diwarnai dengan banyak bencana yang melanda Indonesia. Saat itu dibutuhkan lebih banyak relawan yang siap dan mampu turun ke lokasi bencana segera setelah bencana melanda. Atas dasar itulah sebuah tim tanggap darurat Tzu Chi di bentuk. Dibidani oleh sejumlah relawan yang berpengalaman dalam bantuan bencana, Tim Tanggap Darurat Tzu Chi dibentuk pada tahun 2007 dan dipimpin oleh Adi Prasetio. Dengan dibentuknya tim ini, Tzu Chi berupaya untuk hadir secepat mungkin membantu meringankan derita para korban bencana.
Stevan, (24 Tahun) mengatakan untuk tanggap darurat bencana Tzu Chi berupaya secepatnya memberikan bantuan, paling lama diupayakan 1 x 24 jam
bantuan sudah bisa disalurkan kepada masyarakat yang tertimpa bencana, misalnya gunung meletus, kebakaran massal, puting beliung, banjir dan lain lain. Misalnya paket untuk kebakaran, Tzu Chi memberikan selimut, makanan, dan pakaian.
Tabel 5.2.
Data Pemberian Bantuan Bencana Tzu Chi Medan Tahun 2015
NO Bencana Bantuan Jumlah
1 Pengungsi bencana sinabung menyambut lebaran 2015
beras 300 sak
mie instan 200 kotak
Kurma 200 kotak
2 Korban kecelakaan pesawat Herkules
Paket Korban Kecelakaan 144 orang
3 Pengungsi Rohingya pakaian dalam 1.008
buah kipas angin 5 buah
Tas plastik 684 buah Gross Masker 80 buah
Gamis Syari 25 buah
Sandal 105
pasang
Sarung 820 buah
Lobe 820 buah
Masker 20 kotak
Gamis dan baju koko 710 buah
4 Kebakaran Paket Kebakaran 195 kk
5 Kebanjiran Paket Kebanjiran 1200 kk
Sumber : Data Sekretariat Tzu Chi Medan, 2015 C. Perumahan Cinta Kasih
Perumahan cinta kasih merupakan perumahan yang permanen di bangun untuk masyarakat yang terkena bencana alam. Adapun data yang berhasil dikumpulkan setidaknya ada lima perumahan cinta kasih yang telah dibangun di Indonesia.
Perumahan cinta kasih yang pertama dibangun yakni di Yogyakarta. Letusan Gunung Merapi pada 22 November 1994 telah menjalin jodoh antara Tzu
Chi dan warga sekitar Merapi, Jawa Tengah, Yogyakarta. Tzu Chi segera datang untuk menyalurkan bantuan dan bantuan tersebut menjadi bantuan bencana terbesar, pertama bagi Tzu Chi Indonesia. Pada tanggal 5 September 1995, Tzu Chi membangun 12 Rumah Cinta Kasih pertama di Wonokerto, Yogyakarta sebagai bantuan untuk korban Gunung Merapi yang meletus. Rumah ini dibangun untuk para warga yang rumahnya sudah tidak dapat ditempati karena berada di lokasi yang berbahaya.
Kedua perumahan cinta kasih di Cengkareng, Banjir besar yang melanda Jakarta pada bulan Januari tahun 2002 melatarbelakangi pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi. Pada Juli 2002, dimulailah pembangunan perumahan cinta kasih yang diperuntukkan bagi warga bantaran kali Angke yang menjadi korban banjir. Perumahan cinta kasih yang berdiri di Cengkareng di atas lahan seluas 5 hektar bekerja sama dengan pemerintah daerah DKI Jakarta dan Perumnas. Perumahan yang berkonsep rumah susun tersebut dapat menampung 1.100 KK dan diresmikan oleh Presiden Megawati tanggal 25 Agustus 2003, lengkap dengan poliklinik, sekolah, dan pusat daur ulang. Perubahan yang terpenting bukan pada apa yang tampak di luar, namun apa yang terjadi di dalam. Tak hanya
kehidupan warga pindah dari “pinggiran” menjadi “gedongan”, namun cara hidup
warga juga mulai bergeser menjadi lebih memperhatikan kebersihan, pendidikan, dan ketertiban.
Ketiga perumahan cinta kasih di Muara Angke. Hal yang sama terulang ketika pada 6 Februari 2004 Tzu Chi mulai membangun Perumahan Cinta Kasih di Muara Angke. Kali ini perumahan tersebut diperuntukkan bagi para nelayan yang tinggal di bantaran Kali Adem, bagian hilir Kali Angke. Bentuk dan model
perumahan ini persis sama dengan Perumahan Cinta Kasih Cengkareng. Bedanya, karena luas lahan yang tersedia hanya 1,8 hektar, maka di sini dibangun 600 unit rumah susun. Perumahan ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, pada 17 Juli 2005. Meski penduduk di kedua perumahan ini memiliki latar belakang yang berbeda, Tzu Chi memperlakukan mereka dengan cara yang sama, dengan perhatian dan cinta kasih, menuntun warga ke arah hidup yang lebih baik dan manusiawi.
Keempat perumahan cinta kasih di Aceh. Tanggal 26 Desember 2004,
gempa berkekuatan 8.9 Skala Ritcher dan tsunami melanda “Serambi Mekkah”,
Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara. Akibat bencana ini ratusan ribu masyarakat Aceh meninggal dan kehilangan tempat tinggal. Untuk itu, Tzu Chi ikut berperan dalam tahap rekonstruksi Aceh dengan membangun kembali rumah para korban bencana di tiga tempat, yaitu Panteriek-Banda Aceh sebanyak 716 unit rumah, Neuheun-Aceh Besar sebanyak 850 unit rumah, dan Meulaboh, Aceh Barat sebanyak 1.000 unit rumah dengan total keseluruhan 2.566 unit rumah. Tepat satu tahun setelah terjadinya tsunami, Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi di Panteriek diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Desember 2005. Dengan adanya perumahan ini, warga pun memiliki sebuah rumah yang lebih nyaman, aman, dan tentram, sehingga mereka juga dapat terus bersemangat untuk melanjutkan kehidupannya yang lebih baik.
Kelima, perumahan cinta kasih di Padang, Pascagempa di Padang tahun 2010, sebuah organisasi sosial berencana membangun perumahan bagi korban dengan bantuan penyediaan lahan dari pemerintah dan dana dari luar negeri. Di
tengah perjalanan, proses pembangunannya terhenti. Maka, pemerintah Padang mengajak Tzu Chi untuk menyelesaikannya. Demikianlah jodoh pembangunan 100 unit Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Padang bermula. Warga yang tinggal di sini berasal dari berbagai etnis, ada warga Padang, Nias, dan Tionghoa. Semua hidup saling berdampingan dengan harmonis. Sejak masuk ke perumahan, relawan mengajak warga untuk ikut kegiatan pelestarian lingkungan. Seminggu sekali, sebanyak 25 blok rumah berangkat ke depo pelestarian Tzu Chi Padang untuk belajar memilah sampah dengan relawan. (Tzu Chi Indonesia, 2013:14).