BAB I PENDAHULUAN
B. Tanggung Jawab Debitur Dalam Upaya Pelunasan
Masalah yang sering timbul dalam perjanjian kredit adalah masalah kredit macet. Istilah kredit macet dipergunakan dalam lingkungan Perbankan berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 30/267/KEP/DIR, tanggal 27 Februari 1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif, pada Bab II Pasal 4, disebutkan bahwa kredit berdasarkan kollektibilitasnya dapat dibedakan sebagai berikut : Lancar (pass), Dalam Perhatian Khusus (special mention), Kurang Lancar (substandard), Diragukan (doubtfult), Mecet (loss). Sedangkan yang menjadi kriteria kredit macet adalah sebagai berikut:
1. Kredit yang tidak memenuhi kriteria lancar
2. Memenuhi kritera diragukan tetapi dalam jangka waktu 21 bulan sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha penyelamatan kredit. 3. Kredit tersebut penyelesaiannya telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau
Badan Urusan Piutang Negara (BUPN) atau telah diajukan penggantian rugi kepada perusahaan asuransi kredit.
Keberadaan kredit macet dalam dunia Perbankan merupakan suatu penyakit kronis yang sangat mengganggu dan mengancam sistim Perbankan Indonesia yang harus diantisipasi oleh semua pihak terlebih lagi keberadaan Bank mempunyai peranan strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia.
terjadinya kredit macet dapat saja terjadi karena hal-hal dibawah ini:
1. Ulah debitur yang berusaha untuk mengelak pengembalian kredit yang telah diterima atau dengan segala akalnya berusaha menghambat pengembalian kredit yang telah diterimanya melalui upaya hukum biasa atau upaya hukum luar biasa. 2. Kepala bagian kredit Bank yang bersangkutan kurang cermat menilai harga objek
jaminan sehingga kredit pada waktu jatuh tempo pengembalian kredit tidak dapat ditagih.
3. Kredit sengaja dibiarkan membangkak oleh pihak Bank oleh karena harga tanah yang dijaminkan diprediksi akan naik dan pada waktunya nanti diperkirakan akan tertutup dan bunga akan masuk.
4. Surat perjanjian kredit tidak memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian juga dalam suami/istri debitur tidak ikut menandatangani akad kredit atau akte pemberian jaminan kredit/surat kuasa untuk memasang hipotik.
5. Penyebab kredit macet intern dan ekstern lainnya, kenakalan dari pimpinan Bank sendiri seperti mendanai perusahaan group sendiri yang dilarang oleh Undang- Undang Perbankan, perubahan kebijakan moneter dan pengaruh ekonomi luar negeri juga menambah kredit macet seperti devaluasi dan lain-lain
Dalam aspek hukum perikatan, kredit macet diartikan bahwa debitur tidak mampu melaksanakan prestasinya sesuai jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian. Konsekuensi yuridis bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi tersebut adalah wajib membayar ganti kerugian kepada krediturnya. Sebaliknya apabila kreditur memberikan fasilitas kredit dengan melanggar Undang-Undang, prinsip kehati-hatian dan prinsip kepatutan, maka kreditur dapat dikenakan sanksi perbuatan melawan hukum (onrechtmatigdaad) sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata.
Seorang nasabah debitur dalam suatu perjanjian kredit dengan Bank dapat dikatakan melakukan wanprestasi apabila debitur tersebut tidak memenuhi hutangnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian. Adanya wanprestasi tersebut mengakibatkan kredit yang diberikan menjadi kredit bermasalah yang pada akhirnya dapat dikategorikan sebagai kredit macet apabila memenuhi unsur kredit macet sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 30/267/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998.
Istilah wanprestasi berasal dari Bahasa Belanda yang berarti prestasi yang buruk, yang dapat berupa 4 (empat) macam, yaitu :64
1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya
2. Melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan 3. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat
4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya
Penyebab lahirnya kredit macet setidak-tidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu kondisi internal dan eksternal. Secara internal masih banyak pejabat Bank yang bertindak dengan tidak mematuhi Undang-Undang Perbankan dan management Bank. Sedangkan secara eksternal dapat disebabkan oleh perubahan kebilakan moneter dan kondisi perekonomian bangsa..65
Dalam dunia usaha sering kali dijumpai seorang debitur yang mengalami kesulitan untuk membayar hutang-hutangnya, misalnya karena krisis moneter yang berkepanjangan. Dalam kondisi semacam ini perusahaan-perusahaan Indonesia mengalami banyak hambatan untuk melanjutkan pergerakannya, tertutama dalam kondisi dimana sistim kompetisi global dengan fokus pada kualitas dan bukan lagi pada kuantitas. Meskipun tidak semua perusahaan terkena dampak negatif dari krisis secara signifikan, namun tetap perlu disadari bahwa banyak perusahaan tidak mampu lagi melanjutkan aktivitasnya dan terpaksa menghentikan segala kegiatan operasinya
64 R. Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Pembimbing Masa, Jakarta, 1963, hal 48
65 Tan Kamello, Penyelesaian Kredit Macet Dengan Eksekusi Jaminan, Makalah Dalam Seminar Nasional Perspektif Notaris Sebagai Pejabat Lelang, Diselenggarakan Oleh Sekolah Pasca Sarjana Hukum Uiversitas Sumatera Utara, Medan 14 April 2007, hal 4
serta mem-PHK karyawan-karyawannya. Disamping itu banyak pula yang meskipun masih dapat survive (selamat) dalam kondisi sekarang, namun masih diragukan masa depannya.
Berbagai kesulitan karena adanya krisis ekonomi mungkin masih akan berlangsung dalam waktu yang relatif panjang. Oleh karenanya setiap perusahaan memerlukan persiapan yang cukup memadai untuk dapat ”selamat” dari kondisi krisis sambil mempersiapkan diri untuk meraih peluang dimasa mendatang. Diperlukan kecerdikan dan kecepatan untuk dapat menyusun sistim pengolahan krisis yang selaras dengan kebutuhan jangka pendek, menengah dan orientasi jangka panjang perusahaan.
Dalam rangka menyelamatkan sektor rill dari keterpurukannya, pemerintah antara lain telah menggariskan agar Bank-Bank memberikan kesempatan kepada para debiturnya yang mempunyai kredit macet untuk merestrukturisasi kredit tersebut. Restrukturisasi hutang tidak mungkin diberikan kepada seluruh kredit yang bermasalah.
Restrukturisasi hutang itu hanya mungkin diberikan kepada debitur yang beritikad baik dan yang usahanya masih memiliki prospek yang baik.
Beberapa Bank telah dilikuidasi oleh pemerintah pada tanggal 1 November 1997, dan beberapa Bank telah dibekukan operasinya atau diambil alih kepemilikan dan managementnya oleh Badan Penyehatan perBankan Nasional (BPPN) guna pengelolaan dan penyelesaiannya.
Dalam mengelola aset para debiturnya, BPPN, telah membentuk unit khusus dalam strutur organisasinya yang disebut Asset Management Unit (AMO). Yang menjadi masalah sehubungan dengan penanganan para debitur yang berada dibawah BPPN adalah bagaimana menentukan bahwa seorang debitur beritikad baik.
Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur apakah debitur mempunyai itikad baik, antara lain sebagai berikut :66
1. Sebelum kredit macet:
a. Apabila sebelum kredit menjadi macet nasabah selalu koorporatif terhadap Bank dan mau menjalankan segala kewajibannya, baik yang berupa kewajiban untuk mencicil pokok atau kewajiban membayar bunga.
b. Kredit telah digunakan sesuai dengan meksud dan tujuan yang tertulis di dalam perjanjian kredit. Dengan kata lain tidak terjadi side streaming, yaitu menggunakan untuk tujuan lain selain membiayai proyek atau usaha yang diperjanjikan.
c. Perhitungan kebutuhan jumlah kredit tidak di back up, yaitu diajukan kepada Bank dengan perhitungnan lebih besar dari kebutuhan yang sesungguhnya. d. Nilai tanah, peralatan dan asset perusahaan lain baik yang dibiayai dengan
kredit maupun yang dijadikan agunan tidak di mark up, yaitu dinilai lebih tinggi dari nilai yang sesungguhnya.
2. Setelah kredit macet:
1) Setelah kredit menjadi macet, debitur tidak sulit dihuibungi atau menghindar bila dihubungi oleh Bank/BPPN.
2) Setelah kredit menjadi macet, nasabah mengajukan permohonan untuk merestrukturisasi hutangnya kepada Bank/BPPN. Hal ini merupakan pertanda bahwa debitur bersikap positif terhadap penyelesaian kreditnya.
C. Upaya Bank Sebagai Kreditur Pemegang Jaminan Kebendaan Dalam Upaya