commit to user
71
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini terdiri dari dua subbab, yaitu: (A) hasil penelitian dan (B) pembahasan. Berikut dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan.
A. Hasil Penelitian
1. Latar Belakang Sosial Budaya Masyarakat dalam Novel “Kancing yang
Terlepas” Karya Handry TM
a. Adat
Sebuah masyarakat memiliki kebiasaan-kebiasaan yang telah diwariskan secara turun temurun sehingga menjadi adat yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Adat yang ada di dalam komunitas masyarakat menjadi sebuah kekayaan tersendiri bagi masyarakatnya yang bisa menjadi ciri identitas masyarakat tersebut. Masyarakat Pecinan Semarang, yaitu etnis Tionghoa memiliki beberapa adat yang khas yang membedakannya dengan etnis/masyarakat yang lain. Adat yang ditunjukkan dalam novel adalah perayaan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, dan tradisi berkabung saat anggota keluarga meninggal.
Budaya masyarakat Pecinan Semarang yang paling menonjol dan masih kental sampai sekarang adalah budaya perayaan Tahun Baru Imlek, yaitu tahun baru berdasarkan penanggalan orang Tionghoa. Pada hari-hari menjelang Imlek, suasana di pemukiman Pecinan Semarang nampak meriah. Orang orang bersuka cita, rumah-rumah dipasangi lampion berwarna merah, bahkan ada yang mengecat pilar rumah dengan warna merah. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut ini.
Sebenarnya orang-orang kaya di seputar Gang Pinggir ingin membuat perayaan sepanjang malam. Namun mereka sungkan akan penderitaan orang-orang sekitar. Akhirnya mereka hanya memasang lampion di beberapa rumah besar. (KYT:161).
commit to user
Yang ia lihat saat ini, Gang Pinggir terkesan memerah. Orang-orang bersuka cita, rumah-rumah makan saling mematut diri dengan hiasan berwarna cerah. (KYT: 218).
Hampir mendekati perayaan Imlek. Hujan turun berkepanjangan. Suasana malam di Gang Pinggir tidak penah berubah dari sebelumnya. Rumah-rumah tua berbenah, dibersihkan dari debu-debunya, sebagian pilarnya dicat merah. (KYT:307).
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, masyarakat etnis Tionghoa sangat bersuka-cita dengan datangnya Tahun Baru Imlek. Seperti pernyataan dalam novel bahwa biasanya orang-orang kaya di seputar Gang Pinggir menggelar perayaan sepanjang malam, walaupun di saat itu disebutkan tidak digelar perayaan karena situasi Gang Pinggir yang penuh teror. Rumah-rumah penduduk dan juga rumah makan dipenuhi hiasan berwarna merah, karena dalam kepercayaan mereka, warna merah adalah warna yang melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan. Yang paling khas dari hiasan-hiasan tersebut adalah lampion berwarna merah. Selain itu, rumah-rumah juga berbenah dengan dibersihkan dari debu-debu.
Selain kemeriahan yang terlihat di pemukiman Pecinan Semarang, saat menjelang Tahun Baru Imlek, masyarakat membuat berbagai macam makanan sebagai tanda suka cita penyambutan Tahun Baru Imlek. Saat menjelang Tahun Baru Imlek, tempat peribadatan maupun orang kaya dermawan pun mulai sibuk memberi derma. Derma tersebut biasanya berbentuk pembagian makanan untuk kaum miskin. Berikut kutipan yang menunjukkan hal tersebut.
Beberapa klenteng besar mulai sibuk. Tempat-tempat peribadatan di gang kecil cukup sibuk juga. Orang-orang terlihat sibuk mengatur pembagian makanan untuk kaum papa. (KYT: 307)
Di sepanjang jalan besar, terutama di rumah-rumah makan terkenal, orang-orang yang tahun ini memiliki keberuntungan besar akan terlihat dari caranya mempersiapkan Imlek Raya. Sedangkan orang-orang miskin akan merapat ke Rumah Makan Mei Wei selain beberapa rumah makan ternama lainnya. Rumah Makan A Kiang dan Rumah Makan Lombok masuk hitungan untuk dikunjungi. Ketiga rumah makan besar itu terbiasa memberi derma besar. (KYT: 307-308)
commit to user
Tan Kong Gie jauh-jauh hari telah menyebar pengumuman. Ia akan membagikan banyak makanan kepada orang-orang miskin. Acara pembagian biasanya berlangsung beberapa hari menjelang Imlek. Ia juga berjanji akan menggelar pertunjukan wayang potehi sepanjang tiga malam berturut-turut tepat di halaman Rumah Makan Mei Wei. Lebih mencengangkan lagi, Tan bermaksud untuk membangun tempat peribadatan menengah, persis di tengah distrik ini. (KYT:308)
Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, digambarkan bahwa rumah peribadatan yang berupa klenteng terlihat sibuk karena mempersiapkan tradisi mereka, yaitu membagikan makanan bagi kaum papa. Selain itu rumah-rumah makan terkenal yang memiliki keuntungan besar ditahun sebelumnya juga memberi derma besar kepada orang-orang miskin, sehingga orang-orang miskin berdatangan untuk menerima derma tersebut. Dalam novel disebutkan Rumah Makan Mei Wei, Rumah Makan A Kiang, dan Rumah Makan Lombok. Bahkan Tan Kong Gie, pemilik Rumah Makan Mei Wei merayakan hari besar itu dengan menggelar wayang potehi serta membangun tempat peribadatan di tengah distrik.
Bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek adalah Cap Go Meh. Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari. Masyarakat Pecinan Semarang juga merayakan Cap Go Meh sebagai bagian dari tradisi perayaan Tahun Baru Imlek. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada kutipan sebagai berikut.
Hawa panas seperti ini paling hanya beberapa lama saja berlangsung, karena di awal tahun 1960-an, Cap Go Meh dipastikan jatuh pada musim penghujan. (KYT: 76)
Ing Wen terus mengayuh sepeda ke lorong lain. lorong perkotaan tempat rumah-rumah penuh dengan gelantungan lampion. Tepat di perempatan, Ing Wen berusaha menikmati semaraknya lampu-lampu menjelang Tahun Baru Imlek. Akan terjadi perayaan besar pada penanggalan bulan purnama di hari pertama. Puncaknya, pada penanggalan ke-15,
commit to user
berlangsung Cap Go Meh, perayaan Tahun Baru paling besar bagi kalangan orang-orang Tionghoa. (KYT:218)
Berpijak dari kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa Cap Go Meh akan segera tiba dan jatuh di musim penghujan. Ada perayaan besar yang digelar pada penanggalan bulan purnama di hari pertama yang puncaknya pada penanggalan ke-15. Hari tersebutlah akan digelar perayaan Tahun Baru paling besar bagi kalangan Tionghoa, yang disebut dengan Cap Go Meh.
Selain budaya perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, sebagaimana etnis Tionghoa di tempat lain, masyarakat Pecinan Semarang juga memiliki tradisi saat anggota keluarganya meninggal. Keluarga mendiang akan menggelar pelayatan sesuai dengan kekayaan yang dimiliki. Semakin kaya keluarga tersebut, semakin besar pula pelayatan yang digelar. Keluarga mendiang biasanya memakai pakaian belacu warna putih mangkak, sedangkan mendiang sendiri mengenakan busana kebesarannya. Masa berkabung dilakukan selama beberapa hari sebelum jenazah diperabukan/dikremasi. Berikut kutipannya.
Rumah seluas setengah perkampungan Sebandaran ini berbenah menyambut para takziah. Istri Oen Kiat telah mengenakan pakaian belacu berwarna putih mangkak. Demikian pula ketiga putra-putri mereka yang mulai beranjak remaja. (KYT:70)
Tetes air mata itu jatuh ke bagian tubuh Oen Kiat yang terbungkus rapi baju kebesaran. (KYT:74)
Di kawasan selatan, seorang tokoh sedang berpulang. Keluarga menggelar pelayatan besar-besaran. Isak tangis dan doa-doa dipanjatkan. Keluarga itu semakin menunjukkan kekayaannnya dengan cara merencanakan perabuan yang tidak biasa. (KYT:98)
Rencana penguburan anak tertua Tan Kong Gie tidak terlalu menjadi pusat perhatian warga. Meskipun biasanya berkabung bagi handai taulan dan para tetangga adalah perayaan utama. Biasanya mereka akan berbondong-bondong setor kesedihan, sambil membawa angpao untuk dimasukkan ke jambangan duka. (KYT:425)
Berpijak dari kutipan-kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa keluarga Oen Kiat menggelar pelayatan besar-besaran. Hal itu menunjukkan bahwa kekayaan mereka teramat besar. Istri dan anak-anak Oen Kiat menggunakan
commit to user
pakaian belacu berwarna putih mangkak sebagai tanda bahwa mereka anggota keluarga dari almarhum Oen kiat yang sedang berduka. Berbeda dengan almarhum Oen Kiat yang memakai baju kebesaran. Kebiasaan berkabung bagi handai taulan dan tetangga merupakan perayaan utama yang ditandai datangnya mereka untuk melayat sambil membawa angpao untuk dimasukkan dalam jambangan duka yang sudah disiapkan.
Dalam tradisi ritual orang meninggal dalam etnis Tionghoa masyarakat Pecinan semarang, tangis bersahut-sahutan hampir menjadi tradisi. Ada pengatur khusus yang mempersiapkan tangisan bersama dari para kerabat untuk menunjukkan rasa duka yang dalam terhadap kepergian mendiang. Berikut kutipannya.
Tangis bersahut-sahutan hampir menjadi tradisi ritual sang-seng orang-orang Tionghoa. Bahkan ada pengatur khusus yang mempersiapkan tangisan bersama dari para kerabat, sekadar menunjukkan rasa duka yang dalam terhadap kepergian Oen Kiat. (KYT:74)
b. Pekerjaan
Masyarakat dalam novel Kancing yang Terlepas secara umum memiliki pekerjaan yang beragam. Tingkat ekonomi di Gang Pinggir, Pecinan Semarang yang ditunjukkan Handry TM memiliki perbedaan yang signifikan. Terdapat orang-orang kaya yang umumnya berprofesi sebagai pedagang, pengusaha rumah makan, ataupun tuan tanah. Selain itu, dalam novel ini terdapat juga masyarakat ekonomi rendah yang berprofesi sebagai pelayan, pedagang kecil, pemusik, pekerjaan kurang terpuji seperti pencopet, penjambret, dan pemulung, bahkan pekerjaan yang berkaitan dengan kondisi politik saat itu seperti agen politik dan telik sandi. Sementara itu, tokoh utama dari novel Kancing yang Terlepas, yaitu Siaw Giok Hong/Boenga Lily memiliki pekerjaan sebagai biduan dan penari. Ia dibimbing oleh Tek Siang, tauke orkes yang mendirikan kelompok orkes “Perkoempoelan Tjahaya Timoer”. Terdapat pula tokoh Timoer Laoet yang berprofesi sebagai pemain rebab Cina.
Berikut kutipan yang menunjukkan pekerjaan Siaw Giok Hong/Boenga Lily dan tokoh lain yang berkecimpung dalam dunia musik.
commit to user
Di ruangan lain, awak orkes yang berjumlah lima belas orang itu biasanya membentuk petak-petak sederhana untuk persiapannya sendiri. Bagian musik terdiri atas Biola Cina berjumlah empat orang, kecapi, tetabuhan, dan kempyengan---perkusi yang terdiri atas lempengan logam berlapis-lapis---menempati pojok selatan. Sementara penyanyi, vokalis latar, dan pembantu umum lainnya, berpetak-petak di bagian tengah. (KYT:22)
Lantas, dimana Giok Hong berada saat para awak orkes itu bersiap latihan? Ia pasti mempersiapkan diri, berdandan mematut wajah di kamarnya sendiri. Sebuah kamar kecil yang disiapkan Tek Siang khusus untuk sang primadona. (KYT:23)
Disana, seorang penggesek rebab Cina telah duduk dengan tenang. Pemusik klasik ini sudah tidak muda lagi. Setelah sedikit basa-basi, Tan memperkenalkan penggesek rebab Cina itu dengan nama Timoer Laoet. (KYT:188)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Tek Siang memiliki orkes tradisional Tionghoa yang dinamakan “Perkoempoelan Orkes Tjahaya Timoer”. Biduan perkumpulan tersebut tidak lain adalah Siaw Giok Hong, dengan anggota-anggota lainnya yang berjumlah lima belas, seperti Biola Cina berjumlah empat orang, kecapi, tetabuhan, dan kempyengan---perkusi yang terdiri atas lempengan logam berlapis-lapis. Juga penyanyi, vokalis latar, dan pembantu umum lainnya. Mereka memiliki petak-petak tersendiri di rumah Tek Siang untuk mempersiapkan pementasan, sedangkan sang primadona, yaitu Giok Hong ditempatkan di kamar khusus. Di kamar itulah Giok Hong berdandan mematut wajah mempersiapkan pementasan. Dalam kutipan juga diketahui bahwa terdapat tokoh Timoer Laut yang berprofesi sebagai penggesek rebab cina yang mengiringi nyanyian Boenga Lily.
Ekonomi kelas tinggi yang mendominasi novel Kancing yang Terlepas terlihat pada pekerjaan tokoh Tek Siang, The Oen Kiat, dan Tan Kong Gie. Mereka adalah pedagang besar atau dapat disebut juga tauke. Berikut kutipannya.
Semua orang tahu, Tek Siang bukanlah seniman murni. Selain mahir bermusik, ilmu berdagangnya teruji cerdik. Mulai dari berdagang rempah sampai tembakau. Paling menonjol adalah usaha jual-beli tanahnya yang menggurita. Tidak heran, selain berjulukan tauke orkes, Tek Siang punya julukan lain sebagi tuan tanah kecil di distrik ini. (KYT:7-8)
commit to user
Oen Kiat terhitung anak saudagar penyalur gandum terbesar di kota ini. Jangan dilihat bentuk rumahnya yang kusam dari tampak luarnya. Itu Cuma gerbang kecil dari luas tanah orangtuanya yang setengah perkampungan. (KYT:33)
Meminta lebih seperti apakah Oen Kiat maksudkan? Kalau bos penyalur gandum terbesar itu menghendaki, apapun harus terjadi. (KYT: 43)
Tan bukanlah pedagang baru. Bersama Tan Boen Poo, sang kakak, telah puluhan tahun ia membuka usaha rumah makan di kawasan ini. Ketika sang kakak meninggal, kendali usaha akhirnya ditanganinya sendiri. (KYT:165)
Berpijak dari kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Tek Siang yang dikenal sebagai seniman memiliki pekerjaan lain, yaitu: berdagang rempah, tembakau, dan usaha jual-beli tanah. Oleh karena itu, selain berjulukan tauke orkes, Tek Siang punya julukan lain sebagi tuan tanah kecil di distrik ini. Begitu pula dengan tokoh kaya lain, yaitu Oen Kiat yang merupakan bos penyalur gandum terbesar di kota Semarang. Pekerjaan itu diturunkan dari orang tua Oen Kiat yang merupakan saudagar penyalur gandum terbesar di Semarang. Luas tanah orangtuanya bahkan sebesar setengah perkampungan. Tokoh kaya lain, yaitu Tan Kong Gie yang puluhan tahun membuka usaha Rumah Makan Mei Wei di kawasan Gang Pinggir, Pecinan Semarang.
Walaupun novel ini didominasi oleh tokoh-tokoh yang berkuasa, terdapat pula tokoh-tokoh pembantu yang memiliki pekerjaan biasa dan tergolong miskin. Tokoh-tokoh tersebut terkadang berperan sebagai pelayan/orang kepercayaan si tokoh kaya. Tokoh-tokoh tersebut kadang dimanfaatkan oleh si tokoh kaya untuk melakukan pekerjaan rahasia. Dalam novel ini, terdapat tokoh Ing Wen, Pardjan, Soeroto, dan Djafar. Hal tersebut ditunjukkan dalam kutipan sebagai berikut.
“Oh, iya, Koh. Mari, Nik,” sahut Ing Wen, perempuan lajang yang sudah sejak muda ikut membantu orkes di rumah ini. (KYT:28)
Di hadapan Tek Siang, Pardjan seorang tukang kebun yang sangat dipercaya. Segala hal tentang rumah ini diserahkan padanya. Yang pintar
commit to user
pasti Oen Kiat. Secara jeli, ia bisa memegang Pardjan dan menjadikannya agen rahasia bagi kepentingan dirinya. (KYT:65)
Soeroto terhitung karyawannya yang paling setia. Ia selalu mengangguk terhadap perintah Tan Kong Gie. Bahkan, kemana pun Tan pergi, Soeroto diminta mengawal. ( KYT:210)
Dari pedagang perempuan berkulit gelap itu terjantongi nama Djafar, sipir paling menderita. Nama di administrasi Djafar Oemar, cuma berpangkat kopral. Di Kampung Krobokan biasa dipanggil Koetjing. (KYT:361-362) Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Ing Wen, Pardjan, Soeroto, dan Djafar merupakan pelayan dari tokoh-tokoh kaya dalam novel Kancing yang Terlepas. Ing Wen adalah pelayan Tek Siang yang sudah lama mengabdi di rumah Tek Siang. Ia sangat setia pada Tek Siang, berbeda dengan Pardjan, tukang kebun Tek Siang yang menjadi mata-mata dari tokoh Oen Kiat. Walaupun bekerja di rumah Tek Siang, ia dipercaya menjadi agen rahasia yang membantu kepentingan Oen Kiat. Selain itu terdapat Soeroto, pelayan Tan Kong Gie yang sangat setia pada majikannya karena selalu menuruti perintah Tan Kong Gie. Tokoh Djafar, sipir penjara yang miskin memiliki peran orang menderita yang bekerja sama dengan Tek Siang untuk menyelundupkan surat pada Boenga Lily di penjara. Ia melakukan hal itu demi imbalan yang diberikan Tek Siang lewat Ing Wen.
Profesi lainnya di Gang Pinggir, Pecinan Semarang yaitu pelayan biasa dan pedagang kecil. Novel Kancing yang Terlepas ini juga menyorot pekerjaan di luar Gang Pinggir, yaitu Kampung Pindrikan yang umumnya berprofesi sebagai pencopet, penjambret, pemulung, bahkan pelacur.
Sebagaimana layaknya rumah makan besar dan ramai, pelayanannya tidak seperti warung biasa. Para penyaji itu mengenakan pakaian seragam. Mereka memperlakukan sang tamu ibarat raja. Mulai dari pelataran utama, hingga memilihkan meja di ruang tamu. (KYT:185)
Para pedagang kecil di sekitar Rumah Makan Mei Wei gulung tikar, karena tidak lagi ada keramaian di malam hari. (KYT:317)
“Kami anak-anak pinggir rel kereta api. Orangtua kami ada yang pencopet, penjambret, pengais barang-barang bekas,” sahut Paidi.
commit to user
Novel ini tidak lepas dari profesi aparat keamanan yang mengamankan wilayah Gang Pinggir. Orang yang paling bertanggung jawab di wilayah rayon militer Gang Pinggir Pecinan Semarang adalah Prasetijo, kekasih Boenga lily saat Boenga Lily ditahan di penjara setempat. Prasetijo berperan penting terhadap nasib Tek Siang dan warga lain Gang Pinggir yang ditangkap dan ditahan. Selain itu, karena terperdaya oleh pesona Boenga Lily, dia juga membantu Boenga Lily untuk keluar dari penjara ke tahanan khusus di tempat yang dirahasiakan, yaitu rumah peninggalan Jepang di kawasan Tjandi Baroe. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan berikut.
Belum sampai teriakan Lily, Soeroto, dan Tan Kong Gie melengking secara bersamaan, tiba-tiba sebuah truk patroli menderum ke arah mereka. Truk kecil itu datang dengan sejumlah pasukan berseragam. Mereka adalah aparat keamanan, lengkap dengan senjata di tangan.(KYT:321) Di sebuah ruangan, Tek Siang dipertemukan dengan komandannya langsung.
“Ada keperluan apa dengan orang-orang yang membuat kegaduhan itu?” kata sang komandan, sambil tangannya menunjuk keempat orang yang masih diinterogasi di ruangan khusus. (KYT:326)
“Bapak Komandan, namaku Lily...”
“Panggil aku Prasetijo. Aku orang yang paling bertanggung jawab di wilayah rayon militer ini. Anak-anak harus diamankan dari pengaruh buruk komunis.” (KYT:349)
Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa saat terjadi huru-hara di Gang Pinggir, masyarakat Gang Pinggir, yaitu: Lily, Soeroto, Timoer Laut, dan Tan Kong Gie ditangkap oleh aparat keamanan setempat. Mereka tertangkap saat para aparat tersebut sedang mengadakan patroli terkait situasi Pecinan yang sedang dipenuhi kerusuhan. Selain itu diketahui pula bahwa komandan yang bertanggung jawab di wilayah rayon militer tempat tersebut bernama Prasetijo. Ia menahan warga Gang Pinggir dan juga anak-anak Kampung Pindrikan yang diduga telah dipengaruhi oleh agen komunis.
Novel yang berlatarbelakang pergantian Orde Lama ke Orde Baru pada tahun 1960-an ini menampilkan kekacauan politik saat itu. Kondisi pemerintahan yang tidak jelas antara mendukung atau menggulingkan kekuasaan Boeng Karno memunculkan beberapa gerakan pro/anti pemerintah. Hal ini
commit to user
mengakibatkan banyak pihak yang diam-diam mengikuti sebuah gerakan melawan pemerintah, seperti halnya Boenga Lily. Terdapat pula profesi telik sandi yang bertugas memata-matai lawan politik. Berikut kutipannya.
Aku menjadi agen politik sebuah organisasi pengecut di negeri ini,” katanya dalam hati. (KYT:402)
“Tugas utama kamu menjadi orang yang dibicarakan oleh khalayak. Kawasan yang mulai memujamu dalam waktu dekat harus kamu tinggalkan. Kawasan itu kelak akan hancur, warga sekitar diam-diam akan mencurigai siapa dirimu,” kata penasihat gerakan yang tidak pernah dikenal bagaimana bentuk utuh wajahnya. (KYT:402)
“Karena saya bukan pengemudi gerobak yang sebenarnya. Saya ini telik sandi. Kenapa, Nik? Itu juga pekerjaan biasa, sama dengan pekerjaanmu sebagai pasukan bela negara.”
“Aku sungguh terkagum dengan pekerjaan Bapak yang mulia ini. Telik sandi untuk siapa?”
“Untuk asing. Kami memata-matai gerakan politik kiri di negeri ini. (KYT:442)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa Boenga Lily mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia menjadi agen politik sebuah organisasi pengecut di Indonesia saat itu. Secara tersirat, disebutkan bahwa Boenga Lily menjadi agen dari kelompok Komunis (PKI). Ia bertugas menjadi orang yang dibucarakan oleh khalayak, sehingga saat kawasan Pecinan dibakar, ia akan dicurigai sebagai pelaku dari pembakaran kawasan tersebut. Disebutkan pula bahwa Boenga Lily terkecoh oleh seorang pengemudi gerobak yang mengaku menjadi telik sandi bagi organisasi asing.
c. Pendidikan
Pendidikan yang dibahas di novel Kancing yang Terlepas ini bukan berupa pendidikan formal, namun non formal. Contohnya pendidikan kesenian, khususnya seni orkes yang dijalani oleh Siaw Giok Hong dari usia dua belas tahun hingga usia 20 tahun. Sejak usia dini, Siaw Giok Hong dididik menjadi biduan dan penari oleh Tek Siang yang merupakan tauke orkes sehingga menjadikannya primadona yang terkenal di kawasan Gang Pinggir. Tak hanya
commit to user
suaranya yang indah, gerak tubuhnya pun membuat para penonton orkes terkesima. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari kutipan berikut.
“Sejak umur dua belas tahun aku disini, Koh Siang asuh, kemudian kau manja. Aku kaujadikan penyanyi orkes dan primadona. Kata orang-orang di luaran, aku berbakat, tapi bakat itu pasti ndak datang begitu saja. Ada garis keturunan yang mendahuluinya.” (KYT:16)
“Dia anak asuh kami. Sejak kecil kami didik menjadi biduan dan penari di orkes Cina Gang Pinggir.” (KYT:328)
Orang-orang yang berkerumun itu, selain Ing Wen, adalah para lelaki yang dulunya menjadi saksi kejayaan Siaw Giok Hong. Mulai dari kecil hingga remaja. Mereka pula yang dengan sabar membimbing primadona kecil itu hingga menjadi terkenal. (KYT:355)
Dari kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa Giok Hong sudah diasuh oleh Tek Siang sejak umur dua belas tahun. Ia dididik menjadi penyanyi orkes atau primadona di Perkoempolan Orkes Tjahaya Timoer. Ia juga dibimbing oleh Ing Wen, pelayan Tek Siang dan juga awak orkes lainnya.
Selain pendidikan untuk menjadi penyanyi dan penari, Tek Siang juga menerapkan aturan ketat agar Giok Hong menjaga suara indahnya. Hal itu dapat dilakukan dengan mengonsumsi ramuan rempah-rempah dan memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi oleh sang primadona. Tek Siang juga mengajarkan Giok Hong untuk patuh. Berikut ini kutipan yang menunjukkan hal tersebut.
Hal yang sama tidak akan didapat oleh Giok Hong. Dengan penuh cinta yang luar biasa, Tek Siang memperlakukan aturan ketat bagi primadonanya. Tidak boleh sembarangan mengudap makanan yang mengenyangkan. Untuk Giok Hong, Tek Siang memerintahkan pembantunya menyediakan air putih dan beberapa jenis buah-buahan terpilih. Tidak ketinggalan, ramuan rempah-rempah yang terasa pahit di lidah namun akan berdampak indah di pita suara.
“Kamu harus mempertajam suaramu, Giok Hong. Kamu sudah mulai dewasa dan menjadi primadona kelas satu di kota ini.” (KYT:23)
Tapi ada pantangan keras bagi Lily untuk tidur terlalu malam. Selepas menyanyi, ia harus dikawal ke kamar. Ada pintu besi yang terkunci dari luar, letaknya persis di depan lorong kamar tadi. Semua perintah itu oleh Boenga Lily dianggap sebagai peraturan ketat biasa. Menurut
commit to user
pengakuannya, “Sejak kecil, Koh Tek Siang mengajarkan kepatuhan seperti ini,” katanya, hanya kepada Tan Kong Gie. (KYT:200)
Dari kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa Tek Siang memperlakukan aturan ketat pada primadonanya, seperti tidak boleh mengudap sembarangan makanan, mengkonsumsi buah-buahan terpilih dan air putih, serta ramuan rempah-rempah yang bagus untuk mempertajam suara Giok Hong. Diketahui pula bahwa aturan untuk tidak tidur terlalu larut yang diperlakukan Tan Kong Gie tidak berbeda dengan Tek Siang.
Seiring dengan menghilangnya Siaw Giok Hong, ketenaran Perkoempoelan Tjahaya Timoer pun seakan meredup karena ditinggalkan oleh primadonanya. Siaw Giok Hong yang terkenal di Gang Pinggir sudah tidak lagi meramaikan Gang Pinggir dengan suara merdunya. Kemudian hadir sosok Boenga Lily yang merupakan jelmaan dari Siaw Giok Hong yang telah berganti rupa. Selain ditugaskan untuk menjadi biduan yang dibicarakan oleh khalayak, Boenga Lily mengemban tugas sebagai agen politik gerakan bawah tanah. Oleh karena itu, ia terlebih dahulu dididik oleh seseorang tentang apa saja keahlian khusus yang diperlukan untuk menjadi agen politik. Berikut kutipan yang menunjukkan hal tersebut.
Menjadi anggota organisasi bawah tanah menguras tenaga yang luar biasa. Terlintas dalam benaknya, bagaimana ia harus berlatih di tengah malam saat belajar menerjemahkan simbol rahasia. Indoktrinasi disampaikan di pagi buta. (KYT:402)
Novel ini juga sedikit menampilkan semangat belajar anak yang kurang mampu, yang tinggal di sekitar rel kereta api, yaitu Kampung Pindrikan. Walaupun tidak didapat dari lembaga formal, Soekini digambarkan sebagai anak yang pintar. Berikut kutipannya.
Selain pintar, Soekini pandai menghafal. Hitung-hitungan, meskipun tidak didapat dari sekolah, ia selalu juara di antara yang lain. (KYT:339)
Dalam novel ini, tidak digambarkan pendidikan secara formal yang ditempuh oleh tokoh-tokohnya. Padahal dalam kehidupan nyata, etnis Tionghoa sangat menjunjung tinggi pendidikan formal. Banyak dari warga etnis Tionghoa yang menempuh jenjang pendidikan yang tinggi.
commit to user
d. Agama dan Kepercayaan
Ajaran Konghucu yang dianut oleh orang Tionghoa khususnya dalam novel ini masyarakat Pecinan Semarang, sebenarnya merupakan filosofi hidup yang kemudian dimaknai sebagai agama. Agama ini mempercayai satu Tuhan yang biasa disebut Thian. Ajaran utamanya adalah zhi (kebijaksanaan dan pencerahan), ren (cinta kasih yang universal) dan yong (keberanian atas dasar kesusilaan dan rasa malu). Yong dibagi menjadi dua, yaitu li (kesusilaan) dan yi (kebenaran). Dengan demikian manusia dapat menjadi xin (yang dapat dipercaya). Lima konsep yang disebut Wu Chang (lima kebajikan) inilah yang menjadi pokok dari ajaran Konghucu (Rahmayani, 2014:15). Walaupun agama ini mempercayai adanya satu Tuhan, ajaran Konghucu juga mengenal dewa-dewi yang mengatur berbagai aspek kehidupan. Dalam novel ini ditunjukkan Maktjou Poo (Dewi Laut) dan Zhao Jun Ye/Zhao Wang Ye (Dewa Dapur). Perhatikan kutipan berikut.
“Kita semua berharap Giok Hong adalah titisan Maktjouw Poo, Dewi Laut yang menjaga kota pantai ini dari badai dan gelombang besar,”katanya. (KYT:21)
Zhao Jun Ye adalah sebutan lain Dewa Dapur. Istilah itu juga kerap disebut Zao Wang Ye, sangat populer di kalangan orang-orang yang saleh keyakinan. Zao Jun Ye akan melaporkan segala kebaikan orang-orang di bumi kepada Thian Kung, Tuhan yang Agung. Konon, menurut keyakinan, akan lebih baik memakan buah-buahan segar yang sangat berkualitas. Ini semua bakalan mempengaruhi penilaian Dewa Dapur kepada Tuhan yang Agung. (KYT:25-26)
Kata-kata menyebut Yang Maha tinggi dengan panggilan Thian, sungguh menentramkan Boenga Lily. (KYT:302)
Tan menangis sejadi-jadinya. Ia bersujud, memohon ampun terhadap Thian yang Maha Suci. Ia ingin menolong anaknya, barangkali masih bisa diselamatkan. (KYT:395)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa terdapat Dewi Laut dalam keprcayaan etnis Tionghoa atau yang disebut Maktjou Poo. Hal tersebut diketahui dari pernyataan Oen Kiat yang menganggap Giok Hong layaknya titisan Dewi Laut. Terdapat pula Zhao Jun Ye/ Zao Wang Ye yang berarti Dewa
commit to user
Dapur. Zao Jun Ye bertugas melaporkan segala kebaikan orang-orang di bumi kepada Thian Kung, Tuhan yang Agung. Menurut keyakinan, memakan buah-buahan segar yang sangat berkualitas akan bakalan mempengaruhi penilaian Dewa Dapur kepada Tuhan yang Agung. Selain itu, disebutkan bahwa Thian adalah istilah “Tuhan” dalam etnis Tionghoa.
Kepercayaan yang dianut etnis Tionghoa termasuk masyarakat Pecinan Semarang memiliki filosofi yang baik. Contohnya Asal usul pemaknaan perayaan makan ronde dan onde-onde dimaksudkan untuk mengelabui Dewa Dapur. Ada juga filosofi mengenai orang yang berkeringat, yang dalam keyakinan Tek Siang adalah gerakan memuliakan Thian. Arti pertanda cuaca saat Tahun Baru Cina pun ditunjukkan dalam kutipan berikut ini.
Pesta memakan ronde dan onde-onde memiliki filosofi sangat dalam. Dimaksudkan untuk mengelabui Dewa Dapur. Makanan lengket yang sengaja dipersembahkan itu konon akan dimakan Dewa Dapur. Ketika ronde dan onde-onde lengket di mulut, manusia berharap sang Dewa tak sempat mealaporkan hal yang buruk-buruk atas perbuatan manusia. Itulah asal usul pemaknaannya. (KYT:26)
Orang yang berkeringat, dalam keyakinan Tek Siang adalah gerakan memuliakan Thian. Ajaran itu didapat dari petuah mendiang neneknya yang wafat lima belas tahun lalu. “Cucuran keringat itu sebanding dengan ceceran dupa yang meleleh,” kata mendiang. “Thian menyuruh Dewa Dapur mencatat kebaikan para pekerja keras, sekalipun dia tidak pernah sembahyang,” katanya. Ucapan itu sangat melekat di hati Tek Siang yang beranjak tua. Tidaklah heran jika kerja keras adalah bagian dari ritual hidupnya. Meski bukan berarti sembahyang di depan altar lantas ditinggal. (KYT:77)
Tahun baru Cina tanpa hujan dan halilintar, sungguh kerontang rezeki. Jika jatuh kemarau panjang pada saat itu, bersiap-siaplah untuk prihatin sepanjang tahun. “Karena dewa tidak sudi singgah ke bumi dan tidak menebarkan rezeki,” kata seorang peramal di pojok Gang Pinggir itu. (KYT:312)
Berpijak dari kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa terdapat filosofi yang mengartikan pesta memakan ronde dan onde-onde adalah untuk mengelabui Dewa Dapur. Makanan lengket yang sengaja dipersembahkan itu konon akan dimakan Dewa Dapur. Sehingga ketika ronde dan onde-onde lengket di mulut, manusia berharap sang Dewa tak sempat mealaporkan hal yang
buruk-commit to user
buruk atas perbuatan manusia. Selain itu, digambarkan kepercayaan Tek Siang bahwa orang yang berkeringat adalah gerakan memuliakan Thian. Cucuran keringat itu sebanding dengan ceceran dupa yang meleleh. Thian menyuruh Dewa Dapur mencatat kebaikan para pekerja keras, sekalipun dia tidak pernah sembahyang. Kemudian arti dari cuaca pada saat Tahun Baru Imlek, yaitu lebih baik hujan sepanjang hari karena menggambarkan rejeki yang datang sepanjang tahun.
Masyarakat etnis Tionghoa yang menganut kepercayaan tradisional Tiongkok, yaitu Konghucu dan Tao memiliki rumah ibadah yang disebut dengan klenteng. Konsep ajaran Konghucu menitikberatkan pada unsur-unsur kebaikan manusia (Rahmayani, 2014:118). Ibadah dapat dilakukan di rumah ataupun rumah ibadah khusus. Klenteng dalam kehidupan masyarakat Tionghoa berfungsi sebagai tempat religius dan sosial. Setiap pemukiman Tionghoa selalu dilengkapi dengan klenteng, termasuk pemukiman Gang Pinggir, Pecinan Semarang dalam Novel Kancing yang Terlepas ini. Berikut ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut ini.
Beberapa klenteng besar mulai sibuk. Tempat-tempat peribadatan di gang kecil cukup sibuk juga. (KYT:307)
Lebih mencengangkan lagi, Tan bermaksud untuk membangun tempat peribadatan menengah, persis di tengah distrik ini. (KYT:308)
Dari kutipan-kutipan di atas dapat diketahui bahwa Gang Pinggir memiliki tempat peribadatan berupa klenteng. Terdapat beberapa klenteng di Pecinan Semarang tersebut.
Selain tempat peribadatan khusus di setiap pemukiman etnis Tionghoa, setiap rumah biasanya memiliki tempat khusus untuk sembahyang. Tempat tersebut berupa meja yang ditata menyerupai tempat sesaji. Terdapat hio untuk bersembahyang dan biasanya dipasang beberapa foto mendiang leluhur keluarga tersebut.
Di sudut kamar ini terdapat altar kecil untuk sembahyang. Sepetak meja berukuran tak seberapa, ditata menyerupai tempat sesaji. Menjelang perayaan Imlek seperti sekarang, Giok Hong terbiasa mempersiapkan altar kecil bagi sembahyangan Zao Jun Ye. Patung dewa dapur diletakkan di
commit to user
tengahnya, di kiri kanan patung tersebut menempel sepasang lirik yang ditulis di atas kertas merah. Tulisan itu semacam doa. (KYT:44)
Persis di sebelahnya, ada sepetak ruangan yang sangat remang, tempat sesaji dan sembahyangan. Satu dua foto buram terpajang disana. Mungkin foto kakek nenek Tan. (KYT:182)
Jika tersakiti, yang menjadi tumpuan keluhan adalah foto mendiang leluhurnya, lantas mencari hio untuk bersembahyang. (KYT:238)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa di rumah-rumah warga Gang Pinggir, khususnya yang digambarkan di rumah-rumah Tek Siang dan Tan Kong Gie. Dalam rumah Tek Siang terdapat ruangan khusus berisi altar kecil untuk sembahyang. Di sudut kamar tersebut diletakkan sepetak meja berukuran tak seberapa dan ditata menyerupai tempat sesaji. Patung Dewa Dapur diletakkan di tengahnya, dan di kiri kanan patung tersebut menempel sepasang lirik yang ditulis di atas kertas merah. Tulisan itu semacam doa. Begitu pula dengan rumah Tan Kong Gie yang memiliki ruangan yang sangat remang, tempat sesaji dan sembahyang. Satu dua foto buram leluhur Tan terpajang disana. Terdapat juga hio untuk bersembahyang.
e. Kondisi Sosial
Kondisi sosial yang ditampilkan dalam novel Kancing yang Terlepas berupa status sosial masing-masing tokoh dalam masyarakat, baik yang berkaitan dengan perekonomian maupun posisi tokoh dalam masyarakat. Golongan orang kaya diwakili oleh Tek Siang dan Oen Kiat. Tek Siang memiliki status sosial yang terpandang di masyarakat karena dikenal sebagai tauke orkes dan saudagar yang kaya raya. Begitu pula dengan Oen Kiat yang merupakan anak penyalur gandum terbesar di kota Semarang. Berikut kutipan yang menunjukkan golongan orang kaya.
Di kawasan Gang Pinggir, nama Koh Tek Siang sudah tidak asing lagi. Ia orang kaya yang sepanjang hidupnya tak pernah lepas dari orkes (KYT:7).
Semua orang tahu, Tek Siang bukanlah seniman murni. Selain mahir bermusik, ilmu berdagangnya teruji cerdik. Mulai dari berdagang rempah sampai tembakau. Paling menonjol adalah usaha jual-beli tanahnya yang
commit to user
menggurita. Tidak heran, selain berjulukan tauke orkes, Tek Siang punya julukan lain sebagi tuan tanah kecil di distrik ini. (KYT:7-8)
Oen Kiat terhitung anak saudagar penyalur gandum terbesar di kota ini. Jangan dilihat bentuk rumahnya yang kusam dari tampak luarnya. Itu Cuma gerbang kecil dari luas tanah orangtuanya yang setengah perkampungan (KYT:33).
Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, dinyatakan bahwa Tek Siang adalah orang kaya yang berdagang rempah, tembakau, serta tanah di samping sebagai tauke orkes. Begitu pula Oen Kiat yang kaya sejak dari kecil karena memiliki orang tua yang berprofesi sebagai saudagar penyalur gandum terbesar di kota Semarang.
Selain Tek Siang, banyak orang kaya di seputar Gang Pinggir. Misalnya pembeli Rumah Makan Mei Wei yang biasanya berprofesi sebagai pedagang besar, yang harta kekayaannya sangat berlimpah. Pembeli rumah makan Mei Wei merupakan golongan orang berkelas. Bagi yang tidak kaya dan berkelas, mereka tidak berani masuk ke rumah makan tersebut. Kutipannya ditunjukkan berikut.
Di malam hari Rumah Makan Mei Wei dikerumuni pembeli. Hanya yang berkelas yang berani masuk rumah makan tersebut. Mereka ini kelasnya para pedagang besar atau pemilik cita rasa tinggi, yang harta kekayaannya sangat berlimpah (KYT:185)
Selain menampilkan masyarakat dari golongan orang kaya, dalam novel Kancing yang Terlepas, Handry TM juga menampilkan masyarakat dari golongan bawah/ miskin. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan berikut.
Kampung kumuh dan penampung warga miskin itu sangat padat penghuni. Mulai dari penjahat kelas teri hingga bajingan kasar. Terlihat dari bagaimana cara kampung Se’ Ong dikelola, tidak siapa pun berani memiliki harapan hidup selamanya di sana. Gang-gang itu sempit sekali. Rumah-rumah petak berimpit, di kiri-kanannya cenderung kusam. Warga Kampung Se’ Ong selalu berbicara keras. Mereka lebih suka bertikai daripada berembuk secara lembut (KYT:20).
“Kami dikenal sebagai Kelompok Pinggir Rel. Perkampungan kami sangat kuat bergotong-royong, juga ditakuti oleh perkampungan lain. orangtua kami mahir berkelahi.” (KYT:344).
commit to user
“Antar kampung sering terjadi perkelahian. Orang-orang tua di kampung kami tidak takut mati.” Inilah wajah-wajah asli bocah pinggiran kota. Mereka sudah telanjur kerap lapar, sehingga tidak takut kalau tidak makan (KYT:344).
Dari kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa novel ini juga menampilkan golongan miskin, contohnya Kampung Se’ Ong yang kumuh dan padat oleh warga yang miskin. Gang-gangnya sempit, rumah-rumah petak berimpit, dan kusam yang menggambarkan tipikal rumah orang miskin. Warganya pun suka bertikai daripada berembuk dengan baik. Selain Kampung Se’ Ong, ditampilkan pula Kampung Pindrikan yang warganya ditakuti pleh perkampungan lain. Kampung Pindrikan berada di pinggiran rel. Warga di perkampungan itu kuat bergotong royong, namun suka berkelahi dengan perkampungan lain.
Perbedaan golongan orang kaya dan golongan orang miskin dapat ditunjukkan dalam kutipan berikut ini.
Rupanya penonton terbagi dalam dua kelas berbeda. Golongan biasa adalah orang-orang kampung dengan pakaian seadanya. Tampak dari wajah mereka yang terlihat kurang bahagia. Untuk mengambil posisi duduk di lantai paling depan pun orang-orang tidak bernyali. Golongan yang satunya tentu sangat istimewa. Terlihat dari cara berdandannya, cara menatap orang-orang sekitar, dan dongakan kepala congkak. Kelompok ini pasti orang yang tinggal di seputar Pecinan, beberapa dari mereka, kental sekali meniru gaya para ningrat Eropa. Mengenakan jas putih,dasi, topi, dan bawahan celana panjang komprang (KYT:32-33).
Sebenarnya orang-orang kaya di seputar Gang Pinggir ingin membuat perayaan sepanjang malam. Namun mereka sungkan akan penderitaan orang-orang sekitar. Akhirnya mereka hanya memasang lampion di beberapa rumah besar. Orang-orang keturunan Tionghoa yang tidak mampu tetap bergaul bersama etnis Koja dan para penghuni di gang belakang (KYT:161-162).
Harga-harga menjulang, bahan pokok semakin susah didapat. Yang kaya bertambah kaya, yang miskin tiada terhitung jumlahnya (KYT:317).
Mereka sebenarnya raja-raja kecil di jalan raya. Kelompok Soebali merupakan kelompok yang paling ditakuti kelompok bermain dari kelompok kampung mana pun. Anehnya, mereka memiliki kekerabatan
commit to user
luar biasa dengan kelompok anak-anak bermata sipit dari kawasan Gang Pinggir (KYT:337).
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa terdapat kesenjangan pada golongan orang kaya dan golongan orang miskin. Misalnya saja saat menonton pertunjukan orkes yang diadakan oleh Tek Siang. Penonton terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan biasa yang tidak berani mengambil posisi duduk di lantai depan. Berbeda dengan golongan lainnya yang duduk di barisan depan dan menatap orang-orang sekitar dengan dongakan kepala congkak, ataupun meniru gaya berpakaian para ningrat Eropa. Selain itu perbedaan juga nampak pada saat merayakan Hari Raya Imlek. Orang-orang kaya akan membuat perayaan dan memasang lampion-lampion besar berwarna merah di rumahnya yang besar, sedangkan orang-orang keturunan Tionghoa yang tidak mampu tetap bergaul bersama etnis Koja dan para penghuni di gang belakang.
Kemudian perbedaan semakin nampak saat harga bahan pokok melonjak. Yang kaya bertambah kaya, sedangkan yang miskin bertambah miskin. Namun tidak terdapat kesenjangan pada anak-anak Pecinan dan Kampung Pindrikan. Walaupun berbeda etnis, anak-anak Kampung Pindrikan memiliki kekerabatan luar biasa dengan kelompok anak-anak bermata sipit dari kawasan Gang Pinggir
f. Tempat Tinggal
Handry TM mengambil beberapa latar tempat dalam novel Kancing yang Terlepas. Tempat tinggal yang dijadikan latar penceritaan Handry TM adalah Semarang, khususnya di daerah Gang Pinggir, Pecinan. Pecinan ini merupakan tempat yang melatari sebagian besar berbagai kejadian dalam cerita. Di Kampung Naga inilah tempat tinggal para tokoh penting dalam cerita, seperti Siaw Giok Hong, Tek Siang, Oen Kiat, dan Tan Kong Gie. Kawasan Pecinan dibelah oleh Kali Kuping dan Gang Pinggir berbentuk mirip lorong panjang yang meliuk dari utara ke selatan. Berikut ini kutipan yang menunjukkan latar tempat tinggal dalam novel Kancing yang Terlepas.
commit to user
Suara jangkrik bersahutan perlahan di tengah gerumbul parit di luar rumah. Gemericik air Kali Kuping, sungai yang membelah kawasan Pecinan, dari selatan ke utara, berkelok ke arah timur, membentuk semacam lagu sunyi. (KYT:11)
Kehidupan malam mulai bergegas di Gang Pinggir ini. Orang-orang, dengan berbagai macam kepentingan, keluar rumah berikut uang di genggaman. Rumah-rumah “cinta” terselubung mulai kedatangan tamu. (KYT:11)
Lorong Gang Pinggir terlihat memanjang, meliuk dari bentangan utara ke selatan. Jika diamati dengan seksama, lorong itu menyerupai jalanan panjang tanpa ujung. Di tepiannya, melintas jembatan yang tidak terlalu besar, terdapat perkampungan yang luar biasa porak-poranda. Orang-orang mengenalnya sebagai Kampung Se’ Ong. (KYT:19)
Di kampung Naga, demikian orang-orang menyebut nama lain Pecinan. Situasi keseharian mereka seperti itu. Gang Pinggir merupakan perpaduan antara keindahan dan keburukan, berimbang antara kemuliaan doa bagi para dewa dan kejahatan yang merajalela. Kedengkian dan iri hati menjadi pemandangan sehari-hari. Perempuan dan harta benda adalah hiasan hidup yang saling diperebutkan. (KYT:167)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, diketahui bahwa Pecinan, Semarang adalah kawasan yang menjadi sebagian besar latar tempat berlangsungnya kejadian-kejadian dalam cerita. Kali Kuping adalah sungai yang membelah kawasan Pecinan, dari selatan ke utara, berkelok ke arah timur. Lorong Gang Pinggir memanjang, meliuk dari bentangan utara ke selatan. Jika diamati dengan seksama, lorong itu menyerupai jalanan panjang tanpa ujung. Di tepiannya, melintas jembatan yang tidak terlalu besar, terdapat perkampungan Se’ Ong. Gang Pinggir merupakan perpaduan antara keindahan dan keburukan, berimbang antara kemuliaan doa bagi para dewa dan kejahatan yang merajalela. Kedengkian dan iri hati menjadi pemandangan sehari-hari. Perempuan dan harta benda adalah hiasan hidup yang saling diperebutkan. Kehidupan malam Gang Pinggir juga diisi oleh orang-orang yang bertujuan datang ke “rumah cinta” kawasan tersebut.
Rumah Tek Siang, yang juga merupakan tempat Siaw Giok Hong tumbuh dan dirawat sejak umur 12 tahun adalah rumah yang tidak hanya dijadikan sebagai tempat tinggal. Rumah tauke orkes itu juga dijadikan tempat latihan para
commit to user
awak orkes “Perkoempoelan Tjahaya Timoer” dan akan disulap menjadi tempat pertunjukan orkes tersebut apabila sedang pentas. Karakteristik yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang etnis Tionghoa adalah adanya ornamen naga kembar yang terletak persis di daun pintu. Berikut ini kutipan yang menunjukkan tempat tinggal Tek Siang.
1961
Tulisan itu masih terpampang gagah di atas gerbang bangunan rumah. “Perkoempoelan Tjahaya Timoer” . tulisan dengan huruf cetak tebal, yang sebenarnya kurang beraturan jika dihitung dari sudut keindahan. Sudah barang tentu, ini rumah besar milik “orang gila” bernama Tek Siang. Di kawasan Gang Pinggir, nama Koh Tek Siang sudah tak asing lagi. (KYT:7)
Sebuah lorong memanjang, berukuran lima hingga sepuluh meter. Sebenarnya, lorong itu merupakan penghubung antara bale-bale tengah dan rumah utama “kerajaan kecil” Tek Siang. Di ruangan lain, awak orkes yang berjumlah lima belas orang itu biasanya membentuk petak-petak sederhana untuk persiapannya sendiri. (KYT:22)
Rumah itu, seperti biasa, terkesan sunyi. Dari luar tampak ornamen naga kembar terletak persis di daun pintu. Daun teratai terhampar di kolam kecil samping gerbang rumah itu, termasuk bagian keindahan yang tidak terpungkiri. Ketika menjamu tamu bisnisnya, Tek Siang menyulap halaman tengah rumah itu menjadi panggung. Dengan harapan, tidak sembarang orang bebas masuk menyaksikan penampilan khusus di tempat itu. (KYT:386)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tempat tinggal tokoh utama novel ini, yaitu Siaw Giok Hong berada di rumah Tek Siang. Di rumah itu pula berdiri orkes tradisional Cina yang bernama “Perkoempoelan Tjahaya Timoer”. Hal itu dapat dilihat dari tulisan di atas gerbang bangunan rumah yang dicetak dengan huruf cetak tebal. Rumah Tek Siang dijadikan tempat latihan awak orkes sekaligus tempat pementasan orkes tersebut. Terdapat sebuah lorong memanjang, berukuran lima hingga sepuluh meter yang merupakan penghubung antara bale-bale tengah dan rumah utama Tek Siang. Di ruangan lain, awak orkes yang berjumlah lima belas orang membentuk petak-petak sederhana untuk persiapannya sendiri. Rumah tersebut memiliki ornamen
commit to user
hewan ciri khas etnis Tionghoa, yaitu ornamen naga kembar terletak persis di daun pintu.
Di kawasan Gang Pinggir terdapat beberapa rumah makan yang cukup terkenal. Salah satu rumah makan yang terkenal tersebut dimiliki oleh tokoh Tan Kong Gie, pengusaha rumah makan “Mei Wei”. Rumah makan tersebut yang akhirnya menjadi tempat bekerja sang biduan baru di kawasan Gang Pinggir, Boenga Lily dan pengiringnya, Timoer Laoet. Bagian belakang bangunan rumah makan Mei Wei digunakan untuk tempat tinggal keluarga Tan Kong Gie. Rumah Makan Mei Wei tidak seperti rumah makan biasa karena ditata menyerupai rumah panggung dan memiliki teras memanjang serta cukup lebar. Pengunjung dapat memilih meja di dalam ataupun di teras. Berikut ini kutipan yang menggambarkan tempat tinggal Tan Kong Gie/Rumah Makan Mei Wei.
Distrik Gang Pinggir tidak lagi seelok dulu. Tapi orang-orang kaya masih bisa menikmati harumnya ca babi panggang di beberapa rumah makan besar. Salah satu rumah makan terkenal yang menyediakan penampilan orkes sederhana, terletak di kelokan jalan tengah menuju Sebandaran. Rumah makan berwarna putih kusam itu memasang plang nama “Mei Wei” tepat di atas pintu. Setiap jumat malam, ada saja penyanyi yang didatangkan. Hanya dengan iringan rebab klasik, mereka menyanyikan lagu-lagu cinta. (KYT:165)
Keduanya masuk ke bagian dalam bangunan. Melewati lorong agak panjang dengan lampu penerang yang terkesan muram. “Rumahnya besar sekali,” gumam Lily, memecah kebekuan. “Iya besar. Ini rumah makan yang bagian belakangnya untuk tempat tinggal,” jawab si pegawai. “Dimana kamar untukku?”. “Belum kelihatan dari sini. Di ujung paling belakang. Dekat tempat sembahyang.” (KYT:181)
Tidak seperti bangunan rumah makan biasa, Mei Wei ditata menyerupai rumah panggung. Untuk mencapai ruang makan utama, para tamu harus menapaki lantai bertangga tiga lapis. Terasnya memanjang dan cukup lebar. Siapa saja boleh memilih, hendak bersantap di dalam atau cukup di teras. Antara teras dan ruang dalam, dibatasi terali besi dengan bentuk bunga-bunga. (KYT:185)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Rumah Makan Mei Wei milik Tan Kong Gie yang menjadi tempat tinggal sekaligus bekerja Boenga Lily terletak di kelokan jalan tengah menuju Sebandaran. Rumah Makan Mei Wei mendatangkan penyanyi setiap jumat malam. Hanya dengan iringan
commit to user
rebab klasik, mereka menyanyikan lagu-lagu cinta. Rumah milik Tan Kong Gie tersebut besar yang terdiri dari rumah makan di bagian depan dan tempat tinggal di bagian belakang. Dan kamar yang ditempati oleh GiokHong berada di ujung paling belakang, dekat tempat sembahyang. Mei Wei ditata menyerupai rumah panggung. Untuk mencapai ruang makan utama, terdapat lantai bertangga tiga lapis. Terasnya memanjang dan cukup lebar. Antara teras dan ruang dalam, dibatasi terali besi dengan bentuk bunga-bunga.
Selain tempat tinggal yang terletak di Pecinan Semarang, terdapat latar tempat tinggal di kota lain, yaitu tempat tinggal Oen Kiat. Oen Kiat memiliki rumah peristirahatan di kawasan Ungaran yang didatangi setiap sebulan sekali saat meluangkan waktu di sela-sela kegiatan berdagang. Selain itu, rumah ketiga yang dirahasiakan tempatnya, yaitu dua kota jaraknya dari Semarang. Rumah ketiga itu digunakan oleh Lena Teng, istri mendiang Oen Kiat untuk menyembunyikan Siaw Giok Hong dan putranya, Zeng. Lingkungan rumah tersebut masih asri karena terletak di lembah yang dikelilingi oleh hamparan perbukitan dan hutan. Lembah itu bersaput kabut dan memiliki udara lembab yang terasa hingga ke kulit. Rumah ketiga tersebut berdiri di bukit dan jaraknya cukup jauh dari rumah-rumah warga pedesaan. Rumah-rumah pedesaan tersebut bertipikal besar berlantaikan kayu dan terbuat dari jati tua. Rumah ketiga milik Oen Kiat ini biasanya didatangi oleh Oen Kiat dengan sejumlah perempuan. Saat itulah rumah tersebut terdengar ramai dan riuh. Namun suasana ramai hanya bertahan paling tidak tiga malam, sesudahnya sunyi senyap. Hanya satu-dua karyawan penghuni rumah yang tampaknya sibuk membenahi sisa pesta di hari sesudahnya. Berikut ini kutipan yang menunjukkan hal tersebut.
Zeng menyebut sebuah rumah tua di kawasan Ungaran. Tidak jauh dari perbukitan yang keliahatan dari jalan raya rumah itu berdiri. Itulah rumah peristirahatan keluarga Oen Kiat yang didatangi saban sebulan sekali, setelah mereka penat melawan kesibukan berdagang. (KYT:105)
Lembah yang hijau ranum dan masih perawan. Dari jarak pandang yang cukup jauh, lembah itu bersaput kabut. Udara lembabnya terasa hingga ke kulit. Meresap dingin ke permukaan daging. “Ini rumah mendiang yang ketiga, setelah yang di Ungaran tadi.” (KYT:114)
commit to user
Lena Teng menggeleng. “Tidak penting untukmu. Yang pasti, ini sudah bukan lagi Semarang. Ini kota jauh, melompati dua kota dari Semarang. (KYT:115)
Rumah Lena Teng diapit tiga rumah seluas sepertiga dari rumahnya. Orang-orang desa di sekitarnya kerap menggunjingkan keberadaan rumah Lena. Keramaian di dalam sering terdengar, terutama jika Tuan Besar datang dengan sejumlah perempuan. Suasana riuh semacam itu biasanya tidak berlangsung lama. Paling tiga malam, sesudahnya sunyi senyap. Hanya satu-dua karyawan penghuni rumah yang tampaknya sibuk membenahi sisa pesta di hari sesudahnya. (KYT:139)
Novel ini juga menampilkan tempat tinggal yang kumuh, yaitu Kampung Pindrikan. Kampung Pindrikan adalah kampung yang dihuni oleh anak-anak yang ditahan di penjara bersama Boenga Lily dan lainnya. Kampung tersebut berada di pinggir rel kereta api. Rumah-rumah di Kampung Pindrikan tipikal tempat tinggal kumuh yang berupa rumah tempel dan hanya terbuat dari seng dan kardus bekas yang didapatkan dari sisa bangunan.
Rumah Soekini tidak jauh dari stasiun kereta api. Paidi adalah kakak sepupunya. Rumah keduanya bersebelahan. Merupakan rumah tempel yang hanya terbuat dari sisa seng dan kardus. Ayah Paidi kakak tertua ibu Soekini. Mereka bahu-membahu mencari sisa bangunan untuk merapatkan rumah masing- masing. (KYT:339)
“Kamu anak-anak Pindrikan, ya?” bentak tentara itu. (KYT:341) “Kami anak-anak pinggir rel kereta api”. (KYT (343)
“Kami dikenal sebagai Kelompok Pinggir Rel. Perkampungan kami sangat kuat bergotong-royong, juga ditakuti oleh perkampungan lain. Orangtua kami mahir berkelahi.” (KYT:344)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, digambarkan bahwa rumah Soekini dan Paidi tidak jauh dari stasiun kereta api. Perkampungan Pindrikan tersebut memiliki warga yang kuat bergotong-royong dan ditakuti oleh perkampungan lain karena orangtua mereka mahir berkelahi.
Latar tempat lainnya, yaitu rumah di kawasan Tjandi Baroe yang digunakan Prasetijo sebagai tempat tahanan khusus untuk Boenga Lily. Rumah tersebut adalah rumah tua peninggalan Jepang. Di sekitar rumah tahanan khusus
commit to user
Boenga Lily tersebut, banyak rumah kosong berukuran besar. Hal tersebut ditunjukkan dalam kutipan sebagai berikut.
“Ini rumah tua peninggalan Jepang. Negara tidak mengurusi lagi. Anggap saja, untuk sementara rumah kita.” Di kiri kanan kawasan Tjandi Baroe, banyak rumah kosong berukuran besar. (377:378)
g. Bahasa
Bahasa dalam suatu karya sastra digunakan pengarang sebagai media untuk menyampaikan jalan cerita kepada pembaca. Pengarang bebas menggunakan bahasa sendiri agar pembaca mudah memahami jalan cerita yang dimaksudkan oleh pengarang. Bahasa yang digunakan Handry TM dalam novel Kancing yang Terlepas adalah bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Selain bahasa dominan yaitu bahasa Indonesia, Handry TM memasukkan kalimat, frasa, dan kata dalam bahasa Tionghoa dan bahasa Jawa untuk memperhidup suasana, setting, dan inti cerita. Hal tersebut juga membuat pembaca terutama yang sedaerah dengan pengarang merasa dekat dengan kisah dalam novel. Dari segi bahasa tulis, novel ini menggunakan ejaan bahasa Indonesia tempo dulu, yaitu tepatnya tahun 1960-an.
Handry TM memberikan catatan makna dari bahasa Tionghoa dan bahasa Jawa pada setiap penggunaan bahasa-bahasa tersebut di dalam novel. Hal ini bertujuan agar pembaca di luar etnis Tionghoa dan luar Jawa dapat memahami dan mengerti makna cerita yang disuguhkan dalam karyanya. Berikut kutipan-kutipan yang menunjukkan bahasa etnis Tionghoa yang digunakan Handry TM dalam mendukung peristiwa-peristiwa dalam novel Kancing yang Terlepas.
Sebelum ini, yang tertempel di gerbang rumah itu hanyalah tulisan “Fan Mang De Shui Xin”. Menurut pengakuan Tek Siang, kalimat tadi dicomot begitu saja dari buku kuno peninggalan almarhum ayahnya. Jika diartikan secara kasar, “Fan Mang De Shui Xin” kira-kira bermakna “Gemericik Air yang Bermula dari Hati” (KYT:8)
“Koh!” perempuan muda itu membentak. Benar-benar membentak. “Zui fan---penjahat!” katanya lagi. (KYT:16)
Song zhu bang wan Zai feng zhong yao ye Hai feng dai laile ai de nan
commit to user Bei...
Zai nan bu]lan zhu le wo Wo yong bao jin
Wo shi wu neng wei li le mi ren de lang man (KYT:89)
“Oen Kiat, wo de sheng huo zong shi kun nan de, yin wei di yi..”---Kau memang menyusahkan hidupku sejak dulu...”Bing ren---sabarlah, Koh Siang...” (KYT:108)
Para tamu memberi semangat dengan cara menyelipkan angpao langsung ke dalam genggaman tangan biduan itu. (KYT:219)
“Thian?” Paidi tidak paham maksud istilah itu.
“Tuhan akan membantu seperlunya untuk kita.” (KYT:346)
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM dihiasi dengan bahasa etnis Tionghoa, baik berupa, kata, frasa, kalimat, ataupun ungkapan. Sebagian besar bahasa tersebut diberi arti/maknanya dalam bahasa Indonesia, walaupun terdapat beberapa yang tidak diberi artinya. Misalnya, gerbang rumah Tek Siang yang diberi tulisan “Fan Mang De Shui Xin” yang disusul dengan pencantuman arti oleh Handry TM, yaitu “Gemericik Air yang Bermula dari Hati”. Terdapat pula syair berbahasa Tionghoa (KYT:89) yang turut menghiasi novel karya Handry TM. Ungkapan Thian yang bermakna “Tuhan” sering muncul dalam keseluruhan cerita. Istilah angpao juga muncul dalam novel ini yang memiliki arti uang yang biasanya dimasukkan ke dalam amplop merah yang digunakan untuk memberi hadiah/sumbangan seseorang dalam etnis Tionghoa. Namun seiring perkembangan zaman, istilah angpao banyak digunakan juga oleh orang yang bukan etnis Tionghoa untuk menyebut uang yang diberikan saat Hari Raya Idul Fitri, ataupun hanya untuk hadiah saja. Selain itu, terdapat kata sapaan (sistem kekerabatan) berupa panggilan khas etnis Tionghoa dalam novel ini, Misalnya Tek Siang yang sering dipanggil “Koh Siang” oleh Giok Hong. Koh berasal dari kata Engkoh yang memiliki arti “lelaki yang sudah tua/eyang”. Kemudian, Tek Siang yang memanggil Giok Hong dengan Niek yang berasal dari kata Nonik dan memiliki arti “anak kecil perempuan”.
commit to user
Selain penggunaan bahasa Tionghoa yang digunakan Handry TM dalam menceritakan kisah-kisah yang terjadi, beberapa kata, frasa, dan kalimat juga menggunakan bahasa Jawa, khususnya Jawa Tengah. Bahasa Jawa digunakan karena setting dalam novel ini berada di wilayah Pecinan, Kota Semarang (ibukota Jawa Tengah). Kutipannya sebagai berikut.
Yang lain ndak perlu berdandan. Orang ledhis-ledhis—bau apak—seperti kalian ndak perlu bersolek diri. Menghabiskan wedhak dan bikin kucel pakaian!!” (KYT:29)
“Kamu cari-cari, mbok kok goleki piye carane supaya bisa udhar, ya tetep ndak isa. Semua ini Dewa-lah yang kuasa. Banyak-banyaklah sembahyang,” kata Ing Wen dengan terus menatapi mata Hong yang berkedip-kedip.
“Kowe aja nangis, ya. Ndak baik, nangis terus.” (KYT:31)
“Siang, hebat sekali kowe. Luar biasa punya primadona kempling seperti dheweke,” serunya lagi pada Tek Siang. (KYT:43)
Hanya Soekini, perempuan kecil, yang sejak tadi berlindung di balik gerumbulan blarak kelapa yang jatuh dari pohonnya. (KYT:338)
“Nanti aku laporkan ke komandan sampeyan. Ayo, berani berkata lagi seperti tadi?” (KYT:342)
Di luar perkiraan, bersama teh tadi, beberapa potong jadah---kue terbuat dari ketan---bakar telah tersaji. (KYT:401)
Berpijak dari kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa selain menggunakan bahasa Tionghoa, beberapa kata, frasa, dan kalimat juga menggunakan bahasa Jawa, khususnya Jawa Tengah. Bahasa Jawa terdiri dari tiga tingkatan, yaitu krama (tingkatan tertinggi), madya (tingkatan menengah), dan ngoko (tingkatan terendah). Bahasa Jawa yang digunakan oleh para tokoh-tokoh dalam novel ini adalah bahasa Jawa ngoko. Bahasa Jawa ngoko biasanya dianggap sebagai bahasanya masyarakat umum, rendahan, kuli, petani, atau antar teman karib, juga untuk berbicara dengan orang yang tingkatan sosialnya lebih rendah. Hal tersebut menunjukkan kurang baiknya etnis Tionghoa di Gang Pinggir, Pecinan Semarang dalam berbahasa, khususnya bahasa Jawa.
commit to user
Novel ini memiliki setting tahun 1960-an, oleh karena itu pengarang menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama untuk bahasa tulisan dalam novel ini. Hal ini dilakukan pengarang untuk mendukung setting cerita yang pada saat itu menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama. Berikut kutipannya.
Sampai-sampai, ia menciptakan lagu sedih berjudul Hanjoet di Soengai Asmara. Itulah lagu pertama yang Tek Siang tulis dalam bahasa Indonesia. Hanjoet di Soengai Asmara, toempah ini tjinta kerana engkau terlena Tiada lagi saudara, selain seteroe nyang teroes membara... (KYT:9) “Dalam Kepergiankoe njang beberapa hari ini, koeharap kamoe bisa membakar roemahkoe dan memboenoeh Zeng djoega Giok Hong di tengah hoetan. Boeang ke djoerang, djangan sampek orang tau kedoeanja adalah anakkoe...---Tjik Lena.”(KYT:150)
Poetus soedah tjintaku padamoe/kerana perang tak berkesoedahan/ lenjap entah rindoe di malam-malamkoe/ lantaran tak lagi tahoe di mana kini engkaoe berada.. (KYT:189)
Ada yang bertuliskan: “Tetaplah di belakang Soekarno!” Ada pula tema-tema seperti: “Revolusi Setengah Hati” atau: “Doekoeng Pemerintahan Baroe!” atau setidaknya begini: “Waspadai Kafir Baroe!. (KYT:317) Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, bahasa tulisan dalam novel Kancing yang Terlepas tidak menggunakan bahasa Indonesia ejaan baru seperti sekarang ini, namun menggunakan ejaan lama. Seperti dalam kutipan diatas, huruf vokal “u” menjadi “oe”, contohnya “sudah” menjadi “soedah”. Huruf “y” menjadi “nj”, misalnya “yang” menjadi “njang”. Huruf “c” menjadi “tj”, contohnya “cinta” menjadi “tjinta”. Kemudian huruf “j” menjadi “dj” seperti “juga” yang menjadi “djoega”.
h. Etnis
Novel Kancing yang Terlepas menceritakan suatu peristiwa yang berlatar di Pecinan Semarang, Jawa Tengah tepatnya di kawasan Gang Pinggir. Etnis yang banyak mendiami Gang Pinggir dalam novel Kancing yang Terlepas adalah etnis Tionghoa. Masyarakat Pecinan khususnya seniman seperti Tek Siang, masih melantunkan syair dan lagu yang menceritakan asal usul mereka yang memiliki leluhur orang Tiongkok. Etnis Tionghoa di Gang Pinggir
commit to user
merupakan peranakan dari orang Hokkian/Tiongkok yang berkelana untuk menemukan jalan hidup di tempat lain. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan berikut.
Ada yang bersenandung lagu-lagu kenangan, tentu saja kenangan leluhur mereka turun-temurun sebagai orang susah, para Hokkian dari perkampungan miskin daratan Cina paling selatan. Senandung pelarian yang akhirnya menemukan jalan hidupnya di tempat ini (KYT:77)
Sebagai pemusik, Tek Siang pasti bisa menyambung benang merah lagu itu. Lirik tadi sekilas pernah dibacanya dari buku kuno syair Tiongkok pemberian papahnya. Syair-syair pengelana, kelompok orang-orang terusir, dan asmara yang tidak terselesaikan. (KYT:269)
Secara sejarah dan budaya, bersikap ataukah tidak bersikap, warga Pecinan telah dianggap anak-cucunya RRT (Repoeblik Rakjat Tjina). Lebih celaka lagi, mereka dianggap anteknya komunis. Tidak mendukung pemerintah, akan berhadapan dengan massa rakyat yang bersatu padu mendukung Boeng Karno (KYT:317).
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, asal-usul etnis Tionghoa di Indonesia turut diceritakan dalam lagu-lagu kenangan maupun buku syair kuno yang dimiliki Tek Siang dari ayahnya. Menurut lagu-lagu kenangan tersebut, etnis Tionghoa di Indonesia dulunya merupakan orang susah, yaitu para Hokkian dari perkampungan miskin daratan Cina paling selatan. Sedangkan menurut syair-syair kuno dalam buku, diceritakan orang Tionghoa di Indonesia ataupun di negara lain merupakan pengelana dan kelompok orang-orang terusir. Selain itu digambarkan kehidupan etnis Tionghoa secara sejarah dan budaya, mereka dianggap anak-cucunya RRT (Repoeblik Rakjat Tjina). Parahnya, mereka dianggap antek komunis. Jika mereka tidak mendukung pemerintah, mereka akan berhadapan dengan massa rakyat yang bersatu padu mendukung Boeng Karno
Etnis Tionghoa di Indonesia dalam novel Kancing yang Terlepas dibedakan menjadi dua, yaitu Cina totok dan Cina peranakan. Perhatikan kutipan berikut ini.
Lantas setumpuk catatan lagu-lagu Tionghoa peranakan dibuka, Lily dipersilakan berlatih lagu sesuai pilihannya (KYT:188).
commit to user
“Andaikata negeri ini masih lama dipimpin Boeng Karno, owe yakin orang-orang totok dan peranakan akan dilindungi. Tapi sayang, Boeng Karno bukanlah mandor negara yang pintar mengatur.” (KYT:428)
Berpijak dari kutipan-kutipan di atas, etnis Tionghoa di Indonesia dibedakan menjadi etnis Tionghoa peranakan, seperti yang digambarkan dari lagu-lagu yang digunakan Lily sebagai latihan, dan juga totok. Hal tersebut juga digambarkan dari dialog Tek Siang yang menyebut di negeri ini terdapat orang-orang totok dan peranakan.
2. Nilai Pendidikan dalam Novel Kancing yang Terlepas Karya Handry TM
Sebuah karya sastra yang baik, khususnya novel pasti mengandung nilai-nilai pendidikan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Nilai pendidikan merupakan hal yang penting untuk diintegrasikan dalam novel karena bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat serta menjadikan manusia berbudaya. Novel Kancing yang Terlepas mengandung nilai-nilai pendidikan yang terdiri dari nilai pendidikan sosial, moral, budaya, agama, dan historis. Nilai pendidikan tersebut dijelaskan secara tersirat maupun tersurat melalui dialog antartokoh dan melalui penjelasan pengarang.
a. Nilai Pendidikan Sosial
Nilai-nilai dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku. Nilai pendidikan sosial berfungsi sebagai penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosial. Nilai sosial dapat memotivasi seseorang untuk mewujudkan harapan sesuai dengan peranannya. Kehidupan sosial yang digambarkan dalam novel Kancing yang Terlepas lebih banyak mengulas tentang kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di Gang Pinggir, Pecinan Semarang. Namun kehidupan bermasyarakat antara etnis Tionghoa dan Jawa juga tetap menjadi sorotan pengarang.
Nilai pendidikan sosial dalam novel Kancing yang Terlepas terlihat pada rasa hormat yang dimiliki warga Gang Pinggir terhadap tokoh Tek Siang yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan di Gang Pinggir. Karena