• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan Responden terhadap Pernyataan Berdasarkan Indikator Perhatian Reflektif Pernyataan 5

HASIL PENELITIAN

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

4.3.5 Tanggapan Responden terhadap Pernyataan Berdasarkan Indikator Perhatian Reflektif Pernyataan 5

Pada indikator perhatian reflektif pernyataan 5 yakni : “saya mengetahui proses penjaringan calon dari luar parpol merupakan pintu masuk bagi potensi melakukan hegemoni pemborongan parpol”. Tanggapan responden akan dijelaskan pada tabel distribusi frekuensi berikut:

Tabel 4.14

Uji Jumlah N pernyataan 5

Tabel 4.15

Frekuensi Jawaban pada Pernyataan 5

Diagram 4.6

144

Berdasarkan tabel dan diagram pie di atas dapat diketahui bahwa untuk pernyataan nomor 5 tentang “saya mengetahui proses penjaringan calon dari luar parpol merupakan pintu masuk bagi calon melakukan hegemoni pemborongan parpol”. Dari 100 responden yang menjawab sangat setuju terdapat 54 responden (54%), setuju 46 responden (46%), tidak setuju 0 responden (0%), sangat tidak setuju 0 responden (0%).

Sebelum penetapan calon, parpol melakukan proses penjaringan calon yang bertujuan untuk mengetahui potensi dan kemampuan calon dalam berpolitik serta kredibilitas calon dalam memimpin. Indikator kualitas calon hingga kelayakan calon akan ditunjukkan kepada parpol pada saat penjaringan calon. Parpol akan mempertimbangkan hal-hal kelayakan calon tersebut memimpin dan siap berkompetisi dalam kontestasi pilkada.

Hasil dari proses penjaringan ini kemudian akan dapat menentukan sikap parpol terhadap calon tersebut. Sikap tersebut yakni berupa dukungan dan keberpihakan parpol kepada calon tersebut dalam orientasi kemenangan pilkada. Selain itu, parpol juga akan menyeleksi calon berdasarkan kualitas calon, kredibilitas calon, kemampuan intelektualitas, responsibilitas, dan indikator yang perlu dievaluasi oleh parpol untuk menyatakan kelayakan calon tersebut.

Sebelum mendapatkan calon kepala daerah yang akan didukung, partai politik akan melakukan proses penjaringan calon. Pembukaan pendaftaran dilakukan partai untuk menampung calon-calon yang akan

maju, lalu diverifikasi, dianalisa kelayakannya baru diputuskan bisa tidaknya diajukan sebagai calon kepala daerah.100

Sejumlah uang yang harus disediakan para calon yang akan digunakan partai untuk operasional mendukung calon tersebut dalam proses kampanye hingga Pemilukada. Mekanisme partai-partai untuk merekrut calon yang akan diajukan mungkin berbeda-beda, namun dalam hal syarat penyediaan mahar untuk mendapat kendaraan politik ini, nyaris semua partai tidak mengakuinya secara spesifik.101

Ada beberapa partai yang sudah melakukan survey untuk mengukur kapasitas, kapabilitas, popularitas calon-calon yang akan diusungnya dan dijadikan bahan evaluasi untuk proses selanjutnya. Tetapi memang syarat yang tidak tertulis harus punya modal uang mahar ini ditengarai bisa saja menggeser calon-calon lain yang punya kompetensi lebih namun tidak punya atau kurang dana/uang mahar. Jika kondisi ini terulang, bisa dipastikan kepala daerah terpilih akan banyak yang terjebak dalam praktek-praktek untuk pulang modal yang berujung pada perilaku koruptif. Tentu, disisi lain tanpa menyetor uang mahar-pun tidak menjamin korupsi tidak akan dilakukan kepala daerah. Namun adalah hal yang tidak elok, jika untuk maju jadi pemimpin yang diharapkan menjadi “pelayan masyarakat” harus menyediakan uang dalam jumlah besar. Manusiawi, jika pemimpin model

100

http://netralitas.com/kolom/read/3626/mahar-penjaringan-calon-kepala-daerah-dan-realitas-korupsi diakses pada 15 Juni 2016, pukul 01.14 WIB

101

146

ini yang terpilih akan berusaha mengembalikan biaya-biaya yang dikeluarkannya lepas dari bagaimana caranya.102

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ), Teddy Lesmana mengatakan kemenangan calon incumbent atau keluarga pejabat (dinasti politik) karena sistem meritokrasi di Indonesia belum berkembang. Sistem meritokrasi adalah sistem yang memberikan penghargaan kepada tokoh atau mereka yang berprestasi.

Selain itu, partai politik belum menjalankan tugas dan fungsinya sebagai kaderisasi pemimpin. Kedepan, parpol harus menjalankan tugas dan fungsinya untuk mendidik kader sebagai calon pemimpin yang berdasarkan kepada asas meritokrasi mulai dari level terendah hingga level nasional. Pendidikan untuk kaderisasi harus dibuka selebar-lebarnya.

Partai juga harus mendorong pendidikan politik untuk masyarakat sehingga masyarakat dapat memilih pemimpin sesuai dengan rekam jejak dan prestasinya. Apabila ditelaah lebih dalam, masyarakat belum memiliki pendidikan politik yang mumpuni sehingga tidak mampu mencerna kepala daerah yang ditawarkan.103

Diusung PDI-P sebagai bakal calon Wakil Bupati Serang mendampingi Ratu Tatu Chasanah, Panji Tirtayasa menilai PDI-P sebagai partai yang memiliki Ideologi. Mantan Kepala Badan Perencanaan

102Lo.cit diakses pada 15 Juni 2016, pukul 01.17 WIB

103http://www.rri.co.id/post/berita/227229/pilkada_serentak/dinasti_politik_kokoh_di_pilkada_

Pembangunan Daerah Kabupaten Serang ini merasa bangga dan berbahagia, setelah PDI-P mengeluarkan mandat kepada dirinya untuk mendampingi Ratu Tatu Chasanah. Menurut Pandji, dirinya merasa bahagia ditugaskan untuk menjadi wakil Hj. Ratu Tatu Chasanah untuk membangun kabupaten Serang. Selain itu, kata Panji, dirinya merasa bangga dan berbahagia masuk dan menjadi keluarga besar PDI Perjuangan setelah pensiun menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Serang. Pandji juga merasa bangga dan berbahagia menjadi keluarga besar PDI-P, dirinya yakin PDI-P merupakan partai yang memiliki ideologi, jelasnya sambil menjelaskan dirinya selama enam hari telah mengikuti sekolah partai tahap pertama yang diselenggarakan oleh DPP PDI-P.104

Pemilihan Pandji sebagai wakil Tatu terindikasi hasil spekulasi cepat pada saat penjaringan calon. Dengan segera, Pandji mendaftarkan diri menjadi kader PDI-P sesaat sebelum proses penjaringan parpol berlangsung. Hal ini merupakan pintu masuk bagi calon melakukan hegemoni pemborongan parpol dengan mahar politik dan segala upaya pemenangannya. Hegemoni yang dimaksud adalah hegemoni/he·ge·mo·ni/ /hégemoni/ n pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasaan, dan sebagainya suatu negara atas negara lain (atau negara bagian).105 Atau bisa

104 http://www.radarbanten.co.id/diusung-dampingi-tatu-ini-kata-panji-tirtayasa/ diakses pada

15 Juni 2016, pukul 01.35 WIB

148

diperjelas bahwa hegemoni merpakan cara mendominasi kekuasaan, upaya tersebut dilakukan dengan cara melakukan aksi borong parpol.

Masyarakat sebagai responden, menyatangan sangat setuju (54%) dan setuju (46%) bahwa mereka mengetahu proses penjaringan calon dari luar parpol merupakan pintu masuk bagi potensi melakukan hegemoni pemborongan parpol.

4.3.6 Tanggapan Responden terhadap Pernyataan Berdasarkan

Dokumen terkait