• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan Pembaca terhadap Novel Kancing yang Terlepas Karya Handry TM

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 50-70)

Eksistensi karya sastra di hadapan pembaca adalah salah satu tujuan penciptaan karya sastra oleh pengarang. Sebuah karya sastra yang diterbitkan akan dinikmati, dinilai, dan diberi tanggapan oleh pembacanya. Pengarang, karya sastra, dan pembacanya memiliki hubungan yang linier. Hal ini memiliki arti bahwa setelah pengarang menciptakan karya sastra, karya sastra tersebut akan mendapat tanggapan dari para pembaca. Pembaca novel tersebut akan memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya. Tanggapan pembaca dapat menjadi salah satu tolok ukur keberterimaan karya sastra dalam masyarakat dan dapat menentukan sebuah karya sastra dianggap berkualitas atau tidak.

Sebuah karya sastra akan memiliki tanggapan yang berbeda-beda dari para pembacanya. Hal ini dapat terjadi karena setiap pembaca memiliki perbedaan pemahaman makna dan perbedaan penilaian terhadap sebuah karya sastra yang dibacanya sehingga peneliti dapat mengambil berbagai sisi resepsi yang didapat dari pembaca. Hal ini berkaitan dengan sosiologi pembaca dalam lingkup sosiologi sastra yang memfokuskan diri pada hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Keduanya memiliki hubungan dan saling mempengaruhi, baik pada masyarakat penunulisnya, masyarakat yang digambarkan dalam karya sastra, maupun masyarakat pembacanya. Karya sastra harus mampu hadir dalam kehidupan bermasyarakat dan secara aktif memberi pengaruh pada kehidupan bermasyarakat bagi masyarakat pembacanya.

commit to user

Peneliti dalam penelitian ini juga mengkaji data yang diambil dari tanggapan pembaca. dalam hal ini tidak ada batasan yang menentukan berapa banyak informan yang menanggapi novel Kancing yang Terlepas, karena penelitian ini bersifat kualitatif. Namun terdapat lima informan yang telah dipilih untuk menanggapi novel ini. Tanggapan pembaca ini dibagi menjadi dua jenis pembaca, yaitu pembaca ideal atau ahli dan pembaca umum. Pembaca ideal dipilih dari kalangan sastrawan dan dosen sastra Indonesia, sedangkan pembaca umum dipilih dari kalangan mahasiswa. Pembaca ideal tersebut adalah Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd., Dra. Murtini, M.S., dan Riana Wati, S.S., M.A., sedangkan pembaca umumnya adalah Abdurrakhman Hadiyanto, S. Pd. dan Yani Isnaniyah, S. Pd.

Sebelum wawancara, peneliti membuat beberapa pertanyaan sebagai titik fokus permasalahan yang akan diteliti sehingga relevan dengan penelitian. Kemudian, wawancara dilakukan baik secara langsung dengan informan maupun berdiskusi melalui email. Berikut ini tanggapan pembaca terhadap novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dari peneliti.

a. Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd

Tanggapan pembaca dalam uraian ini diambil berdasarkan kutipan catatan lapangan hasil wawancara 5 (CLHW 5). Yant Mujiyanto memberi tanggapan mengenai novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM ini memiliki tema lebih kepada kemelut rumah tangga dalam perkumpulan Orkes Tjahaya Timoer. Menurut Yant Mujiyanto, novel ini menonjolkan gaya hidup hedonis tokoh utama, Siaw Giok Hong dengan pasangan kumpul kebonya, Tek Siang. Kemudian muncul pihak ketiga yang membuat situasi runyam. Hal ini terungkap dalam petikan wawancara sebagai berikut.

Tema novel ini menurut saya adalah kemelut rumah tangga dalam perkumpulan Orkes Tjahaya Timoer, gaya hidup hedonis tokoh utama dengan pasangan kumpul kebonya. Kemudian munculnya pihak ketiga yang bikin runyam dan berakhir dengan serentetan kematian/pembunuhan. (CLHW 5, 2015)

commit to user

Kemudian yang ingin diungkapkan pengarang dalam novel menurut Yant Mujiyanto adalah hasrat bercerita secara mendalam dan jernih tentang perempuan, politik, dan kekuasaan. Novel fiksi ini bercerita gonjang-ganjing politik prolog epilog G 30 S/PKI. Pandangan Yant Mujiyanto terhadap keseluruhan peristiwa dalam novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM adalah penghayatan mendalam terhadap kehidupan sosial budaya etnis Tionghoa. Peristiwa-peristiwa dalam novel ini menguatkan bagaimana kehidupan sosial budaya etnis ini, seprti dunia kesenian etnis Tionghoa, dunia bisnisnya, dan dunia klangenan beserta aspek kriminalitas yang mereka lakukan. Berikut kutipan wawancaranya.

Pandangan saya terhadap keseluruhan peristiwa dalam novel ini adalah penghayatan yang mendalam terhadap sosial budaya masyarakat etnis Tionghoa dengan segala pernak-perniknya menyangkut dunia kesenian mereka (orkes), sepak terjang bisnis mereka, juga dunia klangenan mereka serta aspek kriminalitas yang mereka lakukan. (CLHW 5, 2015)

Menurut Yant Mujiyanto, latar novel Kancing yang Terlepas sangat erat dengan sejarah Indonesia tahun 1965-an, karena disana ditampilkan huru-hara penangkapan orang-orang etnis Tionghoa yang dianggap terlibat kudeta berdarah G 30 S. Juga opini-opini pro dan kontra yang muncul seputar geger 1965. Kehidupan sosial budaya masyarakat dalam novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM menurut Yant Mujiyanto sangat jelas dan digambarkan secara baik. Pengarang dinilai dapat menghidupkan suasana sosial budaya masyarakat etnis Tionghoa pada tahun 60-an. Hal itu ditunjang dengan dialog antar tokoh yang ada pada novel ini yang menggunakan dialek etnis Tionghoa, yaitu pemakaian kosakata bahasa Mandarin. Selain itu, hal yang lebih membuat hidup gambaran mengenai sosial budaya novel ini dapat dilihat dari adegan-adegan di perkumpulan orkes yang dibina oleh Tek Siang, yang kebetulan berada di rumah Tek Siang. Berikut ini petikan wawancara yang menyatakan pendapat Yant Mujiyanto mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat novel Kancing yang Terlepas.

Mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat etnis Tionghoa dalam novel ini, saya melihat sang pengarang sangat piawai melukiskannya.

commit to user

Dialog yang muncul pada tokoh-tokoh dengan menggunakan dialek yang dicampuri pemakaian kosakata bahasa Mandarin menambah hidup suasana. Adegan di tempat hiburan (pentas orkes) dan situasi rumah tangga Tek Siang, Oen Kiat dll mencerminkan potret sosial budaya tersebut. (CLHW 5, 2015)

Kehidupan yang ada dalam novel berdasarkan realitas di masyarakat Indonesia, menurut Yant Mujiyanto cukup menyatu, artinya pengarang berhasil menjadikan novelnya sebagai layar proyeksi kehidupan, dan dipadukan dengan dunia batin pengarang sehingga jauh dari deskripsi dunia jurnalistik dan investigasi. Gaya bahasa dalam novel Kancing yang Terlepas menurut Yant Mujiyanto bertaburan aneka ragam gaya bahasa. Yaitu dominan metafora, simile, hiperbola, personifikasi, paralelisme, klimaks, antiklimaks, satire, croni, sarkasme, paradoks, pleonasme, dll.

Pengaruh novel Kancing yang Terlepas dalam diri Yant Mujiyanto adalah novel ini dapat menambah beberapa wawasan, yaitu mengenai sosial budaya masyarakat Tionghoa, suasana pemukiman Pecinan Semarang pada tahun 1960-an, dan orkes etnis Tionghoa pada masa itu. Selain itu melalui novel ini, Yant Mujiyanto juga dapat membayangkan situasi huru-hara penangkapan warga etnis Tionghoa yang dituduh bekerja sama dengan kelompok komunis dan juga penangkapan serta penyiksaan yang dilakukan oleh TNI kepada mereka. Pendapat tersebut terungkap dalam petikan wawancara berikut ini.

Pengaruh novel Kancing yang Terlepas bagi saya, saya mendapatkan wawasan cukup luas tentang sosial budaya masyarakat Tionghoa, suasana Pecinan Semarang pentas orkes tahun 1960-an, huru-hara penangkapan, penyiksaan dan penahanan orang-orang yang dituduh terlibat G30 S tahun 1965. Melalui novel ini, saya merasa diajak menikmati nostalgia masa lalu yang manis dan pahit. (CLHW 5, 2015)

Berkaitan dengan uraian sebelumnya, nilai pendidikan dalam novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM menurut Yant Mujiyanto, yaitu nilai budaya, nilai moral, dan nilai religius/agama. Nilai budaya diperoleh dari pendidikan seni budaya dalam pentas orkes Perkoempoelan Tjahaya Timoer yang dipelopori oleh Tek Siang dengan primadonanya, Giok Hong. Sedangkan, nilai moral bukannya diperoleh dari tokoh-tokoh utama, namun justru didapat

commit to user

dari tokoh-tokoh pembantu yang setia melakukan perintah majikan-majikannya, sekaligus menjadi teman bagi majikannya secara psikologis. Nilai religius/agama juga dapat ditangkap dari adegan saat tokoh-tokoh sedang berdoa. Mereka selalu menyebut nama Thian (Tuhan) saat berkeluh kesah mengenai kehidupannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan petikan wawancara berikut ini.

Dalam novel karya Handry TM ini saya temukan juga sejumlah nilai didik, namun tidak banyak. Saya lebih banyak menjumpai refleksi kehidupan sosial masyarakat Tionghoa, kejiwaan mereka disini. Novel dibuka dengan lukisan yang indah tentang pendidikan seni budaya dalam pentas orkes Perkoempoelan Tjahaya Timoer. Pengetahuan saya tentang miskinnya apresiasi seni orang-orang Tionghoa terbantah dengan kehadiran pentas orkes yang dipelopori Tek Siang dengan Giok Hong sang primadona. Ironisnya, nilai-nilai moral justru ditampilkan oleh tokoh-tokoh pembantu (yang kebetulan menjadi pembantu) seperti Ing Wen, Pardjan, Soeroto, yang setia membersamai majikan-majikan mereka, ikut memperlancar aktivitas mereka, bisa menjadi teman curhat yang meringankan beban. Dengan porsi kecil, kita juga bisa menjumpai adanya kasih sayang dan pengorbanan tokoh-tokoh cerita. Nilai religius ditandai pada waktu-waktu tertentu tokoh-tokoh cerita berdoa, mencurahkan keluh kesah kepada Tuhan. (CLHW 5, 2015)

Selanjutnya, menurut pendapat Yant Mujiyanto, novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM dapat dijadikan pilihan bacaan bagi mahasiswa perguruan tinggi karena memuat pengetahuan dan manfaat bagi mahasiswa perguruan tinggi. Pengetahuan dan manfaat tersebut, yaitu memperoleh wawasan yang cukup luas dan mendalam tentang budaya penduduk etnis Tionghoa di wilayah Pecinan Semarang pada tahun 1960-an. Kemudian manfaat lainnya yaitu mahasiswa dapat menikmati karya sastra ini dari segi pendiksian dan aneka gaya bahasanya. Mereka dapat berimajinasi dengan penggambaran yang dilakukan oleh Handry TM dalam novel tersebut. Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai sejarah yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu kemelut sosial politik keruntuhan Orde Lama pada tahun 1960-an dan penumpasan orang orang yang dianggap berperan dalam tragedi G 30 S/PKI. Berikut kutipan wawancara yang menunjukkkannya.

Menurut saya dapat dijadikan pilihan bacaan mahasiswa perguruan tinggi karena memuat pengetahuan dan manfaat bagi mahasiswa perguruan

commit to user

tinggi: (1) Memperoleh wawasan yang cukup luas dan mendalam tentang sosial budaya penduduk etnik Tiongkok di wilayah Pecinan (Gang Pinggir dan kawasan Kota Lama) Semarang dengan denyut kehidupan masyarakatnya yang spesifik pada tahun-tahun 1960-an; (2) Menikmati keindahan pendiksian dan aneka gaya bahasa serta hadirnya sejumlah imajeri, membuat novel ini bisa dianggap punya nilai sastra yang tinggi; dan (3) Pembaca mendapatkan gambaran tentang sejarah kemelut sosial politik keruntuhan Orde Lama berikut penumpasan orang-orang yang dianggap terlibat G 30 S/PKI oleh penguasa Orde Baru. (CLHW 5, 2015)

Kemudian kritik dan saran Yant Mujiyanto terhadap novel ini adalah adanya sedikit kejanggalan tentang perusakan wajah Giok Hong yang kemudian menjelma Boenga Lily yang cantik jelita. Sedangkan sarannya, sebaiknya novel ini lebih ditingkatkan pemasarannya terutama untuk para pembaca etnis Cina karena rasanya novel ini sangat tepat untuk mereka.

b. Dra. Murtini, M. S.

Infoman kedua yang menanggapi novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM adalah Dra. Murtini, M.S., dosen sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas maret. Hasil wawancara dengan beliau terangkum dalam catatan lapangan hasil wawancara 1 (CLHW 1).

Berdasarkan kutipan hasil wawancara dengan Dra. Murtini, M.S., beliau menanggapi bahwa tema dari novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM ini merupakan gambaran dari kehidupan bermasyarakat yang sangat kompleks. Tema novel ini dinilai berhubungan dengan masalah kemanusiaan. Masalah yang diusung novel ini menurut Murtini sesuai dengan yang dituliskan di dalam novel, yaitu masalah perempuan, politik, dan kekuasaan yang dimunculkan oleh tokoh utamanya, Siaw Giok Hong. Berikut kutipan wawancara yang menunjukkannya.

Iya, saya kira tema dari novel ini merupakan suatu gambaran dari masyarakat yang sangat kompleks yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan, seperti yang tertera dalam novel yang menuliskan tentang masalah perempuan, politik, dan kekuasaan yang dimunculkan oleh tokoh utama, Siaw Giok Hong. (CLHW 1, 2015).

commit to user

Berdasarkan pendapat Murtini, pengarang dalam novel Kancing yang Terlepas ingin mengungkapkan peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia pada khususnya dampaknya terhadap masyarakat etnis Tionghoa. Pengarang ingin mengungkapkan bahwa kelompok minoritas seperti etnis Tionghoa pun ikut berperan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu pengarang juga ingin menggembarkan bahwa kelompok etnis Tionghoa dari zaman Kemerdekaan sampai sekarang ini selalu menjadi pihak yang dicurigai, padahal terdapat sebagian dari mereka yang turut membantu berdirinya NKRI. Data tersebut didapatkan dari kutipan wawancara berikut.

Melalui latar belakang sejarah itu, yang tidak tertera di mata pelajaran, pengarang ingin memunculkan bahwa ada komunitas yang dianggap minoritas ternyata juga ikut urun (berperanan) itu terlibat dalam pemerintahan republik Indonesia dalam hal ini ingin menampilkan sepak terjang kelompok Cina yang diwakili oleh Tek Siang, Tan Kong Gie, dll. Artinya bahwa komunitas ini ikut membantu tentang kehadirannya di RI, hanya pengarang ingin mengungkapkan bahwa kelompok Cina dari zaman Kemerdekaan sampai sekarang ini selalu menjadi pihak yang dicurigai, sehingga pengarang ingin mengungkapkan bahwa kelompok ini ikut andil dalam berdirinya bangsa ini. (CLHW 1, 2015).

Bertemali dengan uraian di atas, Murtini berpendapat mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat dalam novel Kancing yang terlepas karya Handry TM. Dari segi sosial, masyarakat etnis Tionghoa dinilai Murtini dapat berbaur dengan masyarakat setempat tetapi dengan cara yang kurang baik. Dalam novel tersebut, masyarakat etnis Tionghoa dalam menjalin hubungannya dengan masyarakat setempat seringkali berupa pemberian uang atau makanan. Hal itu memunculkan pertanyaan Murtini apakah masyarakat etnis Tionghoa sudah biasa melakukan perilaku suap dalam berhubungan bermasyarakat atau dalam berdagang. Kemudian menimbulkan pertanyaan lanjutan apakah perilaku suap dilakukan karena etnis Tionghoa adalah kelompok minoritas di negara Republik Indonesia, ataukah memang sudah menjadi kebiasaan mereka dari zaman nenek moyang. Perilaku seperti itu juga memunculkan kesimpulan bahwa orang pribumi mudah menerima suap dan diperbudak.

Selanjutnya dari segi budaya, tampak usaha seorang tauke kaya, tek Siang yang mempelopori berdirinya kesenian etnis Tionghoa melalui Perkoempoelan

commit to user

Tjahaya Timoer. Hal itu dinilai Murtini bahwa Tek Siang ingin mengembangkan kesenian dan berjuang untuk membangkitkan kesenian dari negeri Tiongkok tersebut. Hal itu tergambar dalam kutipan wawancara berikut.

Mengenai sosial budaya, kita melihat dulu segi budaya yang tampak, terdapat orkes dalam perkumpulan Cina itu, perkumpulan tjahaya timoer yang ditampilkan disitu, Tek Siang ingin mengembangkan kesenian itu berarti dia akan berjuang dan bergerak salah satunya di ranah kesenian. (CLHW 1, 2015)

Menurut Murtini, pandangan dunia pengarang dalam menciptakan kehidupan masyarakat dalam novel, yaitu pengarang menyuguhkan hiruk pikuk persoalan sosial politik yang terjadi di Indonesia. Kemudian pengarang ingin mengangkat bahwa yang dapat mengukir sejarah Indonesia bukan hanya orang-orang besar, tetapi juga orang-orang-orang-orang kecil berperan dalam pembentukan NKRI. Pendapatnya tentang pandangan dunia pengarang, sosok yang biasa pun ikut membangun kehidupan.

Murtini berpendapat bahwa gaya bahasa dalam novel ini relatif mengalir. Pengarang memiliki kebiasaan untuk menuliskan syair lagu dengan ejaan lama, begitu pula nama orang dan nama kota. Hal tersebut senada dengan sejarah 60-an dim60-ana tahun 60-60-an masih menggunak60-an eja60-an lama. Pilih60-an kat60-anya mudah ditangkap menjadi satu kesatuan yang utuh dalam cerita, meskipun disisipi oleh istilah Jawa dan Cina untuk memperkuat karakter tokoh dan jalan cerita sehingga maksud pengarang tersampaikan. Novel Kancing yang Terlepas apabila ditinjau dari segi sastra, dari unsur intrinsiknya sudah memenuhi karya sastra. Sebagai novel, menurut Murtini novel ini termasuk kategori lancar, bukannya novel yang absurd/abstrak artinya, dipandang dari sastra, novel memiliki sifat konvensional. Pengalurannya runtut dari awal sampai akhir meskipun terdapat satu pengaluran yang agak tergesa-gesa.

Inti dari novel ini menurut Murtini adalah pengarang ingin memberikan informasi kepada pembaca bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Walaupun sekarang ini Murtini berpendapat bahwa etnis ini agak diistimewakan dari etnis lain. Seharusnya Handry TM lebih menunjukkan etnis Cina dan pribumi yang lebih membaur. Menurut Murtini, novel Kancing yang

commit to user

Terlepas karya Handry TM ini memiliki nilai-nilai pendidikan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh mahasiswa. Murtini berpendapat bahwa pelajar pada era sekarang ini berbeda dengan pelajar pada era terdahulu. Novel ini dapat digunakan mahasiswa untuk membedakan yang mana baik buruknya kehidupan sehingga dapat meneladani hal-hal yang baik saja tanpa harus terpengaruh dengan nilai buruknya. Nilai pendidikan yang dapat dipetik adalah apabila seseorang ingin meraih sesuatu, atau ingin berprofesi sesuatu itu harus diperoleh dengan cara yang benar agar tidak memiliki nasib yang tragis, seperti yang digambarkan oleh tokoh Giok Hong yang nasibnya berakhir tragis. Selain itu hidup harus ditempuh dengan kejujuran dan apa adanya, berlawanan dengan sikap Tek Siang dan Tan Kong Gie yang saling telikung untuk mendapatkan hal yang mereka inginkan. Kutipan wawancara yang menunjukkannya sebagi berikut.

Saya berpendapat, nilai pendidikan yang dapat dipetik adalah orang yang ingin meraih sesuatu atau ingin berprofesi sesuatu, misalnya pemimpin atau penyanyi harus diperoleh dengan cara yang benar karena apabila diperoleh dengan cara yang tidak benar akan memiliki nasib yang tragis pada akhirnya. Seperti contohnya dalam novel ini, Giok Hong yang berprofesi sebagai penyanyi memiliki suara dan dididik dengan bagus pada akhirnya menempuh hidupnya dengan cara yang tidak benar. Dia merasa sebagai korban, padahal kalau ia memiliki prinsip, ia akan memiliki hidup yang tidak berakhir tragis. Tokoh Tek Siang dan Tan Kong Gie yang saling tikung juga mengajarkan bahwa hidup harusnya ditempuh dengan kejujuran dan apa adanya. Sama saja ia memperoleh sesuatu yang diinginkan tetapi hidupnya tidak tenang. (CLHW 1, 2015)

Keterkaitan kehidupan sosial budaya masyarakat dalam novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM dan relevansinya dengan pembelajaran sastra menurut Murtini, yaitu secara umum karya ini bisa memberikan pengayaan terhadap kehidupan sastra di Indonesia. Dalam arti bisa melengkapi karena persoalan dalam novel ini begitu kompleks karena kehidupan sosial budaya dalam masyarakat Cina yang tertuang dalam novel ini bisa menjadi pengayaan bagi pembaca dari berbagai etnis dalam ranah pembelajaran sastra di Indonesia terutama di Perguruan Tinggi.

commit to user

Selanjutnya, berdasarkan CLWH 1, novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM dapat dijadikan pilihan bacaan oleh mahasiswa perguruan tinggi, juga dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra perguruan tinggi. Novel ini dinilai Murtini memiliki isi yang kaya dengan persoalan yang bisa dipelajari. Novel ini dapat ditinjau dari sisi feminisme, sosiologi sastra, dan psikologi sastra. Selain itu dapat dipelajari juga sisi sejarahnya dan sastra jurnalistik karena pengarangnya yang merupakan wartawan. Novel ini dimensinya tidak hanya dari isi karya itu tetapi juga dari unsur ekstrinsik dan pragmatisnya. Berikut kutipan wawancara yang menunjukkannya.

Menurut saya layak dan bisa juga dijadikan materi ajar dengan alasan bahwa dari sisi bentuknya sebagai novel, sementara isinya memang kaya ada berbagai persoalan yang bisa dipelajari. Apakah karya ini dapat ditinjau dari sisi feminisme, sosiologi sastra, dan psikologi dari tokoh-tokohnya, dan kehidupan sosial masyarakatnya. Bahkan dapat ditinjau dari sisi sejarahnya sendiri. Atau dari sisi pengarangnya yang kita lihat sastra jurnalistiknya karena pengarang adalah wartawan. Artinya, novel ini sebagai bacaan saya kira dimensinya tidak hanya dari isi karya itu tetapi juga bisa ditinjau dari sisi ekstrinsiknya atau dari segi pragmatisnya, yaitu bagaimana sambutan masyarakat terhadap novel ini seperti apa. (CLHW 1, 2015)

c. Riana Wati, S. S, M. A.

Riana Wati, S. S., M. A. Seorang dosen sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, UNS memberi tanggapan mengenai novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM sebagai novel yang bertemakan kehidupan masyarakat etnis Tionghoa. Novel ini mengusung kondisi sosial budaya masyarakat etnis Tionghoa pada tahun 1960-an. Hal tersebut diwakili oleh tokoh-tokoh dalam novel Kancing yang Terlepas sebagai masyarakat Gang Pinggir, Pecinan Semarang. Tema tersebut diungkapkan oleh informan dalam kutipan wawancara berikut.

Iya, tema dari novel ini yaitu kehidupan masyarakat etnis Tionghoa. Kondisi sosial budaya masyarakat Cina pada masa 60-an itu sudah cukup diwakili oleh kelompok Gang Pinggir dengan tokoh-tokohnya tersebut. (CLHW 2, 2015)

Berdasarkan CLHW 2, Riana Wati mengaku bingung terhadap masalah yang ingin diungkapkan oleh Handry TM dalam novel Kancing yang Terlepas

commit to user

tersebut. Menurut beliau, gambaran mengenai masyarakat etnis Tionghoa dalam novel ini kurang bagus karena penuh dengan sifat yang kurang baik dari tokoh-tokohnya. Walaupun pengarang memiliki banyak referensi mengenai budaya Tionghoa, Riana Wati menilai novel ini kurang menggambarkan sosial budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia yang baik. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam petikan wawancara sebagi berikut.

Saya agak bingung menjawab pertanyaan ini karena pada awalnya saya berpikir Handry TM ingin mengungkapkan sosial budaya masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia. Namun apabila menilik novel ini, gambaran Handry TM mengenai masyarakat etnis Tionghoa saya rasa kurang bagus karena penuh dengan intrik dan saling telikung. Padahal, saya lihat Handry TM memiliki banyak referensi dari buku-buku yang ia pinjam dari

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 50-70)

Dokumen terkait