• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH DAN

B. Perkembangan Tanggung Jawab

2. Tanggung Jawab dan Kepribadian

Tanggung jawab merupakan salah satu nilai moral yang utama yang ada di dalam hukum moral, karena memiliki tujuan, nilai yang nyata, di mana mereka mengandung nilai-nilai baik bagi semua orang, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Tanggung jawab sangat diperlukan untuk mengembangkan jiwa yang sehat, membentuk kepribadian yang memiliki

kepedulian akan hubungan interpersonal dan menjadi masyarakat yang humanis. Tanggung jawab merupakan dasar landasan sekolah yang tidak hanya memperbolehkan, tetapi mengharuskan para guru untuk memberikan pendidikan tersebut untuk membangun manusia-manusia yang mampu memposisikan diri mereka sebagai bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab (Lickona, 2012: 72).

Tanggung jawab merupakan suatu kewajiban untuk menyelesaikan tugas yang telah diterimanya secara tuntas dengan ikhlas dan sungguh-sungguh melalui usaha yang maksimal serta berani menanggung segala akibatnya. Bersedia menanggung segala resiko dari apa yang akan dilakukan merupakan wujud dari orang yang memiliki tanggung jawab itu sendiri. Individu yang bertanggung jawab adalah individu yang dapat memenuhi tugas dan kebutuhan dirinya sendiri, serta dapat memenuhi tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya dengan baik (Rintyastini, 2006: 49).

Tanggung jawab berarti melaksanakan sebuah pekerjaan atau kewajiban dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik. selain itu dengan bertanggung jawab berarti seseorang mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan integritas. Integritas berarti mutu, sifat dan keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga mewakili potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran seseorang. Orang yang menjalankan tanggung jawab dengan penuh integritas berarti melibatkan segala kemampuan untuk mencapai usaha yang maksimal guna terpenuhinya tanggung jawab. Hal ini tentu memberikan suatu kepuasan tersendiri bagi orang yang melakukan tanggung jawab karena ia dapat menyumbangkan sesuatu.

Seseorang yang mau memikul tanggung jawab adalah cara kehidupan dunia ini berjalan sekaligus merupakan ujian bagi kematangan seseorang. Seseorang tidak akan begitu saja melepaskan tanggung jawabnya jika ia sudah cukup matang untuk bersikap dan cukup kuat untuk memikul tanggung jawab. Sikap bertanggung jawab sudah bisa memberikan daya tarik dan kedamaiannya sendiri. Orang yang dipercaya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bertanggung jawab akan lebih siap menerima pengembangan mental penuh atau kedewasaan daripada orang yang tidak bisa dipercaya. Julian (2008: 148) mengatakan bahwa di dalam orang yang bertanggung jawab akan secara bertahap tumbuh berbagai jenis unsur kepribadian.

Mengembangkan tanggung jawab bisa berasal dari dua hal: kebiasaan atau latihan sejak usia dini. Tanggung jawab harus dilatihkan dan dibebankan pada kaum muda sejak usia sedini mungkin, karena usia muda merupakan periode yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan tanggung jawabnya seseorang akan lebih merasa bermanfaat selama hidupnya. Ketika kebiasaan tanggung jawab sudah terbentuk, seseorang tidak akan pernah mengerjakannya setengah-setengah, tetapi akan bertanggung jawab mengerjakannya sampai tuntas. Jadi, rasa tanggung jawab adalah sikap baik sebagaimana sikap-sikap lain yang bisa membentuk kepribadian baik seseorang (Julian, 2008: 149).

b. Jenis Tanggung Jawab

Tanggung jawab seorang manusia tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri, melainkan juga untuk hal lainnya. Wujud tanggung jawab ada bermacam-macam, tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan kepada Tuhan. Jenis-jenis tanggung jawab itu sendiri antara lain:

1) Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri

Tanggung jawab terhadap diri sendiri berarti menanggung tuntutan kata hati, misalnya dalam bentuk penyesalan yang mendalam. Tanggung jawab terhadap diri sendiri merupakan hal dasar dalam melakukan kewajiban-kewajiban lainnya sebagai tuntutan dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri. Pada dasarnya manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi yang memiliki pendapat sendiri dalam berbuat dan bertindak. Bertanggung jawab pada diri sendiri tentu akan mampu bertanggung jawab pada hal-hal lainnya pula. Dengan berani bertanggung jawab berarti kita sudah mampu melaksanakan tugas dan kewajiban untuk kepentingan diri sendiri sehari-hari secara rutin. Misalnya, ketika seorang peserta didik ingin menjadi ketua OSIS namun peserta didik tersebut tidak memiliki sikap yang patut dicontoh sebagai ketua, sehingga bagaimana peserta didik yang lain mau memilih peserta didik tersebut sebagai ketua OSIS (Rintyastini, 2006: 52).

2) Tanggung Jawab Sebagai Anggota Keluarga

Setiap keluarga membutuhkan anggotanya untuk melaksanakan tugas dan peran dengan baik agar keharmonisan dalam keluarga tetap terjalin dengan baik pula. Segala tugas yang dilakukan dengan ikhlas akan menunjukkan kepedulian kita akan apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh anggota keluarga yang lainnya. Sebagai contoh: sebagai seorang anak kita harus belajar dengan baik dan membantu meringankan tugas orang tua ketika berada di rumah. Dengan melaksanakan tanggung jawab sebagai anak, maka hal tersebut tentunya menjadi

suatu kebanggaan bagi kedua orang tua kita. Apabila dalam hal-hal kecil kita abaikan, maka semakin sulit bagi kita untuk membangun rasa tanggung jawab dalam diri kita maupun untuk orang lain (Rintyastini, 2006: 53).

3) Tanggung Jawab Sebagai Peserta Didik di Sekolah

Tanggung jawab sebagai siswa ditunjukkan melalui kecintaannya pada sekolah dengan selalu berusaha disiplin, baik dalam perkataan maupun tingkah lakunya. Hal tersebut akan nampak dari cara berhadapan dengan guru, keseriusan dalam mengikuti setiap mata pelajaran, selalu mengerjakan pekerjaan rumah, berpakaian yang rapi dan bersih serta dapat berhubungan baik dengan teman atau warga sekolah yang lain. Dengan terbiasa melaksanakan tanggung jawab dengan baik, maka akan membantu diri sendiri menjadi lebih tertib (Rintyastini, 2006: 55).

4) Tanggung Jawab Sebagai Anggota Masyarakat

Pada dasarnya seorang manusia adalah makhluk sosial, yakni tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain. Seorang manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai anggota masyarakat tentu harus memiliki tanggung jawab sehingga dapat melangsungkan hidup yang baik ditengah-tengah masyarakat dan mempertanggungjawabkan perbuatannya pada masyarakat. Bertanggung jawab terhadap masyarakat berarti menanggung tuntutan norma-norma sosial, bisa berupa sanksi-sanksi sosial seperti cemoohan masyarakat, hukuman penjara, dan lain-lain. Bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat akan melatih seseorang menjadi pribadi yang lebih matang, dimana kita akan memiliki wawasan yang lebih luas (Rintyastini, 2006: 57).

5) Tanggung Jawab Sebagai Umat Beragama

Bertanggung jawab kepada Tuhan berarti menanggung tuntutan norma-norma agama, misalnya perasaan berdosa. Perubahan tanggung jawab kaum muda dalam beragama masih mudah terpegaruh, namun kesadaran diri sudah mengalami peningkatan yang baik. Misalnya: aktif dalam kegiatan menggereja dan lingkungan misalnya seperti menjadi misdinar, lektor, mengikuti komunitas doa, Rosario, doa lingkungan atau katekese di lingkungan dan lain sebagainya (Rintyastini, 2006: 57).

c. Pengertian Kepribadian

Sjarkawi (2006: 25) menegaskan bahwa kepribadian adalah khas bagi setiap pribadi. Kepribadian itu sendiri meliputi tingkah laku, cara berpikir, perasaan, gerak, hati, usaha, aksi, tanggapan terhadap kesempatan, tekanan dan cara sehari-hari dalam berinteraksi dengan orang lain. Suprihadi Sastrosupono (1979: 6) juga mengungkapkan bahwa kata kepribadian sering kali berhubungan dengan keadaan seseorang atau karakter seseorang. Kepribadian sering menyangkut masalah watak, sifat, tetapi itu semua tercermin dalam perbuatan dan nampak dalam tindakan seseorang. Arti kepribadian sendiri adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosionil maupun yang sosial. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya.

Heuken (1981: 15) juga mengungkapkan hal yang sama diatas, bahwa kepribadian bukanlah tumpukan sifat-sifat yang terpisah-pisah. Kepribadian merupakan suatu satu kesatuan yang harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa

kepribadian bukan hanya tingkah laku yang baik, kecerdasan, perasaan yang dewasa, kemampuan bergaul atau bercita-cita luhur semata-mata. Kepribadian ialah gabungan harmonis dari sifat-sifat yang sebanyak itu.

Keunikan manusia di dalam kepribadiannya merupakan hasil dari komunikasi intensif unsur-unsur anggotanya, yang mempunyai taraf yang berbeda-beda. Sebaliknya, masing-masing unsur yang menjadi anggota dalam diri manusia juga mempribadikan pola kontras atau kepribadian manusia sebagai satu subyek, sehingga kepribadian tersebut juga dicerminkan di dalam unsur-unsur tersebut. Dengan demikian, dari satu pihak kepribadian merupakan hasil interaksi bagian yang merupakan anggota dalam diri manusia, dan dari pihak lain bagian-bagian diresapi oleh kepribadian keseluruhan manusia (Hardono Hadi, 1996: 98).

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Kepribadian seseorang dapat dipengaruhi dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal sebagai berikut:

1) Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri orang tua itu sendiri. Faktor ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan, biasanya berupa bawaan sejak lahir dan merupakan keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau yang bisa jadi gabungan atau kombinasi dari keduanya. Hal ini membuktikan bahwa sikap atau kepribadian seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Misalnya: sifat ceria, periang yang dimiliki oleh seorang ibu akan menurun pada anaknya (Sjarkawi, 2006: 19).

2) Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor ini biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan seseorang, seperti keluarga, teman, tetangga maupun dari berbagai media audiovisual seperti televisi, atau media cetak seperti koran, majalah dan lain sebagainya. Lingkungan keluarga menjadi faktor pertama dan utama dalam membentuk pribadi seorang anak. Karena orang tua memiliki peran dalam memberikan teladan kepada anak, sehingga secara tidak langsung baik atau buruknya sifat yang dimiliki seorang anak merupakan ciri dari apa yang diterapkan oleh orang tua. Misalnya: orang tua yang sering marah di depan anak akan membawa anak pada pribadi yang mudah marah juga. Selain faktor keluarga, sering kali perngaruh teman sebaya maupun sekelompok manusia lain yang memiliki pengaruh bagi seseorang. Hal ini disebabkan karena manusia tidak dapat hidup seorang diri (Sjarkawi, 2006: 19).

e. Hubungan Tanggung Jawab dan Kepribadian

Hati, moral dan tanggung jawab merupakan hal yang berhubungan satu sama lain. Hati berfungsi untuk mendorong, moral untuk melakukan dan tanggung jawab sebagai kesediaan menanggung segala resiko, entah baik atau buruk. Sehingga bertanggung jawab dapat diartikan sebagai keberanian seseorang untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, dan karena hal itu perbuatan tersebut dilakukan, sehingga resiko atau sanksi apapun akan diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan (Umar Tirtaraharja, 2008: 8).

Tanggung jawab dan kepribadian merupakan dua hal berbeda namun saling berhubungan satu sama lain, dengan memiliki tanggung jawab berarti kita melatih

diri untuk berproses sebagai orang yang memiliki kepribadian baik, begitu juga sebaliknya. Tanggung jawab dan seluruh nilai lainnya yang berasal dari landasan nilai terpenting ini memberikan muatan moral yang dapat dan harus diajarkan oleh sekolah. Sekolah memerlukan suatu konsep karakter dan komitmen untuk mengembangkan konsep tersebut dalam diri para peserta didiknya.

Sjarkawi (2006: 23) menegaskan bahwa kepribadian yang berkembang dapat dilihat melalui gambaran diri seseorang, cara berinteraksi dan pandangan serta harapan terhadap orang lain yang berkaitan dengan perilaku sosialnya yang terbentuk melalui riwayat perkembangan hidupnya. Riwayat hidup seseorang bisa diwujudkan sebagai suatu perubahan yang melewati tiga tahap. Tahap pertama mengakui kewibawaan, tahap kedua mengatur bagaimana bergaul dengan teman sebayanya, dan tahap ketiga memantapkan gaya hidup tertentu yang hendak direalisasikannya.

Kepribadian yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap akhlak, moral, budi pekerti, etika dan estetika seseorang ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari di manapun ia berada. Semua nilai-nilai tersebut akan menjadi landasan perilaku seseorang sehingga tampak dan membentuk menjadi budi pekertinya sebagai wujud kepribadian orang tersebut. Kepribadian itu sendiri merupakan karakteristik atau gaya dan sifat khas diri seseorang yang mengacu pada bagaimana individu tersebut tampil dan menimbulkan kesan bagi individu lainnya (Sjarkawi, 2006: 34).

Thomas Lickona (2012: 84) menegaskan bahwa dalam pribadi dengan karakter yang baik, nilai moral secara umum bekerja sama untuk saling mendukung satu sama lain. Namun hal tersebut terkadang tidak selalu sama, terkadang orang

baik sering gagal dalam melakukan perbuatan moral mereka yang terbaik. Namun dengan seiring kita mengembangkan kepribadian yang berproses seumur hidup, kehidupan moral yang kita jalani secara bertahap mengarah pada penilai, perasaan dan pola pelaksanaan perbuatan yang baik.

Sjarkawi (2006: 26) mengatakan bahwa tindakan moral sebagai penafsiran diri di mana perkembangan moral diletakkan dalam konteks perkembangan pribadi sebagai suatu keseluruhan. Orientasi moral yang dianut seseorang, yaitu cara ia bereaksi terhadap aturan, harapan-harapan orang lain, bahkan wawancara yang menyangkut pertimbangan moral, pada dasarnya berhubungan dengan struktur kepribadian orang yang bersangkutan. Struktur kepribadian mencerminkan perkembangan moral seseorang. Seseorang yang mampu melibatkan diri dengan otoritas, dengan harapan kelompok sebayanya, atau dengan kewajiban keluarga dan pekerjaannya, akan banyak tergantung pada tingkatan usia dan moralitas yang bersangkutan. Peningkatan pertimbangan moral pada diri seseorang yang dirancang secara sengaja melalui pendidikan di sekolah maupun di rumah, dapat membantu pembentukan kepribadian seseorang karena dengan terbentuknya pertimbangan moralnya, seseorang akan berperilaku sesuai dengan cara berpikir moral yang ada padanya. Perilaku yang ada pada diri seseorang berlandas pada pertimbangan-pertimbangan moral kognitif, yakni mengakui bahwa kepribadian seseorang dapat dibentuk melalui pertimbangan moral yang melandasi cara berpikirnya.

f. Kesadaran Moral yang Terbentuk

Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah segala hal yang berurusan dengan sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket

atau sopan santun. Kepribadian yang dimiliki oleh seseorang dapat dipengaruhi oleh cara berpikir moral seseorang. Moral yang baik, yang dimiliki oleh seseorang akan mengasilkan kepribadian yang baik pula, demikian juga sebaliknya. Pendidikan moral yang didapat oleh seseorang akan dapat membantu orang tersebut dalam pembentukan kepribadian yang baik dan moralitasnya (Sjarkawi, 2006: 34).

Perkembangan moral pada dasarnya merupakan interaksi, suatu hubungan timbal balik antara anak dengan anak, antara anak dan orang tua, antara peserta didik dengan pendidik, dan seterusnya. Hal ini sangat penting karena hanya dengan interaksi berbagai aspek dalam diri seseorang dengan sesamanya atau dengan lingkungan sekitarnya sehingga seseorang dapat berkembang menjadi semakin dewasa baik secara fisik, spiritual dan moral (Sutarjo Adisusilo, 2012: 4).

Widyarta (1971: 6) mengatakan bahwa setiap manusia memiliki kesadaran moral, dalam segala situasi hidup ia mampu menilai secara konsekuen apa yang benar atau salah, baik atau buruk. Ada kalanya orang yang memiliki pribadi yang matang pun menghadapi situasi konflik atau situasi moral yang kurang jelas, akan tetapi pribadi yang matang dalam menghadapi kesulitan dapat mengambil keputusan atas tanggung jawab sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan tersebut dengan menerima segala konsekuensinya. Pada pribadi yang bermoral matang, kewajiban dihayati sebagai suatu tuntunan dari inti kepribadiannya sendiri, sebagai tuntunan intern yang erat berhubungan dengan harga atau martabat dirinya. Bagi orang bermoral matang, tindakan yang dilakukan merupakan suatu hal dipandang dari sudut konsekuensi untuk diri sendiri dan sesama. Tanpa moral yang baik, karakter segala bentuk apapun tidak akan bisa dibentuk.

g. Kepribadian yang Matang

Kematangan seseorang berhubungan erat dengan perkembangan mental. Orang yang sudah matang akan memiliki kemampuan membedakan situasi dan kondisi tertentu kemudian menilai pentingnya hal tersebut berdasarkan kebutuhan yang utama dalam hidupnya. Semakin matang seseorang maka ia akan semakin tenang dan mampu menjaga dirinya saat menghadapi cobaan maupun masalah dalam hidupnya. Hal ini akan memberikan cermin bagi kepribadian seseorang sehingga membuatnya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dapat membantu kualitas diri yang lain berkembang secara utuh (Julian, 2008: 153).

Kematangan bergantung pada beberapa perkembangan atas identifikasi dan kualitas personal seseorang. Cara untuk mengembangkan kematangan adalah dengan terus mengembangkan mentalnya untuk melihat akhir dari suatu pekerjaan yang ia lakukan atau tanggung jawab yang ia pikul. Hal kedua yang diharapkan adalah memiliki mental yang kuat untuk menghadapi setiap gangguan. Orang yang matang tidak akan pernah meninggalkan segala tanggung jawabnya karena itu yang membuatnya menjadi manusia yang bertanggung jawab dan membantu kualitas-kualitas lain dalam diri untuk berkembang secara maksimal (Julian, 2008: 151).

Widyarta (1971: 1) mengatakan bahwa pada dasarnya pribadi yang matang adalah pribadi yang sudah tidak lagi menjadi tanggungan atau berlindung di bawah naungan orang tuanya. Bagi orang yang matang, hidup mempunyai tujuan, mempunyai makna yang patut dikejar. Oleh karenanya, hidup pribadi yang matang pun memperlihatkan rencana dan “keterarahan”, keutuhan dan integrasi.

Kematangan adalah kesiapan untuk menyelesaikan tugas hidup atas tanggung jawab sendiri. Perlu diingat bahwa dalam kenyataannya nilai-nilai insani

yang membuat manusia menjadi pribadi, tidak selalu cukup diakui dalam suatu gambaran manusia. Dimana suatu nilai insani yang hakiki itu ditentang, disitu pula kematangan insan akan lebih sukar dicapai. Demikian misalnya, apabila suatu gambaran manusia kurang menghargai martabat individu atau kurang mengakui segi spiritual manusia, disitu perkembangan kepribadian ke arah kematangannya akan dihambat (Widyarta, 1971:19).

Kedewasaan berisi karakter yang turut memikul tanggung jawab. Saat seorang bertanggung jawab, ada sejumlah kebaikan lainnya yang tumbuh dalam dirinya sebagai sifat tambahan. Itu antara lain ia memiliki respek terhadap ucapannya sendiri dan ucapan orang lain. Dengan tidak mementingkan diri sendiri dan sanggup menepati janji adalah syarat utama dari sifat bertanggung jawab (Julian, 2008: 230).

h. Kepribadian yang Bertanggung Jawab

Meadow (1989: 140) menegaskan bahwa seorang pribadi merupakan karunia yang berasal dari Sang Pencipta kehidupan. Sebagai pribadi yang bertumbuh menjadi remaja yang dewasa, hendaknya mampu menyadari hal tersebut dan semakin memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Bertanggung jawab atas diri sendiri berarti bahwa seseorang mau mengakui berbagai responsnya terhadap situasi hidup sungguh-sungguh sebagai responsnya sendiri. Kendati respons tersebut didasarkan pada stimulus tertentu, namun tetap memiliki corak khas pribadi yang bersangkutan. Trauma-trauma kehidupan, yakni pelbagai realitas pahit yang harus dialami seseorang sejak di dalam kandungan, akan berkesempatan menunjukkan pengaruhnya ketika yang bersangkutan

mengaktifkan sifat-sifat negatifnya. Namun, ia dapat keluar dari cengkeraman kebiasaan yang lahir dari sifat-sifat negatif tersebut apabila ia mampu bertanggung jawab atasnya. Separuh jalan ke arah perubahan telah ditempuh bila seseorang mengakui bahwa sifat-sifat negatif yang ditunjukkannya selama ini merupakan sifat-sifat esensinya, yang bisa dikendalikan oleh dirinya.

Seseorang yang bertanggung jawab atas dirinya akan mampu berkata. “Saya adalah saya”. Seseorang yang bertanggung jawab atas dirinya tidak hanya menjaga kesehatan fisiknya, melainkan juga kesehatan mental, psikologis dan spiritualitasnya. Seorang remaja yang bertanggung jawab berarti ia sekaligus mampu menerima dirinya sendiri, baik di tengah-tengah keluarga, teman bergaul dan masyarakat. Seseorang dapat mengenal kekurangan-kekurangannya dengan benar, mengusahakan untuk mengatasinya tetapi bersama itu merelativir kekurangan-kekurangan tersebut. Orang yang menerima diri sendiri memiliki keutuhan batin. Ia tidak memusuhi diri sendiri, tidak selalu menentang atau mencaci maki dirinya sendiri (Widyarta, 1971:14).

Pribadi remaja yang penuh tanggung jawab digambarkan memiliki pandangan moral berdasarkan peraturan-peraturan, ia dapat memutuskan suatu tindakan dengan memperhatikan motif-motif dan kemungkinan hasilnya. Ia telah menentukan cita-citanya melalui usaha yang keras dan berat. Ia sangat kritis terhadap dirinya sendiri sehubungan dengan usaha yang tengah dilakukannya. Ia memiliki kesadaran yang sungguh-sungguh tentang pedoman-pedoman yang telah ditetapkan bagi dirinya, dan bukan sekedar melakukan apa yang dianjurkan oleh orang lain. Pribadi yang bertanggung jawab memandang hubungannya dengan orang lain berdasarkan cita-cita dan perasaannya terhadap orang tersebut, seorang

teman adalah tempat berbagi pikiran mengenai tujuan dan nilai-nilai yang dimiliki, tidak hanya sekedar teman untuk bermain bola gelinding atau menonton film. Ia sangat menyadari pemahaman-pemahaman yang telah dimiliki melalui upaya yang gigih bahwa dirinya harus berarti bagi orang lain dan mungkin berusaha untuk menanamkannya pada diri orang lain sekaligus agar orang lain mengatahui nilai-nilai yang dianutnya (Meadow, 1989: 73).

Pribadi yang bertanggung jawab menanamkan keyakinan bahwa dirinya memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain dan orang lain merasakan hal yang sama terhadap dirinya. Menjadi pribadi yang bertanggung jawab tidak muncul secara otomatis, namun harus dipupuk dan dibina selama masa pertumbuhan karena setiap pribadi mengalami tugas perkembangannya masing-masing dan berbeda-beda pula. Untuk meningkatkan kesadaran dalam bertanggung jawab itu sendiri diperlukan pendidikan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan. Dengan menunjukkan kualitas diri yang baik, maka ia akan tumbuh dengan semangat memikul pertanggung jawaban yang besar pula.

C. Peranan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah bagi Perkembangan Tanggung

Dokumen terkait