• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.6. Kajian Pengelolaan Sumber Daya Terumbu Karang TWAL Pulau Pombo

5.6.2. Tantangan dalam Pengelolaan TWAL Pulau Pombo

Model pengelolaan dengan melakukan penutupan sebagian kawasan perairan terumbu karang menghasilkan nilai ekonomi yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi sekarang. Hasil tersebut dapat diwujudkan manakala ada perhatian serius dari instansi yang berwenang dalam pengelolaannya, terutama konsistensi untuk melakukan pemantauan secara rutin dengan cara menempatkan petugas jaga seperti sebelumnya, sebagai upaya untuk menghalau kegiatan penangkapan ikan dengan cara dan alat yang merusak. Mengingat kondisi tutupan karang batu yang mengalami degradasi cukup serius, dan didukung oleh hasil tangkapan yang ada sekarang ini jauh berkurang di banding dengan waktu-waktu sebelumnya, seperti yang diutarakan oleh para nelayan.

Pengelolaan kawasan DPL yang efektif membutuhkan sejumlah staf yang bermotivasi tinggi, berjumlah memadai, dan dengan kecakapan, keahlian serta perlengkapan yang layak untuk dapat melaksanakan peraturan dan pengawasan (Indarawan dkk, 2007). Dengan keefektifan dalam pengelolaan DPL tersebut diharapkan dapat menjamin keberadaan ekosistem terumbu karang, dan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan lokal. Mengingat masih adanya ancaman terumbu karang oleh aktifitas penangkapan ikan dengan bom.

Dalam kasus TWAL Pulau Pombo, saat dilakukan pemotretan untuk sampel karang, ditemukan fakta adanya jejak-jejak pemboman seperti lubang pada dasar substrat, patahan-patahan karang mati dari karang bercabang dan pecahan dari karang pejal, dan hingga saat dilakukan studi ini praktek penangkapan yang bersifat merusak tersebut masih dijumpai. Informasi tentang penggunaan bahan peledak ini juga disampaikan oleh nelayan responden, begitu pula informasi yang

sama disampaikan oleh peneliti terumbu karang dari LIPI Ambon (hasil wawancara dengan peneliti terumbu karang LIPI Ambon).

Nampaknya kondisi seperti ini banyak terjadi di tempat lain di kawasan Maluku, sesuai yang dilaporkan oleh Burke et al. (2002) bahwa di Provinsi ini 65% terumbu karangnya mengalami kerusakan akibat bahan peledak. Dalam skala Indonesia, seperti yang digambarkan oleh Cesar et al. (2003), bahwa upaya untuk penegakkan hukum (enforcement) dari operasi ilegal ini adalah sulit, insentif finansial untuk nelayan dalam jangka pendek cukup tinggi. Biaya dari “inaction” pada pemboman ikan diperkirakan mencapai 3,8 milyar dolar AS di atas jangka waktu 25 tahun. Gambaran ini menjastifikasi pengeluaran penegakkan hukum sekitar 400 juta dolar AS per tahunnya.

Penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan ini didorong oleh karena kepraktisannya dan memberikan hasil tangkapan yang lebih banyak, meskipun cara ini mengandung resiko keselamatan jiwa. Dalam jangka pendek aktifitas semacam ini memberikan keuntungan bagi pelakunya, namun secara pasti kerusakan ekosistem terumbu karang semakin parah dan dalam jangka panjang secara ekonomi akan memberikan kerugian tidak saja bagi pelaku, tetapi juga kerugian bagi nelayan lainnya dan masyarakat luas.

Sebagai gambaran untuk ukuran Indonesia, keuntungan individu dari praktik penggunaan bahan peledak ini ditaksir mencapai 15.000 dolar AS setiap km2, sedangkan kerugian yang diderita bagi masyarakat akibat peledakan ini antara 91.000 sampai 700.000 dolar AS setiap km2 selama lebih dari periode 20 tahun (Burke et al., 2002). Studi Cesar (1996) di Indonesia melaporkan bahwa, kawasan terumbu karang yang sudah rusak atau hancur 50% hanya akan menghasilkan 6.000 dolar AS tiap km2/tahun, dan daerah yang 75% rusak menghasilkan hanya sekitar 2.000 dolar AS tiap km2/tahun.

Aktifitas penangkapan yang bersifat merusak ini bila tetap berlangsung, niscaya manfaat ekonomi TWAL Pulau Pombo yang dihasilkan dari skenario dengan pengelolaan, akan sulit dicapai dan yang terjadi adalah justru kerugian yang diperoleh karena rusaknya ekosistem terumbu karang sehingga menghilangkan peran fungsionalnya seperti tempat pemijahan, pengasuhan dan mencari makan, seperti yang diperlihatkan dari scenario tanpa pengelolaan.

Keadaan ini menjadi tantangan dalam pengelolaan TWAL Pulau Pombo, untuk memecahkan masalah pemboman ikan tersebut. Kiranya diperlukan upaya-upaya penyadaran semacam penyuluhan akan pentingnya keberadaan terumbu karang dan dampak kerusakannya, disamping upaya penegakan hukum terhadap aktifitas penangkapan yang merusak tersebut. Dari informasi yang dihimpun di lapangan, bahwa kasus penggunaan bom ini sudah berulang kali terjadi dan meskipun diketahui, nampaknya hukum tidak menjangkau para pelakunya, hal ini yang ditengarai membuat para pelaku tidak jerah dan tetap aktif melakukan kegiatan pengeboman.

Berkaitan dengan keadaan yang ada, layak untuk mempertimbangkan saran dari Westmacott et al. (2000), bahwa perlunya dilakukan tindakan-tindakan pengelolaan seperti: (i) pengidentifikasian wilayah-wilayah terumbu karang yang kurang rusak dan meninjau ulang sistem zonasi dan batasan-batasan; (ii) menjamin bahwa DPL dikelola secara efektif; dan (iii) mengembangkan pendekatan lebih strategis untuk mendirikan sistem DPL. Studi ini telah membantu mengidentifikasi wilayah-wilayah terumbu karang yang rusak dan menilai potensi sumber daya yang dimiliki, khususnya untuk fungsi ekologis, dan menawarkan model pengelolaan DPL dengan luas 13 ha ata 20% dari luas total 65,36 ha. Sudah waktunya saran-saran tersebut dilakukan, dan perlu dilakukan studi lebih lanjut, terutama studi kajian pengelolaan.

6.1. Simpulan

Berdasakan hasil analisis yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1) Nilai ekonomi aktual terumbu karang TWAL Pulau Pombo untuk tempat pemijahan sebesar Rp 10.812.641, dengan NPV sebesar RP 72.606.820 dalam jangka waktu sepuluh tahun. Untuk jasa tempat pengasuhan dan mencari

makan, masing-masing sebesar Rp 511.869.222, dengan NPV sebesar Rp 3.511.784.328 dalam jangka waktu sepuluh tahun.

2) Skenario berdasarkan perubahan produktifitas, dengan pendekatan CBA untuk mengevaluasi antara tanpa pengelolaan dan dengan pengelolaan, dengan menetapkan kawasan perlindungan laut dan kontrol terhadap aktifitas

penangkapan ikan yang merusak, tanpa pengelolaan diperkirakan NPV antara Rp 39.653.211 sampai Rp 68.491.313 dari jasa tempat pemijahan, dan

dari jasa tempat pengasuhan dan mencari makan antara Rp 2.820.738.177 sampai Rp 3.388.424.567. Sementara dengan pengelolaan diperkirakan NPV antara Rp -261.050.483 sampai Rp 196.187.044 dari jasa tempat pemijahan, dan dari

jasa tempat pengasuhan dan mencari makan diperkirakan NPV antara Rp 7.783.903 sampai Rp 6.210.956.923.

6.2. Saran

Kondisi tutupan terumbu karang TWAL Pulau Pombo yang memprihatinkan, dengan tutupan rata-rata 23% seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, merupakan produk dari pengelolaan TWAL yang tidak optimal. Fakta tersebut menjadi justifikasi akan perlunya membuat suatu daerah perlindungan laut (DPL) untuk melindungi dan menyehatkan terumbu karang, yang akan berdampak pada meningkatnya kelimpahan, keaneka-ragaman dan biomas ikan karang, yang akan di ekspor ke bukan DPL. Dengan demikian dari sisi ekologi menjamin kelestarian terumbu karang, dan secara ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan nelayan karang melalui meningkatnya hasil tangkapan, seperti yang ditujukan oleh skenario dengan pengelolaan.

Mengingat status buruk dari terumbu karang TWAL Pulau Pombo, selain perlunya didirikan DPL, hal yang mendesak adalah perlu untuk dilakukan upaya rehabilitasi terumbu karang, seperti melakukan replantasi karang. Kedua upaya ini diharapkan dapat menyelamatkan ekosistem terumbu karang TWAL Pulau Pombo, sehingga terhindarkan dari kolapsnya ekosistem.

Abelson P. 1979. Cost benefit analysis and environmental problems. Itchen Printers Limited, Southampton. England.

Acosta CA. and Robertson DN. 2002. Diversity in coral reef fish communities: the effects of habitat patchiness revisited. Mar. Ecol. Prog. Ser. 227: 87–96. Adger N., Katrina B., Raffaello C., and Dominic M. 1994. Towards estimating

total economic value of forests in Mexico. Centre of Sosial Economic Reaserch of the Global Environment, University of East Anglia and University College London. CSERGE working paper GEC 94-21.

Adrianto L. 2002. Modul Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika, Sekolah Pascasarjana IPB.

Alcala AC. 2001. Marine Reserves as Tools for Fishery Management and Biodiversity Conservation: Natural Experiments in the Central Philippines, 1974-2000. Paper presented at Blue Millennium: Managing Global Fisheries for Biodiversity Workshop, Victoria, BC in June 2001. UNEP-BPSP Thematic Studies Integration of Biodiversity into National Fishery Sectors Document.

Alcala AC. and Russ GR. 1990. “A Direct Test of the Effects of Protective Management on Abundance and Yield of Tropical Marine Resources”. J. Cons. Int. Explor. Mer, Vol. 46, pp. 40–47.

Alcala AC. and Russ GR. 2002. Status of Philippine Coral Reef Fisheries. Asian Fisheries Society, Manila, Philippines. Asian Fisheries Science 15: 177-192. Allen GR. and Robertson DR. 1997. An annotated checklist of the fishes of

Clipperton Atoll, tropical eastern Pacific. Rev. Biol. Trop. 45(2): 813-843. Anderson K. 2002. A Study of Coral Reef Fishes along a Gradient of Disturbance

in the Langkawi Archipelago, Malaysia. Undergraduate thesis in biology, Departemen of Animal Ecology, Uppsala University, Sweden. http://www. coralcay.org/science/publications/philippines_m_2001_dunjungan3_fish.p df. Rabu, 17 Mei 2006.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Maluku (BKSDA, Maluku). 2005. Identifikasi Potensi Kawasan Konservasi Dalam Rangka Penyusunan Neraca Sumber Daya Alam CA TWA Pulau Pombo. Ambon.

Bateman I., Georgiou S., and Lake I. 2005. The Aggregation of Environmental Benefit Values: A Spatially Sensitif Valuation Function Approach. CSERGE Working Paper EDM 05-04.

Bell JD. and Galzin R. 1984. Influence of live coral cover on coral reef-fish communities. Mar. Ecol. Prog. Ser 15: 265-274.

Booth DJ. 1992. Larval settlement patterns and preferences by domino damselfish

Dascyllus albisella Gill. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 155:85-104.

Bouchon C. 1981. Quantitative study of the scleractinian coral communities of a fringing reef of Reunion Island (Indian Ocean). Mar. Ecol. Prog. Ser 4: 273-288. Burke L. and Maidens J. 2004. Economic Valuation Methodology. In Reefs at

Risk in the Caribbean. World Resources Institute.

Cesar H. 1996. Economic Analysis of Indonesian Coral Reefs, Environment Department, World Bank, Washington, D.C.

Cesar H., Burke L., and Pet-Soede L. 2003. The economics of worldwide coral reef degradation. Cesar Environmental Economics Consulting. Arnhem, Netherlands.

Cesar H. and Chong CK. 2004. Economic valuation and socioeconomics of coral reefs: Methodological issues and three case studies. In Proceedings Economic Valuation and Policy Priorities for Sustainable Management of Coral Reefs, WorldFish Center.

Chabanet P., Ralambondrainy H., Amanieu M., Faure G. and Galzin R. 1997. Relationships between coral reef substrata and fish. Coral Reefs 16: 93-102. Costanza R., d'Arge R., de Groot R., Farber S., Grasso M., Hannon B., Limburg

K., Naeem S., O'Neill R.V., Paruelo J., Raskin R.G., Sutton P., and van den Belt M. 1997. “The value of the world’s ecosistem services and natural capital”. Nature 387:253-260.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku. 2005. Penyusunan Data Spasial Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku.

Doherty PJ. and Williams DM. 1988. Are lokal populations of coral reef fishes equilibrial assemblages? The empirical database. Proceedings of the 6th International Coral Reef Symposium 1, 131–140.

Eckert GJ. 1987. Estimates of adult and juvenile mortality for labrid fishes at One Tree Reef, Great Barrier Reef. MarineBiology 95(2): 167–171.

Eggleston DB. 1995. Recruitment in Nassau grouper Epinephelus striatus: post-settlement abundance, microhabitat features, and ontogenetic habitat shifts.

Mar. Ecol. Prog. Ser 124(1–3): 9–22.

Fauzi A. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Teori dan Aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Fauzi A. dan Anna S. 2005. Studi Valuasi Ekonomi. Perencanaan Kawasan Konservasi Selat Lembeh, Sulawesi Utara. Naskah akademik pengelolaan kawasan konservasi laut selat Lembeh.

Gomez ED., Alino PM., Yap HT., and Licuanan WY. 1994. A Review of the Status of Philippine Reefs. Marine Pollution Bulletin 29 (1-3): 62-68 pp. Grigg RW. 1994. Effects of sewage discharge, fishing pressure and habitat

complexity on coral ecosistems and reef fishes in Hawaii. Mar. Eco. Prog. Ser. 103:25-34.

Grigg RW. 1984. “Resource Management of Precious Corals: A Review and Application to Swallow Water Reef Building Corals,”. Marine Ecology

5(1): 57-74.

Gustavson KR. 1998. Values Associated with the Lokal Use of the Montengo Bay Marine Park. World Bank Research Committee Project #RPO 681-05. Hallacher LE. 2003. The ecology of coral reef fishes. University of Hawaii, Hilo.

http://kmec.uhh.hawaii.edu/QUESTInfo/Coral%20Reef%20Fishes%20-%20 Mayhttp://kmec.uhh.hawaii.edu/QUESTInfo/Coral%20Reef%20Fishes%20-%202003.pdf Senin, 25 Februari 2008.

Halpern BS. 2003. The impact of merine cadangans: do cadangans work and does cadangan size metter. Ecological Applications 13(1):117–137.

Hixon MA. and Beets JP. 1993. Predation, preyrefuges, and the structure of coral-reef fish assemblages. Ecological Monographs 63. 77–101.

Holland KN., Lowe CG., and Wetherbee BM. 1996. Movement and dispersal patterns of blue trevally (Caranx melampygus) in a fisheries conservation zone. Fish. Res. 25. 279-292.

Indrawan M., Primack RB., dan Supriatna J. 2007. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Jones GP. 1991. Postrecruitment processes in the ecologyof coral reef fish populations: a multifactorial perspective. In The Ecology of Fishes on Coral Reefs (Sale, P. F., ed.), pp. 294–328. San Diego, CA: Academic Press.

Jones GP., Mark IM., Maya S., and Janelle VE. 2004. Coral decline threatens fish biodiversity in marine cadangans. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 101(21): 8251–8253.

Jonsson D. 2002. An inventory of coral reefs in Langkawi Archipelago, Malaysia assessment and impact study of sedimentasi. Undergraduate Thesis, Uppsala University.

Juanda B. 2007. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. IPB Press. Bogor. Leis JM. 1991. The pelagic stage of reef fishes: the larval biology of coral reef

fishes. In: Sale PF. (ed.). 1991. The Ecology of Fishes on Coral Reefs. Academic Press, San Diego.

Lipton DW., Wellman K., Sheifer I.C., and Weiher R.F. 1995. Economic Valuation of Natural Resources: A Handbook for Coastal Resources Policymakers. NOOA Coastal Ocean Program Decision Analysis Series No. 5. NOAA Coastal Ocean Office, Silver Spring, MD. 131 pp.

Luckhurst BE. and Luckhurst K. 1978. Analysis of the influence of substrate variables on coral reef fish communities. Marine Biology 49:317-323. Manihin JP. 1997. Pengamatan kondisi terumbu karang Pulau Pombo dan Pulau

Kassa dengan Metode Manta-tow. Dive Center Ambon.

Marshall HE. 1999. “Sensitivity analysis”. Chapter 8.12 In: Technology Management Handbook, Dorf, R.C., ed. CRC Press. Boca Raton, FL. Mayer CG., Holland KN., Wetherbee BM., and Lowe CG. 2001. Diet, resource

partitioning and gear vulnerability of Hawaiian jacks captured in fishing tournaments. Fish. Res. 53. 105-113.

McAllister DE. 1998. Environmental, Economic and Sosial Costs of Coral Reef Destructionin the Philippines. Galaxea 7: 161-178.

McCormick MI. 1994. Comparison of field methods for measuring surface topography and their associations with a tropical reef fish assemblage. Mar. Eco. Prog. Ser. 112:87-96.

McClanahan TR. 1994. Kenyan coral reef lagoon fish: effects of fishing, substrate complexity and sea urchins. Coral Reefs 13:231-241.

McClanahan TR and Arthur R. 2001 The Effect of Marine Cadangans and Habitat on Populations of East African Coral Reef Fishes. Ecological Applications,

11(2): 559–569

McClanahan TR. and Kaunda-Arara B. 1996. Fishery kesembuhan in a coral-reef marine park and its effect on the adjacent fishery. Conservation Biology

10(4):1187-1199.

Moberg F. and Folke C. 1999. “Ecological goods and services of coral reef ecosistems”. EcologicalEconomics. 29: 215-233.

National Center For Environmental Decision-Making Reseacrh (NCEDR). 2007. Tools Cost Benefit Analysis. http://www.ncedr.org/tools/othertools/cost benefit. Senin, 11 Januari 2007.

Office of Management Budged (OMB). 1994. Guidelines and Suku bungas for Benefit-Cost Analysis of Federal Programs. Circulate A-94. http://www. whitehouse.gov/WH/EOP/OMB/html/circulars/a094/a094.html#5. Senin, 29 Oktober 2007.

Öhman MC. 1998. Aspects of habitat and disturbance effects on tropical reef fish communities. Doctoral dissertation, Department of Zoology, Stockholm University, Stockholm, Sweden.

Öhman MC. and Rajasuriya A. 1998. Relationships between habitat structure and fish communities on coral and sandstone reefs. Environmental Biology of Fishes 53:19-31.

Peristiwady T. 2006. Ikan-ikan laut ekonomis penting di Indonesia. Petunjuk Identifikasi. LIPI Press, Jakarta.

Polunin NVC. 2004. Predicting reef fishery yields at locations where data are very limited in the Pacific. In: Spurgeon J., Roxburgh T., O’Gorman S., Lindley R., Ramsey D., and Polunin NVC. 2004. Economic Valuation of Coral Reefs and Adjacent Habitats in American Samoa – Draft Appendix. Department of Commerce, Government of American Samoa.

Prawiro RH. 1983. Ekonomi Sumber Daya. Alumni. Jakarta.

Roberts CM. and Ormond RFG. 1987. Habitat complexity and coral reef fish diversity and abundance on Red Sea fringing reefs. Mar. Eco. Prog. Ser. 41:18.

Roberts CM., Bohnsack JA., Gell F., Hawkins JP., and Goodridge R. 2001. Effects of Marine Cadangans on Adjacent Fisheries. Science Vol. 294. Robertson DR., Polunin NVC., and Leighton K. 1979. The behavioural ecology of

three Indian Ocean surgeonfishes (Acanthurus lineatus, A. leucosternon, and Zebrasoma scopes): their feeding strategies, and sosial and mating sistems. Env. Biol. Fish. 4(2): 125-170.

Robertson DR. and Gaines SD. 1986. Interference competition structures habitat use in a lokal assemblage of coral reef surgeonfishes. Ecology 67(5): 1372–1383. Roberts CM., Bohnsack JA., Gell F., Hawkins JP., and Goodridge R. 2001.

Effects of Marine Cadangans on Adjacent Fisheries. Science Vol. 294. Russ GH. 1991. “Coral Reef Fisheries: Effects and Yields,”. In: Sale PF. (ed.).

Russ GR. and Alcala AC. 1989. Effects of intense fishing pressure on an assemblage of coral reef fishes. Mar. Eco. Prog. Ser. 56:13-27.

Sale PF. 2004. Connectivity, Recruitment Variation, and the Structure of Reef Fish Communities. Integrative and Comparative Biology 44(5): 390-399. Sanchirico JN., Cochran KA. and Emerson PM. 2002. Marine Protected Areas

Economic and Sosial Implications. Resourc for the Future. Washington D.C. Sano M., Shimizu M., and Nose Y. 1987. Long term effects of destruction of

hermatypic corals by Acanthaster planci infestation on reef fish communities at Iriomote Island, Japan. Mar. Ecol. Prog. Ser 37:191-199. Suharsono. 2004. Jenis-jenis karang di Indonesia. Pusat Penelitian

Oseanografi-LIPI, COREMAP Program, Jakarta.

Suharsono and Kakaskasen A. 2002. Report on the condition of the coral reefs of the Banda Islands. In: Mous PJ. (ed.). 2002. Report on a rapid ecological assessment of the Banda Islands, Maluku, Eastern Indonesia, held April 28 – May 5 2002.

Supriharyono. 2007. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Djambatan. Jakarta. Syms C. 1998. Disturbance and the structure of coral reef fish communities on the reef

slope. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 230:151-167. The National Academies Press (NAP). 2004. Valuing Ecosistem Services, Toward

Better Environmental Decision-Making. The National Academies Press, Washington D.C. http://www.nap.edu. Senin, 28 Agustus 2006.

Thresher RE. 1991. Geographic variability in the ecology of coral reef fishes: evidence, evolution, and possible implications. In: Sale PF. (ed.). 1991. The Ecology of Fishes on Coral Reefs. Academic Press, San Diego.

UNEP-WCMC. (1991). Cagar Alam Laut Pulau Pombo (Pombo Island Marine Nature Cadangan). http://sea.unep-wcmc.org/sites/pa/0943v.htm Jumat, 27 January 2006.

Veron JEN. 1986. Corals of Australia and the Indo-Pacific, Angus and Robertson Publishers. 644 pp.

Wantiez L., Thollot P., and Kulbicki M. 1997. Effects of marine reserves on coral reef fish communities from five islands in New Caledonia. Coral Reefs

16:215–224.

Watson M. and Ormond RFG. 1994. Effect of an artisanal fishery on the fish and urchin populations of a Kenyan coral reef. Mar. Ecol. Prog. Ser. 109:115–129.

Ward TJ., Heinemann D., and Evans N. 2001. The Role of Marine Reserves as Fisheries Management Tools: a review of concepts, evidence and international experience. Bureau of Rural Sciences, Canberra, Australia. 192pp.

Westmacott S., Teleki K., Wells S., and West J. 2000. Management of Bleached and Severely Damaged Coral Reefs. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.

White AT. and Cruz-Trinidad A. 1998. The Values of Philippine Coastal Resources: Why Protection and Management are Critical. Coastal Resource Management Project, Cebu City, Philippines, 96 p.

Yakin A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Dan Lingkungan. Teori dan Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan. Akademi Presindo. Jakarta.

Yoe CE. 2001. Ecosistem Restoration Cost Risk Assessment. IWR Report 02-R-1. Institute for Water Resources, U.S. Army Corps of Engineers. Alexandria, VA. http://www.csc.noaa.gov/cgibin/goodbye.cgi?url=http://www.iwr. usace.army.mil/iwr/pdf/iwrrpt02R1.pdf. Senin, 29 Oktober 2007.

Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian Pulau Pombo, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah,

Lampiran 2. Standarisasi Catch dan Effort Ekstraksi Ikan Karang

Catch (kg/thn) dan Effort (trip/thn) untuk ekstraksi ikan karang famili Balistidae sebelum distandarisasi No. Alat Tangkap ∑ n Responden per trip Catch

Catch (total) Catch (rata-rata) Effort (total) Effort (rata-rata) CPUE (rata-rata) Fishing Power Index (FPI) 1 Pancing 1 kail 1 13 0.7 134 134 192 192 0.70 0.08 2 Pancing 2 kail - - - - - - - - - 3 Pancing 5 kail 3 7 0.7 117 - 168 - - - 20 0.7 117 - 168 - - - 21 0.7 201 - 288 - - - 435 145 624 208 0.70 0.08 4 Pancing 7 kail 3 18 0.7 117 - 168 - - - 19 0.7 117 - 168 - - - 23 0.7 201 - 288 - - - 435 145 624 208 0.70 0.08 5 Pancing 15 kail 2 4 0.7 201 - 288 - - - 15 0.7 117 - 168 - - - 318 159 456 228 0.70 0.08 6 Jaring 1 6 7.8 187 187 24 24 7.79 0.87 7 Jaring + kompresor 1 14 9 1404 1404 156 156 9.00 1.00

Catch (kg/thn) dan Effort (trip/thn) untuk ekstraksi ikan karang famili Balistidae setelah distandarisasi dan perubahan Catch Skenario Standarisasi

Catch Catch Tanpa Pengelolaan CatchDengan Pengelolaan No. Alat Tangkap ∑ n Catch (total)

Effort

(total) FPI Effort Baseline turun 2% turun 8% turun 16% turun 35% naik 73% naik 100% 1 Pancing 1 kail 1 134 192 0.08 15 10.75 10.54 9.89 9.03 7.00 27.18 18.06 2 Pancing 2 kail - - - - - - - - - - - - 3 Pancing 5 kail 3 435 624 0.08 50 34.94 34.25 32.15 29.35 23.00 79.12 58.70 4 Pancing 7 kail 3 435 624 0.08 50 34.94 34.25 32.15 29.35 23.00 90.42 58.70 5 Pancing 15 kail 2 318 456 0.08 36 25.54 25.03 23.49 21.45 17.00 73.47 42.90 6 Jaring 1 187 24 0.87 21 162.86 159.61 149.83 136.81 106.00 280.38 273.62 7 Jaring + kompresor 1 1404 156 1 156 1404 1375.92 1291.68 1179.36 913.00 3363.12 2358.72 Jumlah 11 2913 2076 - 328.56 1673.04 1639.6 1539.19 1405.35 1089 3913.69 2810.7

Catch (kg/thn) dan Effort (trip/thn) untuk ekstraksi ikan karang famili Acanthuridae sebelum distandarisasi No. Alat Tangkap ∑ n Responden

Catch per trip Catch (total) Catch (rata-rata) Effort (total) Effort (rata-rata) CPUE (rata-rata) Fishing Power Index (FPI) 1 Pancing 1 kail - - - - - - - - 2 Pancing 2 kail - - - - - - - - 3 Pancing 5 kail - - - - - - - - 4 Pancing 7 kail - - - - - - - - 5 Pancing 15 kail 1 15 0.5 84 84 168 168 0.5 0.038971161 6 Jaring 1 6 5.23 126 126 24 24 5.23 0.407638348 7 Jaring + kompresor 1 14 12.83 2,001 2,001 156 156 12.83 1

Catch (kg/thn) dan Effort (trip/thn) untuk ekstraksi ikan karang famili Acanthuridae setelah distandarisasi dan perubahan Catch Skenario Standarisasi

Catch Tanpa Pengelolaan Dengan Pengelolaan No. Alat Tangkap ∑ n Catch (total)

Effort

(total) FPI Effort Baseline turun 2% turun 8% turun 16% turun 35% naik 73% naik 100%

1 Pancing 1 kail - - - - - - - - - - - - 2 Pancing 2 kail - - - - - - - - - - - - 3 Pancing 5 kail - - - - - - - - - - - - 4 Pancing 7 kail - - - - - - - - - - - - 5 Pancing 15 kail 1 84 168 0.04 7 3.36 3.29 3.09 2.82 2.18 5.81 6.72 6 Jaring 1 126 24 0.41 10 51.46 50.43 47.35 43.23 33.45 89.03 102.93 7 Jaring + kompresor 1 2,001 156 1 156 2,001 1,960.98 1,840.92 1,680.84 1,300.65 3,461.73 4,002.00 Jumlah 3 2211 348 - 172.56 2,055.82 2,014.70 1,891.36 1,726.89 1,336.28 3,556.57 4,111.65

Catch (kg/thn) dan Effort (trip/thn) untuk ekstraksi ikan karang famili Carangidae sebelum distandarisasi

No. Alat Tangkap ∑ n Responden

Catch per trip Catch (total) Catch (rata-rata) Effort (total) Effort

(rata-rata) CPUE (rata-rata)

Fishing Power Index (FPI) 1 Pancing 1 kail 2 3 0.8 134 - 168 - - - 8 0.8 134 - 168 - - - total 1.6 268 134 336 168 1.6 1 2 Pancing 2 kail - - - - - - - - 3 Pancing 5 kail 7 5 0.8 134 - 168 - - - 7 0.8 134 - 168 - - - 12 1.65 237 - 144 - - - 16 0.8 230 - 288 - - - 20 0.6 100 - 168 - - - 21 0.8 230 - 288 - - - 24 0.7 168 - 240 - - - total 6.15 1233 176.14 1464 209.14 0.84 0.53 4 Pancing 7 kail 3 2 1.65 396 - 240 - - - 22 0.8 230 - 288 - - - 23 0.5 144 - 288 - - - total 2.95 770 256.67 816 272.00 0.94 0.59 5 Pancing 15 kail 1 4 0.6 172 172 288 288.00 0.60 0.38 6 Jaring - - - - - - - - 7 Jaring + kompresor - - - - - - - -

Catch (kg/thn) dan Effort (trip/thn) untuk ekstraksi ikan karang famili Carangidae setelah distandarisasi dan perubahan Catch Skenario Standarisasi

Catch Tanpa Pengelolaan Dengan Pengelolaan