BAB II KAJIAN PUSTAKA
2. Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan
anak, maka tidak perlu diragukan lagi bahwa orang tua memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mengenalkan dan menanamkan nilai atau ajaran agama pada anak. Seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits di bawah ini:
ََش ۡخَٞۡىَٗ
َ
ََِِٝزَّىٱ
َ
َ ٌَِٖۡۡٞيَعَْاُ٘فبَخَبًف ََٰعِضَٗتَِّّٝسُرَ ٌِِٖۡفۡيَخَ ٍَِِْۡاُ٘مَشَتَ َۡ٘ى
َْاُ٘قَّتَٞۡيَف
َََّللّٱ
َ
َاًذِٝذَسَ ٗلَّ َۡ٘قَْاُ٘ىُ٘قَٞۡىَٗ
٩
Artinya: „‟Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (Q.S. An-Nisa‟ : 9)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Umar sebagai berikut:
ٍَعاَسٌَُْنُّيُمَُهُ٘قٌََََّٝيَسَََِْٗٔٞيَعَُ َّاللَََّّٚيَصَِ َّاللَََّهُ٘سَسَُتْعََِس ٌَُْنُّيُمَٗ
َِِٔتَِّٞعَسَ َِْعٌَهُ٘ئْسٍٍَََٗعاَسًَُبٍَِ ْلْأَِِتَِّٞعَسَ َِْعٌَهُ٘ئْسٍَ ٍَعاَسَُوُجَّشىاَٗ
َِعَسَ َِْعٌَهُ٘ئْسٍَََََُِِٕ٘ٗٔيَْٕأَِٜف
ٌَتَِٞعاَسَُةَأْشََْىاََِِٗٔتَّٞ َِتَْٞبَِٜف
َِهبٍََِٜفٍَعاَسًَُِدبَخْىاََٗبَِٖتَِّٞعَسَ َِْعٌَتَىُ٘ئْسٍَََٗبَِٖجَْٗص َ
َِِٔتَِّٞعَسَ َِْعٌَهُ٘ئْسٍَََِِٗٓذَِّٞس
Artinya: “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap kalian adalahpemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (H.R. al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, IV/6, hadits no. 2751 dan H.R. Muslim, Shahîh Muslim, VI/7, hadits no. 4828)
Dari ayat dan hadits tersebut tampak jelas bahwa setiap orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar untuk memberikan bekal kepada anak-anak mereka. Tidak hanya bekal yang bersifat materi belaka, namun yang lebih penting lagi adalah bekal pendidikan agama yang akan dijadikan pedoman dan landasan hidup.
dibesarkan, dipelihara dan dididik dalam rumah tangga yang aman tentram, penuh dengan kasih sayang, akan tumbuh dengan baik dan pribadinya akan terbina dengan baik pula. Lebih-lebih lagi apabila ibu-bapaknya mengerti agama dan menjalankannya dengan taat dan tekun. Setiap gerak, sikap dan perlakuan yang diterima si anak dalam keluarganya, akan menentukan macam pribadinya yang bertumbuh nanti (Darajat, 1975:68).
Seorang anak tidak hanya membutuhkan materi. Sejalan dengan pertumbuhannya , maka kebutuhan seorang anak juga akan meningkat. Perhatian, kasih sayang dan pendidikan serta bimbingan tentang agama juga harus selalu diberikan agar anak dapat tumbuh menjadi anak yang baik dan tertanam sikap religius dalam dirinya.
Kemajuan teknologi yang sangat cepat dan budaya asing yang masuk tidak selamanya membawa dampak baik bagi kita. Disinilah para orang tua diharapkan dapat memberikan pendidikan agama kepada anak. Dengan bimbingan dan pantauan yang baik dari orang tua, seorang anak tidak akan mudah terpengaruh hal-hal buruk yang datang dari luar. Dengan melakukan pendidikan agama kepada anak setidaknya para orang tua turut memperjuangkan nasib generasi muda.
Berkenaan dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi, maka usaha menegakkan akhlak mulia merupakan suatu keharusan mutlak. Akhlak yang mulia menjadi dasar atau pilar yang utama untuk tumbuh dan berkembangnya suatu bangsa. Keeksistensian suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh sejauh mana rakyat dan bangsa itu menjunjung tinggi
nilai-nilai akhlak atau moral. Berkaitan dengan ini Al Munawar (2005:26) menyataka sebagai berikut:
Nilai-nilai akhlak mulia hendaknya ditanamkan sejak dini melalui pendidikan agama dan diawali dalam lingkungan keluarga melalui pembudayaan dan pembiasaan. Kebiasaan itu kemudian dikembangkan dan diaplikasikan dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Disini diperlukan kepeloporan dan para pemuka agama serta lembaga-lembaga keagamaan yang dapat mengambil peran terdepan dalam membina akhlak mulia dikalangan umat.
Sebagian yang telah ditulis di atas, pendidikan akhlak diawali dalam keluarga yang pendidik utamanya adalah para orang tua. Melihat hal ini, semakin jelas bahwa para orang tua memiliki peranan yang sangat serius dalam mencetak generasi yang berbudi luhur, berpribadi muslim yang berakhlak mulia. Para orang tua tidak mungkin dapat lepas dari tanggung jawab tersebut. Pendidikan akhlak bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Para orang tua biasanya dekat dengan anak-anaknya, maka untuk membimbing dan melakukan pendidikan akhlak terhadap anak relatif lebih mudah.
Dalam mendidik anak dibutuhkan kemampuan yang baik, pengetahuan yang cukup dan kesabaran ekstra. Orang tua harus bisa menjadi teladan yang baik untuk anak karena segala perilaku orang tua akan dicontoh oleh anak. Oleh karena itu, dalam mendidik anak orang tua tidak boleh berlaku kasar ataupun melakukan hal-hal yang bisa mengganggu proses pendidikan karena hal tersebut dapat berakibat buruk bagi anak. Dalam mendidik anak, orang tua sebaiknya memiliki sifat-sifat seorang pendidik yang baik. Sifat-sifat tersebut diantaranya adalah sabar, berperilaku baik kepada anak, dapat beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi, bersikap demokratis, dan seperlunya dalam menasehati.
Selain sifat-sifat pendidik yang telah tersebut di atas, orang tua juga harus memiliki cara yang baik dan tepat dalam mendidik anak, karena hal itu sangat menentukan berhasil dan tidaknya pedidikan tersebut. Ada beberapa cara atau pola asuh yang bisa digunakan oleh para orang tua, antara lain yaitu sebagai berikut:
1) Pola asuh otoriter
Merupakan pola asuh yang menekankan segala aturan orang tua harus ditaati secara penuh oleh anak. Orang tua berlaku semau mereka dan memaksakan kehendak mereka kepada anak tanpa memperhatikan kemauan anak. Pola asuh seperti ini akan membuat anak kurang inisiatif, penakut, tidak percaya diri, minder dalam bergaul dengan teman-temannya. Akibat yang buruk juga dapat muncul seperti anak akan menjadi pemberontak dan melampiaskan kekesalan mereka pada hal-hal yang tidak baik. Maka pola asuh ini tidak akan membuat anak menjadi baik namun malah sebaliknya.
2) Pola asuh permisif
Pola asuh ini merupakan kebalikan dari pola asuh otoriter. Dalam polah asuh ini anak-anaklah yang berkuasa. Orang tua mengikuti semua kemauan anak. Pola asuh ini mempunyai dua dampak sekaligus yaitu dampak negatif dan dampak positif. Dampak negatifnya yaitu anak akan tidak terkendali, cenderung berbuat semau mereka dan anak kurang disiplin dengan norma sosial yang berlaku. Hal ini terjadi karena tidak adanya pengawasan dari orang tua. Sedangkan untuk dampak positifnya yaitu jika anak menggunakan kepercayaan orang tuanya dengan baik
maka akan tumbuh sikap mandiri, kreatif, inisiatif, mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan oleh orang tuanya.
3) Pola asuh demokratis
Dalam pola asuh ini antara orang tua dan anak mempunyai kedudukan yang sejajar. Tidak ada sikap saling memaksa dan berkuasa antara satu dengan yang lain. Semua keputusan dilakukan dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak dengan tetap berada dalam pengawasan orang tua dan meminta pertanggung jawaban anak. Akibat positif dari pola asuh ini adalah anak akan mampu bertanggung jawab atas semua tindakannya. Dan untuk akibat negatifnya yaitu anak cenderung meremehkan wibawa orang tua karena kedudukan yang sejajar dan keputusan yang diambil berdasarkan atas kedua belah pihak.
4) Pola asuh situasional
Pola asuh yang mencampurkan ketiga pola di atas. Pola asuh ini memungkinkan orang tua untuk menerapkan pola asuh secara fleksibel dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Pola asuh ini digunakan ketika para orang tua tidak menerapkan salah satu pola yang telah disebutkan di atas.
Setelah mengetahui bahwa pola asuh menentukan berhasil dan tidaknya suatu pendidikan, maka orang tua sebaiknya benar-benar mampu memilih model pola asuh yang akan digunakan dalam mendidik anak.
Seorang anak merupakan amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Maka anak harus diasuh, dibimbing, dan dididik dengan baik. Orang tua harus mampu bersikap dengan bijaksana dalam mengasuh dan mendidik anak. Orang tua sebaiknya menjalin komunikasi yang baik, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar dan tujuan pedidikan dapat tercapai.